ilustrasi hiasan:
Pengarang : Team Wisdoms4all
Sebuah Telaah Teologis atas Sifat-sifat Tuhan
DAFTAR ISI
1. Mengenal Sifat-sifat Tuhan [1]
2. Sifat-sifat Dzatiyah [2]
3. Sifat-sifat Fi'liyah [3]
4. Seluruh Sifat-sifat Fi'liyah [4]
5. Telaah Teologis atas Sifat-sifat Tuhan; Mukaddimah
6. Telaah Teologis atas Sifat-sifat Tuhan; Kemungkinan Pengenalan Sifat-sifat Tuhan
7. Telaah Teologis atas Sifat-sifat Tuhan; Al-Qur'an dan Penyifatan Tuhan
8. Telaah Teologis atas Sifat-sifat Tuhan; Ilmu Tuhan
9. Telaah Teologis atas Sifat-sifat Tuhan; Kodrat Ilahi
10. Telaah Teologis atas Sifat-sifat Tuhan; Hidup, Azali dan Abadi
11. Telaah Teologis atas Sifat-sifat Tuhan; Kehendak dan Iradah Tuhan
12. Telaah Teologis atas Sifat-sifat Tuhan; Kalam Tuhan
13. Telaah Teologis atas Sifat-sifat Tuhan; Sifat Benar dan Hikmah
14. Telaah Teologis atas Sifat-sifat Tuhan; Sifat-sifat Salbiyah (Negasi)
15. Telaah Teologis atas Sifat-sifat Tuhan; Af'al Tuhan
16. Telaah Teologis atas Sifat-sifat Tuhan; Tujuan Perbuatan Ilahi
Mengenal Sifat-sifat Tuhan [1]
Mukadimah
Berbagai argumen telah kami sajikan di hadapan Anda untuk
membuktikan
wujud Tuhan Pencipta manusia dan semesta buana ini. Konklusi global dan
mendasar yang dapat kita ambil dari beberapa uraian dan penjelasan
sebelumnya ialah bahwa alam semesta ini tidak terjadi dan terwujud
dengan sendirinya. Tetapi ia memiliki pencipta yang telah mewujudkannya.
Dialah Tuhan Pencipta Yang Mahakuasa dan sempurna ilmu-Nya. Apakah
hanya sekedar mengenal dan meyakini adanya Tuhan Pencipta, persoalan
ketuhanan ini dapat dianggap selesai? Dengan kata lain, masih perlukah
kita mengenal berbagai atribut dan sifat-sifat Tuhan Pencipta tersebut?
Jika ya, lalu apa manfaatnya pengetahuan lebih lanjut tentangnya?
Jawabnya adalah bahwa sekedar mengenal, mengetahui dan bahkan meyakini
adanya Tuhan Pencipta bagi semesta buana ini, tidak dianggap memadai.
Karena hal itu tidak akan membuahkan nilai-nilai positif dalam
kehidupan, baik kehidupan dalam skala personal maupun sosial, dunia dan
akhirat. Karenanya, diperlukan pembahasan lebih lanjut mengenai
sifat-sifat Tuhan Pencipta tersebut secara logis dan filosofis, agar
tujuan
hidup (meraih kebahagiaan hakiki dan sejati) dapat terealisasi.
Terlebih, tanpa mengenal sifat-sifat-Nya, bisa jadi seseorang memiliki
keyakinan tentang adanya Tuhan Pencipta, sementara gambaran dan
pemahamannya terhadap Tuhan Pencipta tersebut masih kabur. Karenanya,
tidak sedikit orang-orang yang menganggap benda tertentu atau energi
tertentu sebagai Tuhan Pencipta mereka dan semesta ini.
Pada
pembahasan terdahulu, kami telah jelaskan kepada Anda bahwa sebagian
besar argumen filosofis itu hanya digunakan untuk membuktikan dan
menetapkan keberadaan wâjib al-wujud (wujud Tuhan yang niscaya).
Sementara untuk menetapkan sifat-sifat-Nya, baik yang berupa tsubutiyah
(penetapan sifat-sifat kesempurnaan bagi-Nya), maupun yang berupa
salbiyah (penafian sifat-sifat negatif dari-Nya) masih diperlukan
argumen lain sebagai tambahan. Dengan ditetapkannya sifat-sifat
tsubutiyah, akan menjadi jelas bahwa hanya Dia-lah yang layak disembah
dan diibadati. Di samping itu, peluang untuk menetapkan
keyakinan-keyakinan yang lainnya, seperti masalah utusan-Nya, hari
kiamat dan lain sebagainya, menjadi terbuka lebar. Sementara penetapan
sifat-sifat salbiyah atau penafian segala sifat-sifat yang tidak layak
dari-Nya, dimaksudkan agar Tuhan Pencipta yang merupakan wâjib al-wujud
itu tersucikan dari berbagai sifat-sifat yang disandang oleh
makhluk-makhluk-Nya. Tanpa mengkaji dan memahami sifat-sifat salbiyah
ini, seseorang akan terjerumus kepada tasybih (anthropomorphize), yaitu
menyerupakan-Nya dengan makhluk ciptaan-Nya.
Pada penjelasan
yang lalu -dengan berbagai argumen logis dan filosofis- dapat kita
simpulkan bahwa Tuhan Pencipta itu tidak membutuhkan sebab selain-Nya
dalam wujud-Nya, karena Dia merupakan wujud mandiri. Dan Dia-lah sebagai
sebab dan illat bagi semua realitas yang bersifat mungkin. Dengan
demikian -sebenarnya- ada dua sifat yang telah ditetapkan bagi-Nya di
dalam uraian tersebut. Dua sifat tersebut ialah:
Pertama,
bahwa wâjib al-wujud tidak butuh kepada selain-Nya, karena jika Dia
butuh kepada wujud yang lain sekecil apa pun, maka wujud yang lain itu
merupakan sebab bagi-Nya. Sementara telah kita ketahui bahwa hal itu
mustahil terjadi bagi Tuhan Pencipta, karena akan terjadi tasalsul yang
dinilai absurd.
Kedua, bahwa semua wujud yang bersifat mungkin
adalah akibat yang membutuhkan sebab. Sementara tidak ada sebab dan
illat lain selain Tuhan Pencipta sebagai wâjib al-wujud yang merupakan
sebab dan illat utama bagi kemunculan dan keberadaan wujud-wujud mungkin
tersebut.
Pada pembahasan kita kali ini, berdasarkan dua
kesimpulan di atas, kami akan membahas konsekuensi masing-masing yang
berhubungan dengan kedua sifat tersebut. Sehubungan dengan penetapan
sifat-sifat tsubutiyah dan salbiyah, kami akan menjelasakan
argumen-argumen yang sederhana dan sesuai dengan pembahasan-pembahasan
yang telah lalu, agar dapat dipahami dengan mudah.
Tuhan Bersifat Azali dan Abadi
Penjelasan mengenai wujud mungkin atau mumkin al-wujud telah kita
lewati pada pembahasan yang lalu. Ciri-ciri wujud mungkin adalah bahwa
ia tidak wujud (eksis) secara mandiri, tetapi ia merupakan realitas
akibat yang keberadaannya membutuhkan kepada realitas lainnya. Dengan
demikian, ia berarti bergantung kepada wujud selainnya, karena ia pernah
mengalami ketiadaan pada masa tertentu. Ketiadaan dan kesirnaannya pada
masa tertentu itu menunjukkan bahwa dia butuh kepada selainnya, yaitu
butuh kepada yang mengadakannya, Dialah wujud wâjib atau wâjib al-wujud.
Mengingat bahwa wâjib al-wujud itu ada dengan sendirinya dan tidak
membutuhkan kepada yang selainnya, maka berarti Dia bersifat abadi dan
azali. Abadi artinya wujud-Nya tidak berakhir dan tidak diakhiri atau
dibatasi oleh sesuatu. Azali artinya bahwa wujud-Nya tidak bermula atau
tidak didahului oleh ketiadaan pada masa tertentu.
Dari uraian
di atas, kita dapat menetapkan dua sifat pada wâjib al-wujud. Pertama,
bahwa wâjib al-wujud itu bersifat azali, yakni Dia tidak didahului oleh
ketiadaan. Kedua, Dia adalah abadi, yakni tidak akan tersentuh oleh
ketiadaan selama-lamanya. Kedua sifat ini dapat juga disebut dengan
sifat sarmadi.
Berdasarkan penjelasan ini, setiap sesuatu yang
didahului oleh ketiadaan, atau ada kemungkinan menjadi sirna -walaupun
hanya sekejap-, maka ia bukanlah wâjib al-wujud. Dari penjelasan ini
menjadi jelas bahwa materi, sekuat apapun, tidak mungkin dan mustahil
sebagai wâjib al-wujud atau wujud yang niscaya.
Sifat-sifat Positif dan Negatif
Sifat-sifat tsubutiyah atau positif ialah segala sifat kesempurnaan,
seperti mahakuasa, mahatahu, mendengar, melihat dan lain sebagainya.
Bila dikatakan bahwa Tuhan Pencipta itu mesti menyandang sifat-sifat
tsubutiyah, artinya bahwa Dia memiliki berbagai sifat-sifat kesempurnaan
yang tidak terbatas, berbeda dengan sifat-sifat kesempurnaan yang ada
pada makhluk-Nya. Sifat-sifat kesempurnaan yang terdapat pada manusia
itu terbatas dan bersumber dari-Nya. Lawan dari sifat-sifat tsubutiyah
ialah sifat-sifat salbiyah (sifat-sifat negatif). Tuhan Pencipta
Mahasuci dari sifat-sifat negatif ini, seperti tidak kuasa, tidak
pandai, terangkap dan tersusun dan lain sebagainya. Tuhan Pencipta
bersifat kuasa, esa dan basâthah (sederhana), artinya Dia tidak tersusun
atau terangkap, karena Dia mandiri dan tidak butuh kepada selain-Nya.
Sementara makhluk-makhluk-Nya, manusia misalnya, tersusun dari jasmani
dan ruhani. Jasmaninya tersusun dan terangkap dari bermacam-macam
anggota. Dan setiap yang tersusun dan terangkap pasti membutuhkan kepada
yang lainnya yang merupakan sebab baginya.
Apabila kita
berasumsi bahwa Tuhan Pencipta itu tersusun, tetapi bagian-bagiannya
tidak ada secara fi'li (aktual), artinya belum terwujud saat sekarang
ini dan akan muncul kemudian (bil quwwah/potensial), maka asumsi semacam
ini batil. Karena sesuatu yang mempunyai bagian-bagian secara bil
quwwah atau yang akan muncul kemudian, secara rasional pasti akan dapat
dibagi. Walaupun secara fi'li (aktual=pada saat sekarang),
bagian-bagiannya itu belum terealisasi dan belum terwujud. Dan adanya
asumsi bahwa Tuhan Pencipta itu dapat dibagi, hal ini memestikan bahwa
secara keseluruhan Dia bisa sirna. Misalnya seperti garis yang
panjangnya satu meter. Apabila garis itu dibagi dua, yakni menjadi dua
kali setengah meter, maka garis yang panjangnya satu meter tersebut
telah sirna dan tidak ada lagi. Sementara telah kita pahami dari
pembahasan yang telah lalu, bahwa Tuah Pencipta (wâjib al-wujud) tidak
mungkin mengalami kefanaan ...(transient) dan kesirnaan, walaupun hanya
sekejap saja.
Selain itu, perlu diperhatikan bahwa di antara
karakter benda dan materi itu dapat disusun dan dirangkap, baik secara
bil fi’li (aktual) maupun secara bil quwah (potensial). Sementara
non-materi tidaklah demikian. Hal ini dapat ditangkap secara logis,
sehingga tidak memerlukan kepada pemikiran filosofis yang dalam atau
analisa dan penelitian. Dengan kata lain, bahwa setiap materi itu
terangkap, dan setiap yang terangkap mustahil sebagai wâjib al-wujud dan
Tuhan Pencipta. Berdasarkan hal di atas, kita dapat pula menetapkan
kenon-materian Tuhan. Menjadi Jelas pula, bahwa Tuhan tidak mungkin
dapat dilihat dengan mata kepala dan tidak mungkin dapat dijangkau
dengan indera apapun, karena setiap yang dapat dilihat dan dijangkau
oleh indera merupakan sifat-sifat khas benda dan materi. Sementara telah
kita buktikan bahwa Tuhan itu non-materi.
Sampai di sini, kita
telah dapat menetapkan sifat salbiyah lainnya bagi Tuhan Pencipta,
yaitu ternafikannya ciri dan karakter materi dari zat-Nya. Dengan
ternafikannya sifat materi tersebut, maka akan ternafikan pula semua
sifat-sifat yang disandang oleh benda dan materi dari-Nya, seperti butuh
kepada tempat dan masa. Karena ketika kita menggambarkan sebuah tempat,
maka akan tergambar sesuatu yang memiliki bentuk dan panjang yang
menempati tempat tersebut. Dengan demikian, mustahil bagi Tuhan Pencipta
membutuhkan tempat. Demikian pula dengan masa. Setiap sesuatu yang
bermasa dan tidak lepas dari zaman, pasti dapat dibagi kepada ekstensi
masa dan durasinya. Oleh karena itu, hanya materi sajalah yang bermasa
atau membutuhkan masa. Dengan penjelasan ini, dapat pula ditetapkan
bahwa wâjib al-wujud tidak butuh kepada masa dalam wujud-Nya. Dan setiap
yang membutuhkan tempat dan masa pasti bukan wâjib al-wujud.
Dengan demikian, kita sama sekali tidak mungkin dapat menggambarkan
Tuhan Pencipta itu sebagai dzat yang butuh kepada tempat dan masa.
Begitu pula, segala sesuatu yang membutuhkan tempat dan masa bukanlah
wâjib al-wujud. Kemudian dengan ternafikannya waktu atau masa dari wâjib
al-wujud, maka akan ternafikan pula adanya gerak, perubahan dan
penyempurnaan dzat dari-Nya. Karena, setiap gerak atau perubahan apapun
tidak mungkin terwujud tanpa masa. Oleh karena itu, orang-orang yang
meyakini bahwa Tuhan Pencipta itu berada pada satu tempat seperti 'arsy
atau menisbahkan gerak kepada-Nya, seperti Dia turun dari langit, atau
meyakini bahwa Tuhan itu dapat dilihat dengan mata, atau dapat berubah
dan meningkat, maka sebenarnya mereka tidak dan belum mengenal Tuhan
dengan sebenarnya. Atau Tuhan yang mereka kenal itu adalah bukan Tuhan
yang sebenarnya, melainkan Tuhan buatan, gambaran dan khayalan mereka
sendiri. Secara global, bahwa setiap arti, gambaran dan konsep atau
pemikiran yang menunjukkan kekurangan, keterbatasan dan kebutuhan pada
dzat Tuhan, maka hal itu semua ternafikan dari dzat-Nya Yang Mahasuci.
Inilah yang dimaksud dengan sifat salbiyah Ilahiyah (sifat-sifat negatif
bagi Tuhan).
Sebab Pengada
Kesimpulan kedua yang dapat kita ambil dari argumen yang terdahulu
ialah: bahwa wâjib al-wujud merupakan sebab dan illat (cause) bagi
keberadaan makhluk-makhluk-Nya. Berikut ini kami akan membahas
konsekuensi dari kesimpulan tersebut. Pertama-tama, kami akan
menjelaskan macam-macam sebab, kemudian menyelidiki
keistimewaan-keistimewaan Sebab Ilahi.
Sebab atau illat -secara
umum- adalah setiap realitas dimana realitas lain terwujud dan
bergantung kepadanya. Dan sesuatu yang bergantung dan terwujud darinya
itu disebut akibat atau ma’lul. Sebab atau illat mencakupi juga
syarat-syarat dan sebab penyiap (‘illat muiddah, preparing causes).
Telah kita buktikan bahwa Tuhan Pencipta bersifat mandiri, sehingga
tidak butuh kepada sebab apapun. Tidak adanya sebab bagi Tuhan, artinya
bahwa Dia tidak mempunyai ketergantungan dengan realitas yang lain
sekecil apapun. Oleh karena itu, tidak mungkin kita menyatakan bahwa
Tuhan Pencipta mempunyai syarat dan pengada bagi wujud dan
keberadaan-Nya.
Telah dijelaskan di atas bahwa Tuhan sebagai
sebab dan illat utama bagi selain-Nya. Artinya bahwa Dia sebagai
pencipta dan pengada seluruh makhluk-Nya. Dan hal itu merupakan makna
khusus dari 'illah fâiliyah (sebab pelaku, efficient cause). Untuk
menjelaskan poin ini, terlebih dahulu kita harus mengetahui secara
global akan macam-macam sebab. Penjelasan yang lebih luas mengenai hal
ini bisa dirujuk ke kitab-kitab Filsafat.
Telah kita ketahui,
bahwa secara pasti munculnya tumbuh-tumbuhan di atas bumi ini disebabkan
oleh adanya bibit-bibit, tanah yang subur, air dan udara. Di samping
itu, harus pula terpenuhi faktor-faktor lainnya, seperti faktor alami
atau insani yang menebarkan bibit-bibit tersebut di atas tanah dan
mengalirkan air ke atasnya. Berdasarkan definisi sebab atau illat yang
telah kami jelaskan, semua faktor-faktor ini merupakan sebab munculnya
tumbuh-tumbuhan tersebut.
Dari aspek-aspek tertentu,
sebab-sebab tersebut dapat diklasifikasikan kepada beberapa macam.
