Tampilkan postingan dengan label Imamah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Imamah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Desember 2020

KEPEMIMPINAN ABUBAKAR, PENGHULU WANITA SYURGA TIDAK MEMBAI'ATNYA SAMPAI AKHIR USIANYA

 




MASIH TENTANG TIDAK IJMANYA ATAS KEPEMIMPINAN ABUBAKAR 



Yaitu, mengenai pengakuan mengenai ijma adalah kekeliruan karena menyalahi Bani Hasyim seluruhnya. Dan Umar bin Khattab telah mengakui kekeliruan ini. Lihat kembali syarh Nahj al-Balaghah Ibnu Abi al-Hadid, juz II, hlm. 22 dan seterusnya, cetakan Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyyah Beirut. 



Begitu juga menyalahi orang-orang yang berkumpul di rumah Sayyidah Fatimah. Karena itu, Saad bin Ubadah menentang kekhalifahan Abubakar dan tidak membaiatnya sampai akhir usianya yang diikuti oleh mayoritas masyarakatnya. Saad bin Ubadah adalah sahabat Ahlu al-hal wa al-aqd diantara mereka. Karenanya mereka tunduk dan mengikutinya. Dimana letak kekeliruan (kekhilafahan) dari ijma? 



Jika melihat kejadian-kejadian dan fakta-fakta yang ada di belakang kasus Saqifah serta pertentangan yang mencuat dari kalangan Muhajirin dan Anshar terhadap kekhilafahan Abubakar, sehingga kita tahu bahwa ijma tidak sempurna selamanya. Akan tetapi yang terjadi adalah sebagian membaiat dan sebagiannya menentang. Kemudian mereka tunduk lantaran takut dibunuh. 


Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi al-Hadid dalam Syarh Nahj al-Balaghah, juz I, hlm. 219 cet. Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyyah Beirut. Al-Barra bin Azib berkata: 

"... ketika saya bertemu dengan Abubakar dan di sisinya ada Umar bin Khattab, Abu Ubaidah, dan mayoritas dari orang-orang yang berada di Saqifah. Mereka ditahan dengan kekuatan yang dibentuk (para sahabat) saat itu, dimana seorang pun tidak melewatinya kecuali mereka memukulnya, lalu menghadapkan dan memegang tangannya agar menyalami Abubakar untuk membaiatnya, baik itu dengan kehendak sendiri atau menolak, maka saya mengingkari...."



"Ia berkata: dan aku melihat pada malam harinya, al-Miqdad, Salman, Abu Dzar, Ubadah bin Shamit, Abu Haitsam bin al-Taihan, Hudzaifah dan Ammar. Mereka ingin mengulangi musyawarah di antara kaum Muhajirin."

Dan Ibnu Abi al-Hadid menukil dalam syarhnya juz VI, hlm. 19 dari al-Zubaer bin Bakr, bahwa ia berkata: 
"Ketika Abubakar dibaiat, masyarakat yang menerimanya masuk ke masjid Rasulullah Saw., dan tatkala tiba waktu sore mereka berpencar ke rumah masing-masing. Kemudian masyarakat Anshar dan Muhajirin berkumpul dan masing-masing saling menyalahkan. Maka Abdurahman bin Auf berkata, " Wahai kaum Anshar! Sesungguhnya meski kalian merasa lebih utama karena merupakan penolong Rasulullah ketika hijrah , akan tetapi di antara kalian tidak ada yang sehebat Abubakar, Umar, Ali dan Abu Ubadah. Maka Zaid bin Arqam berkata; 'Kami tidak menyangkal keutamaan orang yang anda sebutkan, wahai Abdurahman! Akan tetapi, kami juga memiliki pemimpin kaum Anshar yaitu Saad bin Ubadah, dan orang yang diperintah Allah melalui Rasul-Nya untuk membacakan atasnya keselamatan dan mengambil al-Quran darinya, yaitu Ubay bin Ka'ab, dan orang yang akan didatangkan pada hari qiyamah dihadapan para ulama yaitu Muaz bin Jabal, serta orang yang kesaksiannya dianggap Rasulullah Saw dengan kesaksian dua orang laki-laki yaitu Huzaimah bin Tsabit. Dan tentunya, kita tahu orang yang Anda klaim dari golongan Quraisy yang jika ia diminta untuk memegang kekhilafahan ini tidak akan ada seorang pun yang menentangnya, yaitu Ali bin Abi Thalib."


Ibnu Abi al-Hadid menukil pada halaman 21, bahwa Zubaer bin Bakkar telah meriwayatkan, ia berkata : "Muhammad bin Ishak telah meriwayatkan bahwa Abubakar as-Shiddiq ketika dibaiat, tiba-tiba Taim bin Murrah menentangnya dan berkata; 'Mayoritas kaum Muhajirin dan Anshar tidak menyangkal bahwa Ali bin Abi Thalib adalah pemegang kekhilafahan yang sah setelah Rasulullah Saw." 



Adapun orang-orang yang menentang kekhilafahan Abubakar dan tidak berbaiat, di antaranya Saad bin Ubadah, pemimpin suku Khazraj. 


Ibnu Abi al-Hadid menulis dalam syarahnya, juz VI, hlm. 10, bahwa Saad bin Ubadah tidak melaksanakan shalat bersama mereka, tidak berkumpul bersama mereka, tidak melaksanakan hasil keputusan mereka, dan jika ada yang memaksa tentu ia akan memukul mereka, dan ini ia lakukan sampai meninggalnya Abubakar. Saad juga tidak tinggal di Madinah setelah peristiwa Saqifah itu kecuali hanya beberapa waktu saja sampai ia pergi ke Syam hingga ia meninggal di Hawaran serta tidak berbaiat kepada Umar dan tidak juga berbaiat kepada selain keduanya. Di antara mereka pula, Khalid bin Said al-Ash sebagaimana dalam syarh Nahj al-Balaghah, juz VI, hlm. 41. Ibn Abi al-Hadid menukil dari Abubakar al-Jauhari dan sanadnya Mahkul, ia berkata, "Sesungguhnya Rasulullah Saw memperkerjakan Khalid bin Said pada suatu pekerjaan, lalu ia pergi sepeninggal Rasulullah Saw sedangkan masyarakat saat itu tengah berbaiat kepada Abubakar. Lalu, Abubakar mengajaknya agar berbaiat kepadanya, tetapi Khalid bin Said menolak. Maka, Umar bin Khattab berkata; 'Biarkan aku menghadapinya', tetapi Abubakar melarangnya sehingga ia dibiarkan sampai satu tahun.



Ibn Abi al-Hadid mengatakan dalam syarahnya, juz I, hlm. 218 cet. Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyyah Beirut dalam tema 'perbedaan pendapat mengenai kekhilafahan setelah wafat Rasulullah'. Ketika Rasulullah Saw wafat dan Ali bin Abi Thalib sibuk memandikan dan mengubur jenazah Rasulullah, sedangkan Abubakar tengah dibaiat oleh para sahabat, kecuali Zubaer, Abu Sufyan, sebagian kaum Muhajirin, Abbas dan Ali yang tidak membaiatnya lantaran perbedaan pendapat,.. dan seterusnya. 


Pada judul ini pula dikemukakan sebagian perbedaan-perbedaan yang mencuat dibalik pembaiatan Abubakar, sehingga Ibn Abi al-Hadid mengatakan bahwa Abubakar, Umar, Ubaidah dan al-Mughirah datang kepada Abbas (paman Rasulullah) pada malam kedua dari wafatnya Rasulullah Saw lalu, 



Abubakar mulai bicara pada Abbas :
"Kami datang kepadamu, kami menginginkan agar Anda terlibat dalam masalah ini serta orang setelah Anda dari kalangan Bani Hasyim, sebab Anda adalah paman Rasulullah Saw walaupun kaum Muslimin telah melihat kedudukan dan keluarga Anda dari Rasulullah. Saya berharap agar mereka dapat berbuat adil pada masalah ini dengan kehadiran Anda serta utusan Bani Hasyim. Karena Rasulullah berasal dari kami dan dari Anda." 



Tiba-tiba Umar bin Khattab memotong pembicaraan Abubakar dan kembali pada karakter pembicaraannya yang tinggi disertai ancaman dengan mendudukkan permasalahan (kekhilafahan) pada situasi dan kondisi yang sangat rumit, lalu berkata : 

"Demi Allah, kami mendatangi Anda karena semata-mata butuh kepada bantuan Anda, karena kami benci dengan segala macam celaan yang disampaikan kaum Muslimin dari pihak Anda, sehingga pembicaraan dengan mereka semakin memanas."



Maka Abbas berkata : 
"Segala puji bagi Allah dan aku memuji kebesaran-Nya, sesungguhnya Allah mengutus Muhammad sebagai Nabi sebagaimana Anda menganggapnya sebagai pemimpin orang-orang beriman ... 
Lalu Abbas berkata pada Abubakar : 
"Jika Anda menuntut khilafah kepada Rasulullah, maka itu hak kamu untuk mengambilnya. Jika Anda membela keperluan Muslimin, maka kami adalah bagian dari mereka. Namun tidak akan menyerahkan kekhilafahan kepadamu secara gegabah dan kami tidak menghalalkan secara serampangan." 



"Jika kekhilafahan ini menjadi kewajiban atas Anda untuk memimpin orang-orang beriman, maka (sebetulnya) tidaklah wajib lantaran kami juga membenci. Betapa jauh perkataan Anda, bahwa mereka mencela perkataan Anda, sebab yang sebenarnya terjadi adalah ketidak simpatikan mereka kepada Anda! Dan Anda tidak merasa malu datang kepada kami. Dan jika kekhilafahan itu merupakan hak Anda, Anda tetap harus memberikannya kepada kami dan setelah itu saya akan menyerahkannya kepada Anda. Tetapi, jika kekhilafahan itu hak orang-orang yang beriman, maka Anda tidak berhak menjustifikasinya. Begitu juga, jika kekhilafahan itu menjadi hak kami, maka kami tidak rela memberikan kepada Anda sebagiannya."



"Dan saya tidak bermaksud mengatakan ini agar Anda melepaskan dari apa-apa yang telah Anda masuki, akan tetapi hal itu dimaksudkan untuk menjelaskan bagi argumen sebagiannya. Dan adapun perkataan Anda tadi, bahwa Rasulullah Saw dari kita dan dari Anda, maka ketahuilah sesungguhnya Rasulullah Saw adalah ibarat sebuah pohon dan kami dahannya, sedangkan Anda hanya tetangganya. Sedangkan mengenai kekhawatiran Anda, wahai Umar, bahwa Anda takut kepada orang- orang beriman atas kami, maka inilah sebetulnya yang saya kemukakan kepada mereka dan kepada Allah Swt tempat memohon pertolongan."



Ibn Abi al-Hadid meriwayatkan pula dalam syarahnya, juz VI, hlm. 2 cet. Dar Ihya al-Turats al-Arabi, bahwa 'Umar ibn Khattab beserta kelompoknya pergi ke rumah Fatimah, dimana di antara mereka terdapat Usyad bin Khudlair dan Salamah bin Aslam. 

Lalu Umar berkata kepada mereka; pergilah dan berbaitlah kepada Abubakar.!

Mereka menolak seruan itu.

Bahkan az-Zubeir keluar dengan menghunuskan pedang. Maka Ibn Khattab berkata dengan penuh kemarahan, 'bagi kalian ....!' 

Sedangkan Salamah bin Aslam langsung menerjang Zubeir dan mengambil pedang dari tangannya, lalu memukulkannya pada dinding. 

Setelah itu, Umar dan rombongannya menghampiri Zubeir dan Ali yang pada keduanya berkumpul Bani Hasyim. 


Maka Ali berkata : 
"Saya adalah hamba Allah dan kerabat Rasulullah Saw." 

Lalu sampailah Ali ke hadapan Abubakar, dan dikatakan kepadanya, 
"Berbaiatlah, wahai Ali! 

Maka Ali menjawab : 

"Saya yang lebih berhak atas kekhilafahan ini daripada Anda, dan tidak akan berbaiat kepada Anda, bahkan sebaliknya Anda yang harus berbaiat kepada saya. Anda mengambil kekhilafahan ini dari orang-orang Anshar dan Anda berdalih kepada mereka dengan alasan kedekatan Anda kepada Rasulullah. Sehingga mereka memberi Anda kekuasaan serta mereka menyerahkan kekhilafahan kepada Anda. Dan saya berdalih kepada Anda seperti apa yang dikatakan Anda kepada orang-orang Anshar. Maka, bergabunglah Anda bersama barisan kami jika Anda takut kepada Allah, dan akuilah bahwa kami sebenarnya yang berhak atas kekhilafahan ini seperti yang diakui kaum Anshar kepada Anda. Dan kalau tidak, berarti Anda berada dalam kezaliman sementara Anda mengetahuinya."


Umar bin Khattab berkata :
"Sesungguhnya Anda tidak disingkirkan sampai Anda berbaiat! 

Ali menjawab : 
"Wahai Umar, perahlah susu (sapi) niscaya Anda akan dapat bagian, dan perkuatlah khalifah hari ini, niscaya besok akan diberikan kepada Anda! Tapi ingatlah, demi Allah saya tidak menerima perkataan Anda dan tidak akan membaiat kepada Abubakar." 



Maka Abubakar berkata: 
"Jika Anda tidak berbaiat kepadaku, aku tidak akan membencimu."

Lalu Ali berkata: 
"Wahai segenap Muhajirin! Ingatlah kepada Allah, janganlah kalian mengeluarkan khalifah Muhammad dari tempat tinggal dan rumahnya ke tempat tinggal dan rumah kalian. Dan janganlah kalian menolak keluarganya dan kedudukan dan haknya di hadapan masyarakat. Demi Allah, wahai segenap Muhajirin! Kami adalah Ahlul Bait yang lebih berhak atas kekhilafahan ini, selama kami membaca kitab Allah, memahami agama Allah, mengetahui sunnah Nabi, dan mampu dalam urusan kepemimpinan! Demi Allah! sesungguhnya itu adalah hak kami. Janganlah kalian mengikuti hawa nafsu sehingga semakin jauh kebenaran dari kalian."

 

Wamaa taufiiqii illa billah 'alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib.



------------------------------






IMAM ALI BIN ABI THALIB: MENGUTAMAKAN SABAR, ISTIKAMAH MENEGAKKAN KEBENARAN, DAN MEMBANTU KAUM LEMAH (6)



Posisiku dalam kekhilafahan laksana posisi lokus pada roda kincir air, mengalir darinya kemuliaan dan tidak ada seekor burung pun yang mampu menjangkauku



Ungkapan ini meluncur dari lisan Imam Ali bin Abi Thalib dalam sebuah khutbah yang dikenal dengan khutbah al-syiqsyiqiyyah. Khutbah ini banyak dikutip dan diperbincangkan sepanjang sejarah, karena berisi sesuatu yang sangat penting, perihal kekhilafan setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.



Imam Ali bin Abi Thalib menyebut dirinya sebagai lokus, inna mahalli minha mahall al-quthbi min al-raha. Dalam banyak riwayat, Nabi Muhammad SAW menegaskan tentang keutamaan Imam Ali dan peristiwa bersejarah di Ghadir Khum yang meneguhkan pentingnya loyalitas kepada sepupu dan menantunya itu, karena ia mempunyai kualifikasi yang seharusnya dimiliki oleh seorang pemimpin: ilmu dan akhlak.



Namun, perhelatan yang digelar di Bani Tsaqifah telah mengubah peta kepemimpinan setelah wafatnya Nabi. Abu Bakar al-Shiddiq memakai baju kekhilafahan, meski Imam Ali bin Abi Thalib telah dititahkan Nabi sebagai lokomotif yang akan menggerakkan roda kekhilafahan. Iman Ali mencermati kekhilafahan berada di pundak Abu Bakar al-Shiddiq.



Imam Ali bin Abi Thalib memilih bersikap asketis terhadap kekhalifahan. Bahkan di saat terbesit dalam dirinya untuk memilih antara melakukan perlawanan dan bersabar atas realitas yang terjadi, ia memilih untuk bersabar. Ada kekecewaan, karena dampak dari peristiwa tersebut akan menimbulkan kegelisahan dan kesengsaraan yang berlangsung lama dalam diri umat Islam. Namun, jalan sabar merupakan pilihan Imam Ali untuk menjaga ikatan persaudaraan dan persatuan umat Islam.



Ini akhlak yang sangat mulia, yang diamalkan Imam Ali bin Abi Thalib di tengah perebutan kekhilafahan pada saat itu. Imam Ali memilih jalan kemaslahatan, jalan yang senantiasa disampaikan dan dicontohkan Nabi sepanjang hidupnya. Jalan sabar adalah jalan kemaslahatan, yang sangat ditekankan al-Quran, Hendaklah kalian memohon pertolongan melalui kesabaran dan shalat (QS. Al-Baqarah [2]: 45). Ada yang berpandangan, bahwa sabar disebutkan lebih awal dari pada shalat, karena betapa pentingnya sabar dalam menjalani kehidupan, lebih-lebih di tengah situasi genting yang terkait masa depan ajaran Nabi Muhammad SAW.



Abu Bakar al-Shiddiq meninggal dunia, lalu suksesi kekhilafahan diberikan kepada Umar bin Khattab. Konon, Abu Bakar al-Shiddiq yang menunjuk Umar agar menjadi penerusnya. Imam Ali bin Abi Thalib menggambarkan sosok Umar bin Khattab sebagai sosok yang keras, tegas, dan kerap melakukan kesalahan, meski ia juga suka meminta maaf. Imam Ali pun terus bersabar dalam masa-masa sulit ini.



Imam Ali bin Abi Thalib mengedepankan keberlangsungan ajaran Nabi Muhammad SAW. Bahkan disebutkan, ia kerap membantu dan memberikan masukan kepada Umar bin Khattab, sehingga dikenal sebuah ungkapan, “Jika tidak ada Imam Ali bin Abi Thalib, niscaya Umar bin Khattab akan ambyar.” Jasa Imam Ali dalam melanggengkan ajaran Nabi Muhammad SAW tak terbalaskan.



Umar bin Khattab wafat setelah ditikam oleh Abu Lu’luah. Sebelum wafat, Umar bin Khattab melalui putranya, Abdullah, mengajukan enam orang sebagai kandidat suksesornya: Imam Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Thalhah, Zubair, Sa’ad, dan Abdurrahman bin ‘Awf. Imam Ali menggambarkan suasana musyawarah saat itu, yang mana tim formatur menampakkan keraguan terhadap dirinya, sehingga ia pun tidak menentang sikap mereka. Usman bin ‘Affah terpilih sebagai khalifah.



Imam Ali bin Thalib juga menjelaskan kekhilafahan pada saat itu, yang mana kekuasaan digunakan untuk memuaskan keluarganya. Akhirnya, Utsman bin Affan juga terbunuh, sebagaimana pendahulunya.



Lalu, Imam Abi bin Abi Thalib dipilih sebagai khalifah dan amirul mukminin. Tidak seperti para pendahulunya, ia menggambarkan suasana gegap-gempita menyeruak dan banyak umat yang berbaiat kepada dirinya, hingga dikisahkan kedua puteranya, Imam Hasan dan Imam Husein terinjak dan luput dari perhatian dari saking banyaknya umat yang mengharu-biru, menyambut penobatan Imam Ali sebagai amirul mukminin.



