Bab 4: Cara-cara menghadapi Tekanan Jiwa
Pendahuluan
Cara-cara menghadapi tekanan jiwa dapt dipraktekkan untuk mencapai dua tujuan utama:
1. Mengurangi kemungkinan seseorang terkena tekanan jiwa saat menghadapi masalah-masalah yang berat dan berpotensi memicu stres.
2. Mengatasi dan menangani tekanan jawa saat seseorang sedang mengalaminya.
Untuk menghadapi masalah hidup tidaklah mudah, kita perlu melakukan
banyak pembenahan dalam diri kita, baik membenahi cara berfikir,
membenahi cara berprilaku dan juga membenahi bagaimana kita berperasaan
(menata hati).
Membenahi cara berfikir
Di sini segalanya berhubungan dengan pemahaman pemikiran seseorang
terhadap peristiwa atau hubungan antara individu tersebut dengan
perisiwa-peristiwa, bagaimana seseorang memaknai hidupnya. Cara-cara
menghadapi tekanan jiwa melalui pembenahan pemahaman di antaranya
adalah:
1. Kembali kepada fitrah
Ketenangan jiwa pada prinsipnya kembali kepada fitrah manusia. Fitrah
adalah sesuatu yang alamiah pada diri manusia yang keberadaannya tidak
terbatas pada obyek dan masa tertentu saja. Sebagaimana yang dijelaskan
dalam Al Qur’an bahwa penyakit-penyakit jiwa yang dialami oleh
hamba-hamba pendosa berakar pada fitrah mereka. Oleh karena itu kembali
kepada fitrah adalah cara terbaik menangani dan bahkan mengatasi tekanan
jiwa. Dalam pembahasan fitrah penting sekali kita membahas beberapa
masalah di bawah ini:
A. Peranan fitrah dan syahwat
B. Mengalirnya fitrah
C. Kriteria-kriteria fitrah
D. Fitrah, satu-satunya obat ketenangan jiwa
E. Dampak-dampak melenceng dari fitrah
A. Peranan fitrah dan syahwat
Dalam ajaran Islam, manusia dapat menempuh salah satu di antara dua
perjalanan: perjalanan naik ke atas yang disebut dengan as sair al
ufuqi, yakni perjalanan yang dipimpin oleh akal dan fitrah (jiwa yang
tenang); yang kedua perjalanan menurun kebawah yang disebut as sair an
nuzuli, yang dipimpin oleh nafsu dan syahwat (jiwa yang sakit). Dalam
diri manusia selalu berkecamuk dua dorongan antara mengikuti fitrah atau
mengikuti syahwat. Saat seseorang memilih salah satu di antara
keduanya, yang kedua itu tidaklah sirna, namun hanya melemah dan
tersembunyi; pada saat-saat tertentu bisa jadi sisi yang terlupakan itu
muncul kembali. Keduanya selalu bersifat seperti itu selamanya hingga
akhir umur manusia. Tidak diragukan bahwa berat atau ringannya salah
satu dari kedua itu dalam timbangan jiwa manusia memberikan
dampak-dampak tertentu.
Imam Ali as. berkata:
“Allah swt. menciptakan para malaikat dan hanya memberi mereka akal.
Lalu Allah swt. menciptakan binatang dan hanya memberi mereka syahwat
tanpa memberi akal. Namun Allah swt. menciptakan manusia dengan memberi
mereka akal sekaligus syahwat. Maka orang yang akalnya mengalahkan
syahwatnya, ia lebih tinggi dari para malaikat dan orang yang syahwatnya
mengalahkan akal, ia lebih rendah dari binatang.”
Imam Ali as. membandingkan antara akal dan syahwat. Lalu tentang syahwat beliau berkata:
“Kesalahan-kesalahan yang mana merupakan syahwat, bagaikan kuda yang
liar yang membawa penunggangnya kemana-mana dan melemparkannya ke dalam
api neraka; dan ketakwaan adalah akal, bagaikan tunggangan yang jinak
dan tenang yang membawa penunggangnya masuk ke dalam sorga abadi.”
B. Mengalirnya fitrah
Kata fitrah pada awal mulanya disebutkan dalam Al Qur’an dan orang-orang Arab sebelumnya tidak mengetahui maknanya.
Fitrah sama seperti insting dan naluri, namun berada lebih tinggi
darinya. Lebih dari itu, insting identik dengan perkara-perkara materi,
namun fitrah identik dengan perkara-perkara maknawi dan manusiawi. Al
Qur’an menjelaskan bahwa fitrah mengalir pada diri setiap manusia dan
tetap padanya. Disebutkan: “Allah Tuhan kami yang telah memberikan
nikmat keberadaan (telah menciptakan) kepada semuanya dan memberinya
petunjuk menuju kesempurnaan.”
“Dan Dia yang telah memberikan kadar pada segalanya dan mengarahkannnya.”
“Ia yang telah mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya.”
“Dan mengilhamkan padanya keburukan dan kebaikannya.”
“Ia telah menjelaskan jalan menuju sorga dan neraka dan juga jalan kebenaran serta kebatilan.”
“Ia telah memudahkan jalan petunjuk kepadanya.”
Perlu kita yakini bahwa Allah swt. tidak memaksakan surga dan neraka
bagi manusia, manusia sendiri yang memilih jalan apa yang harus
ditempuh.
Lalu Al Qur’an memerintahkan manusia untuk mengikuti fitrahnya:
“Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama yang suci, yang mana fitrah telah diciptakan berdasarkan itu.”
Islam disebut dengan hanif yang artinya adalah suci dan simbang (saat tubuh bertumpu pada titik di antara dua kaki).
Karena agama ini adalah agama keseimbangan, maka ketika seseorang
bertentangan dengan fitrahnya dan ajaran agamanya berarti ia telah
kehilangan keseimbangan batinnya dan tidak normal.
Menurut Al Qur’an, keluar dari jalur fitrah dan agama suci Ibrahimi ini
adalah suatu bentuk penyakit jiwa yang disebut dengan kebodohan:
“Dan barang siapa enggan akan agama Ibrahim, maka tak lain ia telah membiarkan dirinya sendiri bodoh.”
Dalam Tafsir Al Mizan disebutkan bahwa menolak
agama Ibrahim as. sama seperti kebodohan dan tidak faham akan keuntungan
dan kerugian bagi diri sendiri. Dalam sebuah hadis disebutkan:
“Akal adalah sesuatu yang dengannya Allah swt. disembah dan dengannya pula surga itu digapai.”
C. Kriteria-kriteria fitrah
Fitrah memiliki banyak sekali kriteria yang di antaranya adalah:
1. Bersifat umum
Fitrat bagi seluruh umat manusia sama. Oleh karena
itu kita dapat menciptakan satu hukum global yang berlaku bagi semuanya.
Sebagai contoh, kita harus memperlakukan orang lain dengan sebagaimana
kita suka diperlakukan sedemikian rupa dan tidak boleh sebaliknya.
Rasulullah saw. juga bersabda:
“Bersikaplah kepada sesamamu sebagaimana kamu ingin disikapi seperti itu oleh mereka.”
2. Murni dan jauh dari polesan
Seorang anak kecil, selama ia tidak mempelajari
sifat-sifat buruk seperti berbohong dari lingkungan sekitar dan
keluarganya, mereka akan selalu berkata jujur. Rasulullah saw.
mengibaratkan hati anak-anak kecil seperti ladang yang masih kosong dan
benih apa saja yang ditebar di atasnya pasti akan tumbuh besar.
Dalam riwayat lainnya beliau bersabda:
“Setiap manusia dilahirkan pada fitrah yang suci, lalu orang tuam mereka lah yang menjadikannya pengikut Yahudi atau Masehi.”
3. Neraca kebaikan dan keburukan
Berdasarkan Al Qur’an, seseungguhnya manusia menyadari keadaan dirinya, meskipun ia mengemukakan alasan-alasannya.
Allah swt. telah menjelaskan jalan-jalan menuju surga dan neraka kepadanya.
Ia yang telah mengilhamkan kepadanya kebaikan dan keburukannya.
Ustad Muhammad Taqi Ja’fari menyebut fitrah sebagai neraca kebaikan dan
keburukan, sebuah neraca yang menunjukkan jalan kepada manusia melalui
empat tahapan:
A. Pemahaman akan kebaikan dan keburukan
B. Mewujudkan dorongan untuk berkembang
C. Menyingkap dan memberikan aturan dalam rangka memenuhi dorongan-dorongan untuk berkembang menuju kesempurnaan
D. Menunjukkan jalur menuju perkembangan dan jalur ketergelinciran
Fitrah yang ada di diri manusia dalam menimbang
masalah bekerja dengan dua bentuk: menimbang realita-realita berdasarkan
fitrah yang jelas dan rasional serta mewujudkan reaksi emosional
terhadap prilaku diri sendiri. Jadi fitrah memiliki dua dimensi
emosional dan rasional yang mana keduanya digunakan untuk menimbang
kebaikan dan keburukan.
4. Mencela diri sendiri saat berbuat salah
Karena fitrah bersifat condong kepada kesempurnaan,
maka saat seseorang melenceng dari jalur menuju kesempurnaan dirinya
secara alamiah akan merasakan penyesalan dan cacian terhadap diri
sendiri. Al Qur’an menyebut keadaan fitrah ini dengan sebutan nafsul
lawwamah (jiwa yang mencaci).
Dengan mekanisme pencacian terhadap diri sendiri, fitrah mendorong
manusia untuk kembali kepada jalan yang benar. Dalam keadaan ini muncul
kegelisahan dan tekanan jiwa dan terkadang tingkat keparahannya tinggi
serta mendorong seseorang untuk bunuh diri.
Penyesalan dan taubat nabi Adam as.,
keadaan Qabil setelah membunuh saudaranya,
penyesalan manusia di hari kiamat atas kawan-kawannya yang sesat,
adalah contoh-contoh yang diisyarahkan Al Qur’an dalam menggambarkan nafsul lawwamah.
D. Fitrah, satu-satunya obat ketenangan jiwa
Poin penting yang perlu disinggung dalam masalah
kesehatan jiwa adalah tidak cukupnya dijalankannya satu atau dua ajaran
agama saja dalam mencapai kebahagiaan. Manusia harus menjalankan semua
ajaran Tuhan
agar ia dapat mencapai kebahagiaan abadi. Al Qur’an menyebut seluruh
ajaran-ajaran suci Islam sebagai jembatan yang lurus (shiratul
mustaqim).
Seorang manusia harus memiliki keimanan dan pandangan yang benar agar tidak melenceng dari jalan yang lurus,
karena jalan-jalan yang lain hanyalah jalan kesesatan. Sekumpulan
ajaran-ajaran Al Qur’an adalah dzikrullah (dzikir dan mengingat Allah
swt.). Menjalankan dan memperhatikan semua ajaran itu membuat manusia
berada dalam ketentraman, ketenangan jiwa, pertumbuhan dan kedekatan
kepada Allah swt.
Sebaliknya melenceng dari fitrah adalah kesesakan jiwa.
Al Qur’an menyebutkan bahwa shiratul mustaqim itu adalah jalan Allah
yang lurus dan selain orang-orang yang beriman, beramal saleh, orang
yang saling menasehati akan kebaikan dan kesabaran, adalah orang-orang
yang merugi.
E. Dampak-dampak melenceng dari fitrah
Orang yang melenceng dari fitrah bagaikan seekor
laba-laba yang melilit diri dengan sarangnya sendiri, semakin banyak hal
yang dilakukannya, kebingungan dan kesesatannya semakin jauh pula.
Berjalan di luar jalur fitrah adalah pelencengan yang besar dan membuat
hati menjadi terhijabi, cacat, akal menjadi kalah nafsu memenangi.
Dalam keadaan ini akan timbul berbagai macam penyakit hati yang di antaranya adalah:
1. Hati bagai besi yang berkarat
Imam Shadiq as. berkata:
“Dengan berbuat dosa, muncul satu titik hitam dalam
hatinya yang mulanya putih bersih. Jika ia terus menerus berbuat dosa,
maka titik hitam itu akan semakin banyak hingga seluruh hatinya menjadi
hitam. Dalam keadaan ini hati seperti besi yang berkarat. Oleh karena
itu Allah swt. berfirman: “Sekali-kali tidak, sesungguhnya apa yang
telah mereka lakukan telah menutupi hati mereka.”
2. Hijab yang menutupi hati
Hijab yang menutupi hati membuat manusia tidak dapat melihat hakikat-hakikat.
Mereka adalah orang-orang yang mata kepalanya terbuka namun mata hatinya buta.
3. Rasa takut yang sangat
Rasa takut yang sangat membuat seseorang lari dari
peperangan yang diwajibkan Allah. Meskipun mereka nampaknya adalah orang
yang bersatu dan bicaranya menarik, namun nyatanya mereka
bercerai-berai dan tidak berguna. Al Qur’an berkata tentang orang-orang
yang berpenyakit ini:
“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang
berada dalam kegelapan gulita lalu kilatan petir menyambar dan membuat
mereka begitu takut akan kematian (mereka khawatir petir itu akan
menyambar mereka).”
“Rasa takut telah menguasai hati mereka… Kalian menyangka mereka bersatu, namun nyatanya hati-hati mereka bercerai-berai.”