Misalnya, sebab-sebab yang keberadaannya senantiasa bersifat dharuri
(mesti) bagi terwujudnya akibat, hal itu dinamakan sebagai sebab hakiki
(real cause). Sekelompok sebab yang kesinambungannya tidak diperlukan
untuk kesinambungan wujud akibat, seperti petani -sehubungan dengan
tanaman yang ditanamnya- dinamakan sebagai sebab penyiap (preparing
causes). Ada pula sebab-sebab yang posisinya dapat digantikan oleh
sebab-sebab selainnya, hal itu dinamakan sebagai sebab alternatif (illah
badilah). Sedangkan sebab-sebab yang posisi dan pengaruhnya tidak
mungkin digantikan oleh selainnya, maka ia dinamakan sebagai sebab
eksklusif (‘illah munhasirah).
Terdapat satu macam sebab lain
yang berbeda dengan sebab-sebab yang disebutkan pada realitas
tumbuh-tumbuhan di atas. Sehubungan dengan sebab ini, kita dapat
menemukan contohnya pada jiwa manusia dan sebagian keadaan dan kondisi
kejiwaannya. Ketika seseorang menciptakan suatu bayangan atau gambaran
di dalam benaknya, atau bertekad mengerjakan suatu tindakan, maka akan
terjadilah di dalam dirinya suatu fenomena kejiwaan yang dinamakan
dengan gambaran mental (shurah zihniyah), atau kehendak yang
keberadaannya merupakan akibat dan bergantung kepada keberadaan jiwa
(nafs). Jelas, akibat semacam ini tidak memiliki kemandirian sedikit pun
dari sebabnya, dan tidak mungkin berpisah dan mandiri dari wujud
sebabnya.
Tetapi pada saat yang sama, kita perhatikan bahwa
“penciptaan jiwa” (fâ'iliyah nafs) atas gambaran di mental atau atas
kehendak, hal itu memerlukan syarat-syarat tertentu yang muncul lantaran
kekurangan, keterbatasan dan kemungkinan (imkan) wujud yang merupakan
sifat-sifat substansial jiwa.
Oleh karena itu, penciptaan wâjib
al-wujud atas alam raya ini, jauh lebih hebat dan lebih sempurna
dibandingkan dengan penciptaan jiwa atas keadaan dan
pengalaman-pengalaman dirinya. Kita tidak akan mendapatkan padanan
ciptaan Tuhan atas seluruh ciptaan. Karena ciptaan Tuhan sama sekali
tidak butuh kepada apapun untuk mengadakan akibat-Nya, yaitu akibat yang
sekujur wujudnya hanyalah ketergantungan mutlak kepada-Nya.
Keistimewaan Sebab Pengada
Berdasarkan penjelasan di atas, kami dapat menyebutkan sifat-sifat khas
yang penting yang dimiliki oleh Sebab Pengada (creative cause, illah
mujidah).
Pertama, Sebab pengada memiliki seluruh kesempurnaan
-yang dimiliki oleh akibatnya- secara lebih sempurna, sehingga ia bisa
memberikan kesempurnaan kepada setiap akibat sesuai dengan kapasitas
wujudnya masing-masing. Berbeda halnya dengan sebab penyiap dan sebab
materi yang berlaku sebagai pengadaan lahan yang sesuai untuk perubahan
pada wujud akibat, bukan untuk wujudnya itu sendiri. Oleh karena itu,
sebab penyiap dan sebab materi tidak mesti mencakupi
kesempurnaan-kesempurnaan yang terdapat pada akibatnya.
Misalnya, tersedianya tanah itu tidak perlu kepada kesempurnaan yang
dimiliki oleh tumbuh-tumbuhan, atau keberadaan kedua orang tua tidak
butuh kepada kesempurnaan anak-anaknya. Adapun Tuhan sebagai sebab
pengada (creative cause, illah mujidah), mesti memiliki semua
kesempurnaan-kesempurnaan wujud segala sesuatu, di samping sifat
basatah-Nya (ketaktersusunan). Dengan kata lain bahwa segala
kesempurnaan yang ada pada ciptaan Tuhan, pasti dimiliki oleh Tuhan
sebagai penciptanya. Bahkan kesempurnaan yang ada pada Tuhan itu jauh
lebih tinggi dan tidak bisa digambarkan atau dipadankan dengan segala
kesempurnaan yang dimiliki makhluk-Nya.
Kedua, Sebab pengada
itu mewujudkan akibatnya dari ketiadaan. Yakni, dia dapat menciptakan
akibatnya. Tetapi, penciptaannya itu tidak mengurangi wujudnya
sedikit-pun. Berbeda halnya dengan sebab alami (fa'il tabi'i) yang
aktif, yaitu mengubah akibat yang ada dengan mengerahkan seluruh
potensi. Apabila diasumsikan ada sesuatu yang terpisah dari dzat wâjib
al-wujud, ini berarti bahwa dzat Tuhan dapat dibagi dan berubah.
Padahal, ini telah jelas kemustahilannya.
Ketiga, Sebab pengada
merupakan sebab sejati (real cause, 'illat hakikiyah). Oleh sebab itu,
keberadaannya merupakan dharuri (niscaya) untuk kesinambungan wujud
akibatnya. Berbeda dengan sebab penyiap; kesinambungan akibatnya tidak
lagi butuh kepadanya.
Sehubungan dengan penjelasan tersebut,
maka apa yang telah disampaikan oleh sebagian teolog bahwa kekekalan
semesta tidak butuh kepada Tuhan, begitu juga apa yang dikatakan oleh
sebagian filosof Barat, bahwa alam materi ini laksana jam yang telah
diatur dan diukur putaran waktunya, lalu secara otomatis bergerak dengan
sendirinya, sehingga alam semesta ini tidak butuh lagi kepada Tuhan
Pencipta dalam melanjutkan berbagai aktifitasnya, maka
pandangan-pandangan seperti ini jauh dari kebenaran. Karena alam wujud
ini selalu butuh dan bergantung kepada Tuhan dalam segala keadaannya.
Apabila Tuhan Pencipta itu menghentikan anugerah-Nya, walaupun hanya
sekejap saja, maka akibatnya tidak akan ada lagi yang tersisa dari alam
tersebut.
Sifat-sifat Dzatiyah [2]
Mukadimah
Telah kami jelaskan pada uraian yang lalu, bahwa Tuhan Pencipta
merupakan “Sebab dan Illat Pengada” bagi makhluk manusia dan alam
semesta ini, dimana seluruh kesempurnaan wujud terdapat hanya pada
dzat-Nya, dan berbagai kesempurnaan yang dimiliki oleh setiap maujud dan
seluruh makhluk ciptaan-Nya itu bersumber dari-Nya. Sementara
kesempurnaan zat-Nya tidak berkurang sedikit pun ketika Dia
menganugerahkan kesempurnaan tersebut kepada makhluk-makhluk-Nya.
Untuk lebih jelasnya, kami akan bawakan contoh yang kerap terjadi pada
kehidupan kita sehari-hari. Misalnya tatkala seorang guru mengajarkan
berbagai ilmu kepada murid-muridnya, apakah ilmu yang dimiliki si guru
tersebut akan berkurang? Jawabnya tentu saja tidak, sama sekali.
Demikian pula mengenai anugerah Wujud Tuhan. Sudah pasti bahwa anugerah
wujud dan segenap kesempurnaan Wujud dari Tuhan Pencipta itu jauh lebih
unggul dan mulia daripada contoh tersebut. Lebih dari itu semua, bahwa
kesempurnaan Tuhan Pencipta itu bersifat mutlak dan tidak terbatas. Oleh
karena itu, setiap ungkapan, pujian, konsep ataupun mafhum yang
mengungkapkan kesempurnaan yang tidak meniscayakan kekurangan dan
batasan apapun, dapat diterapkan pada dzat Tuhan.
Adapun
sifat-sifat Tuhan Pencipta yang disebutkan di dalam kitab-kitab Filsafat
dan Teologi, memang sangat terbatas. Sifat-sifat tersebut dapat dibagi
menjadi dua kelompok, yaitu sifat-sifat dzatiyah (sifat-sifat esensial)
dan sifat-sifat fi'liyah (sifat-sifat perbuatan). Pertama-tama, kami
akan menjelaskan dua bagian tersebut. Setelah itu, kami akan menjelaskan
beberapa sifat yang paling penting di antara sifat-sifat tersebut,
kemudian menetapkannya dan membawakan argumentasinya.
Sifat-sifat Dzatiyah dan Fi'liyah
Sifat-sifat dzatiyah (esensial) artinya sifat-sifat Tuhan yang dapat
diambil dan dipahami dari esensi dzat-Nya. Dengan kata lain, bahwa
sifat-sifat dzatiyah ialah sifat-sifat kesempurnaan yang dinisbatkan
kepada Tuhan Pencipta yang berupa konsep-konsep atau gambaran di benak
yang diperoleh akal dari pengamatannya atas zat-Nya, seperti; sifat
hidup (al-Hayah), ilmu (al-'Ilm), dan kuasa (al-Qudrah) dan sifat-sifat
lainnya. Adapun sifat-sifat fi’liyah (perbuatan) artinya sifat-sifat
Tuhan yang diambil dan dipahami dari perbuatan-Nya. Dengan kata lain,
bahwa sifat-sifat fi’liyah ialah sifat-sifat kesempurnaan yang berupa
konsep-konsep yang diperoleh akal dari pengamatannya atas bentuk-bentuk
hubungan antara Tuhan dengan makhluk-makhluk-Nya, seperti; penciptaan
(Al-Khâliqiyyah) dan pemberian rizki (Ar-Râzikiyyah).
Perbedaan
mendasar antara dua sifat tersebut ialah bahwa sifat-sifat dzatiyah
merupakan realitas objektif yang nyata bagi dzat Tuhan. Adapun
sifat-sifat fi’liyah merupakan relasi atau nisbah antara Tuhan dengan
makhluk-Nya. Artinya bahwa dzat Tuhan dan dzat makhluk-Nya, merupakan
dua sisi relasi. Misalnya Al-Khâliqiyyah, sifat ini diperoleh dari
hubungan yang terdapat pada makhluk-makhluk-Nya dengan dzat Tuhan
sebagai pencipta. Dalam hal ini, Tuhan dan seluruh makhluk-Nya merupakan
dua sisi hubungan tersebut. Tetapi dalam realitasnya, tidak terdapat
apa pun selain dzat Tuhan dan dzat-dzat makhluk-Nya. Artinya bahwa
Al-Khâliqiyyah itu bukanlah sebuah realitas yang nyata. Melainkan ia
merupakan cerapan dan pahaman yang diambil dari dua sisi hubungan
tersebut.
Pada tataran dzat, sudah jelas bahwa Tuhan memiliki
sifat al-Qudrah (kekuasaan) untuk mencipta. Tetapi, sifat ini merupakan
sifat dzatiyah. Adapun al-Khalq (penciptaan) merupakan mafhum idhâfi
(konsep relasional) yang diperoleh pada tataran perbuatan dan tindakan
Tuhan. Oleh karena itu, maka al-Khâliq (pencipta) termasuk sifat
fi'liyah. Lain halnya jika kita menafsirkan al-Khâliq (pencipta) dengan
al-Qâdir 'alal khalq (kuasa untuk mencipta), maka dalam hal ini, ia
kembali kepada sifat dzatiyah, yakni al-Qudrah.
Sifat-sifat
dzatiyah Tuhan Pencipta yang penting ialah al-Hayah (hidup), al-'Ilm
(tahu), dan al-Qudrah (kuasa). Adapun sifat mendengar (as-Sami') dan
melihat (al-Bashir), apabila kedua sifat ini ditafsirkan bahwa Tuhan
mengetahui apa saja yang Dia dengar dan apa saja yang Dia lihat, atau
Dia kuasa untuk mendengar dan melihat, maka sebenarnya kedua sifat
tersebut menginduk kepada al-'Alim dan al-Qadir (Mahatahu dan
Mahakuasa). Namun, jika maksud kedua sifat itu adalah mendengar dan
melihat secara fi'li (aktual) yang dicerap dan diambil oleh akal melalui
hubungan Dzat Yang Mahadengar dan Mahalihat dengan segala sesuatu yang
mungkin untuk didengar dan dilihat, maka kedua sifat tersebut termasuk
atau digolongkan ke dalam sifat fi'liyah. Sebagimana sifat ilmu,
terkadang digunakan dengan pengertian seperti itu pula, yang dinamakan
sebagai ilmu fi'li. Sebagian Teolog menggolongkan sifat “berkata”
(al-Kalam) dan “berkehendak” (irâdah) ke dalam sifat dzatiyah, dan hal
ini akan kita bahas pada bagian berikutnya.
Sifat-sifat Dzatiyah Manusia
Sebagaimana telah kami jelaskan di atas bahwa Tuhan Pencipta memiliki
sifat-sifat dzatiyah seperti hidup (al-hayah), kuasa (al-Qudrah) dan
tahu (al-‘Ilm). Jika kita perhatikan sifat-sifat tersebut pada
makhluk-Nya, maka sudah jelas bahwa sifat-sifat tersebut terdapat pada
manusia. Artinya bahwa manusia dapat hidup, memiliki kemampuan dan
pengetahuan. Satu hal yang penting diperhatikan adalah perbedaan
sifat-sifat tersebut pada manusia dan pada Tuhan. Sebagaimana
sifat-sifat tersebut merupakan kesempurnaan bagi Tuhan Pencipta, maka
ketika sifat-sifat tersebut berlaku pada makhluk-makhluk-Nya, merupakan
kesempurnaan pula bagi mereka. Perbedaannya adalah sifat-sifat itu
terdapat pada Tuhan Pencipta -sebagai Sebab Pengada- dalam bentuk yang
lebih tinggi dan lebih sempurna, bahkan tidak terbatas. Karena, setiap
kesempurnaan yang ada pada makhluk-Nya, bersumber dari Sebab Pengada
(creative cause), sebagaimana telah dijelskan pada kajian yang telah
lalu. Dan sifat-sifat tersebut mesti dimiliki oleh-Nya, sehingga Dia
dapat menganugerahkan kepada makhluk-makhluk-Nya. Sebab, tidak mungkin,
apabila Dia sebagai Pencipta kehidupan, sementara Dia sendiri tidak
memiliki sifat-sifat dzatiyah terebut. Dan juga tidak mungkin Dia
menganugerahkan pengetahuan dan kekuasaan kepada makhluk-makhluk-Nya,
apabila Dia sendiri memiliki sifat-sifat kebalikannya, yaitu jahil dan
lemah. Karena -sesuai dengan kaidah logika- setiap yang tidak memiliki
sesuatu, pasti tidak akan dapat memberikan sesuatu itu kepada selainnya
(Fâqidu As-Syai La Yu'thihi). Artinya apabila Tuhan Pencipta itu tidak
memiliki sifat hidup (al-Hayah) sebagai sifat dzatiyah, maka tidak
mungkin Dia akan menganugerahkan sifat tersebut kepada makhluk-Nya,
yaitu dengan cara menghidupkannya. Adapun sifat hidup (al-Hayah) yang
disandang oleh manusia, dan juga sifat-sifat lainnya, bukan merupakan
sifat dzatiyah baginya. Oleh karena itu, manusia tidak dapat memberikan
sifat tersebut kepada selainnya secara mandiri. Karena sifat-sifat
tersebut merupakan anugerah Tuhan kepadanya yang tidak abadi dan tidak
pula azali.
Dengan memperhatikan keberadaan sifat-sifat
kesempurnaan tersebut pada sebagian makhluk-Nya, maka hal itu dapat
dijadikan sebagai dalil atas keberadaan sifat-sifat tersebut pada Tuhan
sebagai Penciptanya, dengan tanpa berkurang, dan bahkan tidak terbatas.
Artinya, bahwa Tuhan Pencipta itu memiliki sifat hidup, ilmu dan kuasa
secara mutlak dan tak terbatas.
Hidup (Al-Hayat)
Telah kami jelaskan mengenai sifat hidup (al-Hayat) ini di atas. Tetapi
agar materi ini dapat dipahami lebih baik lagi, maka alangkah baiknya
jika kami uraikan lebih dalam.
Jika sifat hidup (al-Hayat) ini
kita perhatikan dengan seksama pada selain Tuhan Pencipta, maka akan
kita dapati bahwa pengertian hidup (al-Hayat) itu digunakan untuk dua
golongan makhluk-Nya. Golongan pertama adalah tumbuhan, di mana dia
mempunyai potensi untuk tumbuh dan berkembang. Dan kelompok kedua adalah
hewan dan manusia, dimana mereka ini mempunyai perasaan dan kehendak.
Tetapi makna pertama dari pengertian hidup tersebut meniscayakan adanya
kekurangan dan kebutuhan. Karena, kodrat tumbuh dan berkembang pada
tumbuhan meniscayakan bahwa sesuatu yang tumbuh itu pada awalnya tidak
memiliki kesempurnaan. Tetapi, karena adanya sebagian faktor dan efek
luar, maka terjadilah perubahan dan perkembangan, sehingga ia dapat
mencapai kesempurnaan yang baru secara berangsur-angsur. Kelaziman
semacam ini tidak mungkin dinisbahkan kepada Tuhan Pencipta, sebagaimana
telah kami bahas pada tema sifat-sifat salbiyyah (negatif). Karena zat
Tuhan itu mandiri dan tidak butuh kepada selain-Nya.
