Pada saat terjadinya peristiwa Asyura, masih banyak sahabat Nabi yang masih hidup.
Namun dari sekian banyak sahabat Nabi saww yang masih hidup, hanya seorang sahabat Nabi saww yang berziarah Arba'in ke haram suci Imam Husain as di Karbala dan merupakan manusia pertama yang melakukan ziarah Arba'in, yaitu Jabir bin Abdillah Al-Anshari as.
Lalu mengapa hanya Jabir bin Abdillah Al-Anshari ra sahabat Nabi yang rela berziarah Arba'in dalam usia yang tua 77 tahun dengan kondisi mata yang buta (ditemani oleh seseorang) dan menempuh jarak dari Madinah ke Karbala sejauh 1300 km?
Dan riwayat menjelaskan setelah Jabir bin Abdillah Al-Anshari ra melakukan ziarah Arba'in, mata beliau yang tadinya buta bisa melihat kembali.
Jika mendengar nama di atas, maka dipastikan banyak orang yang kurang begitu mengenal siapa beliau?
Atau mungkin ada sebagian yang kenal tetapi menganggap beliau adalah manusia biasa.
Jabir bin Abdillah Al-Anshari ra adalah merupakan sahabat Rasulullah saww, nama beliau mungkin di kalangan umum masih kalah besar dengan nama-nama sahabat yang lain, namun sejatinya beliau mempunyai keistimewaan-keistemewaan yang tidak dimiliki oleh sahabat-sahabat Nabi yang lain.
Siapakah Jabir bin Abdullah Al-Anshari ra?
1. Satu-satunya sahabat Nabi yang dititipi salam oleh Rasulullah saww untuk disampaikan kepada Imam Muhammad Al-Baqir as (jarak antara wafatnya Nabi Muhammad saww dengan kelahiran Imam Muhammad Al-Baqir as 46 tahun)
2. Satu-satunya sahabat Nabi yang bisa berjumpa dan menimba ilmu kepada Nabi Muhammad saww dan 5 Imam Ahlulbait as.
3. Satu-satunya sahabat Nabi yang ditunjukkan oleh Sayyidah Fatimah Az-Zahra as satu lembaran yang menuliskan nama-nama 12 Imam Ahlulbait as.
4. Salah satu dari sedikit sahabat Nabi yang diberitahu oleh Sayyidah Fatimah Az-Zahra as tentang Hadis Al-Kisa', dan dari Jabir lah yang meriwayatkan hadis tersebut hingga sampai kepada kita saat ini.
Suatu hari Rasulullah saww bersabda kepada Jabir bin Abdillah Al-Anshari, "Wahai Jabir! Engkau akan berumur panjang sampai bisa menemui anakku Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib. Di dalam Taurat dikenal dengan nama Baqir. Sampaikan salamku padanya bila kau menemuinya!"
Beberapa puluh tahun berikutnya, Jabir menemui Imam Ali Zainal Abidin as dan mendapati seorang anak duduk di samping beliau. Jabir memanggil untuk mendekatinya kemudian berkata, "Demi Tuhannya Ka'bah, engkau mirip sekali dengan Rasulullah saww!"
Kemudian Jabir menghadap Imam Zainal Abidin as seraya bertanya, "Siapakah ini?"
Imam Zainal Abidin as menjawab, "Ini adalah putraku dan Imam setelahku, namanya Muhammad Baqir."
Jabir bangun dan sungkem di hadapan Imam Baqir as dan menciumnya seraya berkata, "Jiwaku untukmu wahai putra Rasulullah! Aku sampaikan salam ayahmu. Sesungguhnya Rasulullah saww menyampaikan salam untukmu."
Kedua mata Imam Baqir as penuh dengan genangan air mata seraya berkata, "Wahai Jabir! Salam senantiasa untuk ayahku Rasulullah saww selama langit dan bumi masih tegak. Dan salam untukmu wahai Jabir yang telah menyampaikan salam kepadaku."
(Allamah Muhammad Baqir Al-Majlisi dalam Biharul Anwar jilid 46 halaman 223-224, hadis 1)
Jabir bin Abdillah Al-Anshari setelah berjumpa dengan Imam Muhammad Al-Baqir as, berkata kepada Imam as.
Jabir berkata, "Saya bersaksi atas nama Allah bahwa saya pergi untuk menemui ibumu (Sayyidah Fatimah Az-Zahra as) pada masa hidup Rasulullah saww untuk mengucapkan selamat atas kelahiran Husain as. Lalu kulihat ada lembaran dihadapannya. Lembaran itu begitu berkilauan hingga nyaris membutakan mataku."
Lalu saya (Jabir) berkata, "Wahai putri Rasulullah! Semoga Ayah dan Ibuku menjadi tebusanmu, lembaran apakah ini?"
Ibumu (Sayyidah Fatimah Az-Zahra as) menjawab, "Inilah lembaran yang Allah SWT telah berikan kepada RasulNya saww. Didalamnya tertulis nama-nama ayahku, suamiku, dua putraku, dan nama-nama para Washi dari keturunanku, yang terakhir dari mereka adalah Al-Qaim (Imam Mahdi as). Ayahku memberikannya kepadaku untuk membuatku bahagia."
Jabir menambahkan, "Kemudian ibumu (Sayyidah Fatimah Az-Zahra as) memberikannya kepadaku, saya membacanya dan menuliskan sebuah salinan darinya. 12 nama dapat terlihat, 3 nama diatas lembaran, 3 nama di punggung lembaran, 3 nama di ujungnya dan 3 nama disisinya. Terdapat nama 3 Muhammad (Muhammad Al-Baqir as, Muhammad Al-Jawad as dan Muhammad Al-Mahdi as) di 3 tempat, dan nama 4 Ali (Ali bin Abi Thalib as, Ali Zainal Abidin as, Ali Ar-Ridha as dan Ali Al-Hadi as) di 4 tempat."
('Uyun al-Akhbar ar-Ridha as jilid 1 bab 6 hadis nomer 5)
Suatu hari Nabi Muhammad saw sedang melangkah menuju masjid dengan Hasan dan Husain berada digendongannya... di ujung lorong ia bertemu dengan kumpulan anak-anak, yang kemudian berkata kepada Rasulullah, "Ya Rasulullah, engkau tidak memberikan hak kami..."
"Apa itu sayang?"
"Engkau menggendong Hasan dan Husain, dan kami juga ingin digendong olehmu sebagaimana keduanya..."
"Engkau benar....." balas Nabi. Sambil tersenyum Nabi saw memenuhi permintaan anak-anak itu. Bergantian Nabi menggendong mereka, dan anak-anakpun tertawa bahagia.
Sementara di Masjid Nabawi, jamaah sudah bersiap2 untuk salat. Shaff telah berjejer rapi. Para sahabat bertanya kepada Imam Ali, "Mana Nabi ya Ali?"
Imam Ali as pun mencari Nabi, dan ditemuinya Nabi sedang dikerumuni anak-anak. Nabi Saw berkata,"Jangan pisahkan aku dengan keriangan anak-anak ya Ali."
Ali menjawab, "Engkau harus memimpin kami salat ya Rasulullah..."
Sekelompok anak-anak tersebutpun berkata, "Kami akan melepas Rasulullah, tapi anda harus membelinya..."
"Berapa harganya?" Tanya Imam Ali.
"Dengan 10 biji gerdu (kacang walnut)"
Imam Alipun segera mencari buah yang diminta dan memberikannya kepada anak-anak tersebut. Nabi Muhammad saw sambil tersenyum kepada anak-anak tersebut, "Kalian telah menjual aku dengan harga yang sangat murah, bahkan Nabi Yusufpun ketika dijual tidak semurah itu..."
Sekarang, ucapan Nabi tersebut ditujukan kepada kita semua...
"Jangan jual aku dengan harga yang murah.... karena hargaku sangatlah mahal..."
(Penggalan ceramah Syaikh Hasan Ansariyan, memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad saw)
Iran dengan Syiahnya sering dituduh tidak mempercayai Muhammad sebagai Nabi, tapi yang menjadi Nabinya adalah Ali... sementara satu-satunya negara di dunia yang menjadikan hari wafatnya Nabi Muhammad saw sebagai hari berkabung nasional dan menjadi hari libur hanyalah Iran...
Setiap 28 Safar, yang menurut keyakinan Syiah sebagai hari wafatnya Nabi Muhammad saw, semua tingkatan masyarakat mulai dari ulama, pejabat, militer sampai rakyat jelata tumpah ruah ke jalan-jalan dengan berpakaian serba hitam menunjukkan kedukaan...
Sangat berduka cita atas wafatmu ya kekasih Allah... Muhammaddarasulullah.
--------------
Hukum Memperingati Maulid Nabi
Hukum fikih diluar ibadah mahdah adalah cari dalil pelarangannya, jika tidak ditemukan, maka amalan itu boleh dilakukan. Memperingati hari maulid Nabi itu masuk dalam ibadah ghairu mahdah, yang karena tidak ditemukan dalil pelarangannya, maka boleh dilakukan.
Terlebih lagi, hukumnya terbuka luas untuk berubah bergantung kondisi, bisa menjadi sunnah bahkan wajib.
Dalam kaidah fikih dikenal, "al wasilatu lahaa ahkaamu al maqaashid" yaitu hukum wasilah tergantung pada tujuannya. Jika untuk menjalankan amalan wajib, yang itu membutuhkan wasilah, yang tanpa wasilah itu amalan wajib itu tidak terlaksana, maka hukum mengadakan wasilah itu turut menjadi wajib. Contohnya, wudhu. Hukum aslinya sunnah. Namun menjadi wajib, jika wudhu diniatkan untuk mengerjakan salat. Sebab tanpa wudhu salat tidak sah.
Contoh lainnya, punya paspor. Hukum memiliki paspor ya hanya mubah saja. Namun kalau diniatkan untuk naik haji yang telah menjadi wajib bagi seseorang dan ia bukan warga negara Saudi -yang oleh aturan internasional tidak bisa keluar negeri tanpa paspor- maka membuat paspor menjadi wajib hukumnya.
Contoh sederhana lainnya, kasus seseorang -sebut saja Baso- yang tidak bisa bangun salat subuh jika tidak dibangunkan. Suara azan tidak cukup untuk membuat Baso terbangun. Yang karena itu dia butuh jam weker, untuk membuat dia terbangun. Hukum menyalakan jam weker khusus bagi Baso sebelum tidur, wajib hukumnya. Karena jika tidak terbangun, ia lalai menjalankan kewajibannya salat subuh pada waktunya.
Nah, karena itu, tidak bisa disebutkan, bagi yang menganggap memperingati maulid Nabi itu sebagai pelaku bid'ah atau mengadakan amalan-amalan baru yang tidak dicontohkan. Sebab kondisinya beda bagi setiap orang. Bagi yang memang dunianya menggeluti bidang keislaman, ya memang tidak perlu menunggu momen peringatan kelahiran Nabi untuk mengkaji secara khusus sirah nabi, toh bisa dilakukan kapan saja. Namun bagi masyarakat umum, tentu perlu dibuatkan momen-momen khusus, dimana mereka pada hari itu sejenak beristirahat dari aktivitas duniawi untuk kemudian bersama-sama duduk di majelis maulid mendengarkan ceramah mengenai kisah Nabiullah Muhammad saw. Momen yang paling tepat, ya bulan kelahiran Nabi.
Semua muslim, wajib mencintai Nabi, dan apapun wasilah yang itu dapat mendatangkan dan menumbuhkan kecintaan pada Nabi, maka wajib juga hukumnya. Kalau bagi seseorang, memperingati maulid Nabi dapat mendatangkan kecintaan dan mengobati kerinduan pada Nabi, maka baginya maulid itu wajib. Bagi seseorang yang memang kecintaannya pada Nabi mampu ia rawat setiap harinya, dengan secara telaten menjalankan sunnah-sunnah Nabi, secara khusus memperingati maulid Nabi dengan majelis-majelis atau acara-acara peringatan memang tidak perlu untuknya. Tentu, itulah yang seharusnya menjadi target bagi setiap muslim. Tapi apa semua, telah mencapai etape itu? kan belum.
Mari saling menghargai proses. Kita tidak diminta untuk beragama secara egois.
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Musa Kazdim as
Imam Musa bin Jakfar as masuk ke sebuah goa di salah satu desa di
Syam secara tidak dikenal dan di sana ada seorang pendeta yang setiap
tahun memberi wejangan kepada masyarakat. Pendeta itu merasa ketakutan
saat melihat Imam yang penuh dengan keagungan dan kewibawaan.
Kemudian dia bertanya kepada Imam, “Anda orang asing?”
Imam menjawab, “Iya.”
Dia berkata, “Anda bagian dari kami ataukah musuh kami?”
Imam menjawab, “Saya bukan bagian dari Anda.”
Dia berkata, “Anda termasuk umat yang mendapatkan rahmat?”
Imam menjawab, “Iya.”
Dia berkata, “Anda termasuk ulamanya ataukah orang bodohnya?”
Imam menjawab, “Saya bukan dari orang-orang bodohnya.”
Dia berkata, “Bagaimana mungkin menurut keyakinan kami, pohon tuba
akarnya ada di rumah Isa as dan menurut Anda di rumah Muhammad,
sementara cabangnya ada di semua rumah-rumah surga?”
Imam menjawab, “Sebagaimana matahari, cahayanya sampai ke semua
tempat, dan menerangi setiap tempat, padahal aslinya ada di langit.”
Pendeta itu berkata, “Bagaimana mungkin makanan surga tidak bisa habis dan dimakan seberapa banyakpun tidak akan berkurang.”
Imam menjawab, “Sebagaimana lampu di dunia, seberapa banyakpun dia memberikan cahaya, tidak akan berkurang darinya.”
Pendeta berkata, “Di surga, naungannya memanjang, yang manakah contohnya di dunia?
Imam menjawab, “Sebelum terbitnya matahari naungan memanjang.”
Pendeta berkata, “Bagaimana mungkin di surga ada makan dan minum tapi tidak ada kencing dan buang air besar?”
Imam menjawab, “Sebagaimana janin yang ada di dalam rahim ibunya, dia
makan dan minum tapi tidak kencing dan tidak buang air besar.”
Pendeta berkata, “Bagaimana mungkin penghuni surga memiliki pembantu
yang mengambilkan segala yang diinginkan tanpa harus diperintahkan?”
Imam menjawab, “Sebagaimana setiap kali manusia memerlukan sesuatu,
anggota badannya memahaminya dan mengerjakan apa yang diinginkannya
tanpa perintahnya.”
Pendeta berkata, “Kunci surga dari emas ataukah perak?”
Imam menjawab, “Kunci surga adalah lisan hamba yang mengatakan “La Ilaha Illallah”
Pendeta berkata, “Anda benar.” Akhirnya dia menerima Islam bersama orang-orang yang bersamanya.
BEBERAPA KISAH IMAM MUSA BIN JAKFAR AS
pengarang : Emi Nur Hayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Musa Kazdim as.
Nahkoda Kapal
Faidh bin Mukhtar mengatakan, “Saya waktu itu ada bersama Imam Shadiq
as. Di sana saya memeluk dan mencium Sayidina Musa bin Jakfar yang
masih kecil.
Imam Shadiq berkata, “Engkau adalah kapal dan anak ini adalah nahkoda
kapal itu. Sebagaimana nahkoda kapal menyelamatkan dan mengarahkan
kapal dari kesesatan dan ombak lautan yang keras menuju jalan yang lurus
dan pantai, anak ini juga memiliki peran seperti ini di antara kalian.”
Tahun berikutnya saya pergi haji dan membawa uang dua ribu dinar.
Yang seribu saya berikan kepada Imam Shadiq as dan yang seribunya lagi
saya berikan kepada Sayid Kazhim as [Musa bin Jakfar].
Kemudian ketika saya datang menemui Imam Shadiq as, beliau berkata kepada saya, “Engkau menyamakan Musa dengan aku?”
Saya katakan, “Demi Allah! Mengenalkan Musa sebagai imam setelahku
adalah perintah dari Allah dan Allah menjadikannya sebagai imam dan
nahkoda kapal setelahku.”
Ampunan dan Kedermawanan
Imam Musa Kazhim as juga bertani seperti masyarakat lainnya. Beliau
memiliki kebun kurma yang ditanamnya sendiri. Setahun berlalu, pada
musim gugur, kurma sudah masak dan harus dipanen, kemudian membawanya ke
pasar dan menjualnya.
Imam mengambil dua pekerja untuk membantunya memetik kurma. Bertiga
pergi ke kebuh dan bekerja. Satu dari pekerja itu memanjat kurma dan
memotong batang-batang yang penuh dengan kurma, kemudian meletakkannya
di sebuah sudut. Pekerja yang kedua memisahkan kurma-kurma dari
batangnya dan memasukkannya ke dalam sebuah kantong.
Ketiganya sedang sibuk bekerja. Seketika itu juga pekerja yang sedang
berada di atas pohon matanya tertuju ke pekerja kedua. Pekerja kedua
sedang mengambil beberapa batang penuh dengan kurma dan membawanya ke
arah dinding kebun tanpa sepengetahuan imam. Ketika mendekati dinding
dia meletakkan batang-batang itu secara pelan-pelan di balik dinding dan
kembali lagi ke tempat semula. Pekerja yang ada di atas pohon, turun.
Dia menuju ke arah pekerja kedua dan berkata kepadanya, apa yang telah
engkau lakukan? Mengapa engkau meletakkan batang-batang yang penuh kurma
di belakang dinding? Tahukah engkau apa maknanya hal ini?
Pekerja kedua sadar akan kesalahannya. Wajahnya memucat dan
ketakutan. Pekerja pertama menggandeng tangannya dan membawanya kepada
imam dan berkata, “Lelaki ini mengambil beberapa batang yang penuh kurma
dan meletakkannya di balik dinding itu dan nanti akan mengambilnya.
Imam sejenak diam. Kemudian menghadap ke arah pekerja kedua dan
bertanya, “Apakah engkau lapar dan engkau mengambil kurma untuk engkau
makan sendiri?”
Pekerja itu menjawab, “Tidak.”
Imam bertanya, “Apakah engkau membutuhkan uang? Engkau mau menjualnya?”
Pekerja itu berkata, “Tidak.”
Imam dengan ketenangannya bertanya, “Lalu mengapa engkau melakukan hal ini?”
Pekerja itu menjawab, “Setan telah menipuku. Tiba-tiba saja saya
ingin melakukan hal ini tapi saya sadar bahwa ini adalah salah dan saya
meminta maaf.”
Imam memegang tangannya dan dengan penuh kasih sayang berkata,
“Alangkah baiknya bila engkau mengatakan kepadaku bahwa engkau
membutuhkan kurma.
Sekarang, beberapa batang itu sebagai milikmu dan jangan engkau lakukan kembali hal ini.
Kemudian beliau berkata kepada pekerja yang pertama, “Jangan engkau
sampaikan masalah ini kepada siapapun. Jangan sampai engkau
menghancurkan harga dirinya!”
Dermawan dan Berakhlak Bagus
Imam Musa bin Jakfar berkata, “Orang yang dermawan berakhlak bagus
mendapatkan perhatian dari Allah dan Allah senantiasa melindunginya
sampai dia dimasukkan ke dalam surga.
Allah tidak mengutus seorang nabi pun kecuali harus dermawan. Ayahku
juga sampai saat mendekati kewafatannya, mewasiatkan kepadaku agar
dermawan dan berakhlak yang bagus.
TANDA-TANDA WAFATNYA IMAM MUSA JAKFAR AS
pengarang : Emi Nur Hayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Musa Kazdim as
Pembantu rumahnya Imam Kazhim as mengatakan, “Ketika Imam Kazhim as
dibawa dari Madinah menuju ke Bagdad atas perintah Harus Rasyid, beliau
berkata kepada putranya; Imam Ridha as, “Tidurlah di rumahku sampai
ketika datang kabar wafatku.”
Setiap malam kami menghamparkan tempat tidur di lorong rumah dan Imam
Ridha datang setiap malam setelah isya dan tidur di sana dan paginya
kembali ke rumahnya. Kondisi ini berlanjut sampai empat tahun.
Sebagaimana biasanya, tempat tidur Imam Ridha dihamparkan, tapi beliau
tidak datang sampai pagi. Para penghuni rumah khawatir dan ketakutan.
Kami juga merasa kepikiran karena beliau tidak datang. Besok malamnya
beliau datang dan berkata kepada Ummu Ahmad [pembantu pilihan dan
terhormat Imam Kazhim as], “Berikan kepadaku apa yang dititipkan ayahku
kepadamu.”
Ummu Ahmad paham bahwa Imam Kazhim as telah meninggal dunia. Dia
menjerit dan memukuli wajahnya dan berkata, “Ya Allah! Maulaku telah
meninggal dunia!”
Dia diminta untuk tenang dan Imam Ridha berkata kepadanya, “Jangan
tampakkan ucapanmu. Jangan sampaikan kepada siapa-siapa sampai kabar ini
sampai kepada penguasa Madinah.”
Kemudian Ummu Ahmad membawa tas keranjang yang berisi dua ribu atau empat ribu dinar dan menyerahkannya kepada Imam Ridha as.
Ummu Ahmad menceritakan tentang kejadian tas keranjang dan uang itu
demikian, “Suatu hari Imam Kazhim as menitipkan uang itu kepada saya dan
berkata, “Jagalah amanat ini dan jangan kasih tahu kepada siapapun
sampai ketika aku meninggal dunia. Ketika aku sudah meninggal dunia, dan
siapa saja dari anak-anakku yang memintanya kepadamu maka berikanlah
kepadanya. Inilah tanda bahwa aku telah meninggal dunia.” Demi Allah!
Tanda itu sekarang telah jelas.”
Imam Ridha as telah mengambil amanat itu, dan memerintahkan kepada
semua anggota keluarga dan pembantunya untuk menyembunyikan masalah
wafatnya Imam Kazhim as dan jangan katakan kepada siapapun sampai ketika
kabar dari Bagdad sampai ke Madinah.
Kemudian Imam Ridha as kembali ke rumahnya dan malam berikutnya tidak
lagi datang ke rumah Imam Kazhim as. Setelah beberapa hari datang
sebuah surat yang mengabarkan akan wafatnya Imam Kazhim as. Kami
menghitung hari-hari dan ketahuan bahwa Imam Kazhim as telah meninggal
dunia sejak Imam Ridha tidak datang lagi untuk tidur.
IMAM MUSA KAZHIM AS, KABAR TENTANG MASA DEPAN
pengarang : Emi Nur Hayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Musa Kazdim as.
Abu Khalid mengatakan, “Mahdi Abbasi [Khalifah Abbasiyah yang
ketiga] memerintahkan untuk menangkap Imam Kazhim as. Para petugasnya
membawa beliau dari Madinah menuju Bagdad menemui Mahdi Abbasi. Di jalan
saya berbicara dengan beliau. Beliau berkata kepada saya, “Mengapa
engkau bersedih?”
Saya berkata, “Mengapa saya tidak harus bersedih? Sementara Anda akan
dibawa ke Tahgut ini [Mahdi Abbas] dan saya tidak tahu apa yang akan
terjadi pada Anda?”
Imam Kazhim as berkata, “Dalam safar ini tidak akan ada bahaya yang
mengenaiku. Ketika bulan tertentu tiba, di hari tertentu dan di tempat
tertentu, datang temuilah aku!”
Saya senantiasa menghitung detik-detik yang ada sampai tibalah hari
itu. Pada hari itu juga saya menuju ke tempat itu. Matahari hampir
terbenam. Saya masih belum tahu tentang kabar Imam Kazhim as. Setan
membuat saya waswas dan saya meragukan kata-kata Imam yang menyebutkan
tentang waktu tertentu, di tempat tertentu temuilah aku.
Tiba-tiba mata saya tertuju pada sesuatu yang hitam datang dari arah
Irak. Saya maju dan saya melihat Imam Kazhim as berada di bagian depan
karavan menunggangi kendaraan dan menyapa saya, “Hai Abu Khalid!”
Saya menjawab, “Iya wahai putra Rasulullah!”
Imam Kazhim as berkata, “Tentunya jangan ragu, karena setan senang bila engkau ragu.”
Saya katakan, “Puji syukur kepada Allah yang telah menjaga Anda dari bahaya taghut.”
Kemudian beliau berkata, “Aku akan dibawa lagi kepada mereka dan kali
ini aku tidak akan dibebaskan (dengan ucapan ini beliau mengisyaratkan
tentang penangkapannya atas perintah Harun dan beliau akan mencapai
syahadah di penjaranya).
Ishaq bin Ammar mengatakan, “Saya berada bersama Imam Kazhim as.
Beliau memberitahukan tentang kematian seseorang kepada orangnya
sendiri.
Saya berkata kepada diri saya sendiri, “Memangnya Imam Kazhim tahu masing-masing dari pengikutnya kapan akan mati?”
Seketika itu juga Imam Kazhim memandang saya dengan wajah marah dan
berkata, “Hai Ishaq, Rusyid salah seorang sahabat dekat Imam Ali as tahu
tentang ilmu manaya dan balaya [kematian dan musibah]. Imam lebih layak
untuk memiliki ilmu tersebut.”
Kemudian beliau berkata, “Wahai Ishaq! Lakukan apa saja yang kau
inginkan dan lakukan pekerjaan-pekerjaanmu. Karena usiamu telah berakhir
dan tidak sampai dua tahun engkau akan mati dan keluargamu beberapa
hari setelah kematianmu akan berselisih satu sama lainnya dan saling
mengkhianati yang lainnya sedemikian rupa sehingga para musuhpun akan
mencela mereka. Lalu sekarang engkau berkhayal dalam hatimu, bagaimana
kami memberikan kabar tentang masa depan?”
Ishaq berkata, “Apa yang terjadi dalam hatiku adalah saya meminta ampunan kepada Allah.”
Setelah kejadian ini berlalu, Ishaq meninggal dunia. Sebagaimana yang
telah dikabarkan oleh Imam Kazhim, keluarga Ishaq saling berselisih dan
mereka mengambil harta kekayaan orang lain dan perbuatan mereka membuat
mereka sengsara.
MENGETAHUI BATIN HISYAM DAN KARAMAH IMAM MUSA KAZDIM AS
pengarang : Emi Nur Hayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Musa Kazdim as
Mengetahui Batin Hisyam
Ibnu Syahr Asyub menukil dari Hisyam bin Salim:
Setelah syahadahnya Imam Shadiq as, aku dan Abu Jakfar Muhammad bin
Nu’man berada di Madinah. Masyarakat berkumpul menyatakan bahwa Abdullah
bin Jakfar adalah seorang imam. Aku dan Abu Jakfar juga masuk dalam
perkumpulan itu dan bertanya kepadanya [Abdullah bin Jakfar], “Berapakah
yang wajib dizakati dari harta?”
Dia menjawab, “Lima dirham dari setiap dua ratus dirham.”
Aku berkata, “Berapakah dalam setiap seratus dirham?”
Dia berkata, “Dua dirham setengah.”
Aku berkata, “Demi Allah! Marhabah [nama sebuah golongan] juga tidak mengatakan sebagaimana yang engkau katakan.”
Allah mengangkat tangannya ke arah langit dan berkata, “Demi Allah, aku tidak tahu apa yang dikatakan oleh marhabah.”
Kemudian kami pergi keluar dan bingung sambil menangis dan
mengatakan, “Kita pergi menuju ke Marhabah atau ke Qadiriyah atau ke
Mu’tazilah ataukah ke Khawarij?”
Pada saat itu aku melihat seorang lelaki tua yang tak kukenal. Dia mengisyaratkan dengan tangannya, ke sinilah.
Kami juga ketakutan, jangan-jangan seorang mata-mata dari Manshur.
Karena dia memilih sejumlah mata-mata dan memenggal kepada setiap
pecinta Ahlul Bait yang sepakat untuk seseorang. Aku berkata kepada
Muhammad bin Nu’man berpisahlah dariku menjauhlah. Karena aku
mengkhawatirkan jiwaku dan jiwamu dan aku akan pergi, apa yang akan
terjadi. Aku pergi bersama lelaki tua itu dan tak terpikirkan sama
sekali kalau aku selamat darinya. Lelaki itu membawaku ke rumahnya Imam
Musa bin Jakfar kemudian dia pergi. Begitu saya masuk rumah, di sana ada
Imam Musa as. Pertama beliau berkata kepadaku, “Tidak ke Marhabah,
tidak ke Qadariyah, tidak ke Mu’tazilah juga tidak ke Khawarij, ke
saya...ke saya...ke saya.
Aku berkata, “Saya menjadi tebusan Anda. Ayah Anda telah meninggal dunia.”
Beliau berkata, “Iya.”
Aku berkata, “Saya menjadi tebusan Anda! Siapa imam kita setelah beliau?”
Imam Musa as berkata, “Bila Allah menghendaki. Maka engkau akan diberi petunjuk.”
Aku berkata, “Aku menjadi tebusanmu. Abdullah menganggap dirinya [sebagai imam] setelah ayah Anda.”
Imam Musa as berkata, “Abdullah ingin Allah tidak disembah.”
Aku bertanya kembali, “Siapakah imam setelah ayah Anda?”
Beliau menjawab dengan jawaban yang sama.
Aku memahani berbagai kewibawaan dan keagungan dari Imam Musa dan
hanya Allah yang tahu. Lebih banyak dari yang aku dapatkan dari ayahnya.
Aku menjadi tebusan Anda. Saya akan bertanya kepada Anda sebagaimana
yang pernah saya tanyakan kepada ayah Anda. Beliau berkata, tanyakanlah
dan dapatkan jawabannya, tapi jangan diungkapkan karena bila engkau
ungkapkan maka khawatir engkau dibunuh. Kemudian aku bertanya dan
mendapatkan beliau bak lautan yang luas.
Hisyam berkata, “Aku menjadi tebusan Anda, para pengikut ayah Anda
dalam kesesatan dan kebingungan, apakah saya harus menyampaikan masalah
Anda kepada mereka? Dan saya beritahu tentang kepemimpinan Anda?”
Beliau berkata, “Bila engkau melihat ada perkembangan dan kebaikan,
maka beritahukanlah dan mintalah kepada mereka untuk berjanji
menyembunyikannya. Bila mengungkapkannya, maka kematian bagi mereka
adalah sebuah kepastian. Lalu Hisyam keluar dan mengabarkan kepada semua
pengikut Ahlul Bait dan mereka datang menemui Imam Musa as dan meyakini
kepemimpinannya. Dari sejak saat itu masyarakat tidak lagi pergi ke
Abdullah bin Jakfar kecuali hanya segelintir orang. Ketika Abdullah
bertanya tentang sebabnya, dijawab; Hisyamlah yang menjauhkan masyarakat
dari anda.
Hisyam mengatakan, “Hisyam mengutus sekelompok orang untuk memukul saya, kapan mereka melihat saya.”
Karamah
Imam Musa as sedang melewati Mina. Beliau melihat seorang ibu bersama
beberapa anaknya sedang menangis. Imam Musa mendekati perempuan itu dan
menanyakan sebab tangisannya.
Perempuan itu menjawab, “Saya punya beberapa anak yatim dan satu
sapi. Saya memenuhi kehidupan mereka dengan susu sapi itu. Tapi sekarang
sapi itu mati.”
Imam Musa as berkata, “Maukah engkau, aku hidupkan sapi itu?”
Perempuan itu berkata, “Iya. Wahai hamba Allah!”
Imam Musa as pergi menepi dan mengerjakan salat dua rakaat. Kemudian
berdoa. Setelah selesai berdoa, beliau mendekati jasad sapi itu. Beliau
menyentuh sapi itu dengan kayu, lalu sapi itu bangun. Ketika perempuan
itu melihat sapinya hidup kembali, dia menjerit dan berteriak, “Demi
Tuhannya Ka’bah! Ini adalah Isa bin Marya as.”
Masyarakat datang berkumpul dan ketika kondisinya sudah ramai, Imam Musa as pergi meninggalkan mereka tanpa mereka tahu.
KISAH IMAM MUSA AL KHADZIM
pengarang : Emi Nur Hayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Musa Kazdim as
Mengetahui Pikiran Yang Tersembunyi
Seseorang bernama Abdullah bin Khalil. Dia tertarik pada aliran
Fathhi yakni dia mengatakan bahwa Abdullah Afthah putra Imam Shadiq
adalah imam ke tujuh bukan Imam Kazhim as. Suatu hari dia pergi Samarra
dan dia meninggalkan keyakinan yang salah itu dan menjadi pengikut dua
belas imam maksum as.
Ahmad bin Muhammad berkata, “Saya melihatnya dan saya katakan
kepadanya, “Mengapa engkau meninggalkan aliran Fathhi? Apa rahasianya?”
Dia menjawab, “Saya berencana menemui Imam Kazhim as dan ingin
menanyakan hakikat kepada beliau. Kebetulan saya melewati gang yang
sempit. Saya melihat beliau belok menuju ke arah saya. Ketika mendekati
saya, beliau melemparkan sesuatu dari mulutnya dan jatuh di dada saya.
Saya mengambilnya dan benda itu adalah secarik kertas yang tertulis di
dalamnya, “Dia [Abdullah] bukan dalam posisi itu. Tapi dia mengklaim
sebagai imam. Dia juga tidak memiliki kelayakan sebagai imam.
Pengetahuan beliau akan pikiran saya yang tersembunyi inilah sehingga
membuat saya keluar dari aliran Fathhiyah.”