“Dhahir mereka terhiasi dan indah,
perkataan-perkataan mereka juga menarik, namun kenyataannya mereka
bagaikan kayu kering dan rapuh yang menyangga sebuah dinding.”
2. Memahami permasalahan
Merujuk kepada orang yang ahli dalam memecahkan
suatu permasalahan, adalah upaya yang rasional baik dalam urusan-urusan
materi maupun spiritual. Al Qur’an menyarankan kita untuk merujuk kepada
orang-orang yang pakar dalam segala urusan. Disebutkan bahwa:
“Dan bertanyalah kepada ahlul dzikr (orang yang mempunyai pengetahuan) jika kalian tidak mengetahui.”
Ayat ini mengarahkan semua manusia pada sebuah
prinsip yang rasional. Atas dasar ini, orang yang memiliki masalah
kejiwaan, hendaknya merujuk kepada para ahli jiwa.
Ahlul Bait as. menjelaskan bahwa ahlul dzikr
(orang-orang yang memiliki pengetahuan) adalah Rasulullah saw. dan para
imam. Imam Ja’far Shadiq as. berkata:
“Kami adalah ahlul dzikr dan hendaknya siapa saja bertanya kepada kami.”
Namun yang pasti riwayat tersebut berusaha
menunjukkan obyek yang paling sempurna dari ahlul dzikr dan menerima
riwayat tesebut tidak bertentangan dengan ke-umuman ayat. Oleh karena
itu para faqih dan ahli ilmu ushul untuk menetapkan kewajiban taqlid
menjadikan ayat di atas sebagai dalil dan alasannya. Perlu diingat juga
di sini bahwa yang dimaksud “memahami permasalahan” tidak hanya terbatas
dalam merujuk kepada para ahli, kita juga harus memahami dengan
sendirinya akan lingkungan sekitar yang menjadi lahan munculnya
faktor-faktor stres dan tekanan jiwa. Imam Ali as. begitu mementingkan
pemahaman akan situasi dan kondisi:
“Merubah sistim pemerintahan, adalah merubah (nilai-nilai sosial dan) kondisi.”
“Orang yang berfikiran luas dan tajam adalah orang yang memahami kondisi dan masanya.”
“Orang yang memiliki pemahaman lebih banyak akan zaman, ia tidak akan terheran-heran akan peristiwa yang terjadi di zaman itu.”
Jadi, di antara cara menangani tekanan jiwa adalah
merujuk kepada para ahli, mengenal waktu dengan baik dan dalam, dan
bersikap baik terhadap masyarakat. Karena dalam pandangan psikologi
untuk mencegah terjadinya gangguan-gangguan kejiwaan kita perlu
memperhatikan sistim-sistim prinsip dan cabang-cabangnya.
Yang jelas mengutarakan pertanyaan harus dengan
tujuan agar kita bebas dari kebodohan dan mendapatkan pengetahuan dengan
tulus. Karena pertanyaan-pertanyaan bodoh
seperti yang pernah ditanyakan oleh Bani Israil
hanya akan menciptakan rasa was-was dalam diri manusia dan justru
mempersulit urusan. Oleh karena itu kita dilarang untuk bertanya dengan
pertanyaan-pertanyaan yang bodoh.
3. Nalar keseimbangan (mencari makna)
Nalar keseimbangan, adalah sebuah teori yang
dituarakan oleh Antonovsky pada tahun 1987. Teori itu adalah hasil
penelitiaannya yang dilakukan terhadap para mantan pekerja paksa. Ia
mendapati beberapa orang di antara mereka, meskipun telah mengalami
tekanan dan beban yang berat dalam kesehariannya, namun mereka tetap
sehat secara fisik dan psikis.
Victor Francle juga mengadakan penelitian yang sama dan ia berkata:
“Mengapa sebagian orang dari mereka dapat bertahan
sedangkan kebanyakan yang lainnya tidak? Mereka yang bertahan hidup
adalah orang-orang yang tetap menjaga harapannya untuk tetap hidup di
dalam hati meskipun sesusah apapun hari yang harus mereka jalani. Mereka
semua sama-sama pernah merasakan kelaparan, kegelisahan, siksaan gaik
fisik maupun psikis; namun mereka yang berhasil untuk tetap hidup dapat
keluar dari lingkaran siksa itu dan hidup dengan normal selayaknya orang
biasa. Menurut mereka, apa yang telah membuat mereka bisa bertahan di
hadapan fenomena pembunuhan, pembantaian dan seluruh kejahatan kekejaman
rezim Nazi?”
Kemudian Francle mendapatkan jawabannya yang berdasarkan ucapan Neitzche dan ia menyimpulkan:
“Orang yang memiliki alasan dan harapan, akan kuat menjalani segala keadaan.”
Agama Islam memberikan ajaran-ajaran sucinya kepada
manusia agar memiliki pandangan dunia yang benar. Orang-orang yang
beriman mempercayai akan adanya campur tangan Tuhan dan para
malaikat-Nya dalam pengaturan alam semesta. Mereka menerima keadaan apa
saja yang menimpa diri mereka dengan tulus. Oleh karena itu para nabi
dan orang-orang yang dekat dengan Allah swt. memiliki watak yang tegar
dan tangguh. Al Qur’an menyebutkan tentang mereka:
“Mereka adalah orang-orang yang ketika mendengar
ada yang memberi kabar: “sekelompok musuh sedang berkumpul untuk
menyerang dan memerangi kalian, maka takutlah akan mereka!” Justru iman
mereka semakin bertambah dan berkata: “Cukup bagi kami Allah swt.
sebagai Tuhan kami dan Ia adalah sebaik-baiknya penolong.”
Dan juga mereka yang berkata “Tuhan kami adalah
Allah.”, lalu mereka bertahan dan bersabar, para malaikat Allah akan
membantu mereka. Mereka bukan orang yang takut, dan juga tidak bersedih
akan kesusahan.”
Manusia yang memiliki iman, tidak merasa takut akan kekurangan dan kezaliman.
Para wali Allah swt. sama sekali tidak merasakan takut dan kesedihan dalam hati mereka.
Saat mereka tertimpa musibah, mereka mengucapkan “inna lillahi wa inna
ilaihi rajiun” (sesungguhnya kami dari Allah swt. dan kepada-Nya lah
kami kembali).
Dalam pandangan Islam, Allah swt. akan meberikan ganti dan balasan di
dunia dan akherat. Namun bagi orang-orang materealis, mereka tidak
mempercayai adalnya balasan. Oleh karena itu para pemburu dunia lebih
sering mengalami tekanan jiwa dan keputus asaan dan betapa banyak di
antara mereka yang sampai berani bunuh diri.
Jadi, dalam masalah menentukan tujuan dan mencari
makna, dapat dikatakan bahwa orang yang beriman tidak akan berhadapan
dengan jalan buntu dalam hidupnya, mereka lebih fleksibel dalam setiap
keadaan, karena mereka menganggap kehidupan di alam ini hanya sebatas
pembuka untuk kehidupan di surga yang penuh keridhaan Ilahi.
4. Mencari sandaran jiwa (harapan dan iman)
Bergson pernah menulis: “Untuk menghadapi hantaman-hantaman penuh bahaya dalam kehidupan ini, kita memerlukan sandaran ruhani.”
Maueice Toesca mengungkapkan penyesalannya akan kurangnya penyandaran
jiwa dan penghinaan terhadap etika dan moral, warisan-warisan besar
dunia sepert nabi Muhammad saw., nabi Isa as., dan pemikir-pemikir besar
seperti Plato, Konfusius, dan Budha, serta para filsuf besar setelah
mereka. Ia berkata:
“Aturan-aturan moral dan spiritual yang selama ini
dianggap remeh dan hina, serta dianggap sebagai pola pikir terbelakang,
tabu, tradisi kuno, dan lain sebagainya, padahal pada hakikatnya
merupakan lentera petunjuk yang dapat menerangi jalan utama kehidupan
manusia. Meskipun secara sekilas aturan-aturan itu tampak mengekang dan
berat, namun tujuan-tujuan di balik itu adalah terjaminya kenyamanan dan
keamanan bagi kita sendiri…”
Ketika rasa takut yang dahsyat telah meliputi jiwa
seorang manusia, satu-satunya upaya terbaik yang dapat dilakukan untuk
menghadapinya adalah percaya diri dan iman. Dengan bersandar pada iman
kita dapat melewati detik-detik seberat dan seperti apapun
menakutkannya.
Pada perang dunia kedua, seorang prajurit terpisah
dari kelompoknya. Ia tesesat dalam hutan lebat yang gelap dalam keadaan
sendirian. Setiap ia melangkahkan kakinya, saat itu juga ia merasa ada
musuh yang bersembunyi di balik pepohonan yang siap menghujaninya dengan
tembakan kapan saja. Ia gugup bergetar dan ketakutan sampai ia tidak
mampu berjalan. Namun tak lama kemudian, ia merenungi ketakutannya
hingga ia menyadari untuk apa ia harus takut. Lalu dengan keras ia
berteriak: “Tuhan bersamaku! Aku tidak perlu takut.” Lalu tiba-tiba ia
kehilangan rasa takut tersebut karena berhasil mengalahkannya.”
Ketika kita yakin bahwa ada kekuatan yang maha
besar ada dalam hidup kita (yaitu Tuhan), maka pikiran-pikiran batil
akan lenyap dari benak kita dan begitu juga rasa takut tak lagi
menghantui diri kita. Dalam Al Qur’an disebutkan:
“Orang-orang yang beriman dan tidak menodai iman
mereka dengan kezaliman, mereka adalah orang-orang yang bagi merekalah
keamanan dan mereka termasuk orang-orang yang mendapatkan petunjuk.”
Ayat ini adalah ayat yang paling jelas maknanya
berkenaan dengan ketenangan jiwa. Untuk memahami lebih dalam akan makna
ayat tersebut, kita perlu memperhatikan beberapa poin penting di bawh
ini:
A. Dari segi sastra Arab, dalam ayat di atas
terdapat berbagai penekanan. Jumlah ismiyah yang berbunyi lahumul amnu
(bagi merekalah keamanan) adalah khabar bagi ulaika (mereka) dan
keseluruhan jumlah ismiyah tersebut adalah khabar bagi alladzina amanu;
lalu kata wa hum muhtadun (dan mereka termasuk orang-orang yang
mendapatkan petunjuk) sebagai ‘atf bagi kata lahumul amnu (bagi
merekalah keamanan) menunjukkan kepada kita bahwa keamanan dan petunjuk
tidak akan diberikan kecuali kepada orang-orang yang beriman.
B. Ketenangan dan petunjuk adalah buah hasil dari
keimanan, dengan syarat keimanan itu tidak dinodai dengan kezaliman.
Kata labs memiliki arti “menutupi” dan “menyelubungi”. Ayat di atas
mengisyarahkan kepada kita bahwa kezaliman tidak membinasakan dan
minadakan fitrah, tapi hanya menutupi dan menjadi tabir yang menghalangi
baginya, dan dengan demikian suara-suara fitrah tidak lagi dapat
terdengar.
C. Kata dzulm dalam ayat tersebut berupa nakirah fi
siyaqi nafsi, dan menunjukkan keumuman, namun dengan adanya qarinah
siyaq, maksudnya adalah kezaliman yang memberikan dampak buruk pada
iman. Kezaliman juga memiliki tingkatan-tingkatan sebagaimana iman.
Setiap tingkatan kezaliman adalah lawan dari tingkatan iman. Oleh karena
itu keamanan dan petunjuk juga memiliki tingkatan-tingkatan. Ketika
iman seseorang semakin tinggi, derajat keamanan dan petunjuk baginya
juga semakin tinggi.
Dalam analisa psikologis, tentang iman kita harus
mengingat beberapa hal: orang yang memiliki iman terhadap Tuhan merasa
bahwa segala urusannya berada di bawah pengaturan tangan Tuhan; ia
meyakini Tuhan sebagai pemberi rizki dan dzat yang maha kuat yang
sebenarnya; ia menganggap kesedihan dan kegembiraan adalah ujian yang
diturunkan oleh Tuhan; kesehatan, keselamatan dan taufik untuk mengikuti
petunjuk yang benar bagi orang yang beriman adalah bentuk kasih sayang
Tuhan; dan yang paling menakjubkan di antara semua itu, ia menganggap
Tuhan sebagai pelindung terbesar baginya. Dalam Al Qur’an disebutkan:
“Sesungguhnya shalatku, ketaatanku, hidup dan matiku adalah untuk Allah Tuhan semesta alam.”
“Sesungguhnya Allah lah sang pemberi rizki dan pemilik kekuatan yang dahsyat.”
“Tidak ada satu pun makhluk hidup yang berjalan di muka bumi kecuali Allah-lah yang memberi rizki kepadanya.”
Orang yang beriman meyakini bahwa kematian adalah
hal yang pasti bagi semua orang: “Setiap yang hidup pasti akan merasakan
mati.”
Tak satupun ada yang bisa lari dari kematian
dan panjang atau pendeknya umur seseorang sudah ada dalam catatan Tuhan.