Adapun
makna kedua dari hidup tersebut, merupakan mafhum kamali (pahaman
sempurna). Dengan kata lain bahwa makna al-Hayah yang kedua ini tidak
mengharuskan kekurangan dan kebutuhan, tetapi merupakan pengertian yang
sempurna, walaupun pada sebagian realitas yang bersifat “mungkin” masih
diliputi oleh sejumlah kekurangan dan keterbatasan. Meski begitu, kita
dapat memahami makna hidup yang kedua ini adanya peringkat yang tidak
terbatas; tidak terdapat kekurangan, batasan ataupun kebutuhan. Hal ini
sebagaimana makna dan mafhum Al-Wujud dan Al-Kamal. Singkatnya adalah
bahwa makna dan mafhum (pahaman) al-Wujud (ada) dan al-Kamal (sempurna)
merupakan pahaman atau mafhum yang -jika kita menggambarkannya- terdapat
peringkat yang tidak terbatas dan tidak terdapat kekurangan, kebutuhan
dan batasan di dalamnya. Demikian pula jika kita coba menggambarkan
makna dan mafhum al-Hayah pada makna yang kedua.
Adapun sifat
hidup (al-Hayah) dengan maknanya yang meniscayakan pengetahuan dan
pelaku yang berkehendak, maka hal itu termasuk keniscayaan wujud
non-materi. Hal itu karena, meskipun Al-Hayah itu dinisbahkan kepada
makhluk-makhluk hidup fisikal, tetapi sebenarnya sifat hidup ini
merupakan sifat bagi ruhnya, dan bukan sifat bagi badan fisiknya.
Kalaupun badan itu disifati dengan sifat hidup, lantaran ia bergantung
dan mempunyai hubungan yang erat dengan ruhnya. Dengan kata lain, bahwa
imtidâd (ekstensi, tumbuh dan berkembang) merupakan keniscayaan bagi
wujud materi. Sementara al-hayah merupakan keniscayaan bagi wujud
mujarrad (ruh, non-materi). Demikian demikian, maka sifat hidup itu
(Al-Hayah) merupakan keniscayaan bagi wujud mujarrad (non-materi), dan
bukan keniscayaan bagi wujud fisikal dan materi.
Dari sinilah,
terbetik argumen lain atas sifat hidup Tuhan Pencipta, yaitu bahwa
Tuhan Pencipta itu bersifat non-materi dan tidak berbentuk, sebagaimana
telah kami jelaskan pada pelajaran yang lalu. Dan bahwa setiap yang
non-materi itu memiliki sifat al-Hayah secara esensial (dzati). Dengan
demikian bahwa Tuhan Pencipta itu memiliki sifat hidup secara esensial.
Tahu (al-‘Ilm)
“Tahu” atau “mengetahui” (al-‘Ilm) adalah salah satu kata yang makna
dan pengertiannya sangat jelas dan gamblang bagi semua orang. Setiap
manusia yang berakal sehat pasti memahami dan bahkan merasakan dalam
lubuk hatinya mengenai makna dan pengertian kata “tahu”. Mafhum kata
“tahu” (al-‘Ilm) dapat diterapkan dan dinisbahkan kepada Tuhan Pencipta
dan juga kepada manusia dan makhluk-makhluk lainnya. Tetapi, apabila
kata tersebut diterapkan pada makhluk-makhluk-Nya, maka ia menjadi
pengertian yang terbatas dan tidak sempurna. Setinggi apapun ilmu dan
pengetahuan manusia terhadap sesuatu, tentu ada batas dan kekurangannya.
Sifat “tahu” atau “mengetahui” yang merupakan sifat makhluk tersebut,
sekalipun banyak dan tinggi pengetahuannya, tidak mungkin berlaku pada
Tuhan Pencipta.
Mafhum al-‘Ilm (tahu, mengetahui) tidak
berbeda dengan mafhum al-Hayah, al-Wujud dan al-Kamal yang telah kami
jelaskan di atas, yaitu kita dapat menggambarkan pahaman kata al-‘Ilm
tersebut -dengan akal pikiran kita- dan menerapkannya pada mishdaq-nya
(obyek luar) yang tidak terbatas dan bersifat sempurna secara mutlak.
Ketika itu, maka al-‘Ilm (ilmu, tahu) identik dengan dzat al-‘Alim (yang
mengetahui) itu sendiri. Inilah ilmu dzati (pengetahuan esensial) yang
ada pada Tuhan Pencipta.
Untuk membuktikan sifat tahu pada
Tuhan Pencipta, kita dapat menggunakan beberapa cara. Pertama,
menggunakan cara yang telah kita gunakan untuk menetapkan seluruh
sifat-sifat dzati bagi-Nya. Artinya, mengingat bahwa tahu itu terdapat
pada makhluk-makhluk Tuhan, sudah pasti sifat itu pun terdapat pada-Nya
dengan bentuk yang lebih mulia dan sempurna, bahkan tidak terbatas.
Kedua, menggunakan argumen keteraturan (argument from design, burhân
nidhâm), yaitu bahwa setiap fenomena atau ciptaan -seperti rumah, mobil,
dan lain sebagainya- yang memiliki keteraturan, keindahan dan kekokohan
lebih banyak, maka berarti hal itu menunjukkan bahwa penciptanya
memiliki ilmu pengetahuan lebih banyak pula. Contoh semacam ini dapat
kita temukan pada karya ilmiah atau bait qasidah yang indah, atau karya
seni yang menunjukkan sejauhmana penciptanya memiliki pengetahuan,
cita-rasa dan pengalaman. Tidak mungkin seorang yang berakal sehat
menganggap dan menilai bahwa sebuah buku ilmiah atau kitab Filsafat
ditulis oleh orang yang bodoh dan tidak berpendidikan. Atas dasar itu,
bagaimana mungkin alam semesta beserta isinya yang penuh dengan berbagai
rahasia dan keunikan ini diciptakan oleh dzat yang bodoh dan tidak tahu
atau memilki pengetahuan yang terbatas.
Ketiga, menggunakan
premis-premis Filsafat Teoritis yang ghairu badihiyah (perlu
pembuktian). Misalnya, kaidah Filsafat yang berbunyi: "Setiap maujud
non-materi yang mandiri adalah ‘Alim (mengetahui)" sebagaimana hal ini
dibuktikan dalam kitab-kitab yang khusus membahas masalah ini.
Kuasa (al-Qudrah)
Sifat esensial yang perlu dibuktikan keberadannya pada dzat Tuhan
pencipta lainnya adalah al-Qudrah (kuasa). Sebagaimana sifat al-‘Ilm,
al-Qudrah-pun merupakan satu sifat yang jelas makna dan pengertiannya
serta mudah tergambar dalam benak dan akal pikiran sehat setiap insan.
Al-Qudrah, kuasa atau mampu biasanya dinisbahkan kepada setiap pelaku
yang melakukan tindakan dan perbuatannya atas dasar kehendak dan
pilihannya. Ketika itu dikatakan bahwa ia memiliki kemampuan atas
tindakan tersebut. Dengan demikian, al-Qudrah (kuasa, mampu) merupakan
kekuatan dan dasar bagi seorang pelaku -yang memiliki kehendak dan
pilihan- dalam melakukan suatu perbuatan yang mungkin dilakukannya.
Kuasa dan kemampuan setiap orang -tentunya- berbeda-beda, dan banyak
faktor yang menjadikan kekuasaan dan kemampuan setiap orang itu
bergradasi. Sebagaimana Al-Qudrah, al-Wujud pun memiliki gradasi yang
banyak. Begitu pula dengan sifat-sifat yang lainnya.Yang jelas bahwa
semakin banyak dan tinggi kesempurnaan si pelaku -dari sisi derajat
wujudnya- maka semakin banyak pula kekuasaan dan kemampuan yang
dimilikinya. Dengan demikian, maka -sudah pasti- dzat yang memiliki
kesempurnaan yang tidak terbatas, memiliki kekuasaan dan kemampuan yang
tak terbatas pula. Dengan kata lain bahwa mengingat wujud Tuhan Pencipta
itu bersifat sempurna secara mutlak dan tidak terbatas (sebagaimana
telah kita buktikan pada kajian yang telah lalu), maka al-Qudrah,
kekuasaan dan kemampuan-Nya-pun bersifat mutlak dan tidak terbatas pula.
Sehubungan dengan uraian di atas, agar kajian ini menjadi lebih jelas
dan mudah dipahami, kiranya perlu kami tekankan beberapa poin berikut
ini:
Pertama: Al-Qudrah itu tidak mesti berkaitan
dengan seluruh tindakan dan perbuatan. Artinya ada sebagian tindakan dan
pekerjaan yang berkaitan erat dengan al-Qudrah dan sebagain lainnya
tidak berkaitan dengannya. Setiap tindakan dan pekerjaan dimana
al-Qudrah itu berkaitan erat dengannya, maka ia bersifat mumkin tahaqquq
(dapat terealisasi). Dengan kata lain apabila al-Qudrah itu berkaitan
erat dengan suatu tindakan dan perbuatan, maka tindakan dan perbautan
tersebut dapat diharapkan terealisasi. Atas dasar itu, maka sesuatu yang
bersifat muhal (mustahil, tidak terwujud) secara substansial, atau
sesuatu yang meniscayakan kemustahilan (muhal), maka al-Qudrah itu tidak
berkaitan dengannya. Ketika al-Qudrah tersebut tidak berkaitan
dengannya, maka tidak mungkin tindakan dan perbuatan tersebut dapat
terealisasi.
Dari uraian di atas dapat dipahami, jika dikatakan
bahwa Tuhan Pencipta itu Mahakuasa atas segala sesuatu, yaitu Dia mampu
menciptakan apa saja yang Dia kehendaki, maka hal itu -tentunya- ketika
al-Qudrah-Nya itu berhubungan dan ada kaitannya dengan sesuatu
tersebut. Jika tidak, maka tidak mungkin akan terwujud. Misalnya, jika
Tuhan itu Mahakuasa, apakah Dia mampu menciptakan Tuhan? Apakah Dia juga
kuasa menjadikan angka dua (sebagai angka dua) lebih besar dari angka
tiga? Apakah Dia mampu menciptakan seorang anak sebelum ayahnya? Dan
sebagainya. Tentu jawabnya tidak. Karena Tuhan itu tidak diciptakan.
Jika Tuhan itu diciptakan, maka berarti ia bukan lagi Tuhan namanya.
Angka dua pasti lebih kecil dibanding angka tiga, karena urutannya jatuh
sebelum angka tiga. Mustahil Tuhan menjadikan angka dua itu lebih
besar, sementara ia tetap pada urutannya. Begitu pula dengan wujud
seorang anak sebelum ayahnya, hal ini tidak mungkin terjadi, karena
menyalahi sunnah-Nya. Dan setiap orang yang terlahir sebelum seorang
ayah, ia pasti sebagai ayahnya dan bukan lagi sebagai anaknya. Dan
begitulah seterusnya.
Kedua: Sesungguhnya mampu dan kuasa atas
segala tindakan dan perbuatan, tidak memestikan bahwa al-Qâdir (yang
memiliki kemampuan) itu harus melakukan segala perbuatan yang ia
sanggupi. Dengan kata lain, bahwa seseorang yang memiliki kemampuan dan
kekuasaan tidak berarti bahwa kekuasaan dan kemampuannya itu senantiasa
memaksanya untuk melakukan apa saja. Tetapi, ia hanya akan melakukan
sesuatu itu jika ia berminat dan bekehendak. Tuhan Pencipta itu, di
samping Mahakuasa, Dia pun Mahabijak. Atas dasar itu, maka Dia tidak
akan melakkukan perbuatan dan tindakan apapun, kecuali dengan penuh
kebijakan-Nya. Dan tidak akan keluar tindakan apapun darinya kecuali
yang baik dan mengandung mashlahat bagi hamba-hamba dan segala
ciptaan-Nya. Dia tidak akan merealisasikan tindakan-tindakan yang tidak
baik dan tidak bijak, meskipun Dia Mahakuasa dan Mampu untuk melakukan
tindakan yang buruk dan munkar. Hal ini akan kita bahas pada pelajaran
Hikmah Ilahiyah.
Ketiga: Sesungguhnya makna dan pengertian
al-Qudrah (bagi Tuhan Pencipta) yang telah kami jelaskan itu mengandung
makna ikhtiar (free-will, bebas memilih). Berbeda halnya dengan kuasa
pada manusia. Terkadang manusia itu memiliki kemampuan dan kekuasaan,
tetapi ia merasa terpaksa dalam melakukan perbuatan dan tindakannya
tersebut. Artinya perbuatannya itu tidak atas dasar ikhtiyar, pilihan
dan kebebasan kehendaknya. Adapun Tuhan Pencipta, di samping memiliki
derajat kekuasaan dan kemampuan yang paling tinggi, Dia pun memiliki
ikhtiar dan kebebasan memilih yang paling tinggi dan sempurna. Artinya,
tidak mungkin ada faktor apa pun yang memaksa-Nya untuk melakukan suatu
tindakan atau mencabut ikhtiar dari-Nya. Karena, wujud dan kemampuan
segala sesuatu itu bersumber dari-Nya. Dengan demikian, maka tidak
mungkin Dia dapat dipaksa dan dikalahkan oleh berbagai kekuatan dan
kekuasaan yang Dia berikan kepada makhluk-makhluk-Nya.
Sifat-sifat Fi'liyah [3]
Mukadimah
Pada kajian yang telah lalu telah kami jelaskan mengenai makna dan
pengertian sifat-sifat fi’liyah Tuhan Pencipta. Pendek kata bahwa sifat
fi'liyah itu merupakan mafhum (pahaman, konsep) yang terdapat di benak
dan mental seseorang yang dicerap oleh akalnya melalui perbandingan
antara dzat Tuhan Pencipta dan makhluk-makhluk-Nya, yaitu dengan cara
mengamati hubungan tertentu di antara keduanya. Dalam hal ini, Khâliq
(Tuhan Pencipta) dan makhuk-Nya merupakan dua sisi hubungan. Misalnya
seperti sifat Al-Khâliqiyah, sifat ini diperoleh akal dengan cara
mengamati hubungan wujud makhluk-makhluk dengan Tuhan Pencipta. Hanya
dengan jalan mengamati hubungan antara Khâliq dan makhluk-Nya itulah
sifat ini dapat diambil dan dipahami. Dengan demikian, apabila hubungan
di antara keduanya itu tidak diamati, maka sifat fi’liyah tersebut tidak
mungkin dapat diperoleh dan dipahami.
Sesungguhnya
hubungan-hubungan yang mungkin dapat tergambar antara Tuhan Pencipta dan
makhluk-Nya itu tidak dapat dibatasi. Tetapi secara global dan dari
satu sisi , hubungan-hubungan tersebut dapat dibagi kepada dua kelompok.
Kelompok pertama: Mengamati dan memahami hubungan-hubungan
antara Khâliq dan makhluk-Nya secara langsung, seperti Al-I^jâd
(mewujudkan), Al-Khalq (menciptakan), Al-Ibdâ` (mengadakan) dan
sebagainya. Artinya sifat-sifat tersebut dapat kita peroleh dan kita
pahami melalui pengamatan dua sisi hubungan, yaitu antara Tuhan dan
makhluk-Nya. Tanpa memperhatikan hal-hal lainnya sama sekali.
Kelompok kedua: Mengamati dan memperhatikan hubungan-hubungan antara
Khaliq dan makhluk-Nya setelah mempersepsi hubungan-hubungan yang
lainnya, seperti rizki. Artinya, pada awalnya kita menggambarkan dan
memperhatikan adanya hubungan dzat pemberi rizki (Tuhan Pencipta) dan
dzat penerima rizki (makhluk-Nya). Setelah itu, kita memahami dan
memperhatikan limpahan rahmat Tuhan Pencipta kepada si makhluk tersebut.
Dengan cara seperti itu, barulah kita memperoleh mafhum dan konsep
Ar-Râziq (pemberi rizki) dan Ar-Razzaq (Mahapemberi rizki).
Metode lainnya untuk dapat memahami dan mencerap adanya sifat fi’liyah
bagi Tuhan Pencipta adalah dengan mengonsepkan berbagai hubungan antara
satu makhluk dengan yang lainnya. Dengan kata lain, sebelum kita
mencerap dan memahami sifat fi’liyah bagi Tuhan Pencipta, kita
memperhatikan berbagai hubungan yang terdapat di antara makhluk-makhluk
ciptaan-Nya. Setelah itu, barulah kita mengamati dan memperhatikan
hubungannya dengan Tuhan Pencipta.
Di samping itu, kita dapati
pula adanya konsep yang muncul dari beberapa hubungan sebelumnya antara
Tuhan Pencipta dan makhluk-Nya, misalnya seperti konsep maghfirah
(ampunan), dimana konsep ini muncul dari pengaturan syariat Tuhan,
penentuan-Nya terhadap hukum-hukum syariat dan penyimpangan atau
pengingkaran hamba-Nya terhadap hukum-hukum tersebut. Dengan demikian,
untuk dapat memahami sifat-sifat fi'liyah Tuhan, terlebih dahulu kita
harus melakukan suatu perbandingan antara Tuhan Pencipta dengan
makhluk-makhluk-Nya. Pada tahapan ini, kita akan menemukan adanya
hubungan antara dzat Tuhan Pencipta dengan yang dicipta (makhluk-Nya).
Kemudian, dengan cara ini kita akan memperoleh konsep idhâfi
(relasional) dari hubungan tersebut. Oleh karena itu, dzat Tuhan
Pencipta Yang Mahasuci tidak bisa dijadikan sebagai mishdâq (ekstensi,
obyek luar) bagi sifat-sifat fi'liyah secara mandiri (tanpa mengamati
hubungan tersebut). Dengan uraian tersebut, maka menjadi jelaslah
perbedaan utama antara sifat-sifat dzatiyah dan sifat-sifat fi'liyah
bagi Tuhan Pencipta alam semesta ini.