Jangan Pernah Meremehkan Seseorang
Ali bin Yaqthin merupakan salah satu pemuka sahabat dan mendapatkan
perhatian dari Imam Musa bin Jakfar. Dia juga sebagai menterinya Harun
Rasyid.
Suatu hari Ibrahim Jamal [seorang penuntun onta] ingin menemuinya.
Ali bin Yaqthin tidak mengizinkannya. Pada tahun itu juga Ali bin
Yaqthin pergi ke mekah untuk menunaikan ibadah haji dan ingin menemui
Imam Musa bin Jakfar di Madinah.
Pada hari pertama Imam tidak mengizinkannya untuk bertemu. Pada hari
kedua dia menemui Imam dan berkata, “Ya Imam apa kesalahan saya sehingga
Anda tidak mengizinkan saya untuk menemui Anda?”
Imam berkata, “Aku tidak mengizinkan engkau untuk bertemu karena
engkau tidak mengizinkan saudaramu Ibrahim Jamal ke rumahmu karena dia
sebagai tukang penuntun onta, sementara sengkau sebagai menteri.
Allah tidak akan mengabulkan hajimu kecuali bila engkau meminta keridhaan pada Ibrahim.
Ali bin Yaqthin berkata, “Wahai Maulaku! Bagamaina saya bisa menemui
Ibrahim, sementara saya ada di Madinah dan dia ada di Kufah?”
Imam berkata, “Ketika malam tiba, pergilah ke kuburan Baqi sendirian
tanpa diketahui oleh para pembantu dan orang sekitar. Di sana engkau
akan melihat seekor onta yang sudah disiapkan. Naiklah dan engkau akan
dibawa ke Kufah.”
Ali bin Yaqthin pergi ke kuburan Baqi. Dia naik onta dan tidak lama
kemudian dia sudah sampai di depan rumah Ibrahim. Dia mengetuk pintu dan
berkata, “Aku adalah Ali bin Yaqthin.”
Ibrahim dari balik pintu berkata, “Ada apa Ali bin Yaqthin menterinya Harun Rasyid di rumahku?”
Ali berkata, “Aku punya masalah penting.”
Ibrahim tidak percaya bahwa Ali bersumpah demi dia sehingga dia
membuka pintu rumahnya. Begitu pintu terbuka Ali masuk ke dalam dan
bersimpuh memohon kepada Ibrahim dan berkata, “Ibrahim! Maulaku Imam
Musa bin Jakfar as tidak mau menerimaku kecuali bila engkau memaafkan
kesalahanku.”
Ibrahim berkata, “Allah yang harus mengampunimu.”
Sang menteri tidak puas dengan cara seperti ini. Dia meletakkan
wajahnya ke tanah dan bersumpah demi Ibrahmi supaya meletakkan kakinya
di wajahnya. Tapi Ibrahim tidak mau melakukan hal ini. Ali bersumpah
yang kedua kalinya demi Ibrahim. Ibrahim mau menerima dan meletakkan
kakinya di wajah Ali. Pada saat itu Ibrahim meletakkan kakinya di wajah
Ali, Ali berkata, “Ya Allah! Jadilah saksi!”
Kemudian dia keluar dari rumah dan naik onta. Pada malam itu juga dia
mendudukkan onta tersebut di depan pintu rumah Imam Musa bin Jakfar dan
meminta izin untuk masuk ke dalam rumah Imam. Kali ini Imam
menginzinkan dan menerimanya.
Menjaga Harga Diri Seorang Mukmin
Seseorang datang menemui Imam Musa bin Jakfar as dan berkata, “Saya
sebagai tebusan Anda. Orang-orang telah mengabarkan tentang perilaku
salah satu saudara seagama, sehingga membuat saya sedih. Saya bertanya
kepada dia sendiri ternyata dia mengingkarinya. Padahal sejumlah orang
yang bisa dipercaya telah mengabarkannya tentang dia.”
Imam Musa bin Jakfar berkata, “Tutuplah mata dan telingamu di hadapan
saudara muslimmu. Meski lima puluh orang bersumpah bahwa dia telah
melakukannya dan dia mengatakan, aku tidak melakukannya. Terimalah
ucapannya dan jangan terima ucapan mereka. Jangan sampai menyebarkan
sesuatu yang membuatnya malu dan menjatuhkan harga dirinya di
tengah-tengah masyarakat.”
Tawadhu dan Merendahkan Hati
Suatu hari Imam Kazhim as bertemu dengan seorang lelaki yang tinggal
di pinggiran kota. Orang tersebut wajahnya sangat jelek. Beliau
mengucapkan salam kepadanya dan lama duduk berbincang-bincang dengannya.
Kemudian beliau berkata kepadanya, “Bila engkau punya keperluan, saya
siap untuk menyelesaikannya.”
Dikatakan kepada Imam, “Wahai putra Rasulullah! Apakah Anda akan
duduk bersama orang jelek seperti ini kemudian menanyakan kebutuhannya?”
Imam Kazhim as berkata, “Dia adalah salah seorang hamba Allah dan
saudara menurut hukum alquran, tetangga di bumi Allah. Yang menyatukan
kita dengannya adalah sebaik-baiknya ayah yaitu Adam as dan
sebaik-baiknya agama yaitu Islam. Boleh jadi suatu hari dialah yang
menyelesaikan hajat dan kebutuhan kita. Itupun dia mendapati kita
tawadhu dan merendahkan hati setelah bersikap takabur dan sombong di
hadapannya.
BUDAK PEREMPUAN HARUN MENJADI AHLI IBADAH
pengarang : Emi Nur Hayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Musa Kazdim as
Pemilik hasil karya buku Anwar meriwayatkan bahwa di hari-hari
ketika Imam Musa Kazhim as berada di dalam penjara Harun, dikirimlah
seorang wanita yang sangat cantik untuk beliau. Barang kali beliau
menyukainya sehingga harga diri beliau turun di mata masyarakat dan
untuk mencari alasan agar bisa menjatuhkan Imam Musa Kazhim.
Begitu budak perempuan itu dibawa menemui Imam Musa Kazhim, beliau
berkata, “Aku tidak membutuhkan orang-orang seperti ini. Mereka ini
punya posisi dan nilai di mata kalian, tapi bagi saya tidak penting."
Ketika kabar ini disampaikan kepada Harun, dia benar-benar marah dan
berkata, “Katakan kepadanya “Kami tidak memenjarakanmu atas keridhaanmu
dan kami tidak ada urusan dengan seleramu. Letakkan wanita itu di sana
dan kembalilah!”
Setelah mereka meletakkan wanita itu di dalam ruangan penjara Imam
Musa Kazhim dan kembali, Harun mengutus seorang pembantu untuk
mendapatkan kabar tentang wanita tersebut. Pembantu itu pergi dan
kembali seraya berkata, “Dia dalam kondisi bersujud dan mengatakan,
Subhanaka...Subhanaka.”
Harun berkata, “Demi Allah! Musa bin Jakfar telah menaklukkannya dengan sihirnya. Bawa kepada wanita itu.”
Ketika di hadapan Harun, wanita itu gemetaran dan memandang ke atas.
Harun berkata, “Apa yang terjadi denganmu?”
Budak perempuan itu berkata, “Saya merasa asing. Saya berdiri di
dekat Imam dan beliau sedang mengerjakan salat dan beliau tidak tahu
akan keberadaan saya. Begitu selesai salat, beliau membaca tasbih dan
memuji Allah. Saya mendekatinya dan berkata, “Wahai tuanku! Apakah Anda
ada perlu dengan saya? Silahkan bila ada perlu! Beliau berkata, “Aku
tidak memerlukanmu.” Saya katakan, “Saya dikirim ke sini untuk
mengerjakan perintah Anda.”
Imam Musa Kazhim as berkata, “Lalu mereka ini untuk apa?” beliau
mengisyaratkan pada sebuah arah. Ketika saya melihatnya, di sana tampak
taman dan kebun yang ujungnya tidak kelihatan dan di sana banyak
terdapat berbagai macam buah-buahan dan bidadari dan para pelayan yang
tidak pernah saya lihat selama ini. Mereka memakai baju-baju dari sutera
dan mahkota yang penuh dengan permata. Mereka sedang membawa berbagai
macam makanan, buah-buahan dan minuman dan berdiri di dekat beliau.”
“Ketika saya menyaksikan pemandangan itu, langsung saya pingsan dan
jatuh dalam keadaan sujud, sampai ketika pembantu Anda datang dan
membawa saya ke sini.”
Harun berkata, “Hai orang kotor! Mungkin engkau tertidur dalam keadaan sujud dan engkau melihat semua itu dalam mimpi?!”
Wanita itu berkata, “Demi Allah! Saya melihat semua itu sebelum sujud dan saya bersujud karena keagungan yang saya lihat.”
Pada saat itu Harun berkata kepada salah satu pembantunya, “Jagalah
wanita ini. Jangan sampai dia menceritakan kejadian ini kepada orang
lain.” Setelah itu, wanita ini sibuk mengerjakan salat dan senantiasa
dalam keadaan beribadah.
Saat dia ditanya tentang sebab salatnya, dia menjawab, “Saya melihat
seorang hamba yang saleh yang senantiasa mengerjakan salat dan saya pun
mengikutinya.”
Mereka mengatakan, “Dari mana engkau mengetahui nama ini?”
Wanita ini menjawab, “Para pelayan yang saya lihat di taman itu dan
para bidadari yang saya saksikan di surga itu mengatakan kepada saya,
“Menjauhlah dari hamba yang saleh, kami mau melayaninya. Karena kami
adalah pelayannya bukan engkau. Karena ucapan mereka inilah saya tahu
bahwa gelar beliau adalah hamba yang saleh.”
Dan budak wanita itu senantiasa dalam kondisi mengerjakan salat dan
beribadah sampai dia meninggal dunia dan kejadian ini terjadi beberapa
hari sebelum syahadahnya Imam Musa Kazhim as.
BIARAWAN KRISTEN YANG MASUK ISLAM
pengarang : Emi Nur Hayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Muhammad Baqir as
Imam Baqir bersama putra sulungnya diasingkan dari Madinah ke Syam
oleh Hisyam. Suatu hari ketika beliau berjalan, melihat banyak orang.
Beliau bertanya, “Siapakah mereka dan untuk apa mereka berkumpul?”
Dikatakan, “Mereka adalah para pendeta Kristen. Setiap tahun di hari ini
mereka selalu berkumpul di sini dan menziarahi seorang biarawan tua
yang tempat peribadatannya ada di atas gunung ini dan menyampaikan
pertanyaan kepadanya. Kemudian kembali ke rumahnya masing-masing.”
Imam Baqir as menutupi wajahnya dengan kain supaya orang lain tidak
mengenalinya dan pergi ke menemui biarawan itu bersama mereka.
Para pendeta menghamparkan karpet merah yang dibawanya dan menyediakan
tempat duduk untuk biarawan itu. Biarawan tua itu keluar dari tempat
peribadatan dan duduk di tempat yang telah disediakan dan mereka duduk
di depannya. Biarawan itu begitu tua sehingga alisnya yang sudah beruban
sampai ke matanya. Dahinya diikat dengan kain sutra berwarna kuning dan
menggerakkan matanya bak ular kobra. Hisyam mengirim mata-mata untuk
melaporkan pertemuan Imam Baqir as dengan biarawan tua itu kepadanya.
Biarawan memandang orang-orang yang hadir. Ketika dia melihat Imam Baqir
as berada di antara orang-orang yang ada, antara dia dan Imam Baqir
terjadi percakapan seperti ini:
Biarawan: Engkau bagian dari kami ataukah dari umat Islam?
Imam Baqir: Dari umat Islam.
Biarawan: Dari kalangan ulama Islam ataukah dari orang-orang yang buta hurufnya?
Imam Baqir: Saya bukan dari orang-orang yang buta hurufnya.
Biarawan: Apakah aku yang harus bertanya ataukah engkau?
Imam Baqir as: Bertanyalah engkau.
Biarawan: Hai orang-orang Kristen yang hadir! Aneh! Seorang lelaki
dari umat Muhammad berani mengatakan, “Bertanyalah engkau. Sekarang
sebaiknya aku menyampaikan beberapa pertanyaan padanya.”
Kemudian dia menghadap kepada Imam Baqir dan melanjutkan ucapannya:
1. Katakan padaku sehingga aku tahu; Waktu yang bukan malam dan juga bukan siang. Waktu apakah itu?
Imam Baqir as: Waktu itu adalah antara terbitnya fajar dan terbitnya matahari.
2. Katakan sehingga aku tahu; waktu ini bukan siang, juga bukan malam, lalu waktu apa?
Imam Baqir: waktu itu adalah bagian dari waktu surga. Orang-orang yang
sakit di waktu itu mendapatkan kesembuhan dan rasa sakit akan tenang.
Biarawan: Engkau benar.
3. Katakan padaku sehingga aku tahu; bila penghuni surga makan dan minum
tapi tidak buang air kecil juga tidak buang air besar, apakah di dunia
juga ada contoh semacam ini?
Imam Baqir: Iya, seperti janin yang ada di dalam rahim ibunya. Dia makan tapi tidak ada sesuatu yang terpisah darinya.
Biarawan: Engkau benar.
4. Katakan kepadaku; dikatakan bahwa di surga meski buah-buah dan
makanan yang ada di sana dimakan, tidak akan ada yang berkurang darinya.
Apakah ada contohnya di dunia?
Imam Baqir as: Contohnya adalah lentera dimana bila ribuan lentera dinyalakan pelitanya, maka cahayanya tidak akan berkurang.
5. Katakan padaku supaya aku tahu; siapakah dua saudara yang dalam satu
waktu lahir dari ibunya sebagai anak kembar dan keduanya mati pada saat
yang sama, tapi satu darinya berumur lima puluh tahun dan yang satunya
berumur seratus lima puluh tahun?
Imam Baqir as: Dua saudara itu adalah Aziz dan Uzair; saudara kembar
yang lahir dalam satu waktu dan mati bersama-sama dalam satu waktu juga.
Allah telah mengambil ruh Uzair dan selama seratus tahun sebagai orang
yang mati, kemudian ia dihidupkan kembali dan hidup bersama saudaranya
selama dua puluh tahun, kemudian mati barengan dalam satu waktu.
Kesimpulannya, Uzair berumur lima puluh tahun, tapi Aziz berumur lima
puluh tahun.
Pada saat itu biarawan bangkit dari tempatnya dan berkata kepada orang-orang yang hadir:
“Kalian telah mendatangkan orang yang lebih pandai dari aku, supaya
kalian mempermalukan aku. Demi Allah! Selama lelaki ini [Imam Baqir as]
berada di Syam, aku tidak akan berbicara dengan kalian. Tanyakan apa
saja kepadanya yang kalian maukan.”
Diriwayatkan bahwa ketika malam tiba, biarawan itu mendatangi Imam Baqir
as dan dia menyaksikan sebuah mukjizat dan di situ juga dia masuk
Islam. Ketika kabar menakjubkan ini sampai di telinga Hisyam, dan kabar
dialog Imam Baqir dengan biarawan menyebar di Syam dan ilmu serta
kesempurnaan Imam Baqir telah tampak di Syam, Hisyam merasa terancam. Ia
mengirim hadiah untuk Imam Baqir as dan beliau dikembalikan ke Madinah.
Dia [Hisyam] juga mengutus beberapa orang terlebih dahulu untuk
mengumumkan kepada masyarakat bahwa jangan ada seseorang bertemu dengan
dua putra Abu Turab [Imam Ali as]; Baqir dan Ja’far karena keduanya
adalah tukang sihir. Aku meminta keduanya untuk ke Syam, tapi mereka
cenderung kepada agama orang-orang Kristen. Barang siapa yang menjual
sesuatu kepada keduanya atau mengucapkan salam, maka darahnya layak
untuk ditumpahkan.
SILSILAH KETURUNAN SALMAN DAN KANTONG-KANTONG UANG EMAS
pengarang : Emi Nur Hayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Muhammad Baqir as
Silsilah Keturunan Salman
Imam Baqir as berkata, “Suatu hari para sahabat Rasulullah Saw
sedang berkumpul dan setiap orang bangga dengan silsilah keturunannya
dan menceritakannya.
Dalam perbincangan sensitif ini, Umar bin Khattab berkata, “Engkau juga, ceritakan silsilah keturunanmu, hai Salman!”
Salman berkata, “Aku adalah hamba Allah! Aku dulu tersesat, miskin dan
seorang budak. Karena berkah wujudnya Rasulullah Saw, Allah telah
memberikan hidayah kepadaku, membuatku tidak membutuhkan dan
memerdekakan aku. Inilah silsilah keturunanku, hai Umar!”
Pada saat itu juga Rasullah datang dan mengetahui kandungan perbincangan
mereka. Beliau berkata kepada mereka, “Kemuliaan seseorang, ada pada
agama dan keimanannya. Harga diri seseorang adalah karakternya. Akar dan
asal muasal seseorang adalah akalnya. Kemudian beliau membacakan ayat
13 surat Hujurat:
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki
dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan
bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang
paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa
diantara kamu...”
Kantong-Kantong Uang Emas
Seorang lelaki miskin bernama Jabir bin Yazid datang menemui Imam Baqir as dan mengadukan kemiskinannya kepada beliau.
Imam Baqir as berkata, “Hai Jabir, aku tidak punya uang di rumah.”
Tidak lama kemudian datanglah Kumit; seorang penyair dan berkata, “Saya
menjadi tebusan Anda. Bila Anda mengizinkan saya akan membacakan syair
yang saya susun buat Anda.”
Imam Baqir as berkata, “Bacalah.”
Dia membaca syairnya. Begitu selesai bacaannya, Imam Baqir berkata, “Hai
budak! Keluarkan satu kantong dari rumah ini dan berikan kepada Kumit.
Sang budak membawa kantong dan memberikannya kepada Kumit.
Kumit berkata, “Saya menjadi tebusan Anda. Bila Anda mengizinkan, saya akan membacakan syair yang lainnya.”
Imam Baqir as berkata, “Bacalah.”
Kumit membacakan syair yang lainnya.
Imam Baqir berkata kepada budaknya, untuk mengeluarkan kantong lainnya dari rumah itu dan memberikannya kepada Kumit.
Kumit berkata, “Saya menjadi tebusan Anda. Bila Anda mengizinkan maka saya akan membaca syair yang ketiga.”
Imam Baqir as berkata, “Bacalah.”
Kumit membaca syair yang ketiga dan Imam Baqir berkata, “Hai budak!
Keluarkanlah kantong yang lainnya lagi dan berikan kepada Kumit.”
Sang budakpun menjalankan perintah Imam dan mengeluarkan kantong yang lainnya lagi dan memberikannya kepada Kumit.
Kumit berkata, “Demi Allah! Saya tidak memuji Anda karena untuk mencari
harta dan keuntungan duniawi. Saya tidak punya tujuan selain karena
untuk menyambung hubungan dengan Rasulullah dan memenuhi hak Anda
sebagaimana yang diwajibkan oleh Allah kepada saya.”
Sebagai hak Kumit, Imam Baqir mendoakannya dan berkata, “Hai budak! Kembalikan kantong-kantong ini pada tempatnya.”
Jabir mengatakan, “Begitu saya menyaksikan pemandangan ini, saya berkata
kepada diri saya sendiri, “Imam berkata kepadaku, “Aku tidak punya uang
di rumah” tapi beliau memberikan uang tiga puluh ribu dirham kepada
Kumit. Ketika Kumit keluar, saya berkata, “Saya menjadi tebusan Anda.
Anda berkata kepada saya, “Aku tidak punya uang” tapi Anda memberikan
uang tiga puluh ribu dirham kepada Kumit.”
Imam Baqir as berkata, “Hai Jabir! Bangkitlah dan masuklah ke rumah yang
telah dikeluarkan dirham-dirham itu dan dikembalikan lagi ke sana.”
Jabir mengatakan:
“Aku bangkit dan masuk ke dalam rumah itu dan aku tidak menemui
kantong-kantong uang emas itu. aku keluar dari rumah itu dan Imam Baqir
as berkata, “Hai Jabir! Mukjizat dan keutamaan yang kami miliki dan
tersembunyi darimu lebih besar dari yang kami tampakkan kepadamu.”
Kemudian beliau memegang tanganku dan masuk ke dalam rumah tersebut.
Imam Baqir menghentakkan kakinya ke tanah, tiba-tiba keluarlah dari
dalam tanah emas yang berbentuk seperti lehernya onta. Imam Baqir
berkata:
“Hai Jabir lihatlah mukjizat ini. Jangan engkau beritahukan rahasia ini
selain kepada saudara-saudara seagamamu yang kau percayai keimanannya.
Sesungguhnya Allah telah memberikan kekuatan kepada kami untuk melakukan
segala yang kami maukan. Bila kita mau, maka akan kami taklukkan bumi."
BEBERAPA KATA PENUH HIKMAH DAN NASIHAT
pengarang : Emi Nur Hayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Muhammad Baqir as
Kata Penuh Hikmah
Imam Baqir as berkata, “Rasa takabbur tidak akan masuk ke dalam hati
seseorang, baik itu sedikit maupun banyak, kecuali bila akalnya telah
berkurang sebatas [rasa takabbur] itu juga.
- Kilat akan menyambar orang mukmin maupun non mukmin, tapi ia tidak
akan berpengaruh pada orang yang berzikir menyebut nama Allah.
- Terkait ayat yang berbunyi, “Mereka yang bersabar maka akan diberi
balasan surga” Imam Baqir as berkata, “Mereka adalah orang-orang yang
bersabar ketika menghadapi kemiskinan di dunia.”
- Dan terkait ayat yang berbunyi, “Dan Dia memberi balasan kepada
mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera.”
Beliau juga berkata, “Mereka adalah orang-orang yang kokoh dalam
menghadapi kemiskinan dan kesulitan dunia.”
- Perkataan yang buruk adalah senjata orang-orang yang hina
- Segala sesuatu ada penyakitnya, dan penyakit ilmu adalah kelupaan
- Seorang ilmuwan yang ilmunya dimanfaatkan oleh masyarakat, lebih baik dari seribu orang yang ahli ibadah.
- Demi Allah! Kematian seorang ilmuwan bagi iblis lebih menyenangkan daripada kematian tujuh puluh orang yang ahli ibadah.
Beberapa Nasihat
Imam Baqir as berkata, “Putraku! Jangan sampai bermalas-malasan dan
bosan dalam mengerjakan pekerjaan. Karena keduanya ini awal dari segala
keburukan. Bila engkau bermalas-malasan maka engkau tidak akan bisa
memenuhi hak [seseorang] dan bila engkau bosan dan tidak stabil maka
engkau tidak akan bisa bersabar atas satu hak pun.
Perilaku ada tiga macam:
1. Mengingat Allah dalam segala kondisi
2. Bersikap adil terhadap masyarakat
3. Empati dan menjadikan orang lain sebagai bagian dari dirinya dalam harta dan kekayaan.
4. Bila engkau melihat pembaca al-Quran mencintai orang yang kaya,
ketahuilah bahwa dia adalah ahli dunia dan bila engkau melihat dia
membarengi raja tanpa ada keharusan, ketahuilah bahwa dia adalah
pencuri.
5, Para pengikut kami adalah orang yang menaati perintah Allah.
6. Hindarilah permusuhan dan kebencian, karena ia akan merusak hati dan menumbuhkan nifak [kemunafikan].
7. Mereka yang berdebat tentang ayat-ayat ilahi secara batil, adalah mereka yang cenderung pada kebencian dan permusuhan.
8. Beliau juga berkata, “Aku punya seorang saudara dan di mataku dia
besar. Yang membuat di besar di mataku adalah kehinaan dunia di
matanya.”
9. Siapa saja yang dianugerahi akhlak yang baik, karakter
persahabatan dan toleransi, maka telah diberikan kepadanya semua
kebaikan dan dia akan merasa tenang dan nyaman di dunia dan akhirat.
Sedangkan, siapa saja yang tidak punya akhlak yang baik, karakter
persahabatan dan toleransi, sungguh jalannya telah terbuka menuju pada
segala keburukan dan musibah, kecuali orang yang dijaga oleh Allah.
10. Bila engkau ingin tahu kadar kecintaan hati temanmu kepadamu, maka lihatlah apa yang ada di hatimu terkait dia.
DIALOG
pengarang : Emi Nur Hayati Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Muhammad Baqir as
Hisyam pada tahun tertentu pergi menunaikan ibadah haji. Imam Baqir dan Imam Shadiq as juga termasuk jemaah haji tahun itu.
Suatu hari Imam Shadiq as menyampaikan ceramahnya:
“Syukur kepada Allah yang telah mengutus Muhammad dengan kebenaran
dan dengannya kami dimuliakan. Kami adalah orang-orang pilihan Allah di
antara makhluk-makhluk-Nya dan wali-wali Allah di bumi. Beruntunglah
orang yang mengikuti kami dan celakalah orang yang memusuhi kami.”
Imam Shadiq as berkata, “Ucapan ini disampaikan kepada Hisyam, tapi
dia tidak menentang kami sampai dia kembali ke Damaskus dan kami juga
kembali ke Madinah. Dia memerintahkan gubernur di Madinah untuk mengirim
saya dan ayah saya ke Damaskus.”
Imam Shadiq as terkait masalah ini berkata, “Kami pergi ke Damaskus
dan Hisyam tidak mengizinkan kami masuk sampai tiga hari. Hari keempat
kami datang menemuinya dalam keadaan dia duduk di singgasana dan
orang-orang sekelilingnya sedang sibuk bermain panah dan mengambil arah.
Hisyam memanggil ayah dengan namanya saja dan berkata, “Memanahlah
bersama para pembesar kabilahmu.”
Ayahku berkata, “Aku sudah tua. Masa memanah sudah lewat bagiku. Maafkanlah aku.”
Hisyam memaksa dan bersumpah bahwa engkau harus melakukannya dan dia
berkata kepada seorang tua dari Bani Umayah, "Berikan busurmu
kepadanya.”
Ayahku mengambil busur itu dan memasang anak panahnya dan
memanahkannya. Anak panah pertama tepat menancap di tengah-tengah arah
yang dituju. Kemudian memasang anak panah yang kedua ke busur. Begitu
jarinya dilepas anak panah meluncur ke anak panah yang pertama dan
terbelah. Anak panah ketiga menancap ke anak panah kedua dan anak panah
keempat menancap ke anak panah ketiga dan seterusnya sampai anak panah
kesembilan menancap ke anak panah kedelapan. Suara teriakan muncul dari
orang-orang yang hadir. Hisyam tidak tenang dan berteriak, “Selamat Abu
Jakfar! Engkau di kalangan Arab dan Ajam sebagai pemanah yang hebat.
Bagaimana mungkin engkau berpikir masa memanah telah lewat bagimu...”
Pada saat itu juga dia merencanakan untuk membunuh ayahku dan
menundukkan kepalanya untuk berpikir. Kami pun berdiri di hadapannya.
Kami lama berdiri dan karena itulah ayahku marah. Begitu ayahku marah,
beliau memandang ke langit dan kemarahannya tampak di wajahnya.
Hisyam memahami kemarahan ayahku dan dia mempersilahkan kami ke
singgasananya. Dia bangkit dan memeluk ayahku dan mempersilahkan duduk
di sebelah kanannya. Dia juga memelukku dan mempersilahkan aku duduk di
sebelah kanan ayah. Dia berbincang-bincang dengan ayahku seraya berkata:
“Selama Quraisy memiliki orang sepertimu di sisinya, mereka akan
bangga di hadapan Arab dan Ajam. Selamat untukmu. Engkau belajar dari
siapa memanah seperti ini dan berapa lama?”
Ayahku berkata, “Engkau tahu orang-orang Madinah memanah dan aku
ketika masa muda juga melakukannya, kemudian aku tinggalkan sampai saat
ini engkau memintaku untuk memanah.”
Hisyam berkata, “Sejak aku mengenal diriku, selama ini aku tidak
pernah melihat ada orang memanah sehebat ini. Aku tidak menyangka di
muka bumi ini ada yang punya ketrampilan ini sepertimu. Apakah anakmu
Jakfar juga bisa memanah seperti kamu?”
Ayahku berkata, “Kami menerima warisan secara sempurna dan penuh
sebagaimana kesempurnaan yang diturunkan oleh Allah kepada nabi-Nya yang
berfirman, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan
telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam menjadi
agama bagimu.”
Bumi tidak akan kosong dari orang yang benar-benar bisa melakukan pekerjaan ini.
Mendengar kata-kata ini mata Hisyam melotot dan wajahnya memerah karena marah.
Sejenak dia menunduk dan mengangkat kembali kepalanya dan berkata,
“Bukankah kami dan kalian dari keturunan Abdi Manaf dan dari nasab yang
sama?”
Ayahku berkata, “Iya, tapi Allah telah memberikan keistimewaan kepada kami yang tidak diberikan kepada yang lainnya.”
Hisyam bertanya, “Bukankah Allah mengutus Rasulullah dari keturunan
Abdi Manaf kepada semua orang dan untuk semua orang; baik orang kulit
putih, hitam dan merah? Kalian tahu dari mana kalau telah mewarisi
pengetahuan ini. Padahal setelah Rasulullah tidak akan ada nabi dan
kalian juga bukan nabi?”
Ayahku langsung menjawab, “Allah dalam al-Quran berfirman kepada
Rasulullah Saw, “Jangan menggerakkan mulutmu untuk membaca al-Quran
sebelum diwahyukan kepadamu. [tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran)
menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu
yang diwahyukan (kepadanya)].
Dengan penjelasan ayat ini mulut Rasulullah mengikuti Allah dan
memberikan keistimewaan kepada kami yang tidak diberikan kepada orang
lain. Oleh karena itu beliau menyampaikan rahasia kepada saudaranya; Ali
yang tidak pernah disampaikan kepada orang lain. Dan dalam hal ini
Allah berfirman, “Apa yang diwahyukan kepadamu, hanya telinga tertentu
yang bisa mempelajari rahasiamu.”
Dan Rasulullah Saw berkata kepada Ali, “Aku memohonkan kepada Allah
untuk menjadikan telingamu sebagai telinga yang dimaksud. Demikian juga
Ali di Kufah mengatakan, “Rasulullah Saw telah membuka seribu pintu ilmu
di hadapanku dan dari setiap pintu itu ada seribu pintu lainnya yang
terbuka.”
Sebagaimana Allah telah memberikan kesempurnaan khusus kepada
Rasulullah Saw, Rasulullah juga atas perintah Allah memilih Ali dan
mengajarkan banyak hal kepadanya yang tidak diajarkan kepada yang
lainnya dan ilmu kami bersumber dari sana. Dan hanya kami yang
mewarisinya bukan orang lain.
Hisyam berkata, “Ali mengklaim punya ilmu gaib. Padahal Allah tidak menjadikan seseorang tahu ilmu gaib.”
Ayahku berkata, “Allah telah menurunkan sebuah kitab yang di dalamnya
telah dijelaskan segalanya tentang masa lalu dan masa yang akan datang
sampai Hari Kiamat. Karena di dalam kitab itu berfirman, “Kami telah
mengirim sebuah kitab kepadamu yang menjelaskan segalanya.”
Dan juga berfirman, “Tidak ada sesuatu pun yang tidak kami masukkan dalam kitab ini.”
Dan Allah memerintahkan Rasulullah Saw untuk mengajarkan semua
rahasia al-Quran kepada Ali dan Rasulullah Saw bersabda kepada umatnya,
“Ali lebih pandai dalam menghukumi dari kalian semua...”
Hisyam diam dan Imam keluar dari istananya.
KISAH IMAM MUHAMMAD BAQIR AS
pengarang : (Emi Nur Hayati)
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Muhammad Baqir as
Makna Ridha
Suatu hari Jabir bin Abdullah Anshari menemui Imam Muhammad Baqir as di saat tua dan lemah.
Imam menanyakan kabar dia. Jabir berkata, “Saat ini saya dalam kondisi
lebih mengenal tua daripada kemudaan, sakit daripada kesehatan dan
kematian daripada hidup. Sementara Imam Baqir as berkata, “Bila Allah
membuatku tua, aku meminta tua. Bila Allah membuatku muda, aku meminta
muda. Bila Allah membuatku sakit, aku meminta sakit dan bila Allah
membuatku sembuh, aku meminta kesehatan. Pada saat itu Jabir mencium
wajah Imam beliau dan berkata, “Benar apa kata Rasulullah, “Hai Jabir!
Umurmu akan panjang sampai engkau melihat salah satu putraku yang
bernama Baqir dan pembelah ilmu. Sesungguhnya inilah makna ridha.”
Keutamaan Menuntut Ilmu
Imam Baqir as berkata, “Suatu hari seorang lelaki datang menemui
Rasulullah Saw dan bertanya kepada beliau tentang hadir di majlisnya
ulama lebih baik ataukah ikut acara mengiringi penguburan jenazah
seorang muslim? Yang manakah yang lebih dicintai?”
Rasulullah Saw bersabda, “Bila sudah ada yang ikut mengiringi
penguburan jenazah dan mengurusi pemakamannya, maka lebih baik engkau
ikut dalam majlis ilmu. Karena hadir di majlis ilmu lebih utama dari
ikut hadir dalam acara pemakanan seribu jenazah dan menjenguk seribu
orang sakit dan berdiri untuk ibadah selama seribu malam dan bersedekah
dalam seribu hari dan seribu ibadah haji. Tidakkah engkau tahu bahwa
Allah akan ditaati melalui ilmu? Yakni orang bodoh tidak akan bisa
beribadah kepada Allah dengan baik.”