Namun, dalam perjalanannya terdapat kelompok yang berkhianat terhadap Imam Ali bin Abi Thalib. Mereka dikenal dengan al-nakitsun, al-mariqun, dan al-qasithun. Yang disebut al-nakitsun, yaitu mereka yang berkhianat setelah berbaiat kepada Imam Ali, seperti Thalhah dan Zubair. Bahkan, mereka memerangi Imam Ali dalam sebuah perang, yang dikenal dengan “Perang Unta” (harb al-jamal). Thalhah dan Zubair terbunuh dalam perang tersebut.



Sedangkan al-mariqun, yaitu mereka yang keluar dari jalan ajaran Rasulullah SAW. Mereka dikenal dengan al-khawarij, yang sudah diramal oleh Nabi dalam beberapa hadis sebagai kaum yang hafal al-Quran, tapi salah dalam memahaminya karena mereka mempunyai nafsu kuasa yang tinggi. Mereka membaca al-Quran hanya sampai kerongkongan, dan tidak menjadikannya sebagai hiasan hati untuk menebarkan kebajikan. Mereka menghalalkan kekerasan dengan mengatasnamakan Tuhan. Imam Ali bin Abi Thalib terlibat peperangan dengan kaum Khawarij, dan berhasil mengalahkan mereka. Konon, hanya tersisa 40 orang dari mereka.



Yang terakhir, al-qasithun. Yaitu mereka yang berbuat zalim dan menyimpang dari garis kemufakatan. Mereka adalah Mu’awiyah dan pengikutnya, termasuk ‘Amr bin ‘Ash. Imam Ali bin Abi Thalib juga terlibat dalam perang dengan mereka di Shiffin, perbatasan antara Suriah dan Irak. Perang tersebut kemudian dikenal dengan “Perang Shiffin”.



Di dalam kitab Nahjul Balaghah, Imam Ali bin Abi Thalib mempertahankan kekhilafahan semata-mata karena Allah SWT untuk menentang kezaliman dan membela mereka yang tertindas. Bahkan, ia sebenarnya ingin memilih untuk tidak peduli pada hal duniawi, termasuk kekhilafahan politis, sebagaimana ditunjukkan saat penobatan Abu Bakar al-Shiddiq sebagai khalifah yang pertama. Jika bisa memilih, dalam menghadapi pihak-pihak yang berkhianat di masa kekhilafahannya, Imam Ali akan memilih jalan asketis, karena sesungguhnya mereka lebih hina dari cairan yang keluar dari hidung kambing!



Khutbah Imam Ali bin Abi Thalib ini banyak dijadikan sebagai rujukan penting dalam menggambarkan suasana kebatinan perihal kondisi obyektif umat Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Kata syiqsyiqah yang digunakan oleh Imam Ali sebagai bentuk ungkapan yang paling serius dan membatin dalam menyikapi kekhalifahan sejak masa Abu Bakar al-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin ‘Affan, hingga bagi dirinya sendiri.



Harapannya, kita semua dapat mengambil pelajaran yang sangat berharga. Imam Ali bin Abi Thalib, pada mulanya memilih bersabar untuk tidak menumpahkan darah sesama Muslim agar ajaran Rasulullah SAW bisa terus berlangsung, al-Quran dikodifikasi, dan kita dapat mengikuti akhlak Rasulullah SAW. Namun, pada akhirnya, Imam Ali tidak mempunyai pilihan lain, karena mereka yang berkhianat hendak memerangi dirinya. Perang Jamal, Perang Nahrawan, dan Perang Shiffin menjadi pelajaran berharga, bahwa kita harus menegakkan kebenaran dan menentang kezaliman.



Meskipun demikian, Imam Ali bin Abi Thalib, senantiasa mengingatkan kita semua agar senantiasa berjalan di atas jalan Allah, jalan Nabi Muhammad SAW, dan keluarganya. Apa yang kita perjuangkan sejatinya tidak menyimpang dari haluan berislam. Kita harus istikamah dalam jalan kehanifan Islam. 




IMAM ALI BIN ABI THALIB: MENGUTAMAKAN SABAR, ISTIKAMAH MENEGAKKAN KEBENARAN, DAN MEMBANTU KAUM LEMAH

Selasa, 22 Januari 2019

Gold Profile Imam Ali



ilustrasi hiasan:



IMAN 

"Ali adalah khalifah pertama yang melindungi dan memajukan sastra Arab." 

-John J. Pool Sejarawan pengarang buku The Life of H.M. Queen Victoria dalam bukunya, Studies in Muhammadanism 



"Jiwanya adalah murni cerminan jiwa Muhammad, yang menerangi dunia Islam dan membentuk kejeniusan yang hidup dari zaman ke zaman." 

-Oelsner, Orientalis Prancis kenamaan dan pengarang Les Effects de La Religion de Mohammaded 



MENYAKSIKAN HARI HARI SANG KINASIH NABI


"Dia menggabungkan kecakapan seorang penyair, tentara dan pemimpin. 

-Gibbon dalam The History of the Decline and Fall of the Roman Empire, vol. V 



"Apa yang bisa kukatakan tentang seseorang yang memiliki 3 sifat bergandengan dengan 3 sifat lainnya, yang tak pernah ditemukan bergandengan dalam diri siapa pun. Kedermawanan dengan kefakiran keberanian dengan kecerdas-bijakan, dan pengetahuan teoritis dengan kecakapan praktis." 

-Imam Syafi'i



"Imam Ali dan Al-Quran merupakan dua mukjizat Nabi Saw. Kehidupan Imam Ali pada setiap fase sejarah Islam menjadi sebuah cermin-layaknya cerminan kehidupan Sang Nabi." 

-Ibnu Sina (Avicenna) 



--------------------------------------------


Gold Profile of Imam Ali 

Diterjemahkan dari : A Biographical Profile of Imam Ali 
Karya : Syed M. Askari Jafari
Penerjemah : Ito, Cecep Romli
Editor : Faried dan Cecep Romli 
Diterbitkan oleh : Pustaka IIMAN Cerakan I, April 2007/Rabiul Awwal 1428 
Pustaka IIMaN Koinp. Ruko Griya Cinere II Jl. Raya Limo No. 3, Cinere, Depok 
Telp (021) 7546162, Fax (021) 7546162 
Website: www.II MaN.indonetwork.co.id 
ISBN: 979-3371-67-6 
Desain Andreas Kusumahadi 
Tata letak: Alia Fazrillah 
Didistribusikan oleh : Mizan Media Utama (MMU) Jl. Cinambo (Cisaranten Wetan) No 146 Ujungberung, Bandung 40294 
Telp.: (022) 7815500, Fax.: (022) 7802288 
E-mail : mizanmu@bdg.centrin.net.id 
Perwakilan Jakarta: Komp. Plaza Golden Blok G 15-16 Jl. RS. Fatmawati No. 15 Jakarta 12420 
Telp. (021) 7661724-25 
Perwakilan Surabaya : Jl. Karah Indah II/N 35 Surabaya Telp. (031) 60050079, 8286195, Fax. (031) 8286195


---------------------------------------------



Daftar Isi 
Masa Kecil dan Komentar Beberapa Sarjana
Sikap Mulia Imam Ali kepada Musuh
Sikap Imam Terhadap Teman dan Rakyatnya
Gaya Hidup Imam yang Bersahaja
Pengabdian Imam Ali kepada Islam
Malam Hijrah
Imam Ali, Pahlawan Islam
Pengumuman Imam Ali Sebagai Penerus Nabi Saw
Kehidupan Imam Ali Sejak Tahun Pertama Hijrah Sampai Wafatnya Nabi Saw
Karakter Imam Ali yang Menakjubkan: Paduan dari Sifat sifat Berlawanan
Imam Ali dan Suksesi Pemilihan Khalifah
Peristiwa Kelabu Wafatnya Sayyidah Fatimah
Imam Ali di Tengah-tengah Pemerintahan 3 Khalifah Pertama
Kekhalifahan Diserahkan kepada Imam Ali
Perang Unta
Perang Shiffin 
Kesyahidan Imam Ali
Imam Ali Sebagai Seorang Kepala Pemerintahan dan Negarawan
Seorang Perkasa yang Welas
Senarai Rujukan





Masa Kecil dan Komentar Beberapa Sarjana


Imam Ali, Amirul Mukminin, adalah sepupu pertama Nabi Muhammad Saw. Ayahnya, Abu Thalib dan ayah Nabi Saw, Abdullah, adalah anak Abdul Muthalib dari satu ibu.


Seperti nama istrinya (Fatimah putri Nabi Saw), Ibu Imam Ali juga bernama Fatimah. Fatimah adalah putri Asad putranya Hasyim yang terkenal itu, dan Asad adalah saudara Abdul Muthalib. Jadi ayah dan ibu Imam Ali adalah saudara sepupu. 


Imam Ali lahir pada tanggal 13 Rajab, (30 tahun Gajah), sekitar 610 M, yakni 23 tahun sebelum Hijrah. Para sejarawan mengatakan bahwa dia dilahirkan di halaman Ka'bah.'


Saat Ali lahir, ayahnya dan saudara sepupunya, Nabi Muhammad Saw sedang bepergian ke luar kota Makkah. Ibunya memberi nama Asad dan Haidar. Ayahnya menamainya Zaid. Tapi ketika Nabi Saw pulang, beliau merawat sepupu kecilnya ini dan menamainya Ali, dan mengatakan bahwa ini adalah nama yang ditetapkan Allah untuknya.?


Di antara sekian kunyah-nya (nama panggilan yang meng ungkapkan rasa hormat), yang paling terkenal adalah Abul Hasan, Abus Sibtain dan Abu Turab.


Gelar-gelarnya adalah Murtadha (yang terpilih), Amirul Mukminin (Pemimpin kaum Mukmin), Imamul Muttaqin (Imam orang-orang bertakwa).


Sejarawan dan biografer terkenal Allamah Ali bin Muhamamd mengatakan, Imam Ali berperawakan sedang dengan mata yang hitam, bulat besar dan tajam, paras yang sangat cakap dan kulit kuning langsat. Bahunya bidang, leher berotot tegap, kening lapang dan sedikit rambut di puncak kepalanya.


Dia berjalan dengan langkah sangat ringan dan bergerak sangat gesit. Mukanya penuh seyum, sikapnya menyenangkan, sifatnya periang, murah hati dan santun. Dia tidak pernah kehilangan karakter. 


Dia lahir 3 tahun sebelum pernikahan Nabi Saw dengan Siti Khadijah. Segera setelah kelahirannya, Nabi Saw merawatnya dan baginya Ali seperti anak sendiri. Dia tinggal bersama Nabi Saw dan tidur bersama beliau. Beliau yang menyuapi Ali, memandikan dan memakaikan pakaiannya, dan bahkan meng gendongnya dengan kain gendongan setiap kali beliau hendak bepergian.


Ketika Nabi Saw menikahi Siti Khadijah, Siti Khadijah meng angkat Ali sebagai anaknya. Imam Ali sendiri, melukiskan masa kanak-kanaknya dengan mengatakan:


Aku masih bayi merah ketika Nabi Saw merawatku dari orang tuaku. Aku selalu lengket bersamanya dan dia menyuapiku, dan (ketika menginjak kanak-kanak), dia tidak pernah mendapatiku berkata bohong atau berpura-pura. Bagiku dia seperti bintang yang memberi petunjuk dan aku selalu mengikuti perilaku dan perbuatannya dengan saksama. Aku lengket bersama beliau seperti seekor anak unta pada induknya. Dia selalu menekankan nilai-nilai moral padaku, dan selalu menasihatiku untuk mengikuti nilai-nilai tersebut. Setiap tahun, dia menghabiskan beberapa hari di Gua Hira' dan aku selalu menemaninya. Waktu itu hanya aku yang menemaninya dan tidak seorang pun yang bisa menemuinya di Gua Hira'. Di sana aku pernah melihat cahaya wahyu, dan mencium semerbak aroma kenabian.


Pernah Nabi Saw berkata padaku: “Wahai Ali, engkau telah mencapai derajat mulia. Engkau lihat apa yang aku lihat dan engkau mendengar apa yang engkau dengar.? (Nahjul Balaghah, khutbah ke 190)


Pernah Nabi Saw berkata kepada Imam Ali, “Ya Ali, Allah telah memerintahkanku untuk selalu berdekatan denganmu. Engkau bagiku bagai telinga yang sangat peka menguasai apa pun, karena telingamu adalah telinga yang sangat peka menjaga yang dipuji-puji oleh Al-Quran. 


Ibn Abil Hadid, pensyarah kitab Nahjul Balaghah mengutip perkataan Ibn Abbas. Kata Abbas, “Pernah aku bertanya kepada ayahku: Ayah, sepupuku Muhammad memiliki banyak anak, yang semuanya meninggal ketika masih kecil, siapa di antara mereka yang paling dicintai?' Ayahnya menjawab, “Ali bin Abi Thalib.” Aku berkata, “Ayah, yang aku tanyakan tentang anak anaknya?” Dia menjawab, “Nabi Muhammad Saw mencintai Ali lebih dari mencintai seluruh putranya. Ketika Ali masih kecil, aku tak pernah melihat dia terpisah dari Muhammad barang setengah jam sekalipun, kecuali kalau Nabi Saw bepergian untuk beberapa urusan. Aku tidak pernah melihat seorang ayah mencintai anaknya sebesar Nabi Saw mencintai Ali dan aku tidak pernah melihat seorang anak sedemikian patuh, sedemikian lengket dan mencintai ayahnya seperti Ali mencintai Nabi Saw.”

Jubair Ibn Mutim, sahabat Nabi Saw berkata: “Pernah ayahnya berkata kepada dia dan semua adik kandungnya, “Tahukah kalian bagaimana Ali mencintai, menghormati, dan mematuhi orang muda itu (Nabi Saw) lebih daripada kepada ayahnya sendiri, alangkah agung cinta dan penghormatannya! Aku bersumpah demi tuhan-tuhan kami, Latta dan Uzza, daripada punya banyak anak keturunan si Naufal (istrinya) di sekitarku, lebih baik aku punya satu anak seperti Ali."


Pernah Nabi Saw berkata: “Wahai Ali, aku ingin memberimu apa pun yang aku sendiri ingin mendapatkannya, dan aku ingin menghindarkanmu dari apa pun yang aku benci."


Kapan pun Nabi Muhammad Saw sedang marah, tak ada seorang pun yang berani menyapanya kecuali Ali.


Abbas, paman Nabi Saw selalu mengatakan bahwa mereka (Nabi dan Ali) sangat mencintai satu sama lain. Nabi Saw sangat mencintai Ali hingga pernah ketika Ali masih kecil, inengizinkan Ali keluar rumah dengan dijaga oleh beberapa pengasuh. Ali lama sekali tidak pulang. Nabi mulai khawatir dan cemas dan akhirnya beliau berdoa, “Ya Allah, jangan biarkan aku meninggal kalau tidak melihat Ali sekali la Ali mulai bertindak sebagai pengawal Nabi Saw bahkan ketika usia 14 tahun. Para pemuda Quraisy, atas anjuran orang tua mereka, sering melempari Nabi Saw dengan batu. Ali memenuhi tugas sebagai pembela Nabi. Dia jatuhkan para pemuda itu, merobek hidung satu musuh, merontokkan gigi musuh lainnya, menjewer telinga yang lainnya serta membanting yang lainnya. Dia sering bertarung melawan orang-orang yang lebih tua darinya. Dia sendiri sering terluka, tapi dia tidak pernah meninggalkan tugas yang dia pilih sendiri. Selang beberapa hari, dia mendapat nama panggilan Qadhim (pembanting) dan tidak seorang pun berani melempar sesuatu kepada Nabi ketika Ali mendampinginya dan dia tidak akan pernah membiarkan Nabi pergi sendirian.


Pengorbanannya pada malam menjelang hijrah dan perjuangannya di seluruh medan tempur adalah bukti nyata kecintaannya yang amat mendalam kepada Nabi Saw.


Jurjy Zaydan (George Jordac) yang baru meninggal belakangan ini adalah seorang sejarawan Kristen terkenal, pakar linguistik, filosof dan penyair Mesir Modern. Arab adalah bahasa ibunya, tapi dia sangat fasih berbahasa Inggris, Prancis, Jerman, Persia dan Latin sehingga dia sering menyumbangkan karyanya ke majalah-majalah Sejarah dan Filsafat berbahasa Prancis, Jerman, dan Inggris. Berkenaan dengan Imam Ali dia berkata:


Tidak ada seorang pun yang bisa memuji Ali pada tingkat yang sebenarnya. Begitu banyak contoh kesalehan dan ketakwaannya kepada Allah dikutip sehingga seseorang mulai mencintai dan memuliakannya. Dia adalah Muslim sejati, kukuh dan tulus. Kata-kata dan perbuatannya mengandung stempel kemuliaan, kebijaksanaan dan keteguhan hati. Dia orang besar yang memiliki pandangan independen tentang kehidupan dan problematikanya. Dia tidak pernah menipu, menyesatkan, atau mengkhianati siapa pun. Dalam berbagai fase dan periode kehidupannya, dia menunjukkan kekuatan tubuh dan pikirannya yang mengagumkan, berkat keyakinan teguhnya pada agama dan kepercayaan abadi pada kebenaran dan keadilan. Dia tidak pernah punya seorang pelayan dan tidak pernah membiarkan budak-budaknya bekerja keras. Seringlah ia memikul sendiri barang-barang rumah tangganya dan jika seseorang menawarkan diri untuk membantu meringankan beban dia akan menolak. 


Allamah Muhammad Mustafa Beck Najib, filosof Mesir terkenal dan Profesor Studi Islam Universitas Al-Azhar, dalam bukunya yang juga terkenal Himayatul Islam, berkata:


Apa yang bisa dikatakan tentang Imam ini? Sangat sulit men jelaskan sifat dan watak personal Imam seutuhnya. Cukuplah kita sadari bahwa Nabi Saw memberinya gelar gerbang ilmu dan hikmah. Dia pribadi yang paling berilmu, paling berani dan orator ulung serta penceramah paling fasih. Ketakwaannya, kecintaannya kepada Allah, ketulusan dan ketabahannya dalam menjalankan agama adalah di antara derajatnya yang begitu tinggi sehingga tak seorang pun dapat bercita-cita untuk mencapainya. Dia politikus teragung karena membenci diplomasi dan mencintai kebenaran serta keadilan, kebijakan politiknya adalah sebagaimana yang diajarkan Allah. Karena kecerdasan dan pengetahuannya yang jeli tentang watak manusia, dia selalu mengambil keputusan tepat dan tidak pernah mengubah keputusannya. Pandangannya paling tajam, dan seandainya dia tidak takut kepada Allah, pastilah dia sudah menjadi diplomat terbaik di kalangan Arab. Dia dicintai semua orang, dan setiap orang memberikan tempat di hatinya untuk Imam. Dia orang yang memiliki karakter begitu unggul dan agung serta watak yang begitu luhur dan tiada tara, sehingga banyak ilmuwan yang takjub mempelajarinya dan mem bayangkannya sebagai manifestasi wakil Allah. Banyak di antara Yahudi dan Kristen yang mencintai dia, dan para filosof di antara mereka pun yang kebetulan tahu ajaran-ajarannya mem bungkukkan diri di depan lautan ilmunya yang tak tertandingi. Raja-raja Romawi biasanya memiliki gambar Imam di istana-istana mereka dan para panglima mengukir nama Imam di atas pedang mereka. 