Pada kajian yang telah
lewat, kami juga telah menjelaskan kepada segenap pembaca, bahwa kita
dapat memperhatikan sifat-sifat fi'liyah dari sisi sumber dan
asal-usulnya, yaitu dzat Tuhan Pencipta. Dengan demikian, sifat-sifat
fi'liyah akan bermuara pada sifat-sifat dzatiyah, sebagaimana pada
contoh al-Khâliq (pencipta) dan al-Khallâq (Mahapencipta). Apabila kita
tafsirkan sifat ini dengan Qadir (bentuk isim fâ’il = Mahakuasa) atas
makhluknya, maka ia berasal dari sifat al-Qadîr (bentuk pleonastis
[mubâlaghah]= Sangat Mahakuasa). Sifat as-Samî' (Mahamendengar) dan
sifat al-Bashîr (Mahamelihat), abila kedua sifat ini kita tafsirkan
dengan mengetahui (al- 'Alim) segala hal yang didengar dan dilihat, maka
keduanya itu kembali dan berasal dari sifat al- 'Alîm (Mahatahu = dalam
bentuk pleonastis, mubâlaghah).
Terdapat pula beberapa mafhum
(konsep, pahaman) yang dapat digolongkan ke dalam sifat-sifat dzatiyah.
Tetapi kita dapat pula menggambarkan dan menemukan padanya makna idhâfi
(relasional) dan makna fi'li (bersifat aksional). Oleh karena itu,
sifat-sifat tersebut dapat dikategorikan dan dianggap sebagai
sifat-sifat fi'liyah, seperti mafhum (konsep) al-'Ilm (tahu)
Satu hal yang perlu kita perhatikan dan dicatat secara seksama adalah
apabila kita menggambarkan dan memperhatikan adanya hubungan antara
Tuhan Pencipta dan hal-hal material, sehingga melalui gambaran hubungan
tersebut kita dapat memperoleh dan mencerap sifat fi'liyah tertentu pada
Tuhan, maka sifat ini akan terbatasi dengan tempat dan waktu dari sisi
keterkaitannya dengan maujud-maujud materi yang merupakan salah satu
sisi hubungan tersebut. Kendati demikian, bila dilihat dari sisi
keterkaitannya dengan Tuhan Pencipta sebagai sisi lain hubungan
tersebut, maka sifat ini suci dari batasan apa pun. Misalnya, pemberian
rizki kepada seseorang, anugerah rizki ini tidak akan dapat terwujud,
kecuali pada masa dan tempat tertentu. Pada hakikatnya, batasan masa dan
waktu ini berkaitan dengan orang yang menerima rizki itu, bukan dengan
Tuhan sebagai Pemberi rizki, karena Dia Mahasuci dari penisbahan masa
dan tempat apa pun (sebagaimana telah kami jelaskan). Dengan kata lain,
bahwa sifat-sifat fi’liyah yang kita cerap dan kita pahami melalui jalan
menggambarkan dan memperhatikan adanya hubungan antara Tuhan Pencipta
dan makhluk-Nya itu, memiliki dua sisi. Artinya, dari satu sisi
sifat-sifat tersebut tidak terbatas dan bersifat mutlak, tetapi dari
sisi lain terbatas dan penuh kekurangan. Jika kita memperhatikan sisi
keterkaitan sifat-sifat tersebut kepada dzat Tuhan Pencipta, maka ia
bersifat mutlak dan tidak terbatas. Karena sifat-sifat tersebut sebagai
dzat Tuhan itu sendiri (shifatuhu ‘aynu dzatihi).
Tetapi jika
kita memperhatikan sisi keterkaitan sifat-sifat tersebut kepada makhluk
Tuhan -sebagai sisi lain yang menerima anugerah Tuhan- maka sifat-sifat
tersebut tidak mutlak, bahkan sangat terbatas, penuh dengan kekurangan
dan kebutuhan. Karena manusia dan makhluk-Nya sebagai materi yang sangat
terbatas dan senantiasa bergantung kepada-Nya.
Penjelasan dan
catatan ini merupakan kunci untuk menyelesaikan berbagai keraguan yang
dilontarkan terhadap upaya mengenal sifat-sifat dan perbuatan atau
tindakan Tuhan yang telah menyebabkan banyaknya pertikaian di antara
para ulama dan pemikir. Semoga kiranya materi penting ini dapat dipahami
dengan sebaik-baiknya. Membacanya berulang-ulang, merenungkan dan
mendiskusikannya, merupakan upaya yang paling baik untuk memahami materi
ini.
Pencipta
Setelah kita dapat
membuktikan eksistensi Wâjib al-wujud (Tuhan Pencipta) dan bahwa ia
merupakan sebab utama bagi keberadaan dan kesinambungan mumkin al-wujud (
makhluk ciptaan-Nya), dan juga bahwa dengan memperhatikan segala yang
ada pada wujud makhluk-Nya itu bergantung kepada-Nya secara mutlak, maka
dari sinilah dapat ditemukan dan dicerap sifat pencipta
(al-Khaliqiyyah) pada Wâjib al-wujud dan sifat yang dicipta
(makhluqiyah) pada makhluk-Nya tersebut. Sifat pencipta ini atau
al-Khaliqiyah identik dengan Illat atau Sebab Pengada (creative cause).
Sementara seluruh yang mungkin atau semua makhluk-Nya (mumkin al-wujud)
yang merupakan satu sisi hubungan penciptaan, disifati dengan sifat
makhluqiyah (ciptaan, yang dicipta). Dengan demikian, apabila kita
melihat dan memperhatikan hubungan antara Tuhan dengan manusia, maka
dapat dikatakan bahwa Tuhan itu sebagai al-Khâliq (Pencipta) dan
memiliki sifat al-Khaliqiyah, sementara manusia sebagai makhluk-Nya
(yang diciptakan) dan memiliki sifat al-makhluqiyah.
Poin-poin tambahan
Sekedar untuk mengingatkan dan agar materi ini lebih mudah dipahami
dengan baik dan tidak mudah terlupakan, kami tambahkan poin-poin penting
berikut ini:
1. Jika kita coba menengok kembali
pembahasan mengenai al-Qudrah (kuasa), maka akan kita dapat perbedaannya
dengan al-Khaliqiyah, yaitu bahwa al-Qudrah merupakan sifat dzatiyah
(esensi) bagi Tuhan Pencipta, sementara al-Khaliqiyah merupakan sifat
fi’liyah (perbuatan) bagi-Nya.
2. Jika kita coba melihat dan
memperhatikan hubungan Tuhan dengan manusia atau lainnya, maka akan kita
dapati bahwa Tuhan sebagai al-Khâliq dan manusia sebagai al-makhluk.
Kekuasaan dan kemampuan Tuhan bersifat mandiri, abadi dan azali.
Sementara manusia memiliki kekuasan dan kemampuan berkat anugerah dan
rahmat-Nya.
3. Jika kita coba melihat dan memperhatikan manusia
dengan hasil buatan dan ciptaannya, seperti rumah, mobil, kereta,
pesawat, kursi, komputer, radio, dan lain sebagainya, maka akan kita
dapati bahwa manusia juga sebagai al-khaliq dan berbagai hasil
ciptaannya itu sebagai makhluk-makhluknya. Dengan kata lain bahwa
hubungan antara manusia dengan hasil ciptaannya, manusia sebagai
al-khaliq sementara hasil ciptaannya sebagai al-makhluq. Lalu dimanakah
perbedaan antara al-Khaliqiyah pada dzat Tuhan dengan al-khaliqiyah pada
manusia? Atau, apakah perbedaan antara proses penciptaaan Tuhan dengan
penciptaan manusia? Perbedaannya adalah sebagai berikut:
a)
Tuhan itu menciptakan realitas-realitas yang wujudnya tidak didahului
oleh materi apapun. Dengan kata lain bahwa penciptaan Tuhan tidak
memerlukan bahan-bahan dasar sebelumnya dan tidak juga membutuhkan
contoh. Sementara manusia menciptakan realitas-realitas yang memang
wujudnya telah tersedia di alam raya ini dan didahului oleh gambaran
yang ada di dalam benak dan pikirannya atau dengan contoh-contoh yang
telah ada.
b) Tindakan mencipta yang dilakukan oleh manusia
ketika membuat sesuatu, butuh kepada gerak dan anggota badan, agar
gerakannya itu menjadi sebuah tindakan. Dan hal-hal yang telah terjadi
merupakan hasil dari tindakan tersebut.
Adapun tindakan
mencipta yang dilakukan oleh Tuhan, tidaklah demikian. Artinya bahwa
tindakan penciptaan itu bukan merupakan sesuatu, dan yang dicipta
(makhluk) bukan pula sesuatu yang lain. Ketika Tuhan menciptakan
sesuatu, maka tindakan mencipta yang Dia lakukan, tidak memerlukan
kepada tangan dan anggota lainnya, tidak memerlukan kepada gerak dan
lain sebagainya. Karena, Tuhan itu suci dari gerak dan ciri-ciri khas
segala maujud materi. Kemudian, jika tindakan penciptaan-Nya itu
merupakan mishdâq ‘ayni khariji (realitas objektif tersendiri di luar)
dan sebagai tambahan atas dzat makhluk-Nya, maka hal ini berarti bahwa
tindakan penciptaan tersebut merupakan wujud mungkin (mumkin al-wujud)
yang juga merupakan makhluk dan ciptaan-Nya. Jika demikian, maka
pembahasan akan kembali lagi ihwal bagaimana tindakan penciptaan Tuhan
atas makhluk-Nya.Dan hal ini justru meniscayakan daur (siklus) yang
mustahil.
Apabila diasumsikan bahwa tindakan penciptaan
(terhadap suatu realitas) yang keluar dari dzat Tuhan itu merupakan
makhluk-Nya, maka berartti Tuhan itu tersusun dan terangkap dari
dzat-Nya dan tindakan penciptan-Nya tersebut. Sebagaimana manusia
-ketika menciptakan dan membuat sesuatu- terangkap dari dirinya dan
gerakan-gerakan anggota badannya. Tetapi Tuhan Pencipta tidaklah
demikian, sebagaimana telah kita buktikan bahwa hal ini mustahil bagi
Tuhan Pencipta. Tetapi, sebagaimana telah kami singgung mengenai
sifat-sifat fi'liyah, bahwa sifat-sifat tersebut (penciptaan) merupakan
konsep-konsep (mafhum) yang diperoleh dari berbagai relasi yang terdapat
antara Tuhan dan makhluk-Nya. Sedangkan dasar untuk menilai adanya
relasi-relasi itu adalah akal. Pembahasan yang lebih dalam lagi, akan
Anda dapati pada pembahasan “filsafat perbuatan Tuhan”.
Pengatur
Di antara sifat-sifat Tuhan pencipta lainnya yang penting dibahas dan
dipahami dengan baik adalah sifat ar-Rabb (pengatur). Tuhan telah
menciptakan alam raya dan manusia dengan segala keunikannya. Apakah
setelah manusia dan alam ini tercipta, Dia pulakah yang mengatur mereka
sampai waktu yang tidak tertentu? Ataukah setelah Tuhan menciptakan
makhluk-Nya, Dia berlepas tangan dan beristirahat?
Jika kita
perhatikan dengan seksama hubungan antara manusia dan makhluk lainnya
dengan Tuhan Pencipta, maka akan kita dapati bahwa sebenarnya
makhluk-makhluk Tuhan itu tidak saja butuh kepada-Nya pada asal
keberadaannya. Bahkan segala hal yang berkaitan dengan wujud dan
kesinambungan mereka, tetap dan hanya bergantung kepada-Nya. Dengan kata
lain, bahwa makhluk-makhluk itu, sama sekali tidak mandiri. Ketika
dipahami bahwa mereka itu tidak mandiri dan senantiasa bergantung
kepaa-Nya, maka dengan demikian, Tuhan Pencipta itu memiliki hak
tasharruf (perlakuan) atas mereka. Artinya Tuhan memiliki kebebasan
untuk mengatur berbagai urusannya sesuai dengan kehendak dan hikmah-Nya.
Ketika kita mengamati relasi dan hubungan antara Tuhan dengan
makhluk-Nya dan hak pengaturan bagi-Nya secara umum, maka kita dapat
memahami dan mencerap adanya konsep rububiyah (pengaturan). Hanya
Dia-lah yang mengatur segala urusan.
Konsep rububiyah ini
(pengaturan Tuhan atas seluruh makhluk-Nya) memiliki berbagai mishdâq
dan konsekuensi logis, seperti: al-Hafidh (penjaga), al-Muhyi
(menghidupkan), al-Mumit (mematikan), ar-Raziq (pemberi rizki), al-Hadi
(pemberi hidayah), al-Amir (pemerintah), an-Nahi (pelarang) dan
sebagainya. Artinya bahwa konsekuensi logis yang “harus” dijalankan dan
dilakukan oleh Sang Pengatur Hakiki -sehubungan dengan masalah ini-
adalah: Dia-lah yang menghidupkan, mematikan, memelihara, memberi rizki,
memerintahkan hal-hal yang bermanfaat, melarang hal-hal yang
membahayakan, memberi hidayah kepada makhluk-makhluk ciptaan-Nya itu,
dan lain sebagainya.
Secara global bahwa hal-hal yang berhubungan dengan rububiyah ini dapat dibagi menjadi dua kelompok:
Satu:
Rububiyah Takwiniyah (pengaturan-Nya terhadap alam semesta). Rububiyah
ini meliputi pengaturan berbagai urusan setiap maujud dan pemenuhan
berbagai kebutuhannya. Singkat kata, ia meliputi pengaturan semesta.
Dua:
Rububiyah Tasyri'iyah (pengaturan-Nya yang berkaitan dengan
undang-undang dan ketentuan-Nya). Rububiyah ini hanya berlaku atas
makhluk yang bisa merasa dan memilih, seperti jin dan manusia. Adapun
makhluk-makhluk lainnya, seperti binatang dan tumbuhan hanya berlaku
pada mereka rububiyah takwiniyah saja.
Sementara rububiyah
tasyri’iyah ini meliputi beberapa masalah, seperti pengutusan para Nabi,
penurunan kitab-kitab samawi, penetapan tugas dan kewajiban dan
penyusunan hukum dan undang-undang.
Dengan demikian, rububiyah
mutlak Ilahi berarti bahwa seluruh makhluk dalam segala urusan hidup dan
wujudnya bergantung kepada Tuhan Pencipta semata. Dan berbagai hubungan
yang terjalin antara sesama mereka pada akhirnya berujung kepada-Nya.
Dia-lah yang mengatur dan mengurus sebagian makhluk-Nya dengan perantara
makhluk-makhluk-Nya yang lain. Dia-lah yang melimpahkan rizki kepada
segenap makhluk-Nya melalui sumber-sumbernya yang telah Dia hamparkan.
Dia-lah yang memberi hidayah kepada seluruh makhluk-Nya yang memiliki
perasaan, baik melalui sarana-sarana internal (seperti akal dan seluruh
daya indera) maupun melalui sarana-sarana eksternal (seperti para Nabi
dan kitab samawi). Dan Dia pulalah yang menetapkan hukum-hukum,
aturan-aturan, berbagai tugas dan kewajiban kepada para mukallaf
(orang-orang yang telah memenuhi syarat untuk mengemban dan menjalankan
berbagai tugas-tugas syar'i).
Sebagaimana khaliqiyah, rububiyah
juga merupakan konsep relasional (idhâfi). Perbedaanya bahwa
aspek-aspek yang diamati pada konsep rububiyah adalah hubungan-hubungan
khusus antara berbagai makhluk itu sendiri. Hal itu sebagaimana yang
telah kami jelaskan pada konsep Raziqiyah.
Apabila konsep
khaliqiyah dan rububiyah -yang merupakan sifat idhâfiyah- kita amati dan
kita renungkan dengan teliti, maka akan tampak jelas bagi kita bahwa di
antara kedua sifat tersebut terdapat talazum (hubungan niscaya).
Artinya bahwa pengatur alam semesta itu mustahil bukan penciptanya.
Dengan demikian, bahwa dzat yang menciptakan seluruh makhluk dengan
ciri-ciri tertentu dan menciptakan hubungan antara sesamanya, Dia
pulalah yang memelihara dan mengaturnya. Pada hakikatnya, konsep
rububiyah dan tadbir (managemen) diperoleh akal dari proses penciptaan
pada berbagai makhluk, dan adanya hubungan antara satu makhluk dengan
yang lainnya.
Tuhan sembahan (uluhiyyah)
Pembahasan kita selanjutnya adalah mengenai masalah tauhid dari dimensi
ketuhanan atau sembahan. Dan ketuhanan ini juga merupakan sifat Tuhan
Pencipta lainnya yang dicerap melalui adanya hubungan antara Tuhan yang
disembah dengan makhluk yang menyembah-Nya. Dengan kata lain bahwa
uluhiyyah merupakan sifat yang apabila kita hendak memahaminya, maka
kita harus mengasumsikan adanya hubungan antara ibadah seorang hamba dan
ketaatannya dengn Tuhan yang disembah (ma’bud). Karena orang-orang yang
sesat, meskipun mereka menjadikan sesuatu sebagai sembahan yang batil,
tetapi yang berhak untuk disembah, diibadahi dan ditaati hanyalah
al-Khâliq (pencipta) dan ar-Rabb (pengatur) semata.