Sebaik-Baiknya Masyarakat
Imam Baqir as mengenalkan masyarakat yang terbaik demikian;
sebaik-baiknya masyarakat adalah orang yang mengenal Allah. Untuk itu
mereka adalah orang yang paling ridha atas takdir ilahi.
Orang yang ridha atas takdir dan ketentuan Allah, maka Allah akan
memberikan pahala yang banyak kepadanya. Tapi, orang yang tidak ridha
akan ketentuan Allah, selain ketidakridhaannya tidak akan bisa
menghalangi ketentuan Allah, pahalanya di sisi Allah juga akan hilang.
Apel Surga
Jabir bin Yazid mengatakan, “Saya pergi bersama Imam Baqir as ke
Hirah. Ketika kami masuk ke Karbala, beliau berkata, “Hai Jabir! Tanah
ini bagi kami dan para pengikut kami adalah taman dari taman-taman surga
dan bagi musuh-musuh kami adalah sebuah lubang dari lubang-lubang
neraka Jahannam.” Kemudian beliau menghadap kepada saya dan berkata,
“Hai Jabir! Engkau mau makan?”
Saya berkata, “Iya. Saya melihat beliau memasukkan tangannya ke dalam
bongkahan-bongkahan batu dan mengeluarkan apel dan memberikannya kepada
saya dan saya tidak pernah melihat apel seharum apel tersebut dan tidak
memiliki kesamaan sama sekali dengan buah-buah di dunia. Saya baru tahu
kalau itu adalah buah surga. Kemudian saya memakannya dan rasanya
sangat lezat dan yang menakjubkan adalah saya tidak membutuhkan makan
sampai empat hari.”
Burung Skylark Dan Burung Gereja
Salah satu sahabat Imam Baqir berkata, “Suatu hari kami bersama
beliau melewati tanah yang kering. Tanah ini benar-benar panas dan
kering, seakan-akan keluar uap panas dari dalamnya. Di daerah itu banyak
burung gereja. Begitu mereka melihat kami langsung datang menuju kepada
kami dan terbang mengelilingi onta Imam Baqir as. Imam Baqir berkata
kepada mereka, “Saya tidak punya makanan untuk kalian.”
Besoknya kami kembali pergi ke daerah tersebut. Kembali kami
merasakan panas itu dan melihat burung-burung gereja itu. Mereka kembali
mendatangi Imam Baqir as dan terbang mengelilinginya. Pada saat itu
saya melihat banyak air di tengah padang sahara dan Imam Baqir
memberikan air kepada mereka. Saya bertanya, “Wahai maulaku! Kemarin
Anda tidak memberikan air kepada mereka, tapi sekarang Anda memberikan
air kepada mereka.”
Imam Baqir as memandang saya dan berkata, “Bila mereka tidak bersama
burung skylark, maka hari ini aku juga tidak akan memberikan air kepada
mereka.”
Saya bertanya, “Memangnya ada perbedaan antara burung gereja dan burung skylark?”
Beliau berkata, “Ah kamu ini! Burung gereja adalah pecinta para musuh
kami. Sementara burung skylark adalah para pecinta kami. Karena
wujudnya burung-burung skylark aku memberikan air kepada mereka.”
Nasihat
Imam Baqir as berkata, “Tiga perkara merupakan kemuliaan dunia dan akhirat:
Pertama, maafkanlah orang yang menzalimimu.
Kedua, sambunglah hubungan kepada orang yang memutuskan hubungan denganmu.
Ketiga, bersabarlah atas sikap yang dilakukan padamu karena dasar kebodohan pelakunya.
Balasan Tidak Membantu Orang lain
Bila seseorang tidak mau membantu saudara semuslimnya dan tidak mau
memenuhi kebutuhannya, maka ia akan tertimpa kondisi yang sama seperti
dia dalam usaha atau pekerjaannya yang menyebabkan jatuhnya dia ke dalam
dosa dan mendapatkan balasannya.
Dan bila seseorang tidak mau menginfakkan hartanya di jalan Allah
maka ia akan berkali-kali lipat mengeluarkan hartanya di jalan yang
tidak diridhai oleh Allah.
KESEMPURNAAN IBU DAN NASIHAT IMAM BAQIR AS
pengarang : Emi Nur Hayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Muhammad Baqir as
Ibu Imam Baqir as bernama Fathimah [Ummu Abdillah]. Dia adalah putri
Imam Hasan as. Dari sisi spiritual, beliau mencapai derajat
kesempurnaan.
Suatu hari Imam Baqir as mengingatnya dan berkata, “Beliau
benar-benar jujur dan di dalam kalangan keluarga Imam Hasan, tidak
terlihat seorang wanita seperti beliau.”
Suatu hari dia duduk di samping dinding. Tiba-tiba dinding itu retak
dan terbelah dan suara jatuhnya dinding terdengar mengerikan. Pada saat
itu dia berkata, “Tidak. Bihaqqi Musthafa, Allah tidak mengizinkan
engkau untuk roboh.”
Dinding mengantung di udara. Kemudian dia keluar dari bawah dinding.
Kemudian Imam Baqir as bersedekah seratus dinar karena terhindarnya
ibunya dari bahaya.
Nasihat
Sejumlah orang dari para pengikut Ahlul Bait Rasulullah Saw bermaksud
untuk pergi dari Hijaz menuju ke Irak. Sampai di Madinah, mereka
menemui Imam Baqir as dan meminta beliau agar menasihati mereka.
Imam Baqir as menasihati mereka demikian:
1. Yang Kuat dari kalian harus membantu yang lemah.
2. Yang Kaya dari kalian harus membantu yang miskin.
3. Ketika sebuah hadis dari kami sampai kepada kalian, perhatikan dan
telitilah. Bila kalian menemukan satu atau dua dalil dari al-Quran,
maka terimalah [hadis itu], bila tidak maka bersabarlah sampai kalian
mendapatkan kesempatan yang tepat untuk menanyakan kepada kami supaya
kebenarannya jelas bagi kalian.
4. Ketahuilah bahwa pahala setiap orang dari kalian yang menunggu
perkara ini [kehadiran Imam Zaman af] sama seperti pahala orang yang
berpuasa dan malamnya dipenuhi dengan ibadah dan barang siapa yang
sampai pada masa Qaim kami [Imam Zaman af] dan memerangi musuh
bersamanya serta membunuh musuh kami, maka pahalanya sebesar dua puluh
syahid, dan barang siapa yang terbunuh di jalan ini, maka pahalanya
sebesar dua puluh lima syahid.
KEHADIRAN ORANG YANG SUDAH MATI
pengarang : Emi Nur Hayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Muhammad Baqir as
Abu Ainiyah meriwayatkan: Saya berada bersama Imam Baqir as. Seorang
lelaki datang dan berkata, “Saya adalah warga Syam. Saya mencintai Anda
dan berlepas tangan dari musuh-musuh Anda. Ayah saya adalah pecinta
Bani Umayah. Dia tidak punya anak selain saya. Dia punya kebun dan
sering di sana. Ketika dia sudah mati, saya tidak menemukan harta
kekayaannya sama sekali meski sudah saya cari-cari. Tidak diragukan
bahwa ini karena permusuhannya terhadap saya. Sehingga dia
menyembunyikan hartanya.
Imam Baqir as berkata, “Maukah engkau melihat ayahmu dan bertanya kepadanya di manakah hartanya?”
Dia berkata, “Iya. Demi Allah! Saya tidak memiliki apa-apa dan sangat membutuhkan.”
Imam Baqir as menulis surat dan menstempel dengan stempel cincinnya.
Kemudian berkata kepada lelaki warga Syam ini, “Bawalah surat ini ke
Baqi’ dan berdirilah di tengah-tengah kuburan, kemudian ucapkan dengan
suara lantang “Aku adalah utusan Muhammad bin Ali bin Huseis as” akan
datang seseorang yang memakai amamah [surban] di kepalanya dan
bertanyalah kepadanya apa saja yang engkau inginkan.”
Lelaki Syam ini mengambil surat itu dan pergi. Abu Ainiyah
mengatakan, “Keesokan harinya aku datang menemui Abu Ja’far [Imam Baqir
as] untuk menanyakan kondisi lelaki Syam itu. saya melihat lelaki itu
berdiri di depan pintu menunggu izin untuk masuk. Dia diizinkan untuk
masuk dan kami masuk bersama-sama ke dalam rumah.
Lelaki Syam itu berkata, “Allah lebih tahu ilmu-Nya harus diletakkan
di mana? Tadi malam saya pergi ke Baqi’ dan saya mengamalkan segala yang
diperintahkan. Saat itu juga datang seseorang dan berkata, “Jangan
pergi dari sini ke tempat lain, sehingga aku hadirkan ayahmu. Dia pergi
dan hadir kembali dengan lelaki hitam dan berkata, “Ini adalah ayahmu.
Tanyakan kepadanya apa saja yang engkau maukan.” Saya berkata, “Dia
bukan ayahku.” Orang tersebut berkata, “Dia adalah ayahmu. Tapi kobaran
api dan dukhan, jahim dan azab yang pedih telah mengubahnya.”
Dia berkata, “Hai anakku! Aku dulu adalah pecinta Bani Umayah dan aku
lebih mengutamakan mereka daripada keluarga Rasulullah Saw yang berasal
dari Rasulullah sendiri. Oleh karena itu Allah telah mengazabku seperti
ini. Karena engkau adalah pecinta keluarga Rasulullah Saw dan aku
memusuhimu, aku tidak memberikan hartaku padamu. Sekarang aku menyesali
keyakinanku ini. Hai anakku! Pergilah ke kebunku dan galilah tanah di
bawah pohon zaitun dan ambillah uang seratus ribu dirham di sana.
Berikan yang lima puluh ribu dirham kepada Imam Muhammad bin Ali dan
ambillah sisanya.”
Kemudian lelaki Syam itu berkata, “Sekarang aku mau mengambil uang
itu dan saya akan memberikan apa yang menjadi hak Anda.” Kemudian dia
pergi.
Abu Ainiyah mengatakan, “Tahun berikutnya saya bertanya kepada Imam as , “Apa yang dilakukan oleh lelaki Syam terkait hartanya?”
Imam Baqir as berkata, “Lelaki itu memberikan lima puluh ribu dirham
kepadaku, dan aku pakai membayar hutang yang menjadi tanggunganku. Aku
beli tanah di sekitar Khaibar dari sebagian uang itu dan aku berikan
sebagiannya untuk orang-orang yang membutuhkan dan sebagian aku berikan
kepada keluargaku.”
SEORANG TUNANETRA YANG MENGENAL IMAM BAQIR AS
pengarang : Emi Nur Hayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Muhammad Baqir as
Abu Bashir mengatakan, “Saya bersama Imam Baqir as masuk masjid di
Madinah. Masyarakat dalam kondisi lalu lalang. Kepada saya Imam Baqir as
berkata, “Tanyakan kepada masyarakat, apakah mereka melihat aku?”
Setiap orang yang aku tanya mengatakan tidak melihat Abu Ja’far [Imam
Baqir as] padahal Imam Bagir berdiri di sampingku. Pada saat itu
datanglah salah seorang pecinta sejati Imam Baqir as yang tunanetra;
namanya Abu Harun. Imam Baqir as berkata, “Tanyakan padanya.”
Abu Bashir mengatakan, “Saya bertanya kepada Abu Harun, Apakah engkau melihat Abu Ja’far?”
Dia berkata, “Bukannya beliau berdiri di sampingmu.”
Saya berkata, “Bagaimana engkau tahu?”
Dia berkata, “Bagaimana aku tidak tahu, sementara beliau adalah cahaya yang terang dan memancar.”
Penghambaan Kepada Allah
Seorang lelaki sedang melewati kebun kurma. Dia melihat Imam Baqir as
sedang sibuk bertani di bawah suhu yang panas. Dia berpikir, sebaiknya
aku nasihati Imam supaya dia tidak lagi bertani di bawah suhu yang panas
dan membakar ini.
Dia mendekati Imam. Setelah mengucapkan salam, dia berkata, “Wahai putra
Rasulullah! Apakah benar, karena untuk mendapatkan harta dunia Anda
bekerja di bawa suhu yang panas? Bila kematian menjemput Anda, apa yang
harus Anda lakukan?”
Setelah menjawab salamnya, Imam berkata, “Hai hamba Allah! Bila pada
saat ini kematian mendatangiku, maka dengan bangga aku menyambutnya,
karena aku dalam keadaan menghamba kepada Allah. Dengan pekerjaan ini,
aku tidak lagi membutuhkan orang lain seperti kamu.”
Lelaki itu malu mendengar ucapan ini dan berkata, “Aku ingin menasihati Anda, namun Anda menasihati saya.”
Kemudian dia pergi dan telah jauh dari Imam Baqir as.
IMAM BAQIR AS MENGETAHUI PERISTIWA DAN PESAN BELIAU KEPADA JABIR JU'FI
pengarang : Emi Nur Hayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Muhammad Baqir as
Mengetahui Peristiwa
Abu Hamzah Tsumali salah seorang sahabat Imam Baqir as menukil bahwa
suatu hari Imam Muhammad Baqir as pergi ke sebuah kebun di sekitar
Madinah dan Sulaiman salah satu sahabatnya membarenginya.
Sulaiman bertanya kepada Imam Muhammad Baqir, “Apakah Imam mengetahui peristiwa yang terjadi di siang hari?”
Imam Baqir as berkata, “Demi Tuhan yang mengutus Muhammad Saw sebagai
nabi, Imam mengetahui kejadian yang terjadi di sianh hari, kejadian
yang terjadi di bulan bahkan yang akan terjadi di tahun yang akan
datang.”
Setelah itu berkata, “Saat ini juga dua orang lelaki akan
berhadap-hadapan dengan kita dan dia telah mencuri tapi mengingkarinya.”
Tidak lama kemudian muncullah dua orang dari kejauhan. Begitu mereka
sudah dekat, Imam Baqir as berkata, “Kalian telah mencuri. Mereka
bersumpah bahwa tidak mencuri.”
Imam Muhammad Baqir as berkata, “Demi Allah! Bila kalian tidak
menyerahkan barang curian itu, maka aku akan menyuruh seseorang untuk
mengambil barang curian itu dari tempat yang kalian sembunyikan dan akan
aku panggil pemiliknya dan akan aku serahkan kalian kepada pengadilan,
supaya tangan kalian dipotong.”
Kemudian beliau menyuruh para budaknya untuk mengikat kedua tangan
mereka. Setelah itu beliau berkata kepada Sulaiman, “Engkau dan para
budak ini pergilah ke atas gunung ini. Di puncak gunung itu ada sebuah
goa dan engkau sendiri masuklah ke dalamnya dan keluarkan barang apa
saja yang engkau lihat. Kemudian Sulaiman pergi ke sana dan mengeluarkan
dua bungkus barang dari sana dan atas perintah Imam Muhammad Baqir as
dia menyerahkan barang tersebut kepada pemiliknya dan pengadilan
memotong tangan pencuri tersebut.
Pesan Kepada Jabir Ju’fi
Imam Muhammad Baqir as berkata kepada Jabir bin Yazid Ju’fi, “Aku menganjurkan lima amalan kepadamu di hadapan masyarakat:
1. Bila engkau dizalimi, maka jangan berbuat zalim terhadap mereka.
2. Bila engkau dikhianati, maka jangan khianati mereka.
3. Bila engkau dibohongi, maka jangan marah.
4. Bila engkau dipuji, maka jangan gembira.
5. Bila engkau dihina, maka jangan sedih.
Ketahuilah bahwa engkau tidak akan terhitung sebagai pecinta kami,
sampai engkau tidak akan bersedih bila semua orang sekotamu berkumpul
dan kompak mengatakan bahwa engkau adalah orang yang buruk dan tidak
gembira bila semua orang mengatakan bahwa engkau adalah orang yang baik.
Tapi jagalah dirimu di hadapan al-Quran, bila engkau bergerak
berdasarkan al-Quran, dan tidak menginginkan apa yang tidak diinginkan
al-Quran dan menginginkan apa yang diinginkan al-Quran dan takut akan
apa yang diperingatkan oleh al-Quran, maka bersikukuhlah dan tetap
tegaklah serta bergembiralah karena apa yang dikatakan tentang dirimu
tidak merugikanmu dan bila engkau berpisah dan menjauh dari al-Quran,
maka untuk apa engkau harus membanggakan diri?
Sesungguhnya seorang mukmin benar-benar sadar akan jihad menghadapai
hawa nafsu sehingga dia bisa mengalahkan kemauan hawa nafsunya.
Oleh karena itu Allah berfirman, “Begitu orang yang bertakwa
merasakan bahwa setan dan godaannya sampai ke hati, saat itu juga di
langsung mengingat Allah dan pada saat itu juga di langsung peka hatinya
dan waspada.”
MUNAJAT PARA NABI
pengarang : Emi Nur Hayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Muhammad Baqir as
Numair mengatakan, “Saya bersama sejumlah orang pergi ke rumah
Imam Baqir as. Di sana kami mendengar suara munajat dengan bahasa
Ibrani. Karena sedihnya suara yang kami dengarkan, air mata kami juga
mengalir. Kami menyangka ada seorang dari Yahudi atau Kristen yang
berada di rumah Imam Baqir as dan sedang membaca Taurat atau Injil.
Ketika kami sampai di sisi Imam Baqir as, kami tidak melihat seseorang
ada di sisinya. Kepada beliau kami berkata, “Kami menyangka ada
seseorang dari ahli kitab; Yahudi atau Kristen datang dan membaca
ayat-ayat Taurat atau Injil.”
Imam Baqir as berkata, “Itu tadi suara saya. Saya tadi sedang
membaca munajat “Ilya” salah satu nabi terdahulu yang berbahasa Ibrani.”
Kami berkata, “Munajat bagaimana bila dengan bahasa Arab.”
Imam Baqir as berkata, “Ya Allah! Apakah aku melihat-Mu sebagai
penyiksa diriku sendiri? Padahal selama ini mataku tidak pernah terpejam
di malam hari beribadah kepadamu dan melakukan salat. Dan dia terus
menyebutkan pekerjaan-pekerjaan baiknya, dalam munajat ini dan meminta
surga kepada Allah.”
Mengetahui Nama-Nama Para Pengikut Ahlul Bait Rasulullah Saw
Abu Bashir menukil bahwa Imam Baqir as kepadanya berkata, “Ketika
engkau kembali ke Kufah, maka akan lahir anakmu lelaki bernama Isa
kemudian akan lahir lagi anakmu dengan nama Muhammad. Keduanya adalah
pengikut kami dan nama dua orang ini ada dalam shahifah kami dan siapa
saja yang akan lahir sampai Hari Kiamat.
Abu Bashir berkata, “Kepada beliau saya berkata, ‘Apakah para pengikut Anda bersama Anda?”
Imam Baqir as berkata, “Iya, bila takut pada Allah dan bertakwa.”
MENJAGA PARA SAHABAT DARI SENGATAN MUSUH
pengarang : emi nur hayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Muhammad Baqir as
Imam Muhammad Baqir sekitar dua puluh tahun mengembang kepemimpinan. Dalam masa ini, beliau berhadapan dengan empat khalifah Bani Umayah. Khususnya pada sepuluh tahun terakhir kehidupan beliau yang berharga berhadapan dengan pemerintahan tagut Hisyam bin Abdul Malik.
Beliau tidak pernah menyerah di hadapan Hisyam dan dalam kesempatan yang tepat, beliau senantiasa menunjukkan ketidaksukaannya pada pemerintahan tagut Hisyam. Beliau seperti kakek-kakeknya senantiasa berjuang melawan para pemerintahan tagut. Meski fasilitas yang ada tidak mengizinkan perang berhadap-hadapan dengan mereka. Tapi dalam perang budaya, beliau melakukan aktivitas tepat di hadapan pemerintahan Bani Umayah.
Oleh karena itu, dalam masa itu Imam Baqir as dan para sahabatnya benar-benar berada di bawah pengawasan ketat. Safwan bin Yahya menukil dari kakeknya, “Saya pergi ke rumah Imam Baqir as dan meminta izin untuk masuk. Namun saya tidak dizinkan untuk masuk. Sementara yang lainnya diizinkan untuk masuk.
Saya kembali pulang ke rumah dalam kondisi sedih. Saya membujurkan kaki di atas sebuah amben di halaman dan tenggelam dalam berpikir; mengapa Imam tidak mempedulikanku? Aku berkata pada diriku sendiri, berbagai golongan seperti Zaidiyah, Haruriyah dan Qadariyah dan lain-lain datang menemu Imam dan berlama-lama di sana, sementar aku yang seorang pengikutnya demikian?
Ketika aku tenggelam dalam berpikir, tiba-tiba aku mendengar suara ketukan pintu. Aku buka pintu. Aku melihat utusan Imam Baqir as dan berkata, “Sekarang, marilah ketemu Imam. Aku memakai baju dan pergi menemui beliau. Imam Baqir as berkata:
“Hai Muhammad! Bukan masalah Qadariyah, Haruriyah dan Zaidiyah dan lain-lain. Tapi kami menghindar darimu karena ini dan itu. Yakni para mata-mata pemerintah jangan sampai tahu para pecinta kami yang menyebabkan mereka tersiksa.”
Aku menerima ucapan Imam Baqir as ini dan aku menjadi tenang.
Pengasingan Dan Penjara
Sikap dan cara Imam Baqir as meski bukan sebuah perjuangan terang-terangan dengan sistem pemerintahan tagut masa itu, namun semuanya menunjukkan perlawanan pada sistem zalim. Akhirnya Hisyam memutuskan untuk mengasingkan Imam Baqir dari Madinah ke Syam.
Para petugas membawa Imam bersama putranya, Imam Shadiq as dari Madinah ke Syam. Dengan tujuan menghina Imam, beliau tidak boleh menemui Hisyam selama tiga hari. Bahkan mereka ditempatkan di penampungan para budak.
Hisyam berkata kepada para pegawainya, “Ketika Muhammad bin Ali [Imam Baqir as] masuk ke pertemuan, pertama aku akan mencacinya. Ketika aku diam, kalian bersama-sama, cacilah dia.”
Atas perintah Hisyam, Imam Baqir as diizinkan untuk masuk. Imam masuk ke dalam istana dan memberikan isyarat kepada semua orang yang hadir di situ seraya berkata, “Assalamu alaikum.” Yakni satu samalm untuk semua yang hadir di situ dan duduklah beliau.
Hisyam melihat Imam Baqir tidak mengucapkan salam secara khusus untuknya. Apalagi beliau duduk tanpa seizinnya, oleh karena itu dia bertambah marah dan berkata, “Hai Muhammad bin Ali! Selalu ada seorang dari kalian menimbulkan perselisihan di antara umat Islam dan mengajak masyarakat untuk berbaiat padanya dan menganggap dirinya sebagai imam. Dan kesimpulannya dia benar-benar menghina imam.
Ketika Hisyam diam, orang-orang ada di situ bersama-sama menghina Imam Baqir sesuai dengan konspirasi sebelumnya. Setelah mereka diam, Imam Baqir berdiri dan berkata:
“Hai orang-orang! Kemanakah kalian pergi dan kemanakah kalian dibawa? Allah telah membimbing orang pertama dari kalian melalui kami dan hidayah orang yang terakhir dari kalian juga oleh kami. Bila kalian tergantung pada kerajaan beberapa hari, ketahuilah bahwa pemerintahan abadi bersama kami. Sebagaimana Allah telah berfirman, “Akibat bagi orang-orang yang bertakwa.”
Hisyam memerintahkan untuk memenjarakan Imam Baqir as.
Tapi tidak lama, cara Imam Baqir as di penjara membuat para penghuni penjara tertarik pada beliau. Kejadian yang ada dilaporkan kepada Hisyam. Akhirnya Hisyam memerintahkan untuk mengembalikan Imam Baqir as ke Madinah dengan dibawah pengawasan.
IMAM SHADIQ AS DAN PROBLEM SOSIAL
pengarang : Emi Nur Hayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Ja’far Shadiq as
Salah seorang pembantu Imam Shadiq as berkata, “Karena jarangnya bahan makanan, harga barang-barang menjadi mahal.”
Imam Shadiq as berkata kepadaku, “Seberapa banyak bahan makanan yang ada di rumah?”
Aku menjawab, “Bisa dipakai dalam beberapa bulan.”
Imam Shadiq as berkata, “Juallah semuanya ke pasar.”
Aku heran dengan ucapan Imam Shadiq as, dan berkata, “Perintah apakah yang Anda sampaikan?”
Imam shadiq as mengulangi katak-katanya sampai dua kali dan menegaskan, "Bawa dan juallah semua barang yang ada di dalam rumah!"
Setelah bahan makanan yang ada di rumah saya jual, Imam Shadiq as
berkata kepada saya, “Sekarang engkau punya kewajiban membeli
bahan-bahan makanan. Makanan keluargaku harus disiapkan dari campuran
separuh dari jelai [jenis gandum] dan separuhnya lagi dari gandum."
Hak Muslim Atas Muslim Lainnya
Mu’alla bin Khunais salah satu sahabat Imam Shadiq as berkata,
“Saya berada di dekat Imam Shadiq as dan bertanya kepadanya, “Apa hak
seorang muslim atas muslim lainnya?”
Imam Shadiq as berkata, “Setiap muslim atas muslim lainnya memiliki
tujuh hak wajib [ditambah selain yang tidak wajib]. Bila salah satu dari
hak tersebut diabaikannya, maka ia telah keluar dari naungan wilayah,
kekuasan dan ketaatan Allah dan tidak mendapatkan keuntungan dari Allah.
Saya bertanya, “Apakah hak itu?”
Imam Shadiq as berkata, “Hai Mu’alla! Aku adalah teman yang penuh kasih
sayang terkait padamu. Aku khawatir engkau mengabaikan hak ini sementara
engkau tahu dan tidak mengamalkannya.”
Saya berkata, “Dengan pertolongan Allah, saya berharap bisa mengamalkannya.”
Pada saat itu beliau menjelaskan tentang tujuh hak itu dan berkata:
1. Yang paling sederhana dari hak-hak itu adalah sukailah bagi muslim
lainnya, apa yang engkau sukai dan jangan engkau sukai bagi muslim
lainnya, apa yang tidak engkau sukai.
2. Jangan marah terhadap muslim lainnya dan lakukanlah sesuatu yang
membuatnya senang dan taatilah perintahnya selama dalam ketaatan kepada
Allah.
3. Tolonglah dia dengan jiwa, harta, tangan dan kaki serta lisanmu.
4. Jadilah mata, pembimbing dan cermin baginya.
5. Jangan sampai engkau kenyang sementara dia lapar, jangan sampai
engkau merasa segar sementara dia haus, jangan sampai engkau berpakaian
sementara dia telanjang.
6. Bila engkau punya pembantu dan saudara muslimmu tidak punya pembantu,
maka wajib bagimu untuk mengirim pembantu kepadanya, supaya pakaiannya
dicuci, dan memasak makanannya dan membentangkan karpetnya.
7. Biarkan dia pada pertanggungjawabannya karena sumpah-sumpahnya.
Terimalah undangannya. Bila dia sakit maka jenguklah. Jangan
memperlambat dalam memenuhi kebutuhannya sehingga dia terpaksa
mengungkapkannya. Tapi segeralah untuk melakukannya. Ketika engkau
memenuhi hak ini, maka engkau telah mengikat persahabatanmu dengan
persahabatannya dan persahabatannya dengan persahabatanmu.
LELAKI INI ADALAH BUDAK ZAINUL ABIDIN
pengarang : Emi Nur Hayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Sajjad as
Sudah berapa lama hujan tidak turun di Madinah. Kekeringan telah
melanda tanah-tanah pertanian. Masyarakat telah mengalami kesusahan.
Akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan salat meminta hujan dan
bermunajat kepada Allah supaya diturunkan hujan.
Said bin Musayib salah seorang warga Madinah pada saat itu pandangan
matanya tertuju pada seorang budak kulit hitam yang sedang berada di
atas bukit dan jauh dari orang-orang sedang bermunajat. Said
memerhatikan sikap lelaki kulit hitam ini. Dia benar-benar tenggelam
dalam munajat sehingga tidak tahu bahwa Said sedang berada di sisinya.
Sebelum doanya selesai, awan hitang telah menyelimuti langit kota. Budak
kulit hitam ini memandang ke langit. Begitu dia melihat awan tebal, dia
bersyukur kepada Allah, tersenyum dan pergi.
Tidak lama kemudian, hujan turun begitu lebat sehingga khawatir terjadi
banjir. Said merasa bahwa munajat budak kulit hitam itulah yang
menyebabkan turunnya hujan di kota ini setelah lama terjadi kekeringan.
Dia membuntuti budak tersebut, dalam upaya ingin mengetahui bahwa
dibawah pendidikan siapakah budak ini?
Said sedang membuntuti budak ini sampai dia masuk ke rumahnya Ali bin
Husein as dan dia juga meminta izin untuk masuk ke dalam rumah tuannya.
Said berkata kepada Imam Zainul Abidin as, “Wahai putra Rasulullah! Saya
datang untuk membeli budak ini dari Anda, bila Anda menyetujuinya.”
Imam berkata, “Saya bisa menjual budak ini kepadamu.”
Kemudian beliau berkata kepada budaknya, “Hai hamba Allah! Dari sejak
saat ini engkau akan mengabdi kepada Said bin Musayib, maka ikutilah
dia.”
Budak itu berkata kepada Said, “Apa yang menyebabkan engkau memisahkan aku dan maulaku?”
Said bin Musayib menjelaskan apa yang telah terjadi kepada budak dan
Imam Sajjad as dan berkata, “Engkau mulia dan dekat di sisi Allah dan
aku ingin memiliki budak seperti ini di rumahku.”
Kondisi budak menjadi berubah. Dia mengangkat tangannya ke langit dan
berkata, “Ya Allah! Ada rahasia antara aku dan Engkau. Karena sekarang
rahasia itu sudah terungkap, maka kembalikanlah aku pada diri-Mu.”
Imam, Said dan semua orang yang ada di rumah Imam merasa trenyuh dengan
kata-kata budak ini dan mereka menangis. Said pun keluar dari rumah Imam
dengan menangis dan pada saat yang sama dia menyesal.
Begitu Said bin Musayib sampai di rumahnya, salah seorang budak Imam
menyampaikan pesan dan berkata, “Hai Said! Imam berkata, bila engkau
mau, engkau bisa ikut acara pemakaman budak itu!”
KUTUKAN IMAM SAJJAD AS DAN GEMPA MADINAH
pengarang : Emi Nur Hayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Sajjad as
Bani Umayah adalah penguasa zalim yang banyak berbuat zalim terhadap
masyarakat Islam dan para pengikut Imam Ali as. Jabir bin Abdullah
Anshari salah seorang sahabat setia dan beriman kepada para Imam Maksum
as berkata:
“Bani Umayah tidak segan-segan melakukan kezaliman apapun. Kaum pezalim
ini dalam pemerintahannya telah menumpahkan banyak darah. Di atas
mimbar-mimbar dan pidatonya selama seribu bulan telah melakukan
pelaknatan dan kutukan terhadap Amirul Mukminin as. Para pengikut Ahlul
Bait Rasulullah Saw telah mengalami musibah besar. Ketika kesabaran
masyarakat habis, mereka mendatangi Imam Sajjad as dan mengeluhkan
kondisi yang sangat parah ini dan berlindung kepada beliau.
Imam benar-benar sedih menyaksikan kondisi ini. Beliau menghadap ke
langit dan berkata, ‘Ya Allah! Engkau Maha Suci. Engkau adalah zat yang
memberikan kesempatan pada para musuh untuk menyempurnakah hujjah bagi
mereka. Namun aku meminta kepada-Mu untuk menurunkan musibah besar pada
para musuh yang tidak punya rasa kasih sayang ini...’
Malam itu terasa sangat lama bagi saya. Saya berpikir bagaimana Allah
akan membalas dendam masyarakat ini. Keesokan harinya, gempa sanggat
besar menimpa kota Madinah sedemikian rupa sehingga kebanyakan
rumah-rumah rusak dan sekitar tiga ribu orang mati.
Saya terheran-heran memandang masyarakat dan saya menangis melihat rasa
ketakutan mereka. Pada saat itu saya menemui Sayidina Baqir as. Beliau
berkata, “Bagaimana keadaan masyarakat?”
Saya berkata, “Wahai putra Rasulullah! Jangan bertanya tentang keadaan
masyarakat. Rumah-rumah telah rusak dan para penghuninya telah binasa
dan hati saya sendiri kasihan pada mereka.”
Beliau berkata, “Semoga Allah tidak merahmati mereka.”
Jabir mengatakan, “Gubernur Madinah yang merasa keheranan dengan semua
musibah ini menganjurkan masyarakat agar pergi ke rumahnya Ali bin
Husein as untuk bertaubat dan menangis, barangkali Allah akan merahmati
mereka. Kemudian mereka pergi ke rumah Sayidina Baqir as dengan tangisan
dan berkata, “Wahai putra Rasulullah! Apakah Anda tidak melihat musibah
yang telah diturunkan pada umat Rasulullah? Dimanakah ayah Anda
sehingga kami bisa memohon kepada beliau agar datang ke masjid dan
berdoa agar Allah menahan balak dan musibah dari umat Muhammad Saw.