Filosof dan sejarawan Mesir lainnya, Profesor Muhammad Kamil Hatha, mempersembahkan penghormatannya kepada Imam dengan kata-kata berikut:


Hidupnya adalah himpunan peristiwa yang menyenangkan, pertempuran berdarah dan episode yang menyedihkan. Kepri badiannya begitu agung berkat watak-wataknya yang unggul dan luhur. Setiap aspek dari kehidupannya begitu mulia dan agung, sehingga memikirkan satu fase kehidupannya akan membuatmu merasa bahwa itulah fase terbaik dari karakternya dan gambaran terindah dari kepribadiannya. Namun merenungkan fase apa pun setelahnya, akan membuat Anda lebih terpesona dan Anda akan berkesimpulan bahwa tidak ada manusia yang bisa mencapai keluhurannya. Begitu pun merenungkan aspek lainnya akan membuat Anda lebih terpana dan Anda akan menyadari bahwa di hadapan Anda adalah pribadi besar yang begitu agung sehingga Anda tidak dapat mengapresiasi keagungannya, dan Anda akan merasakan bahwa Ali adalah Imam (panglima) dalam medan tempur, imam dalam politik, Imam dalam agama, Imam dalam etika, filsafat, sastra, ilmu dan hikmah. Tidaklah sulit bagi Allah untuk menciptakan manusia seperti dia.''


John J. Pool, sejarawan pengarang buku The Life of H.M. Queen Victoria dalam bukunya, Studies in Muhammadanism berkata: 


Imam Ali adalah orang yang berkarakter lembut dan penyabar, bijak dalam mengambil keputusan dan berani dalam pertempuran. Muhammad memberinya gelar Singa Allah. Ali dan kedua putranya, Hasan dan Husein sungguh bangsawan-bangsawan sejati-orang-orang yang adil, berani, bersahaja serta mudah memaafkan. Kehidupan mereka layak diperingati; mengingat pengorbanannya yang tak terperi dalam hidup mereka, yang tidak mereka habiskan secara egois dan sia-sia. Seperti dikatakan Mathew Arnold dalam Essay in Criticism: Para korban tragedi Karbala menghambur ke depan, siap syahid menyongsong bala tentara musuh-pengalaman itu begitu dicintai oleh pasukan Kavaleri (yang melukiskan peristiwa penyaliban): “Belajarlah dariku, karena aku berhati lembut dan rendah hati, maka engkau pun akan mendapatkan ketenangan dalam jiwamu.” Kemudian dia mengatakan bahwa Ali adalah Khalifah pertama yang melindungi dan memajukan sastra Arab. Khalifah ini sendiri adalah seorang sarjana dan banyak kata-kata serta mutiara-mutiara bijaknya yang dipublikasikan dalam sebuah buku. Ini adalah karya luar biasa dan layak dibaca secara lebih luas di kalangan Barat.


Imam Ali memiliki kepribadian yang di dalamnya berbagai karakter berlawanan begitu memadu sehingga sulit dipercaya bahwa pikiran seseorang bisa memanifestasikan pemaduan ini. Dia adalah manusia paling berani yang tercatat dalam sejarah dan orang begitu selalu berhati keras, bengis, dan suka sekali pertumpahan darah. Sebaliknya, Ali adalah orang yang baik, simpatik, reponsif, dan ramah, sifat-sifat yang sungguh berlawanan dengan fase yang lain dari karakternya dan lebih cocok untuk orang-orang saleh. Dia sangat saleh tapi orang-orang saleh dan religius lebih sering menghindari masyarakat dan tidak suka bergaul dengan orang-orang curang dan berdosa. Begitu juga para prajurit, raja dan diktator biasanya angkuh dan sombong. Mereka menganggap bergaul dengan orang miskin, gembel dan rendahan akan menjatuhkan harkat mereka. Tapi Ali berbeda. Dia adalah teman untuk semua. Sungguh dia memiliki ruang istimewa di dalam hatinya untuk orang miskin dan gembel serta untuk anak yatim dan penderita cacat. Kepada mereka, ia selalu menjadi seorang teman yang baik, pembimbing yang simpatik serta teman senasib. Dia berhati lembut kepada mereka tetapi angkuh dan arogan terhadap para prajurit dan jenderal yang dikenal amat kejam, begitu banyak dari mereka yang dia bunuh dalam pertempuran duel. Dia selalu baik hati tapi tegas kepada orang-orang yang suka membangkang, sambil secara simpatik mengajarkan jalan Allah kepada mereka. Dia selalu tersenyum dan memberikan jawaban-jawaban menyenangkan dan jenaka. Sulit mengalahkan dia dalam perdebatan dan jawaban-jawaban yang tepat, jawaban-jawabannya yang jenaka dan pedas selalu mengandung nilai budaya, edukasi dan kebijakan yang tinggi. 


Dia keturunan keluarga terhormat, kaya dan mulia, serta menantu dan kesayangan Nabi Saw, juga prajurit dan pemimpin yang berani pada masanya. Namun, sekalipun kaya, dia makan, berpakaian dan hidup layaknya orang miskin. Baginya, kekayaan adalah untuk orang-orang yang membutuhkan, bukan untuk diri dan keluarganya. Perubahan masa dan kondisi tidak membawa perubahan sedikit pun pada perilaku, sikap dan karakternya. Bah kan ketika menduduki tahta bangsa Arab, dan diangkat sebagai khalifah, dia tetap Ali sebagaimana orang-orang mengenalnya selama khalifah-khalifah sebelumnya. 


Pernah dalam sebuah diskusi yang dihadiri dan dipimpin oleh Abdullah ibn Imam Malik bin Hanbal, pembicaraan menyinggung Ali dan kekhalifahannya, Abdullah mengakhiri diskusi tersebut dengan kata-kata penutup: “Para khalifah tidak memberikan penghormatan dan penghargaan apa pun kepada Ali, dan para khalifahlah yang mendapat kehormatan dan penghargaan dari Ali, dan mereka mendapat jabatan kekhalifahan karena penghormatan Ali.


Saya ingin menambah satu poin di antara poin yang didiskusikan oleh Ibn Abi Hadid. Dunia tidak dapat menyebut sebuah contoh pribadi selain daripada Ali yang menjadi prajurit dan panglima paling ulung, sekaligus adalah seorang filosof, moralis, dan guru besar tentang prinsip-prinsip dan teologi keagamaan. Studi tentang kehidupannya memperlihatkan bahwa pedangnya adalah satu-satunya bantuan yang diterima Islam sepanjang masa-masa awal perjuangan dan pertahanan diri Islam. Untuk Islam, dia adalah baris pertama pertahanan, baris kedua pertahanan dan baris terakhir pertahanan. Siapa yang menemani dia dalam pertempuran Badar, Uhud, Khandaq, Khaybar dan Hunain? Ini adalah satu aspek dari kehidupannya. 


Sementara fase lain dari karakternya tampak dalam khutbah khutbah, instruksi, surat menyurat dan ucapan-ucapannya. Alangkah bernilainya moralitas yang dia ajarkan, etika yang dia sampaikan, betapa pelik persoalan-persoalan tauhid yang dia menjelaskan, betapa dia melatih kita untuk menjadi baik, ramah, pemurah dan pemimpin yang saleh, warga yang beriman, tulus dan setia. Betapa dia mengetuk kita untuk menjadi prajurit yang berjuang hanya untuk Allah, kebenaran dan keadilan, dan bukan untuk pembunuhan dan perampokan harta dan kekayaan; dan betapa dia menginstruksikan kita untuk menjadi guru yang tidak mengajari apa pun yang membahayakan dan mencelakakan kemanusiaan. Adakah satu kombinasi ajaran sebelum dan sesudahnya?

Bagi Oelsner (orientalis Prancis kenamaan dan pengarang Les Effects de La Religion de Mohammaded), Ali adalah sebuah manifestasi kesatriaan dan personalisasi dari keberanian dan kemurahhatian. Dia berkata: 


Sejati, lembut dan terpelajar tanpa kekhawatiran, dan tanpa cela diri, dia menghadirkan kepada dunia contoh-contoh termulia tentang keagungan karakter dan ksatria. Jiwanya adalah murni cerminan jiwa Muhammad, yang menerangi dunia Islam dan membentuk kejeniusan yang hidup dari zaman ke zaman. 


Osborne, dalam Islam under the Arabs berkata: 


Ali sudah dinasihati oleh para penasihatnya untuk menangguhkan pemecatan beberapa gubernur korup yang kadung diangkat oleh para khalifah sebelumnya, hingga suatu waktu ketika ia sudah yakin bisa mengalahkan seluruh musuh. Pilar Islam, pahlawan pemberani yang tak kenal rasa takut dan tidak pendendam, menolak untuk melakukan tindakan bermuka dua atau kompromi apa pun terhadap ketidakadilan. Sikap mulia tanpa kompromi ini menyebabkan dia kehilangan jabatan dan hidupnya; tapi begitulah Ali, dia tidak pernah menghargai apa pun di atas keadilan dan kebenaran.


Gibbon dalam The History of the Decline and Fall of the Roman Empire, vol. V, berkata:


Semangat dan kebesaran nama Ali tidak akan pernah dilampaui oleh Muslim setelahnya. Dia menggabungkan kecakapan seorang penyair, tentara dan pemimpin. Kebijakannya akan senantiasa hidup dalam sebuah koleksi moral dan ucapan-ucapan religius; dan setiap musuh dalam pertempuran. Lidah maupun pedang tertundukkan oleh kefasihan dan keberaniannya. Dari detik pertama kerasulan sampai saat terakhir pemakaman, Nabi Muhammad tidak pernah dilupakan oleh teman yang derma wan ini, yang kepadanya, Nabi dengan senang menunjuknya sebagai wakil sebagaimana Harun dipercaya sebagai Musa kedua. 


Masudi, sejarawan Islam terkenal berkata: Jika nama agung sebagai Muslim pertama, seorang kawan setia Nabi di pengasingan, kawan seperjuangan Nabi dalam perjuangan menegakkan keimanan, sahabat karib Nabi dalam kehidupan, dan saudara Nabi. Jika pengetahuan sejati tentang spirit ajaran ajaran Nabi dan Al-Quran, jika penegasian ego diri dan penegakkan keadilan, jika kejujuran, kesucian dan cinta akan kebenaran dan jika pengetahuan tentang hukum dan sains, kesemuanya layak mendapatkan keagungan, maka kita harus menganggap Ali sebagai yang paling terkemuka. Kita akan sia-sia mencari berbagai keistimewaan yang telah dianugerahkan Allah kepada Ali, baik dari kalangan pendahulunya kecuali Nabi Muhammad, atau dari para penerusnya. 


Keimanan Imam Ali 


Masudi lalu berkata : Kesepakatan umum di antara para sejarawan dan teolog Muslim adalah bahwa Ali tidak pernah menjadi non-Musim dan tidak pernah sekali pun menyembah berhala. Karenanya, pertanyaan kapan dia memeluk Islam tidak dan tidak akan pernah muncul." 

Menikah dengan Fatimah 


Imam Ali menikah dengan Siti Fatimah, satu-satunya putri Nabi Saw dari Siti Khadijah. Dia bertunangan dengan Siti Fatimah beberapa hari sebelum berangkat Perang Badar. Tapi perni kahannya dirayakan 3 bulan setelahnya, Imam Ali waktu itu berusia 21 tahun dan Siti Fatimah dalam usia 15 tahun. 12 

Ini pernikahan yang sangat bahagia. Perbedaan karakter masing-masing mereka melebur satu sama lain sehingga mereka tidak pernah cekcok dan mengeluh satu sama lain, dan mereka hidup bahagia dan bermakna. Masing-masing kaya dengan haknya masing-masing. Seluruh apa yang mereka miliki diberikan kepada orang miskin, orang cacat dan anak yatim, sedang mereka sendiri sering kelaparan. Satu-satunya kemewahan mereka adalah shalat dan bercengkerama satu sama lain dan dengan anak-anak. Mereka ingin ikut merasakan duka derita orang miskin. Mereka diberi seorang budak perempuan, Fizza,—untuk menjadi pembantu. Dan Nabi Saw telah menetapkan setiap selang 1 hari adalah hari libur buat Fizza dan nyonya rumah akan mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga. Bahkan ketika Siti Fatimah sedang sakit di hari libur Fizza, Fizza tidak akan diizinkan untuk mengerjakan tugasnya, tapi Imam akan bekerja. Imam Ali, ksatria tangguh perang Badar, Uhud, Khandaq, Khaybar dan Hunayn itu tampak sedang menggiling gandum, menyalakan tungku, membakar roti serta mengasuh anak-anak. 


Salman Al-Farisi berkata: Betapa rumah tangga yang indah. Putri semata wayang Nabi Saw dan istri panglima dan wakil Nabi suci, hidup layaknya seorang kuli miskin. Jika mereka meng gunakan 1/10 saja dari harta yang mereka salurkan, mereka sudah merasa hidup mudah dan nyaman. 


Dari Imam Ali, Siti Fatimah memiliki 4 anak dan yang anak yang kelima (Muhsin) mengalami keguguran ketika masih berada dalam kandungan. Penyebab kecelakaan ini dan juga penyebab kematian Siti Fatimah adalah peristiwa yang amat tragis dan menyedihkan dalam hidup mereka. Nama putra-putri mereka adalah Hasan, Husain, Zainab (istri Abdullah ibn Jaʼfar) dan Ummi Kulthum (istri Ubaydillah ibn Jaʼfar). 


Selama Fatimah hidup, Imam Ali tidak menikahi wanita lain. Sepeninggal Fatimah dia menikahi Yamamah dan sepeninggal Yamamah, menikah lagi dengan seorang wanita bernama Hanafia, yang darinya Imam memiliki seorang anak bernama Muhammad Hanafia. Sepeninggal Hanafia, ia menikah lagi. Jadi (sehingga dengan demikian) ia memiliki banyak anak yang beberapa di antaranya memiliki tempat tak tertandingi dalam sejarah kemanusiaan, seperti Hasan, Husain (pahlawan Karbala), Zainab (Pembela Islam di Kufah dan Damaskus), Abbas (P Tentara Husein) dan Muhammad Hanafia (Pahlawan dalam perang Nahrawan). 


Sikap Mulia Imam Ali kepada Musuh 


Berikut saya kutipkan berbagai peristiwa yang menunjukkan seperti apa karakter Imam Ali. Dia seperti dikatakan Pool: Benar benar manusia mulia, manusia adil dan berani, rendah hati dan pemaaf. Dan seperti yang dikatakan Oelsner: Manusia sejati, lemah lembut, terpelajar, tidak suka mengeluh dan tidak pen dendam, menggambarkan bingkai suri tauladan karakter kepada dunia. Dari beratus-ratus peristiwa saya mendapati kesulitan yang mana yang harus dipilih. Saya memilih sedikit saja yang sesuai dengan standar ilmu dan imajinasiku. 


Talha ibn Abi Talha bukan hanya musuh sengit Islam, tapi juga musuh Nabi Saw dan Imam Ali. Upayanya untuk mencelaka kan kedua orang ini serta misinya sudah menjadi fakta historis. Dalam Perang Uhud, dia adalah pengusung panji pasukan Quraisy. Ali menghadapi dia dan berduel dengannya, menyerang dia dengan pukulan telak hingga terhuyung-huyung dan jatuh tersungkur. Imam Ali meninggalkannya dalam keadaan terjatuh dan (tidak menghiraukannya). Banyak penglima Muslim me manas-manasi agar Imam menghabisinya, dengan mengatakan bahwa dia adalah musuhnya yang paling jahat. Ali menjawab: “Musuh atau bukan musuh, sekarang dia tidak berdaya, dan aku tidak bisa menyerang seseorang yang tidak berdaya. Jika dia bisa bertahan biarkan saja dia hidup selagi masih berumur.” 


Dalam Perang Jamal, di tengah pertempuran budaknya Qambar membawa sedikit air dan berkata: Tuanku, matahari amat panas dan Anda masih terus akan bertempur, meminum segelas air dingin ini bisa menyegarkan Anda? Dia melihat sekitar dia dan menjawab: "Bisakah aku minum ketika beratus-ratus orang mati terkapar dan sekarat karena kehausan dan terluka parah? Daripada membawakan air untukku, bawa sedikit orang dan kasih minum setiap orang yang terluka ini.” Qambar men jawab: “Tuanku, mereka semuanya musuh kita.” Dia berkata: “Mungkin mereka musuh, tapi mereka manusia. Pergilah dan rawat mereka." 


Dalam Perang Siffin, Muawiyah tiba di Sungai Eufrat sebelum pasukan Ali tiba dan mereka menguasai sungai itu. Ketika pasukan Ali tiba di sana, Ali diberitahu bahwa pasukannya tidak diizinkan Muawiyah untuk mengambil setetes air pun dari sungai. Imam Ali mengutus seorang utusan kepada Muawiyah, menitip pesan bahwa tindakan ini berlawanan dengan prinsip kemanusiaan dan aturan Islam. Jawaban Muawiyah: perang adalah perang, karena itu seseorang tidak dapat menerima prinsip kemanusiaan dan doktrin Islam. Tujuanku tak lain adalah mem bunuh Ali dan menjatuhkan semangat pasukannya, dan larangan mengambil air ini dengan cepat dan mudah bisa memenuhi tujuan ini. Imam Ali memerintahkan kepada putranya Husain, untuk mulai menyerang dan merebut sungai. Serangan dilancarkan dan sungai dapat direbut. Kini giliran Muawiyah memohon izin untuk mendapatkan air dari sungai. Para utusan Muawiyah tiba dan Imam Ali mempersilakan mereka untuk mengambil air sebanyak yang mereka suka dan kapan pun mereka butuhkan. Ketika para perwira Ali mengatakan bahwa merekalah orang-orang, yang telah melarang pasukan Ali untuk mengambil air, haruskah mereka dibiarkan mengambil air sungai semaunya. Dia menjawab: “Mereka manusia dan sekalipun telah berlaku tidak manusiawi, aku tidak bisa mengikuti perilakunya. Aku tidak bisa menolak memberi makan dan minum kepada seorang pun hanya karena ia kebetulan musuh pedangku.”