Oleh karena itu tak selayaknya orang yang beriman berputus asa akan rahmat Allah swt. dalam setiap keadaan
dan merasa saat memohon kepada Tuhannya maka doa dan permohonannya akan dikabulkan.
Kesedihan dan kebahagiaan adalah cobaan dari Tuhan:
“Allah adalah dzat yang membuat (hambanya) tertawa dan menangis.”
“Dialah yang memberiku makan dan minu, dan saat aku sakit Ia lah yang menyembuhkan.”
“Sesungguhnya Allah akan membela dan melindungi orang yang beriman.”
Keyakinan-keyakinan seperti ini membuat orang yang
beriman menjadi yakin dan tak kehilangan harapan. Oleh karena itu mereka
selalu bertawakal kepada Allah swt. Karena mereka tahu bahwa:
“Dan barang siapa bertawakal dan berserah kepada Allah, maka cukuplah Allah baginya.”
“Tidakkah Allah itu cukup untuk hamba-Nya?”
Jika orang yang seperti ini dan memiliki iman yang
begini tidak mendapatkan ketenangan, maka tak diragukan lagi bahwa
keimanannya telah ternodai dengan kezaliman. Semakin iman tertutupi debu
kezaliman, dengan kadar itu jugalah ia kehilangan ketenangan dan
petunjuk.
5. Perubahan dalam batin
Salah satu cara menghadapi tekanan jiwa adalah
menciptakan sebuah perubahan besar dalam batin dan jiwa kita dalam
naungan iman dan kembali kepada Allah swt. Perubahan ini membuat seorang
manusia mendapatkan sebuah kekuatan yang tak terbayang dalam dirinya
sehingga dengan kekuatan itu ia mampu melewati segala rintangan dan
kesusahan yang dihadapinya.
Berkenaan dengan pembahasan ini, dalam Al Qur’an
telah disebutkan kisah nabi Musa as. dan para penyihir Fir’aun. Ketika
nabi Musa as. melemparkan tongkatnya ke tanah, tongkat itu berubah
menjadi ular besar yang menelan semua peralatan-peralatan para sihir
Fir’aun, kemudian mereka takjub dan bersujud sambil bersaksi bahwa tiada
Tuhan selain Allah:
“Kami beriman kepada Tuhan semesta alam, Tuhan (nya) Musa dan Harun.”
Kemudian Fir’aun marah melihat itu dan berkata:
“Apakah kalian mengimani Musa tanpa seizinku?
Sesungguhnya Musa adalah guru kalian. Aku akan menghukum kalian,
memotong tangan dan kaki kalian serta menggantung kalian bersama-sama.”
Mereka berkata:
“Kami tidak takut akan kematian, karena setelah
mati kami akan kembali kepada Tuhan dan kami berharap Ia mengampuni
dosa-dosa kami.”
Perubahan dalam hati para penyihir itu membuat
mereka begitu berani bahkan di hadpan ancaman mati Fir’aun. Mereka juga
menjawab ancaman Fir’aun dengan berkata:
“Lakukan apapun yang ingin kau lakukan. Engkau hanya mampu menghukum (seenakmu) di dunia saja.”
Istri Fir’aun dengan melihat mukjizat nabi Musa as.
dan keimanan para penyihir hatinya mulai berubah. Ia mengimani nabi
Musa as. dan bertahan di hadapan ancaman-ancaman Fir’aun. Lalu Fir’aun
memerintahkan anak buahnya untuk memaku tangan dan kaki istrinya sendiri
dan lalu ditindihkan batu besar di atas dadanya di bawah terik sinar
matahari hingga mati.
Istrinya menganggap istana Fir’aun adalah sesuatu yang hina dan memohon
kepada Allah swt. sebuah istana yang benar-benar megah di surga.
6. Prinsip qadha dan qadar serta tidak adanya hal-hal kebetulan
Salah satu cara terbaik yang diajarkan Islam untuk
menghadapi tekanan jiwa adalah keyakinan akan Qadha dan Qadar. Dalam
pandangan ini, segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang bersifat
kebetulan, dan segalanya berada dalam pengaturan Allah swt. Seorang yang
beriman, meskipun ia meyakini bahwa tidak ada jabr (yakni segala
perbuatan yang kita lakukan kita lah yang bertanggung jawab) dalam hidup
ini, tetap berkeyakinan bahwa Allah swt. adalah suber segala gerak dan
efek serta Ia lah pencipta semua maujud.
Dengan pola pikir seperti ini, seorang manusia tidak akan berhadapan
dengan jalan buntu dalam hidupnya, segala musibah yang menimpa adalah
atas kehendak-Nya dan segala perkara telah ditakdirkan-Nya.
Imam Ali as. berkata:
“Segala perkara mengikuti qadha dan qadar. Mati dan
hidup manusia ada dalam pengaturan-Nya. Oleh karena itu, manusia tidak
boleh hanya bersandar pada pemikirannya saja (tanpa mengingat adalanya
qadha dan qadar).”
Oleh karena itu, orang-orang yang beriman selalu mengembalikan segala urusannya kepada kehendak Allah;
ketika mereka mengambil keputusan, mereka bertawakal
lalu berusaha, dan mereka tidak pernah takut akan kegagalan:
“Katakanlah: apakah kalian mengharap dari kami selain dari dua kebaikan (kemenangan atau kesyahidan)?”
Dalam pandangan orang-orang yang beriman, kegagalan
secara materi memiliki banyak hikmah, yang salah satunya mungkin agar
menjadi wasilah dan perantara kesuksesan-kesuksesan lainnya. Rasulullah
saw. bersabda:
“Sungguh menakjubkan, Allah swt. tidak mentakdirkan
kebahagiaan dan kesusahan bagi seorang yang beriman melainkan ada
kebaikan di dalamnya untuknya. Saat Ia menguji hambanya dengan
kesusahan, itu adalah untuk menghapus dosa-dosanya; adapun jika
mencurahkan karunia dan kesenangan, maka itu adalah rahmat dari-Nya.”
7. Prinsip tawakal
Salah satu cara lainnya untuk menghadapi tekanan
jiwa adalah tawakal dan berserah diri kepada Allah swt. Tawakal adalah
sifat yang bersumber dari keyakinan seseorang akan qadha dan qadar Ilahi
serta tauhid af’ali.
Manusia harus memahami bahwa segala daya dan usaha,
serta pengaturan yang ia lakukan dalam hidupnya, berada di bawah kuasa
pengaturan dan sunnah Tuhan, sunnah yang tidak akan pernah berubah.
Tawakal adalah, manusia tidak boleh sombong dengan
pengaturan dan perencanaannya dalam hidup, takdir Allah juga harus harus
diingat keberadaannya, dan ketika usahanya tidak berhasil, janganlah
bergundah hati dan kesal.
“Aku menyerahkan urusanku kepada Allah, sesungguhnya Allah maha melihat hamba-hamba-Nya.”
Namun tawakal tidak boleh disalah artikan menjadi
pasrah tanpa usaha dan membiarkan perkara kita terbengkalai begitu saja.
Karena manusia tidak akan mendapatkan sesuatu tanpa ia berusaha untuk
mendapatkannya.
Dan Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum selama kaum itu sendiri tidak bergegas untuk merubah pola dan prilakunya.
8. Berpandangan positif terhadap kematian
Jika kita tidak ingin terjerumus dalam jeratan
stres dan tekanan jiwa, salah satu caranya adalah memiliki pandangan
positif terhadap kematian. Berdasarkan pandangan Al Qur’an, kematian
adalah perpindahan dari satu alam ke alam yang lain. Oleh karena itu
berpandangan sedemikian rupa akan menciptakan ketentraman di hati saat
mengingat kematian, bukannya rasa takut dan stres. Karena dengan
kematian itulah seseorang akan masuk ke suatu alam yang di dalamnya
dapat merasakan keridhaan Allah, liqa’ (bertemu) dengann-Nya,
merasakan kenikmatan surga dan segala kebahagiaan yang ada.
9. Antara menjalankan tugas dan hasilnya
Dalam agama ini kita diajarkan untuk hanya
berkonsentrasi pada penjalanan tugas, bukan merenung dan memikirkan
hasil-hasil yang bakal didapati. Manusia memiliki tugas dan kewajiban,
dan itu pun seseuai dengan kadar kemampuannya.
Dalam keadaan ini, mungkin salah satu faktor yang memicu stres pada
seseorang adalah tidak tergapainya tujuan dijalankannya tugas.
Kebanyakan orang pun selalu gelisah saat menjalankan tugasnya, apakah ia
akan meraih tujuannya ataukah tidak.
Namun Al Qur’an mengajarkan kita suatu cara agar
kita tidak terjerat dalam masalah ini. Yaitu kita hanya perlu
berkonsentrasi dalam penjalanan tugas, dan saat kita tidak berhasil
meraih tujuan kita, kita tidak boleh kehilangan semangat atau bersedih,
karena kita telah menjalankan tugas kita, berhasil atau tidak, kita
serahkan kepada Tuhan. Oleh karena itu oran yang beriman selalu
merasakan ketenangan di manapun mereka berada dan kapanpun juga, karena
ia telah menajalankan kewajiban dan tugasnya tanpa perlu risau ia akan
berhasil atau tidak.
10. Kembali pada renungan (bertafakur)
Untuk menghadapi dan mengatasi tekanan jiwa, perlu
sesekali kita kembali pada renungan dan bertafakur. Pikirkanlah tiga hal
di bawah ini:
A. Jalan untuk berubah selalu terbuka lebar
B. Kita memegang kendali amal perbuatan dan perilaku diri sendiri
C. Seharusnya kita mengontrol dan memprioritaskan hal-hal yang terpenting, tingkatan demi tingkatan
Para psikolong mengurutkan tahapan-tahapan di atas sebagai berikut:
Tahapan pertama, anda harus bertekat untuk terus
hidup dengan baik. Dengan tekat ini, anda harus menghindar dari segala
hal yang merugikan bagi anda. Karena sepanjang sejarah umat manusia
pernah terjerumus dalam kesusahan-kesusahan yang dihasilkan oleh
peperangan, minuman keras, obat-obatan terlarang dan lain sebagainya.
Tahapan kedua, anda harus mempunyai alasan-alasan positif untuk hidup dan anda harus menerapkannya pada setiap aktifitas anda.
Francle berkata:
“Alasan kita untuk hidup, adalah tujuan yang mendorong kita untuk melakukan usaha; dan itulah sumber motivasi kita.”
Ketika kita punya alasan, maka kita akan tegar menghadapi apa saja.
Tahapan ketiga, anda harus bertekat seperti apakah
anda harus hidup. Tanyalah pada diri sendiri: apakah aku ingin hidup
dengan baik atau tidak? Lalu catatlah langkah-langkah apa saja yang
harus anda perbuat untuk menjalani hidup dengan baik.
Tahapan keempat, berfikirlah positif dan
pertahankan. Seorang yang optimis dalam berfikir, senantiasa menanti
peristiwa positif pula; namun orang yang pesimis selalu murung menanti
datangnya peristiwa negative juga. Orang yang optimis akan berkata bahwa
“gelas itu berisi air setengahnya” namun orang yang pesimis akan
berkata “gelas itu kosong setengahnya”.
Dokter Beck berkata:
“Depresi dan stres adalah hasil dari pola fikir
yang salah. Ketika seseorang berpikiran negatif pada diri sendiri dan
melupakan potensi-potensi serta titik positif lain yang ia miliki, ia
selalu menganggap dirinya sebagai orang yang sengsara dan memandang masa
depan dengan keputus asaan.”
Dalam catatan penelitian Dr. Donald Meichenbaum disebutkan:
“Setiap orang dari kita pasti memiliki satu bentuk
percakapan dengan dirinya sendiri. Orang-orang yang suka berfikiran
negatif saat tertimpa sedikit saja kesusahan adalah orang-orang yang
selalu bercakap dengan diri sendiri secara negatif. Obatnya adalah,
mereka harus belajar bagaimana berpikiran positif dalam menerima
kenyataan-kenyataan hidup.”
Tahapan kelima, kita genggam erat kendali hidup
kita. Kebanyakan orang yang mengalami tekanan jiwa berkata: “Aku tidak
berhasil sampai di garis finish.” Kata-kata ini menunjukkan kelemahannya
dalam menilai kenyataan. Adapun orang-orang yang teguh dan tegar justru
akan berkata: “Aku pasti bisa menyelesaikan semua permasalahanku.”
Perasaan memiliki kontrol dan pengendalian diri di hadapan
kesusahan-kesusahan, adalah sebuah senjata yang sangat ampuh bagi siapa
saja.
Tahapan keenam, berfikiran terbuka untuk belajar.
Orang yang selalu bertahan di hadapan permasalahan, saat berhadapan
dengan tekanan dan kesusahan ia akan berusaha berfikir lebih jernih dan
luas. Mereka tidak terlalu risau dengan bagaimana harus hidup dan tidak
pernah menganggap dirinya selalu benar. Kesalahan-kesalahan bagi mereka
adalah pelajaran yang harus difahami agar tidak terulang kembali dan
pada kesempatan berikutnya harus berusaha lebih keras dari sebelumnya.