SEORANG LELAKI YANG KELUAR PERMATA DARI TANGANNYA
pengarang : Emi Nur Hayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Sajjad as
Zuhri salah seorang sahabat Imam Sajjad as berkata tentang beliau:
“Pada hakikatnya saya tidak pernah melihat seorangpun yang lebih baik
dari Ali bin Husein as. Demi Allah! Jarang orang yang saya kenal yang
bisa menyembunyikan kecintaannya padanya, atau bila musuhnya, sedikit
juga yang menunjukkan permusuhannya secara terang-terangan. Aku tidak
pernah melihat seseorang menyembunyikan kebesaran Imam Sajjad.
Perilakunya sedemikan rupa sehingga membuat orang lain iri. Imam Sajjad
bersikap sedemikian rupa kepada para musuhnya sehingga membuat mereka
malu atas perbuatannya.”
Seorang Lelaki Yang Keluar Permata Dari Tangannya
Lelaki itu adalah salah satu pemuka daerah Balkh. Biasanya setiap
tahun dia selalu pergi menunaikan ibadah haji. Setiap kali datang untuk
menziarahi makam Rasulullah Saw di Madinah, dia juga datang mengunjungi
Imam Sajjad as dan membawa hadiah untuk beliau serta menanyakan keadaan
dan kembali lagi ke daerahnya.
Suatu hari istri lelaki ini berkata, “Bagaimana mungkin setiap tahun
engkau membawa dan memberikan hadiah untuk Ali bin Husein as, sementara
dia tidak pernah memberikan hadiah kepadamu sebagai imbalannya?”
Lelaki itu berkata, “Beliau ini adalah maula kita dan putra Rasulullah
Saw. Aku berkewajiban untuk menghormatinya dan tidak berharap atas
hadiah-hadiah yang aku berikan kepadanya.”
Tahun berikutnya lelaki Balkh ini menunaikan ibadah haji lagi dan pergi menemui Imam Sajjad as.
Imam Sajjad as mengajak lelaki ini ke rumahnya dan makan bersama.
Imam Sajjad as membawa ember dan kendi. Lelaki itu bangkit dan mengambil
kendi tersebut supaya Imam Sajjad mencuci tangannya. Namun Imam Sajjad
berkata, “Hai hamba Allah! Engkau adalah tamuku, bagaimana aku akan
mengizinkan engkau menyiramkan air ke tanganku?”
Lelaki itu berkata, “Aku menyukainya wahai maulaku. Izinkan saya untuk melakukannya dan ini menjadi kebanggaan bagiku.”
Imam Sajjad as berkata, “Baiklah. Kalau begitu sebagai ganti dari
pengabdian ini, aku akan memberikan sesuatu padamu sehingga
menyenangkanmu.”
Lelaki Balkh ini menyiramkan air sampai sepertiga dari ember itu penuh. Imam Berkata, “Apa yang engkau lihat dalam ember ini?”
Lelaki itu berkata, “Saya melihat air.”
Imam Sajjad as berkata, “Lebih jelilah! Apa yang engkau lihat adalah yakut merah.”
Lelaki itu memandang ember. Dia tidak percaya. Tapi kenyataannya dalam ember itu ada yakut merah.
Imam Sajjad as berkata, “Siramkan air.”
Lelaki itu menyiramkan air ke tangan Imam Sajjad as sampai sepertiganya lagi dari ember itu penuh dengan yakut hijau.
Imam Sajjad kembali berkata, “Siramkan air.”
Lelaki itu menyiramkan air ke tangan Imam Sajjad sampai ember itu penuh. Namun kali ini penuh dengan mutiara putih.
Imam Sajjad as tersenyum dan berkata, “Hai lelaki! Setiap kali engkau
datang engkau selalu membawa hadiah untukku. Namun aku tidak punya
sesuatu yang sejajar dengan hadiah-hadiahmu. Namun sekarang ambillah
permata-permata ini dan berikanlah kepada istrimu dan mintakan maaf dari
kami.”
PELAJARAN TAWADHU DARI IMAM AS-SAJJAD
pengarang : Emi Nur Hayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Sajjad as
Seseorang dengan wajah sedih dan hati yang penuh luka mendatangi
Imam Zainul Abidin as dan berkata dengan bahasa keluhan, “Aku merasa
sakit hati kepada orang-orang yang aku perlakukan dengan baik, tapi
mereka menzalimi aku dan tidak menghargai kebaikan-kebaikanku.”
Imam Sajjad as berkata, “Bila engkau ingin bebas dari masalah ini,
pertama jagalah mulutmu dan jangan ceritakan segalanya kepada siapa
saja. Setelah itu, anggaplah semua orang muslim sebagai keluargamu
sendiri. Yakni orang yang lebih tua darimu anggaplah sebagai ayahmu dan
orang yang lebih kecil darimu anggaplah sebagai anakmu dan orang yang
sebaya denganmu anggaplah sebagai saudaramu. Dengan demikian, engkau
tidak akan sakit hati akan tingkah laku dan ucapan mereka, sebagaimana
engkau tidak akan sakit hati dari anggota keluargamu.”
Kemudian beliau melanjutkan, “Setiap kali engkau menganggap dirimu lebih
baik dari orang muslim lainnya, karena godaan dan waswas setan, maka
bila orang itu lebih tua darimu, katakan pada dirimu, bagaimana mungkin
aku lebih baik dari dia, sementara dia lebih tua, tentu saja amal
kebaikannya lebih banyak dariku. Bila orang itu lebih kecil darimu,
katakan pada dirimu, karena aku lebih tua darinya, tentu aku lebih
banyak berdosa daripada dia. Bila usianya sebaya denganmu, maka katakapada dirimu, aku yakin pada perbuatan dosaku, sementara terkait
perbuatan dosanya aku ragu. Untuk itu, dia lebih baik dariku. Karena aku
yakin akan perbuatan dosaku, sementara aku tidak tahu akan perbuatan
dosanya.
Bila engkau melihat orang lain menghormatimu, anggaplah bahwa dirimu
bukan orang yang layak mendapatkan penghormatan ini. Tapi katakan pada
dirimu, penghormatan mereka dengan alasan karena menghormati orang lain
adalah perbuatan yang baik. Dan setiap kali engkau melihat mereka tidak
peduli padamu, katakan pada dirimu, sikap ini alasannya karena dosa dan
kesalahan yang aku lakukan terhadap mereka.
Lelaki ini tidak berbicara apa-apa karena selain dia merasa takjub pada
ucapan Imam as, dia juga telah mendapatkan ketenangan. Namun Imam
Sajjad mengakhiri ucapannya demikian, “Bila engkau menjaga aturan ini,
maka teman-temanmu akan banyak dan musuhmu sedikit. Bila mereka berbuat
baik padamu, engkau akan senang, dan bila mereka berbuat buruk
terhadapmu, engkau tidak akan sakit hati.”
INI ADALAH TEMPAT PERLINDUNGANKU
pengarang : Emi Nur Hayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Sajjad as
Pasca peristiwa tragis Karbala dan Syahadahnya Imam Husein as, warga
Madinah bangkit melawan Yazid dan mengeluarkan penguasa yang ditetapkan
oleh Yazid untuk kota Madinah dan mempersulit Bani Umayah sedemikian
rupa sehingga kebanyakan mereka melarikan diri meninggalkan rumah dan
kehidupannya.
Warga Madinah juga mengancam Marwan musuh bebuyutan keluarga Rasulullah
agar segera meninggalkan Madinah. Namun karena Marwan punya banyak
istri, anak dan kekayaan, ia takut akan jiwa dan harga dirinya serta
keluarganya. Ia takut bila dirinya tidak ada maka warga Madinah akan
menciderainya karena marah. Dengan demikian, Marwan memutuskan untuk
menyerahkan keluarganya kepada salah satu pembesar Madinah untuk menjaga
jiwa mereka. Pertama ia mendatangi Abdullah putranya Umar, namun
Abdullah tidak menerimanya. Setelah itu ia mendatangi satu persatu rumah
semua pembesar Madinah, namun karena beragam alasan, mereka tidak mau
menerima Marwan dan keluarganya. Ketika ia merasa putus asa dari
semuanya, Marwan mendatangi Imam Sajjad as.
Meski Marwan banyak menyakiti keluarga Rasulullah Saw, namun Imam Sajjad
as melindungi keluarganya. Dengan demikian, Aisyah; istrinya Marwan
yang juga putrinya Usman, bersama para wanita dan anak-anak Marwan
berlindung di rumah Imam Sajjad as. Sementara Marwan sendiri keluar dari
Madinah sampai kondisi tenang.
Setelah beberapa waktu Yazid mengutus pasukannya untuk menumpas warga
Madinah. Pasukan Yazid mengepung kota dan kebangkitan warga hampir
kalah. Semua tahu bahwa bila pasukan Yazid masuk ke dalam kota, maka
tidak akan mengasihani siapapun. Dalam kondisi seperti ini, mayoritas
wanita Madinah bersama anak-anaknya berlindung ke rumah Imam Sajjad as.
Disebutkan bahwa dalam kekacauan ini, empat ratus orang wanita bersama
anak-anaknya berada di rumah Imam Sajjad as. Beliau mengeluarkan para
wanita ini dari Madinah dan pasukan Yazid tidak mampu menghalanginya
karena kedudukan spiritual Imam Sajjad as.
Selama pertempuran berlangsung, makanan dan pakaian serta apa yang
diperlukan para wanita dan anak-anak dijamin oleh Imam Sajjad as. Ketika
fitnah itu berakhir, salah seorang wanita berkata, “Demi Allah! Aku
tidak pernah mendapatkan ketenangan di sisi ayah dan ibuku dan suami
sebagaimana yang akau dapatkan saat ini di bawah naungan Imam yang
terhormat ini.”
Catatan Amal
Imam Sajjad as di rumahnya memiliki beberapa budak lelaki dan perempuan
yang mengerjakan pekerjaan sehari-hari beliau. Sikap Imam Sajjad as
terhadap para pembantunya sangat menarik dan penuh pelajaran. Misalnya,
di bulan Ramadhan, beliau mencatat setiap kesalahan yang mereka lakukan.
Setelah bulan Ramadhan, beliau mengumpulkan semua budaknya dan
mengambil pengakuan dari mereka, apakah dalam hari-hari tertentu mereka
melakukan kesalahan ataukah tidak?
Mereka juga tahu bahwa Imam Sajjad mengetahui perincian perilaku mereka,
sehingga mereka mengakuinya. Imam Sajjad juga berdiri di antara mereka
dan berkata, “Katakan dengan suara keras; Hai Ali bin Husein! Tuhanmu
telah mencatat apa yang telah engkau lakukan di dalam catatan amalmu,
sebagaimana engkau menulis kesalahan-kesalahan kami; Namun ketahuilah
bahwa buku catatan yang ada di sisi Tuhanmu akan berbicara dengan benar
padamu. Sebuah buku catatan yang memuat amal-amalmu baik yang kecil
maupun yang besar, sebagaimana buku catatan kami yang memuat amal-amal
kami yang kecil maupun yang besar. Untuk itu, Hai Zainul Abidin,
Maafkanlah kami dan kesalahan-kesalahan kami, sebagimana engkau suka
Allah memaafkan amal-amalmu...”
Kemudian menghadap ke arah para budak lelaki dan perempuan seraya
berkata, “Aku memaafkan kesalahan-kesalahan kalian. Apakah kalian juga
memaafkan aku?”
Secara serempak mereka mengatakan, “Iya kami maafkan, wahai pemimpin kami!”
Kemudian Imam Sajjad as berkata, “Katakan; Ya Allah! Ampunilah Ali bin
Husein! Sebagaimana Dia telah memaafkan kami dan jauhkanlah dia dari api
neraka Jahannam!”
Menepati Janji
Imam Sajjad mengalami kesempitan dalam keuangan. Beliau pergi menemui
salah satu kerabatnya untuk meminjam uang. Lelaki itu menyiapkan uang
yang diinginkan Imam Sajjad as dan berkata, “Apa yang Anda jadikan
jaminan atas uang ini?”
Imam Sajjad pada saat itu tidak punya sesuatu yang berharga sebagai
jaminan. Oleh karena itu, beliau mengeluarkan benang dari ujung jubahnya
dan memberikannya kepada lelaki tersebut seraya berkata, “Benang jubah
ini sebagai amanat di sisimu.”
Lelaki itu mengambil benang dan memberikan uangnya kepada Imam Sajjad
as. Tidak berapa lama, masalah keuangan Imam Sajjad terselesaikan.
Beliau membawa uang untuk membayar hutangnya kepada lelaki tersebut.
Ketika sampai pada pemilik uang, beliau berkata, “Hai lelaki, uangmu
sudah siap. Berikan amanatku dan ambillah uangmu!”
Lelaki itu berkata, “Beberapa waktu telah berlalu dan aku tidak tahu benang itu aku letakkan di mana?!”
Imam Sajjad as berkata, “Kita berdua telah berjanji; mengambil uang di
hadapan mengambil amanat. Bila engkau telah menghilangkan amanatku, maka
jangan berharap aku akan mengembalikan uangmu.”
Ketika ucapan Imam Sajjad sampai di sini, lelaki itu dengan teliti
mencari-cari [benang] di antara barang-barangnya, sampai akhirnya ia
menemukan benang itu di antara kaleng kecil dan memberikannya kepada
Imam Sajjad. Imam Sajjad memberikan uang lelaki itu dan membuang benang
itu.
Tolonglah Kijang Ini
Imam Sajjad as sedang duduk bersama para sahabatnya dan membicarakan
beragam masalah. Tiba-tiba seekor kijang mendatangi mereka dalam keadaan
galau dan menghentak-hentakkan kakinya bagian depan ke tanah. Imam
Sajjad dengan ilmu keimamahannya mendengarkan bahwa kijang itu sedang
menjerit minta tolong kepada mereka.
Para sahabat Imam Sajjad penasaran; apa yang sedang dilakukan oleh
kijang ini di situ dan apa yang diinginkannya. Tahukah kalian apa yang
dikatakan oleh kijang ini?
Orang-orang yang hadir di situ berkata, “Tidak. Kami tidak tahu.”
Imam Sajjad berkata, “Dia mengatakan, seorang pemburu telah mengambil
anakku. Aku meminta kepada kalian untuk mengambilkan anakku supaya aku
susui.”
Kemudian beliau berkata, “Mari kita pergi bersama-sama dan meminta sang pemburu itu untuk membebaskan anaknya kijang ini.”
Semuanya pergi dan ketika sampai pada sang pemburu, Imam berkata
kepadanya, “Demi Allah! Bawalah ke sini anak kijang yang engkau buru
hari ini, supaya disusui oleh induknya.”
Sang pemburu segera mengambil anak kijang dan membawanya kepada Imam
Sajjad. Imam Sajjad as berkata, “Berikan anak kijang ini padaku.”
Pemburu memberikan anak kijang itu kepada Imam Sajjad as dan Imam
membawanya ke padang sahara dan menyerahkannya kepada induknya. Induk
kijang menyusui anaknya kemudian pergi bersama anaknya. Ketika pergi,
kijang itu dengan senang menggoyangkan ekornya.
Imam Sajjad as berkata, “Tahukah kalian apa yang dikatakan kijang itu?”
Orang-orang yang hadir berkata, “Tidak. Kami tidak tahu.”
Imam Sajjad berkata, “Dia mengatakan, semoga Allah mengembali para
musafir kalian kepada kalian, sebagaimana kalian telah mengembalikan
anakku kepadaku dan semoga Allah mengampuni Ali bin Husein.”
SIAPAKAH PEMUDA INI?
pengarang : Emi Nur Hayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Sajjad as
Karavan haji dari Kufah bergerak menuju Mekah. Malam, gelap, angin
dan rasa dingin, membuat karavan berpencar. Mata tidak bisa melihat
mata. Hammad bin Habib di padang sahara itu tersesat dan melanjutkan
perjalanannya tanpa arah dan tujuan.
Akhirnya di padang sahara tanpa air dan rerumputan itu dia sendirian
bernaung di bawah sebuah pohon. Kondisi sudah sangat gelap dan tiba-tiba
matanya tertuju pada seorang pemuda berpakaian putih dan berbau harum.
Hammad berpikir, ia salah melihat. Tapi ternyata tidak, dia benar-benar
melihat.
Pemuda itu memiliki wajah yang bercahaya. Hammad penasaran, apa tujuan
kedatangan pemuda ini di sisi pohon. Pemuda ini sedang siap untuk
mengerjakan salat dan bermunajat:
“Ya Allah! Dengan kekuatan-Mu, Engkau menguasai segalanya. Berikan
padaku keindahan mengingat-Mu dan jadikan aku sebagai pengikut-Mu.”
Kemudian pemuda itu berdiri dan mengerjakan salat. Pemuda ini tidak
bergerak dalam waktu yang lama, dan Hammad tahu bahwa ada sebuah mata
air jernih memancar dari tempat pemuda ini. Hammad sekarang yakin bahwa
dia sedang berada di sisi salah satu wali Allah. Diapun berwudhu dan
berdiri mengerjakan salat di belakang pemuda ini. Dia mendengar munajat
pemuda ini. Setiap kali pemuda ini sampai pada ayat yang menjelaskan
tentang pahala atau azab ilahi, mengulangnya dengan suara tangisan dan
kesedihan. Munajat ini berlanjut sampai mendekati subuh dan pemuda itu
dalam munajatnya mengatakan:
“Ya Allah! Kegelapan malam telah berakhir. Tapi aku belum mendapatkan
upah dari-Mu dan di lautan munajat-Mu aku belum sampai pada sebuah
balasan. Sampaikan salam untuk Muhammad dan berikan padaku apa yang
lebih baik...”
Kemudian pemuda itu mengakhiri salatnya. Hammad menggunakan kesempatan
dan maju bertanya, “Hai lelaki mulia! Engkau bermunajat kepada Tuhanmu
demikian, maka mintakan padanya agar menunjukkan jalan padaku. Karena
aku sedang menjalani safar haji, sementara aku telah kehilangan
jalanku.”
Pemuda itu berkata, “Bila engkau bertawakal kepada Allah, maka engkau tidak akan tersesat. Sekarang mari bersamaku!”
Kemudian pemuda itu memegang tangan Hammad dan bergerak dengan kecepatan
yang sungguh menakjubkan. Begitu subuh tiba, pemuda itu kepadanya
berkata, “Hai lelaki! sekarang kita sudah berada di Mekah.”
Hammad mendengar suara riuh orang-orang dan melihat sebuah jalan. Dia
tidak percaya atas apa yang disaksikannya. Oleh karena itu dia menghadap
kepada pemuda itu dan berkata, “Demi Allah! Katakan padaku, siapakah
engkau?”
Pemuda itu berkata, “Karena engkau telah bersumpah, aku katakatan bahwa aku adalah Ali bin Husein.”
BETAPA LELAKI INI PUNYA SEMANGAT
pengarang : emi nurhayatai
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Hasan as
Seorang lelaki beberapa saat memperhatikan Imam Hasan as. Imam
Hasan sedang menunggang kuda muda dan bagus. Dengan penuh kasih sayang
dan senyuman manis, beliau menjawab salam anak-anak yang sedang sibuk
bermain dan beramah tamah dengan mereka.
Lelaki itu bergumam, “Sungguh ajaib! Betapa lelaki ini punya semangat
dan kewibawaan! Dengan semua masalah dan kesibukannya, dia tidak sampai
lupa tersenyum pada anak-anak. Oh iya! Dia juga punya kuda yang begitu
bagus. Para pria Arab berharap punya kuda semacam ini!
“Salamun Alaikum”
Lelaki itu terkejut. Imam terlebih dahulu mengucapkan salam. Lelaki itu
salah tingkah dan berkata, “Salam dan kesejahteraan Allah untukmu, Wahai
Putra Rasulullah!
Lelaki itu tercengang melihat kuda. Imam Hasan merasa bahwa lelaki ini
benar-benar tertarik pada kudanya. Namun beliau bersabar sampai lelaki
ini berbicara. Sebentar kemudian lelaki itu berkata kepada Imam Hasan,
“Tuan! Betapa bagus kuda Anda! Selama ini saya tidak pernah melihat kuda
sebagus ini.”
Imam Hasan as berkata, “Baru aku beli kuda ini.”
Pada saat itu beliau turun dari kudanya dan memberikan tali kendalinya
kepada lelaki itu seraya berkata, “Kuda ini mulai saat ini adalah
milikmu.”
Lelaki itu kebingungan dan berkata, “Tuan! Apa yang Anda katakan?”
Dengan penuh kasih sayang Imam Hasan berkata, “Bahagiakanlah saudaramu dan terimalah hadiahnya.”
Lelaki itu tetap saja belum paham apa yang sedang terjadi. Dia memandang
Imam Hasan tanpa mengedipkan matanya. Suasana menjadi hening sejenak.
Kemudian lelaki itu berkata, “Dengan alasan apa kuda ini Anda hadiahkan
kepada saya?”
Imam Hasan berkata, “Engkau tertarik pada kuda ini, dan aku
menghadiahkannya kepadamu karena aku ingin menyenangkanmu. Untuk itu
senangkanlah aku dengan menerima hadiah ini.”
Imam mengatakan hal ini dan berjalan menuju rumahnya. Tali kendali kuda
ada di tangan lelaki ini dan dia memandang Imam Hasan sedang berbelok ke
gang.
Tuan! Mengapa Anda Menjadi Demikian!?
Seorang lelaki, sejak dia datang ke rumah Imam Hasan as, dia tertarik
pada akhlak dan perilaku beliau. Keduanya sedang berbincang-bincang,
kemudian mendengar suara azan. Imam Hasan as yang sedang menunggu
saat-saat seperti ini, segera bangkit dan berwudhu. Tamu lelaki itu pun
bangkit mengikuti Imam Hasan. Wajah Imam Hasan menjadi pucat pasih
seperti kapur dan beliau gemetaran. Air matanya menetes dan jatuh.
Lelaki itu tertegun dan menyaksikan gerakan Imam Hasan as. Akhirnya dia
membuka mulut dan berbicara, “Tuan! Mengapa Anda menjadi demikian?!”
Dengan penuh kasih sayang, Imam Hasan as berkata, “Apakah gerakan dan
perilaku ini tidak mungkin terjadi pada orang yang mau berdiri di
hadapan Allah dan berbicara dengan-Nya?!”
Imam Hasan mengatakan hal ini dan berdiri mengerjakan salat. Lelaki itu
juga berdiri di belakang beliau dan mengucapkan takbiratul ihram. Selama
mengerjakan salat, badan Imam Hasan as bergetar.
Mengapa Anda Tidak Makan Makanan Ini?!
Mudrik bin Ziyad salah satu sahabat Imam Hasan menukil sebuah kenangan dari beliau:
“Suatu hari kami berada di kebun Ibnu Abbas. Imam Hasan dan Imam Husein
as bersama para putra Ibnu Abbas datang ke kebun itu untuk istirahat dan
piknik dan mereka duduk di tepi sungai. Pada saat itu Imam Hasan
berkata kepada saya, “Hai Mudrik! Engkau punya makanan yang bisa kau
bawa ke sini?!”
Saya ada sedikit roti dan lalapan. Saya memberikannya kepada beliau.
Imam Hasan as makan roti dan lalapan itu dan berkata, “Hai Mudrik! Aku
tadi sangat lapar, roti dan lalapan ini sangat lezat.”
Beberapa saat kemudian, budak Ibnu Abbas membawa makanan yang lezat
untuk Imam. Imam Hasan as berkata, “Panggillah para budak dan buruh
kebun untuk datang dan makan makanan ini.”
Atas perintah Imam Hasan para budak dan buruh datang dan makan makanan
yang ada. Aku berkata, “Tuanku! Mengapa Anda tidak makan makanan ini?”
Imam Hasan as berkata, “Aku suka makanan yang sederhana, yaitu makanan orang-orang saleh dan miskin.”
ANJING INI JUGA HAMBA ALLAH!
pengarang : emi nurhayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Hasan as
Imam Hasan as melewati tepi kebun. Dari jauh beliau melihat seorang
budak hitam menghamparkan taplak dan makan. Di samping taplak itu ada
seekor anjing berdiri dan budak itu setiap suapan yang dia makan, dia
juga memberikan suapan kepada anjing itu. Sikap budak ini menarik bagi
Imam Hasan. Beliau maju dan dengan penuh kasih sayang berkata, “Hai
hamba Allah! Dari makanan yang sedikit ini, bagaimana engkau juga
memperhatikan sahamnya anjing ini?”
Budak ini berkata, “Anjing ini juga hambanya Allah. Saya malu bila saya
makan sementara dia lapar dan melihat saya dengan sedih. Dari sisi lain,
saya bisa menahan lapar. Namun boleh jadi dia tidak bisa menahan
lapar.”
Dalam hati Imam Hasan mengatakan, “bagus” untuk lelaki bijak ini dan berkata, “Kamu di sini mengerjakan apa?”
Budak itu berkata, “Saya adalah budak pemilik kebun ini dan bekerja untuknya.
Imam berkata, “Tunggu di sini sampai saya kembali.”
Imam pergi menemui pemilik kebun dan beberapa menit kemudian datang
menemui budak bersama pemilik kebun dan berkata, “Hai hamba Allah! Telah
aku beli engkau dari pemilikmu. Sekarang engkau bebas dan bisa mencari
kehidupanmu. Aku berikan modal padamu supaya engkau bisa bekerja
dengannya.”
Lelaki itu saking gembiranya sampai tidak bisa berbicara apa-apa.
Beberapa saat kemudian kabar menyenangkan sampai ke telinganya.
“Wahai Putra Rasulullah! Karena berkat wujud Anda, dan demi keridhaan
Allah saya berikan kebun ini kepadanya. Dia dari saat ini bisa bekerja
di kebunnya sendiri dan bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.”
ADAB DAN TAWADHU
pengarang : (Emi Nur Hayati)
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Hasan as
Satu lagi sifat baik Imam Hasan as adalah adab dan tawadhunya di hadapan masyarakat.
Dikatakan bahwa suatu hari Imam Hasan duduk di tengah masyarakat
dan berbincang-bincang dengan para sahabatnya. Setelah obrolan selesai,
beliau pulang ke rumahnya. Para sahabat bangkit untuk menghormati
beliau. Pada saat itu juga datanglah seorang lelaki tua dengan memakai
tongkat dan kelihatan sebagai orang miskin. Dengan penuh kasih sayang,
Imam Hasan mengucapkan salam kepadanya. Lelaki tua itu menjawab salam
Imam Hasan as. Kepadanya Imam Hasan berkata, “Bapak! Engkau datang saat
kami sudah mau pergi, apakah Anda mengizinkan?”
Lelaki tua itu senang sekaligus merasa malu melihat sikap Imam Hasan as
yang penuh kasih sayang. Sejenak dia bersabar untuk menemukan kata-kata
yang tepat untuk menjawab Imam Hasan. Kemudian dia berkata,
“Iya...iya...Wahai Putra Rasulullah!”
Imam Hasan as dengan hangat pamitan dan pergi. Mata lelaki tua itu
memandang Imam Hasan yang sedang meninggalkan tempat itu. Dia termenung
berpikir.
Menolong Orang Yang Membutuhkan, Lebih Baik Dari Ibadah
Imam Hasan as sedang beri’tikaf di masjid. Pada saat itu tibalah seorang
lelaki dan mendekati beliau seraya berkata, “Wahai Putra Rasulullah!
Saya ada masalah dan datang kepada Anda, barangkali Anda akan
menyelesaikannya.”
Imam Hasan as berkata, “Hai Hamba Allah! Apa masalahmu? Katakan, barangkali aku bisa menolongmu.”
Lelaki itu berkata, “Saya ada hutang pada seseorang. Namun saya tidak
mampu membayarnya. Pemilik uang itu akan melaporkan saya ke hakim dan
menjatuhkan harga diri saya.”
Imam Hasan as berkata, “Sekarang aku tidak punya uang untuk menolongmu.
Tapi bila ada urusan lainnya yang bisa aku lakukan, maka akan aku
lakukan.”
Lelaki itu berkata, “Anda punya kepercayaan di mata masyarakat. Bila
Anda berbicara dengan pemilik uang itu, maka dia akan menerimanya dan
demi penghormatan kepada Anda, dia akan memberikan tenggang waktu pada
saya.
Pada saat itu Imam Hasan langsung bangkit dan pergi dari masjid bersama
lelaki tersebut. Salah satu sahabat beliau yang berada di masjid dan
mendengar apa yang terjadi berkata kepada Imam Hasan as, “Wahai Putra
Rasulullah! Apakah Anda lupa, Anda sedang beri’tikaf dan tidak boleh
keluar dari masjid?!”
Imam Hasan as berkata, “Aku tidak lupa, tapi ayahku Amirul Mukminin Ali
as menukil dari kakekku Rasulullah, “Orang yang berusaha menyelesaikan
kebutuhan saudara muslimnya, sama seperti dia melakukan ibadah mustahab
selama sembilan ribu tahun; yang siangnya diisi dengan berpuasa dan
malamnya diisi dengan salat tahajjud dan ibadah.”
Pahala Perbuatan Baik
Salah satu karakter Imam Hasan as yang paling menonjol adalah
kedermawanan beliau yang luar biasa. Dikatakan, suatu hari salah satu
budak Imam Hasan memberikan hadiah berupa sekuntum bunga yang wangi
kepada beliau. Imam Hasan as menyampaikan terima kasih dan berkata
kepada budaknya, “Adalah baik seroang mukmin menerima hadiah saudara
mukminnya dan sebagai gantinya, memberikan hadiah juga padanya. Sekarang
aku menerima hadiahmu dan sebagai gantinya aku bebaskan engkau,
sehingga engkau pergi mencari kehidupanmu.”
Orang-orang dekat Imam Hasan as berkata kepadanya, “Mengapa Anda membebaskannya, sebagai ganti dari hanya sekuntum bunga?
Imam Hasan menjawab, “Allah Swt berfirman, “Bila seseorang memberikan
hadiah kepadamu, maka sebagai gantinya, berikanlah hadiah kepadanya yang
lebih baik. Aku juga merasa bahwa hadiah yang paling baik untuk seorang
budak adalah hadiahkan kebebasan kepadanya; akupun telah
membebaskannya.”
Pertama Berpikirlah; Lalu Berbicaralah!
Seorang lelaki datang menemui Imam Hasan as dan berkata, “Wahai Putra Rasulullah! Saya termasuk pengikut Anda.”
Imam Hasan berkata, “Hai lelaki! Pertama berpikirlah, kemudian
berbicaralah! Bila engkau bersama kami mengerjakan kewajiban dan
meninggalkan dosa, maka engkau benar. Tapi bila engkau tidak demikian,
maka jangan memperbanyak dosamu dengan klaim bohongmu dan ketahuilah,
mengikuti kami memerlukan kelayakan yang banyak. Sementara engkau tidak
tahu kelayakan itu! Untuk itu, jangan katakan bahwa engkau sebagai
pengikut kami. Tapi katakan aku sebagai pecinta kalian dan pembenci
musuh-musuh kalian. Bila demikian, maka jalanmu menuju pada
kebahagiaan.”
Lelaki ini tercengang mendengar ucapan Imam Hasan as. Namun beberapa
saat kemudian, setelah berpikir dengan benar, ia tahu bahwa apa yang
diucapkan oleh Imam Hasan itu benar.
Kami Adalah Keluarga Rasulullah Saw
Imam Hasan asa memiliki wajah yang menarik dan tampan. Dikatakan bahwa
beliau merupakan orang yang paling mirip dengan Rasulullah Saw.
Kewibawaan dan daya tarik beliau membuat semua orang menjadi
pengagumnya.
Suatu hari seseorang berkata kepada beliau, “Wahai Putra Rasulullah!
Saya tertarik dengan wajah Anda yang bercahaya. Dalam perilaku dan
pembicaraan Anda, ada keagungan dan kebesaran tersendiri...”
Imam Hasan as menjawab, “Iya. Kami adalah keluarga yang mulia. Karena
Allah berfirman, “Kemuliaan itu bagi Allah, Rasulullah, dan orang-orang
yang beriman.”
AMPUNAN DAN KEBESARAN
pengarang : Emi Nur Hayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Hasan as
“... Aku telah meremehkan perintah maulaku; bila beliau
mempertanyakanku, aku tidak berhak untuk protes. Meski Hasan bin Ali
adalah seorang pemaaf, namun aku harus menyiapkan diri untuk dihukum.
Karena dengan demikian, bertahan menghadapi hukuman maulaku, akan terasa
lebih ringan...namun...namun..."
Demikianlah apa yang terlintas dalam pikiran budak Imam Hasan dan
seketika itu juga Imam Hasan memanggilnya. Sang budak dengan langkah
pelan-pelan menuju pada Imam Hasan as. Dia berpikir bagaimana caranya
meminta maaf kepada maulanya. Begitu berhadap-hadapan dengan beliau,
sang budak terpikir:
“Maulaku adalah orang yang akrab dengan al-Quran. Maka aku akan meminta bantuan al-Quran untuk menyelamatkan diriku.”
Saat itu juga terlintas dalam pikirannya untuk mengatakan, “Wal Kazdiminal Ghaizha.”
Imam Hasan tersenyum dan berkata, “Aku telah menekan kemarahanku.”
Sang budak tahu bahwa jalan keluarnya terlah terjawab. Dengan lebih tenang dia berkata, “Wal ‘Afina ‘Aninnas.”
Imam Hasan berkata, “Aku telah mengabaikan kesalahanmu.”
Sang budak merasa dirinya berhasil dan bergumam, “Aku akan melepaskan
peluruku yang terakhir, seraya berkata, “Wallahu Yuhibbul Muhsinin.”