Dalam perang Naharwan, Imam Ali sendiri bertempur seperti tentara biasa lainnya. Selama pertempuran ini, seorang musuh kebetulan menghadapi Imam Ali dan dalam duel itu ia kehilangan pedang. Ia merasa putus asa untuk berdiri di depan Ali tanpa satu senjata pun di tangannya. Tangan Ali mulai ter angkat untuk menyerang ketika dia melihat musuh gemetar ketakutan, dia pun menurunkan tangannya pelan dan berkata: Larilah kawan, kau dalam posisi tidak bisa mempertahankan diri.” Sikap ini membuat orang itu kembali berani dan berkata: “Ali! Kenapa kau tidak membunuhku, membunuhku berarti mengu rangi satu musuhmu.” Ali menjawab: “Aku tidak bisa menyerang seorang pun yang tidak berdaya. Kau sedang mengemis kehidupan yang berhak kamu dapatkan. Si musuh makin berani dan berkata: “Katanya kau tidak pernah menolak seorang pengemis. Sekarang aku mengemis pedangmu untukku, maukah kau menghadiahkannya untukku.” Ali menyerahkan pedangnya. Merasa telah memiliki pedang dia berkata: “Sekarang Ali! Siapa yang akan membelamu melawanku dan menyelamatkanmu dari serangan mautku?" Dia menjawab: “Tentu Allah akan membelaku jika Dia berkehendak! Dia telah menetapkan ajalku, Dialah pelindungku dan mengutus malaikat pengawal untukku. Tak seorang pun dapat mencelakakanku sebelum waktunya dan tidak seorang pun dapat menyelamatkanku ketika maut meng hampiriku. Kemuliaan sikap dan laku Imam mengharukan musuh, dan dia pun mencium kekang kuda Ali dan berkata: “O tuan! Kau sungguh manusia besar. Kau tidak hanya membiarkan musuh hidup dalam medan tempur tapi juga bisa memberinya pedangmu. Bolehkah aku mendapat kehormatan untuk menjadi pengawalmu dan berperang membelamu? Imam Ali menjawab: “Kawan! Berperanglah untuk kebenaran dan keadilan dan jangan berperang untuk individu.” 


Selama tahun 39 dan 40 H, Muawiyah, mengutus se gerombolan pembunuh dan perampok untuk memasuki batas kota dan melakukan perampasan, penjarahan, pembakaran rumah dan pemerkosaan. Kumail waktu itu adalah Gubernur Hiyat. Dia meminta Izin Imam untuk mengorganisasi gerombolan serupa dan melakukan penjarahan di Provinsi Qirqiya, yang berada di bawah kekuasaan Muawiyah. Imam menjawab: “Aku tidak pernah berharap mendapat saran begini dari orang seperti kamu. Melindungi rakyatmu dan provinsi lebih mulia daripada menjarah mereka. Mereka mungkin saja musuh-musuh kita, tapi mereka manusia. Mereka adalah penduduk sipil yang terdiri dari para wanita dan anak-anak, bagaimana bisa seseorang mem bunuh, menjarah dan merampok mereka? Tidak, tidak akan pernah bisa! Bermimpi pun jangan untuk melakukan perbuatan bahaya ini.


Waktu itu bulan Ramadhan. Sudah tiba waktu shalat subuh. Masjid Kufah sudah penuh. Imam sedang sujud dan ketika mau mengangkat kepalanya, sebuah tebasan telak mengenai kepalanya yang membuatnya luka parah. Suasana di masjid menjadi gempar dan kacau. Pembunuh melarikan diri. Orang-orang berhasil menangkap dan membawanya ke hadapan Imam Ali yang terluka bersimbah darah. Beralaskan sajadah Imam berbaring di atas pangkuan putra-putranya. Dia tahu tebasan itu sangat fatal dan dia tidak akan bertahan lagi tetapi ketika pembunuhnya dige landang ke hadapannya, dia melihat jerat yang memborgolnya terlalu kencang hingga menyayat dagingnya. Imam melirik kepada kaum muslim dan berkata: “Seharusnya kalian jangan begitu kejam kepada sesama, kendorkan talinya, tidakkah kau lihat tali ini melukai dia dan membuatnya kesakitan.” 


Begitulah Ali! Sejarah agung sarat dengan peristiwa-peristiwa yang menggambarkan keluhuran budi dan perilakunya yang sopan bahkan terhadap musuh-musuhnya. 


Sikap Imam Terhadap Teman dan Rakyatnya 


Abdullah ibn Ja'far adalah keponakannya, yang dia rawat sejak kematian ayahnya, Ja'far ibn Abu Talib dan yang dengannya dia nikahkan putrinya Zainab. Pernah Abdullah datang kepada Ali meminta uang muka sebagian jatahnya dari Baitul Mal. Imam Ali menolak dan ketika anak muda ini bersikeras, dia berkata: “Tidak anakku! Tidak hingga seluruh orang selainmu mendapat bagian mereka.” 


Agil, kakak Imam Ali, terhimpit kondisi keuangan yang buruk. Dia meminta tambahan daripada sekadar hak jatahnya sebelum tiba waktu pembayaran berikutnya. Imam menolak dengan mengatakan bahwa ia tidak mungkin menempuh jalan kecurangan. Agil harus menunggu sampai tiba waktu pembayaran dan dia harus tabah menanggung penderitaan. Imam Ali menyebut kejadian ini dalam salah satu khutbahnya.'Ibn Hunaif, adalah murid terpercaya dan seorang peng ikutnya yang setia. Dia adalah gubernur sebuah provinsi dan suatu ketika pernah diundang ke sebuah acara yang dilanjutkan dengan makan malam yang mewah. Ketika Imam Ali mendengar ini, dia melayangkan surat keras kepadanya, mengkritik tindakannya. Dia menulis: Anda menghadiri suatu pesta mewah yang hanya meng undang orang-orang kaya, sementara orang miskin dilarang hadir dan dihinakan.


Imam Ali mempunyai 2 budak, Qambar dan Sa'id. Setelah Imam wafat, Qambar mengatakan bahwa ia jarang sekali men dapat kesempatan untuk melayani tuannya. Imam mulia selalu melakukan pekerjaannya sendiri, selalu mencuci pakaiannya sendiri, bahkan selalu menambal sendiri pakaiannya bila diperlukan. Dia selalu memberi mereka makanan yang layak dan pakaian Imam yang masih pantas pakai, dan dia sendiri selalu makan dan berpakaian layaknya orang biasa. Dia tidak pernah memberi cambukan bahkan terhadap kuda, unta dan keledainya. Binatang-binatang ini tampak memahami suasana hati dan keinginan Imam, dan senantiasa berlari kecil, berderap dan berjalan sesuai dengan kemauan Imam. Ungkapan biasa Imam kepada mereka adalah: “Jalanlah pelan-pelan, anakku.” 


Qambar melanjutkan: “Suatu kali dan hanya sekali, dia marah kepadaku. Itulah saat ketika aku memperlihatkan kepadanya uang yang aku kumpulkan. Ini adalah uang peng hasilanku dari Baitul Mal seperti penghasilan orang lain juga, dan juga hadiah yang aku terima dari keluarga Ali. Tidak banyak, tidak sampai 100 dirham. Ketika aku menunjukkan jumlah uang itu kepadanya, dia melihatnya dengan jengkel, dan apa yang membuatku tambah sedih, dia tampak sangat sedih. Aku bertanya kenapa dia begitu sedih. Dia berkata: “Qambar, jika kau tidak menggunakan uang ini, tidak adakah orang di sekitarmu yang lebih membutuhkannya? Sebagian mereka mungkin sedang kelaparan dan sebagian mungkin sedang sakit, apakah kau tidak bisa membantu mereka? Aku tak pernah menyangka kau bisa begitu tak berhati dan kejam, dan bisa mencintai harta demi untuk kepentinganmu sendiri, Qambar. Aku khawatir Anda tidak berusaha mengambil banyak pelajaran dari Islam, coba usaha iebih banyak lagi dengan sunguh sungguh dan tulus. Ambillah keping dari kantongmu dan sedekahkanlah.” Qambar pun pergi keluar dan membagikan uang itu kepada fakir miskin yang mengais rezeki di sckirar Masjid Kufah. 


Said berkata: Hari panas sekali. Imam Ali sedang menulis beberapa surat, dia ingin mengutusku untuk memanggil para pegawainya. Dia memanggilku satu kali, dua kali, dan ketiga kali dan seterusnya, tapi aku sengaja diam dan tak menjawab. Dia mencariku dan menemukanku duduk tidak jauh darinya. Dia bertanya kepadaku kenapa tidak menjawab panggilannya. Aku menjawab: “Tuan, aku ingin mendapati kapan dan bagaimana engkau marah?” Dia tersenyum dan menjawab: “Kau tidak akan membuatku marah dengan trik kekanak-kanakan seperti ini.” 


Pernah Ubaidillah ibn Abbas, sebagai gubernur menganiaya Klan Bani Tamim. Mereka mengadu kepada Imam Ali. Imam menulis kepada Ibn Abbas: 


Kau tidak boleh berlaku layaknya binatang buas terhadap rakyatmu. Mereka adalah rakyat terhormat dan harus diperlakukan secara terhormat. Kau mewakiliku dan tindakanmu akan di anggap sebagai tindakanku. Yang harus paling kau perhatikan adalah kesejahteraan rakyat yang kau pimpin, dan karenanya perlakukan mereka dengan penuh hormat.'' 


Pernah sekelompok warga non-Muslim mengadu kepada Imam Ali bahwa Abdullah ibn Abbas selalu memperlakukan mereka dengan hinaan dan cemoohan. Mereka adalah para petani dan kuli kasar. Waktu itu memang sudah menjadi kebiasaan bahwa warga non-Muslim biasa diperlakukan dengan hina. Imam menulis kepada Abdullah: 


Para petani mengadukan tindakanmu yang kasar, menghinakan dan kejam. Pengaduan mereka menuntut pertimbangan serius darimu. Aku merasa bahwa mereka berhak mendapat perlakuan yang lebih baik daripada apa yang telah mereka dapatkan. Berilah mereka kesempatan yang lebih baik untuk menemuimu dan perlakukan mereka dengan ramah dan sopan. Mereka barangkali ateis dan musyrik, tapi mereka rakyat kita dan juga manusia. Tidak sepatutnya mereka kita campakkan dan mendapat perlakuan kasar." 


Pernah Imam Ali melewati kota Ambaz bersama pasukan tentaranya. Para penduduk kaya provinsi itu, sebagaimana tradisi waktu itu, berhamburan keluar untuk menyambut. Mereka menawarkan kuda-kuda Persia yang terbaik sebagai hadiah dan memohon izin Imam untuk menjamu pasukan tentara. Dia menemui mereka dengan rasa hormat dan sopan. Dengan sopan dia menolak menerima hadiah dan berkata, “Kalian telah membayar pajak. Bagi kami menerima apa pun dari Kalian selain pajak, bahkan ketika kalian menawarkannya secara sukarela dan kemauan sendiri, adalah tindakan kriminal terhadap negara. Tapi ketika mereka bersikeras dan mendesakkan permohonannya, dia menetapkan bahwa kuda-kuda (hadiah itu) bisa diterima sebagai pajak mereka.” 


Penduduk Rusia pada tahun 1905 menemukan sebuah instruksi dari Imam Ali dengan tulisan tangannya sendiri tulisan Kufi. Tulisan ini ditemukan di sebuah Biara Adabail. ibu kota Azar Baijan. Surat ini adalah akte amnesti (peng ampunan) terhadap biarawati dan orang Kristen di Arbabail. Terjemahan naskah ini terbit di koran-koran Rusia dan kemudian diterjemahkan dan dimuat di koran-koran Turki dan majalah-majalah Arab yang terbit di Kairo dan Beirut, dan berbagai artikel yang mengomentari tentang ruh toleransi dan perlakuan hormat terhadap penduduk negeri yang ditaklukan Islam telah ditulis oleh para sejarawan Kristen Rusia dan Arab. Rupanya dari majalah Hablul Matin, diterjemahkan oleh majalah Al-Hakam. (vol. II, no. 47, 1906) 


Dalam naskah ini, Imam mengatakan bahwa sebagai seorang khalifah dan penguasa, dia menjanjikan keselamatan dan keamanan terhadap nyawa, harta benda, kehormatan, status sosial dan kebebasan beragama bagi orang-orang Kristen di Armania. Peraturan ini harus dipatuhi oleh para pegawai dan para penerusnya. Orang-orang Kristen tidak boleh dianiaya atau dipandang rendah hanya karena mereka non Muslim. Selama mereka tidak mengkhianati dan memba hayakan urusan Negara Islam, mereka tidak boleh dianiaya tapi harus dibiarkan untuk menjalankan agama mereka dan berdagang secara bebas dan terbuka. Islam mengajari kita untuk membawa pesan perdamaian dan memajukan derajat masyarakat ke mana pun kita pergi, dan cara terbaik untuk mencapai ini adalah dengan menciptakan hubungan baik, mengedepankan sikap toleransi, menjalin persahabatan dan keharmonisan di antara manusia. Karena itu, orang-orang Muslim harus berupaya membangun persahabatan di antara masyarakat dan tidak boleh menyalahgunakan kekuasaan, bertindak sewenang-wenang dan arogan. Mereka tidak boleh dipungut bayar pajak lebih dari seharusnya, tidak boleh dihinakan dan tidak boleh dipaksa hengkang dari rumah rumah mereka, ladang dan tempat dagang mereka. Para pendeta harus diperlakukan dengan penuh hormat, biara mereka harus dilindungi dan mereka harus dibiarkan untuk menjalankan kuliah mereka, ajaran-ajaran serta khutbah khutbah sebagaimana biasa dan ritual keagamaan mereka tidak boleh dilarang. Jika mereka ingin membangun tempat ibadah, maka tanah-tanah kosong dan belum ada pemiliknya harus diberikan kepada mereka. Siapa pun, yang tidak mematuhi aturan ini berarti melawan aturan Allah, dan Nabi Muhamamd Saw serta pantas mendapat kemurkaan-Nya. 


Pernah ketika Haris ibn Suhail, Gubernur Kufah, sedang menunggang kuda menyusuri kota, melihat Imam juga sedang menunggang kuda. Dia bergegas turun dari kudanya untuk menemani Imam dengan berjalan kaki. Imam Ali memberhenti kan kudanya dan berkata, “Tidak pantas seseorang merendahkan diri di hadapan siapa pun kecuali kepada Allah. Naiklah kembali ke atas kudamu. Bahkan seandainya pun engkau bukan seorang pejabat negara, aku tidak akan membiarkanmu merendahkan diri seperti ini. Sikap rendah diri di hadapanku tidak akan membuatku senang dan bangga. Ini adalah bentuk tirani paling buruk yang lumrah dipraktikkan." 


Ada sebuah surat dari Imam Ali, yang sebenarnya adalah sebuah sistem peraturan dan regulasi bagi administrasi sebuah pemerintahan yang adil dan sebuah kode bagi nilai moralitas yang lebih tinggi. Ini terangkum dalam Nahjul Balaghah (surat 53) dan sering dijadikan rujukan oleh para sejarawan Eropa, para filosof Arab dan bahkan oleh Justice Kayani dalam pidato kepresidenan di Karachi Bar pada 16 April, 1960. Karenanya ini tidak perlu pengantar. Dalam surat ini ada berbagai instruksi yang memperlihatkan bahwa dia ingin pegawainya mengingat bahwa masyarakat yang mereka pimpin itu adalah amanah yang telah Allah amanahkan kepada kita, dan mereka wajib diper lakukan dengan amanah pula. 


Terima kasih kepada pengarang dan semua yang terlibat yang diambil menjadi sumber untuk dikongsikan di wadah ini, selamat membaca selanjutnya dari tautan lengkapnya di sini
https://drive.google.com/file/d/0B_l0We7EQa4JWUI5ZWMtU0xhNFk/view




Selasa, 27 November 2018

Kritik Atas Kekhalifahan Abu Bakar




ilustrasi hiasan:




Pengarang :


Title : Kritik Terhadap Kekhalifahan Abu Bakar
Author : Ayatullah Sayid Ali Husaini Milani
Translator : Ahmad Rafiq
Editor :
Publisher : Markaz-e Haqoyeq-e Eslomi
Publish date : 2012-05-09
Page count : 74


Prakata Penerbit

Agama Allah swt yang terakhir dan paling sempurna telah dipersembahkan dengan diutusnya nabi pamungkas, Nabi Muhammad Musthafa saw, kepada penduduk bumi.
Agama dan risalah para nabi telah berakhir dengan berakhirnya kenabian beliau saw.
Agama Islam bermula dari kota Makkah hingga menyebar ke seluruh pelosok Jazirah Arab setelah 23 tahun usaha tiada henti Rasulullah saw dan sekelompok sahabat setia beliau.
Keberlanjutan jalan Ilahi ini diembankan oleh Tuhan yang Maha Pengasih kepada seorang lelaki pemberani pertama dunia Islam setelah Nabi Muhammad saw, yaitu
Imam Ali as, pada tanggal 18 Dzilhijjah, di suatu tempat yang bernama Ghadir Khum.
Pada hari itu, dengan pengumuman kepemimpinan (wilayah) Imam Ali as, nikmat Ilahi dan agama Islam menjadi sempurna, lalu Islam menjadi satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah swt. Dengan demikian, sirnalah impian kaum kafir dan musyrik akan kehancuran Islam.

Tak lama setelah itu, sebagian orang di sekeliling Nabi saw –dengan isu-isu yang telah dipersiapkan sebelumnya- melencengkan jalan hidayah dan kepemimpinan sepeninggal beliau saw; mereka menutup gerbang kota ilmu dan menjerumuskan Muslimin dalam kebingungan. Dari awal kekuasaan, mereka telah menenggelamkan cahaya Islam – yang seharusnya bersinar selamanya – dalam awan kelam keraguan, yaitu dengan melarang penulisan hadits-hadits nabawi, penyebaran hadits-hadits
buatan dan sebagai gantinya memaparkan persoalan yang meragukan dan menyesatkan.

Namun meski demikian, hadits-hadits nabawi tetap mengalir sepanjang zaman melalui lisan Amir Al-Mukminin as, para washi beliau as serta sekelompok dari sahabat setia dan menjelma dalam bentuk tertentu di setiap potongan fenomena zaman. Mereka terus menjawab pertanyaan musuh dan menghidupkan kebenaran.

Di antara mereka adalah ulama kita seperti Syaikh Mufid, Sayid Murtadha, Syaikh Thusi, Khajah Nasir, Allamah Hilli, Qadli Nurullah, Mir Hamid Husein, Sayid  Syarafuddin Amini dan lain sebagainya. Mereka seperti bintang karena terus menerus berusaha menjelaskan jalan kebenaran dengan lisan dan pena mereka.

Di antara ulama ternama kita saat ini yang berjasa dalam menjaga dan ajaran agama dan melindunginya dari serangan syubhat-syubhat serta terus menyerukan wilayah Amir Al-Mukminin as adalah Ayatullah Sayid Ali Husaini Milani lewat karya-karyanya.

Markaz-e Haqoyeq-e Eslomi dengan bangga bertanggung jawab menghidupkan tulisan-tulisan berbobot dan bernilai milik beliau dan dengan cara mengkaji, menterjemahkan, mencetak, serta berusaha mempersembahkan tulisan-tulisan tersebut kepada para pencari ilmu dan mereka yang haus akan hakikat.

Buku yang ada dihadapan anda ini adalah salah satu terjemahan dalam bahasa Indonesia dari tulisan-tulisan beliau. Kami berharap usaha ini dapat menjadi keridhaan Allah swt dan mendapatkan restu Imam Mahdi as.

Markaz-e Haqoyeq-e Eslomi

Sambutan


Dengan menyebut nama Allah swt yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Puji syukur kepada Allah swt serta shalawat dan salam kepada junjungan nabi besar Muhammad saw dan keluarga sucinya as, serta laknat Allah untuk musuh-Nya dari awal sampai akhir.