Keyakinan
terhadap satu Tuhan sembahan adalah kadar yang mesti dipenuhi oleh
setiap orang beriman dalam masalah-masalah keyakinan kepada Tuhan
Pencipta. Artinya, di samping ia mengimani bahwa Tuhan itu adalah Wâjib
al-wujud, Pencipta, Pengatur dan bahwa alam ini tunduk di bawah
kehendak-Nya, ia pun dituntut untuk mengimani bahwa Dia-lah yang berhak
ditaati dan diibadahi. Dari sinilah diperoleh konsep uluhiyyah, yaitu
meyakini Tuhan Yang Esa sebagai satu-satunya sembahan yang layak dan
sebagai salah satu keyakinan yang mendasar dalam agama.[]
Seluruh Sifat-sifat Fi'liyah [4]
Mukadimah
Termasuk tema yang rumit dan persoalan yang sulit dipahami dalam kajian
ilmu kalam adalah masalah irâdah Ilahiyah (kehendak Tuhan). Masalah ini
dapat dibahas dari beberapa sisi. Pertanyaan-pertanyaan yang biasanya
dilontarkan sehubungan dengan masalah irâdah Tuhan ini adalah: apakah
kehendak Tuhan itu termasuk sifat dzatiyah ataukah ia termasuk sifat
fi'liyah (perbuatan)? Apakah sifat tersebut qadim ataukah hadits? dan
apakah irâdah Tuhan tersebut satu ataukah berbilang? Para teolog dan
ulama berbeda pendapat dan pandangan dalam menjawab
pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dengan membaca, mengkaji dan memahami
uraian berikut ini, Anda akan dapat menemukan jawaban dari beberapa
pertanyaan tersebut.
Selain hal-hal yang telah disebutkan di
atas, terdapat pula tema-tema lainnya yang dibahas dalam kajian filsafat
mengenai kemutlakan kehendak, khususnya kehendak Tuhan. Menurut kami,
bahwa kajian atas tema ini secara luas dan mendetail, perlu dikaji dan
dibahas, namun pada kesempatan lain yang lebih sesuai dengan ruang dan
waktunya. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini, kami akan
membahasnya secara lebih sederhana sebagai langkah pertama untuk masuk
kepada penjelasan selanjutnya yang lebih luas dan mendalam. Kami akan
memulai untuk membahas masalah ini dengan menjelaskan pengertian irâdah.
Setelah itu, kami akan jelaskan secara ringkas dan sederhana tentang
irâdah Tuhan Pencipta alam semesta.
Irâdah
Irâdah (kehendak, keinginan) adalah kata yang biasa dan sering
digunakan oleh masyarakat umum dalam percakapan mereka sehari-hari. Jika
kita coba melihat kata irâdah ini secara urf dan menurut pandangan
masyarakat umum, maka setidak-tidaknya kata irâdah ini digunakan dalam
dua makna. Salah satunya bermakna cinta (mahabbah), dan yang kedua
bermakna keputusan (tashmim) untuk melakukan suatu perbuatan. Makna
irâdah yang pertama, yaitu mahabbah (cinta) mengandung pengertian yang
sangat luas. Artinya bahwa makna yang pertama ini meliputi cinta akan
segala sesuatu, baik yang berada pada diri seseorang yang berkehendak
maupun segala sesuatu yang berada di luar dirinya. Berbeda halnya dengan
makna yang kedua, yaitu mengambil keputusan. Karena makna yang kedua
ini khusus digunakan untuk tindakan-tindakan dan berbagai perbuatan
seseorang yang memiliki kehendak itu sendiri.
Irâdah dengan
pengertian pertama (mahabbah), meskipun bagi manusia hal itu merupakan
aradh (aksiden) dan kaifiyah nafsaniyah (kualitas jiwa), tetapi akal
kita dapat menggambarkan pahaman dan konsep umum baginya, yaitu dengan
cara menyingkirkan dan mengosongkan berbagai kekurangan yang terdapat di
dalamnya, sehingga ia dapat diterapkan atas berbagai maujud jauhariyah
(substansial), bahkan dapat diterapkan atas Tuhan Pencipta. Sebagaimana
penyingkiran dan pengosongan semacam itu dilakukan oleh akal terhadap
pengetahuan (al-'Ilm).
Oleh karena itu, Hubb (cinta) –yang
diterapkan atas mahabbah (kecintaan) Tuhan terhadap dzat-Nya– dapat
digolongkan pula ke dalam sifat-sifat dzatiyah (esensial). Dengan
demikian, apabila yang dimaksud dengan iradah Ilahiyah adalah hubb
al-kamal (cinta kesempurnaan) yang -pada prinsipnya- berhubungan dengan
kesempurnaan Ilahi yang tidak terbatas, dan berikutnya berhubungan
dengan kesempurnaan seluruh makhluk dari sisi bahwa kesempurnaan itu
merupakan kesan (atsar) dari kesempurnaan-Nya, maka kita dapat
menggolongkan sifat irâdah yang bermakna cinta ini ke dalam sifat-sifat
dzatiyah, sebagaimana sifat dzatiyah lainnya, yaitu qadim dan esa, dan
identik ('ayn dzat) dengan dzat Tuhan Pencipta itu sendiri. Dengan kata
lain ia merupakan substansi dzat Tuhan itu sendiri.
Adapun
irâdah dengan makna keputusan untuk melakukan suatu tindakan dan
pekerjaan, maka -tidak diragukan lagi- bahwa ia termasuk sifat-sifat
fi'liyah (perbuatan), yang jika kita melihatnya dari sisi kaitannya
dengan fenomena-fenomena alam (hawâdits), ia terikat dengan
batasan-batasan waktu dan zaman. Namun perlu diperhatikan bahwa
disifatinya Tuhan dengan sifat-sifat fi'liyah seperti ini, tidak berarti
bahwa dzat-Nya itu mengalami perubahan atau terdapat aradh (aksiden)
padanya. Melainkan penyifatan ini hanyalah menyoroti dan memandang
hubungan antara dzat Tuhan dan makhluk-makhluk-Nya dari sisi tertentu
dan dengan syarat-syarat tertentu pula, sehingga dengan cara seperti itu
dapat diperoleh sebuah pahaman dan konsep relasional (mafhum idhâfi)
yang tergolong sebagai sifat fi'liyah. Jika kita perhatikan relasi dan
hubungan antara Tuhan Pencipta dan makhluk-makhluk-Nya, maka akan kita
dapati bahwa sifat irâdah terdapat dalam relasi dan hubungan tersebut.
Dengan uraian yang lebih jelas bahwa setiap makhluk itu diciptakan oleh
Tuhan dari aspek bahwa ia memiliki kesempurnaan, kebaikan dan
kemaslahatan. Artinya bahwa dalam penciptaan makhluk itu terdapat
maslahat, kebaikan dan kesempurnaan bagi makhluk itu sendiri. Dengan
demikian maka wujud makhluk tersebut –pada masa, tempat dan cara
tertentu– terkait dengan ilmu dan cinta Tuhan. Dan sesungguhnya Tuhan
menciptakan makhluk-Nya dengan kebebasan dan kehendak-Nya, tanpa ada
pemaksaan dari siapa pun. Maka dengan memperhatikan hubungan tersebut,
kita akan dapat memperoleh sebuah pahaman dan konsep yang dinamakan
irâdah. Pahaman dan konsep relasional ini dibatasi oleh batasan-batasan
tertentu dilihat dari kaitannya dengan sisi hubungan yang terbatas pula.
Oleh karena itu, pahaman dan konsep irâdah -yang diperoleh dengan
melihat hubungan semacam ini- bersifat huduts dan katsrah (proses
kebaruan dan jamak). Hal itu karena idhâfah (relasi, hubungan) mengikuti
dua sisi yang mengapitnya, dimana huduts dan katsrat berada pada salah
satu dari dua sisi. Singkatnya bahwa untuk memperoleh gambaran dan
pahaman tentang sifat irâdah sebagai sifat fi'liyah Tuhan adalah dengan
memperhatikan kedua hubungan antara dzat Tuhan yang berada pada satu
sisi dan makhluk ciptaan-Nya yang bersifat huduts dan katsrat yang
berada pada sisi lainnya. Sirâyat dan merembetnya sifat huduts dan
kasrat kepada sifat irâdah Tuhan tersebut, cukup untuk menilai bahwa
sifat tersebut sebagai sifat fi'liyah-Nya.
Hikmah
Dengan merenungkan dan memahami penjelasan yang telah kami sampaikan
mengenai irâdah Ilahiyah, maka akan menjadi jelas bagi kita bahwa irâdah
Tuhan itu tidak terkait dengan penciptaan sesuatu secara sia-sia, tanpa
pertimbangan dan hikmah. Melainkan bahwa irâdah Ilahiiyah itu -pada
dasarnya dan secara pasti- berkaitan dan berhubungan erat dengan sisi
kesempurnaan dan kebaikan segala sesuatu. Tetapi karena di alam jagat
raya ini terjadi berbagai benturan dan gesekan antara satu materi dengan
materi lainnya, maka hal itu mengakibatkan timbulnya kerusakan,
kekurangan dan cacat pada sebagiannya, akibat ulah sebagian lainnya.
Oleh karena itu, maka mahabbah dan kecintaan Tuhan kepada kesempurnaan,
menginherensikan dan memestikan terciptanya suatu tatanan materi yang
mengandung dan memiliki kebaikan dan kesempurnaan yang lebih banyak
dibandingkan dengan keburukan dan kerusakannya. Artinya bahwa maslahat
dan kebaikan yang terdapat di dalam penciptaan alam raya ini jauh
melebihi kekurangan dan kerusakannya, bahkan tidak bisa dibandingkan.
Dengan mengamati dan memperhatikan hubungan-hubungan tersebut, maka
kita dapat memperoleh pahaman dan konsep yang dinamakan "maslahat".
Tanpa memperhatikan hubungan-hubungan tersebut, kita tidak akan dapat
memperoleh gambaran mengenai adanya "maslahat". Karena "maslahat" itu
sendiri bukan merupakan sesuatu yang memiliki wujud mandiri yang dapat
memberi efek pada keberadaan makhluk-makhluk, sehingga dapat pula
memberikan pengaruh atas irâdah Ilahiyah. Dengan kata lain bahwa kita
tidak akan mendapati suatu maujud yang terdapat di luar kita yang
bernama "maslahat", di mana wujud maslahat ini dapat mempengaruhi dan
memberi efek makhluk-makhluk dalam kewujudannya. Oleh karena itu, tidak
benar jika dikatakan bahwa adanya "maslahat" dalam penciptaan alam
semesta ini ikut andil dan mempengaruhi kehendak Tuhan untuk menciptakan
berbagai makhluk-Nya. Dengan kata lain, tidak benar jika Tuhan
menciptakan alam raya ini berdasarkan atau karena adanya maslahat pada
ciptaan-Nya itu sendiri. Lebih tidak benar lagi jika dikatakan bahwa
maslahat itu dapat mempengaruhi irâdah Ilahiyah.
Kesimpulan
yang dapat diambil dari penjelasan di atas adalah bahwa tindakan dan
perbuatan Tuhan itu muncul dari sifat-sifat dzatiyah-Nya seperti: ilm,
qudrat dan kecintaan-Nya (hubb, mahabbah) kepada kesempurnaan dan
kebaikan. Oleh karena itu, maka tindakan-tindakan dan
perbuatan-perbuatan-Nya itu senantiasa tidak terlepas dan tidak mungkin
kosong dari maslahat. Artinya bahwa perbuatan-perbuatan Tuhan itu
senantiasa terwujud dengan berbagai kebaikan, maslahat dan kesempurnaan
yang lebih dominan. Irâdah semacam ini dinamakan sebagai irâdah hakîmah;
Kehendak yang Mahabijak. Dari sinilah akal dapat mencerap dan
memperoleh sifat fi'liyah Tuhan yang lain, yaitu sifat bijaksana
(hakim). Sebagaimana pula semua sifat-sifat fi'liyah lainnya, sifat ini
pun berakhir dan berujung kepada sifat-sifat dzatiyah Tuhan.
Perlu kiranya kami tekankan, bahwa melakukan suatu tindakan dan
perbuatan berdasarkan maslahat, bukan berarti bahwa maslahat itu
merupakan landasan dan sebab utama ('illat gha'iyah) bagi Tuhan.
Melainkan bahwa maslahat itu merupakan tujuan kedua atau tujuan
sampingan yang bersifat tak langsung (taba'i). Adapun tujuan utama dari
perbuatan-perbuatan Tuhan adalah cinta-Nya kepada kesempurnaan diri-Nya
sendiri yang tak terbatas, dimana cinta kepada kesempurnaan-Nya tersebut
secara tak langsung berhubungan dengan berbagai atsar-nya (efeknya),
yaitu kesempurnaan segala yang ada. Karenanya atas dasar cinta-Nya
kepada dzat-Nya itulah, Dia menciptakan manusia dan alam semesta ini.
Kemudian secara tidak langsung -yang merupakan tujuan sampingan-
terdapat berbagai maslahat dan kebaikan yang dominan atas penciptaan-Nya
tersebut. Dengan demikian bahwa maslahat dan kebaikan pada
penciptaan-Nya itu bukan merupakan tujuan utama segala tindakan dan
perbuatan-Nya. Berangkat dari sini maka para filosof dan teolog Islam
mengatakan bahwa sebab utama tindakan dan perbuatan Tuhan adalah illat
dan sebab pelaku ('illat fa'iliyah) itu sendiri. Karena Tuhan Pencipta
itu tidak memiliki ghayah mustaqil (tujuan di luar diri-Nya) sebagai
tambahan atas dzat-Nya.
Namun demikian, pandangan dan konklusi
ini tidak menafikan adanya kesempurnaan, kebaikan dan maslahat yang
terdapat pada seluruh maujud sebagai tujuan lateral dan sampingan (far'i
dan tabi'i). Oleh karena itu, tindakan-tindakan dan perbuatan-perbuatan
Tuhan Pencipta dapat dikatakan sebagai illat dan sebab bagi sebagian
perkara dan tujuan-tujuan yang berakhir dan berujung kepada
kesempurnaan, kebaikan dan maslahat seluruh makhluk itu sendiri. Hal ini
sebagaimana disinggung dan dijelaskan di dalam kitab suci umat Islam.
Lebih dari itu bahkan sebagian ayat-ayat suci di dalam kitab mereka
menyebutkan bahwa ujian, bencana, memilih perbuatan yang paling baik,
beribadah kepada Tuhan Pencipta dan mencapai rahmat Ilahi yang khusus
dan bersifat abadi, merupakan tujuan penciptaan manusia. Masing-masing
daripada tujuan tersebut disiapkan untuk tujuan yang lainnya secara
gradual sebagaimana yang telah dijelaskan.
Kalâm Tuhan
Termasuk pahaman dan konsep yang dinisbahkan kepada Tuhan Pencipta -di
dalam pembahasan Teologi dan Filsafat- adalah pahaman dan konsep kalâm
atau takallum (berkata-kata). Artinya bahwa kalâm atau takallum itu
merupakan salah satu sifat Tuhan Pencipta. Sebenarnya sudah sejak dahulu
kala persoalan kalâm Ilahi ini telah dibahas oleh kaum teolog. Bahkan
sebagian mereka mengatakan bahwa sebab penamaan ilmu Kalâm adalah
larutnya para teolog ke dalam pembahasan seputar kalâm Ilahi. Sebagian
teolog seperti aliran Asy'ariyah menganggap bahwa kalâm Ilahi termasuk
sifat dzatiyah. Sementara sekte Mu'tazilah menganggapnya sebagai sifat
fi'liyah. Di antara persoalan-persoalan yang menyebabkan terjadinya
pertikaian sengit antara kedua sekte atau mazhab tersebut ialah: apakah
Al-Qur'an itu –sebagai kalâm Tuhan– termasuk makhluk ataukah tidak?
Bahkan bisa jadi sebagian mereka mengkafirkan sebagian lainnya hanya
karena perbedaan pandangan dalam masalah ini.
Dengan
memperhatikan pengertian sifat dzatiyah dan sifat fi'liyah yang telah
kami jelaskan pada pembahasan yang lalu, tampak jelas bahwa kalam Ilahi
termasuk sifat fi'liyah. Karena pahaman dan konsep kalam tersebut tidak
dapat ditangkap oleh akal, kecuali dengan mengandaikan dan menggambarkan
adanya audiens (mukhâtab) yang berusaha menangkap maksud ucapan
mutakalim (pembicara) dengan cara mendengar suara atau melihat tulisan
atau terbetik suatu pemahaman di dalam benaknya, ataupun dengan
cara-cara lainnya.
Pada hakikatnya, pahaman dan konsep
mutakalim itu dapat diperoleh dan dicerap melalui adanya hubungan antara
Tuhan Pencipta yang hendak menyingkap suatu hakikat kepada selain-Nya
dan adanya audiens yang hendak menangkap hakikat tersebut. Berbeda
halnya apabila yang dimaksudkan dengan takallum itu adalah makna lain
seperti qudrat (kuasa) untuk bicara atau tahu isi pembicaraan.
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka sifat kalâm akan kembali dan
berakhir kepada sifat dzatiyah. Sebagaimana hal yang serupa bagi
sebagian sifat-sifat fi'liyah lainnya telah dijelaskan pada kajian lalu.
Adapun Al-Qur'an, ataupun kitab-kitab suci lainnya yang
tersusun dari kalimat-kalimat atau kata-kata atau pemahaman-pemahaman
yang tersirat di benak ataupun berupa hakikat nurani nonmateri, maka
tidaklah diragukan lagi bahwa semua itu termasuk makhluk dan dicipta.
Kecuali jika dikatakan bahwa ilmu dzati Tuhan Pencipta itu adalah
hakikat Al-Qur'an. Maka berdasarkan pandangan dan asumsi seperti ini,
sifat kalâm itu kembali dan berujung kepada sifat ilmu dzatiyah. Tetapi,
takwil dan penafsiran atas kalam Ilahi dan Al-Qur'an semacam ini,
sangat jauh dari pemahaman umum, dan hal ini harus dihindari. Sebenarnya
untuk memahami bahwa kitab-kitab suci yang ada di hadapan kita itu
termasuk bagian dari makhluk Tuhan, sebagaimana kitab-kitab dan
buku-buku lainnya -dari sisi kemakhlukannya- tidak serumit apa yang
dibayangkan. Pasti semua orang berakal memahami bahwa segala susunan
kata-kata dan kalimat ataupun pahaman-pahaman yang tersirat di benak,
itu semua merupakan makhluk dan dicipta. Inilah penafsiran dan pemahaman
yang mudah dan bersifat umum.