(QS. Ali Imran: 134)
Kali ini Imam Hasan berkata, “Aku membebaskanmu di jalan Allah, agar aku termasuk orang-orang yang berbuat baik.”
Tidak Membalas Keburukan dengan Keburukan
Salah satu dari budak Imam Hasan as sangat buruk akhlaknya. Namun Imam
Hasan senantiasa memperlakukannya dengan baik dalam upaya dia bisa
menjadi baik dan menyesali perilaku buruknya.
Imam Hasan memiliki seekor kambing di rumahnya. Dengan berjalannya waktu
beliau menyayangi kambing itu. Suatu hari beliau tahu bahwa kaki
kambing itu patah. Hatinya trenyuh melihat kambing itu dan bertanya
kepada budaknya, “Mengapa kaki kambing ini jadi begini?”
Sang budak menjawab, “Aku yang mematahkannya.”
Dengan takjub Imam Hasan as berkata, “Mengapa engkau menzaliminya?”
Dengan nada congkak budak itu menjawab, “Karena aku ingin menyakitimu.”
Imam Hasan as sejenak berpikir dan berkata, “Ringkasi barang-barangmu dan pergilah dari rumah ini, dari saat ini engkau bebas.”
Budak itu terkejut dan berkata, “Mengapa Anda bebaskan aku?!”
Imam Hasan as berkata, “Agar aku menjawab perbuatan burukmu dengan perbuatan baik.”
Budak itu menundukkan kepalanya dan terdiam, sepertinya dia benar-benar malu.
Semua Kasih Sayang Ini?!
Seorang lelaki mendengar banyak cerita tentang kasih sayang dan
kedermawanan Imam Hasan as. Namun dia ragu untuk menyelesaikan
masalahnya, apakah harus pergi menemui Imam Hasan ataukah tidak. Pada
akhirnya dia mengambil keputusan untuk mendatangi beliau.
Imam saat itu sedang duduk di masjid dan lelaki ini masuk mendekatinya.
Imam tahu bahwa lelaki ini punya satu keperluan. Oleh karena itu beliau
tersenyum padanya dengan penuh kasih sayang seraya berkata, “Hai lelaki!
aku berpikir engkau ada masalah?” sebelum lelaki itu menjawab, Imam
Hasan berkata, “Bersabarlah sedikit, aku akan menyelesaikan masalahmu.”
Imam Hasan memerintahkan kepada salah satu sahabatnya, “Berikanlah uang supaya dia bisa menyelesaikan masalahnya!”
Sabahat beliau memberikan uang kepada lelaki yang membutuhkan itu dan
menyenangkan hatinya. Lelaki yang membutuhkan itu tidak percaya bahwa
masalahnya bisa terselesaikan secepat ini. Dia menghadap kepada Imam
Hasan dan berkata, “Wahai Putra Rasulullah! Aku merasa takjub bahkan
Anda tidak menanyakan apa masalahku. Saya benar-benar tidak tahu
bagaimana aku harus menyampaikan masalahku kepada Anda!”
Imam Hasan as berkata, “Ksatria yakni membantu seseorang yang
membutuhkan sebelum orang tersebut menyampaikan masalahnya. Perbuatan
seperti ini mencegah jatuhnya harga diri seorang mukmin dan tidak
mengalirkan keringat malu di dahinya.”
Lelaki itu tidak tahu apa yang harus dikatakannya untuk menjawab kasih
sayang Imam Hasan. Butir-butir keringat memenuhi dahinya; namun keringat
ini bukan keringat malu.
Memenuhi Hajat Seorang Mukmin
Begitu seorang lelaki menyampaikan masalahnya kepada Imam Hasan as,
beliau langsung memakai sepatunya dan pergi menyelesaikan masalahnya. Di
pertengahan jalan, mereka menyaksikan Imam Husein as sedang mengerjakan
salat. Imam Hasan berkata kepada lelaki tersebut, “Mengapa engkau tidak
mendatangi saudaraku untuk menyelesaikan masalahmu?”
Lelaki itu menjawab, “Beliau sedang sibuk salat dan ibadah, dan saya tidak ingin mengganggu beliau.”
Imam Hasan as berkata, “Sepertinya masalahmu harus selesai melalui
bantuanku. Bagaimanapun juga, bila Husein mendapatkan taufik ini,
memenuhi hajatmu baginya lebih besar dari satu bulan menjalani i’tikaf.”
BERSIAP-SIAP UNTUK SAFAR
pengarang : Emi Nur Hayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Hasan as.
Imam Hasan mendekati ajalnya. Semua mengetahui bahwa mereka akan
kehilangan wujud beliau yang penuh berkah. Pada saat itu salah satu
sahabat Imam ingin memanfaatkan keberadaan beliau yang terakhir kalinya.
Ia mendatangi Imam Hasan dan berkata, “Wahai Putra Rasulullah!
Nasihatilah saya sehingga saya punya peninggalan dari Anda.”
Imam Hasan as berkata, “Siapkan dirimu untuk safar akhirat. Kumpulkan
bekal dari dunia ini sebelum datang kematianmu. Kematian sedang
mencarimu sebagaimana engkau sedang mencari dunia. Jalanilah hari ini.
Jangan rakus untuk mendapatkan apa yang sudah ditetapkan untuk hari
esokmu. [maksud beliau adalah untuk mendapatkan rezeki, harus berusaha.
Namun rakus dan tamak secara berlebihan tidak bagus. Karena Allah akan
memberikan rezeki hamba-hamba-Nya tidak kurang dan tidak lebih] Dan
ketahuilah bahwa bila engkau berpikir untuk menumpuk-numpuk harta
kekayaan lebih dari apa yang diberikan oleh Allah kepadamu, maka engkau
hanya sebagai bendahara saja bagi orang lain. [yakni orang yang rakus
dalam mengumpulkan harta kekayaan dengan tujuan mengumpulkan harta lebih
dari rezeki yang ditetapkan untuknya, maka kelebihan harta itu akan
jatuh di tangan anak-anaknya dan tidak ada faedah baginya sama sekali].
Bila engkau mendapatkan harta kekayaan dari jalan yang halal, maka pada
Hari Kiamat akan diperhitungkan. Bila engkau dapatkan dari jalan yang
haram, maka engkau akan disiksa karenanya dan harta yang engkau dapatkan
dari jalan yang tidak jelas, maka ia akan menjadi belenggu bagimu dan
karenanya engkau akan disalahkan. Dengan demikian, senangilah harta
kekayaan sesuai dengan kebutuhanmu, bila engkau melakukannya. Bila harta
kekayaan itu halal dan engkau tidak mempedulikannya, maka engkau tidak
merugi. Bila harta kekayaan itu haram [dan engkau tidak
mempedulikannya], maka engkau telah menjauhi dosa.
Hiduplah sedemikian rupa seakan-akan engkau hidup selamanya. Terkait
urusan akhirat, amalkan sedemikian rupa seakan-akan besok engkau akan
meninggal dunia. [yakni seseorang harus senantiasa berharap dan berusaha
untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Dari sisi lain, jangan lupa
bahwa akhirnya juga harus mati dan di sana akan dimintai
pertanggungjawaban atas perbuatannya].
Bila engkau ingin jangan sampai hina di mata orang lain, maka jangan
pernah berbohong. Kokohkan dan kuatkan dirimu dengan menaati perintah
Allah.
Bergaullah dengan orang-orang di tengah-tengah masyarakat yang membuatmu
bangga dan ketika engkau mengalami kesusahan, dia akan menjadi penolong
dan pendampingmu dalam kesusahan. Bila engkau berbuat salah, maka dia
akan memaafkanmu. Dia tidak akan melupakan kebaikanmu. Dia tidak akan
pelit saat engkau membutuhkan sesuatu padanya. Dia akan mendekatimu,
bila ada masalah di antara kalian. Dia tidak akan merugikanmu. Tidak
menyusahkanmu dan menganggapmu sebagai kerabat.
Syarat Persabahatan
Seorang asing datang kepada Imam Hasan as dan berkata, “Wahai Putra
Rasulullah! Saya adalah penggemar akhlak dan perilaku Anda yang indah
dan ikhlas. Saya ingin berada di sisi Anda dan bangga menjadi sahabat
Anda.”
Imam Hasan as berkata, “Dari sejak saat ini aku dan engkau akan menjadi
teman yang baik dengan syarat; jangan memujiku tanpa alasan. Karena aku
lebih mengenal diriku sendiri. Jangan engkau menganggapku sebagai
pembohong. Karena tukang bohong tidak layak untuk dijadikan teman.
Jangan menggunjing seseorang di sisiku. Karena menggunjing adalah sebuah
kezaliman yang besar dan tidak dimaafkan...”
Kaidah Persahabatan
Beberapa orang dari sahabat Imam Hasan bekerjasama dalam hal
perkebunan. Mereka menjalani kehidupannya dari hasil menjual buah-buahan
yang dihasilkan. Dalam beberapa waktu mereka mengalami kesulitan
finansial dan benar-benar memerlukan uang. Mereka memutuskan untuk
menjual kebun itu untuk menutupi kebutuhannya. Imam Hasan as tahu bahwa
harga kebun tidak bisa mencukupi kebutuhan mereka semua. Karena saham
mereka tidak seberapa. Imam Hasan membeli kebun mereka seharga empat
ratus ribu dirham.
Beberapa waktu kemudian, para pemilik kebih ini bertambah miskin karena
tidak punya penghasilan. Imam Hasan melihat kondisi mereka demikian,
beliau memberikan kebun itu kepada mereka.
Tawadhu Ini Untuk Apa?!
Seorang lelaki datang menemui Imam Hasan as dan berkata, “Wahai Putra
Rasulullah! Anda di kalangan para pecinta keluarga Rasulullah termasuk
orangyang tawadhu. Tawadhu ini untuk apa? Padahal kedudukan Anda di
tengah-tengah masyarakat sangat tinggi dan Anda sebagai pemimpin mereka?
Imam Hasan as berkata, “Orang yang tawadhu, adalah orang yang mengenal
hak masyarakat dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan mereka. Barang
siapa yang bersikap tawadhu di dunia ini, maka di dunia sana [akhirat]
maka di sisi Allah sebagai orang yang jujur dan benar perilakunya dan
termasuk sebagai pengikut Ali bin Abi Thalib. Para pengikut Ali as juga
semuanya akan dibangkitkan bersamanya.
Pertanyaan Yang Baik; Setengah Dari Pengetahuan
Imam Hasan as senantiasa berpesan kepada anak-anaknya, “Carilah ilmu.
Karena kalian tidak selalu menjadi anak-anak tapi menjadi besar. Untuk
hidup lebih baik, memerlukan ilmu. Ajarkan ilmu kalian pada orang lain
dan belajarlah ilmu dari mereka. Dengan demikian kalian sedang menjaga
ilmu kalian dan menambahkan ilmu orang lain pada ilmu kalian. Ketahuilah
bahwa pertanyaan yang baik adalah setengah dari pengetahuan dan
bertanya adalah seni...”
Sifat-Sifat Buruk
Salah satu sahabat Imam Hasan bertanya kepada beliau, “Wahai Putra Rasulullah! Apakah sifat terburuk manusia?”
Imam menjawab, “Tiga hal yang mencelakakan manusia; takabbur, rakus dan hasud.”
Kemudian beliau melanjutkan penjelasannya, “Takkabur menyebabkan
rusaknya agama. Karena sifat inilah setan diusir oleh Allah [menolak
perintah Allah untuk bersujud di hadapan manusia]. Rakus adalah musuh
jiwa manusia. Karena inilah Adam diusir dari surga karena melanggar
perintah Allah. Hasud bisa menyeret manusia pada perbuatan buruk. Karena
inilah Qabil membunuh saudaranya; Habil.
NAMA DIA ADALAH QASIM
pengarang : Emi Nur Hayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Hasan as
Senyuman manis ada dibibir budaknya Imam Hasan. Imam Hasan berkata,
“Sepertinya engkau membawa kabar baik untukku, katakanlah! Katakan dan
akan aku berikan hadiah padamu!”
Sang budak berkata, “Nufilah telah melahirkan seorang bayi lelaki yang tampan untuk Anda.”
Imam gembira dan berkata, “Alhamdulillah, atas kabar baik yang engkau
bawa. Dari saat ini engkau bebas. Pergilah ke mana saja engkau suka.”
Sang budak berkata, “Memangnya ada tempat yang lebih baik selain
rumah Anda sehingga budak Anda berlindung di sana? Memang ada majikan
yang lebih baik dari Anda untuk budak ini?
Imam Hasan berkata, “Tidak mungkin tanpa hadiah. Katakan apa yang engkau minta?!”
Sang budak berkata, “Syafaatilah saya pada Hari Kiamat.”
Semua penghuni rumah berbahagia. Kegembiraan Imam Hasan juga membuat
yang lain gembira. Bayi itu dibungkus dengan kain putih dan diserahkan
kepada Imam. Begitu beliau melihat bayinya, segera mengangkat kedua
tangannya ke langit dan berdoa:
“Ya Allah! Aku bersyukur karena nikmat yang Engkau berikan kepadaku!”
Kemudian mengumandangkan azan dan iqomat di telinga bayi dan berkata,
“Untuk mengenang putra kakekku, aku beri nama engkau; Qasim...”
Imam mengucapkan hal ini dan memandang wajah Qasim kecil dan mata
beliau berlinang air mata. Orang-orang menyangka bahwa air mata Imam
Hasan adalah air mata kegembiraan. Namun, boleh jadi hal ini memiliki
alasan yang lain. Pasti beliau memikirkan saat-saat syahadah putranya.
Sayidina Qasim di hari Asyura bersama pamannya; Imam Husein as dan
para sahabatnya yang setia berperang melawan musuh dan mencapai
syahadah, sementara dia saat itu masih kanak-kanak.
Aku Sedang Berduka
Salah satu putri Imam Hasan as meninggal dunia karena sakit. Sejumlah
orang dari sahabat Imam Hasan mengirim surat untuk beliau untuk
menyampaikan belasungkawa dan berharap agar beliau bersabar.
Imam Hasan menjawab surat mereka, “Surat kalian telah sampai di
tanganku. Aku telah memohon pahala dan kesabaran kepada Allah atas
musibah ini dan ridha atas keridhaan-Nya. Namun yang lebih membuat saya
berduka daripada musibah ini adalah kejadian “waktu”. Duka terpencarnya
sahabat-sahabatku dari sisiku. Sahabat-sahabat yang pada suatu hari
sebagai saudara-saudaraku dan aku senang bertemu mereka. Mereka juga
senang bertemu denganku. Namun kejadian “waktu” telah mengambil mereka
dariku. Duka karena kehilangan sahabat-sahabatku, dimana kematian telah
memisahkan aku dan mereka.
Namun meski mereka tidak di sisiku, tapi mereka di sisi yang lain hidup dengan senang dan gembira.
Putriku ini adalah seorang pengabdi yang pergi ke jalan yang telah
dilalui oleh orang-orang terdahulu dan akan dilalui oleh orang-orang
yang akan datang.
Di Sisi Paman
Abdullah adalah salah satu putra Imam Hasan yang masih kecil. Setelah
syahadah ayahnya dia hidup bersama Imam Husein as. Abdullah sangat
mencintai pamannya. Imam Husein juga sangat mencintai Abdullah. Ketika
Imam Husein memutuskan untuk berperang melawan Yazid, Abdullah datang
kepada Imam Husein dan berkata, “Paman! Saya ingin berada di sisi Anda
berperang melawan Yazid dan pasukannya.
Karena kecintaannya yang tinggi kepada Abdullah, Imam Husein tidak
menginginkannya ikut berperang. Selain itu, Abdullah terlalu kecil. Bila
dia ikut berperang maka begitu cepat mengalami kekalahan. Namun
Abdullah ngotot untuk ikut bergabung di medan perang bersama Imam Husein
as.
Abdullah tidak berhasil memaksakan kehendaknya. Imam Husein as
berkata kepadanya, “Kamu harus berada jauh dari medan perang supaya
musuh pezalim tidak sampai melukaimu.”
Hari Asyura telah tiba. Para sahabat Imam Husein as satu persatu
menuju medan perang dan mencapai syahadah. Sampai ketika giliran yang
paling akhir. Sahabat Imam Husein yang paling akhir juga mencapai
syahadahnya. Saat ini tidak ada seorangpun di sisi Imam Husein. Abdullah
mendengar pesan para sahabat Imam Husein bahwa ketika detik-detik
terakhir perpisahan kepada yang lainnya berpesan, “Jangan sampai
membiarkan sendirian pemimpin dan imam kalian.”
Sekarang sahabat Imam Husein as yang paling akhir juga mencapai
syahadah. Abdullah menunggu kesempatan untuk pergi ke medan perang. Dia
dari jauh di samping perkemahan memperhatikan pamannya. Dia ragu antara
pergi ke medan perang ataukah tidak. Dari satu sisi dia ingin membantu
pamannya dan dari sisi lain ia tidak ingin melanggar perintah beliau.
Akhirnya Abdullah mengambil keputusannya. Dia bergumam, “Sekali lagi
aku akan menemui pamanku dan meminta kepadanya untuk mengizinkan aku
berperang melawan musuh.”
Sayidah Zainab dan yang lainnya bagaimanapun juga tidak berhasil
mencegah Abdullah. Abdullah lari menuju kepada pamannya. Begitu sampai
di medan perang, dia melihat pamannya jatuh di atas tanah yang panas
dengan badan berdarah dan penuh luka. Salah seorang musuh mengangkat
pedangnya untuk dihantamkan ke badan Imam Husein as. Abdullah maju dan
berkata, “Apakah engkau ingin membunuh pamanku? Hai pezalim!”
Dengan cepat ia menjadikan tangannya sebagai tameng bagi pamannya.
Pedang musuh menyambar dan memotong tangan Abdullah. Tubuh berdarah
Abdullah jatuh di dada Imam Husein as dan mencapai syahadah di sisi
pamannya sebagaimana yang diharapkannya. ()
SIAPAKAH SEORANG POLITIKUS?
pengarang : terjm. Emi Nur Hayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Hasan as.
Seseorang kepada Imam Hasan as berkata, “Masyarakat menilai Muawiyah
adalah seorang politikus yang dengan politiknya ia bisa mengubah segala
urusan demi kepentingannya...Bagaimana pendapat Anda?”
Imam Hasan as berkata, “Menurut saya, politik adalah jagalah hak
Allah, hak orang-orang yang masih hidup dan hak orang-orang yang sudah
meninggal dunia.”
Kemudian, menjaga hak-hak mereka, perinciannya sebagai berikut: “Hak
Allah adalah laksanakanlah apa yang diwajibakan-Nya dan tinggalkanlah
apa yang diharamkan-Nya. Hak orang-orang yang masih hidup adalah
laksanakanlah tugas-tugasmu terkait dengan saudara-saudara seagamamu dan
bersikaplah secara ikhlas terhadap pemimpin umat Islam selama dia
memiliki ikatan dengan masyarakat secara ikhlas dan bila ia menyimpang
dari jalan yang benar maka proteslah dia.
Hak orang-orang yang sudah meninggal dunia adalah sebutlah
kebaikan-kebaikan mereka dan tutupilah kejelekan-kejelekannya. Karena
mereka memiliki Tuhan yang akan menghisab mereka.”
FATHIMAH TIDAK PERNAH BERBOHONG
pengarang : Emi Nur Hayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Sayidah Fathimah Zahra as
Aisyah mengatakan, “Sepanjang umurku aku tidak pernah melihat seorang
lelaki yang lebih menyenangkan dari Ali dan seorang perempuan yang
menyenangkan dari istrinya; Fathimah.”
Dia juga berkata, setiap kali terjadi pembahasan dan perselisihan
antara Rasulullah dan istrinya; Aisyah, Aisyah kepada Rasululullah Saw
berkata, “Terkait masalah ini tanyakan kepada putrimu Fathimah, karena
ia tidak pernah berbohong sama sekali dan tidak pernah membela seseorang
kecuali berdasarkan kebenaran.”
Aku Lebih Mencintai Keluarga Ini Dari Semuanya
Aisyah; istrinya Rasulullah Saw berkata, “Aku di sisi Rasulullah
membicarakan tentang Ali. Rasulullah Saw berkata, “Hai Aisyah! Di dunia
ini tidak ada orang yang lebih aku cintai dari Ali, istrinya dan
anak-anaknya; Hasan dan Husein.”
Hai Aisyah! Tahukah engkau, dengan mata hatiku apa yang aku lihat pada putriku dan suaminya?”
Aku berkata, “Wahai Rasulullah! Katakanlah supaya saya tahu!”
Dan beliau berkata, “Putriku adalah penghulu para wanita surga dan
suaminya tidak bisa dibandingkan dengan siapapun, kedua putranya
bunga-bungaku di dunia dan di akhirat.”
Hai Aisyah! Di surga, aku, Fathimah, Hasan dan Husein, putra pamanku;
Ali akan berada di sebuah tempat yang pilar-pilarnya di atas rahmat
Allah dan sekelilingnya ditutupi oleh ridha ilahi. Antara Ali dan cahaya
Allah ada sebuah pintu dimana Ali melihat Allah dan Allah melihat Ali
dari pintu tersebut. Di atas kepala Ali ada mahkota cahaya yang
menyinari Timur dan Barat. Dia memakai dua baju berwarna merah dan
melangkah dengan pelan dan wibawa.” Pada saat itu Allah berfirman, “Hai
Muhammad! Engkau dan Ali aku ciptakan dari tanah arsy-Ku dan para
pecinta dan anak-anak para pecinta kalian aku ciptakan dari tanah
bawahnya arsy dan musuh-musuh kalian aku ciptakan dari tanah khabal
[Jahannam].”
Hai Ali! Engkau Adalah Suami Yang Baik Bagiku
Sayidah Fathimah sangat mencintai suaminya; Sayidina Ali as. Sebelum
kematiannya, beliau berpesan kepada suaminya seraya berkata, “Ali
sayang! Engkau adalah suami yang sangat baik bagiku. Aku sangat gembira
karena hidup di sisi hamba pilihan Allah dan sahabat terbaik ayahku!
Namun ayahku di akhir kehidupannya berkata kepadaku, “Putriku, jangan
sedih atas kematianku. Bersabarlah. Karena engkau segera menyusulku.”
Ali sayang! Detik-detik perpisahan sudah dekat. Aku akan
meninggalkanmu pergi ke sisi ayahku. Namun setiap suami memerlukan teman
sehati. Untuk itu aku berwasiat kepadamu, setelah kematianku menikahlah
dengan putri saudariku “Ummi Hani”. Dia adalah wanita yang penuh kasih
sayang dimana dia tidak akan membiarkan engkau dan anak-anak kita
sendirian tanpa siapa-siapa...”
Ada surat wasiat yang ditinggalkan oleh Sayidah Fathimah Zahra terkait pemakamannya:
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang!
Ini adalah surat wasiat yang ditulis oleh Fathimah putri Rasulullah.
Dalam kondisi bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad
adalah hamba dan utusan-Nya. Dan bersaksi bahwa surga dan neraka adalah
benar dan kiamat juga akan datang dan bersaksi bahwa Allah akan
membangkitkan para mayit dari kuburannya.”
Hai Ali! Lakukan sendiri acara pengkafanan dan pemakamanku dan
salatilah aku. Kuburkan aku di malam hari dan jangan beritahukan kepada
siapapun. Aku serahkan engkau kepada Allah. Sampaikan salamku kepada
anak-anak dimana pertemuan kita akan jatuh di Hari Kiamat.”
Engkau Segera Datang Menemui Ayahmu Di Surga
Rumah Rasulullah tenggelam dalam duka dan kesedihan. Beberapa hari
warga Madinah berduka karena sakitnya Rasulullah Saw. Tidak seorangpun
tahu apakah Rasulullah Saw akan sembuh ataukah tidak. Sejumlah orang
mengatakan bahwa detik-detik perpisahan telah tiba dan hati-hati akan
segera mengalami duka karena kepergian Rasulullah Saw. Sejumlah orang
lainnya mengatakan, Rasulullah akan sembuh dan akan memberikan
keberkahan pada negeri Hijaz dengan kehangatan nafasnya seperti semula.
Para sahabat dan umat Islam Madinah senantiasa bertamu menemui beliau
dan menanyakan kondisinya. Rasulullah Saw berkata kepada mereka,
“Jibril telah mengabarkan kepadaku bahwa aku akan segera pergi dari sisi
kalian.”
Dalam saat seperti ini, Sayidah Fathimah Zahra benar-benar
mengkhawatirkan kondisi ayahnya. Beliau tidak tenang memikirkan
kepergian ayahnya. Rasulullah memanggil putrinya dan dalam kondisi
menangis beliau berkata, “Putriku! Setelah kematianku, orang yang
terburuk dari umatku akan menzalimi kamu dan anak-anakmu. Dari mulai
saat ini aku melihat bahwa engkau memanggil ayahmu karena kezaliman
mereka. Namun tidak seorangpun akan menolong kamu dan anak-anakmu.”
Pada saat itu Sayidah Fathimah menangis tersedu-sedu. Rasulullah Saw berkata, “Putriku! Jangan menangis, Allah bersamamu.”
Sayidah Fathimah berkata, “Tangisan saya bukan karena kezaliman
masyarakat padaku setelah kematian Anda. Saya menangis karena perpisahan
dengan Anda.”
Rasulullah Saw berkata, “Jangan menangis. Masa perpisahanku denganmu hanya sedikit.”
Kemudian beliau berkata, “Putriku sayang! Engkau akan menyusul ayahmu
dalam selisih yang sangat pendek dari kematianku dan pada saat itu
engkau akan kembali berada di sisiku.”
Sayidah Fathimah merasa tenang dengan ucapan ayahnya dan tersenyum
karena gembira. Tujuh puluh lima hari kemudian Sayidah Fathimah mencapai
syahadah karena kezaliman para penguasa zaman dan terbang menuju kepada
ayahnya.
Terkait waktu syahadahnya Sayidah Fathimah, ada dua riwayat;
berdasarkan satu riwayat menyebutkan bahwa beliau mencapai syahadah
tujuh puluh lima hari setelah kematian Rasulullah Saw dan berdasarkan
riwayat kedua, beliau mencapai syahadah sembilan puluh lima hari setelah
kematian Rasulullah Saw.
MIMPI YANG TELAH DITAFSIRKAN
pengarang : Emi Nur Hayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Sayidah Fathimah Zahra as
Sayidah Fathimah termenung dan sedih...seandainya saja mimpinya
tidak diceritakan kepada ayahnya...supaya...namun apa faedahnya?
Memangnya bisa menahan qadha dan qadar ilahi? Memangnya manusia bahkan
Rasulullah pun bisa mengubah Sunnah Ilahi?
Mimpi yang dialami Sayidah Fathimah dan ditafsirkan oleh Rasulullah Saw
berakhir dengan sebuah kenyataan pahit yang harus diterima dan tidak ada
jalan lain.
Sayidah Fathimah bermimpi memegang sebuah Quran dan membacanya, namun
tiba-tiba Quran itu jatuh dari tangannya dan menghilang. Setelah bangun
dari tidur, beliau sangat khawatir dan tidak tahu apa makna mimpinya.
Beliau merasa bahwa makna mimpinya buruk. Keesokan harinya beliau
menemui ayahnya dan menceritakan mimpinya. Rasulullah Saw berkata,
“Cahaya mataku! Quran yang ada di tanganmu itu adalah aku. Ketahuilah
bahwa sebentar lagi aku akan menghilang dari pandangan.”
Ucapan ayah ini benar-benar pahit dan Sayidah fathimah tidak tahu apa
yang harus dilakukannya. Beliau tidak tahu apa yang akan terjadi
sepeninggal ayahnya dan yang terpenting adalah bagaimana beliau harus
bersabar menghadapi musibah besar ini. Beliau tidak tahu harus
bagaimana, karena sebelumnya tidak terpikirkan bahwa suatu hari akan
kehilangan ayahnya.
Detik-Detik Perpisahan
Hari itu kondisi rumah Sayidah Fathimah lain daripada yang lain. Duka
dan kesedihan telah meliputinya. Seakan-akan kejadian pahit akan
mendatanginya.
Sayidah Fathimah memanggil Asma’ binti ‘Umais [istri Ja’far Thayyar,
saudara Imam Ali]. Setelah menyampaikan pesannya, Sayidah Fathimah
berkata, “Hai Asma’! Ini adalah detik-detik perpisahan.”
Sayidah Fathimah dalam kondisi berbaring di bawah. Kemudian menutupkan
selimutnya ke wajahnya dan berkata, “Setelah beberapa detik panggillah
aku! Bila aku tidak menjawab, ketahuilah bahwa aku telah pergi kepada
ayahku...”
‘Asma bersedih dan duduk di samping putri Rasulullah Saw. Hatinya penuh
kesedihan dan menangis sambil mengingat musibah yang menimpa putri
Rasulullah Saw. Dia tidak percaya bahwa putri Rasulullah Saw dalam jarak
waktu yang sangat pendek dari kematian ayahnya, sesegera ini menuju
kepada ayahnya dan bertambahlah kesedihan umat Islam. Namun setelah
beberapa detik sebagaimana yang dipesankan Sayidah Fathimah, Asma’
memanggil beliau. Tapi beliau tidak menjawabnya. Asma’ memanggil yang
kedua kalinya. Tapi kali ini juga tidak mendapatkan jawaban. Begitu
selimut itu disingkap dari wajahnya, Asma’ tahu bahwa Sayidah Fathimah
telah meninggal dunia. Asma’ memeluk tubuh Sayidah Fathimah dan
menciumnya, seraya berkata, “Fathimah sayang! Sampaikan salamku pada
ayahmu!”
Asma’ dalam kondisi menangis dan penuh kesedihan keluar dari rumah
mencari Hasan dan Husein. Kedua manusia mulia ini begitu menyaksikan
Asma menangis dan sedih, bertanya, “Asma’ bagaimana keadaan ibu kami?!”
Asma’ tidak bisa menjawab. Keduanya paham bahwa telah terjadi kejadian
tidak menyenangkan. Mereka menuju pada ibunya. Husein melihat ibunya
sedang membujur menghadap kiblat. Begitu dia menggoyangnya, dia paham
bahwa ibunya telah meninggal dunia. kesedihan telah menyelimuti hatinya,
dia menghadap kepada saudaranya yang lebih besar Hasan dan berkata,
“Saudaraku! Semoga Allah memberi kesabaran padamu! Ibu kita telah
meninggal dunia.”
Hasan memeluk ibunya dan berkata, “Ibuku! Sebelum ruh dikeluarkan dari tubuhku, berbicaralah denganku...!”
Husein mencium kaki ibunya dan berkata, “Ibuku! Aku adalah anakmu. Sebelum hatiku robek, berbicaralah denganku...!”
Asma’ berkata, “Sayangku! Anak-anak Rasulullah! Pergilah dan beritahu ayahmu akan kematian istrinya!”
Keduanya keluar dari rumah. Di jalan keduanya menangis keras-keras dan
berkata, “Ya Muhammad! Ya Muhammad! Sekarang musibah kematianmu menjadi
baru bagi kami. Hari ini kami kehilangan ibu kami...”
Imam Ali as berada di masjid dan mendengar suara tangisa anak-anaknya.
Hasan dan Husein menemui ayahnya dan mengucapkan belasungkawa padanya.
Imam Ali pingsan mendengar kabar ini. Kemudian wajanya diperciki air dan
siuman. Dengan hati yang hancur beliau berkata, “Fathimah sayang!
Ketika engkau masih hidup, aku selalu menenangkan hatimu atas musibah
kematian Rasulullah. Sekarang, setelah kematianmu, dari siapa aku harus
mendapatkan ketenangan?”
SAYIDAH FATHIMAH : IBU AYAHNYA
pengarang : Emi Nur Hayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Sayidah Fathimah Zahra as
Salah satu gelar Sayidah Fathimah adalah “Ummu Abiha”. Disebutkan
bahwa sebab dipilihnya gelar ini untuk beliau adalah Sayidah Fathimah
berperan sebagai seorang ibu yang penuh kasih sayang bagi ayahnya.
Sayidah Fathimah sangat mengkhawatirkan ayahnya. Sehingga orang-orang
merasa bahwa Rasulullah Saw benar-benar terikat pada putrinya.
Ketiadaan Sayidah Fathimah di sisi beliau, kerugian besar akan menimpa
kehidupan beliau. Bila di tengah-tengah kondisi sulit dan membahayakan
waktu itu, Sayidah Fathimah tidak berada di sisi ayahnya, maka bertahan
di hadapan segala kesulitan menyampaikan dakwah agama Islam bagi
Rasulullah lebih sulit.
Blokade ekonomi-sosial selama beberapa tahun di Sy’ibi Abu Thalib,
kematian Sayidina Abu Thalib dan Sayidah Khadijah; ibunya Sayidah
Fathimah dalam selisih waktu yang pendek, kekurangajaran para musuh
Islam terhadap Rasulullah, sejumlah perang yang sulit dan terkadang
berlangsung lama antara Rasulullah dan orang-orang musyrik, dan
lain-lain. Semua ini adalah sedikit dari berbagai kesulitan yang
dihadapi oleh Rasulullah dan Sayidah Fathimah selalu menjadi penolong
yang berani dan pendamping yang penuh kasih sayang bagi ayahnya. Sebagai
contoh bisa disebutkan beberapa kasus darinya:
Selama Abu Thalib; paman Rasulullah Saw masih hidup sedikit orang
yang bersikap kurang ajar terhadap Rasulullah Saw. Namun sepeninggal Abu
Thalib pada tahun kesepuluh hijriah, gangguan orang-orang Musyrik
sangat tinggi. Sehingga suatu hari salah satu orang musyrik menumpahkan
sampah ke atas kepala dan wajah Rasulullah Saw. Rasulullah tidak
membalasnya sama sekali dan pulang ke rumah untuk membersihkan kepala
dan wajahnya juga pakaiannya.