Prakata

Dengan melihat silsilah pembahasan yang telah dipaparkan, kita telah menjelaskan dalil-dalil pilihan kepemimpinan Imam Ali as dalam pandangan Quran, sunah Nabi saw dan akal. Kita dalam semua pembahasan ini tidak keluar dari metode yang digunakan oleh Ahlu Sunah bahkan kita tetap menjaga syarat-syarat yang mereka anggap wajib dalam kepemimpinan.

Ahlu Sunah menganggap bahwa kepemimpinan berdasarkan pilihan umat dan masyarakat; maka dengan dasar ini mereka menetapkan beberapa syarat wajib sehingga atas dasar kepemilikan syarat tersebut siapapun dapat kelayakan menyandang kepemimpinan.

Kita dalam tulisan ini mencari dan menelaah kembali sesuai dengan syarat-syarat lazim dan berdasarkan pendapat-pendapat para pembesar ulama Ahlu Sunah dan menetapkan kepemimpinan Imam Ali as.

Sekarang untuk menyempurnakan pembahasan ini, kita akan membahas dalil-dalil Ahlu Sunah akan kepemimpinan Abu Bakar karena sebagaimana kita memiliki dalil-dalil kepemimpinan imam Ali as, mereka juga memiliki dalil-dalil akan kepemimpinan Abu Bakar oleh karena ini, kita akan menelaah dalil-dalil tersebut sehingga nilai keilmiahan dalil tersebut menjadi jelas.

Kita dalam tulisan ini juga menggunakan aturan dan metode pembahasan dan diskusi. Jelas bahwa asas dan dasar diskusi itu adalah, bisa jadi dalil-dalil yang dipaparkan dapat diterima oleh kedua pihak, atau dalil setiap kelompok diterima oleh pihak lawan sehingga diskusi dengan mereka dapat terealisasi serta menarik mereka untuk menerimanya.

Kita dalam tema ini, duduk berdiskusi berdasarkan buku-buku dan pendapat-pendapat para ulama Ahlu Sunah, menjaga adab dan aturan diskusi, mengeluarkan pendapat berisi, bernilai dan tanpa fanatik sehingga jelas bahwa dalil-dalil mereka tentang kepemimpinan Abu Bakar tidaklah sempurna menurut pendapat para ulama mereka sendiri. Kalau begini, bagaimana bisa mereka memaksa kita untuk menerima dalil-dalil mereka yang para pembesar mereka sendiri tidak menerima dalil bahkan sama sekali tidak berdalil dengan dalil tersebut.

Dalam pembahasan ini, kita bersandar pada paling penting dan paling terkenalnya buku-buku Ahlu Sunah, seperti, Al-Mawâqif Fi Ilm Al-Kalâm, Syarh Al-Mawâqif dan Syarh Al-Maqâshid.

Buku-buku ini ditulis di abad kedelapan dan Sembilan dan menjadi buku pelajaran di hauzah-hauzah ilmiah. Para guru dari Ahlu Sunah juga memiliki catatan-catatan pinggir tentang buku-buku ini.
Kalau anda merujuk pada buku Kasyf Al-Dzunûn, anda akan melihat pendapat penulis kitab terhadap tiga buku diatas, anda akan menemukan catatan-catatan pinggir dan penjelasan-penjelasan yang sangat banyak tentang buku tersebut.

Dari satu sisi, buku-buku ini memiliki nilai legitimasi, buku-buku yang lain ditulis berdasarkan mereka, diterima oleh semua pihak dan Ahlu Sunah bersandar dan meyakininya.




Dalil terpenting Ahlu Sunah Atas Kekhalifahan Abu Bakar

Sekarang kita akan meneliti dalil-dalil yang dipaparkan oleh Ahlu Sunah akan kepemimpinan Abu Bakar.
Demikian isi buku Al-Mawâqif:
"Maqshad keempat: Tentang pemimpin yang benar setelah Rasulullah saw[1] . Sesuai dengan keyakinan kita, kepemimpinan khusus untuk Abu Bakar, tetapi menurut Syiah, pemimpin setelah Rasulullah saw adalah Ali.
Ada dua jalan untuk membuktikan keabsahan kekhalifahan Abu Bakar:
Hadits dan sabda yang jelas dari nabi tentang kekhalifahan;

Ijma' dan kesepakatan umat mengenai kekhalifahan.
Yang pertama, kami tidak menemukan sabda dan hadits nabawi tentang kepemimpinan sepeninggal Rasulullah saw.[2] Ijma' pun juga demikian, bahwa tidak ada ijma' sepeninggal Nabi saw selain untuk Abu Bakar.
Ijma' hanya dapat menjadi dalil keabsahan kekhalifahan tiga orang: Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib dan Abbas.[3] Karena Ali dan Abbas tidak menentang Abu Bakar (karena kalau Abu Bakar salah Ali dan Abbas pasti menentangnya), maka ijma' atas kekhalifahan Abu Bakar dapat dijadikan dalil yang kuat bagi keabsahannya."[4]
Dalam dalil ini telah diakui bahwa sabda secara terang-terangan dari pihak Rasulullah saw tentang kepemimpinan Abu Bakar tidak pernah ditemukan. Oleh karena itu, dalil pertama keabsahan kekhalifahan Abu Bakar adalah ijma' dan tidak adanya sabda secara terang-terangan dari Rasulullah saw.

Penulis Syarh Al-Mawâqif berpendapat dalam pembahasan ketiga tentang dalil penetapan kepemimpinan bahwa:

"Jalan penetapan kepemimpinan, bisa jadi sabda secara terang-terangan atau pemilihan umat (ijma').[5] Sabda secara terang-terangan tentang hak Abu Bakar tidak ada, tapi dia ditetapkan sebagai khalifah melalui kesepakatan dan ijma' umat."[6]
Maka jelaslah bahwa tidak ada sabda secara terang-terangan dari pihak rasulullah saw dan satu-satunya dalil tentang kepemimpinannya hanyalah ijma' dan kesepakatan umat.

Jalan ketiga yang dipaparkan oleh Ahlu Sunah adalah jalan keutamaan. Oleh karena itu, sebagaimana kita membahas perihal keutamaan (keafdhalan), mereka pun juga membahasnya. Tetapi dalam hal ini mereka memiliki pendapat yang berbeda-beda, sebagian berpendapat bahwa keutamaan adalah syarat wajib bagi pemilik posisi kepemimpinan dan sebagian yang lain mengingkarinya.
Mereka yang tidak meyakini keafdhalan sebagai syarat kehalifahan, tidak terlalu bersikeras dalam mengagungkan dan membuktikan keafdhalan Abu Bakar; seperti Fadhl bin Ruzbahan. Namun yang meyakini keafdhalan adalah syarat kekhalifahan, jelas mereka sangat mementingkan masalah itu dan mati-matian membuktikan bahwa Abu Bakar lebih afdhal dari lainnya.

Salah seorang yang berada di kelompok kedua adalah Ibnu Taimiyah. Oleh karenanya ia sangat memaksakan diri untuk membuktikan bahwa Abu Bakar adalah sahabat nabi yang paling utama. Selain itu ia juga sangat getol menolak dalil-dalil keafdhalan dan kekhalifahan Ali bin Abi Thalib as.




Dalil Ahlu Sunah tentang keutamaan Abu Bakar


Dalil Pertama

Dalam buku Al-Mawâqif dan Syarh Al-Mawâqif diriwayatkan:
"Maqshad kelima: tentang paling utamanya sahabat setelah Rasulullah saw. Kita dan mayoritas Mu'tazilah menganggap Abu Bakar sebagai orang yang paling utama setelah Rasulullah saw, sedang menurut Syiah dan mayoritas ulama terakhir Mu'tazilah, Ali adalah orang yang paling utama setelah Rasulullah saw".[7]
Sesuai dengan apa yang telah kita bahas, jelas bahwa dalil Ahlu Sunah atas kepemimpinan Abu Bakar adalah ijma' dan keutamaannya, tetapi hal ini dapat diterima jika mereka mengakui keutamaan Abu Bakar dan mereka juga tidak mempunyai satu pun hadits tentang kepemimpinan Abu Bakar dari Rasulullah saw.
Kita bisa mencapai tujuan dalam hal penetapan kepemimpinan Imam Ali as dengan tiga jalan di atas (hadits secara terang-terangan dari Rasulullah saw, ijma' dan keutamaan), tetapi di sini kita tidak perlu menjelaskannya.
Mereka mengakui kalau mereka tidak punya satupun hadits tentang kepemimpinan Abu Bakar dari Rasulullah saw. Oleh karena itu, hanya ada dua jalan yang tersisa dalam menetapkan kepemimpinan Abu Bakar, yaitu ijma' dan keutamaannya.
Sekarang kita akan meneliti hadits-hadits tentang keutamaan Abu Bakar yang mereka paparkan.


Dalil kedua

Dalil kedua akan keutamaan Abu Bakar adalah sabda Rasulullah saw yang berbunyi:
"Setelahku, ikutilah dua orang ini: Abu Bakar dan Umar."[9]
Kata "ikutilah" adalah kata perintah; dari satu sisi, semua Muslimin adalah lawan bicara Rasulullah saw dalam sabda-sabda beliau, yang juga mencakup Ali bin Abi Thalib as. Maka Ali juga termasuk orang yang diperintahkan untuk mengikuti dua pembesar itu (Abu Bakar dan Umar). Oleh Karenanya, wajib bagi Ali as untuk mengikuti dua orang tersebut sebagai seorang pemimpin."
Ahlu Sunah meriwayatkan hadits ini dalam kitab-kitab mereka. Dari sini, riwayat dari Rasulullah saw ini menjadi dalil atas kepemimpinan Abu Bakar, dan kepemimpinan Umar adalah konsekwensi dari kepemimpinan Abu Bakar. Yakni kalau kepemimpinan Abu Bakar dapat ditetapkan, maka kepemimpinan Umar juga dapat ditetapkan; meskipun sekarang kita tidak ingin mengulas kepemimpinan Umar.


Dalil ketiga

Dalil ketiga akan keutamaan Abu Bakar, sebuah hadits yang dinukil dari Rasulullah saw. Beliau saw bersabda kepada Abu Al-Darda': "Demi Allah swt, setelah para nabi dan rasul, matahari tidak terbit dan terbenam kepada seorang yang lebih mulia dari Abu Bakar."[10]
Sesungguhnya hadits ini memiliki kelayakan untuk dikatakan sebuah hadits yang secara terang-terangan menunjukkan kepemimpinan Abu Bakar, dan dengan hadits ini Abu Bakar menjadi lebih mulia dari Ali as. Akal mengatakan, buruk kalau sesuatu yang biasa lebih didahulukan dari yang memiliki keutamaan atau mengedepankan pemilik keutamaan dari pemilik keutamaan yang lebih besar. Maka satu-satunya orang yang setelah Rasulullah saw berhak mencapai kedudukan sebagai khalifah adalah Abu Bakar.


Dalil keempat

Yaitu hadits Rasulullah saw yang menjelaskan keutamaan Abu Bakar dan Umar. Beliau saw bersabda:
"Abu Bakar dan Umar adalah pemimpin orang tua penghuni surga kecuali bagi para nabi dan rasul."[11]
Seseorang yang menjadi penghulu sebuah kaum, maka dia juga akan menjadi pemimpin mereka, yaitu orang lain haruslah mengikuti dia. Karena Ali bin Abi Thalib as adalah salah satu dari kaum itu, maka dia harus mengikuti Abu Bakar dan Umar karena mereka berdua adalah penghulu para orang tua penghuni surga.



Dalil kelima

Dalil kelima, hadits dari Rasulullah saw yang mana beliau saw bersabda:
"Sebuah kelompok yang didalamnya ada Abu Bakar, tidak sepatutnya mendahulukan yang lain selain dia."[12]
Oleh karena ini, tidak boleh bagi seseorang mendahulukan dirinya dari Abu Bakar dan ini juga berlaku bagi Ali bin Abi Thalib as.
Maka Ali as tidak boleh mengedepankan dirinya dari Abu Bakar, dan tidak ada satu orangpun yang berhak mengklaim Ali as lebih tinggi dari Abu Bakar karena pendapat ini bertentangan dengan sabda Rasulullah saw di atas.


Dalil keenam

Dalil keenam adalah perlakuan Rasulullah saw terhadap Abu Bakar. Beliau saw mengedepankan Abu Bakar dalam shalat jama'ah (paling mulianya shalat) Ketika Rasulullah saw sakit, Abu Bakar shalat bersama dengan yang lain di mihrab beliau saw dan shalat yang dilakukan Abu Bakar ketika itu (sesuai dengan yang diriwayatkan) adalah shalat atas perintah Rasulullah saw.

Kalau seorang shalat di tempat Rasulullah saw dan dia menjadi imam atas perintah beliau saw, maka dia layak untuk menjadi imam dan pemimpin umat setelah Rasulullah saw.


Dalil ketujuh

Dalil ketujuh adalah sebuah sabda Rasulullah saw tentang Abu Bakar dan Umar, yang berbunyi:
"Paling mulianya umatku adalah Abu Bakar kemudian Umar."[13]
Ini adalah hadits yang diriwayatkan Ahlu Sunah dalam kitab-kitab mereka.


Dalil kedelapan

Dalil kedelapan adalah sebuah sabda Rasulullah saw yang menjelaskan tentang persahabatan dengan Abu Bakar. Beliau saw bersabda:
"Kalau aku ingin memilih seorang teman selain Tuhanku swt maka aku akan memilih Abu Bakar sebagai temanku."[14]


Dalil kesembilan

Dalil kesembilan adalah sebuah riwayat Rasulullah saw tentang Abu Bakar, yang berbunyi:
"Mana orang yang seperti Abu Bakar? Ketika orang-orang tidak mempercayai aku, dia mempercayaiku, mengimaniku, mengawinkanku dengan putrinya, menolongku dengan jiwa dan hartanya dan berjihad bersamaku di saat sendiri dan ketakutan di medan perang."[15]


Dalil kesepuluh

Dalil kesepuluh adalah riwayat Ali bin Abi Thalib as yang berbunyi:
"Orang yang paling mulia setelah para nabi adalah Abu Bakar kemudian Umar setelahnya Allah swt yang maha tahu." (!!)[16],[17]
Apa yang telah dijelaskan adalah dalil-dalil yang diutarakan oleh Ahlu Sunah tentang keutamaan Abu Bakar. Dalil-dalil ini tertulis dalam kitab-kitab yang terpercaya mereka seperti kitab milik Fakhr Razi, Al-Shawâiq Al-Muhriqah, Syarh Al-Mawâqif, Syarh Maqâshid.
Yang jelas, dalil-dalil yang telah disebutkan ada dalam kitab-kitab Ahlu Sunah baik yang dahulu maupun yang sekarang. Mu'tazilah juga sama seperti Asya'irah dalam berdalil dengan dalil-dalil ini, kecuali ulama Mu'tazilah akhir-akhir ini mengakui bahwa banyak sahabat yang lebih mulia dan utama dari pada Abu Bakar, namun kemaslahatan menuntut agar yang biasa (Abu Bakar) didahulukan atas yang lebih utama (Ali bin Abi Thalib as) dalam perkara kekhalifahan.





Kritikan terhadap dalil-dalil keutamaan Abu Bakar



Kritikan terhadap dalil-dalil Ahlu Sunah


Kita telah menyebutkan dalil-dalil Ahlu Sunah tentang keutamaan Abu Bakar. Sekarang kalau ada orang yang bertanya dalil manakah yang paling penting di antara dalil-dalil yang telah disebutkan tadi? Dalam menjawabnya mereka katakan: Dari dalil-dalil yang telah disebutkan, dalil yang paling penting adalah dalil tentang shalat jamaahnya Abu Bakar sebagai imam dan hadits yang berbunyi: "Setelahku, ikutilah dua orang ini: Abu Bakar dan Umar."
Tapi sekarang kita akan membahas dan mengkaji satu-persatu dari semua dalil yang telah disebutkan di bagian kedua.


Kritikan untuk dalil pertama 

Dalil pertama yang dipaparkan adalah firman Allah swt
"Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya." (QS. Al-Lail [92]:17-19)

Ini hanyalah satu ayat Quran. Dalam pembahasan ayat-ayat yang berkenaan dengan kepemimpinan Imam Ali as telah kita ingatkan bahwa penetapan kalau ayat itu berkaitan dengan kepemimpinan Imam Ali as tergantung pada beberapa hal, salah satunya; kita harus tetapkan terlebih dahulu kalau ayat itu turun perihal kedudukan Imam Ali as, kalau tidak, maka seperti ayat-ayat Quran lainnya yang sama sekali tidak mengutip nama Ali as.

Oleh karenanya, kita perlu beberapa pendahuluan dalam pembahasan ini:

Pertama:

Untuk menjadikan ayat itu sebagai dalil kekhalifahan Abu Bakar, kita memerlukan dalil-dalil lain yang membuktikan bahwa semua dalil tentang kemaksuman Ali as tidak bernilai, karena orang yang suci disisi Allah swt lebih mulia dari orang yang hanya menghamburkan hartanya di jalan Allah swt.

Dengan demikian, kalau ayat turun perihal Abu Bakar, berdalil dengannya butuh pada pembatalan dalil Imamiyah akan kemaksuman Ali as, kalau tidak maka kedudukan beliau as disisi Allah swt akan lebih tinggi dan pembuktian kepemimpinan lewat ayat ini menjadi gugur.

Kedua:

Berdalil dengan ayat ini menuntut digugurkannya dalil-dalil Syiah tentang kemuliaan Ali as di sisi Allah swt. Karena jika hal ini terbukti, dalil ini akan bertentangan dengan dalil ayat kepemimpinan Abu Bakar. Setelah pertentangan ini, keduanya akan gugur dan ayat itu tidak akan membuktikan kepemimpinan Abu Bakar (yang jelas dalil ini haruslah benar).

Kenyataan yang tidak bisa dipungkiri adalah:
Ali as sama sekali tidak pernah sujud pada berhala tapi Abu Bakar pernah sujud pada berhala. Dengan bukti ini, Ahlu Sunah ketika menyebut nama Ali as, mereka menyebutkan kata Karramallahu Wajhahu, yaitu Allah swt memuliakan wajahnya. Hal ini menjadi bukti kemuliaan Imam Ali as disisi Allah swt lebih dari yang lain.

Ketiga:

Berdalil dengan ayat ini bergantung pada kepastian ayat turun berkaitan dengan Abu Bakar. Namun nyatanya para mufassir berbeda pendapat dalam hal itu. Mereka menyebutkan tiga pendapat:

Pendapat pertama:

Ayat berkaitan dengan seluruh mukminin, tidak khusus untuk satu mukmin saja.

Pendapat kedua:

Sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Dur Al-Mantsûr, ayat tersebut turun berkaitan dengan kisah Abu Dahdah dan seorang pemilik pohon kurma dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan Abu Bakar.

Pendapat ketiga:

Ayat itu diturunkan berkaitan dengan Abu Bakar.
Oleh karena ini, kemungkinan ayat turun berkaitan dengan Abu bakar hanyalah satu dari tiga pendapat tersebut. Pendapat itu pun juga bergantung pada ke-shahih-an sanad riwayat; kalau sanad-nya tidak sempurna maka berdalil dengan ayat ini tentang kepemimpinan Abu Bakar adalah usaha yang sia-sia.