Benar
Satu sifat lagi dari sifat-sifat Tuhan Pencipta yang perlu dibahas dan
dijelaskan di sini adalah sifat ash-Shidq (benar, jujur). Benar dan
jujur ini biasanya digunakan untuk mensifati perkataan dan ucapan
(kalâm). Tuhan Pencipta menuangkan kalâm dan perkataan-Nya itu dalam
berbagai bentuk. Dan apabila kalâm-Nya itu dituangkan atau disampaikan
dalam bentuk perintah, larangan dan insyâ' (preskriptif), maka ia
dinilai sebagai suatu penetapan dan penentuan terhadap berbagai hukum
dan tugas praktis atas segenap hamba-Nya. Dan kalam Tuhan yang
dituangkan dalam bentuk-bentuk yang seperti itu tidak bisa disifati
dengan benar dan dusta. Dengan kata lain bahwa sifat benar dan dusta itu
tidak bisa diterapkan kepada kalam dan perkataan yang dituangkan dan
disampaikan dalam bentuk insyâ'. Karena memang bentuk-bentuk itu tidak
bisa disifati dengan benar dan dusta. Namun, apabila kalâm Tuhan itu
disampaikan dalam bentuk ikhbâr atau informasi tentang berbagai hakikat,
peristiwa masa lalu atau pun kejadian-kejadian yang akan datang, maka
ia (kalâm Tuhan) bisa disifati dengan sifat benar (ash-Shidq). Sifat ini
merupakan landasan bagi rumusan argumen lainnya, yaitu dalil wahyu
(naqli dan ta'abudi) untuk menetapkan dan membuktikan masalah-masalah
partikular (far'iyah) dalam memandang penciptaan alam semesta, dan
bahkan digunakan pula untuk membuktikan berbagai masalah akidah dalam
pandangan dunia Ilahi.
Salah satu dalil rasional yang dapat
diterapkan untuk menetapkan dan membuktikan adanya sifat tersebut
(ash-Shidq) pada kalâm Tuhan ialah bahwa kalâm Tuhan itu merupakan
bagian dari rububiyah dan pengaturan-Nya atas alam semesta dan segala
isinya termasuk seluruh manusia. Tentu saja kalâm Tuhan tersebut
berlandaskan pada ilmu dan hikmah-Nya. Mustahil Tuhan Pencipta Yang
Mahakuasa mengatur alam jagad raya dan seisinya ini (yang merupakan
bagian dari kalâm-Nya) tanpa ilmu dan hikmah-Nya. Hal itu sebagaimana
dapat dipahami dari kajian-kajian yang telah lalu. Di samping itu, kalam
Tuhan itu memiliki tujuan penting, yaitu untuk memberikan hidayah dan
petunjuk kepada segenap makhluk-Nya, dan memenuhi sarana untuk
menyampaikan berbagai pengetahuan yang benar kepada audiens (mukhatab).
Jika diasumsikan bahwa kalam Tuhan itu tidak sesuai dengan kenyataan
objektif, maka Tuhan sebagai penyampai tidak dapat lagi dipercaya.
Karena hal itu dapat menggugurkan dan membatalkan tujuan dari kalâm-Nya
itu sendiri. Dan hal yang demikian ini bertentangan dengan Hikmah
Ilahiyah. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa kalâm Tuhan itu
bersifat benar dan jujur (ash-Shidq).
Telaah Teologis atas Sifat-sifat Tuhan
[Mukaddimah]
Hingga saat ini kita telah menganalisa dua pembahasan dalam masalah
pengenalan Tuhan, pembahasan pertama adalah tentang prinsip keberadaan
Tuhan, pengenalan terhadap-Nya secara fitrah dan akal, juga mengenai
metode pengenalan Tuhan yang paling mendasar. Pada pembahasan kedua kita
telah pula membicarakan masalah tauhid sebagai inti pengenalan Tuhan
dalam Islam. Pada pembahasan ketiga ini kita akan menganalisa
masalah-masalah yang berkaitan dengan sifat-sifat Tuhan.
Pada pembahasan-pembahasan terdahulu, kami telah menyinggung bahwa
manusia memiliki dua bentuk pengenalan terhadap Tuhan, yaitu:
1. Pengenalan hudhuri yang bersumber langsung dari pertalian
sebab-akibat antara Wajib al-Wujud (Tuhan) dan mumkin al-wujud (makhluk)
dan keniscayaan kebergantungan wujud manusia kepada Tuhan.
2.
Pengenalan hushuli yang terwujud lewat akal-pikiran dan
pemahaman-pemahaman teoritis manusia. Sebagaimana yang telah kami
katakan bahwa pengenalan semacam ini tidak berhubungan dengan pengenalan
hakikat dzat Tuhan, melainkan pengenalan yang hanya berkaitan dengan
sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan Tuhan. Oleh karena itu, pengenalan
hushuli kita kepada Tuhan yang murni dihasilkan dari pemahaman-pemahaman
akal-pikiran hanya berkaitan dengan sifat dan perbuatan Tuhan. Dari
sini kita bisa memberikan penekanan yang lebih pada pembahasan
sifat-sifat Tuhan dan perannya dalam pengenalan Tuhan, karena dengan
semakin dalam dan luas pengenalan kita atas sifat-sifat Tuhan maka akan
mencapai kesempurnaan pengenalan terhadap-Nya.
Tentunya, pada
pembahasan pembuktian wujud Tuhan kita telah mengenal sifat semacam
keniscayaan wujud (wujub al-wujud) dimana kemudian kita mengenal Tuhan
dengan sifat tersebut. Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa Tuhan
memiliki begitu banyak sifat dimana untuk mencapai pengenalan
terhadap-Nya secara sempurna mengharuskan kita untuk mengenal
sifat-sifat tersebut secara lebih luas. Oleh karena itu, dalam masalah
ini, tidak seharusnya kita mencukupkan diri dengan membatasi pengenalan
hanya pada beberapa sifat-Nya saja.
Urgensi pembahasan sifat
Tuhan adalah adanya perbedaan pemahaman dikalangan para penyembah Tuhan
dan monoteis, yang walaupun mereka menganut konsep keesaan Tuhan, tapi
di antara mereka terdapat perbedaan yang tajam sehingga seakan-akan
masing-masing mereka menyembah Tuhan yang berlainan. Sebagai misal,
seseorang yang menganggap Tuhan memiliki anggota badan yang senantiasa
hilir mudik di antara langit dan bumi, dengan seseorang yang menganggap
Tuhan suci dari sifat-sifat jasmani semacam ini, masing-masing mereka
ini memiliki dua kesimpulan yang sangat berbeda dalam mengenal Tuhannya.
Demikian juga, seseorang yang mengenal Tuhan dengan meyakini bahwa
kodrat Tuhan adalah terbatas atau menganggap-Nya tidak mengetahui
peristiwa yang bakal terjadi, akan sangat berbeda dengan seseorang yang
percaya terhadap kemutlakan ilmu dan kodrat Tuhan.
Oleh karena
itu, dengan memperhatikan adanya ikhtilaf dan perbedaan tajam dalam
masalah sifat-sifat Tuhan yang muncul di kalangan para penyembah Tuhan
ini, maka penganalisaan yang teliti dan akurat pada pembahasan ini
sangat signifikan untuk menemukan pandangan yang paling benar dan
komprehensip terhadap Tuhan.
Nama, Sifat, dan Perbuatan
Pada pembahasan yang berkaitan dengan pengenalan Tuhan, kita akan
banyak bertemu dengan tiga istilah seperti asma (nama-nama) Tuhan,
sifat-sifat Tuhan dan perbuatan-perbuatan Tuhan. Poin yang perlu
mendapatkan perhatian di sini adalah bahwa istilah-istilah ini pada
cabang-cabang keilmuan yang berbeda kadangkala muncul dengan arti yang
berbeda pula, dan tidak senantiasa memiliki satu makna yang konstan.
Karena pembahasan kita berada pada wilayah ilmu Kalam (teologi), maka
yang penting bagi kita adalah makna istilah sebagaimana yang dimaksud
oleh para teolog atau mutakallim. Dalam literatur ilmu kalam, istilah
"sifat Ilahi" lebih banyak digunakan. Istilah ini terkadang digunakan
sama dengan asma (nama-nama). Kata-kata seperti 'âlim, 'alîm", qâdir,
hayyu, dan murîd dan sebagainya, dikategorikan sebagai sifat dan asma
Ilahi. Kadangkala terdapat pula perbedaan antara sifat dan asma Tuhan
ini dimana berdasarkan hal tersebut, kata-kata semacam 'ilm, kodrat,
hayât dan sebagainya, adalah merupakan sifat-sifat Tuhan sedangkan
kata-kata seperti 'âlim, 'alîm, qâdir, hayyu dan sebagainya merupakan
asma Tuhan.
Bisa dikatakan bahwa di antara semua itu terdapat
pula istilah lain dimana maksud dari ism (nama) adalah kata yang
menunjukkan nama khusus Tuhan, sedangkan sifat adalah kata yang
menghikayatkan sifat-sifat Tuhan. Berdasarkan istilah ini, jumlah asma
Tuhan menjadi sangat sedikit dan hanya berkisar pada kata-kata semacam
Allah dalam bahasa Arab dan Khudâ dalam bahasa Persia (atau Tuhan dalam
bahasa Indonesia, red), akan tetapi sifat-sifat Tuhan sangat banyak dan
kata-kata semacam 'âlim, hayyu, murîd, qâdir, dan sebagainya, seluruhnya
termasuk dalam sifat-sifat Tuhan.
Walhasil, yang dimaksud
dengan "sifat" pada pembahasan kita kali ini adalah kata yang
dinisbahkan kepada Tuhan dan terpredikasi pada dzat Ilahi.
Keluasan Pembahasan Sifat Ilahi dalam Teologi
Pentingnya pembahasan sifat Ilahi dalam ilmu kalam menjadikannya dikaji
secara meluas dan menjadi wacana yang senantiasa hangat. Hadirnya
berbagai dimensi pembahasan yang partikular dan mendetail yang tidak
bisa dipisahkan satu sama lainnya, menjadikan pembahasan ini semakin
rumit. Di sini, kami berupaya semaksimal mungkin untuk memperkenalkan
tolok ukur dan aspek-aspek utama pembahasan sehingga bisa menyajikan
pembahasan ini secara lebih sistematis.
Pembahasan yang berkaitan dengan sifat-sifat Tuhan bisa kita analisa dalam dua tahapan global:
1. Pembahasan Sifat secara Umum
Pada tahapan ini kita akan mempelajari hukum-hukum dan masalah-masalah
sifat secara umum, tanpa memperhatikan adanya sifat-sifat khusus.
Tahapan ini biasa disebut "Keuniversalan sifat-sifat Tuhan".
2. Pembahasan Khusus terkait dengan masing-masing sifat
Setelah menyelesaikan pembahasan hukum-hukum sifat Tuhan secara umum,
pembahasan pada tahapan ini akan difokuskan pada sifat-sifat khusus
Tuhan yang utama, seperti ilmu, kodrat, hidup, dan lain-lain.
Bisa juga kedua tahapan pembahasan digolongkan dalam salah satu bagian dari setiap tahapan pembahasan di bawah ini:
a. Pembuktian kesatuan dzat dan sifat-Nya
Pada tahapan ini, pembicaraan berkisar tentang pembuktian kesatuan dzat
Tuhan dengan sifat-sifat-Nya. Bahasan ini, pada tahapan pertama (dari
dua tahapan tersebut di atas) berhubungan dengan pembuktian umum
kesatuan dzat Tuhan dengan seluruh sifat sempurna-Nya. Dan pada tahapan
kedua, menyajikan argumentasi-argumentasi atas kesatuan dzat Ilahi
dengan masing-masing sifat. Sebagai contoh, pada tahapan akhir,
disajikan argumentasi atau dalil-dalil yang menyatakan bahwa Tuhan
adalah 'âlim, qâdir, hayyu, dan lain sebagainya.
b. Penjelasan sifat Ilahi dan karakteristiknya
Pada bagian ini akan dijelaskan tentang makna dari masing-masing sifat
Ilahi dan karakteristik-karakteristiknya yang membedakannya dengan
sifat-sifat makhluk.
Di bawah ini akan kami sajikan pokok-pokok
utama pembahasan ilmu kalam tentang sifat-sifat Tuhan, dimana
pembahasan kami nantinya akan berpijak pada pokok-pokok tersebut.
Bagian paling pokok dan mendasar pembahasan dalam tahapan pertama (pembahasan umum sifat) adalah sebagai berikut:
1. Pengelompokan sifat-sifat
Pada pembahasan ini disajikan pengelompokan masyhur yang disusun oleh
para teolog dalam masalah sifat-sifat Ilahi dan juga akan didefinisikan
istilah-istilah yang berkaitan dengan masing-masing dari itu.
2. Probabilitas pengenalan sifat-sifat Ilahi
Pada bagian ini, disajikan solusi atas masalah fundamental yang terkait
dengan kemungkinan pengenalan sifat-sifat Tuhan. Demikian juga akan
diketengahkan sebagian pandangan dalam ilmu kalam atas kemungkinan dan
kemustahilan pengenalan sifat-sifat Tuhan.
3. Metodelogi pengenalan sifat-sifat
Setelah menjelaskan tentang adanya kemungkinan pengenalan sifat-sifat
akan dilanjutkan dengan menganalisa metode dan perangkat yang digunakan
dalam proses pengenalan yang berada dalam jangkauan dan kewenangan
manusia.
4. Penjelasan makna sifat-sifat Ilahi
Pada pembahasan ini dijelaskan tentang maksud dari sifat-sifat yang
sama antara Tuhan dengan makhluk-Nya yang kemudian sifat-sifat homogen
ini dinisbahkan pada Tuhan, begitu pula akan dibahas perbedaan antara
sifat Tuhan dan sifat makhluk-Nya.
5. Pembuktian Umum atas sifat-sifat sempurna Tuhan
Pembahasan ini meliputi penyajian argumentasi-argumentasi umum atas kemestian Tuhan memiliki sifat-sifat sempurna.
6. Hubungan hakiki antara dzat Tuhan dan sifat-sifat
Pada bagian ini akan dijelaskan bahwa sifat-sifat Ilahi identik dengan
dzat-Nya, dan tidak ada perbedaan antara keduanya. Pembahasan ini juga
dikaji dalam pasal Tauhid Sifat.
7. Penetapan Tuhan atas asma dan sifat-sifat-Nya sendiri
Pertanyaan mendasar dalam pembahasan ini adalah apakah dalam penyifatan
Tuhan mesti sesuai dengan asma dan sifat-sifat Tuhan yang disebutkan
dalam al-Qur'an dan riwayat, ataukah penyifatan Tuhan bisa dengan
menggunakan setiap sifat yang menunjukkan kesempurnaan.
Pada tahapan kedua yaitu pembahasan khusus tentang sifat-sifat dan juga
sebagian dari sifat-sifat utama dianalisa dalam beberapa sudut pandang
di bawah ini:
a. Penjelasan mendetail tentang makna masing-masing sifat;
b. Penyajian argumentasi khusus atas kesatuan dzat Tuhan dengan masing-masing sifat;
c. Membahas berbagai keraguan dan pertanyaan yang berkaitan dengan sebagian dari sifat-sifat Tuhan.
Pengelompokan Sifat-sifat Tuhan
Dalam pembahasan ilmu Kalam biasanya sifat-sifat Tuhan dikelompokkan
berdasarkan berbagai sudut pandang, dan setiap bentuk pembagian itu
memiliki nama-nama khusus. Pada kesempatan ini, sebelum memasuki
pembahasan selanjutnya kami akan menyiratkan pembagian sifat-sifat dan
istilah-istilah khusus yang sering digunakan:
1. Sifat tsubuti dan salbi
Salah satu pengelompokan yang sering digunakan dalam sifat Tuhan adalah
sifat tsubuti (afirmasi) dan salbi (negasi). Sifat tsubuti menjelaskan
dimensi kesempurnaan Tuhan dan menetapkan bahwa kesempurnaan itu nyata
dan hakiki pada dzat Tuhan. Pada sisi lain, sifat salbi menunjukkan pada
ketiadaan penisbahan Tuhan atas sifat-sifat yang tak sempurna dan
menafikan dzat Tuhan dari segala bentuk ketaksempurnaan, keterbatasan,
dan kekurangan. Karena ketaksempurnaan dan kekurangan merupakan salb
atau negasi kesempurnaan itu sendiri maka hakikat sifat negasi
diibaratkan sebagai negasi dari negasi kesempurnaan dan karena negasi
dari negasi akan menjadi positif, maka sifat salbi atau negasi pada
akhirnya akan berujung pada kesempurnaan dzat Tuhan. Berdasarkan hal
ini, sifat ilmu, kodrat, iradah, dan hidup merupakan sifat-sifat tsubuti
Tuhan dan sifat non-materi, tak-bergerak merupakan sebagian dari
sifat-sifat salbi atau negasi Tuhan.