Sayidah Fathimah yang tidak tahan menahan kesedihan Rasulullah,
karena kemazluman ayahnya, beliau menangis tersedu-sedu dan meminta izin
kepada Rasulullah Saw untuk membersihkan bajunya.
Rasulullah Saw bersabda, “Putriku! Jangan sedih dan menangis! Allah
akan menjaga ayahmu dari kejahatan musuh dan mereka tidak akan bisa
menciderai ayahmu.”
Putriku Bersabarlah!
Suatu hari Sayidah Fathimah berdiri di sisi kabah. Saat itu beliau
melihat sejumlah orang musyrik sedang berbincang-bincang. Sayidah
Fathimah merasa bahwa mereka sedang bermusyawarah tentang sesuatu dan
ketahuan bahwa mereka sedang menyusun rencana jahat. Sayidah Fathimah
penasaran dan ingin tahu apa rencana mereka, akhrinya tahu bahwa mereka
bersumpah demi Latta dan Uzza; dua berhala besar orang-orang Quraisy
untuk membunuh Rasulullah.
Sayidah Fathimah segera menemui Rasulullah dan menceritakan kejadian
yang ada. Rasulullah membelai putrinya dan menenangkan hatinya. Kemudian
Rasulullah berkata, “Putriku! Sebentar aku akan berwudhu.”
Sayidah Fathimah segera mengambil air dan Rasulullah Saw berwudhu
kemudian pergi di sisi Ka’bah. Ketika Rasulullah Saw pergi menuju
Ka’bah, orang-orang Musyrik berkata, “Bersiagalah. Muhammad datang.”
Namun begitu Rasulullah Saw sudah mendekat, semuanya tercengang
menyaksikan wajah Rasulullah yang bercahaya dan mereka tidak bisa
bergerak dari tempatnya. Rasulullah mendekati mereka dan mengambil
sedikit tanah dari bumi dan menaburkannya kepada mereka seraya berkata,
“Laknat Allah atas kalian!”
Disebutkan bahwa semua orang yang ditaburi tanah oleh Rasulullah terbunuh di dalam perang Badar.
Pendidikan Anak-Anak
Sayidah Fathimah sangat antusias dalam beribadah. Sebagian besar
umurnya dipakai untuk beribadah. Dikatakan bahwa terkadang beliau
mengerjakan salat dari malam sampai pagi dan bermunajat kepada Tuhannya.
Rasulullah Saw mengatakan, “Setiap kali putriku berdiri salat di
mihrabnya, para malaikat berkata, “Lihatlah! Ini adalah cahayanya wajah
Zahra yang bersinar dari bumi.”
Sayidah Fathimah memahami nilai sejati ibadah. Beliau berharap
anak-anaknya juga menjadi orang mukmin yang sejati dan memahami lezatnya
ibadah. Itulah mengapa beliau memutuskan untuk membiasakan
anak-anaknya; Hasan dan Husein beribadah sejak masa kanak-kanak. Oleh
karena itu beliau mengajari mereka untuk berlatih ibadah supaya
kelezatan iman memenuhi jiwa mereka sedikit demi sedikit.
Terkadang di malam-malam Qadar beliau berkata kepada Hasan dan Husein
agar beristirahat dengan baik di sore hari. Kemudian membangunkannya di
pertengahan malam dengan penuh kasih sayang seraya berkata,
“Anak-anakku sayang! Malam ini adalah malam yang mulia! Allah senang
bila hamba-hambanya tidak tidur di malam ini dan bermunajat
kepada-Nya...”
Terkadang juga menyuruh Hasan dan Husein ikut ayahnya ke masjid
supaya salat di masjid bersama ayahnya dan mempelajari jalan dan cara
ayahnya.
Para Pecintamu sebagai Ahli Surga
Sayidah Fathimah adalah pendamping yang baik bagi suaminya,
sebagaimana pendamping yang baik bagi ayahnya ketika dalam kondisi
sulit. Dalam berbagai kondisi beliau membela suaminya.
Setelah pernikahan Sayidah Fathimah dengan Sayidina Ali, para wanita
Madinah berkata kepada Sayidah Fathimah, “Ayahmu telah menikahkan kamu
dengan seorang lelaki yang tidak punya harta kekayaan. Kamu adalah putri
Rasulullah dan harus hidup lebih baik...”
Dalam kondisi seperti ini, beliau menjawab mereka, “Ali adalah orang
dekat pada Allah dan pendamping Rasulullah dan aku sangat senang sebagai
istrinya Ali.”
Beliau juga berkata kepada ayahnya, “Ayah! Aku adalah putrimu. Tapi seperti masyarakat biasa, maharku uang dan dirham.”
Rasulullah Saw bersabda, “Mahar apakah yang layak dan sesuai denganmu?”
Sayidah Fathimah berkata, “Saya meminta kepada Anda, agar maharku
bukan uang dan perak. Sebagai gantinya, mintakan kepada Allah agar para
pecintaku tidak disiksa dengan api neraka!”
Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya para pecintamu berada di dalam surga.”
Kemudian bersabda, “Bumi sebagai maharmu. Oleh karena itu siapa saja
yang memusuhimu dan berjalan di muak bumi, maka dia akan berada di dalam
api neraka.”
FATHIMAH : NAMA YANG HARUS DIHORMATI
pengarang : terj. Emi Nur Hayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Sayidah Fathimah Zahra as
Seorang lelaki menemui Imam Jakfar Shadiq untuk sebuah urusan. Imam merasakan bahwa lelaki ini kondisinya tidak baik dan sedih. Kepadanya Imam bertanya,
“Hai lelaki! Mengapa Engkau sedih? Apakah kerugian telah menimpamu?”
Lelaki itu berkata, “Istriku telah melahirkan seorang anak perempuan.”
Dengan heran Imam berkata, “Semoga saja kita dijauhkan dari keyakinan jahiliyah ini, yang tampaknya tidak akan pernah dilupakan!”
Kemudian beliau berkata, “Mengapa Engkau khawatir? Allah yang akan memberikan rezekinya dan bumi akan menahan beratnya serta tidak akan ada yang kurang darimu...”
Kekhawatiran lelaki ini sedikit berkurang dan agak tenang. Imam berkata, “Katakan, apa nama yang Engkau pilih untuknya?”
Lelaki itu berkata, “Aku namakan dia, Fathimah.”
Mendengar nama neneknya, Imam teringat akan musibah-musibah yang menimpa Sayidah Fathimah as dan menarik napas panjang. Kemudian berkata, “Betapa bagusnya nama yang Engkau pilih untuknya! Namun tugasmu sekarang menjadi sangat berat. Hati-hatilah jangan sampai menghancurkan kehormatan nama Fathimah...jangan sampai Engkau mengumpatnya, mengutuknya, dan memukulnya...”
APAKAH ENGKAU RELA DENGAN SUAMIMU?
pengarang : terjemahan Saleh Lapadi
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Sayidah Fathimah Zahra as
Beberapa hari setelah pernikahan Sayidah Zahra as dengan Imam Ali as, Nabi Muhammad Saw mendatangi rumah mereka. Beliau bertanya kepada putrinya,
"Putriku!
Seperti apa suamimu?
Apakah engkau rela?"
Sayidah Zahra as menjawab, "Ayah! Suamiku adalah suami terbaik di dunia. Tapi sebagian perempuan Quraisy mendatangiku dan berkata,
"Rasulullah telah menikahkanmu dengan seorng pria miskin."
Nabi Saw berkata, "Putriku! Ayahmu tidak miskin, begitu juga dengan suamimu. Allah Swt meletakkan seluruh khazanah emas dan perak di seluruh dunia kepadaku.[1]
Tapi saya tidak menginginkannya. Karena aku lebih memilih pahala yang diberikan Allah... Putriku! Bila engkau mengetahui apa yang diketahui ayahmu, maka dunia menjadi tidak ada artinya di matamu. Demi Allah!
Suamimu dalam keilmuan, kesabaran, akhlak dan keimanan lebih baik dari semua orang..."
Putriku! Allah memandang ke bumi lalu memilih dua orang pria, seorang darinya adalah ayahmu dan satu lagi adalah suamimu... Putriku! Suamimu sangat baik. Oleh karenanya, engkau harus selalu menaatinya dan jangan sekali-kali meminta sesuatu kepadanya yang tidak mampu dipenuhinya atau membuatnya malu padamu..."
Setelah itu Nabi Saw memanggil Imam Ali as dan berkata kepadanya, "Wahai Ali! Fathimah adalah bagian dariku.
Barangsiapa yang mengganggunya berarti telah menggangguku dan siapa saja yang membuatnya gembira berarti telah menggembirakanku."
Catatan :
[1] . Maksud Nabi Saw, bila dirinya menginginkan maka dengan ilmunya dan
memohon kepada Allah sudah pasti harta karun yang ada di dalam bumi
akan ditemukannya. Begitu juga disebutkan bahwa setelah beliau diutus
sebagai nabi, Jibril as mendatanginya dan berkata,
"Wahai Ahmad! Allah
memberikan pilihan kepadamu menjadi raja dan nabi atau hamba dan nabi."
Beliau menjawab,
"Saya memiliki sebagai hamba dan nabi-Nya.
" Jibril as
kemudian berkata,
"Allah menerima, tapi mengatakan bahwa bila engkau
menerima pilihan pertama juga akan diterima."
MEMIKIRKAN HIJAB, BAHKAN PASCA MENINGGAL DUNIA
pengarang : terjemahan soleh lapadi
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Sayidah Fathimah Zahra as
Asma’, istri Ja’far at-Thayyar, saudara Imam Ali as, mengatakan:
“Sayidah Fathimah az-Zahra as di hari-hari terakhir kehidupannya berkata
kepadaku, ‘Saya benar-benar takjub dengan masyarakat Madinah.’
Saya bertanya, ‘Apa yang menyebabkan Anda takjub dengan mereka?’
Beliau menjawab, ‘Mereka meletakkan jenazah perempuan di atas
pembaringan dan hanya menghamparkan sehelai kain di atasnya, tanpa
pembungkus yang lain. Itulah mengapa ketika mereka membawa jenazahnya
bentuk badan perempuan itu tampak oleh siapa yang melihatnya.’
Saya berkata kepada beliau, ‘Ketika saya bersama umat Islam yang lain
berhijrah ke Habasyah, warga Kristen di sana meletakkan orang yang
meninggal di dalam peti yang cukup tinggi, sehingga menutup badan
mayit.’
Setelah saya membuatkan sebuah peti kecil dari kayu dan ranting pohon
yang mirip dengan peti warga Habasyah. Ketika Sayidah Fathimah as
melihat peti itu beliau berkata, ‘Bagus! Sepeninggalku nanti, tolong
buatkan peti seperti ini agar saat dibawa, aku akan aman dari pandangan
orang lain.”
APAKAH KITA AKAN DIBAKAR DI NERAKA?
pengarang : terjemahan dari soleh lapadi
Sumber : Sad Pand va Hekayat; Sayidah Fathimah Zahra as
Seorang wanita kota Madinah mendatangi Sayidah Fathimah as dan berkata, “Wahai putri Rasulullah! Suamiku yang mengutusku untuk menemuimu agar kutanyatakan kepadamu apa kami termasuk Syiahmu atau tidak?”
Sayidah Fathimah as menjawab, “Bila melakukan segala perintah kami secara keseluruhan, niscaya kalian termasuk dari Syiah kami dan sebaliknya, maka kalian tidak akan pernah!”
Wanita itu kemudian kembali menemui suaminya dan menyampaikan apa yang didengarnya. Setelah mendengarkan penjelasan istrinya, raut muka suami wanita itu tampak kusut dan berkata kepada dirinya, “Aku tidak akan pernah mampu melakukan perintah keluarga Nabi Saw secara sempurna. Dalam sebagian perintah, aku jelas bermalas-malasan dalam mengamalkan perintah mereka.
Kemalasan telah menjadi penghalang untuk melaksanakan seluruh perintah mereka... Celakalah aku bakal dibakar di neraka.”
Wanita itu menyaksikan kecemasan di wajah suaminya dan untuk kedua kalinya ia pergi menemui Sayidah Fathimah as dan menyampaikan apa yang dilihatnya dari perubahan raut wajah suaminya.
Sayidah Fathimah as berkata, “Sampaikan ucapanku ini kepada suamimu dan katakan kepadanya agar tidak perlu khawatir. Syiah kami merupakan penduduk terbaik surga dan semua pecinta kami, pecinta pecinta kami dan musuh dari musuh-musuh kami semuanya akan berada di surga.”
Setelah itu beliau menambahkan, “Barangsiapa yang hati dan lisannya pasrah dan tunduk kepada kami, tapi tidak mengamalkan perintah kami tentu saja tidak termasuk Syiah hakiki, sekalipun orang-orang seperti ini setelah menanggung siksa di Hari Kiamat dan merasakan azab kemudian bersih dari dosa akan dibawa ke surga. Benar, kami akan menyelamatkan mereka dikarenakan kecintaannya kepada kami.”
KUBURAN YANG TERSEMBUNYI SELAMA 130 TAHUN
pengarang : Emi Nur Hayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Ali as
Ketika Imam Ali mencapai syahadah, anak-anaknya menguburkan
jenazahnya pada malam hari secara sembunyi-sembunyi. Setelah itu selama
beberapa lama tempat pemakaman beliau tersembunyi. Karena khawatir para
musuh pendendam khususnya para khawarij dan bani Umayah yang pada masa
hidupnya telah menunjukkan permusuhannya, akan melalukan ketidakhormatan
pada kuburan Imam Ali. Sampai pada masa khilafah Harun Rasyid, karena
ada kejadian aneh, tempat penguburan itu ditemukan.
Suatu hari Harun Rasyid penguasa Bagdad bersama para pembantu dan
pasukkannya keluar dari Kufah untuk berburu. Di pertengahan jalan, dia
sampai pada sebuah bukit; sebuah bukit yang subur dan di sana ada
beberapa kijang sedang bermain di antara rerumputan.
Harun Rasyid merasa gembira karena dengan segera dia akan merasakan
lezatnya daging kijang. Dia memerintahkan agar anjing-anjing buruan dan
burung-burung elangnya dilepaskan untuk memburu kijang-kijang itu.
Anjing-anjing buruan menyerang kijang-kijang yang ada. Kijang-kijang
yang ketakutan itu naik lari menuju bukit. Burung-burung elang itu juga
turun pelan-pelan di lereng bukit dan anjing-anjing itu kembali dari
arah bukit.
Harun dan para pendampingnya merasa takjub dan tidak percaya dengan
pemandangan yang dilihatnya. Harun berkata, “Apa rahasianya,
kijang-kijang itu berlindung ke bukit, namun burung-burung elang dan
anjing-anjing kita tidak berani pergi ke sana?!”
Dia memandang yang lainnya barangkali ada yang menjawab pertanyaannya.
Namun semuanya pada keheranan dan melihat ke bukit. Mereka melihat
kijang-kijang turun dari bukit dan anjing-anjing itu kembali menyerang.
Tapi kijang-kijang itu kembali lagi naik ke bukit dan burung-burung
elang dan anjing-anjing tidak bisa naik ke atas bukit.
Kejadian itu terulang tiga kali. Harun menghadap kepada Abdullah dan berkata, “Segeralah mencari jawaban rahasia ini!”
Abdullah dan beberapa orang melakukan penelitian atas perintah sanga
khalifah. Sampai akhrinya menemukan seorang lelaki tua yang tampaknya
sebagai warga daerah itu. Lelaki tua itu dibawa ke Harun Rasyid. Harun
menanyakan tentang asal usul keturunan lelaki tua ini. Begitu yakin
bahwa dia mengatahui tentang daerah ini, dia ditanya, apa rahasianya
teka teki ini?
Lelaki itu ragu apakah dia harus menyampaikan apa yang diketahuinya
ataukah tidak. Akhirnya karena desakan Harun dan orang-orang sekitarnya,
dia menyerah dan mengatakan, “Wahai Amir! Ayahku dari perkataan ayahnya
mengatakan bahwa kuburan Sayidina Ali ada di bukit ini. dan tentunya
Allah telah menjadikan tempat ini sebagai “Haram yang aman” dan siapa
saja yang berlindung di sana, maka dia akan merasa aman.”
Lelaki tua paham atas kondisi pandangan Harun, dia melanjutkan
pembicaraannya, “Hai Harun di sini adalah Haram Ilahi yang aman. Oleh
karena itu bukan tanpa alasan kijang-kijang itu berlindung di sini dan
anjing-anjing dan burung-burung elangmu tidak berani mendekatinya dan
melanggar Haram suci Ali as...”
Harun Rasyid yang benar-benar terpengaruh oleh kejadian dan ucapan
lelaki tua ini lantas turun dari kudanya dan minta air. Dia berwudhu dan
pergi di sisi bukit dan mengerjakan salat di sana dan menjatuhkan
dirinya ke tanah dan menangis.
Dengan demikian, makam suci Imam Ali as diketahui oleh semua orang setelah 130 tahun.
ALI PENGGANTI NABI
pengarang : Emi Nur Hayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Ali as
Hari Kamis 18 Dzulhijjah tahun 10 Hijriyah, umat Islam setelah
menunaikan ibadah haji, kembali pulang ke negerinya masing-masing.
Rasulullah Saw bersama rombongannya juga menuju ke Madinah. Sampailah di
sebuah padang sahara yang kering dan panas, yang bernama Ghadir Khum.
Ghadir adalah sebuah perempatan; dari utara ke Madinah, dari selatan ke
Yaman, dari Timur ke Irak dan dari barat ke Mesir. Di waktu itu,
tiba-tiba turun wahyu kepada Rasulullah Saw dan berkata, “Hai Rasul,
sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak
kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak
menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.
Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang
kafir.” (QS. Maidah: 67).
Setelah Rasulullah Saw menerima perintah ini, beliau memerintahkan untuk
berhenti dan bersabda, “Panggillah orang-orang yang sudah terlebih
dahulu berjalan dan tunggulah mereka yang masih tertinggal sampai mereka
sampai.
Kemudian mengerjakan salat dan setelah salat Zuhur, beliau memerintahkan
untuk membuat sebuah mimbar dari peralatan yang ada di atas onta.
Beliau naik ke atas mimbar itu dan berbicara kepada para jemaah haji,
“Dari semua orang, siapakah yang lebih layak atas mereka?
Orang-orang yang hadir menjawab, “Allah dan Rasulnya lebih tahu.”
Rasulullah Saw bersabda, “Allah adalah maula dan pemimpinku dan aku
adalah maula dan pemimpin orang-orang mukmin dan lebih layak atas mereka
dari diri mereka sendiri.”
Kemudian Rasulullah Saw memegang tangan Sayidina Ali dan mengangkatnya
ke atas sedemikian rupa sehingga semua orang yang hadir melihatnya.
Kemudian bersabda, “Barang siapa yang aku adalah maula dan pemimpinnya,
ketahuilah bahwa Ali adalah maula dan pemimpinnya.”
Kemudian mengangkat tangannya berdoa, “Ya Allah cintailah orang-orang
yang mencintai Ali, dan musuhilah orang-orang yang memusuhi Ali.
Marahlah terhadap orang yang marah padanya. Tolonglah penolongnya dan
jangan tolong orang yang tidak menolongnya. Jadikan kebenaran senantiasa
bersamanya dan jangan pisahkan kebenaran darinya.”
Kemudian Rasulullah Saw bersabda, “Ketahuilah bahwa orang-orang yang
hadir harus menyampaikan kabar ini kepada orang-orang yang tidak hadir.”
Pada saat itu juga turun kembali wahyu kepada Rasulullah Saw dan
berkata, “...Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan
telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi
agama bagimu...” (QS. Maidah: 3)
Rasulullah mengucapkan takbir dan orang-orang dengan hangat mendekati
Sayidina Ali dan mengucapkan selamat kepadanya. Orang-orang terkenal
seperti Abu Bakar dan Umar juga mendekati Sayidina Ali dan mengucapkan
selamat.
“Selamat untukmu wahai Ali!
“Selamat untukmu wahai putra Abu Thalib engkau melewati pagi menuju
malam, dalam kondisi engkau sebagai pemimpinku dan semua pria dan wanita
muslim.”
INILAH YANG NAMANYA PERSAUDARAAN!
pengarang : emi nurhayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Ali as
Perang Uhud adalah salah satu perang yang paling sulit yang terjadi antara umat Islam dan orang-orang Kafir.
Dalam perang ini, pasukan Islam berperang melawan para sahabat Abu
Sofyan yang jumlahnya jauh lebih banyak dari pasukan Islam. Pasukan
Islam mengalami kemenangan meski dengan jumlah yang sedikit dan
peralatan yang terbatas. Namun mereka tidak mematuhi perintah sang
komandan [Rasulullah] karena merasa sombong atas kemenangan ini dan
rakus untuk mendapatkan ghanimah [harta rampasan perang], akhirnya
mereka mengosongkan lorong sempit di antara dua gunung Uhud. Oleh karena
itu, musuh menggunakan kesempatan dan menyerang umat Islam dari
belakang dengan melewati lorong sempit ini dan berhasil mengalahkan
mereka.
Ketika umat Islam melihat kondisinya seperti ini, lantas mereka
melarikan diri. Namun hanya Sayidina Ali dan salah seorang sahabat
Rasulullah yang tetap tinggal dan berperang menghadapi musuh. Abu
Sofyan merasa dirinya menang, dia terus menerus berorasi dan mendorong
pasukannya untuk membunuh Rasulullah Saw yang mengalami banyak luka di
tubuhnya.
Sayidina Ali menjaga Rasulullah Saw supaya musuh tidak bisa membunuhnya.
Beliau sendirian berhasil membunuh beberapa orang musuh dan banyak juga
mengalami luka. Pada saat itu malaikat Jibril turun kepada Rasulullah
Saw dan berkata, “Hai Muhammad! Inilah yang namanya persaudaraan dan
pengorbanan!”
Rasulullah Saw bersabda, “Ali dari aku dan aku darinya.”
Malaikat Jibril juga berkata, “Dan aku dari kalian.”
Pada saat itu orang-orang yang hadir di situ mendengar suara dari langit
yang mengatakan, “La Fataa Illa Ali, La Saifa Illa Dzulfiqar [tiada
ksatria selain Ali, tiada pedang selain dzulfiqar].
KEBERANIAN ALI AS
pengarang : emi nur hayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Ali as
Suatu hari pada tahun ke delapan setelah hijrah, tersebar sebuah
berita di kota Madinah yang membuat seluruh penduduk merasa panik.
Berita itu adalah, “Dua belas ribu penunggang kuda warga Wadi Yabas
sedang menuju kota Madinah dan sepakat akan membunuh Rasulullah Saw dan
Sayidina Ali.”
Dengan menyebarnya berita ini, masyarakat tidak bisa tidur. Gosip dan
komentar menyebar ke mana-mana. Melihat kondisi ini, Rasulullah Saw
mencari jalan keluar. Beliau mengutus Abu Bakar untuk menyiapkan pasukan
sebanyak empat ribu orang dan pergi untuk menghadapi musuh dan
memusnahkan mereka sebelum melakukan sesuatu.
Abu Bakar sudah siap dengan perintah Rasulullah Saw dan pergi bersama
pasukannya. Namun di tengah perjalanan dia kembali. Rasulullah Saw
bertanya kepadanya, “Hai Abu Bakar! Mengapa engkau kembali?!”
Abu Bakar merasa malu dan menyampaikan alasannya dan akhirnya jawaban
Abu Bakar tidak memuaskan Rasulullah Saw. Kali ini Rasulullah Saw
menyuruh Umar bin Khatthab dan setelah itu menyuruh Amr bin Ash untuk
menghadapi musuh. Namun keduanya juga dengan berbagai alasan meminta
agar tidak menghadapi musuh. Itulah mengapa Rasulullah Saw menyuruh
Sayidina Ali.
Sayidina Ali menerima dengan penuh kepastian dan menuju
Wadi Yabas untuk menghadapi musuh.
Sayidina Ali memiliki sapu tangan khusus. Beliau menggunakan sapu tangan
itu di saat-saat perang yang sulit dan penting dan mengikatkannya di
dahinya. Oleh karena itu, sebelum pergi, beliau pulang ke rumahnya dan
meminta sapu tangan itu kepada istrinya; Sayidah Fathimah as.
Sayidah Fathimah memahami bahwa ada perang yang sulit di hadapan. Beliau
mengkhawatirkan suaminya dan menangis. Rasulullah Saw menemui Sayidah
Fathimah dan menyenangkan hati putrinya:
“Fathimah sayang! Mengapa engkau menangis? Dengan kehendak Allah, suamimu tidak akan terbunuh!”
Sayidina Ali berkata kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah! Jangan
engkau jauhkan aku dari surga! Kemudian beliau mengambil bendera dari
Rasulullah dan menuju Wadi Yabas bersama pasukannya.
Pasukan Sayidina Ali berjalan melalui jalan lain untuk mengelabui musuh.
Malam hari melakukan perjalanan dan di siang hari bersembunyi di balik
bebatuan dan jurang. Akhirnya pada waktu subuh berhasil membuat musuh
kaget dan menyerang mereka. Musuh mengalami kekalahan. Pasukan musuh
kocar kacir dan beberapa orang terbunuh di tangan Sayidina Ali. Pasukan
Islam mengalami kemenangan dan kembali lagi ke Madinah.
Ummu Salamah, salah satu istri Rasulullah Saw berkata, “Rasulullah Saw
tidur di rumah saya, tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Saya berkata,
“Kami berlindung kepada Allah! Apa yang terjadi?!”
Rasulullah Saw berkata, “Engkau benar. Allah telah melindungiku.
Sekarang Jibril mengabarkan kepadaku bahwa Ali sedang menuju ke
Madinah.”
Pada saat itu Rasulullah Saw keluar dari rumah, beliau mengajak umat
Islam berkumpul dan berdiri sampai jarak satu farsakh dari Madinah untuk
menyambut Sayidina Ali dan para pasukan. Ketika Sayidina Ali melihat
Rasulullah Saw, beliau turun dari kuda untuk menghormati Rasulullah Saw
dan hendak mencium kaki Rasulullah, tapi Rasulullah Saw berkata
kepadanya, “Naiklah! Allah dan Rasul-Nya meridhaimu.”
Sayidina Ali menangis karena saking gembiranya dan pergi ke rumahnya.
Setelah kepergian Sayidina Ali, Rasulullah Saw bertanya kepada para
pasukan, “Bagaimana kalian melihat komandan kalian?”
Mereka mengatakan, “Kami tidak melihat sesuatu selain kebaikan dan
lainnya adalah di semua salat-salat yang diimaminya, beliau membaca
surat Tauhid [al-Ikhlas].”
Rasulullah Saw mendatangi Sayidina Ali dan bertanya, “Mengapa engkau
membaca surat Tauhid di semua salat-salat yang engkau kerjakan?”
Sayidina Ali menjawab, “Saya menyukai surat ini karena ada sifat-sifat Allah di dalamnya.”
Rasulullah Saw tersenyum dan bersabda, “Sesungguhnya Allah menyukaimu sebagaimana engkau menyukai surat Tauhid.”
Kemudian bersabda, “Hai Ali! Bila aku tidak takut akan sekelompok orang
muslim mengatakan tentang dirimu, sebagaimana yang dikatakan oleh
orang-orang Kristen tentang Isa as bahwa Isa adalah putra Allah, hari
ini aku pasti mengatakan tentang keagungan posisimu sehingga masyarakat
bisa mengambil tanah di bawah telapan kakimu sebagai tabarruk [ngalap
berkah].
MENCOPOT PINTU KHAIBAR
pengarang : Emi Nur Hayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Ali as
Perang Khaibar merupakan salah satu perang yang dimenangkan oleh
umat Islam. Kenikmatan kemenangan ini juga telah dihadiahkan oleh
Sayidina Ali kepada umat Islam.
Di pertengahan perang ini , Sayidina Ali berhasil mengalahkan pakar
perang Arab yang terkenal bernama Marhab. Setelah kematiannya, para
pasukannya masuk ke dalam benteng Khaibar dan menutup pintu gerbangnya.
Sayidina Ali dengan satu tangan berhasil mencopot pintu gerbang itu dan
meletakkannya sebagai jembatan di atas khandaq yang mengelilingi
benteng. Sehingga para pasukan muslim bisa melewatinya dan masuk ke
dalam benteng; sebuah pintu gerbang yang untuk membuka dan menutupnya
memerlukan beberapa orang.
Sayidina Ali sendiri mengatakan, “Demi Allah! Aku tidak mencopot pintu
ini dengan kekuatan manusiawi, tapi aku mencopotnya dengan tawassul pada
kekuatan ilahi dan di atas manusiawi.
Ali menghancurkan Berhala
Pasca kemenengan Mekah [Fathu Mekah] yang merupakan peristiwa paling
besar dan paling berpengaruh dalam dunia Islam, Rasulullah Saw bersama
para sahabatnya menuju ke kabah. Orang-orang kafir Quraisy telah
meletakkan sebanyak 360 berhala besar dan kecil di sekeliling kabah.
Rasulullah Saw sambil mengucapkan takbir, menurunkan berhala-berhala ke
bawah dan menghancurkannya. Berhala terbesar yang bernama Hubal berada
di bagian teratas kabah. Rasulullah Saw menghadap kepada Sayidina Ali
dan berkata, “Hai Ali! Engkau yang harus naik ke pundakku atau aku yang
harus naik ke pundakmu, kita turunkan Hubal dari atap kabah!”
Sayidina Ali berkata, “Wahai Rasulullah! Aduh..., bagaimana denganku, bila aku harus naik ke pundak penuh berkah Anda?!
Lalu Rasulullah Saw naik ke pundak Sayidina Ali. Namun Sayidina Ali
tidak kuat menahan Rasulullah Saw dan gemetaran. Rasulullah Saw
tersenyum dan turun ke bawah. Kali ini Sayidina Ali yang naik ke pundak
Rasulullah Saw dan memusnahkan Hubal.
Sayidina Ali sendiri mengatakan, “Demi Allah! Pada waktu itu saya begitu
mendapatkan kekuatan, sehingga saya merasakan bisa menguasai langit,
lalu saya mengambil Hubal dan menjatuhkannya ke bawah...”
Keberanian dan Keimanan
Perang Badar adalah salah satu perang yang paling sulit dan paling
penting di masa permulaan Islam. Dalam perang ini, pasukan Islam
berhasil mengalahkan musuh yang jumlah orang dan senjatanya jauh lebih
besar dengan pertolongan gaib dan samawi.
Musuh-musuh Islam yang datang ke daerah Badar untuk melakukan perlawanan
dengan pasukan Rasulullah Saw, beberapa hari sebelumnya telah
memblokade sumur-sumur yang ada di sana supaya pasukan Islam tidak bisa
menggunakan airnya.
Malam ketika esok harinya perang antara dua pasukan dimulai, terjadi
keajaiban. Malam itu simpanan air umat Islam telah habis. Para sahabat
Rasulullah Saw dan hewan-hewan yang ada merasa kehausan.
Rasulullah Saw menghadap kepada para sahabatnya dan berkata, “Siapakah
di antara kalian yang siap membobol bendungan musuh dan mengambil air?”
Para sahabat diam dan menundukkan kepalanya, sampai ketika Ali datang dan berkata, “Wahai Rasulullah! Saya siap!”
Kemudian beliau mengambil tempat air yang masih kosong dan menuju salah
satu sumur yang ada dan memenuhinya dengan air dan kembali lagi menuju
pasukan Islam. Namun angin kencang menerpa dan tempat air jatuh dan
airnya tumpah. Sayidina Ali tanpa rasa takut kembali lagi menuju sumur
dan memenuhi tempat itu dengan air. Tapi angin kencang kembali
menerpanya dan tempat air jatuh ke tanah. Sayidina Ali kembali lagi
memenuhi tempat itu dengan air dan kembali lagi angin kencang menerpanya
dan tempat air jatuh ke tanah. Sayidina Ali tidak putus asa dan mengisi
kembali tempat air itu yang keempat kalinya dan kembali menuju ke
pasukan Islam dan menceritakan kejadiannya kepada Rasulullah Saw.
Rasulullah Saw tersenyum dan berkata, “Hai Ali! Angin yang pertama dari
malaikat Jibril dengan seribu malaikat mendatangimu dan mengucapkan
salam untukmu. Kali kedua dari malaikat Mikail dengan seribu malaikat
mendatangimu dan mengucapkan salam untukmu. Kali ketiga dari malaikat
Israfil dengan seribu malaikat mendatangimu dan mengucapkan salam
untukmu. Ini semua karena keberanian dan keimananmu dimana engkau selalu
menciptakan heroik di saat-saat sulit dan bahaya dan engkau buat
pasukan Islam membanggakan...”
Penjagaan Ali Pada Rasulullah Saw Sejak Usia Remaja
Orang-orang Musyrik Mekah sedemikian rupa mengganggu dan menyiksa
Rasulullah Saw, sehingga anak-anak mereka juga menjatuhi dan melempari
kepala Rasulullah dengan batu. Rasulullah Saw merasa kesakitan atas
gangguan dan siksaan mereka dan meminta bantuan kepada Sayidina Ali yang
waktu itu masih remaja.