Sekarang kami akan menjelaskan kelemahan sanad dan perawi riwayat di atas:

Riwayat ini dinukil oleh Thabrani. Hafid Haitsami, setelah menukil riwayat dari Thabrani ini, dalam kitab Majma' Al-Zawâid mengatakan: "Dalam sanad riwayat ini ada Mus'ab bin Tsabit dan dia perawi yang lemah."[18]
Dikarenakan pendapat ketiga (salah satu dari tiga pendapat di atas) bersandar pada sanad ini, lalu karena sanad ini lemah, maka pendapat itu tidak dapat dibenarkan.
Dari sisi lain Mus'ab dan anak-anak Zubair, sebagaimana dijelaskan dalam kitab-kitab tertentu, mereka telah melenceng dari Ahlul Bait as. Yahya bin Ma'in, Ahmad bin Hanbal dan Abu Hatim meyakini akan kelemahan Mus'ab.

Nasai berpendapat tentangnya dengan berkata: "Mus'ab dari sisi penukilan hadits tidaklah kuat." Yang jelas, ulama lain juga menyatakan beberapa pendapat tentangnya.[19]
Sekarang, bagaimana mungkin dengan ayat ini kita tetapkan keutamaan Abu Bakar, sebuah ayat yang memiliki tiga pendapat berbeda, selain itu, riwayat yang mengatakan kalau ayat ini turun tentang Abu Bakar adalah riwayat yang lemah?

Selain itu, lagi-lagi kita katakan bahwa berdalil dengan dalil ini bergantung pada tidak benarnya dalil-dalil Syiah Imamiyah tentang kemuliaan dan keutamaan Amir Al-Mukminin as.



Kritikan untuk dalil kedua

Dalil kedua mereka adalah sebuah hadits dari Rasulullah saw, yang mana beliau saw bersabda:
"Setelahku kalian ikutilah dua orang ini: Abu Bakar dan Umar".
Ini adalah hadits Ahlu Sunah yang paling diandalkan dalam membuktikan kekhalifahan Abu Bakar dan Umar. Mereka pun berdalil dengannya dalam buku-buku mereka. Berdasarkan riwayat ini mereka membenarkan kesepakatan pendapat antara Abu Bakar dan Umar dalam setiap perkara bahkan mereka menetapkan kebenaran perilaku dan metode mereka berdua.

Oleh karena itu, hadits tersebut memiliki nilai lebih, khususnya karena dinukil oleh ulama seperti Ahmad bin Hanbal dalam kitab Musnad, Tirmidzi dalam kitab Shahîh dan Hakim dalam kitab Mustdrak.[20] Maka, hadits ini ada dalam kitab-kitab terpercaya dan masyhur dan mereka menggunakannya sebagai dalil dalam berbagai pembahasan.

Kalau anda mengkaji kembali sanad hadits ini dan mempelajari pendapat-pendapat ulama Ahlu Sunah tentang para rawi yang meriwayatkan hadis ini, maka anda akan melihat bahwa semua perawi yang meriwayatkan hadits di atas adalah orang-orang yang lemah. Masalah ini begitu jelasnya sampai ulama-ulama mereka sendiri menyatakan kelemahan mayoritas rawi hadits ini dan mengungkapnya dengan berbagai penelitian ilmu rijal.

Oleh karena itu, demi mempermudah para penelaah, kami akan menjelaskan secara ringkas pendapat-pendapat ulama Ahlu Sunah tentang para perawi hadits tersebut:

Manawi dalam kitab Faidl Al-Qadîr Fi Syarh Al-Jâmi' Al-Shaghîr[21] tentang penjelasan hadits ini menyatakan: "Abu Hatim tidak menerima hadits ini dan menganggapnya sebagai hadits yang lemah, dan dia mengatakan: "Bazzar dan juga Ibn Hazm tidak menerima hadits ini."."[22]
Sesuai dengan penukilan ini, ada tiga orang dari ulama Ahlu Sunah yaitu Abu Hatim, Abu Bakar Bazzar dan Ibn Hazm Andalusi yang menolak hadits ini.

Sedangkan Tirmidzi, yang menukil dengan sangat baik hadits ini dalam kitabnya, dengan sangat jelas menganggap para perawi hadits tersebut adalah orang-orang yang lemah.[23]
Dari sisi lain, kalau anda merujuk pada kitab Al-Dhu'afâ' Al-Kabîr milik Abu Jakfar 'Uqaili, kalian akan melihat kalau dia berpendapat begini: "Hadits ini telah diingkari dan tidak memiliki dasar apapun." [24]

Penulis kitab Mîzân Al-I'tidâl, dengan menukil dari Abu Bakar Naqqash, mengatakan: "Hadits ini tidak memiliki nilai ."[25]

Dar Quthni, yang memiliki julukan khusus Amir Al-Mukminin di Abad 14 H, mengatakan tentang hadits ini: "Hadits ini tidak terbukti ."[26]

Allamah 'Ibri Farghani (meninggal pada tahun 743 H.) dalam satu penjelasan tentang kitab Manhâj Baidhâwi, mengatakan: "Hadits ini adalah hadits buatan." [27]

Hafidz Dzahabi dalam kitab Mîzân Al-I'tidâl dalam beberapa hal menukil hadits ini, ketika itu dia tidak mempercayai bahkan mencampakkannya ."[28]

Ketika kami merujuk pada kitab Talkhîs Al-Mustadrak, kita melihat bahwa Hakim setelah menukil hadits ini mengatakan: "Sungguh sanad hadits ini tidak bernilai. "[29]

Haitsami dalam kitab Majma' Al-Zawâid menukil hadits ini dari jalan Thabrani dan menulis: "Dalam sanad hadits ini ada beberapa orang yang tidak aku kenal." [30]

Ibn Hajar Asqalani Hafid dan Syeikh Al-Islam juga menyebutkan hadits ini dalam kitab Lisân Al- Mîzân di beberapa perkara dan setiap kali menukil, mereka selalu menganggapnya lemah.[31] Begitu juga ulama-ulama abad ke 10 H. seperti Syeikh Al-Islam Harawi dalam kitab Al-Durr Al-Nadlîd Min Majmû'ah Al-Hafîd (yang ada ditangan kita sekarang) mengatakan: "Hadits ini adalah buatan." [32]

Begitu juga Ibnu Darwis menukil hadits ini dalam kitab Asnâ Al-Mathâlib Fi Ahâdîs Mukhtalifah Al-Marâtib dan menyebutkan pendapat-pendapat ulama tentang kelemahan hadits ini. [33]

Satu hal menakjubkan yang dikatakan oleh Hafid Ibn Hazm Andalusi dalam berdalil dengan hadits ini, dia mengatakan: "Kalau kita membolehkan penipuan dan penjelasan satu perkara yang ketika musuh-musuh kita mendapatkannya maka mereka akan sedih atau mereka akan diam karena sedih, maka dapat dipastikan kita akan berdalil dengan hadits yang telah dinukil ini, ketika beliau saw bersabda: "Setelahku, ikutilah dua orang ini: Abu Bakar dan Umar." Tetapi hadits ini tidak benar dan Allah swt mencegah kita untuk berdalil dengan sesuatu yang tidak benar."[34]

Sesuai dengan pendapat ini, maka kita tidak layak berdalil dengan hadits di atas, baik dari pihak Syiah Imamiah maupun Ahlu Sunah. Meskipun kita ingin menetapkan kepemimpinan Amir Al-Mukminin as, kita tidak layak berdalil dengan hadits-hadits yang pada umumnya ditolak dan dilemahkan oleh para ulama.

Sebagian dari Ahlu Sunah, meskipun mereka mengakui kebatilan hadits ini, namun karena mereka merasa hadits itu berguna untuk membuktikan keabsahan kekhalifahan Abu Bakar, maka mereka sempat berusaha menisbatkannya pada dua kitab Shahîh Muslim dan Shahîh Bukhâri.
Sebagai contoh untuk pembaca, dalam kitab Syarh Al-Fiqh Al-Akbar Ila Shahîhai Al-Bukhâri Wa Al-Muslim, hadits ini telah diakui ada dalam Shahîh Muslim dan Bukhâri, sedangkan hadits ini tidak ada dalam dua kitab tersebut. Mungkin mereka lalai bahwa kelak ada orang yang mencari tahu apakah hadits tersebut memang ada dalam kitab-kitab mereka?

Dari sisi lain, mungkinkah Rasulullah saw memerintahkan kepada umat untuk mengikuti Abu Bakar dan Umar sedangkan dua orang itu berbeda pendapat dalam banyak hal.
Sebenarnya, siapakah yang harus diikuti oleh Muslimin? Bagaimana mungkin Rasulullah saw memerintahkan umat untuk mengikuti dua orang itu, sedangkan para sahabat yang lain menentang pendapat dan perilaku mereka?
Apakah dapat kita katakan bahwa semua orang yang bertentangan dengan Abu Bakar dan Umar adalah orang-orang yang fasik?




Kritikan untuk dalil ketiga

Dalil ketiga adalah satu hadits dari Rasulullah saw ketika bersabda kepada Abu Al-Darda':
"Demi Allah, Setelah para nabi dan rasul, matahari tidak terbit dan terbenam kepada seorang yang lebih mulia dari Abu Bakar."

Di pihak Ahlu Sunah hadits ini sangat lemah. Thabrani meriwayatkannya dengan ber-sanad dalam kitab Awsath dan Haitsami berpendapat bahwa:

"Dalam sanad hadits, ada seorang yang bernama Ismail bin Yahya Taimi sedangkan dia adalah seorang pembohong."

Haitsami meriwayatkan hadits ini dalam kitab Majma Al-Zawâid dengan sanad yang lain dan berkata:

"Salah satu periwayat hadits ini adalah Baqiyah bin Al-Walid dan dia adalah seorang yang lemah dan penipu."[35]

Dari sini, hadits ini di sisi ahli rijal tidak memiliki nilai.



Kritikan untuk dalil keempat

Satu lagi dalil Ahlu Sunah akan keutamaan Abu Bakar adalah sabda Rasulullah saw yang berbunyi:

"Abu Bakar dan Umar adalah pemimpin para orang tua penghuni surga."

Hadits ini diriwayatkan oleh Bazzar dan Thabrani dari Abu Sa'id. Ketika Haitsami meriwayatkannya dalam kitab Majma Al-Zawâid dari dua orang tersebut, dia mengatakan:

"Salah satu periwayat hadits ini adalah Ali bin 'Abis dan dia lemah dalam meriwayatkan hadits."

Dalam pembahasan lain, Haitsami menukil hadits ini dari Ubaidullah bin Umar dan tentang salah satu perawi hadits yang bernama Abdurrahman Malik mengatakan:

"Kita tidak bisa mengamalkan perkataannya."[36]

Perlu diketahui bahwa, bagi Haitsami, hadits ini tidak memiliki sanad yang lain kecuali dua yang telah disebutkan di atas.



Kritikan untuk dalil kelima

Dalam dalil kelima, Ahlu Sunah berdalil dengan sabda Rasulullah saw yang berbunyi:

"Dalam perkumpulan yang di dalamnya ada Abu Bakar, tidaklah layak kalian mengedepankan yang lain selain dia."

Kabar gembira untuk kita dalam masalah ini adalah: Hafid bin Jauzi meriwayatkan hadits ini dalam kitab Al-Maudû'ât kemudian berkata:

"Hadits ini dibuat lalu dinisbatkan kepada Rasulullah saw."[37]

Karena fatwa-fatwa Ibn Jauzi termasuk fatwa yang diterima oleh sebagian pihak seperti Ibnu Taimiyah, maka hendaknya mereka juga menerima perkataannya tentang hadits di atas.




Kritikan untuk dalil keenam

Dalil keenam Ahlu Sunah adalah riwayat tentang shalatnya Abu Bakar saat menggantikan Rasulullah saw menjadi imam jama'ah. Dalil ini cukup dapat dipertimbangkan karena dua hal:


Pertama:
Riwayat itu disebutkan dengan berbagai sanad dalam kitab-kitab ternama Ahlu Sunah, seperti Shahîh Muslim, Bukhâri, Musnad dan Sunan.

Kedua:                                                                                                                                                    Shalat, khususnya shalat berjamaah, adalah ibadah yang penting dan sangat diutamakan dalam Islam. Ketika Rasulullah saw menjadikan Abu Bakar sebagai penggantinya dalam melaksanakan shalat berjama'ah di saat-saat akhir hayatnya, ada kemungkinan pula beliau saw menjadikannya sebagai pengganti dalam memimpin umat sepeninggalnya.



Oleh karena itu, dalil ini adalah dalil terpenting bagi Ahlu Sunah untuk membuktikan keabsahan Abu Bakar sebagai khalifah. Jika anda membaca buku-buku Ahlu Sunah, anda akan sering kali menemukan mereka sangat mementingkan hadits ini dan riwayat ini adalah dalil mereka yang paling kuat.

Mereka meriwayatkan hadits ini dari beberapa sahabat Rasulullah saw. Perawi pertama adalah Aisyah putri Abu Bakar. Namun jika sanad riwayat tersebut diteliti, kita akan dapati bahwa ada kekosongan di antara mata rantai sanad tersebut. Yang jelas sanad hadits tersebut berujung pada Aisyah, itu saja.
Dan ternyata hadits ini perlu dipertanyakan, karena:


Pertama:
Aisyah tercatat pernah melakukan perlawanan terhadap Ali as saat menjadi khalifah.


Kedua:
Ia sendiri adalah putri Abu Bakar, yang pastinya cenderung membela ayahnya.
Tutup mata kita dari perlawanan Aisyah terhadap Ali as. Kalau kita lihat berkas-berkas dan bukti-bukti yang tercatat dalam riwayat dan yang berkaitan dengan fenomena ini, kita akan melihat dengan jelas bahwa pengutusan Abu Bakar untuk shalat bukan dari pihak Rasulullah saw tetapi dari pihak Aisyah.

Bukti yang dapat anda pertimbangkan dalam hal ini adalah perintah Nabi saw agar umat Islam pergi ke luar Madinah untuk bergabung dengan tentara Usamah. Beliau saw hingga akhir hayatnya terus menerus menekankan agar umat Islam bergabung bersama tentara Usamah yang ia utus.
Semuanya sepakat bahwa Nabi saw memang memerintahkan umat Islam untuk bergabung bersama tentara Usamah di saat-saat menjelang wafatnya. Tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini. Anda dapat merujuk kitab-kitab Ahlu Sunah.

Semua sepakat bahwa Rasulullah saw menekankan bergabungnya para pembesar seperti Abu Bakar dan Umar dalam tentara Usamah. Sekarang bagaimana mungkin Rasulullah saw menyuruh Abu Bakar keluar Madinah bergabung dengan Usamah dan diwaktu itu juga memerintahkannya untuk menjadi imam shalat di mihrabnya?

Oleh karena itu orang-orang Seperti Ibn Taimiyah mengingkari keberadaan Abu Bakar di tengah-tengah tentara Usamah. Karena jika ia meyakini keberadaannya di tengah-tengah tentara, berarti ia mengingkari bahwa Nabi saw memerintahkannya untuk menjadi pengganti dalam shalat jama'ah.

Tapi karena dalil ini adalah dalil mereka yang paling kuat, terpaksa mereka mengingkari keberadaan Abu Bakar di tengah-tengah tentara Usamah sedangkan hal ini tidak bisa diingkari sama sekali.

Mari simak riwayat di bawah ini:

Hafid bin Hajar Asqalani dalam kitab Fath Al-Bârî Bi Syarh Al-Bukhâri mengatakan:

"Riwayat tentang kehadiran Abu Bakar dalam tentara Usamah dinukil oleh Waqidi, Ibn Sa'ad, Ibn Ishaq, Ibn Jauzi, Ibn Asakir dan lainnya."[38]

Tercatat dalam sejarah bahwa saat Rasulullah saw meninggal dunia, Usamah dan tentaranya berada di luar Madinah di perkemahan tentara. Meskipun saat itu Abu Bakar telah menguasai keadaan, Usamah tetap tidak mau membaiatnya seraya berkata: "Aku adalah pemimpin Abu Bakar, bagaimana mungkin aku membaiatnya?" Karena itulah Abu Bakar minta izin pada Usamah agar Umar menetap di Madinah untuk menjalankan urusan-urusan tertentu.

Banyak sekali bukti-bukti yang mengingkari pemahaman bahwa Rasulullah saw memerintahkan Abu Bakar menggantikannya menjadi imam jama'ah. Tidak cukup sampai disini, kita tambahkan bahwa Ali as dan Ahlulbait as berkeyakinan bahwa Aisyah-lah yang mengirim Abu Bakar untuk memimpin shalat, bukan Nabi saw.

Ibn Abi Al-Hadid Mu'tazili dalam hal ini mengatakan:
"Aku bertanya kepada guruku tentang peristiwa ini: Apakah anda menyatakan bahwa Aisyah yang mengirim ayahnya untuk memimpin shalat menggantikan Nabi saw? Dan bukan Rasulullah saw yang menentukannya?

Dia menjawab, "Saya tidak bilang begitu, tapi Ali as yang meyakini begini; dan kewajibannya tidak seperti kewajibanku karena dia hadir disitu sedangkan aku tidak."

Kami dalam kajian ini tidak berhenti begini saja, tapi kita juga akan katakan:

Anggap saja kita menerima bahwa Nabi saw yang memang memerintahkan itu. Tapi hal ini tetap tidak bisa menjadi dalil yang dapat mereka andalkan. Karena Rasulullah saw selama hidupnya sering menyuruh sahabat-sahabatnya untuk shalat bersama masyarakat di masjid dan tempat ibadahnya tapi tidak ada satupun yang mengklaim kepemimpinan sahabat dalam shalat-shalat tersebut sebagai dalil kekhalifahan.

Mungkin seseorang akan berkata bahwa shalat berjamaah di akhir-akhir hayat Rasulullah saw berbeda dengan shalat-shalat yang lain, pasti ada nilai lebih dalam hal itu. Bisa jadi, digantikannya Nabi saw dalam shalat jama'ah itu adalah indikasi ditunjuknya Abu Bakar sebagai khalifah.
Dalam menjawabnya kami akan menceritakan peristiwa yang sebenarnya kepada anda.

Kami katakan: Kami menemukan banyak riwayat yang menjelaskan bahwa saat itu lengan Nabi saw diangkat oleh sahabatnya dan dalam keadaan kaki yang terseret tanah ia dibawa ke mihrabnya untuk memimpin shalat berjama'ah (tidak membiarkan Abu Bakar memimpin shalat).

Mungkin Ahlu Sunah akan menjawab: Abu Bakar sudah diam lama menempati mihrab Nabi saw dan beliau saw hanya sekali saja datang menyingkirkannya dari mihrab lalu memimpin shalat jama'ah sendiri.

Untuk menjawabnya kita katakan:


Pertama:
Abu Bakar hanya sekali saja menempati mihrab Nabi saw, yakni di hari selasa waktu shalat subuh, maka hanya satu kali ini saja dan tidak lebih.


Kedua:
Anggap saja Abu Bakar shalat di tempat Rasulullah saw berkali-kali, maka penolakan yang dilakukan Rasulullah saw di akhir hayatnya dengan keadaan digotong dan kaki terseret, adalah sebuah dalil kuat untuk menepis kemungkinan bahwa Abu Bakar dinobatkan sebagai pemimpin.