Dari penjelasan tersebut,
menjadi jelas bahwa sifat negasi sama sekali tidak menunjukkan adanya
kekurangan pada dzat Tuhan, melainkan sebagaimana sifat tsubuti yang
menghikayatkan kesempurnaan dzat Tuhan. Karena pada dasarnya,
sifat-sifat negasi menetapkan ketidaklayakan sifat-sifat untuk Tuhan dan
mengandung kemestian penolakan ketaksempurnaan dan kelemahan pada dzat
Tuhan. Sebagai misal, bergeraknya suatu maujud menunjukkan
ketaksempurnaannya, karena gerak bermakna bahwa sesuatu yang bergerak
tersebut pada awalnya tidak memiliki kesempurnaan khusus dan setelah
melakukan gerakan barulah ia mencapai kesempurnaan. Jelas, bahwa makna
semacam ini tidak sesuai untuk kesempurnaan mutlak Tuhan, oleh karena
itu, gerak harus ternegasikan pada dzat Tuhan. Penolakan sifat gerak ini
yaitu penafian gerak, pada akhirnya akan berujung pada pembuktian atas
kesempurnaan Tuhan, karena penafian ketaksempurnaan sesuatu tidak lain
adalah pembuktian kesempurnaan sesuatu. Dengan demikian bisa dikatakan
bahwa sifat tak bergerak merupakan salah satu sifat negasi atau salbi
Tuhan.
Kadangkala dikatakan bahwa sifat jasmani, gerak, materi
dan semisalnya merupakan sifat negasi Tuhan, karena sifat-sifat itu
ternegasikan pada dzat Tuhan. Akan tetapi anggapan ini salah karena
sifat negasi juga disandarkan pada Tuhan sebagaimana sifat tsubuti. Oleh
karena itu, pendapat yang benar adalah bahwa ketakjasmanian,
ketakbergerakan, ketakmaterian, dan lain sebagainya merupakan
sifat-sifat negasi Tuhan. Oleh karena itu, berlawanan dengan anggapan
sebagian, maksud dari sifat negasi bukanlah bermakna bahwa sifat ini
dinegasikan dari Tuhan, melainkan maksudnya adalah bahwa sifat-sifat ini
meniscayakan penolakan ketaksempurnaan dan keterbatasan Tuhan. Memang
terdapat perbedaan yang sangat halus dari penafsiran atas sifat negasi
ini yang kurang mendapat perhatian.
Mungkin di sini akan muncul
pertanyaan, apabila maksud dari sifat negasi akhirnya berujung pada
pembuktian kesempurnaan Tuhan (misalnya Tuhan non-materi), lalu kenapa
kesempurnaan yang tertetapkan itu (kenon-materian Tuhan) tidak langsung
dikategorikan pada sifat tsubuti, bukankah dengan mengetengahkan
pengertian yang menunjukkan ketaksempurnaan kemudian dinegasikan
kembali, membuat pembahasan yang semula pendek menjadi panjang dan tema
yang semula mudah menjadi rumit?
Dalam menjawab pertanyaan ini
bisa dikatakan bahwa yang benar adalah bahwa setiap sifat negasi
senantiasa memestikan satu sifat tsubuti, akan tetapi kadangkala makna
negasi secara khusus apabila dikomparasikan dengan makna tsubuti lebih
akrab dan lebih mudah dipahami oleh pikiran masyarakat umum dan lebih
banyak digunakan dalam bahasa-bahasa umum. Sebagai contoh, non-jasmani
atau non-materi Tuhan yang meniscayakan sifat tajarrud (immateriality,
spirituality) Tuhan, dalam pikiran masyarakat umum makna non-jasmani dan
non-materi lebih mudah dipahami daripada makna tajarrud.
Poin
lain dalam penjelasan sifat negasi adalah bahwa sifat ini secara
langsung dan tegas menegasikan segala bentuk ketaksempurnaan Tuhan dan
menunjukkan perbedaan nyata antara Tuhan dan makhluk-Nya. Ketika
dikatakan bahwa Tuhan bukan jasmani atau Tuhan tidak membutuhkan ruang
dan waktu, maka hal ini menegaskan perbedaan riil antara Tuhan dan
makhluk-Nya yang jasmani dan terikat dengan tempat dan masa. Berbeda
dengan sifat tsubuti tidak tegas menunjukkan perbedaan antara Tuhan
dengan makhluk-Nya.
2. Sifat dzat dan sifat perbuatan
Dalam pengelompokan yang lain, sifat Tuhan dibagi menjadi dua kategori: sifat dzat dan sifat perbuatan.
Sifat dzat merupakan salah satu kesempurnaan Tuhan, terpancar dari dzat
Tuhan dan dipredikasikan pada dzat-Nya, sebagai contoh, salah satu dari
kesempurnaan Ilahi adalah Dia mampu melakukan setiap perbuatan yang
mungkin. Akal dengan memperhatikan kesempurnaan ini akan mendapatkan
makna "kodrat" lalu menisbahkannya kepada dzat Tuhan. Pada sisi yang
lain, sifat perbuatan diperoleh dari hubungan khusus antara dzat Tuhan
dan maujud-maujud lain. Sebagai contoh, Tuhan memiliki hubungan
kepenciptaan dengan eksistensi-eksitensi lain, dimana dengan memberikan
wujud pada eksistensi-eksistensi tersebut berarti Dia mengeluarkan
mereka dari "alam ketiadaan". Dengan memperhatikan adanya hubungan
khusus ini, kita akan menetapkan sifat mencipta pada-Nya lalu
menyebut-Nya sebagai Pencipta (Khâliq).
Dari gambaran di atas,
menjadi jelas bahwa untuk menjelaskan Tuhan dengan sifat dzat cukup
dengan memandang pada dzat Ilahi saja, dan kita tidak perlu lagi
menggambarkan sesuatu yang berada di luar dzat-Nya. Hal ini berbeda pada
sifat perbuatan, karena selain kita harus memperhatikan dzat Tuhan,
kita juga harus memperhatikan "hal-hal" yang lain yang terkait
dengan-Nya.[1] Sebagai contoh, apabila kita ingin menyifati Tuhan dengan
sifat Pencipta maka langkah pertama, kita harus memandang eksistensi
lain yang diciptakan oleh-Nya, dan kemudian dengan memandang hubungan
Tuhan dengan eksistensi tersebut, kita akan menisbahkan sifat mencipta
pada-Nya. Dengan perkataan lain, sumber perolehan sifat dzat adalah dari
dzat Tuhan itu sendiri, akan tetapi sifat perbuatan terambil dari
perbuatan Tuhan, dengan arti bahwa dengan memperhatikan perbuatan-Nya
sendiri akan tersifati dengan sifat ini.
Dengan memperhatikan
kajian di atas, sifat-sifat semacam ilmu, kodrat dan hidup merupakan
sebagian dari sifat-sifat dzat Tuhan dan sifat-sifat semacam pemberi
nikmat, rahmat, hidayah, dan lain-lain adalah termasuk sifat-sifat
perbuatan Tuhan. Tentu saja sebagaimana yang akan kami bahas pada
tema-tema selanjutnya, sebagian dari sifat-sifat (seperti ilmu atau
iradah) dari satu sisi bisa dikatakan sifat dzat dan dari dimensi lain
terkadang disebut sifat perbuatan.
3. Sifat nafsi dan tambahan
Di sini terdapat pula pengelompokan ketiga yakni sifat Tuhan dibagi
menjadi dua bagian yaitu sifat nafsi dan sifat tambahan. Sifat nafsi
merupakan sifat-sifat mandiri dan bukan merupakan tambahan dari yang
lain, akan tetapi sifat tambahan merupakan sifat yang lahir akibat
tambahan dari yang lain. Sebagai contoh, hidup merupakan sifat nafsi
akan tetapi ilmu, kodrat dan iradah merupakan sifat-sifat tambahan,
karena makna ilmu bersumber dari hubungan dengan yang lain yakni ma'lum
(obyek yang tercerap) dan makna kodrat berhubungan dengan sesuatu yang
dikuasai serta makna iradah terkait dengan sesuatu yang dikehendaki.[2]
4. Sifat dzat dan khabar.
Pengelompokan ini khusus pada Ahli Hadits. Maksud dari sifat dzat di
sini adalah sifat yang menunjukkan kesempurnaan dzat Tuhan. Pada sisi
yang lain, sifat khabar adalah sifat yang terdapat dalam teks-teks suci
agama (al-Qur'an dan hadis) yang dinisbahkan pada Tuhan. Apabila
memperhatikan makna lahiriahnya, hal ini akan meniscayakan kematerian
dan kejasmanian Tuhan serta kemiripan-Nya dengan makhluk-makhluk materi.
Sebagai contoh, dalam al-Qur'an terdapat ayat yang secara lahiriah
memperkenalkan Tuhan sebagai suatu realitas yang memiliki organ dan
anggota badan seperti muka, tangan dan mata. Berdasarkan pembagian ini,
sifat-sifat tersebut yaitu Tuhan memiliki wajah, tangan dan mata
merupakan sifat khabar, karena konsekuensi penerimaan makna lahiriah
dari sifat-sifat itu ialah penerimaan akan kematerian Tuhan.
Catatan Kaki:
[1]. Tentang apa "hal" lain tersebut, terdapat penjelasan yang beragam.
Pada salah satu penjelasan dikatakan bahwa "hal" lain tersebut
merupakan suatu maujud lain dimana antara Tuhan dengannya terdapat
interaksi khusus, misalnya sesuatu yang tercipta. Akan tetapi
berdasarkan pendapat lainnya dikatakan bahwa maksud dari "hal" lain
adalah perbuatan Tuhan itu sendiri, karena dalam pandangan yang lebih
detail dikatakan bahwa seluruh maujud merupakan perbuatan Tuhan.
[2]. Tentu saja pada bagian ini terdapat pula istilah lainnya dimana
dalam pembahasan ilmu kalam tidak sering dipergunakan. Sebagai contoh,
berdasarkan sebuah pengelompokan, sifat Tuhan terbagi menjadi sifat
hakiki, seperti hayy (hidup), 'âlim dan sifat tambahan seperti Pencipta
dan Maha berkehendak, Dan sifat hakiki ini juga terbagi dua sifat hakiki
murni, seperti hayy dan sifat hakiki tambahan seperti 'âlim dan qâdir.
Telaah Teologis atas Sifat-sifat Tuhan [1]
Kemungkinan Pengenalan Sifat-sifat Tuhan
Salah satu persoalan mendasar dalam pembahasan sifat-sifat Tuhan adalah
apakah manusia mampu mengenali sifat-sifat Tuhan ataukah sifat-sifat
Tuhan ini sebagaimana dzat-Nya mustahil diketahui dan dipahami oleh
manusia?
Dalam menjawab pertanyaan di atas, sebagian mengatakan
bahwa akal manusia tidak mampu mengenal sifat-sifat Tuhan. Menurut
mereka, hal yang mungkin dilakukan hanyalah menerima dan mempercayai
keberadaan dan kebenaran sifat-sifat Tuhan secara universal dari
al-Qur'an dan hadis tanpa harus memahami hakikat dan makna dari
sifat-sifat tersebut. Bentuk pemikiran seperti ini lazimnya disebut
ta'thil, karena meliburkan aktivitas akal dan pemahaman manusia dalam
mengenal sifat-sifat Tuhan, dan pengikut kelompok ini dinamakan
Mu'aththâlah.
Argumentasi paling penting dari aliran ini adalah
bahwa kita bisa mengambil makna-makna sifat seperti ilmu, kodrat dan
iradah dari keadaan internal diri kita sendiri atau dari karakteristik
maujud-maujud materi semacam manusia, akan tetapi kita tidak berhak
menisbahkan makna-makna ini kepada Tuhan, karena Tuhan sama sekali tidak
memiliki kemiripan dan kesamaan dengan eksistensi-eksistensi lain, Dia
adalah Wâjib al-Wujûd dan Keberadaan yang mutlak, sementara seluruh
eksistensi selain-Nya merupakan mumkin al wujûd yang memiliki
keterbatasan dan tak sempurna. Oleh karena itu, kita tidak diijinkan
untuk memperluas makna-makna sifat ini pada Tuhan, dan juga makna-makna
lain tidak berada dalam jangkauan kita dan semua makna itu hanyalah
diambil dari eksistensi-eksistensi makhluk, maka tidak ada solusi lain
kecuali menerima dan membenarkan secara mutlak makna universal
sifat-sifat Ilahi yang ada dalam al-Qur'an dan hadis.
Sebagaimana yang Anda perhatikan, aliran ini dikarenakan pensucian dan
tanzih yang berlebihan atas Tuhan, akal manusia dipandang tak mampu
sedikitpun untuk mengenal sifat-sifat Tuhan. Menurut sebagian aliran
ta'thil, hal maksimal yang bisa dilakukan oleh akal untuk menyifati
Tuhan adalah menegasikan seluruh makna dan sifat yang menunjukkan
ketidaksempurnaan dan keterbatasan dzat Tuhan. Berdasarkan hal ini,
makna dari proposisi "Tuhan Maha Mengetahui" atau "Tuhan Maha Kuasa"
tidak lain adalah bahwa Tuhan tidak bodoh dan tidak lemah. Dengan kata
lain, hakikat yang dipaparkan dalam sifat-sifat tsubuti Tuhan tak lain
adalah penegasian sebagian makna yang menunjukkan pada ketaksempurnaan
dan kelemahan Tuhan. Oleh karena itu, akal kita tidak mampu menetapkan
suatu sifat bagi Tuhan yang dengannya menggapai hakikat dan pengenalan
terhadap Tuhan. Akal kita hanya mampu menghukumi bahwa dzat Tuhan suci
dari segala kekurangan dan keterbatasan.
Perlu dikatakan bahwa
aliran ini untuk membuktikan kebenaran mazhabnya, selain mengeluarkan
argumen-argumen akal (sebagaimana yang telah kami singgung sebelumnya)
mereka juga membawakan beberapa ayat al-Qur'an sebagai alat legitimasi.
Untuk menolak pendapat mazhab ta'thil ini, kebanyakan teolog muslim
meyakini bahwa akal manusia mampu memahami makna-makna sifat tsubuti
Tuhan dan mengenal Tuhan dari sifat-sifat yang dimiliki-Nya. Tentunya
mereka juga terpecah menjadi dua kelompok, dimana kelompok pertama tidak
melihat adanya perbedaan serius antara sifat-sifat Tuhan dan
sifat-sifat makhluk-Nya dan sepakat bahwa sebagian dari sifat-sifat yang
dimiliki oleh Tuhan juga dipunyai oleh makhluk-Nya seperti manusia,
misalnya makna wahid dan tunggal dimiliki oleh keduanya dengan makna
yang setara tanpa ada perbedaan. Kelompok ini dikarenakan menyerupakan
Tuhan dengan makhluk-Nya dalam sifat-sifat, dan tidak membedakan antara
keduanya, maka bentuk pemikiran ini disebut tasybih dan terkenal dengan
nama Musyabbahah. Sebagian dari ahli tasybih bahkan berpendapat ekstrim
dan menganggap bahwa Tuhan memiliki jasmani, organ dan anggota badan.
Untuk menegaskan kebenaran konsepnya, aliran ini bersandar pada
ayat-ayat yang secara lahiriah menunjukkan bahwa Tuhan memiliki tangan,
kaki, dan mata.
Akan tetapi kelompok kedua dari aliran tasybih
sepakat bahwa seberapapun kita mampu mengenal sifat-sifat Tuhan dan
maknanya, hal ini tidak berarti bahwa sifat-sifat Tuhan adalah sama
sebagaimana yang terdapat pada eksistensi-eksistensi selain-Nya. Menurut
pandangan ini, mazhab ta'thil dan pandangan ekstrim tashbih adalah
batal, dan yang benar adalah bahwa sifat-sifat Tuhan bisa ditafsirkan
dan diinterpretasikan secara rasional tanpa harus terperosok ke dalam
penyerupaan (tasybih), dengan kata lain, berdasarkan pendapat ini,
pensucian Tuhan dari segala ketaksempurnaan dan keterbatasan makhluk
dapat dikompromikan lewat pengenalan rasional melalui sifat-sifat-Nya.
Pada dasarnya penganut maktab ta'thil bermaksud menjaga kesucian Tuhan
tapi terjebak dalam penolakan segala bentuk ilmu dan makrifat manusia,
sementara maktab tasybih yang tanpa memperhatikan perbedaan antara Tuhan
dan makhluk serta tanpa memandang karakteristik wujud Tuhan seperti
keniscayaan wujud, ketakterbatasan, tetap memandang bahwa Dia serupa
dengan makhluk. Dari sini dikatakan bahwa kedua kelompok adalah salah
dan keliru. Oleh karena itu, pendapat yang benar adalah bahwa manusia
mampu mengenal Tuhan dari sifat-sifat tsubut-Nya, meskipun manusia tidak
bisa mengenal hakikat dzat-Nya, tetapi lewat pengenalan sifat-sifat-Nya
(meskipun sangat terbatas) bisa memahami sebagian dari kekhususan dzat
Ilahi tersebut.
Kritik atas Maktab Ta'thil dan Tasybih
Sebelum melanjutkan pembahasan, ada baiknya kita sedikit menelaah
kesalahan-kesalahan yang ada pada kedua maktab ini. Sebagaimana yang
telah disinggung sebelumnya, masing-masing pengikut kedua maktab ini
menggunakan ayat-ayat al-Qur'an untuk menegaskan pendapat mereka.
Analisa terhadap ayat-ayat yang dimaksud, akan dibahas pada tema
"al-Qur'an dan penyifatan Tuhan", sedangkan di sini, akan dikaji
sepintas mengenai kelemahan mendasar penyandaran atas ayat-ayat
al-Qur'an dari kedua maktab ini.