Sayidina Ali berkata, “Mulai sekarang, setiap kali Anda mau keluar dari rumah, bawalah saya sebagai pendamping!”
Mulai saat itu, seorang remaja yang berani dan paham ini senantiasa
mendampingi Rasulullah Saw ke mana saja pergi. Setiap kali anak-anak
ingin mengganggu Rasulullah Saw, Sayidina Ali mencegah dan menghukum
mereka. Anak-anak itu menangis menuju kepada ayah-ayah mereka.
Sikap Sayidina Ali ini membuat anak-anak itu tidak lagi mengganggu
Rasulullah Saw. Namun beliau dijuluki “Qudham” oleh mereka. yang berarti
orang yang menggiggit.
Beberapa tahun kemudian, dalam peristiwa perang Uhud, ketika pembawa
pertama panji musuh [Thalhah bin Abi Thalhah] menuju medan pertempuran
dan melakukan orasinya dan meminta tandingan, Sayidina Ali maju untuk
bertempur dengannya.
Thalhah berkata, “Hai pemuda! Siapakah engkau?”
Sayidina Ali berkata, “Aku Ali, putra Abu Thalib.”
Dengan menyindir Thalhah berkata, “Hai Qudham! Aku tahu, selain engkau tidak ada yang berani bertempur denganku.”
Pertempuran telah dimulai. Sayidina Ali menahan pukulan pedang Thalhah
dengan tamengnya. Sayidina Ali memukul kedua kaki Thalhah dengan
pedangnya dan patahlah kedua kaki itu dan membiarkannya dan berkata,
“Aku telah memukulnya sedemikian rupa sehingga tidak bakal selamat
jiwanya.”
Tidak lama kemudian Thalhah mati.
DIA ADALAH SAUDARAKU!
pengarang : emi nur hayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Ali as
Nabi Muhammad Saw setelah diangkat sebagai nabi, atas perintah Allah
Swt, mengajak masyarakat pada Islam secara sembunyi-sembunyi selama
tiga tahun. Tentunya, alasannya adalah supaya masyarakat memiliki
sedikit kesiapan dan aman dari kejahatan musuh. Pada saat itu, Sayidina
Ali yang masih berusia sepuluh tahun beriman kepada Rasulullah. Setelah
Sayidina Ali, Sayidah Khadijah; istri Rasulullah yang penuh kasih sayang
dan setia beriman kepada Rasulullah Saw.
Setelah tiga tahun, Rasulullah Saw diutus untuk menyampaikan ajaran
Islam secara terang-terangan. Untuk menjalankan tugas ilahi, beliau
mengundang empat puluh orang dari keluarga dekatnya ke rumah Abu Thalib.
Dalam undangan ini, hadir para paman dan anak pamannya. Mereka merasa
takjub dengan undangan yang tanpa mukadimah ini.
Malam itu, setelah acara makan malam, Rasulullah Saw berpidato dan di
sela-sela ucapannya, beliau menyampaikan tentang agama Allah dan tugas
yang telah diserahkan kepadanya. Namun Abu Lahab salah seorang paman
Rasulullah, merusak acara yang ada dan tidak mengizinkan Rasulullah Saw
berbicara.
Keesokan harinya, Rasulullah Saw kembali mengundang sanak familinya.
Sekali lagi Abu Lahab memprediksi bahwa Rasulullah Saw bermaksud
menyampaikan dakwahnya dan dia kembali lagi berencana merusak acara itu.
Namun dengan partisipasi Abu Thalib, rencana Abu Lahab tidak berhasil
dan Rasulullah berhasil mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan
pembicaraannya kepada para tamu tentang perintah Allah.
“Wahai para anak-anak Abdul Muthalib! Aku telah diutus oleh Allah Yang
Maha Esa untuk kalian. Aku mengabarkan kepada kalian tentang
kemarahan-Nya dan api neraka dan mengabarkan kepada orang-orang yang
meyakini ucapanku – yang semuanya berasal dari Allah – dan mengharapkan
rahmat Allah... berimanlah kepadaku! Tolonglah aku supaya kalian
beruntung dan di dunia, jadilah tuan bagi orang Arab dan orang Ajam dan
di akhirat menjadi penghuni surga...kalian adalah keluarga dan familiku.
Ketahuilah bahwa tidak ada orang seperti aku yang membawa kabar gembira
ini untuk familinya...aku membawa kebaikan dan kebahagiaan dunia dan
akhirat kalian...apakah ada orang yang mau menjadi saudaraku dan menjadi
penolong agamaku sehingga menjadi pengganti dan washiku dan di akhirat
akan masuk ke dalam surga bersamaku?!”
Semuanya tercengang dan takjub. Tidak seorangpun dari para tamu percaya
bahwa putra Abdullah dengan berani berbicara seperti ini tanpa rasa
takut dan khawatir. Tidak ada seorang pun yang berani berbicara sepatah
kata pun. Apalagi menjawab permintaan Muhammad Saw. Namun di antara para
tamu, Ali; seorang remaja yang berusia 13 tahun anak didikan Rasulullah
Saw dan dari sejak awal pengangangkatan sebagai nabi telah membantunya
sekuat tenaga, mengangkat tangannya dan berkata, “Wahai Rasulullah! Aku
akan menolongmu!”
Para pemuka Quraisy tidak percaya akan apa yang didengar dan dilihatnya.
Ali as telah menyebut Muhammad Amin [yang bisa dipercaya] sebagai
“Rasulullah” yakni siapakah Tuhan yang Muhammad telah mengklaim dirinya
telah diangkat sebagai utusan dari sisi-Nya?!”
Rasulullah Saw menghadap kepada Ali dan berkata, “Duduklah hai Ali!”
Rasulullah Saw sekali lagi menyampaikan dakwahnya dan mengulangi
permintaannya. Kali ini juga tidak ada suara yang keluar dari para tamu
yang hadir. Kembali lagi Ali bangkit dan berkata, “Wahai Rasulullah!
Saya. Saya siap berkerjasama dengan Anda dan saya beriman kepada ucapan
Anda.”
Rasulullah Saw kembali meminta Ali as untuk duduk. Rasulullah Saw
mengulangi lagi permintaannya yang ketiga kali dan hanya Ali as yang
mengumumkan kesiapannya untuk menjadi penolong dan pendamping
Rasulullah. Pada saat itu Rasulullah Saw berkata, “Ini [sambil
mengisyaratkan pada Sayidina Ali] adalah saudara dan penggantiku.
Dengarkanlah ucapannya dan taatilah dia!”
Terjadilah keributan dalam pertemuan itu. Para hadirin bangkit dan
setiap orang berbicara. Abu Lahab yang sedang marah berkata kepada Abu
Thalib, “Muhammad memerintahkan kamu untuk mendengarkan perintah anak
lelaki remajamu dan kamu harus menaatinya!”
Abu Thalib berkata, “Diamlah dan jangan katakan sesuatu! Muhammad adalah
utusan Allah dan aku serta putraku adalah pendukung ucapan-ucapannya
dan kami akan mengorbankan diri untuknya.
Ali Adalah Anak Rasulullah Saw
Sayidina Ali adalah anak paman Rasulullah Saw. Namun Rasulullah Saw
memiliki hak sebagai ayahnya. Karena Sayidina Ali sejak kecil ada di
pangkuan Rasulullah Saw dan besar di rumahnya. Oleh karena itu, bukan
tanpa alasan bila Sayidina Ali merasa sangat dekat kepada Rasulullah dan
dalam kondisi susah, dia sebagai penolong dan pendamping setia
Rasulullah Saw.
Rasulullah Saw dalam usia dua puluh lima tahun menikah dengan Sayidah
Khadijah. Lima tahun kemudian, lahirlah Ali as putra keempat Abu Thalib
[paman Rasulullah Saw]. Abu Thalib pasca wafat ayahnya; Abdul Muthalib,
sebagai kepala suku Bani Hasyim dan mereka sangat menghormatinya. Namun
dari sisi harta kekayaan, dia termasuk orang yang tidak punya harta dan
hidup miskin. Rasulullah mengetahui hal ini. Oleh karena itu, suatu hari
beliau mendatangi paman yang satunya yaitu Abbas; seorang lelaki kaya.
Rasulullah mengusulkan kepadanya untuk membantu Abu Thalib dengan cara
masing-masing mengambil dan mengasuh satu dari putra-putranya.
Abbas menerima usulan Rasulullah dan mengambil Ja’far saudara Sayidina
Ali dan membawanya ke rumahnya. Rasulullah menerima untuk mengasuh Ali.
Dari sejak saat itu Ali as berada di bawah asuhan Rasulullah Saw yang
penuh keberkahan. Sayidina Ali menceritakan masa kecilnya demikian:
“Ketika aku masih kanak-kanak, Rasulullah Saw mendudukkan aku di
pangkuannya dan menempelkan aku ke dadanya. Beliau mengunyah makanan dan
meletakkannya di mulutku dan menyampaikan bau harum wujudnya ke dalam
jiwaku...Beliau tidak pernah mendapati aku berbohong dalam ucapanku dan
salah dalam perbuatanku...Allah telah mengirim malaikat yang paling
agung untuk membarengi Rasulullah Saw sejak masa menyusu untuk
membimbingnya di semua kesempatan malam dan siang untuk mengerjakan
pekerjaannya yang baik dan besar. Aku juga mengikuti Rasulullah
sebagaimana anak kecil yang masih menyusu mengikuti ibunya. Beliau
sendiri setiap hari memerintahkan aku untuk mengikuti semua perilakunya.
Beliau setiap tahun pergi ke gua Hira selama beberapa hari dan ketika
itu tidak ada yang melihatnya kecuali aku. Di masa itu, ketika Islam
belum masuk ke dalam rumah siapapun, hanya Rasulullah Saw dan istrinya;
Khadijah yang muslim. Aku menerima dakwahnya dan aku menjadi muslim. Aku
selalu melihat cahaya wahyu dan risalah dan mencium harumnya
kenabian...”
TALANG AIR HUJAN RUMAHNYA ABBAS
pengarang : Emi Nur Hayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Ali as
Allah menurunkan wahyu kepada Rasulullah; katakan kepada umatmu
agar menutup pintu-pintu rumahnya yang menghadap ke masjid, sehingga
terjagalah kehormatan masjid dan seseorang tidak bisa melampaui batas
kehormatan masjid. Di antara umat Rasulullah Saw, Ali dan Fathimah yang
dikecualikan dan pintu rumahnya bisa dibuka menghadap ke masjid.
Abbas paman Rasulullah Saw meminta kepada beliau agar pintu rumahnya
yang menghadap ke masjid tidak ditutup. Namun Rasulullah Saw menolaknya
dan berkata, “Hukumnya adalah hukum Allah. Dengan demikian Abbas meminta
bahwa paling tidak talang air hujan rumahnya yang bersambung pada atap
masjid tidak dicopot.
Rasulullah Saw menyetujui dan kepada masyarakat beliau berkata, “Saya
memberikan keistimewaan ini pada paman saya. Untuk itu jangan kalian
ganggu dia. Karena dia adalah kenangan kakekku. Barang siapa yang
menyakiti Abbas dan menginjak-injak haknya, maka laknat Allah baginya!”
Dari sejak hari itu sampai masa khalifah kedua, talang air hujan itu
pada tempatnya. Sampai ketika peristiwa itu terjadi; hari itu Abbas
sakit dan istirahat di dalam rumah. Budaknya naik ke atas atap mencuci
pakaian. Air kotor mengalir di talang dan sedikit dari air itu mengena
baju khalifah. Sang khalifah marah dan memerintakan agar talang itu
dicabut dari tempatnya kemudian berkata, “Barang siapa yang kembali
memasang talang ini, maka ia akan dihukum berat.” Menyaksikan kejadian
ini, Abbas benar-benar sedih dan dengan bantuan anak-anaknya ia pegi ke
rumahnya Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib. Begitu Imam Ali melihat
pamannya, beliau sedih dan berkata, “Paman! Apa yang terjadi sehingga
engkau datang ke rumahku dalam keadaan seperti ini?”
Abbas menceritakan kejadian yang ada dan berkata, “Sebelum ini aku punya
dua mata; yang satu adalah Rasulullah dan aku sudah kehilangan dan yang
lainnya adalah engkau. Aku berharap dengan keberadaanmu kehormatanku
tidak hilang di tengah-tengah masyarakat ini.”
Imam Ali berkata, “Percayalah, aku akan mengambil kembali hakmu. Untuk itu kembalilah ke rumahmu dan jangan khawatir!”
Kemudian beliau berkata kepada Qanbar, “Ambilkan pedangku!”
Beliau meletakkan pedangnya di punggung dan pergi keluar dari rumah.
Atas perintah Imam Ali talang itu dipasang kembali. Kemudian Imam Ali
berkata, “Demi hak pemilik kuburan [Rasulullah] dan mimbar ini! Siapa
saja yang mencopot talang maka aku akan memenggal lehernya dan yang
memerintahkannya dan aku akan menggantungnya di bawah terik matahari
supaya terbakar!”
Kejadian itu sampai ke telinga khalifah dan dia datang ke masjid. Begitu
ia melihat talang, berkata, “Kerjaan yang dilakukannya tidak membuat
marah seseorang, sebagai gantinya sumpah, kami membayar kaffarahnya!”
Keesokan harinya, Imam Ali menjenguk Abbas dan menanyakan keadaannya.
Abbas berkata, “Anak saudaraku! Selama aku punya engkau, aku tidak akan
sedih.”
Imam Ali as berkata, “Tenanglah! Demi Allah! Bila penghuni bumi ini
memusuhiku karena talang ini, maka dengan kekuatan ilahi, aku akan
bertahan dan tidak mengizinkannya menyakitimu.”
Abbas mencium dahinya Imam Ali dan berkata, “Tidak akan berputus asa seseorang bila engkau sebagai penolongnya.”
Siapakah Malaikat Ini!
Rasulullah Saw berkata, “Malam ketika aku pergi ke Mi’raj, saya melihat
seorang malaikat duduk di atas mimbar cahaya dan para malaikat lainnya
berkerumun mengelilinginya. Aku bertanya, “Hai Jibril! Siapakah malaikat
ini?” Dia berkata, “Mendekatlah dan ucapkan salam kepadanya! Kemudian
aku mendekat, ternyata dia adalah saudaraku dan anak pamanku; Ali.
Kemudian akau bertanya lagi, “Hai Jibril! Apakah dia mendahuluiku untuk
sampai ke langit tingkat empat? Dia menjawab, “Tidak. Para malaikat
benar-benar mencintai Ali bin Abi Thalib dan Allah menciptakan malaikat
ini dari cahaya dan seperti Ali. Para malaikat setiap malam dan hari
Jumat menziarahinya sebanyak tujuh ratus kali, membaca tasbih
[subhanallah] dan menghadiahkan pahalanya kepada para pecinta Ali as.”
Malam Itu Ali Mengorbankan Dirinya Untuk Nabi
Keberanian Rasulullah Saw dalam menyebarkan agama Islam dan bergabungnya
masyarakat Mekah membuat sempit arena para pemuka Quraisy sebagai
kabilah yang paling berpengaruh. Sehingga keberadaan Rasulullah sangat
berbahaya bagi mereka. Itulah mengapa mereka berkumpul di suatu tempat
yang bernama “Darunnadwah” untuk mencari jalan keluar. Mereka memutuskan
untuk membunuh Rasulullah. Supaya aman dari reaksi para sahabat
Rasulullah Saw dan tidak ketahuan siapa yang membunuhnya, mereka memilih
satu orang dari setiap kabilah dan menyerang dan membunuh Rasulullah
Saw di malam hari.
Allah memberitahu Rasulullah Saw akan konspirasi ini dan memerintahkan
beliau untuk keluar dari Mekah dan bergerak menuju ke Yatsrib. Yatsrib
adalah kota yang kemudian diberi nama Madinah setelah hijrahnya
Rasulullah bersama para sahabatnya ke sana.
Rasulullah menyampaikan pesan Allah ini kepada Sayidina Ali dan beliau
siap untuk tidur di tempat tidur Rasulullah Saw. Sehingga mereka
beranggapan bahwa Rasulullah Saw berada di rumah dan tidak ada yang tahu
kepergian beliau.
Rasulullah Saw mendoakan Sayidina Ali dan memohon agar Allah menjaganya.
Malam yang gelap dan penuh bahaya telah tiba. Para petugas pembunuhan
Rasulullah Saw mengepung rumah beliau tanpa tahu bahwa Rasulullah Saw
telah pergi ke Madinah secara sembunyi-sembunyi.
Waktu sahar orang-orang Musyrik menyerang rumah Rasulullah. Dengan
takjub mereka melihat Sayidina Ali berada di atas tempat tidur
Rasulullah dan Rasulullah sendiri tidak ada.
Mereka yang saat itu terkecoh bertanya, “Muhammad di mana? Apa yang kau lakukan di rumah Muhammad?”
Sayidina Ali menjawab, “Memangnya kalian menyerahkannya padaku sehingga kalian menanyakan beliau kepadaku?”
Tanpa diragukan, keberanian Sayidina Ali ini telah mencegah kekalahan
Islam dan pengorbanan ini adalah penyelamat jiwa Rasulullah Saw.
Allah dalam al-Quran memuji keberanian ini seraya berfirman:
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena
mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada
hamba-hamba-Nya. (QS. Baqarah: 207)
AKU LEBIH CERDAS DARI MUAWIYAH
pengarang : Emi Nur Hayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Ali as
Sekelompok orang menyindir Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib dan
berkata, “Hai Ali! Engkau menilai dirimu cerdik, padahal Muawiyah lebih
cerdik darimu dan lebih sukses dalam menarik hati masyarakat. Saat ini
orang-orang kuat dan dan politikus seperti Amr bin Ash ada di sisi
Muawiyah. Dia yang memberikan pengarahan kepada Muawiyah dan membantunya
saat menemui kesulitan...”
Imam Ali berkata, “Hai orang-orang jahil! Demi Allah! Kalian tidak
mengenalku juga tidak mengenal Muawiyah. Dia itu bermuka dua, pelanggar
janji, dan pendosa dan untuk mengokohkan pilar-pilar kekuasaannya
melakukan segala kezaliman. Demi Allah! Bila melanggar janji bukan hal
yang buruk, bila tidak ada rasa takut pada Allah, maka aku lebih cerdik
dan lebih berpolitik darinya...”
Jangan memaki musuh
Salah satu konspirasi yang dilakukan musuh di masa kekhilafahan Imam
Ali adalah mereka menuduh beliau sebagai penyulut peperangan. Mereka
mengatakan, “Untuk menjaga kekuasaannya, Ali siap menyulut peperangan
dan mengalirkan darah saudara seagamanya. Namun Imam Ali dengan amalnya
menunjukkan sebaliknya dari klaim ini kepada para musuh bahkan keada
para sahabatnya sendiri.
Sebagai contoh, dalam perang Shiffin telah sampai ke telinga beliau
bahwa sebagian sahabatnya yang ikut dalam perang memaki warga Syam yang
berperang lawan mereka. Imam Ali pergi ke tengah-tengah para sahabatnya
dan berkata, “Saya tidak suka kalian memaki para musuh kalian. Sebagai
ganti memaki, doakanlah mereka dan sampaikan kepada Allah: Ya Allah!
Selamatkanlah kami dan mereka dari kematian dan damaikanlah di antara
kami dan mereka dan selamatkanlah mereka dari kesesatan...” supaya
mereka yang tahu akan kebenaran, jadi mengenal kebenaran dan mereka yang
pergi untuk memusuhi, tidak jadi.”
Jangan Susahkan Diri Kalian Karena Aku
Imam Ali as tidak suka menganggap dirinya lebih hebat dari orang
lain. Dari sisi lain, beliau juga tidak suka orang lain menganggap
beliau lebih hebat dari mereka.
Suatu hari Imam Ali melewati kota Anbar dekat Bagdad. Ketika para
petani mendengar kabar masuknya beliau ke kota ini, mereka meninggalkan
sawahnya dan menyambut Imam Ali. Kepada mereka Imam Ali berkata,
“Mengapa kalian melakukan hal ini?!”
Para petani berkata, “Kami terbiasa menghormati para pemimpin dan
pembesar kami. Begitu kami mendengar Anda bermaksud pergi ke Syam dan
melewati kota kami, kami datang untuk menyambut Anda dan membuktikan
kesetiaan kami.”
Imam Ali berkata, “Demi Allah! Para pemimpin kalian tidak memerlukan
semua ini. Dengan sikap ini di dunia kalian telah merepotkan diri kalian
dan dan merusak akhirat kalian. Tidak ada yang lebih buruk dari
kesulitan yang akibatnya adalah siksaan dan tidak ada sesuatu yang lebih
menguntungkan dari kenyamanan, yang menyelamatkan kalian dari api
neraka.”
Membela Hak-Hak Umat Islam
Meskipun Imam Ali seorang lelaki yang sangat penuh kasih sayang dan
pemaaf, namun ketika berkaitan dengan hak masyarakat, atau sebuah hak
diinjak-injak dan seorang mukmin dizalimi, maka beliau tidak akan
memaafkan dan akan menindaknya dengan keras.
Suatu hari “Saudah” putri Ammar Yasir sahabat Rasulullah Saw dan
sahabat Imam Ali as pergi ke Istana Muawiyah. Sebelum Muawiyah bertanya
kepada Saudah, untuk apa dia datang kepadanya, Muawiyah menyalahkan
Saudah karena kesetiaannya kepada Amirul Mukminin dan dan usahanya dalam
perang Shiffin. Kemudian baru bertanya, “Untuk apa engkau datang ke
sini?”
Saudah berkata, “Hai Muawiyah! Allah akan meminta
pertanggungjawabanmu karena engkau menginjak-injak hak-hak kami. Engkau
selalu mengirim para gubernur kepada kami untuk menzalimi kami dan
menekan jiwa kami. Sekarang engkau menjadikan seseorang sebagai penguasa
dan dia membunuh para lelaki kami dan menjarah harta kekayaan kami.
Bila engkau sendiri mau memecatnya, akan lebih baik. Tapi bila tidak,
maka kami akan bangkit melawannya!
Melihat keberanian wanita itu, Muawiyah keheranan dan berkata,
“Engkau menakut-nakuti aku dari kabilahmu sendiri? Aku akan mengirim
engkau kepada Busr, penguasa yang ada supaya engkau disiksa sesuka
hatinya.”
Saudah diam sejenak. Kemudian dengan suara lantang berkata, “Salam
Allah untuk orang yang tidur di dalam kuburan dan dengan kematiannya,
keadilan juga telah terkubur. Dia adalah simbol kebenaran dan kejujuran
dan tidak menukar kebenaran dengan apapun.”
Muawiyah tahu siapa yang dimaksud oleh Saudah. Hanya saya dia
pura-pura tidak tahu dan berkata, “Siapakah yang engkau maksudkan?”
Saudah menjawab, “Ali bin Abi Thalib!”
Kemudian dia melanjutkan, “Aku masih ingat, suatu hari aku datang
kepadanya dan mengeluhkan para petugas yang mengumpulkan zakat. Ketika
aku sampai kepadanya, beliau sedang mau mengerjakan salat. Namun begitu
beliau melihatku, tidak memulai salatnya dan dengan ramah dan penuh
kasih sayang berkata, “Apakah engkau ada urusan? Aku berkata, “Iya.” Dan
aku menyampaikan keluhanku. Beliau langsung menangis dan menghadap ke
langit seraya berkata, “Ya Allah! Engkau tahu dan menjadi saksi bahwa
aku tidak pernah memerintahkan lelaki ini untuk menzalimi
hamba-hamba-Mu!”
Kemudian beliau segera mengambil selembar kulit dan menulis kepada
petugas tersebut: “Setelah engkau membaca suratku, maka bersiap-siaplah,
sehingga aku utus seseorang untuk mengambil harta-harta yang ada
darimu.” Kemudian beliau memberikan surat itu kepadaku. Demi Allah!
Surat itu tidak ditutup juga tidak distempel. Aku memberikan surat itu
kepada petugas tersebut dan ketika ia sudah dipecat, dia pergi dari
sana...”
Muawiyah merasa malu setelah mendengar kisah ini dan terpaksa memerintahkan untuk menulis apa saja yang diinginkan Saudah.
KUCIUM KAKIMU!
diterjemahkan oleh Emi Nur Hayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Ali as
Banyak kisah yang menceritakan tentang keksatriaan Imam Ali as.
Antara lain kejadian dengan Amr bin Abdiwud dan semacamnya. Demikian
juga disebutkan bahwa dalam salah satu perang. Lawan Imam Ali tertarik
pada pedang beliau. Dia berkata kepada Imam Ali, “Hai Ali engkau punya
pedang yang bagus dan enak dipegang. Setiap ahli perang pasti
menginginkan pedang seperti pedangmu...”
Mendengar ucapan ini Imam Ali segera melemparkan pedangnya ke arah dia dan berkata, “Pedang ini milikmu!”
Lelaki itu merasa takjub dan tidak percaya seraya berkata, “Apakah di
saat pertempuran Engkau memberikan pedangmu kepada musuhmu?”
Imam Ali berkata, “Iya. Kau telah meminta sesuatu padaku. Oleh karena
itu, tidak ksatria bila ada seseorang meminta sesuatu padanya dan dia
tidak mau memberikannya kepada sang peminta.”
Lelaki ini terpengaruh oleh keagungan perilaku Imam Ali sehingga dia
menundukkan dirinya pada kaki Imam Ali dan berkata, “Yang menjadikan
Engkau besar dan ksatria adalah agama dan keyakinanmu. Untuk itu, aku
menerima agamamu dan aku akan mencium kakimu.”
Bersikap Ksatria di Hadapan Sikap Tidak Ksatria
Pasukan Imam Ali sampai di Shiffin [sebuah daerah di tepi sungai Dajlah,
perang Shiffin terjadi di daerah ini dan pasukan Islam berhasil memukul
telak musuh]. Beliau tahu bahwa para pasukan yang ada kelelahan dan
haus. Untuk itu, kepada para pasukannya Imam Ali berkata, “Bukalah jalan
itu supaya orang-orang yang haus menuju ke air dan menghilangkan rasa
hausnya.”
Padahal para pasukan Muawiyah yang terlebih dahulu sampai di sungai
Furat, mereka telah menutup jalan menuju Furat atas perintah Muawiyah.
Dan tidak mengizinkan para sahabat Imam Ali untuk menggunakan air Furat.
Imam Ali marah melihat sikap tidak ksatria Muawiyah. Beliau mengirim
utusan untuk menyampaikan ucapan kepada Muawiyah, “Pertengkaran dan
permusuhan kita ada di medan perang. Yang menang dan yang kalah akan
ditentukan di medan perang. Sekarang bukalah jalannya air supaya engkau
tidak terkenal sebagai orang yang tidak ksatria.”
Muawiyah bermusyawarah dengan para komandannya dan hasilnya adalah tidak
membuka jalan air. Agar barangkali para pasukan Imam Ali mengurungkan
niatnya dari berperang karena kehausan dan kelemahan yang parah atau
bila perang terjadi, kehausan akan menjadi sebab kekalahan mereka. Namun
Amr bin Ash berkata, “Bukalah jalannya air, karena bila kalian tidak
melakukan hal ini, maka mereka akan mengambilnya dengan paksa dan kalian
akan terhina dan rendah.”
Muawiyah tidak menerima usulan Amr bin Ash. Salah seorang pasukan
Muawiyah berkata, “Bila orang-orang Kafir Romawi meminta air kepada
kita, maka kita wajib untuk memenuhi permintaan mereka. Apalgi ini para
sahabat Rasulullah dan anak-anak beliau ada di sini. Jangan sampai
mereka tidak diberi air.”
Muawiyah tidak menerima.
Malam itu para pasukan Imam Ali menahan haus sampai pagi. Namun kehausan
membuat mereka kehabisan tenaga. Imam Ali berkata, “Sebelum terlambat,
seranglah pasukan Muawiyah dan ambillah air!”
Para pasukan Imam Ali menyerang para pasukan Muawiyah dan berhasil
mengambil air. Amr bin Ash berkata kepada Muawiyah, “Aku sudah berkata
kepadamu, Ali akan mengambil air dan kita akan terhina.”
Muawiyah berkata, “Celakalah kita! Ali akan menutup air dan kita akan mati kehausan!”
Amr bin Ash berkata, “Tidak. Dia adalah seorang pemaaf dan ksatria. Yakinlah bahwa dia tidak akan menutup jalannya air.
Dan kenyataannya, kata-kata Amr bin Ash benar. Imam Ali tetap membuka
jalannya air supaya siapa saja yang memerlukan, bisa menggunakannya.
Hukuman Sebelum Kejahatan, Jangan Pernah!
Thalhah dan Zubair adalah sahabat Rasulullah Saw. Keduanya ikut serta
di pelbagai peperangan bersama Rasulullah Saw. Namun kesombongannya
membuat keduanya di zaman khilafah Imam Ali berada di barisan musuh
Imam.
Perselisihan dan permusuhan keduanya dengan Amirul Mukminin bermula
ketika Imam Ali as terpaksa harus menerima jabatan khalifah dan
masyarakat berbaiat kepadanya.
Thalhah dan Zubair mengirim pesan kepada Imam Ali, mengapa ketika menerima khilafah tidak bermusyawarah dengannya.
Kemudian keduanya menemui Imam Ali dan berkata, “Kami akan berbaiat
kepadamu dengan syarat Engkau menyertakan kami dalam khilafahmu!”
Alhasil, permusuhan mereka terhadap Imam Ali mencapai puncaknya. Suatu
hari salah satu intel Imam Ali membawa kabar bahwa Thalhah dan Zubair
sedang menyiapkan peperangan melawan Imam Ali.
Para sahabat Imam Ali berkata, “Wahai Ali! Waspadalah. Siapkan pasukan
untuk menyerang mereka. Mereka harus ditekan sebelum melakukan
konspirasi atau kirimlah seseorang untuk memberangusnya secara
sembunyi-sembunyi. Supaya api fitnah mereka padam sebelum berkobar.
Namun Imam Ali berkata, “Jangan pernah! Saya takut kepada Allah untuk
melakukan hukuman sebelum kejahatan. Bila keduanya secara
terang-terangan menyerang kita, maka kita akan berperang melawan mereka
dan akan kita potong tangan mereka.”
Kemudian dalam beberapa waktu ke depan, Thalhah dan Zubair dengan
diketuai Aisyah menciptakan perang Jamal melawan Imam Ali dan ketahuan
bahwa kabar yang dibawa intel itu benar.
MENGGANTI KERUGIAN SAMPAI PADA HAL-HAL SEPELEH
pengarang : Emi Nur Hayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Nabi Muhammad Saw.
Ketika Khalid dan para pesertanya sampai pada kabilah ini, mereka
menerima ajakan Rasulullah dan mengatakan, “Sebelum ini kami telah
menulis surat untuk kami berikan kepada Rasulullah dan kami sampaikan
bahwa kami menerima perintah Allah.”
Namun Khalid tidak mempedulikan ucapan warga kabilah ini dan keesokan
harinya setelah melakukan shalat subuh, Khalid memerintahkan para
pesertanya untuk menyerang mereka. Dalam serangan ini sejumlah warga
terbunuh dan para peserta Khalid merampok harta kekayaan mereka dan
kembali kepada Rasulullah dengan merasa menang.
Ketika Rasulullah mengetahui peristiwa yang terjadi, dengan hati yang
hancur dan wajah bersedih beliau menghadap kiblat seraya berkata, “Ya
Allah! Aku berlepas tangan dari perbuatan Khalid ini. Engkau sendiri
tahu bahwa aku tidak memberikan perintah kepadanya untuk membunuh secara
massal orang-orang yang tidak berdosa...”
Setelah itu beliau memanggil Sayidina Ali dan kepadanya beliau
mengatakan, “Segeralah pergi ke kabilah Bani Khuzaimah dan mintalah maaf
kepada mereka dan mintalah kerelaan kepada mereka. Jangan kembali
kepadaku sebelum engkau selesai menebus kesalahan Khalid.
Sayidina Ali melaksanakan perintah Rasulullah Saw dan setelah beberapa lama kembali lagi kepada beliau.
Kepadanya Rasulullah Saw berkata, “Hai Ali, apa yang engkau lakukan?”
Sayidina Ali berkata, “Wahai Rasulullah! Saya telah membayar denda
untuk setiap darah yang tumpah dari mereka. Bahkan saya juga membayar
denda untuk janin-janin mereka yang gugur. Karena dana yang saya bawa
masih tersisa banyak, saya juga membayar denda untuk mangkok anjing
mereka yang pecah dan benang alat pel mereka yang patah. Dari dana
tersebut masih juga ada sisanya banyak, sehingga saya memberikan uang
tersebut untuk rasa ketakutan yang ada pada hati mereka. Itupun masih
ada lagi sisanya dan saya menetapkan sejumlah uang untuk kerugian yang
terlihat mata ataupun yang tidak terlihat mata. Dan masih saja ada
sisanya, untuk itu saya memberikan banyak uang kepada mereka agar mereka
rela kepada Anda.”
Rasulullah Saw bersabda, “Hai Ali! Semoga Allah juga meridhaimu! Hai
Ali! Ketahuilah bahwa kaitanmu dengan diriku bagaikan kaitan Harun pada
Musa, hanya saja setelahku tidak akan ada lagi seorang nabi.”