Namun ungkapan-ungkapan seperti “manusia tak luput dari kesalahan” tidak
boleh dijadikan alasan untuk menghindar dari tanggung jawab. Kata-kata
seperti itu tujuannya adalah agar kita tidak berhenti begitu saja saat
sekali tergelincir karena kesalahan, bukannya untuk menghindar dari
tanggung jawab.
Tahapan ketujuh, anggaplah perubahan dan
permasalahan sebagai medan pertempuran yang menantang. Orang-orang yang
menganggap perubahan dan permasalahan sebagai tantangan akan mendapatkan
keberanian dalam dirinya, beraksi dengan baik melawan masalah-masalah,
lalu berusaha menyelesaikan semuanya. Saat kita berhadapan dengan
peristiwa yang bagi kita menyakitkan dan mengesalkan, kita harus kembali
ke fikiran kita, jika ternyata yang ada di pikiran kita adalah sesuatu
yang negatif, maka fenomena itu akan benar-benar menjadi penghalang bagi
kita. Namun jika kita berfikiran positif dan menganggapnya sebagai
sebuah kesempatan, lalu kita bertanya pada diri kita sendiri, “bagaimana
aku bisa mengambil manfaat dari kesempatan ini?”, maka yang akan
terjadi adalah sebaliknya. Dengan demikian seseorang yang biasanya jatuh
terpukul dalam menghadapi masalah akan berubah menjadi seorang jawara
yang siap menghadapi dan menyelesaikannya.
Tahapan kedeleapan, membiasakan diri untuk
menciptakan percakapan yang positif dan baik. Dalam mengontrol tekanan
jwia, ada pentingnya kita memahami perbedaan antara percakapan yang baik
yang dapat menyelesaikan masalah dengan percakapan yang buruk yang
hanya akan memperunyam masalah. Percakapan yang tidak baik akan terus
menambah beban derita tekanan jiwa. Namun percakapan yang baik dan
positif akan berujung pada sebuah jalan penyelesaian masalah. Sebagian
orang banyak yag terus menerus menyiksa diri sendiri dengan tidak pernah
berhenti berfikiran negatif. Dalam percakapan yang baik dan positif,
seseorang akan bertanya pada dirinya tentang krisis apakah yang sedang
terjadi, lalu apa jalan keluarnya?
Tahapan kesembilan, terus maju. Hendaknya kita
memahami nilai-nilai dan jati diri kita sendiri. Berusaha mengambil
pelajaran dari segala peristiwa dan pengalaman apapun serta terus
berusaha untuk menjadi yang terbaik.
Tahapan kesepuluh, bertanggung jawab. Terimalah
konsekwensi pemikiran diri anda sendiri dan saat anda mengalami
kegagalan, janganlah menyalahkan orang lain.
Berdasarkan apa yang dijelaskan Al Qur’an, ada beberapa prinsip yang harus digenggam erat dalam rangka bertafakur:
Prinsip pertama, percaya bahwa berjalannya segala
urusan ada di tangan-Nya dan dalam pengaturan alam semesta selalu ada
campur tangan kekuatan ghaib.
Dalam agama Islam, sumber energi dan gerak adalah Allah swt.
Ia adalah pencipta alam semesta dan seluruh penghuninya.
Tidak ada satupun peristiwa yang bersifat kebetulan. Dalam ajaran agama ini, kebaikan dan keburukan,
harta dan anak keturunan,
hidup dan mati,
dan segalanya merupakan bahan ujian Tuhan. Oleh karena itu orang yang
beriman saat tertimpa musibah berkata “inna lillahi wa inna ilaihi
rajiun” (sesungguhnya kami dari Allah dan kepada-Nya kami kembali),
karena di manapun mereka berada, Allah swt. ada bersama mereka,
dan bahkan pada manusia Ia lebih dekat dari urat nadi.
Meskipun manusia tidak dapat melihat Tuhan, namun Tuhan melihat dan menyaksikan manusia:
“Sembahlah Allah seakan engkau melihat-Nya, karena meski kamu tidak bisa melihatnya Ia selalu melihatmu.”
Memang benar manusia memiliki ikhtiar dan kehendak. Namun kekuasaan Tuhan meliputi segala keberadaan.
“Katakanlah bahwa tidak ada yang menimpa kami
kecuali Allah telah mencatatnya untuk kami. Ia adalah Tuhan kami dan
pada Allah orang-orang yang beriman berserah diri.”
Prinsip kedua, yakin bahwa Allah swt. sedang mengawasinya.
Berdasarkan prinsip ini, manusia selalu yakin bahwa
ia sedang berada di hadapan dan di bawah pengawasan Tuhan; oleh
karenanya harus berhati-hati dalam berbuat.
Prinsip ketiga, sabar dalam kesusaan. Saat tertimpa
musibah dan bencana, tidak ada usaha yang lebih baik dilakukan
ketimbang bersabar.
Prinsip keempat, meyakini bahwa usaha yang
dilakukan manusia tidak terjamin keberhasilannya. Prinsip ini membuat
seseorang tidak akan merasakan kesedihan yang mendalam saat tidak
berhasil mencapai tujuan pekerjaannya; karena yang terpenting baginya
adalah mengerjakan tugas, adapun tujuannya tercapai atau tidak, itu
terserah Tuhan.
Prinsip kelima, berserah diri pada Allah swt.
Orang yang bertawakal dan berserah kepada Allah
swt. akan benar-benar merasakan perhatian Tuhan dalam hidupnya; meskipun
ia mengalami kegagalan, ia akan mengambil hikmahnya dan menganggapnya
sebagai kemenangan.
11. Berpandangan positif
Salah satu cara agar kita selalu terhindar dari
gangguan dan tekanan jiwa, kita harus selalu menyikapi segala hal dengan
bijak dan berpandangan positif. Tidak hanya para psikolog saja yang
menekankan masalah ini, Al Qur’an pun juga demikian. Agar kita dapat
berpandangan positif, kita harus menjalankan dua langkah penting
berikut: berpandangan luas terhadap kondisi yang ada, dan berbaik sangka
kepada Allah.
A. Berpandangan luas terhadap kondisi yang ada
Kebanyakan dari tekanan-tekanan jiwa diakibatkan
oleh faktor-faktor seperti penyesalan akan masa lalu, kehilangan
kesempatan, mengalami kekalahan, ketertinggalan, takut akan masa depan,
dan lain sebagainya. Para Imam maksum mengajarkan kita untuk merenung
dan berfikir secara positif terhadap keadaan yang ada. Namun renungan
dan fikiran ini haruslah bersifat melebar dan luas tanpa melupakan
hakikat-hakikat maknawiyah. Dalam dua ayat, Al Qur’an melarang manusia
untuk berpandangan sempit dalam menilai permasalahan serta mengingatkan
akan adanya hal-hal ghaib di balik panggung materi ini. Dalam ayat 22
dan 23 surah Al Hadid kita membaca:
“Tidak ada satupun bencana yang menimpa di bumi dan
(tidak pula) pada diri kalian sendiri melainkan telah tertulis dalam
kitab (Lauh Mahduz) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang
sedemikian itu mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu)
supaya kalian jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kalian
dan supaya kalian, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa
yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak suka orang yang sombong
lagi berbangga diri.”
Al Qur’an menekankan kita agar tidak berpandangan sempit dalam menilai permasalahan. Disebutkan dalam kitab suci tersebut:
“Dan mungkin saja kalian membenci sesuatu yang
padahal itu baik bagi kalian dan mungkin saja kalian menyukai sesuatu
yang padahal itu buruk bagi kalian.”
Dalam fiqih Islam terdapat sebuah kaidah yang
dikenal dengan kaidah maisur yang artinya adalah “memandang keadaan yang
ada”. Berdasarkan kaidah ini, manusia seharusnya memahami dan
menjalankan tugas-tugasnya dan menjauh dari kegelisahan dan ketidak
tenangan. Rasulullah saw bersabda:
“Jika aku memerintahkan sesuatu kepada kalian, maka lakukanlah; dan jika aku melarang kalian, maka tinggalkanlah.”
Imam Ali as. juga berkata:
“Suatu kewajiban tidak akan gugur hanya karena
susah dikerjakan (meski susah, kita harus berusaha mengerjakannya,
karena itu adalah kewajiban kita; tak masalah apapun hasilnya).”
Riwayat-riwayat di atas menunjukkan bahwa ketika
manusia menghadapi permasalahan dalam hidupnya, ia harus berusaha sekuat
tenaga untuk menyelesaikannya, dan hendaknya ia mengurangi
kegelisahannya dengan cara penyesuaian diri dengan kondisi yang ada.
Pada hakikatnya pesan asli riwayat-riwayat di atas adalah fleksibilitas
manusia dalam menjalani kehidupannya; karena jika demikian, manusia akan
terhindar dari tekanan-tekanan psikis dan stres.
B. Berbaik sangka kepada Tuhan
Menurut pandangan riwayat Islami, orang yang suka
berburuk sangka kepada sesamanya menunjukkan buruknya diri sendiri.
Orang yang buruk, selalu berburuk sangka kepada siapa saja. Imam Ali as.
berkata:
“Orang yang buruk, tidak akan pernah berprasangka
baik kepada siapapun, karena segala yang ia lihat tak lain adalah
cerminan keburukan dirinya sendiri.”
Suka berburuk sangka adalah sebuah penyakit jiwa
yang menjadi sebab berbagai macam penyelewengan dan ketergelinciran
dalam perjalanan spiritual. Dalam sebuah suratnya yang ditulis kepada
Malik Al Asytar, Imam Ali as. berkata:
“Sesungguhnya sifat pelit, pengecut, penakut,
adalah sifat-sifat buruk yang berkumpul pada satu sifat: berburuk sangka
kepada Allah.”
Berbaik sangka, adalah kunci yang sangat penting untuk kesehatan ruhani. Imam Shadiq as.berkata:
“Sesungguhnya Allah akan berbuat sesuai dengan prasangka hamba-Nya, baik ketika hamba berprasangka baik atau buruk.”
Imam Ali as. juga berkata:
“Prasangka baik adalah (sumber) ketenangan hati dan selamatnya agama.”
“Orang yang tidak mau berbaik sangka, ia akan merasa takut kepada semua orang.”
Prasangka baik kepada Allah swt. bergantung pada kadar iman dan harapan seorang hamba terhadap Tuhannya.
Jika kita memperhatikan lebih lanjut, kita akan mendapati bahwa sifat
berprasangka baik kepada Tuhan ini tidak akan ditemukan kecuali dalam
diri orang yang benar-benar tidak menaruh harapan kepada selain Allah
swt.
Saat kegembiraan dan kesenangan dianugerahkan oleh Allah swt. kepadanya,
ia akan bersyukur, dan jika Allah swt. Menimpakan musibah dan cobaan,
ia bersabar.
Dalam doa ‘Arafah Imam Husain as. disebutkan:
“Apa yang dimiliki oleh orang-orang yang kehilangan-Mu? Dan apa yang tidak dimiliki oleh orang-orang yang memiliki-Mu?”
Jadi orang yang selalu berprasangka baik kepada
Allah swt. tidak akan pernah berhadapan dengan jalan buntu apa lagi
terjerumus dalam stres dan tekanan mental; semakin berat musibah dan
cobaan yang ia hadapi, semakin besar pula kesabaran dan ketegarannya.
Membenahi prilaku
Apa yang kita bahas di sini adalah seputar
pembenahan-pembenahan prilaku yang bersifat jasmaniah, yaitu
aktifitas-aktifitas dan latihan yang berhubungan dengan badan yang mana
semua itu berguna bagi ketahanan seseorang dalam menghadapi dan
mengatasi tekanan jiwa atau stres.
1. Olah raga dan latihan fisik
Sebagaimana tidur dan istirahat sangat dibutuhkan
badan untuk menjaga kinerja otak, olah raga pun juga demikian. Olah raga
dan latihan-latihan fisik berguna untuk menurunkan ketegangan urat
syaraf dan juga dapat melenturkan anggota badan. Olah raga dipercaya
berguna untuk menghindarkan pelakunya dari stres, karena kebanyakan
orang yang giat berolah raga cenderung lebih sedikit menyisihkan
waktunya untuk melamun dan mengkhawatirkan sesuatu (yang ujung-ujungnya
membuat stress). Olah raga juga dapat menguatkan urat-urat syaraf saat
berhadapan dengan ketegangan. Orang yang pekerjaan dan aktifitasnya
melibatkan gerak fisik, seperti berjalan kaki dan lain sebagainya, detak
jantung mereka lebih teratur, volume paru-paru mereka lebih besar, dan
mereka lebih sedikit beresiko terserang penyakit.
Imam-imam maksum menyarankan para pengikutnya untuk sering berjalan kaki karena itu berguna bagi kebugaran tubuh mereka.
Rasulullah saw. juga mendukung diadakannya perlombaan-perlombaan
berkuda, tunggang onta, dan juga memanah. Pada peristiwa perang Tabuk,
beliau pernah ikut dalam sebuah perlombaan dengan Usamah bin Zaid.
Orang-orang berkata, “Rasulullah saw. menang!” Lalu beliau sendiri
berkata, “Tidak, Usamah lah yang menang.”
Pada suatu hari beliau pernah berlomba dengan soeorang Arab Baduwi, namun orang Arab Baduwi itu yang memenangkan perlombaan.