Jadi Nabi saw sendiri sampai memaksakan diri untuk memimpin shalat jama'ah karena ia tidak ingin masyarakat beranggapan Abu Bakar adalah benar-benar pengganti beliau saw.

Semua yang disebutkan diatas tercatat dalam buku-buku masyhur.

Poin penting yang perlu diperhatikan:

Dalam meneliti riwayat ini ada beberapa poin yang perlu diperhatikan, sekarang kita akan jelaskan.


Pertama:
Sebagaimana telah dikatakan sebelumnya bahwa perawi hadits ini adalah Aisyah, dengan segala kemungkinan yang ada tentang dapat dipercayai atau tidaknya hadits itu. Dan juga, telah terbukti Rasulullah saw memaksakan diri keluar rumah dalam keadaan digotong oleh dua orang sedang kedua kakinya terseret lalu beliau saw masuk masjid dan menyingkirkan Abu Bakar dari mihrab, kemudian beliau saw sendiri yang shalat bersama umat.

Sikap Nabi saw itu menunjukkan bahwa Abu Bakar tidak layak untuk menggantikannya.
Dalam riwayat, Aisyah menyebutkan salah satu orang yang menggotong Rasulullah saw saat itu namun yang satunya tidak disebutkan.

Jelas bahwa orang kedua itu adalah Ali as. Pengingkaran ini menunjukkan bahwa Aisyah tidak senang menyebutkan dan menjelaskan keutamaan Ali as.
Ibn Abbas berkata kepada perawi: "Apakah Aisyah menyebutkan kepadamu nama orang kedua?" Dia bilang, "Tidak."
Ibn Abbas bilang: "Orang itu adalah Ali as tetapi Aisyah tidak suka menyebutkan Ali as dengan fadhilah dan kebaikan."


Kedua:
Setelah mereka mengetahui semua perihal ini, mereka membuat hadits palsu yang lebih berani lagi dalam masalah ini, disebutkan bahwa saat Nabi saw memaksakan diri untuk keluar melakukan shalat, beliau saw berdiri di belakang Abu Bakar dan menjadi makmumnya.
Dengan adanya hadits buatan ini Ahlu Sunah berharap bisa mendapatkan dalil yang lebih kuat lagi.
Sekarang dengan hadits ini, siapa yang bisa menantang kepemimpinan Abu Bakar setelah Rasulullah saw dan fakta bahwa beliau saw menjadi makmumnya? Apakah ini tidak cukup untuk menjadi dalil yang kuat akan kepemimpinan Abu Bakar?

Ya, mereka dengan hadits buatan ini dapat mengatakan bahwa Rasulullah saw shalat dibelakang Abu Bakar, tetapi penggalan hadits tersebut tidak ada dalam kitab Shahîh Muslim dan Bukhâri, yang ada dalam dua kitab ini adalah Rasulullah saw menyingkirkan Abu Bakar (atau Abu Bakar sendiri yang menyingkir dan berdiri dibelakang) dan beliau saw sendiri yang shalat bersama umat.

Hadits ini disebutkan dalam Musnad Ahmad dan dipastikan itu adalah sebuah hadits bohong, dan mayoritas pembesar dan penghafal hadits Ahlu Sunah juga mengingkarinya, sampai, seorang seperti Hafidz Abu Al-Faraj Ibn Jauzi menulis sebuah buku tersendiri tentang kebatilan hadits shalatnya Rasulullah saw dibelakang Abu Bakar.[39]

Jujur, apakah akal menerima Rasulullah saw pernah shalat di belakang sahabatnya? Jelas bahwa akal sama sekali tidak menerima hal ini.


Ketiga:
Rasulullah saw, setelah keluar dari rumah dan menyingkirkan Abu Bakar lalu beliau saw sendiri shalat bersama umat, tidak sampai disini saja. Setelah shalat, Nabi saw duduk di atas mimbarnya dan berkhutbah di depan umat. Dalam khutbah itu beliau saw mengingatkan akan Al-Quran dan Ahlulbait as lalu memerintahkan umat untuk mengikuti mereka dan mendengarkan keduanya dalam perkara-perkara mereka.

Tujuan sikap Nabi saw itu untuk berwasiat kepada umat dan mengenalkan pemimpin sepeninggalnya.
Rasulullah saw di akhir khutbahnya memerintahkan semua muslimin untuk keluar dari Madinah bersama Usamah dan sangat menekankan mereka untuk cepat-cepat bergabung dengan tentara yang sudah di sana.
Jujur, setelah dalil-dalil yang disebutkan ini, apa masih ada jalan untuk berdalih pada hadits-hadits serupa?



Kritikan untuk dalil ketujuh

Dalil ketujuh mereka adalah hadits dari Rasulullah saw, yang mana beliau saw bersabda: "Paling mulianya umatku adalah Abu Bakar kemudian Umar."

Qadhi Iyji dan komentatornya (ahli syarah) menukil riwayat ini dalam bentuk demikian, tetapi hadits sebenarnya bukan begitu, namun memiliki lanjutan. Anehnya mereka tidak menyebutkannya (lanjutan itu) sehingga dengan demikian mereka dapat menjadikannya sebagai dalil untuk suatu kepentingan. Teks lengkap hadits tersebut begini:

Aisyah berkata: "Aku bertanya kepada Rasulullah saw: "Wahai Rasulullah saw, siapa orang yang paling mulia setelahmu?"

Beliau saw bersabda: "Abu Bakar."
Aku bertanya: "Kemudian, siapa?"
Beliau saw bersabda: "Umar."."

Sampai di sini adalah penggalan hadits yang disebutkan dan yang dijadikan dalil oleh Ahlu Sunah. Namun penggalan lainnya, adalah: Waktu itu sayidah Fathimah as juga hadir dan beliau as menanyakan kepada ayahnya saw:

"Wahai Rasulullah saw, kenapa engkau tidak berkata sesuatu tentang Ali as?" Rasulullah saw menjawab:

"Wahai Fathimah as, Ali as adalah jiwaku, dan orang yang kau lihat adalah orang yang berbicara tentang dirinya sendiri."

Jadi, Ahlu Sunah berdalil dengan penggalan pertama hadits saja dikarenakan adanya nama Abu Bakar dan Umar di dalamnya, dan mereka menganggap itu sebagai dalil kekhalifahan mereka. Mereka pun tidak mencantumkan lanjutan haditsnya, seakan-akan mereka tidak tahu bahwa suatu hari nanti akan ada orang mencari tahu seperti apa hadits ini serta sumbernya.

Belum lagi sanad hadits itu termasuk sanad yang lemah; anda bisa merujuk kitab Tanzih Al-Syarî'ah Al-Marfû'ah 'An Al-Ahâdîts Al-Syanî'ah Al-Maudû'ah.[40]


 Kritikan untuk dalil kedelapan

Dalil kedelapan mereka, sebuah hadits dari Rasulullah saw, yang mana beliau saw bersabda:

"Jika aku dapat memilih teman setia selain Tuhanku, maka aku akan memilih Abu Bakar."
Tunggu sebentar. Hadits seperti itu tidak hanya diriwayatkan berkenaan dengan Abu Bakar saja. Ada hadits serupa tentang Utsman yang kurang lebih sama muatannya, yakni Rasulullah saw menjadikan Utsman sebagai teman setia. Dalam hadits yang berkenaan dengan Abu Bakar tercantum kata "jika" sedangkan tentang Utsman isi hadits itu seperti ini:
"Setiap nabi menjadikan salah satu dari umatnya sebagai teman setia, dan teman setiaku adalah Utsman bin Affan."

Sesuai dengan hadits ini, bisa jadi Utsman lebih baik dari Abu Bakar.
Bahkan penulis berani mengatakan bahwa Utsman lebih baik dari Abu Bakar, karena dalam kitab-kitab hadits Ahlu Sunah banyak hadits-hadits akhlaq yang berkaitan dengan Utsman bin Affan dan seakan membuktikan bahwa ia lebih baik dari Abu Bakar. Lagi pula semua hadits diatas batil dan tidak berdasar.[41]




Kritikan untuk dalil kesembilan

Dalil kesembilan mereka adalah sabda Rasulullah saw tentang abu Bakar yang berbunyi:

"Mana orang yang seperti Abu Bakar? Ketika orang-orang tidak mempercayai aku, dia mempercayaiku, mengimaniku... menolongku dengan jiwa dan hartanya dan berjihad bersamaku di saat sendiri dan ketakutan di medan perang."

Suyuthi dalam kitab Al-Lâlî Al-Masnû'ah Bi Al-Ahâdîts Al-Maudlû'ah[42] dan Hafid Ibn 'Araq penulis kitab Tanzîh Al-Syarîah[43] mengkategorikan hadits ini sebagai hadits palsu.

Hadits ini dari segi makna seakan-akan mengatakan bahwa Abu Bakar sebegitunya berkorban serta menyerahkan hartanya kepada Rasulullah saw dan beliau saw butuh pada hartanya.

Jelas bahwa, fenomena ini termasuk kebohongan; begitu jelasnya, sampai-sampai orang seperti Ibn Taimiyah terpaksa untuk mengingkarinya secara terang-terangan[44] dengan menyatakan bahwa Rasulullah saw sama sekali tidak butuh pada hartanya.

Ya, memang ada sebagian pihak yang sebegitu getol berusaha mengukir keutamaan-keutamaan para sahabat dengan cara menciptakan hadits-hadits palsu seperti ini.

Maka terbukti sudah kebohongan hadits ini dari segi sanad dan makna.



Kritikan untuk dalil kesepuluh

Dalil kesepuluh mereka adalah sebuah riwayat yang mereka nukil dari Ali bin Abi Thalib as tentang keutamaan Abu Bakar dan Umar. Dalam riwayat itu dikatakan:

"Paling utamanya manusia setelah para nabi adalah Abu Bakar kemudian Umar kemudian Allah yang maha tahu."
Riwayat yang mereka sebutkan tidak hanya seperti apa yang anda baca di atas, karena masih banyak lagi riwayat-riwayat serupa yang mereka sebutkan.

Kita akan menjawabnya dengan dua penjelasan ini:


Pertama:
Abu Bakar sendiri mengakui bahwa dia bukanlah manusia yang paling utama. Ia sendiri berkata:
"Aku adalah pemimpin kalian tapi bukan berarti lebih baik dari kalian."[45]
Riwayat ini juga disebutkan dalam berbagai kitab ternama.[46]


Kedua:
Penulis kitab Al-Istî'âb dalam menjelaskan keutamaan Imam Ali as, Ibn Hazm dalam kitab Al-Fasl Fi Al-Milal Wa Al-Nihal dan beberapa ulama besar lain Ahlu Sunah mengatakan:
"Mayoritas sahabat Rasulullah saw mengakui kelebihan Ali as di atas Abu Bakar."[47]
Kalau Imam Ali as sendiri yang mengakui keutamaan Abu Bakar dan Umar dari dirinya, bagaimana para sahabat menyatakan bahwa Ali bin Abi Thalib as lebih mulia dari kedua orang tersebut?
Ya mereka menyebutkan nama-nama beberapa orang yang mengatakan kalau Ali as lebih baik dari Abu Bakar, seperti Abu Dzar, Salman, Miqdad, Ammar dan lainnya. Dengan ini semua, Ali as tetap menganggap Abu Bakar dan Umar lebih baik dari dia. semua riwayat itu adalah sebuah kebohongan yang dinisbatkan kepada Imam Ali as.

Kami tidak menemukan alasan untuk menerima hadits dan riwayat yang dijadikan Ahlu Sunah sebagai dalil mereka.

Banyak sekali yang membuktikan bahwa hadits-hadits tersebut adalah buatan atau palsu; khususnya hadits yang berbunyi: "Setelahku, ikutilah dua orang ini: Abu Bakar dan Umar."
Dalil mereka yang kurang lebih cukup dapat diterima adalah masalah Abu Bakar menjadi imam jama'ah menggantikan Nabi saw. Namun setelah dibahas sebagaimana yang telah lalu, ternyata Nabi saw sendiri sempat datang dan memimpin sendiri shalat jama'ah yang mungkin konotasinya adalah beliau saw tidak ingin digantikan olehnya.
Lagi pula banyak hal-hal yang sebenarnya menjadi halangan besar bagi Abu Bakar dan Umar untuk menjadi khalifah. Hal itu banyak sekali dan tidak dapat dibahas di sini. Maka itu pun perlu dipertimbangkan dalam menerima kekhalifahan mereka berdua.



Mengkaji dalil ijma' kekhalifahan Abu Bakar

Dalil Ahlu Sunah untuk kekhalifahan Abu Bakar yang sampai sekarang dalam buku ini belum ditelaah adalah dalil ijma'. Ijma' yaitu kesepakatan para sahabat terhadap kepemimpinan Abu Bakar.
Kita tidak akan membahas ijma' terlalu panjang lebar. Cukup apa yang kita perlu dalam masalah ini saja yang kita bahas. Mari kita memulainya dengan sebuah pertanyaan:

Sebenarnya apa yang mereka maksud dengan ijma' dalam perkara kekhalifahan Abu Bakar?
Mereka menjawab: Ijma' saat itu adalah berkumpulnya sebagian sahabat di Saqifah yang mendorong Abu Bakar maju ke depan dan bersepakat membaiatnya sebagai pemimpin.[48]
Cukup kita baca ungkapan seorang penulis kitab Syarh Al-Maqâshid, yang merupakan salah satu dari ulama besar ilmu kalam:

"Yang kita maksud ijma' dalam kekhalifahan Abu Bakar bukanlah ijma' yang sebenarnya. Karena kita juga mengakui adanya beberapa orang yang tidak setuju dengan kekhalifahan Abu Bakar. Tidak semua orang membai'at Abu Bakar. Namun diakui kekhalifahannya bermula dari saat Umar membai'atnya begitu saja seusai percekcokan Muhajirin dan Anshar serta terjadinya perselisihan antara Aus dan Khazraj."[49]

Cukup jelas maksud kutipan di atas.
Tetapi, meskipun Ahlu Sunah mengakui bahwa sekelompok besar yang hadir di Saqifah tidak menyetujui kepemimpinan Abu Bakar, mereka tetap berkata demikian:
"Sebaiknya kita menjauhi pembahasan masalah ini, karena Rasulullah saw memerintahkan kita untuk diam dalam hal yang akan terjadi di antara para sahabat. Karena itu, tak seharusnya kita membahasnya lagi."

Coba kita baca ungkapan Sa'ad Taftazani dalam kitab Syarh Al-Maqâshid yang mana ia berkata:
"Seluruh umat Islam dan ulama bersepakat dengan kekhalifahan Abu Bakar. Dengan berbaik sangka kepada mereka, apa mungkin mereka memiliki keyakinan seperti ini tanpa dalil dan alasan yang masuk akal? Kalau mereka tidak mempunyai alasan yang benar, mana mungkin semuanya bersepakat dengan kekhalifahan Abu Bakar?"[ 50]


Untuk menjawabnya kami katakan: Kalau yang dijadikan landasan berkeyakinan adalah "taqlid" (ikut tanpa berdalil) saja, maka apa gunanya kita mengkaji ayat-ayat Al-Qur'an dan riwayat? Kalau begitu katakan saja kalau kita cuma ikut-ikutan, mereka begitu kita teruskan.

Kemudian Taftazani melanjutkan:

"Kehormatan para sahabat Rasulullah saw harus dijaga, harus dijauhkan dari hinaan dan kekurangan. Hadits dan riwayat yang mengungkapkan aib serta kekurangan mereka haruslah dijelaskan dan ditakwil dengan benar; khususnya yang berkaitan dengan Muhajirin dan Anshar."[51]



Pendapat Taftazani tentang dalil-dalil Syiah
Sa'ad Taftazani menukil keyakinan Syiah Imamiyah dalam kitabnya dengan berkata: Mereka mengatakan selain Imam Ali as tidak ada seorangpun yang layak menjadi pemimpin setelah Rasulullah saw; karena kepemimpinan memiliki syarat-syarat seperti kesucian dari dosa dan keutamaan-keutamaan tertentu, serta yang paling penting wasiat Rasulullah saw. Menurut Syiah, terbukti bahwa para sahabat selain Ali bin Abi Thalib tidak memiliki syarat-syarat dan kriteria tersebut."

Setelah itu ia menyerang seorang tokoh Syiah ternama seperti Syaikh Khajah Nasiruddin Thusi dan yang lainnya dengan cara yang tidak sopan. Sekarang mari kita simak kutipan di bawah ini.
Sa'ad Taftazani berkata demikian:

"Syiah berpegang pada dalil-dalil akal dan riwayat dalam menetapkan kekhalifahan Ali bin Abi Thalib as. Mereka menghina seluruh sahabat yang memegang tali kekuasaan pasca Nabi saw dan menyebut aib-aib mereka bahkan mengklaim ke-mutawatir-an hadits-hadits yang mereka temukan dalam hal ini.

Hadits-hadits yang mengungkap cela dan aib para sahabat telah tersebar, mereka hafal turun temurun, telah menyatu dengan tabiat mereka dan mereka dengar di setiap waktu. Tapi mereka tidak bersedia sedikitpun untuk mengkaji bagaimana aib-aib ini tidak diketahui oleh para pembesar Muhajirin dan Anshar serta periwayat-periwayat hadits terpercaya. Tidak satupun dari mereka berdalil dengannya dan mereka sama sekali tidak menjelaskan sesuatu yang menjelaskan benar tidaknya hadits-hadits tersebut.

Aib-aib ini muncul setelah berakhirnya kepemimpinan mereka, munculnya kesulitan tak bernilai dan batil, perkara agama ditangani para ulama jelek dan pemerintahan umat ditangan para raja dholim.
Yang sangat menakjubkan, ada salah satu dari ulama mereka yang merupakan ahli penebar fitnah, yang tidak pernah melihat hadits-hadits itu atau mengenal para perawinya namun memenuhi kitab-kitabnya dengan hadits-hadits yang menghina para sahabat Nabi saw yang mulia. Kalau kalian ingin tahu, bacalah kitab Al-Tajrîd milik Nashiruddin Thusi dan lihatlah bagaimana ia melindungi kebatilan ini dan menetapkan kebohongan ini..."[52]



Kritik terhadap pernyataan Taftazani
Dalam menjawab apa yang dikatakan Taftazani, kita katakan:
Kita sangat berterima kasih kepada Taftazani yang berhenti sampai disini saja dalam menghina Khajah Nashiruddin Thusi. Karena Ibn Taimiyah lebih parah lagi, ia begitu menghina dan mencela Khajah Nashiruddin Thusi dikarenakan membawa hadits-hadits dari kitab-kitab Ahlu Sunah sebagai dalil kekhalifahan Imam Ali as dalam kitabnya Al-Tajrîd; yang mana hinaan dan celaan itu sangat tidak pantas dilontarkan oleh seorang Muslim dan kami tidak mau menyinggungnya lebih jauh di sini.[53]



 Penutup

Tujuan kami dalam pembahasan ini (sejak buku pertama sebelum buku yang ada di tangan anda ini) adalah membuktikan adanya hadits-hadits yang dapat dijadikan dalil keutamaan serta keabsahan kekhalifahan Ali bin Abi Thalib as setelah Nabi saw dari kitab-kitab Ahlu Sunah sendiri, tanpa sedikitpun menghina atau bersikap kurang ajar terhadap ulama Ahlu Sunah.
Kami melakukan semua itu dengan sopan dan benar, tanpa sedikitpun menyinggung perasaan pihak manapun.