AKIBAT MENGHINA IMAM ALI AS!
pengarang : terjemahan soleh lapadi
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Ali as
Sekelompok orang berkumpul di sebuah tempat di kota Madinah dan membuat suara gaduh. Seseorang yang sedang berada di atas kuda dengan suara keras mencaci Ali as.
Saad bin Abi Waqqash tiba di tempat itu dan bertanya,
“Siapa pria sombong yang mencaci-maki seperti ini?” Pria itu tidak mempedulikan kehadiran dan pertanyaan
Saad bin Waqqash dan tetap melanjutkan caciannya.
Dengan nada marah, Saad bin Waqqash berkata, “Wahai pria! Mengapa engkau mengumpat Amirul Mukminin? Bukankah Ali adalah orang pertama yang memeluk Islam?
Bukankah Ali merupakan orang pertama yang melakukan salat bersama Rasulullah Saw? Bukankah ia orang paling zuhud? Bukankah ia orang paling pandai? Apakah ia bukan menantu Rasulullah?”
Setelah itu Saad berdiri menghadap kiblat dan mengangkat tangannya lalu berkata, “Ya Allah! Pria ini telah mencaci satu dari wali-Mu... Ya Allah! Sebelum orang-orang yang ada ini kembali ke rumahnya masing-masing, tunjukkan kekuasaan-Mu kepada mereka!”
Waktu itu juga tiba-tiba kuda pria itu menjadi liar dan bergerak sedemikian rupa sehingga pria itu terjatuh dari kudanya dan kepalanya terbentur batu lalu meninggal seketika.
JARAK ANTARA KEBENARAN DAN KEBATILAN
pengarang : terjemahan Saleh Lapadi
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Ali as
Ucapan para Imam as semuanya mengandung ilmu dan pencerahan,
sehingga siapa saja yang mendengarkan ucapan mereka akan bertanya
bagaimana mungkin seorang manusia dapat berbicara sedemikian indahnya
dan pada saat yang sama memiliki pengaruh luar biasa. Selain itu, ilmu
yang terkandung dalam ucapan mereka sangat dalam dan luas.
Tentu saja jawaban atas pernyataan semacam ini sangat mudah dan
jelas. Para Imam Maksum as dikarenakan mereka senantiasa bersandar pada
sumber ilmu yang tak terbatas, yaitu Allah Swt.
Satu dari ucapan indah dan penuh makna yang keluar dari lisan mubarak
Imam Ali as disampaikannya dihadapan mereka yang ikut melaksanakan
salat berjamaah dengannya. Waktu itu beliau berdiri di atas mimbar dan
berbicara tentang mengikuti kebenaran dan menolak kebatilan. Beliau
berusaha agar apa yang akan disampaikannya diingat oleh masyarakat dan
mengamalkannya.
Imam Ali as berkata, “Wahai masyarakat! Hendaknya kalian merasa malu
membicarakan keburukan saudara muslim kalian dan berbicara di
belakangnya... Ketahuilah bahwa jarak antara kebenaran dan kebatilan
hanya empat jari.”
Seorang yang hadir bertanya, “Wahai Ali! Bagaimana bisa jarak antara kebenaran dan kebatilan tidak lebih dari empat jari?”
Imam Ali as memang sejak awal menanti pertanyaan itu lalu meletakkan
empat jarinya di antara telinga dan matanya. Setelah itu beliau berkata,
“Kebatilan adalah ketika Anda mengatakan ‘Saya mendengar’ dan kebenaran
adalah ketika Anda mengatakan, ‘Saya melihat’.”
ALI BIN ABI THALIB DAN ANAK YATIM
pengarang : Mirza R. Silatama
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Ali as
Seorang perempuan tua dengan fisik yang lemah sedang mengangkat
tempat air besar. Dengan terseok-seok dan napas yang terengah-engah
perempuan tua itu melangkah menuju rumahnya. Tiba-tiba ada seorang pria
tak dikenal mendekatinya dan menawarkan untuk membawakan tempat air yang
berat itu. Perempuan tua itu menggerakkan bibirnya dan berterima kasih
kepada Allah Swt. Ia kemudian berkata pada pria yang tak dikenal itu,
“Allah mengirim engkau untuk menolongku. Insya Allah, engkau akan
mendapatkan pahala dari perbuatanmu ini dari Allah.”
Rumah perempuan tua itu tidak terlalu jauh. Ketika sampai, perempuan
tua itu membukakan pintu. Anak-anaknya yang masih kecil begitu gembira
setelah tahu ibu mereka telah kembali. Tapi rasa ingin tahu membuat
mereka bertanya-tanya siapa orang asing ini.
Pria tak dikenal itu kemudian meletakkan tempat air di tanah dan
bertanya kepada perempuan itu, “Jelas bahwa tidak ada pria di rumah ini,
sehingga engkau sendiri yang mengangkat air. Apa yang terjadi sehingga
engkau tinggal sendiri?”
Perempuan itu menarik napas panjang dan berkata, “Suamiku dulunya
adalah seorang pejuang. Ia berperang bersama Ali bin Abi Thalib dalam
sebuah perang dan di sana ia meninggal. Ia meninggalkan saya dengan
beberapa orang anak.”
Mendengar ucapan perempuan tua, pria tak dikenal itu tidak dapat
berkata apa-apa. Tapi dari wajahnya terlihat ia begitu sedih. Ia hanya
bisa menundukkan kepala, kemudian meminta diri dan pergi dari situ. Tapi
tidak berapa lama ia kembali ke sana sambil membawa sejumlah makanan.
Perempuan tua itu mengambil makanan dari pria tak dikenal itu dan berkata, “Semoga Allah meridhaimu!”
Pria asing itu berkata, “Saya ingin membantu pekerjaanmu. Perkenankan
saya membuat adonan roti, membakarnya atau menjaga anak-anak ini.”
Perempuan itu berkata, “Baiklah! Jelas saya lebih baik dalam membuat
adonan roti dan membakarnya. Engkau mengawasi anak-anak, sampai aku
selesai membakar roti.”
Pria asing itu menerima dan pergi menemui anak-anak itu. Tapi sebelum
itu ia menghampiri bungkusan yang dibawanya dan mengambil daging lalu
membakarnya. Setelah matang, dengan sabar ia menyuapi anak-anak itu. Ia
berkata, “Anak-anakku! Relakanlah Ali bin Abi Thalib, bila ada
kekurangan yang dilakukan terkait kalian… Anak-anakku! Relakan Ali bin
Abi Thalib…”
Adonan roti telah siap. Perempuan tua itu berkata, “Wahai hamba Allah! Nyalakan api untuk membakar roti ini…”
Pria itu beranjak dari tempatnya dan pergi untuk menyalakan api.
Tungku telah menyala. Air mata telah menggenang di pelupuk mata pria
asing itu. Ia kemudian mendekatkan wajahnya ke api sambil berkata,
“Rasakan panasnya api! Inilah balasan orang yang tidak mengurusi
anak-anak yatim dengan baik dan tidak tahu kondisi para wanita yang
menjanda…”
Pada waktu itu, ada tetangga perempuan yang rumahnya bersebelahan
dengan perempuan tua itu datang ke rumahnya. Ketika ia melihat pria tak
dikenal itu, dengan segera ia menghadapi perempuan tua itu dan berkata,
“Celakalah engkau! Tahukah siapa pria yang engkau perbantukan ini?”
Perempuan tua itu terkejut dan berkata, “Tidak. Saya tidak
mengenalnya. Ketika hendak kembali ke rumah saya bertemu dengan dia dan
langsung menawarkan diri untuk membantu saya.”
Tetangganya berkata, “Pria itu adalah Ali bin Abi Thalib, Amir al-Mukminin!”
Begitu mengetahui pria asing yang membantunya adalah Ali bin Abi
Thalib, perempuan tua itu langsung menundukkan wajahnya. Perlahan-lahan
ia mendekati pria itu dan berkata, “Wahai pria penolong! Maafkan saya
yang tidak mengenalmu dan memintamu untuk membantuku.”
Imam Ali berkata, “Tidak! Saya yang harus meminta maaf kepadamu.
Karena saya tidak melaksanakan kewajibanku dengan baik kepadamu dan
anak-anak yatim ini.”
Setelah itu, Imam Ali secara berkala mendatangi rumah perempuan tua
itu dan menanyakan keadaan mereka, sambil membantu makanan dan uang
sesuai kemampuan beliau kepada mereka.
ALLAH MERINDUKAN PERTEMUAN DENGANMU
pengarang : Emi Nur Hayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Nabi Muhammad Saw
Di Akhir usianya, Rasulullah Saw sakit parah dan akibatnya adalah
beliau meninggal dunia. tiga hari sebelum wafat, Jibril datang menemui
beliau dan berkata, “Hai Ahmad! Allah mengutusku kepadamu untuk
menyampaikan salam-Nya dan kukatakan bahwa Dia mengetahui kondisimu.”
Tapi sekarang katakan bagaimana dengan kondisimu sendiri?
Rasulullah Saw berkata, “Hai Jibril, aku sedih dan suntuk.”
Tiga hari kemudian [di detik-detik terakhir usianya] Jibril datang
menemui Rasulullah bersama Izrail dan seorang malaikat bernama Ismail
dan tujuh puluh ribu malaikan lainnya. Jibril berkata, “Hai Ahmad, aku
diutus Allah kepadamu untuk menyampaikan salam-Nya kepadamu dan
kukatakan bahwa Dia mengetahui kondisimu. Tapi sekarang katakan
bagaimana dengan kondisimu sendiri?
Rasulullah Saw berkata, “Hai Jibril, aku sedih dan suntuk.”
Jibril berkata, “Hai Ahmad, ini adalah malaikat maut. Dia datang
untuk mengambil nyawamu dan dia meminta izin kepadamu. Padahal selama
ini dia tidak pernah meminta izin kepada seseorang untuk mengambil
nyawanya. Setelah ini juga tidak akan meminta izin kepada siapapun.”
Jibril memberikan izin kepada Izrail dan Izrail maju dan berdiri di
depan Rasulullah Saw seraya berkata, “Hai Ahmad, Allah telah mengutusku
kepadamu dan Dia memerintahkanku untuk menjalankan perintahmu. Bila
engkau mengizinkan, maka akan aku bawa ruhmu. Bila tidak, maka aku tidak
akan melakukannya.”
Kemudian Jibril berkata, “Hai Ahmad, Allah merindukan pertemuan denganmu.”
Rasulullah Saw tersenyum dan dengan gembira berkata, “Hai malaikat maut, Lalukanlah apa yang diperintahkan kepadamu!”
SALAM DARI SURGA
pengarang : Emi Nur Hayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Nabi Muhammad Saw
Agama Islam sangat memperhatikan adab pergaulan. Rasulullah
senantiasa mengatakan, “Bila dua orang muslim berjumpa atau masuk pada
sebuah perkumpulan sebaiknya mengucapkan salam. Supaya rajutan kasih
sayang semakin kokoh di antara mereka.”
Dan di tempat lain beliau bersabda, “Mengucapkan salam bisa
menjauhkan seseorang dari takabbur [kesombongan]...Bila ada seseorang
mengucapkan salam maka yang orang yang dituju hendaknya menjawab dengan
intonasi yang lebih baik...”
Tentunya terkait mengucapkan salam ada banyak hadis dan riwayat dan
salah satunya adalah “Mengucapkan salam hukumnya sunnah dan menjawabnya
wajib...”
Di hari-hari pertama pengutusan kenabian, masyarakat ketika berjumpa
dengan yang lainnya, mengucapkan selamat pagi, selamat sore dan selamat
malam. Sampai ketika Rasulullah Saw mendatangi mereka dan mengatakan,
“Jibril turun kepadaku dan menyampaikan ucapan Allah seraya berkata,
“Jangan mengucapkan salam dengan yang lain dengan cara tradisi
Jahiliyah.”
Kemudian bersabda, “Allah telah memberikan hadiah yang lebih baik
untuk kita dan memerintahkan kita untuk mengucapkan salam dengan yang
lain dengan cara para penghuni surga. Oleh karena itu, untuk
selanjutnya, ketika berjumpa dengan saudara-saudara seagama ucapkanlah
“Salamun ‘Alaikum” dan dengan mengucapkan salam dan jawabannya,
hadiahkan keselamatan pada saudara-saudara kalian!”
TIDAK ADA KERUGIAN DALAM ISLAM
pengarang : emi nurhayatai
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Imam Muhammad Baqir as
Zurarah menukil dari Imam Baqir as:
Seorang lelaki memiliki sebuah pohon kurma di kebun salah satu orang
Anshar. Rumah orang Anshar ini ada di permulaan kebun. Sedangkan lelaki
pemilik pohon kurma ini tidak pernah meminta izin setiap kali
mengunjungi pohon kurmanya. Orang Anshar ini meminta agar dia meminta
izin terlebih dahulu setiap kali ingin masuk ke dalam kebun. Namun
pemilik pohon kurma ini tidak menghiraukannya dan masuk dengan tanpa
izin.
Orang Anshar ini mengadukan masalahnya kepada Rasulullah Saw.
Rasulullah Saw menyampaikan pengaduan orang Anshar ini dan
memerintahkan, “Kapan saja engkau ingin masuk ke dalam kebun, mintalah
izin terlebih dahulu.”
Namun pemilik pohon kurma menolak.
Rasulullah Saw berkata, “Kalau begitu, juallah pohonmu.” Beliau
menawarkan harga yang tinggi, tapi lelaki pemilik pohon ini tidak mau.
Rasulullah terus menaikkan harganya dan lelaki ini tetap tidak mau
menerima. Sampai akhirnya Rasulullah berkata, “Sebagai gantinya pohon
ini aku menjamin engkau dengan sebuah pohon di surga.”
Namun lelaki ini tetap saja tidak mau.
Akhirnya Rasulullah Saw berkata, “Hai lelaki Anshar, tebanglah pohon
itu dan jatuhkan di sisinya. Dalam Islam tidak ada kerugian dan juga
tidak ada perilaku merugikan.”
JENIS KEMATIAN YANG PALING BURUK
pengarang : Emi Nur Hayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Nabi Muhammad Saw.
Sayidina Ali mengalami sakit mata. Saking sakitnya beliau harus
berbaring istirahat dan merasakan kesakitan. Rasulullah mendengar kabar
bahwa Sayidina Ali sedang sakit. Kemudian beliau menjenguk Sayidina Ali.
Karena beliau menyaksikan rintihan Sayidina Ali, beliau berkata, “Hai
Ali! Engkau sedang tidak tahan. Sepertinya sakitmu sangat parah.”
Sayidina Ali berkata, “Iya. Selama ini saya tidak pernah merasakan sakit seperti ini.”
Rasulullah Saw berkata, “Maukah aku ceritakan padamu tentang sebuah kenyataan yang lebih sakit dari sakit semacam ini?”
Sayidina Ali penasaran dan mengatakan, “Iya. Saya akan mendengarkan ucapan Anda dengan baik.”
Kemudian Rasulullah Saw berkata, “Ketika malaikat maut datang untuk
mencabut nyawa orang yang fasik [pendosa], ia membawa tusuk besi panas.
Dengan tusuk besi panas itu ia memisahkan ruh dari badannya. Kemudian,
neraka teriak untuk menelannya.
Mendengar ucapan ini Sayidina Ali serentak bangun dan duduk di atas
tempat tidur dan melupakan rasa sakitnya seraya berkata, “Apakah dari
umat Anda, ada juga orang-orang yang mati demikian?”
Rasulullah Saw berkata, “Iya. Ada tiga kelompok orang yang mati
demikian; Penguasa zalim, orang yang makan harta anak yatim dan orang
yang bersaksi bohong.”
Ummu Salamah! Mengapa Engkau Menangis?!
Ummu Salamah istri Rasulullah Saw berkata, “Sekali di pertengahan
malam saya terbangun dari tidur dan saya melihat Rasulullah tidak ada di
tempat tidur. Dari suara munajatnya, saya tahu bahwa beliau sedang
duduk di sudut ruangan sedang berbicara dengan Allah Swt. Menyaksikan
kondisi spiritual ini saya merasa nyaman. Beliau dengan suaranya yang
menyentuh, bermunajat kepada Allah seraya berkata, “Ya Allah! Jangan
Engkau kembalikan aku pada keburukan yang Engkau bebaskan aku darinya.
Ya Allah! Jangan Engkau jadikan aku sebagai orang yang menyenangkan
musuh. Ya Allah! Jangan Engkau serahkan aku pada diriku sendiri meski
hanya sekejap mata...”
Lantunan munajat Rasulullah sedemikian rupa sehingga membuatku
menangis. Mendengar tangisan saya, Rasulullah menghentikan ibadahnya dan
berkata, “Ummu Salamah! Mengapa Engkau menangis?!”
Saya berkata, “Ketika Anda bermunajat demikian, dan memohon kepada
Allah agar tidak menyerahkan Anda pada diri Anda meski hanya sekejap
mata, bagaimana dengan kami?!”
Beliau bersabda, “Iya. Demikianlah aku harus senantiasa memohon
kepada Allah. Karena begitu Allah menyerahkan Yunus kepada dirinya
sendiri, ia telah merugi dan kejadian itu terjadi padanya.”
Lelaki Dari Surga
Suatu hari para sahabat Rasulullah Saw duduk bersama beliau.
Rasulullah Saw bersabda, “Sekarang seorang lelaki dari surga akan datang
kepada kita.”
Para sahabat penasaran dan melihat ke arah jalan. Seorang lelaki yang
bersih dan rapi yang telah berwudhu datang mendekat. Para sahabat
Rasulullah Saw berkata, “Maksudnya Rasulullah adalah orang lelaki ini?!”
Keesokan harinya, para sahabat Rasulullah kembali duduk bersama
beliau. Rasulullah Saw berkata, “Sekarang seorang lelaki dari surga
sedang menuju kepada kita.”
Kali ini mereka juga melihat ke arah jalan. Sebentar kemudian, mereka
melihat seorang lelaki yang kemarin itu, datang dan mengucapkan salam.
Hari ketiga, kejadian ini terulang kembali dan lelaki tersebut datang
menemui Rasulullah Saw. Abdullah anaknya Amr bin Ash bangkit dan
berkata kepada lelaki tersebut, “Hai lelaki! Aku meminta sesuatu
kepadamu, semoga engkau mau menerima.”
Lelaki itu menjawab, “Katakan apa saja permintaanmu.”
Abdullah berkata, “Tanpa engkau harus penasaran, izinkan aku bersamamu untuk beberapa hari.”
Lelaki itu menerima dan Abdullah bersamanya selama tiga hari.
Abdullah mengujinya dan tahu bahwa lelaki ini seperti orang-orang
lainnya dan berbeda dengan harapannya, tidak bangun malam untuk salat
tahajud. Hanya bangun di waktu subuh untuk mengerjakan salat subuh.
Ibadahnya biasa dan tidak ada keistimewaan tersendiri. Itulah mengapa
kepadanya Abdullah berkata, “Hai lelaki! Rasulullah menyebutmu sebagai
lelaki surga. Aku penasaran; ingin menyaksikan ibadah-ibadahmu dari
dekat. Aku ingin tahu, engkau punya kelebihan apa yang membuatmu menjadi
penghuni surga. Namun dalam beberapa hari ini aku tidak melihat sesuatu
yang luar biasa dan khas pada dirimu. Sekarang katakan, bagaimana
Rasulullah menilaimu sebagai ahli surga?!
Lelaki itu berkata, “Rahasia aku menjadi ahli surga tidak pada apa
yang engkau cari. Aku adalah seorang lelaki yang tidak pernah
mengkhianati siapapun dari orang muslim dan tidak pernah hasud pada
siapapun yang diberi nikmat yang banyak oleh Allah.”
Abdullah berkata, “Iya. Kelebihan inilah yang menjadikan engkau
sebagai ahli surga. Engkau memiliki sifat dimana kami tidak mampu untuk
mendapatkannya.
PENGANTIN LELAKI MISKIN, PENGANTIN WANITA KAYA
pengarang : emi nurhayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Nabi Muhammad Saw.
Juwaibir adalah salah satu Ashhah Shuffah; seorang lelaki pendek, berkulit hitam, dengan penambilan gembel. Suatu hari Rasulullah Saw kepada Juwaibir berkata, “Mengapa Engkau tidak menikah dan merapikan hidupmu?”
Juwaibir berkata, “Wahai Rasulullah! Saya adalah lelaki miskin, jelek, dan beperawakan buruk. Siapa yang mau menikahkan putrinya kepada saya?!”
Rasulullah Saw berkata, “Allah Swt telah mengganti nilai seseorang melalui Islam. Banyak orang di masa jahiliyah termasuk orang-orang yang terhormat dan Islam telah menurunkan nilai mereka dan sebaliknya, banyak orang yang hina dan tidak seberapa dan Islam telah memberikan nilai kepada mereka.”
Kemudian beliau berkata, “Pergi temuilah Ziyad bin Lubaid salah seorang saudagar kaya dan berpengaruh Madinah dan pinanglah putrinya!”
Juwaibir yang keheranan, dengan rasa tidak percaya pergi mendatangi Ziyad dan menyampaikan keinginan Rasulullah Saw. Ziyad berkata, “Adat istiadat kami adalah menikahkan putri-putri kami dengan lelaki sesama suku dan yang selevel dengan kami.”
Kabar ini sampai ke telinga Rasulullah Saw. Rasulullah Saw berkata, “Semua umat Islam selevel dan sederajat kecuali mereka yang lebih bertakwa.”
Ziyad berkata, “Terserah Anda. Kami akan melaksanakan apa saja yang Anda perintahkan.”
Kemudian Ziyad membeli sebuah rumah yang bagus untuk Juwaibir dan putrinya dan mengadakan acara pernikahan besar-besaran. Juwaibir tidak percaya bahwa suatu hari dirinya akan mendapatkan semua posisi ini. Oleh karenanya, sebagai rasa syukur atas nikmat besar ini dia berpuasa selama tiga hari dan beribadah.
Kemudian Juwaibir termasuk bagian dari sahabat Rasulullah dan senantiasa berada di samping beliau sampai pada akhirnya dia mencapai syahadah di salah satu perang dan dia telah mencapai cita-citanya.
ALLAH TIDAK MELUPAKANMU!
pengarang : Emi Nur Hayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Nabi Muhammad Saw.
Beberapa waktu malaikat pembawa wahyu [Jibril] tidak turun kepada Rasulullah Saw dan tidak membawa pesan dari Allah untuk Rasulullah Saw.
Rasulullah Saw sedih dan tidak tahu mengapa Allah tidak menurunkan ayat. Para musuh Islam yang sedang menunggu kesempatan untuk mengejek Rasullah pun menemukan alasan. dengan tanpa malu mereka mengatakan,
“Hai Muhammad! Gimana dengan aturan-aturan langitmu?
Jangan-jangan guru yang mengajarkan semua ini kepadamu telah melupakan pengetahuannya dan tidak lagi mengasihimu?!
Yang lainnya mengatakan, “Muhammad! Tuhanmu telah melupakanmu; sedangkan kau selalu mengatakan bahwa Dia selalu mengingatmu?!
Hati Rasulullah merasa sakit oleh semua kekurangajaran ini. Sudah empat puluh hari Jibril tidak membawakan kalimat Allah untuk beliau. Rasulullah lambat laun berpikir bahwa ‘jangan-jangan dirinya telah berbuat sesuatu sehingga Allah murka padanya? Tapi tidak! Memangnya dirinya berbuat apa?
Kekangenan Rasullah melebihi kadarnya. Makin lama beliau semakin tidak tahan. Sampai akhirnya pada suatu malam beliau mendengar suara; suara yang dikenal dan seperti biasanya penuh kasih sayang dimana mengatakan,
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang. Demi matahari yang telah naik sepenggalahan. Dan demi malam apabila telah gelap.
Tuhanmu sama sekali tidak pernah meninggalkanmu dan tidak pernah pula membencimu. Dan sesungguhnya akhirat lebih baik bagimu daripada dunia. Dan Tuhanmu pasti akan memberikan karunia-Nya padamu sehingga engkau puas. Dan bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lantas melindungimu? Dan bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, kemudian memberikan petunjuk? Dan bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lantas memberikan kecukupan? Untuk itu, jangan berlaku sewenang-wenang terhadap [kasihanilah] anak yatim. Dan janganlah kamu menghardik [penuhilah] orang yang meminta-minta. Maka ingatlah nikmat Tuhanmu.” (QS. Ad-Dhuha)
KATAKANLAH PADAKU, APA YANG HARUS KULAKUKAN?
pengarang : emi nurhayati
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Nabi Muhammad Saw.
Rasulullah Saw bersabda, “Semoga Allah merahmatimu. Allah mencintai orang-orang yang bertaubat. Sekarang engkau bisa membeli seorang tawanan atau budak dan bebaskannlah di jalan Allah sebagai kaffarah [tebusan] dari dosa ini!”
Lelaki tersebut berkata, “Kondisi keuanganku krisis dan saya tidak bisa membeli seorang budak.”
Rasulullah bersabda, “Kalau begitu berpuasalah selama enam puluh hari berturut-turut!”
Lelaki tersebut berkata, “Saya tidak bisa berpuasa sebanyak ini.”
Rasulullah Saw bersabda, “Berilah makan kepada enam puluh orang miskin!”
Lelaki tersebut berkata, “Saya juga tidak punya kemampuan untuk melaksanakan hal ini.”
Rasulullah Saw diam sejenak. Seketika itu datang seorang lelaki menemui Rasulullah Saw dan memberikan sekeranjang kurma kepada beliau. Rasulullah Saw memberikan kurma itu kepada lelaki tersebut seraya bersabda, “Kalau begitu, bawalah kurma ini dan bagi-bagikan kepada orang-orang miskin!”
Lelaki tersebut berkata, “Wahai Rasulullah! Demi Allah, di kota ini tidak ada orang yang lebih miskin dariku.”
Rasulullah Saw tertawa dan bersabda, “Baiklah. Bawalah kurma ini ke rumahmu dan bagikan kepada istri dan anak-anakmu!”
12 DIRHAM PENUH BERKAH!
pengarang : terjemahan saleh lapadi
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Nabi Muhammad Saw.
Rasulullah Saw senantiasa memakai pakaian sederhana.
Dengan demikian, orang-orang miskin tidak merasa berbeda dan terhina berada di dekat beliau. Melihat pakaian sederhana Nabi Saw, mereka akan merasa beliau merupakan bagian dari kalangan mereka sendiri. Selain itu, pakaian sederhana membuat beliau lebih akrab dengan masyarakat. Nabi Saw memanfaatkan pakaiannya semaksimal mungkin, sehingga ketika tidak bisa lagi digunakan barulah memikirkan untuk membeli yang baru.
Hari itu Rasulullah Saw memberikan sejumlah uang kepada Ali as dan berkata, “Wahai Ali! Pergilah ke pasar dan belikan aku pakaian.”
Ali as menerima uang dari beliau dan langsung menuju pasar. Di sana Ali as membelikan pakaian seharga 12 dirham dan kembali menemui Nabi Saw. Menerima pakaian itu, beliau mengucapkan terima kasih dan berkata,
“Seandainya engkau membelikan aku baju yang lebih murah harganya dari ini.”
Ketika itu beliau bertanya, “Apakah penjualnya mau menerima pakaian ini bila dikembalikan?”
Ali as menjawab, “Saya tidak tahu. Perkenankan saya kembali kepadanya dan menyatakan masalah ini.”
Setelah itu Ali as pergi ke pasar. Ia mengembalikan pakaian itu, mengambil kembali uang yang diberikan dan kembali kepada Rasulullah Saw. Kemudian mereka berdua pergi ke pasar dan kali ini Nabi Saw sendiri yang akan memilih pakaian untuknya.
Di tengah jalan, mereka bertemu dengan budak perempuan kecil yang sedang duduk di atas tanah sambil menangis. Nabi Saw bertanya kepada gadis kecil itu, “Apa yang terjadi denganmu? Mengapa engkau menangis?”
Gadis kecil itu berkata, “Wahai Rasulullah! Tuanku memberikan uang sebanyak 4 dirham kepadaku agar membelikan kebutuhannya. Tapi saya tidak tahu bagaimana uang itu hilang dariku.”
Nabi Saw berkata kepadanya, “Jangan bersedih! Sekarang aku memberikanmu 4 dirham agar engkau bisa membelikan kebutuhan tuanmu.”
Beliau kemudian mengambil 4 dirham dari 12 dirham yang berada di tangan Ali as lalu memberikannya kepada gadis kecil itu.
Pemberian Nabi Saw membuat gadis kecil itu gembira kembali dan mendoakan beliau lalu pergi.
Nabi Saw dan Ali as kembali meneruskan jalannya.
Akhirnya Nabi Saw membeli sebuah pakaian sederhana seharga 4 dirham lalu memakainya dan bersyukur kepada Allah. Mereka berjalan menuju rumah.
Di tengah jalan, mereka melihat seorang miskin yang tidak memiliki baju dan berkata, “Barangsiapa yang memberikan aku baju dan badanku tertutup dengannya, insyaallah ia akan dipakaikan baju surga oleh Allah.”
Nabi Saw melepaskan baju yang baru saja dibelinya dan memberikannya kepada orang miskin itu dan tetap memakai pakaian lamanya. Setelah itu beliau bersama Ali as kembali ke pasar dan membeli satu lagi pakaian seharga 4 dirham untuk dirinya lalu memakainya.
Di tengah perjalanan menuju rumah, mereka kembali melihat gadis kecil yang diberi 4 dirham. Gadis kecil itu terduduk di atas tanah sambil menangis. Nabi Saw mendekatinya dan berkata, “Mengapa engkau belum kembali ke rumah?”
Gadis kecil itu menjawab, “Saya telah membeli apa yang diinginkan tuanku dengan uang yang Anda berikan kepadaku. Tapi saya sudah sangat terlambat. Saya khawatir tuanku akan memukulku akibat keterlambatan ini.”
Nabi Saw dengan sabar berkata kepadanya, “Saya akan mengantarmu ke rumah dan meminta tuanmu untuk tidak memukulmu.”
Gadis kecil itu berjalan bersama Nabi Saw dan Ali as hingga ke rumah tuannya.
Nabi Saw mengetuk pintu dan mengucapkan salam dengan suara tinggi, tapi tidak ada jawaban dari dalam rumah. Kembali Nabi Saw mengucapkan salam, tapi tetap saja tidak ada yang menjawab. Untuk ketiga kalinya Nabi Saw mengucapkan salam dan kali ini tuan rumah menjawab, “Assalamu Alaika Ya Rasulallah!”
Nabi Saw berkata, “Mengapa engkau tidak menjawab salamku?”
Tuan rumah menjawab, “Sejak awal saya telah mendengar suara Anda, tapi saya ingin sekali berkah salam anda dapat menjauhkan segala bencana dari rumah saya. Sekarang sampaikan apa yang dapat saya lakukan.”
Nabi Saw berkata, “Gadis kecil ini terlambat ke rumah. Saya datang bersamanya untuk meminta agar jangan memukulnya. Insyaallah, Allah akan memaafkan kesalahan yang engkau perbuat.”
Tuan rumah berkata, “Wahai Rasulullah! Langkah penuh berkahmu ke rumahku membuat aku memutuskan untuk membebaskan gadis kecil ini, sehingga Anda dan Allah Swt rela dengan perbuatanku.”
Nabi Saw sangat senang mendengarnya lalu memandang ke langit sambil mengangkat tangannya dan berkata, “Ya Allah! Aku bersyukur kepadamu disebabkan berkah uang 12 dirham yang Engkau berikan. 12 dirham yang mampu memberikan pakaian kepada dua orang dan membebaskan seorang budak perempuan.”
ONTA NABI MUHAMMAD SAW
Sumber : Sad Pand va Hekayat | Nabi Muhammad saw
Nabi Muhammad Saw menasihati para sahabatnya agar senantiasa siap dan waspada, sehingga kapan saja musuh-musuh menebar konspirasi jahatnya, mereka dapat tegar menghadapinya. Satu lagi dari pesan beliau, "Bagi setiap muslim wajib untuk mengajari anaknya memanah, menunggang kuda dan berenang."
Nabi Saw sendiri senantiasa siap dan ikut dalam perlombaan menunggang kuda dan onta serta memanah. Onta Nabi Saw masih muda, kuat dan sangat cepat larinya. Dalam setiap perlombaan onta beliau pasti menang. Tapi sejumlah orang yang polos membayangkan bahwa dikarenakan itu adalah onta utusan Allah, makanya ia pasti menang.
Kali ini Nabi Saw berusaha ingin mengajak mereka untuk tidak berpikir salah seperti itu. Tapi mereka tetap saja bersikeras dengan pendapatnya, sehingga suatu hari ada seseorang dengan ontanya menemui beliau dan berkata, "Saya ingin berlomba menunggang onta denganmu."
Nabi Saw menerima tantangan itu dan perlombaanpun disiapkan. Kali ini berbeda dengan yang diharapkan para sahabatnya, onta Nabi Saw kalah dan orang itu yang menjadi pemenangnya. Para sahabat beliau tampak sedih, tapi Nabi Saw berkata kepada mereka, "Jangan khawatir, ontaku selalu lebih cepat dari onta-onta yang lain. Tapi kali ini ontaku merasa sombong dan congkak dan akhirnya kalah. Ini sudah merupakan Sunnatullah bahwa bila ada yang merasa lebih dari yang lain, maka orang yang sombong akan kalah."
Dengan kejadian dan penjelasan Nabi Saw, para sahabatnya itu baru memahami kesalahan mereka selama ini.