Beliau sering kali menyarankan sahabat-sahabatnya untuk sering memanah dan berenang. Beliau bersabda:
“Ajarilah anak-anak kalian memanah dan berenang.”
Berenang dapat meringankan berat badan; dan
aktifitas-aktifitas fisik secara keseluruhan berguna untuk kebugaran dan
keceriaan seseorang.
Mendaki gunung juga baik sekali untuk kesehatan,
meningkatkan rasa percaya diri dan mengembangkan jiwa pemberani pada
seseorang. Cerita kebiasaan Rasulullah saw. menyendiri di Jabal An Nur
(gunung An Nur) begitu dikenal dan juga peristiwa turunnya Al Qur’an di
goa Hira, menunjukkan betapa baiknya kebiasaan ini. Pada dasarnya
kehidupan para nabi seringkali berkaitan dengan gunung-gunung; nabi Adam
as. di gunung Sarandib, nabi Nuh as. di gunung Ararat, nabi Isa as. di
gunung Sa’iyr, nabi Ibrahim as. dan Musa as. di gunung Thur, Sa’iyr dan
Faran, lalu nabi Muhammad saw. di gunung An Nur.
Olah raga memang bukan obat (yang secara langsung
menyembuhkan) orang yang stres, namun kegiatan ini sangat bermanfaat
sekali untuk menciptakan kesiapan pada diri seseorang dalam menghadapi
masalah-masalah pemicu stress.
2. Tidur
Otak adalah alat vital yang berfungsi untuk
mengatur keberlangsungan dan keseimbangan hidup. Agar otak memiliki
kinerja yang baik, kita butuh cukup istirahat. Bagian besar dari
istirahat adalah tidur. Jika seseorang tidak tidur dengan cukup, ia akan
bangun dari tempat tidurnya dengan perasaan marah dan kelelahan; jika
demikian ia akan lebih sulit menyelesaikan permasalahan-permasalahan
dengan baik dan benar. Alasannya adalah karena otak tidak dapat menjaga
keseimbangan kimiawi dalam tubuhnya dengan benar.
Lebih dari sepertiga umur manusia dihabiskan untuk
tidur; namun meskipun demikian sampai saat ini banyak sekali rahasia dan
misteri dalam hal tidur, khususnya mimpi, yang belum bias diungkap. Al
Qur’an menggunakan kata subat untuk menjelaskan bagaimana keadaan tubuh
dan jiwa seseorang saat tidur: yaitu sebagian besar dari tubuh dan jiwa
berhenti beraktifitas. Imam Ali as. berkata:
“Tidur adalah kenyamanan untuk tubuh dan berbicara adalah kenyamanan untuk jiwa.”
Tidur berperan sebagai pemulih kekuatan dan energi
serta melenyapkan lelah pada tubuh. Tidak tidur dalam kurun waktu yang
cukup lama sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.
Berdasarkan berbagai penelitian ilmiah, tidur di
malam hari sangat lebih efektif dibanding tidur lainnya; namun jika kita
ingin mendapatkan manfaat dari tidur yang optimal, kita tidak boleh
merasa puas dengan tidur malam saja. Al Qur’an pun juga menyinggung
pentingnya tidur di malam dan siang hari:
“Dan yang termasuk dari tanda-tanda kebesarannya adalah tidurnya kalian di malam dan siang hari.”
Tidur di malam hari, apa lagi jika di awal
permulaan malam, diakui lebih banyak manfaatnya; karena tidur malam
lebih lelap dibanding tidur selain di malam hari. Imam Ali as berkata:
“Para pengikut kami tidur di awal permulaan malam.”
Para Imam umumnya juga menyarankan pengikut-pengikutnya untuk tidur beberapa saat di siang hari, yang dikenal dengan qailulah.
Al Qur’an juga menyebut malam hari sebagai saat yang penuh ketenangan
dan tidur sebagai istirahat dan pemulih kekuatan, kemudian menyebut
siang hari sebagai waktu beraktifitas:
“Dia lah yang menjadikan malam bagi kalian agar
kalian mendapatkan ketenangan di dalamnya dan menjadikan siang untuk
mencari penghidupan.”
“Dan kami jadikan tidur kalian sebagai ketenangan
dan istirahat, Kami juga jadikan malam kalian sebagai pakaian (selimut
untuk beristirahat).”
Tidur sesaat di siang hari atau qailulah sering
sekali dikemukakan dalam teks-teks riwayat. Pada suatu hari ada seorang
Arab Baduwi yang mendatangi Rasulullah saw. dan mengadu padanya karena
ia pelupa. Rasulullah saw. berkata kepadanya, “Apakah kamu pernah
terbiasa tidur sesaat di siang hari?” Ia berkata, “Iya.” Kemudian beliau
bertanya kembali, “Apakah kamu telah meninggalkan kebiasaan tersebut?”
Ia menjawab, “Iya.” Lalu beliau menasehatinya, “Kalau begitu ulangi
kebiasaan yang telah engkau tinggalkan itu.” Orang Arab Baduwi itu
kembali membiasakan diri untuk tidur qailulah di siang hari, lalu
ingatannya pun pulih kembali.
Tidur dapat menghilangkan kegelisahan, rasa takut dan tekanan jiwa.
Dalam Al Qur’an disebutkan tentang rasa takut yang dirasakan oleh
sahabat-sahabat nabi di perang Badar:
“(Ingatlah) saat Allah menjadikan kalian mengantuk
sebagai sesuatu penentraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu
hujan dari langit untuk menyucikan kamu dari hujan itu dan menghilangkan
dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan
memperteguh dengannya telapak kakimu.”
Dalam ayat yang lain disebutkan:
“Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika Allah
menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah
Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu
beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”
Namun perlu diingat juga bahwa terlalu banyak tidur
juga tidak baik; salah satunya membuat orang menjadi bingung tanpa
alasan yang jelas.
Lebih dari itu, para imam maksum menasehati pengikut-pengikutnya untuk
menghindari tidur di antara terbitnya fajar dan terbitnya matahari dan
juga tidur di waktu sore hari. Mereka menyebut tidur di pagi hari akan
menyebabkan kesialan dan kemalangan, mencegah diturunkannya rizki dan
menimbulkan penyakit kuning.
Adapun tidur di sore hari dapat menyebabkan kebodohan.
Mereka menyarankan para pengikutnya untuk terjaga di sepertiga akhir
malam, karena itu bermanfaat untuk kesehatan; dan mereka juga
menyarankan untuk beribadah di waktu itu. Imam Shadiq as. berkata:
“Shalat malam dapat mengindahkan wajah dan perangai, membuat jiwa bersih dan menghilangkan kesedihan.”
3. Istirahat dan relaksasi
Memang salah satu di antara cara-cara mengatasi
stres adalah beristirahat dengan cukup. Berdasarkan penelitian,
orang-orang yang setiap harinya beristirahat dengan cukup lebih kecil
kemungkinannya tertimpa penyakit. Dengan demikian istirahat adalah jalan
terbaik menghindar dari stres. Mungkin bagi kebanyakan orang ada
hal-hal yang dapat menjadi penenang, seperti menghisap rokok,
mengkonsumsi obat-obatan, kokain, minuman-minuman beralkohol, teh, kopi,
dan lain sebagainya; padahal sifat penenang yang ada padanya hanya
bersifat sementara dan bahkan dalam jangka waktu yang panjang akan
menimbulkan efek samping yang buruk.
Hal-hal penting yang perlu diperhatikan
1. Memposisikan tubuh dalam keadaan yang nyaman,
seperti duduk di atas kursi yang empuk, berbaring di atas tempat tidur
sambil meletakkan bantal di bawah kedua lutut, dan lain sebagainya.
2. Hindari pakaian-pakaian yang ketat. Tanggalkan
perhiasan-perhiasan (bagi wanita) dan benda-benda supaya tubuh anda
merasa leluasa dan nyaman.
3. Pilih tempat yang tenang untuk beristirahat, tidak bergerak, tidak bising dan tidak berbau yang mengganggu.
4. Tentukan berapa lama anda beristirahat.
Istirahat dan olah raga ringan sebagai pelengkapnya membutuhkan waktu
sekitar 20 hingga 30 menit.
5. Jalani program istirahat anda dengan teratur.
6. Sedikit latihan fisik juga dapat memulihkan tenaga dan kejernihan pikiran anda.
7. Lakukan hal ini: tarik nafas dalam-dalam
kemudian pejamkan mata anda. Tarik nafas melalui hidung, lalu keluarkan
lewat mulut. Setelah diulang-ulang dan berlangsung selama tiga menit,
mulailah menggerakkan tangan anda dan otot-ototnya, lalu setelah itu
lakukan hal yang sama pada kaki anda dan oto-ototnya. Kemudian
putar-putar kepala anda, lalu buka kedua mata anda setelah itu dan
duduklah dengan punggung yang tegak.
8. Jangan lupa untuk melemaskan otot-otot anda secara total.
Pada tahun 1938, Dokter J. Jackson dalam buku yang berjudul Relaksasi Moderen munulis:
“Untuk melemaskan otot-otot, kita dapat meremas dan memijitnya, lalu meregangkannya.”
4. Memperbaiki suasana kerja
Istirahat dan pola makan yang sehat dapat
meningkatkan daya tahan diri terhadap stress dan tekanan jiwa. Namun
kita juga perlu memperhatikan pola kita bekerja dan juga lingkungannya.
Oleh karena itu kita perlu memperhatikan beberapa poin di bawah ini:
1. Prediksi menyangkut waktu: berapa banyak waktu
yang dibutuhkan untuk bekerja? Apakah waktu yang cukup untuk mengerjakan
pekerjaan anda?
2. Memperhatikan prioritas-prioritas tugas: ketika banyak tugas menumpuk, manakah yang harus didahulukan?
3. Memiliki style bekerja yang khas: bagaimana anda
menjalankan pekerjaan anda? Apakah anda termasuk orang yang bersedia
bekerja secara detil, seksama dengan penuh kesasbaran, ataukah orang
yang suka marah-marah saat terpuruk dalam pekerjaan?
4. Perhatikan kualitas: pentingkah kualitas kerja? Pentingkah kepuasan konsumen bagi anda? Bagaimana anda menilainya?
5. Bergulat dengan stres: di saat terserang stres,
seharusnya anda teliti satu per satu apa yang membuat anda sedemikian
tertekan, lalu berusaha menyelesaikannya.
6. Menjaga dan meningkatkan kesehatan: bagi
kebanyakan orang memiliki kesehatan dan cukupnya istirahat adalah bekal
yang paling utama untuk menjalankan aktifitas sehari hari. Oleh karena
itu ketahanan harus terjaga sehingga anda dapat menangani
situasi-situasi pelik yang mungkin akan anda hadapi.
7. Mengenal keadaan-keadaan emosional:
keadaan-keadaan tersebut memiliki pengaruh dalam hidup kita. Jika kita
mengenal mereka dengan baik, kita dapat menghadapi dan menjinakkannya
dengan tepat. Masalahnya kebanyakan orang tidak tahu menahu dan
mengabaikannya.
8. Tak perlu memaki buruknya lingkungan: memaki
buruknya lingkungan memang mudah, namun bagaimanapun juga memang seperti
itulah kenyataannya. Yang terpenting bagi anda adalah memikirkan
bagaimana menyelesaikan masalah-masalah anda dengan benar.
9. Memperhatikan orang-orang di sekitar kita: saat
kita ingin mengejar suatu target dalam kurun waktu tertentu, kita perlu
memperhatikan keadaan orang-orang di sekitar kita secara psikologis
sebelum memutuskan apa yang harus kita lakukan.
Mewujudkan suasana positif di lingkungan kerja
dengan cara memberikan pujian, ungkapan cinta, terimakasih, dan
perlindungan sangat besar manfaatnya untuk berlangsungnya aktifitas
dengan baik. Selain itu kita juga harus berusaha menghindarkan hal-hal
negatif dari lingkungan kerja kita, seperti halnya kritikan-kritikan
tidak sehat, rasa sombong, permusuhan, penghinaan, dan lain sebagainya.
Suasana positif dan penuh cinta dalam lingkungan kerja akan menciptakan
benteng pertahanan yang kokoh di hadapan serangan stress dan tekanan
jiwa. Selain poin-poin yang telah disebutkan di atas, ada beberapa
kaidah tambahan yang juga perlu diperhatikan:
Kaidah 1: tunjukkan reaksi yang menyenangkan dengan
segera. Ketika seseorang telah menyelesaikan pekerjaannya dengan baik,
tunjukkanlah kegembiraan anda karenanya. Yang jelas jika anda memberikan
pujian kepadanya, pujian tersebut harus sesuai dengan kenyataan yang
sebenarnya; pujian yang tidak tepat malah menimbulkan kebingungan dan
perasaan negatif.
Kaidah 2: anda harus detil dalam segala hal. Hindari pujian-pujian yang tidak jelas.
Kaidah 3: berikanlah saran-saran membangun yang
sesuai dengan kenyataan. Pesan-pesan samar dan tak jelas tidak ada
gunanya dan justru memberikan dampak negatif. Katakan poin utama dan
jangan berbelit-belit. Saran-saran yang membangun lebih baik daripada
pujian yang tidak sesuai.