Di buku ini pun kita telah mengkaji dalil-dalil Ahlu Sunah tentang kekhalifahan Abu Bakar dan sebagaimana yang mereka akui, tidak ada wasiat khusus dari nabi berkenaan dengan kekhalifahan Abu Bakar serta sama sekali tidak ada ijma' yang sebenarnya dalam kekhalifahannya.

Satu-satunya alasan yang paling mereka andalkan dalam masalah kekhalifahan Abu Bakar adalah hadits-hadits tentang keutamaannya dari pada sahabat-sahabat lainnya. Itu pun telah kita buktikan di buku ini bahwa semua dalil itu dapat dibantah dan tidak cukup untuk dijadikan alasan mengapa mereka menjadikan Abu Bakar sebagai khalifah sepeninggal Nabi saw.

Sebenarnya, dosa kita apa? Dalil-dalil mereka tentang kepemimpinan Abu Bakar tidak sempurna sedang dalil kepemimpinan Ali bin Abi Thalib as dalam kitab mereka sendiri adalah sempurna.
Kenapa mereka tidak membahas hakikat ini? Kenapa kebenaran menjadi pahit? Untuk apa mereka berlindung pada penghinaan? Kenapa mereka menjadikan ulama Syiah sebagai sasaran cacian-cacian kasar mereka? Apakah tidak cukup penghinaan, pembunuhan dan pemenjaraan ulama Syiah dari awal sampai sekarang? Sampai kapan mereka ingin berperilaku seperti ini? Kenapa mereka melakukan hal ini?

Kita ingin membahas yang benar sampai kita tahu siapakah yang harus kita ikuti setelah Rasulullah saw, sehingga kita bisa menjadikannya penengah antara kita di hadapan Allah swt dalam masalah akidah, masalah-masalah keilmuan, hukum syariat dan perintah-perintah Ilahi.

Kita ingin menerangkan kebenaran sehingga kita berkata pada Tuhan swt: "Wahai Tuhanku, kita telah melihat dalil-dalil dengan teliti, kita telah mencari kebenaran dan kita sampai pada kesimpulan bahwa, orang ini adalah pemimpin kita setelah Rasulullah saw, dan dengan perantara maksum ini kita bisa mendekatkan diri kepada-Mu dan menjalin hubungan dengan-Mu. Kita berharap kajian ini diterima disisi Tuhan yang maha suci".

Oleh karena itu, apa yang telah ditelaah dan dikritik tidak untuk tujuan persahabatan dan permusuhan, kita tidak memiliki tujuan apapun dalam memaparkan pembahasan ini dan kita tidak melihat adanya kebutuhan pada penghinaan dan permusuhan.

Jujur, dengan keadaan seperti ini, sampai kapan kebenaran itu akan selalu pahit? Sampai kapan mereka tidak akan menerima kebenaran dan tidak mengikutinya? Untuk apa mereka melontarkan kata-kata yang menghina? Bukankah hanya orang-orang hina dan bodoh saja yang mengucapkannya?
Kita menginginkan dari Allah swt untuk memberikan kita taufik sehingga kita menerima keridhaan-Nya. Kita ingin dari Tuhan swt untuk memberikan hidayah sehingga kita mengetahui kebenaran, mengamalkannya dan menjadi pengikut kebenaran dan hakikat. Kita ingin dari Dia swt untuk mencerahkan wajah kita dihari pertemuan dengan-Nya swt dan dengan Rasulullah saw.
Shalawat dan salam kita haturkan kepada Rasulullah saw beserta keluarganya yang suci.





Catatan Kaki:

[1] Meskipun dalam buku-buku sumber Ahlu Sunah shalawat dan salam kepada Nabi saw tertulis dalam bentuk kurang sempurna tapi kita sesuai dengan sabda beliau saw menulisnya dengan sempurna.
[2] Penulis Syarh Al-Mawâqif dalam hal ini mengakui bahwa tidak ada sama sekali riwayat tentang kepemimpinan Abu Bakar, meskipun mereka mengklaim bahwa riwayat tentang kepemimpinan Ali juga tidak ada.
[3] Maksudnya, persoalan ini hanya diantara tiga orang ini.
[4] Syarh Al-Mawâqif, jld. 8, hlm. 354.
[5] Perlu diperhatikan bahwa penulis buku Al-Mawâqif mengatakan, ijma' dan pensyarh buku Al-Maqâshid mengatakan pemilihan. Arti dari dua kata ini berbeda yang akan dijelaskan di tempatnya.
[6] Syarh al-Maqâshid, jld. 5, hlm. 255.
[7] Syarh Al-Mawâqif, jld. 8, hlm. 365.
[9] Musnad Ahmad, jld. 5, hlm. 382, 385, Shahîh Tirmidzi, jld. 5, hlm. 572, Mustadrak Hâkim, jld. 3, hlm. 75.
[10] Kanz Al-Ummâl, jld. 11, hlm. 557, Târîkh Baghdâd, jld. 12, hlm. 433, Târîkh Madînah Dimasyq, jld. 30, hlm. 208.
[11] Târîkh Madînah Dimasyq, jld. 3, hlm. 171, Sunan Tirmidzi, jld. 5, hlm. 272 dan 273, Al-Mushannif, jld. 7, hlm. 473.
[12] Sunan Tirmidzi, jld. 5, hlm. 276, Al-Kâmil, jld. 5, hlm. 240.
[13] Târîkh Madînah Dimasyq, jld. 30, hlm. 376.
[14] Musnad Ahmad, jld. 1, hlm. 412, 432, 439 dan jld. 4, hlm. 4 dan 5, Shahîh Bukhâri, jld. 4, hlm. 191, Shahîh Muslim, jld. 7, hlm. 108 dan 109.
[15] Târîkh Madînah Dimasyq, jld. 30, hlm. 110, 155.
[16] Kanz Al-'Ummâl, jld. 13, hlm. 8, Târîkh Madînah Dimasyq, jld. 30, hlm. 351.
[17] Perlu diingat bahwa kita manaruh tanda (!!) dalam terjemahan dibawah tulisan asli sumber yang perlu ditelaah.
[18] Majma' Al-Zawâid, jld. 9, hlm. 50.
[19] Tahdzib Al-Tahdzib, jld. 10, hlm. 144.
[20] Musnad Ahmad, jld. 5, hlm. 382, 385, Shahîh Tirmidzi, jld. 5, hlm. 572, Mustadrak Hâkim, jld. 3, hlm. 75.
[21] Sebelumnya telah kita ingatkan bahwa, untuk memeriksa sanad-sanad hadits ini, kita terpaksa merujuk pada sumber-sumber kitab yang menjelaskan sanad hadits tersebut dan juga kitab-kitab yang menjelaskan tentang hadits itu, seperti, Al-Mirqat, Faidl Al-Qadîr, Syuruh Al-Syifâ' Qadli 'Ayyad dan lain sebagainya.
[22] Faidl Al-Qadîr, jld. 2, hlm. 56.
[23] Shahih Tirmidzi, jld. 5, hlm. 572.
[24] Al-Dlu'afa Al-Kabîr, jld. 4, hlm. 95.
[25] Mîzân Al-I'tidâl, jld. 1, hlm. 142.
[26] Lisân Al-Mîzân, jld. 5, hlm. 237.
[27] Syarh Al-Manhâj: tulisan tangan.
[28] Mîzân Al-I'tidâl, jld. 1, hlm. 105, 141 dan jld. 43, hlm. 610.
[29] Talkhîs Al-Mustadrak, jld. 3, hlm. 75.
[30] Majma' Al-Zawâid, jld. 9, hlm. 53.
[31] Lisân Al-Mîzân, jld. 1, hlm. 188, 272 dan jld. 5, hlm. 237.
[32] Al-Dur Al-Nadhîd Min Majmû'ah Al-Hafîd, hlm. 97.
[33] Asna Al-Mathâlib Fi Ahadîs Mukhtalifah Al-Marâtib, hlm. 48.
[34] Al-fashl Al-Milal Wa Al-Nihal, jld. 4, hlm. 88.
[35] Majma Al-Zawâid, jld. 9, hlm. 44.
[36] Majma Al-Zawaid, jld. 9, hlm. 53.
[37] Kitab Al-Maudû'ât, jld. 1, hlm. 318.
[38] Fath Al-Bârî, jld. 8, hlm. 124.
[39] Hafidz Abu Al-Faraj Ibn Jauzi Hanbali, dalam menolak ulama zamannya Hafidz Abd Al-Mughits Hanbali, menulis sebuah risalah dengan nama Afat Ashâb Al-Hadîts fi Al-Rad 'Ala Abd Al-Mughits. Kitab ini sekitar 20 tahun yang lalu ditelaah oleh penulis dan untuk pertama kalinya dicetak.
[40] Tanzih Al-Syarî'ah Al-Marfu'ah 'An Al-Ahâdîts Al-Syani'ah Al-Maudû'ah, jld. 1, hlm. 367.
[41]Tanzih Al-Syarî'ah Al-Marfu'ah 'An Al-Ahâdîts Al-Syani'ah Al-Maudû'ah, jld. 1, hlm. 392.
[42] Al-Lâlî Al-Masnu'ah Bi Al-Ahâdîts Al-Maudlû'ah, jld. 1, hlm. 295.
[43] Tanzîh Al-Syarîah Al-Marfû'ah, jld. 1, hlm. 344.
[44] Manhâj Al-Sunnah, jld. 4, hlm. 289.
[45] Al-Thabaqât Al-Kubrâ, jld. 3, hlm. 139.
[46] Majma Al-Zawâid, jld. 5, hlm. 183, Sîre-e Ibn Hisyam, jld. 2, hlm. 661,
Târîkh al-Khulafâ', hlm. 71.
[47] Al-Istî'âb, jld. 3, hlm. 1090, Fashli Dar Milal wa Nihal, jld. 4, hlm. 181.
[48] Yang jelas kita dalam hal ini kita telah berbicara tentang syura dalam sebuah telaah dengan nama naqsye syura dar imomat" (peran syura dalam masalah imamah atau kepemimpinan.
[49] Rujuklah Syarh Al-Maqâshid, jld. 5, hlm. 254-267.
[50] Syarh Al-Maqâshid, jld. 2, hlm. 298.
[51] Ibid, hlm. 303. at:Mengkaji dalil ijma'
[52] Syarh Al-Maqâshid, jld. 2, hlm. 287.
[53] Sebagai pemberitahuan bahwa, kami telah menelaah tentang tema ini dengan judul Az Iftiraât Ibn Taimiyah.



Daftar Pustaka


Al-Qur'an Al-Karim.
1. Abdullah Adi: Al-Kâmil, Darul Fikr, Beirut, cetakan ketiga, tahun 1409.
2. Ahmad bin Hanbal: Musnad Ahmad bin Hanbal, Darul Ihya' At Turats Al Arabi, Beirut, Lebanon, cetakan ketiga, tahun 1415.
3. Bukhari: Shahîh Bukhâri, Darul Fikr, Beirut, tahun 1401.
4. Dzahabi: Mîzân Al-I'tidâl, Darul Kutub Ilmiyah, Beirut, Lebanon, cetakan pertama, tahun 1416.
5. Dzahabi: Talkhîs Al-Mustadrak, Darul Ma'rifah, Beirut, Lebanon.
6. Haitsami: Majma' Az-Zawâid wa Manba' Al-Fawâid, Darul Fikr, Beirut, Lebanon, tahun 1412.
7. Hakim Neisyaburi: Al-Mustadrak, Darul Kutub Ilmiyah, Beirut, Lebanon, cetakan pertama, tahun 1411.
8. Ibn Abd Al-Bar: Al-Istiy'âb, Darul Kutub Al Ilmiah, Beirut, Libanon, cetakan pertama, tahun 1415.
9. Ibn Abi Syaibah Al Kufi: Al-Mushannif, Darul Fikr, Beirut, cetakan pertama, tahun 1409.
10. Ibn Arraq Kanani: Tanzîh Asy-Syarî'ah Al Marfû'ah 'An Ahâdîts Al-Syani'ah Al Mawdhû'ah, Darul Kutub Al-Ilmiah, Beirut, Lebanon, cetakan kedua, tahun 1401.
11. Ibn Asakir: Târîkh Madînah Dimasyq:, Darul Fikr, Beirut, tahun 1415.
12. Ibn Darwiys Hut: Asna Al-Mathâlib fî Ahâdîts Mukhtalifah Al-Marâtîb, Maktabah Al-Tijariyah Al-Kubra, Mesir, cetakan pertama, tahuan 1355.
13. Ibn Hajar Asqalani: Lisân Al-Mîzân, Muasasah A'lami, Beirut, Lebanon, cetakan 1390.
14. Ibn Hajar Asqalani: Tahdzîb Al-Tahdzîb, Darul Kutub Al-Ilmiah, Beirut, Lebanon, cetakan pertama, tahun 1415.
15. Ibn Hajar: Fath Al-Bârî, Darul Kutub Ilmiyah, Beirut, Lebanon, cetakan pertama, tahun 1410.
16. Ibn Hazm Andalusi: Al-Fashl fî Al-Ahwâ' wa Al-Milal wa An-Nihal, Darul Kutub Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, cetakan pertama, tahun 1416.
17. Ibn Hisyam: Sîrah Ibnu Hisyâm, Dar Ihya' At-Turats Al-Arabi, Beirut, Lebanon, cetakan pertama, tahun 1415.
18. Ibn Sa'ad: Al-Thabaqât Al-Kubrâ, Darul Kutub Ilmiyah, Beirut, Lebanon, cetakan kedua, tahun 1418.
19. Ibn Taimiyah: Manhâj As-Sunnah An-Nabawiyyah, Maktabah Ibn Taimiyah, Kairo, Mesir, cetakan kedua, tahun 1409.
20. Ibn Al-Jauzi: Al-Maudhû'ât, Darul Kutub Ilmiyah, Beirut, Lebanon, cetakan pertama, tahun 1415.
21. Ibri Furqani: Syarh Al-Manhâj, tulisan tangan (Makhthuth).
22. Jalaluddin Suyuthi: Al-Lâlî Al Mashnû'ah fi Al-Ahâdîts Al-Maudhû'ah, Darul Kutub Ilmiyah, Beirut, Lebanon, cetakan pertama, tahun 1417.
23. Jalaluddin Suyuthi: Târîkh Al-Khulafâ', Mansyurat Syarif Ridha, Qom, Iran, cetakan pertama, tahun 1411.
24. Khatib Baghdadi: Târîkh Baghdâd, Darul Kutub Al Ilmiah, Beirut, tahun 1417.
25. Manawi: Faidh Al-Qadîr, Darul Kutub Ilmiah, Beirut, Lebanon, cetakan pertama, tahun 1415.
26. Muslim Neysyaburi: Shahîh Muslim, Darul Fikr, Beirut.
27. Muttaqi Hindi: Kanz Al-'Ummâl, Darul Risalah, Beirut, tahun 1409.
28. Sayid Syarif Al Jarjani: Syarh Al-Mawâqif, yang dilengkapi dengan Hasyiah Al-Siyâlakûti wa Al-Halabi, Mansyurat Syarif Ridha, Qom, Iran, cetakan pertama, tahun 1412.
29. Taftazani: Syarh Al-Maqâshid, Mansyurat Syarif Ridha, Qom, Iran, cetakan pertama, tahun 1409, dan Darul Ma'arif Nu'maniyah, Pakistan, cetakan pertama, tahun 1401.
30. Tirmidzi: Sunan Tirmidzi, Darul Fikr, Beirut, cetakan kedua, tahun 1403.
31. 'Uqaili: Al-Dhu'afâ' Al-Kabîr, Darul Kutub Ilmiyyah, Beirut, Lebanon.




Daftar Isi

Title : Kritik Terhadap Kekhalifahan Abu Bakar 1 

Prakata Penerbit 2 

Sambutan. 5 

Prakata. 5 

Dalil terpenting Ahlu Sunah Atas Kekhalifahan Abu Bakar 8 

Dalil Ahlu Sunah tentang keutamaan Abu Bakar 11 

Dalil Pertama. 11 

Dalil kedua. 11 

Dalil ketiga. 12 

Dalil keempat 13 

Dalil kelima. 13 

Dalil keenam.. 13 

Dalil ketujuh. 14 

Dalil kedelapan. 14 

Dalil kesembilan. 14 

Dalil kesepuluh. 14 

Kritikan terhadap dalil-dalil keutamaan Abu Bakar 16 

Kritikan terhadap dalil-dalil Ahlu Sunah. 16 

Kritikan untuk dalil pertama. 16 

Kritikan untuk dalil kedua. 19 

Kritikan untuk dalil ketiga. 22 

Kritikan untuk dalil keempat 23 

Kritikan untuk dalil kelima. 23 

Kritikan untuk dalil keenam.. 24 

Poin penting yang perlu diperhatikan: 28 

Kritikan untuk dalil ketujuh. 30 

Kritikan untuk dalil kedelapan. 31 

Kritikan untuk dalil kesembilan. 32 

Kritikan untuk dalil kesepuluh. 33 

Mengkaji dalil ijma' kekhalifahan Abu Bakar 34 

Pendapat Taftazani tentang dalil-dalil Syiah. 36 

Kritik terhadap pernyataan Taftazani 37 

Penutup. 39 

Catatan Kaki 41 

Daftar pustaka. 43


---------------------------




Catatan tambahan

Aku ini bukan siapa-siapa, jadi tak perlu aku mempernenalkan diriku, aku hanya manusia biasa yang mengharapkan keridhaan Tuhan... selepas begitu terlambat memahami apa yang disebut Syiah Ali.

Dalam usia yang sudah begitu senja, sedar tak sedar kini hampir genap 15 tahun aku menjadi Syiah Ali, semenjak itu aku tidak pernah berhenti menulis tentang mereka...setiap hari aku menghabiskan sisa-sisa hidupku dengan nama-nama yang begitu agung, aku jadi malu untuk membawanya sembarangan... setiap detik, pagi dan petang... nama-nama itulah yang sentiasa ada di dalam ingatanku, tanpa nama-nama itu aku terasa...aku ini tidak bererti apa-apa.

Dalam kesendirian, terasing dan kesepian, aku berharap dijauhkan dari sifat-sifat lupa diri...aku berharap... aku tidak menggunakan nama Muhammad dan itrahnya itu sembarangan, apatah lagi untuk mendapatkan kepentingan Dunia, aku malu untuk menyebut nama-nama itu untuk mendapat sanjungan manusia, aku malu membawa-bawa agama Muhammad atas kepentingan sendiri...Jadi memadai aku memperkenalkan diriku hanya dengan sebuah nama sebagai sapaan ketika bertemu di jalanan, bagiku ianya tidak bererti apa-apa jika tidak ditumpangkan pada nama Muhammad dan para wasinya. Sebuah nama yang sebenarnya tidak bererti apa-apa jika tidak disandingkan dengan nama Muhammad dan itrah ahlul baitnya.
Begitulah jika Allah berkehendak tiada sesiapa yang dapat menghalang.







































50 Pelajaran Akhlak Untuk Kehidupan

ilustrasi hiasan : akhlak-akhlak terpuji ada pada para nabi dan imam ma'sum, bila berkuasa mereka tidak menindas, memaafkan...