Kaidah 4: berikan dorongan kepada orang lain untuk
mengerjakan tugasnya dengan lebih baik; jika anda tidak menemukan poin
positif dalam kinerja mereka, untuk sementara lebih baik anda diam dan
tidak berkomentar. Jika kualitas kerja mereka menurun, anda harus
berusaha mencari titik permasalahannya dan berikan dorongan kepada
mereka dengan menunjukkan keuntungan-keuntungan.
Kaidah 5: Jika anda ingin mereka memahami anda,
maka anda harus berusaha memahami mereka terlebih dahulu. Kita semua
membutuhkan ikatan yang baik. Tentu kita akan merasa terpojok saat semua
orang menyalahkan kita, dan justru sebaliknya jika mereka mendukung
kita. Selama kita tidak menghargai orang lain, kita tidak boleh
mengharap penghargaan dari mereka. Apapun yang kita sukai untuk diri
sendiri, harus kita sukai untuk orang lain juga; begitu pula dengan
sebaliknya.
Kaidah 6: kita harus mampu menciptakan perasaan
positif dalam diri setiap orang. Kaidah ini begitu penting dan mendasar
sekali; karena jika kita tidak dapat mewujudkan perasaan positif dalam
hati mereka, kita akan berhadapan dengan banyak kesulitan nantinya.
5. Mewujudkan sistim perlindungan
Kehidupan dunia selalu diiringi dengan tekanan dan
perubahan, oleh karena itu sangat dibenarkan jika kita saling mewujudkan
sistim perlindungan yang bertumpu pada kemanusiaan. Jika kita menyadari
bahwa ada orang-orang yang melindungi kita, kita akan lebih kuat
bertahan di hadapan tekanan-tekanan. Leonardo Saim, dalam penelitiannya
menekankan pentingnya perlindungan sosial bagi kesehatan jiwa dan
menyimpulkan: orang-orang yang tidak memiliki komunikasi yang baik
dengan orang lain, jika dibandingkan dengan orang-orang yang memiliiki
pergaulan yang baik, dua sampai tiga kali lebih besar resikonya
mengalami kematian dengan cepat. Tidak hanya manusia, hewan seperti
monyet saat dikurung sendirian dan dihadapkan dengan kesulitan-kesulitan
ia cenderung agresif daripada ia dikandangkan bersama kawan-kawannya.
Dengan demikian ikatan yang kokoh dan perlindungan dalam kelompok adalah
perkara yang sangat penting sekali.
Pernah dilakukan sebuah penelitian terhadap para
mantan tawanan perang Vietnam. Dalam penelitian itu membuktikan betapa
pentingnya komunikasi antar individu. Para tawanan bisa tetap hidup
dalam penjara karena komunikasi yang mereka bangun antara satu sama lain
meskipun hanya dengan bentuk isyarat-isyarat suara dan lirikan mata.
Untuk mewujudkan sistim perlindungan dalam keluarga, harus kita perhatikan beberapa poin penting di bawah ini:
1. Mengenal kemampuan masing-masing anggota sehingga anda dapat mengembankan tugas kepada mereka sesuai dengan kemampuannya.
2. Mewujudkan kebiasaan bermusyawarah dalam menentukan tugas dan peranan masing-masing anggota keluarga.
3. Memikirkan bagaimana seharusnya bersikap secara berperasaan kepada mereka.
4. Beberapa hal penting yang perlu diingat:
A. Perdebatan yang sehat dapat menumbuhkan kedekatan dan penghormatan setelahnya.
B. Saat ada yang merasa tidak puas, kita jadikan
itu sebagai kesempatan untuk mempelajari kelemahan-kelemahan kita di
mata mereka.
C. Perubahan, percekcokan, dan krisis adalah
kesempatan pemicu pertumbuhan pribadi individu. Misalnya saat anak ingin
menikah, orang tua harus lebih bijak menanggapinya (menanggapi
perubahan status seorang anak yang semulanya hanya sekedar anak, kini
akan menjadi seorang suami).
D. Bertanggung jawab penuh atas apa yang kita lakukan, yakni jangan mencerca orang lain jika kesalahan itu bermula dari kita.
E. Kebijakan dalam mengabil keputusan, yang sekiranya kita tidak menjatuhkan martabat dan kehormatan anggota keluarga karenanya.
F. Memberikan semangat dan selalu memberikan
perlindungan. Kita juga perlu lebih sering mendengarkan dan memahami
orang lain serta menunjukkan sikap yang baik kepada mereka; dengan
demikian perlindungan kekeluargaan akan terwujud.
Sistim perlindungan kekeluargaan yang ditekankan Al Qur’an berdasrkan prinsip-prinsip di bawah ini:
Prinsip pertama: mengenal anggota keluarga dan
mengontrol mereka; sebagai contoh, nabi Ya’qub as. pernah menasehati
anakknya dengan berkata:
“Janganlah kau ceritakan mimpimu ini kepada
saudara-saudaramu, (karena jika kau ceritakan kepada mereka) mereka akan
bertipumuslihat terhadapmu…”
Ayat ini menunjukkan bahwa nabi Ya’qub as. faham
dengan baik karakter anak-anaknya sehingga ia menasehati nabi Yusuf as.
seperti itu.
Prinsip kedua: memberikan penghormatan kepada orang
tua sebagai poros tegaknya rumah tangga. Al Qur’an begitu menekankan
penghormatan terhadap orang tua:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan
menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada bapak ibu
kamu dengan sebaik-baiknya. Jika salah satu di antara keduanya sampai
berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu
mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak
mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”
Prinsip ketiga: berusaha konsisten dan menjaga
keberlangsungan sistim perlindungan kekeluargaan selama memungkinkan.
Sebagai contoh, pemaafan nabi Yusuf as. terhadap saudara-saudaranya,
perlindungan nabi Nuh as. untuk dan demi keselamatan anaknya,
doa nab Luth as. untuk keluarganya,
dan doa nabi Ibrahim as. untuk ayahnya kecuali terbukti ia memang benar-benar tidak mau beriman,
istighfar nabi Ya’qub as. untuk anak-anaknya dan nasehatnya kepada
mereka agar tidak masuk ke dalam pintu gerbang kota secara bersamaan,
dan lain sebagainya.
6. Suasana yang nyaman
Di sebagian tempat-tempat tertentu, secara
geografis terletak di kawasan yang berudara sejuk dan nyaman, bercuaca
baik dan juga tentram. Keadaan seperti itu dimanfaatkan sebaik-baiknya
untuk terapi penyembuhan atau dijadikan tempat melepas lelah dan mencari
ketenangan. Tempat-tempat yang nyaman seperti di daerah pegunungan,
pantai, perkebunan dan hutan, kaya akan ion negatif. Dalam pelbagai
macam penelitian telah terbukti bahwa ion negatif berguna bagi makhluk
hidup untuk penyesuaian diri dengan lingkungan dan terhindarnya stres;
adapun ion positif justru sebaliknya. Udara yang terkotori polusi penuh
dengan ion negatif.
Oleh karena itu, wajar saja jika kehidupan di kota yang padat dan lingkungan yang tercemar penuh dengan tekanan jiwa.
Menata hati
Menata hati adalah usaha dalam mengatur perasaan
serta emosi dengan cara mengendalikan diri dari dorongan-dorongannya.
Ada beberapa cara yang dianjurkan agama Islam kepada kita untuk menata
hati. Di antaranya adalah:
1. Melampiaskan emosi
Mkasud dari pelampiasan emosi di sini adalah dengan
cara-cara yang benar, seperti bertaubat, berdoa, munajat, menangis,
berziarah, dan seterusnya. Pelampiasasn emosi dengan benar akan
menyelesaikan masalah, lebih menguatkan hati, dan masih banyak lagi
keuntungannya. Cara-cara yang dapat digunakan dalam usaha ini di
antaranya adalah:
A. Bertaubat
Langkah pertama untuk menggapai kesehatan jiwa
adalah melepaskan beban-beban dosa dengan cara bertaubat. Rasulullah
saw. bersabda: “Apakah kalian ingin aku jelaskan apa saja obat dan apa
saja penyakit?” Mereka menjawab: “Ya, wahai Rasulullah.” Kemudian beliau
menjelaskan: “Penyakit kalian adalah dosa-dosa dan obat untuk kalian
adalah taubat.”
Dalam agama Islam, taubat pada hakikatnya sesuatu
yang rasional, yakni membenahi kesalahan-kesalahan yang telah lalu.
Seringkali tekanan jiwa itu timbul karena rasa benci terhadap diri
sendiri karena telah dilakukannya dosa-dosa. Selama beban dosa tertimbun
di hati dan terus bertambah, kegelisahan juga semakin menjadi. Jalan
keluar dari permasalahan itu adalah taubat; karena Allah swt. menerima
taubat hamba-hamba-Nya
dan orang yang bertaubat bagaikan orang tanpa dosa yang dicintai oleh Tuhannya.
“Orang yang telah bertaubat dari dosa bagaikan orang yang tidak memiliki dosa.”
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat.”
Ketika seseorang menyesali masa lalunya dan
memutuskan untuk bertaubat, kegelisahan dan tekanan jiwa dengan
sendirinya akan berkurang. Itulah rahasi mengapa Allah swt.
memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk bertaubat: “Hendaknya semua orang
yang beriman bertaubat dan kembali menuju Allah, agar mereka mencapai
keselamatan.”
Tolak ukur taubat adalah penyesalan dalam batin,
yakni manusia menyesali perbuatan buruk yang telah ia lakukan. Al Qur’an
memerintahkan kita untuk bertaubat dengan taubat nashuhah.
Berdasarkan riwayat-riwayat, maksud dari taubat nashuhah adalah manusia hendaknya:
1. Tidak kembali lagi kepada dosa-dosanya.
2. Penyesalan hatinya itu diungkapkan dengan lidah dan ditunjukkan dengan tekat.
3. Perilakunya menggambarkan ia benar-benar telah meninggalkan dosa.
B. Menangis dan pembukaan ikatan masalah
Saat tertimpa musibah atau sedang mengalami
penderitaan, tidak jarang orang yang menjadikan momen-momen duka sebagai
kesempatannya untuk meluapkan emosi dan perasaannya. Momen-momen
tersebut seperti halnya peringatan tragedi Imam Husain as., menggiring
jenazah menuju pemakaman dengan mengenakan pakaian-pakaian berwarna
hitam, dan lain sebagainya. Belasungkawa, hadirnya kerabat-kerabat
keluarga di saat seseorang sedang tertimpa musibah, tak diragukan
memiliki peran penting dalam membesarkan hati orang yang tertimpa
musibah tersebut, dan juga dengan demikian ikatan kekeluargaan dan
persahabatan menjadi lebih erat.
Islam tidak hanya menjadikan kesabaran sebagai
solusi, agama ini juga mengajarkan sikap rela terhadap qadha dan qadar,
berserah pada kehendak Ilahi, menangis dan meluapkan emosi, dan lain
sebagainya; karena jika kesedihan yang terukurung dalam hati itu tidak
ditangani, maka akan memberikan dampak yang buruk bagi keselamatan tubuh
dan jiwa. Tangisan pada dasarnya adalah hal biasa namun berguna, dan
Islam pun memberikan pengarahan-pengarahan terhadapnya:
“Ketika kalian bersedih saat tertimpa musibah, ingatlah juga musibah-musibah yang menimpa para Imam dan anak cucu mereka.”
Masalah ini memiliki banyak hikmah yang di antaranya adalah:
1. Menyebabkan terluapnya emosi yang terkurung dalam hati.
2. Membuat seseorang merasa kesedihannya itu tidak seberapa jika dibanding dengan kesedihan yang menimpa para imam mereka.
3. Menciptakan rasa keterikatan hati dan perasaan yang kuat antara seseorang dengan para imamnya.
Al Qur’an menjelaskan bahwa tangisan tidak hanya
dikarenakan tertimpa musibah saja, namun banyak lagi tangisan-tangisan
lainnya, seperti:
1. Tangisan karena takut akan Allah swt; yaitu
menangis dalam keadaan khusyu’ dan tunduk di hadapan-Nya. Dalam Al
Qur’an disebutkan: “Orang-orang yang beriman di hadapan tanda-tanda
kebesaran Ilahi akan khusyu’ hatinya lalu bersujud.”
Dan juga disebutkan: “Mereka bersujud di atas tanah dengan air mata yang
berlinang karena takut kepada-Nya, dan rasas takutnya selalu
bertambah.”
2. Tangisan penyesalan atas diri sendiri karena dosa-dosa yang telah dilakukan.
C. Berduka mengenang Imam Husain as.
Diadakannnya acara-acara peringatan duka mengenang
tragedi-tragedi yang menimpa para imam kita, khususnya Imam Husain as.,
adalah tradisi para imam maksum yang ditekankan kepada kita. Imam Baqir
as. berkata:
“Di hari ‘Asyura adakanlah acara-acara peringatan
dukacita dan hendaknya kalian saling mengingatkan satu sama lain akan
musibah yang menimpa kami di hari ini.”
Tradisi ini turun menurun dijalankan dan kini telah
mengalami perkembangannya, yang mana tradisi hari Asyura telah menjadi
paramida keterjagaan Islam. Imam Khumaini berkata:
“Setiap ajaran yang di dalamnya tidak ada yang
seperti ini, yakni memukul dada, ratapan, dan peringatan-peringatan
seperti ini, tidak akan terjamin kelanggengannya.”
Acara-acara peringatan tragedi yang menimpa Imam
Husain as., yang biasanya diisi dengan pembacaan kronologi, puisi, dan
lain sebagainya,
dengan mengenakan pakaian-pakaian berwarna hitam yang menghanyutkan hati
dalam kesedihan, di satu sisi usaha tersebut dapat menciptakan suasana
yang mendorong kita untuk saling menolong (terutama menolong orang yang
lemah),
di sisi yang lain juga dapat menjadi wadah pelampiasan emosi kita, yakni
seseorang dengan menangisi Imam Husain as., emosinya dapat
terlampiaskan dan terkosongkan.
2. Mengatur keseimbangan hati
Salah satu cara menanggulangi atau menghadapi
tekanan jiwa adalah mengatur keseimbangan emosi dan perasaan dengan cara
mengambil garis tengah di dorongan-dorongan emosional. Kapasitas
kejiwaan seseorang berkaitan langsung dengan bentuk pemikiran dan
kepribadiannya, dan kapasitas pemikiran dan kepribadian akan berpengaruh
pada pola hidupnya. Islam menyebut Muslimin sebagai ummatan wasatha
(umat yang berada di tengah) yang senantiasa mengajak mereka untuk bersikap adil dan seimbang.
Imam Ali as. berkata:
“Kanan dan kiri itu sesat, jalan yang ada di tengah adalah jalan yang benar.”
Berjalan di jalan yang lurus, memperhatikan
keseimbangan (menjauhi sikap berlebihan), dan memperhatikan kadar
kemampuan tubuh dan jiwa dalam melakukan apa saja, adalah masalah yang
penting untuk diperhatikan, sehingga Imam Ali as. menyebut orang yang
tidak memperhatikan kadar dirinya sebagai orang yang bodoh.
Menurut beliau keseimbangan tidak hanya harus diperhatikan dalam hal-hal materi saja:
“Sesungguhnya hati ini terkadang bersemangat dan
terkadang malas. Maka pekerjakanlah hatimu di saat ia bersemangat, dan
jangan paksa ia bekerja saat ia malas, karena akan membuatnya menjadi
keruh.”
Jadi salah satu jalan terbaik untuk menghindarkan
diri dari tekanan jiwa dan stres adalah mengatur hati ini, mensucikannya
seraya berjalan di jalur ketakwaan.
William James berpendapat bahwa kebesaran hati kuncinya ada pada
mengatur perasaan dan berperangai mulia berdasarkan aturan-aturan
keagamaan. Ia berkata:
“Dalam diri orang-orang yang terikat dengan ajaran agama terdapat ketenangan, kewibawaan, kelembutan, cinta dan pengorbanan.”
3. Ketegaran
Beberapa peneliti Barat berkata tentang ketegaran:
“Orang-orang yang tegar menghadapi cobaan, lebih kecil resikonya terserang penyakit-penyakit dan tidak mudah mengalami stres.”
Ketegaran memiliki tiga unsur: bertekat kuat dalam
bekerja, usaha pencarian solusi permasalahan, dan menyambut perubahan
serta menganggapnya sebagai kesempatan untuk berkembang dan lebih maju.
Islam adalah agama yang menegaskan ketegaran dan kesabaran di hadapan masalah-masalah
dan segala hal yang tidak enak, menekankan manusia untuk bersabar dalam
menyelesaikan problema-problema yang merupakan ujian Ilahi;
dengan demikianlah Islam membentuk pribadi-pribadi manusia yang kokoh bagai gunung batu. Imam Shadiq as. berkata:
“Sesunggunya orang yang beriman lebih kuat dari
sepotong besi. Karena besi tetap akan meleleh jika ia dipanaskan, namun
orang yang beriman, meskipun ia mati terbunuh, kemudian hidup lagi,
kemudian mati lagi, imannya tidak akan berubah.”
4. Bersabar dan bertahan
Jika manusia tidak bersabar saat berhadapan dengan
faktor faktor pemicu stres, maka masalah-masalah yang akan dihadapinya
akan menjadi lebih rumit dan betapa masalah kecil menjadi pemrasalahan
yang besar. Berdasarkan prinsip clasical conditioning, jika seseorang
bersabar dalam menghadapi suatu perkara, di kali berikutnya saat ia
menghadapi perkara yang sama ia akan menjadi lebih kuat; dan begitu pula
sebaliknya. Oleh karena itu, kesabaran sangat penting sekali bagi
menurunnya tingkat tekanan jiwa seseorang.
Banyak pakar psikologi yang melakukan penelitian
bahwa Sebagian ahli tahkik psikologi pengotbatan dibawah tema pengumuman
masalah presaaanaan ke keharusan tidak adanya kesendirian orang yang
sakit dalam berhadapan dengan masalah-masalaha persaaananan dan sibuk
menyuembuhkan para pasian secara kelompok atau individu.
Banyak sekali ayat-ayat yang berbicara tentang kesabaran:
“Kami telah menciptakan manusia dalam kesengsaraan.”
“Wahai manusia, sesungguhnya engkau menuju Tuhanmu dan engkau akan bertemu dengan-Nya.”
Umat manusia bagaikan kafilah yang berjalan
berbondong-bondong menuju Tuhannya, dan dalam perjalanan itu mereka
harus berhadapan dengan kesusahan dan kesulitan; inilah tabiat
kehidupan.
Al Qur’an telah menjelaskan bahwa sudah tabiatnya
kehidupan ini penuh dengan kesusahan dan jerih payah yang mana semua itu
adalah ujian Ilahi. Maka tidak ada senjata yang lebih ampuh selain
kesabaran untuk digunakan dalam hidup ini. Dalam pandangan Al Qur’an ada
tiga poin penting tentang kesabaran:
1. Orang-orang yang bersabar atas ujian disebut
sebagai orang yang berhasil. Kabar gembira akan disampaikan oleh
malaikat-malaikat sorga kepada orang-orang yang bersabar dan mengucapkan
“inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”.
2. Kesabaran adala ujian yang dilimpahkan kepada para nabi ulul ‘azmi;
kesabaran adalah syarat mantap dan kokohnya perkara-perkara
dan para nabi yang telah dijadikan sebagai suri tauladan kepada kita itu
tak lain dan tak bukan adalah orang-orang yang selalu bersabar atas
para penentang dan segala kejadian yang menimpa mereka. Mereka adalah
nabi-nabi yang tangguh dengan kesabarannya, seperti nabi Dawud as.,
nabi Ya’qub as.,
nabi Ayub as.,
nabi Ismail as., nabi Idris as., nabi Dzulkifli as.,
nabi Nuh as., nabi Yunus as. dan nabi Zakariya.
3. Al Qur’an menekankan kepada orang-orang yang beriman untuk meminta bantuan dari kesabaran dan shalat,
yang mana dengan kesabaran itulah sekelompok yang jumlahnya sedikit dapat mengalahkan kelompok banyak jumlahnya.
Bekal asli dalam perjalanan batini dan kearifan adalah kesabaran.
Semua itu dapat disimpulkan dalam satu ayat:
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sungguh bersama kesulitan itu ada kemudahan.”
5. Perlindungan sosial dan emosional (terhadap keluarga dan sesama)
Salah satu hal yang dapat mengamankan seseorang
dari kerasnya pukulan yang disebabkan oleh peristiwa-peristiwa buruk
dalam kehidupan, adalah adanya perlindungan dari sesamanya, baik kawan,
kerabat dan keluarga. Perlindungan tersebut memiliki tiga bentuk berikut
ini:
1. Perlindungan antar kerabat atau keluarga dalam
bentuk materi, misalnya membantu memberikan pinjaman uang, membelikan
apa yang tidak mampu dibeli sesamanya, mengerjakan apa yang tidak mampu
mereka kerjakan, dan seterusnya.
2. Perlindungan dengan cara membagi membagi
informasi dan bekerja sama agar mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan
serta terhindar dari bahaya dan kerugian sebisa mungkin.
3. Perlindungan dengan memberikan kepercayaan
kepada orang lain serta menunjukkan kelayakannya untuk menjalankan tugas
yang sedang diemban.
Bentuk perlindungan semacam ini sangat penting
sekali untuk mendidik dan mendewasakan seseorang. Jika kita memberikan
perlindungan perasaan kepada saudara kita, ia akan terbantu untuk
mencari dan memiliki pandangan hidup yang benar, menemukan jalan positif
dan dapat menghadapi permasalahan dengan tegar.
Para peneliti membuktikan, berdasarkan hasil
penelitiannya yang dilakukan terhadap para pemudi muda, bahwa
perlindungan orang tua terhadap perasaan anak-anak perempuannya sangat
penting sekali bagi kejiwaan mereka, khususnya bagi mereka yang tertekan
karena tidak mendapatkan suami atau kehilangan suaminya.
Ikatan sosial dengan masyarakat
Islam, menganggap Muslimin yang hidup bersama-sama
sebagai satu keluarga besar. Orang-orang yang lebih banyak usianya
dianggap sebagai orang tua dan yang lebih muda dianggap sebagai
anak-anak.
Dalam kehidupan bermasyarakat, diperlukan bermacam-macam bentuk perlindungan; yang di antaranya adalah:
A. Perlindungan terhadap sesama Muslim
Islam menjadikan pementingan perkara sesama Muslim sebagai tolak ukur ke-Musliman. Nabi Muhammad saw. bersabda:
“Barang siapa bangun dari tidurnya di pagi hari dan
ia tidak memikirkan perkara sesamanya, maka ia bukanlah termasuk dari
orang-orang Muslim.”
Jika setiap Muslim saling memperhatikan sesamanya,
maka tidak ada satu orang pun yang akan merasa kesepian tanpa ada yang
peduli padanya. Demikianlah ajaran suci agama ini.
B. Perlindungan terhadap orang-orang berusia lanjut dan yang tertimpa kesusahan
Di kalangan masyarakat, orang-orang yang sudah
berusia lanjut dan yang mereka yang tertimpa musibah adalah orang-orang
lemah yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Islam sangat menekankan
kepada kita untuk memberikan perlindungan materi dan ruhani kepada
mereka.
Islam memerintahkan pemeluknya untuk membayar khumus,
zakat,
sedekah
dan infak
untuk tujuan ini. Islam menekankan kepada kita semua untuk membantu
mereka baik secara terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi.
Agama Islam menekankan kecintaan terhadap sesama
saudara siman yang mana semakin tinggi kecintaan seseorang kepada
saudaranya semakin tinggi pula lah imannya.
Mengunjungi saudara seiman bagaikan berziarah ke rumah Tuhan nilainya
dan hal itu akan membuahkan ketenangan yang tiada tara.
C. Perlindungan terhadap para tetangga
Imam Ali as. berkata:
“Rasulullah begitu menekankan dan memberikan
nasehat tentang memuliakan tetangga sampai-sampai kami menyangka bahwa
para tetangga juga bakal mendapatkan bagian dari warisan yang akan kami
tinggalkan.”
Dalam ajaran agama ini disebutkan bahwa berbuat baik kepada para tetangga akan menyebabkan melimpahnya rizki.
Adapun siapa saja tetangga kita? Islam menjelaskan bahwa 40 rumah yang berada di sekitar rumah kita adalah tetangga kita.
Dalam ajaran ini, jika seseorang dapat dengan nyenyak tidur dalam
keadaan kenyang namun tetangganya kelaparan, maka ia bukanlah Muslim.
D. Perlindungan kekeluargaan
Ayat-ayat Al Qur’an dan riwayat menekankan kita
untuk bersilaturrahmi. Dalam pandangan para maksumin, silaturrahmai
adalah sebab dipanjangkannya umur dan turunnya berah serta makmurnya
kampung halaman kita. Adapun memotong hubungan kekeluargaan (lawan dari
silaturrahmi) akan menyebabkan pendeknya umur dan siksaan neraka di
akherat.
Jika kita mampu dan memang memungkinkan, Islam
mewajibkan kita untuk memberi nafkah kepada keluarga terdekat, seperti
anak, cucu, kakek dan nenek.
Dari sisi lain, mereka tidak hanya harus diberi perlindungan finansial
saja, namun juga perlindungan dengan segenap maknanya. Jika seandainya
salah satu di antara mereka telah berbuat salah dengan membunuh
seseorang, maka kita harus berusaha membayarkan diyah (denda) kepada
hakim syar’iy.
Silsilah urutan warisan juga berdasarkan silsilah urutan kekeluargaan.
Berdasarkan ajaran islami jika seseorang memberikan sesuatu kepada
ikatan kekeluargaan ini. Dalam ajaran Islam, seseorang yang telah
memberikan sebuah hadiah kepada salah satu di antara mereka ia tidak
berhak untuk mengambilnya kembali.
Hukum-hukum ini menunjukkan betapa ditekankannya perlindungan terhadap
keluarga dan Islam adalah agama yang menjunjung tinggi hak-hak
kekeluargaan.
E. Perlindungan terhadap anak-anak yatim
Anak-anak yatim adalah bagian masyarakat yang perlu
mendapatkan perhatian khusus. Al Qur’an sangat mementingkan
perlindungan terhadap anak-anak yatim dan banyak sekali ayat-ayat yang
menyinggung tentang masalah ini:
“Dan muliakanlah anak-anak yatim.”
“Berprilakulah kepada mereka bagai kalian berprilaku kepada saudara-saudara kalian.”
“Jadikanlah keadilan sebagai kebiasaan kalian dalam berhadapan dengan mereka.”
“Jangan kalian sakiti mereka.”
“Berikanlah sebagian harta kalian kepada mereka.”
“kecuali dengan cara yng paling baik, janganlah kalian mendekat kepada harta mereka sampai mereka besar dan baligh”
“Dan ketika mereka telah mencapai baligh, berikanlah harta mereka secara sempurna.”
Orang-orang yang beriman dilarang memakan harta anak yatim. Allah swt. berfiman:
“Mereka yang memakan harta anak yatim dengan tidak
benar, pada hakikatnya mereka memasukkan api ke dalam perut mereka dan
dengan segera mereka akan dilemparkan ke dalam api jahanam.”
F. Perlindungan kepada para tawanan dan orang-orang terlantar
Dalam Islam kita diperintahkan untuk memberikan
perhatian dan bantuan kepada para tawanan (di zaman dahulu), orang-orang
yang terlantar dan orang yang berhijrah dari tempat lain.
“Maka berilah kepada kerabat yang terdekat akan
haknya, denmikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam
perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari
keridhaan Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung.”
“Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat
kalian peroleh sebagai rampasan perang maka sesungguhnya seperlima untuk
Allah, rasul, kerabat rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan
ibnusabil, jika kalian beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami
turunkan kepada hamba kami (Muhammad) di hari Furqan, yaitu di hari
bertemunya dua pasukan. Dan Allah maha kuasa atas segala sesuatu.”
G. Perlindungan terhadap orang yang mengalami keterbelakangan mental
Al Qur’an juga memerintahkan orang-orang yang
beriman untuk berbaik hati dan memberikan perlindungan keapada
orang-orang yang mengalami keterbelakangan mental dan gangguan jiwa:
“Dan janganlah kalian serahkan kepada orang-orang
yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaan
kalian) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka
belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka
kata-kata yang baik.”
6. Menyatukan jiwa dengan sumber kekuatan
Salah satu cara yang harus selalu kita gunakan
untuk menghadapi masalah-masalah dalam mengarungi samudera kehidupan ini
menguatkan sisi spiritual kita, yakni menjalin hubungan yang baik
secara spiritual dengan sumber kekuatan, yaitu Allah swt. Usaha tersebut
dapat dicapai dengan pendekatan diri kepada-Nya dengan cara-cara
berikut ini:
A. Doa dan zikir
Doa adalah meminta pertolongan dari Allah sang
pemilik kekuatan nirbatas. Saat manusia berdoa kepada Tuhannya, ia akan
merasakan ketenangan dan berkobarnya api harapan. Ia juga dapat
merasakan ada kekuatan besar di atasnya karena ia telah menyatukan
hatinya dengan sang pemilik kekuatan yang tak terbatas. Apa lagi jika
seorang manusia berada dalam kondisi penuh bahaya yang sedikit sekali
kemungkinan ia selamat, saat itu juga fitrahnya menyeru agar ia
bersimpuh dan berdoa agar Allah swt. menyelamatkannya.
Adapun kebalikannya, orang yang enggan berdoa dan mengingat Allah swt. akan mendapatkan kehidupan yang penuh kesengsaraan,
karena orang yang beriman dan selalu ingat Tuhan tidak memandang materi
sebagai segala-galanya sehingga jika seandainya ia mengalami kerugian
materi ia harus terkapar kesusahan dan kehilangan kesabaran.
Dalam berdoa, terjadi semacam jalinan batin antara
seorang hamba dengan Tuhan, dan sering kali jalinan ini berbeda-beda
tergantung dengan pelakunya. Di saat seseorang tidak bisa mencurahkan
isi hatinya untuk mengadu meskipun kepada orang yang terdekat sekalipun,
namun di hadapan Tuhan ia bebas mengadukan apa saja. Dengan demikian
derita yang ia rasakan menjadi lebih ringan. Imam Ali as. berkata:
“Wahai yang nama-Nya adalah obat dan dzikir-Nya adalah kesembuhan.”
B. Shalat
Shalat adalah meminta pertolongan kepada Allah swt.
dengan adab-adab tertentu yang ia miliki. Dalam Al Qur’an disebutkan
bahwa orang yang beriman hendaknya mencari pertolongan dari kesabaran
dan shalat.
Banyak sekali penelitian yang telah dilakukan terhadap ritual-ritual
peribadatan dalam berbagai mazhab dan terbukti bahwa ibadah dan doa
memiliki dampak positif dalam diri manusia: dirasakannya ketenangan,
semangat lebih besar untuk hidup, berkurangnya stres, jernihnya fikiran,
sehatnya jiwa, dan seterusnya. Bahkan ibadah-ibadah semacam ini dapat
dikategorikan sebagai obat penenang jiwa yang ampuh.
Shalat dapat menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi seorang hamba karena:
1. Ketika seorang hamba berdiri untuk menjalankan
ibadah shalat, pikiran dan ingatannya akan terpalingkan dari kesusahan
dan tekanan yang sedang dialaminya, hatinya hanya terfokus kepada Tuhan.
Ketika seseorang tidak hanyut dalam perasaan sedih dalam menghadapi
permasalahan, saat itu itu juga beban permasalahan tersebut akan terasa
lebih ringan baginya.
2. Dalam shalat terjadi jalinanan perasaan antara
seorang hamba dengan Tuhannya dan ikatan inilah yang menciptakan
kekuatan dalam hatinya sehingga ia dapat merasakan ketenagan.
3. Shalat memiliki adab-adab yang dapat mengantar jiwa manusia ke alam ketenangan.
4. Memahami dan menghayati setiap dzikir yang
dibaca di dalamnya, khususnya ayat yang berbunyi “Hanya kepada-Mu kami
menyembah dan hanya pada-Mu kami minta pertolongan”, ayat yang
mengilhamkan tekat pada diri kita untuk tidak pernah tunduk dan
menyembah selain Allah swt.
Tingginya ketenangan jiwa seseorang yang menghayati
shalat dan hanyut dalam cinta Ilahi tidak dapat digambarkan dengan
mudah. Pada suatu hari Abu Darda’ bercerita:
“Beberapa saat sebelum fajar menyingsing, aku
melihat Imam Ali as. di tempat ibadahnya tergeletak di atas tanah. Aku
mendekatinya dan menggerakkan tubuhnya, namun aku lihat ia tidak
bergerak sedikitpun. Aku bergegas ke rumahnya dan memberikan kabar ini
kepada istri beliau, Fathimah Az Zahra. Sesampai di rumah putri nabi itu
bertanya, “Siapakah kamu?” Aku menjawab, “Aku adalah Abu Darda’,
pembantumu.” Ia bertanya: “Ada apakah gerangan?” Aku menjawab, “Aku
menemukan imam Ali as. tergeletak meninggal dunia dalam keadaan
beribadah!” Namun mendengar itu Fathimah Az Zahra hanya menanggapi,
“Biarkan saja, memang ia seperti itu saat beribadah karena begitu takut
akan Allah swt.”
Sebuah contoh menarik lainnya adalah dicabutnya
sebatang anak panah dari tubuh Imam Ali as. saat ia berada dalam keadaan
shalat tahajjud. Dalam keadaan itu karena shalatnya yang begitu dalam
dan khusyu’ ia tidak merasakan sakitnya anak panah dicabut dari
tubuhnya.
Elexis Carl mengakui bahwa shalat adalah pembawa
ketenangan dan ketentraman maknawi dan keadaan inilah yang sangat
dibutuhkan oleh orang-orang yang sedang berhadapan dengan tekanan jiwa.
Tak jarang orang-orang mendapatkan kesembuhannya di tempat mereka
beribadah. Sertbut seorang psikolog Inggris sependapat dengan William
James tentang shalat dan ia berkata:
“Dengan sholat kita bisa mencapai segunung kebahagiaan yang mana kita tidak akan bisa mencapainya lagi kecuali dengan cara itu”
C. Bertawasul
Salah satu keyakinan yang dimiliki oleh umat Islam
adalah tawasul. Tawasul adalah salah satu cara seseorang melampiaskan
beban perasaan dalam hatinya. Keyakinan akan tawasul (bahwa para
hamba-hamba yang terdekat dengan Tuhan dapat membantu kita—pent.)
membuat kita merasa yakin bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam
semesta ini adalah kehendak Allah swt. (yakni tauhid af’ali) dan para
wali-wali-Nya adalah perantara-Nya dalam mencurahkan rahmat dan karunia,
di samping itu perkataan mereka juga didengar oleh Tuhan, dan mereka
juga bisa memberikan syafaat dengan izin-Nya.
Oleh karena itu saat kita sedang berada dalam kesusahan, kita disarankan
untuk bertawasul kepada mereka, menjadikan mereka sebagai perantara
turunnya rahmat dari sisi Allah swt. Kenyataan ini telah terbukti,
banyak sekali hamba-hamba Allah swt. yang bersimpuh mengadu kepada
mereka dan mereka pun mendapatkan bantuan dan hajat-hajatnya terpenuhi.
Bertawasul dapat menguatkan kadar tawakal (penyerahan diri kepada Allah
swt.) seseorang. Dengan menjalin hubungan dengan wali-wali Alalh swt.
yang memiliki kedudukan tinggi di sisi-Nya dan juga memiliki pengaruh
dalam pengaturan alam semesta, dapat membuat kita merasa tentram dan
tidak kesepian.
D. Ziarah ke tempat-tempat suci
Ibadah yang dilakukan secara bersama-sama dapat
dipastikan memiliki pengaruh tersendiri dalam mengurangi tekanan jiwa
pada seseorang. Kegiatan seperti ini telah ada jauh sebelum Islam,
bahkan jauh sebelum sejarah dicatat. Mereka bersama-sama berkumpul dan
menciptakan satu rasa dan perasaan, saling dekat satu samalain, saling
membagi kebahagiaan dan mencurahkan kesedihan, yang mana dengan demikian
rasa sakit yang mereka rasakan dengan sendirinya akan berkurang. Salah
satu kegitatan yang seperti itu adalah berziarah bersama-sama. Saat ini
pun kita dapat melihat fenomena ini, orang-orang berkumpul dengan
pakaian rapi, bersih, wangi, beribadah bersama dengan khusyu’ dan
penghayatan. Dengan mengingat esensi yang dimiliki ajaran ini, kesucian
dan keagungannya dapat terlihat dengan jelas.
Dalam agama Islam, terdapat berbagai tempat suci
seperti kota Makkah, Madinah, Atabat, Masyhad, Qom, Goa Hira, Sumur
Zamzam, Mina, Arafah, Shafa, Marwa, dan masih banyak lagi, yang mana
merupakan tempat berziarahnya hamba-hamba Allah; yang sebagian dari itu
adalah wajib, dan sebagian lainnya disunahkan namun penuh penekanan
dalam menjalankannya.
Ziarah adalah mengikat janji, bertumpu pada tauhid
dan menyatukan jiwa dengan kebenaran wahyu. Ziarah adalah baiat dan
sumpah setia kepada para imam, para wali Allah swt. yang terdekat
dengan-Nya.
Dalam agama Islam, khususnya mazhab Syi’ah, ziarah
begitu ditekankan kepada para pemeluknya. Berziarah ibaratnya seseorang
sedang berada di rumah orang yang dicintainya, orang yang memahami sakit
dan deritanya. Di situ ia mengadukan permasalahannya. Di rumah itu ia
merasa tentram karena ia merasa tidak sendiri lagi dan sedang berada di
bawah naungan rahmat dan kekuatan Allah swt. Al Marhum Naraqi menulis:
“Arwah-arwah kudus yang memiliki kekuatan
tersendiri, khususnya arwah para nabi, para imam dan para wali Allah
swt., setelah terbebas dari kurungan jasad ini, terbang menuju alam
tajarrud. Di alam itu mereka berada di ujung ufuk tertinggi yang mana
pengetahuan mereka dapat menjangkau segala hal yang ada di dunia. Apa
yang terjadi di dunia dapat dengan jelas mereka saksikan. Mereka juga
memiliki pengaruh dengan izin Allah atas urusan-urusan dunia. Mereka
menyaksikan orang-orang yang berziarah kepada mereka. Mereka faham
dengan jelas apa yang diinginkan peziarahnya. Kemudian dengan ziarah itu
Allah menghantarkan angin rahmat kepada mereka, memenuhi kebutuhan,
memaafkan dosa dan menjauhkan mereka dari kesusahan. Arwah-arwah suci
itu dengan izin-Nya dapat memberikan syafaat untuk mereka. Inilah
rahasia mengapa ziarah nabi dan para imam begitu ditekankan.”
Selama ini dan sampai kapanpun ziarah terbukti
memiliki efek dalam memberikan pemecahan permasalahan dan perubahan
dalam kehidupan.