Apabila kita mampu memaparkan
konsep tentang sifat-sifat Tuhan yang memiliki makna-makna rasional yang
sesuai dengan pemahaman umum masyarakat dan tidak bertolak belakang
dengan kesucian Tuhan, maka maktab ta'thil dengan sendirinya tertolak
dan kekeliruannya akan menjadi nyata. Dengan ungkapan yang lebih jelas
dikatakan bahwa prinsip mendasar dari pendapat ta'thil adalah karena
pada awalnya akal manusia mengambil makna-makna sifat dari
makhluk-makhluk, maka penggunaan makna-makna ini untuk dzat Tuhan
niscaya tidak sesuai dengan kesucian dan kemuliaan Tuhan serta akan
terjebak dalam penyerupaan dan pen-tasybih-an Tuhan. Oleh karena itu,
bila terdapat gagasan yang bisa menafsirkan makna sifat-sifat Tuhan yang
tidak bertentangan dengan kesucian-Nya dan tidak berujung pada
pen-tasybih-an Tuhan dengan makhluk-Nya, maka secara otomatis maktab
ta'thil tertolak. Pada pembahasan mendatang, pendapat semacam ini akan
dijabarkan. Ringkasan pendapat ini adalah pertama-tama kita "mensucikan"
segala makna sifat makhluk dari seluruh gambaran keterbatasan dan
ketaksempurnaan kemudian sifat-sifat tersebut (yang telah disucikan)
dinisbahkan pada Tuhan. Penjelasan terperinci konsep ini akan disajikan
pada tema "Penjelasan sifat-sifat Ilahi".
Selain
hal tersebut di atas, terdapat banyak argumen dan dalil yang
menggugurkan maktab ta'thil ini, di sini akan dipaparkan sebagian
darinya:
1. Al-Qur'an dari satu sisi memerintahkan manusia
berkontemplasi dan berfikir tentang ayat-ayat-Nya dan pada sisi lain
terdapat berbagai ayat al-Qur'an yang menjelaskan sifat-sifat dan
asma-asma Tuhan. Sebagai contoh, Dialah Allah yang tiada Tuhan selain
Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah yang Maha
Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia,
Raja, yang Maha Suci, yang Maha Sejahtera, yang Mengaruniakan Keamanan,
yang Maha Memelihara, yang Maha perkasa, yang Maha Kuasa, yang memiliki
segala Keagungan, Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.
Dialah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk Rupa,
yang mempunyai asmâul Husna, bertasbih kepadanya apa yang di langit dan
bumi, dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Qs. Hasyr
[59]: 22-24)
Apakah kita dapat memikirkan dan merenungkan ayat
di atas dan ayat-ayat lainnya yang serupa dengannya? Jika apa yang
dikatakan oleh pengikut ta'thil bahwa manusia tidak akan pernah memahami
seluruh makna sifat-sifat Tuhan ini, maka untuk apa diperintahkan
tadabbur dan kontemplasi atasnya? Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa
metode al-Qur'an yang senantiasa menyebut sifat-sifat Tuhan adalah tidak
sesuai dengan maktab ta'thil dan hal ini sebagai bukti kesalahannya.
2. Dalam pandangan Islam, tujuan akhir dari alam penciptaan dan agama
adalah kesempurnaan manusia dalam penghambaan pada Tuhan, ayat-ayat
seperti, "Dan tidak Aku ciptakan manusia dan jin kecuali untuk
beribadah", dan ayat, "Sesungguhnya Kami angkat Rasul pada tiap-tiap
umat untuk mengajak beribadah kepada Allah" dengan tegas mendukung hal
ini. Demikian juga, beribadah kepada suatu dzat yang tidak dikenali
sifat-sifatnya merupakan perbuatan sia-sia dan mustahil tercipta
hubungan dengannya. Sebagai contoh, bagaimana mungkin meminta
pertolongan dan perlindungan kepada Tuhan yang sama sekali tidak
dipahami sifat kodrat-Nya?
Kesimpulannya, mustahil terbentuk
penghambaan dan ibadah kepada Tuhan yang sama sekali tidak dikenali
sifat-sifat kesempurnaan-Nya, padahal tujuan akhir dari penciptaan tidak
lain adalah penghambaan manusia dan pencapaian kesempurnaannya melalui
jalan penghambaan ini.
Bagaimanapun, maktab ta'thil bukan saja
tidak rasional bahkan tidak sesuai dengan teks-teks suci agama. Dan
sebagaimana yang telah kami katakan bahwa sebenarnya pengikut maktab ini
tidak mampu memadukan antara kesucian Tuhan dengan pemahaman rasional
terhadap sifat-sifat-Nya.[1]
Kesalahan maktab tasybih lebih
jelas lagi. Karena pendapat maktab ini bertentangan dengan sifat-sifat
salbi dan negasi Tuhan. Keseluruhan argumen yang telah dibangun atas
sifat-sifat negasi Tuhan merupakan bukti akan kekeliruan maktab ini.
Kami akan memaparkan sebagian dari argumen-argumen tersebut pada
pembahasan tentang "Sifat-Sfat Negasi Tuhan".
Metode Pengenalan Sifat-sifat Tuhan
Telah kita ketahui bahwa pengenalan dan makrifat manusia terhadap
sifat-sifat dzat Tuhan hanya bersifat hushuli (lewat pendekatan
kontempalasi atas makna-makna sifat). Sekarang kita lihat metode-metode
yang akan mengantarkan manusia kepada makrifat semacam ini dan cara-cara
mengenal sifat-sifat Tuhan:
1. Metode Rasional dan Akal
Sebagaimana metode akal bermanfaat dalam pembenaran keberadaan Tuhan
dan pembuktikan proposisi "Tuhan ada", akal bisa pula membantu manusia
untuk mengenal sifat-sifat Tuhan. Dengan memanfaatkan makna-makna dan
kaidah-kaidah tertentu, akal mampu membuktikan sifat-sifat sempurna bagi
Tuhan dan menisbahkan sifat-sifat yang pantas untuk dzat-Nya.
Dalam pembahasan argumentasi pembuktian Tuhan telah dikatakan bahwa
dengan memanfaatkan sebagian argumentasi rasional kita bisa membuktikan
wujud Tuhan sebagai Wâjib al-Wujûd dan Sebab bagi segala akibat. Akan
tetapi dalil akal tidak berhenti hanya pada dimensi ini saja, melainkan
dengan melakukan kontemplasi pada sifat-sifat dasar Tuhan seperti Wâjib
al-Wujûd bisa ditemukan sifat-sifat lain yang merupakan kemestian
sifat-sifat-Nya. Sebagai contoh, ketika merenungkan Wâjib al-Wujûd
ditemukan bahwa Wâjib al-Wujûd mustahil terkomposisi dari
partikular-partikular luar, karena setiap komposisi membutuhkan
bagian-bagian, dan sifat butuh kepada yang lain adalah tidak sesuai bagi
Wâjib al-Wujûd. Dengan demikian, akal dengan menentukan sifat-sifat
dasar serta kemestiannya akan mampu membuktikan sifat-sifat lainnya bagi
Tuhan, seperti menentukan sifat negasi yakni penafian komposisi bagi
wujud Tuhan.[2] Pada pembahasan mendatang, metode ini juga digunakan
untuk menjelaskan secara mendetail sebagian sifat-sifat Tuhan,
sebagaimana digunakan dalam penegasan beberapa aspek tentang ketuhanan.
2. Merenungi Alam Semesta
Metode lain untuk mengenali sifat-sifat Tuhan adalah dengan mengkaji
karakteristik-karakteristik yang dimiliki oleh alam semesta dan
merenungi mekanismenya. Dengan perenungan ini, manusia akan memahami
sebagian dari sifat-sifat sempurna Tuhan. Sebagai contoh, dengan
melakukan kontemplasi dalam mekanisme universal alam dan sistem
keteraturan yang ada pada seluruh fenomena alam, akan memahamkan kita
tentang sifat-sifat semacam sifat "hikmah", dan "ilmu" Tuhan. Dalil
keteraturan yang diketengahkan pada pembahasan "Argumentasi Pembuktian
Tuhan" pun dari satu sisi merupakan salah satu cara untuk membuktikan
sifat hikmah Tuhan. Demikian pula, kita mampu membuktikan ketunggalan
Pencipta berdasarkan kesatuan sistem alam, dan contoh-contoh lain bisa
dilakukan dengan cara seperti di atas.
Bisa dikatakan bahwa
metode ini akan membuahkan hasil bila menggunakan kaidah-kaidah akal,
metode ini mustahil dipisahkan dari akal. Perbedaan mendasar metode ini
terletak bahwa pada proposisi pertama keseluruhan premisnya murni
berasal dari akal, sedangkan pada proposisi kedua sebagian premisnya
diambil dari penyaksian alam semesta. Dengan ungkapan lain, dikatakan
bahwa penamaan akal dalam metode proposisi pertama bukan bermakna bahwa
pada proposisi kedua sama sekali tak membutuhkan prinsip-prinsip dan
kaidah-kaidah akal, tapi maksudnya adalah berlawanan dengan proposisi
pertama, dalam proposisi kedua ini sebagian premisnya dibentuk dari
hal-hal non-akal dan bersifat empiris.
Proposisi kedua selain digunakan secara meluas dalam al-Qur'an dan hadis, juga ditekankan oleh para teolog muslim.
3. Merujuk Al-Qur'an dan Hadis Otentik
Pembahasan sifat Tuhan dengan metode ini merupakan cara ilmu kalam
dimana selain menggunakan metode rasional juga menyandarkan pada
teks-teks suci agama (metode nakli). Setelah penerimaan wujud Tuhan,
pembuktian risalah dan kenabian, penunjukan Nabi dan rasul oleh Tuhan,
dan penetapan sebagian sifat-sifat Tuhan oleh al-Qur'an, maka
sifat-sifat Tuhan bisa dikenali dengan merujuk pada teks dan wahyu.
Sebagaimana yang telah kami ketengahkan bahwa al-Qur'an dan hadis Nabi
dan Ahlulbaitnya telah menampakkan begitu banyak hakikat dan makrifat
dalam masalah pengenalan Tuhan kepada manusia, sebuah pengenalan dimana
akal manusia secara mandiri tidak mampu mengenalinya atau mampu tetapi
dengan berbagai kesulitan. Teks-teks Islam dalam pengenalan dan makrifat
sifat dan perbuatan Tuhan selama sekian abad sebagai sumber ilham bagi
para filosof dan teolog muslim dan hingga kini masih begitu banyak
hal-hal lebih mendalam yang belum dipahami oleh akal manusia.
4. Penyingkapan dan Mukasyafah batin
Metode lain yang bisa digunakan oleh manusia untuk mengenal sifat-sifat
Tuhan adalah metode penyakisan kalbu dan mukasyafah batin. Hanya
manusia yang telah sampai pada kesempurnaan ruh dan maknawi yang mampu
menyaksikan dengan mata hati keindahan dan jamaliyah Tuhan dalam
manifestasi sifat-sifat sempurna-Nya.
Tentu saja metode ini
bila dibandingkan dengan tiga metode sebelumnya memiliki perbedaan jika
dilihat dari aspek keluasannya. Karena penyaksian batin dan kalbu atas
sifat dan asma Tuhan sangat bergantung pada kesempurnaan spiritual
dimana tidak dicapai kecuali oleh mereka yang berada di bawah naungan
ketakwaan dan keimanan. Metode terakhir ini hanya berlaku pada
manusia-manusia tertentu dan masyarakat umum tidak memiliki kemampuan
semcam ini, akan tetapi metode-metode sebelumnya bersifat umum dan
menggunakan metode-metode tersebut lebih mudah karena tidak memerlukan
mukadimah yang rumit.
Tuhan Memiliki Seluruh Sifat-sifat Sempurna
Pada pembahasan terdahulu telah dikatakan, sebelum membuktikan dan
menjelaskan sifat-sifat Tuhan secara terperinci, secara umum bisa
dihukumi bahwa Tuhan memiliki seluruh sifat-sifat sempurna. Dengan kata
lain, dengan menggunakan sifat-sifat dasar Tuhan seperti Wâjib al-Wujûd
dan Sebab Pertama, akal bisa membuktikan bahwa setiap sifat yang
menunjukkan kesempurnaan Tuhan niscaya dimiliki-Nya secara tak terbatas.
Di bawah ini akan kami paparkan dua argumentasi akal yang bersandar
pada kaidah-kaidah filsafat, antara lain:
Argumentasi Pertama
Argumentasi pertama ini bisa diutarakan dalam bentuk sebagai berikut:
1. Sifat-sifat seperti hidup, ilmu, kodrat, dan iradah merupakan
sebagian dari sifat-sifat sempurna, karena akal secara tegas menghukumi
bahwa ilmu (misalnya) apabila dikomparasikan dengan tak berilmu (jahil)
merupakan suatu hal yang sempurna.
2. Eksistensi qua eksistensi
bisa memiliki sifat-sifat semacam itu. Dengan kata lain, bahwa
kemaujudan tidak bertentangan dengan sifat-sifat tersebut dan apabila
sebagian maujud tidak memiliki sifat semacam ini, bukan karena
disebabkan oleh kemaujudan itu sendiri, tapi karena sifat itu sendiri
merupakan hal tambahan yang melekat pada eksistensinya, misalnya
kematerian merupakan sifat tambahan (sifat non-hakiki) pada suatu wujud.
Walhasil, penyifatan sebagian eksistensi dengan sifat-sifat sempurna
menunjukkan bahwa penyifatan ini merupakan hal yang mungkin.
3.
Tuhan merupakan wujud murni yang tidak memiliki kuiditas dan
keterbatasan wujud. Oleh karena itu, dari sisi wujud qua wujud dan hal
yang bersifat tambahan atas wujud, penyifatan Tuhan dengan sifat-sifat
sempurna adalah bersifat mungkin.[3]
4. Berdasarkan sebuah
kaidah filsafat, setiap sifat yang mungkin secara umum untuk Tuhan
niscaya terwujud bagi-Nya.[4] Walhasil, karena penyifatan Tuhan dengan
seluruh sifat sempurna adalah bersifat mungkin, maka sifat-sifat ini
niscaya tertetapkan untuk-Nya. Dengan demikian terbukti bahwa Tuhan
mesti memiliki semua sifat sempurna (sifat-sifat yang dianggap akal
sebagai bagian dari kesempurnaan eksistensial).
Sebagaimana
yang disaksikan bahwa argumentasi ini dengan bersandar pada sifat
keniscayaan wujud Tuhan (wujub al-wujud), tertetapkan secara rasional
seluruh sifat sempurna untuk Tuhan.[5]
Argumentasi kedua
Argumentasi kedua bersandar pada kaidah Sebab Pertama Tuhan dan uraian
singkat dari argumentasi ini adalah sebagaimana berikut:
1. Tuhan adalah Sebab seluruh eksistensi dan keberadaan makhluk, segala makhluk adalah akibat-Nya.
2. Berdasarkan salah satu kaidah filsafat dalam bab sebab-akibat
(kausalitas), sebab niscaya memiliki seluruh kesempurnaan yang ada pada
akibatnya, yaitu setiap tingkatan kesempurnaan yang dimiliki akibat,
secara lebih sempurna dan lebih tinggi mesti dimiliki oleh sebabnya.
3. Oleh karena itu, Tuhan sebagai Sebab Pertama dan Sebab dari segala
sebab keberadaan ('illatul 'illah), niscaya memiliki seluruh
kesempurnaan eksistensial yang dimiliki oleh akibat-akibat-Nya secara
lebih sempurna dan lebih tinggi.
4. Karena sifat-sifat
kesempurnaan seperti hidup, ilmu, dan kodrat terdapat di alam, maka
tingkatan lebih sempurna dari sifat-sifat ini mesti terdapat dalam dzat
Tuhan. Kesimpulannya, seluruh sifat-sifat Tuhan memiliki tingkatan yang
lebih sempurna.
Konklusi, dengan memperhatikan bahwa Tuhan
adalah Sebab Pertama bagi seluruh eksistensi dan Sebab dari segala
sebab-sebab, menjadi terbukti bahwa Tuhan memiliki seluruh sifat
sempurna.
Penjelasan Makna Sifat-Sifat Ilahi
Salah satu persoalan paling penting yang berkaitan dengan sifat-sifat
Ilahi adalah masalah interpretasi makna sifat-sifat tsubut Tuhan.
Pertanyaan mendasar yang ada dalam masalah ini adalah apa sebenarnya
makna yang tepat untuk kosa kata semacam "ilmu", "kuasa" dalam proposisi
"Tuhan Maha Mengetahui" dan "Tuhan Maha Kuasa"? Dengan kata lain, apa
makna detail dari ilmu Tuhan dan kodrat Tuhan? Apakah maksud dari ilmu
dan kodrat di sini sebagaimana makna yang biasa digunakan dalam
proposisi "Muhammad berilmu" atau "Ali berkuasa" ataukah memiliki makna
lain? Jawaban-jawaban pertanyaan ini cukup rumit, karena kalau kita
memilih bentuk pertama, berarti kita mengarah pada penyerupaan (tasybih)
dan meletakkan Tuhan setara dengan makhluk-Nya, sementara kedudukan-Nya
sebagai Tuhan mesti suci dari segala keserupaan dan kesamaan dengan
maujud lain. Apabila kita memilih bentuk kedua berarti kita mengambil
tanggung jawab penting untuk menjelaskan makna lain tersebut secara
rasional dan sesuai dengan prinsip-prinsip linguistik, filsafat dan
epistemologi. Dengan ungkapan lain, segala bentuk makna sifat-sifat
Tuhan yang kita utarakan, dari satu sisi harus sesuai dengan penggunaan
bahasa serta kosa kata yang menunjuk pada sifat-sifat, dan dari sisi
yang lain tak ada pertentangan dengan pemahaman umum atas sifat-sifat
itu, selain itu sesuai dengan kaidah filsafat dan teologi.
Telah kami singgung bahwa sebagian kelompok karena tidak mampu
menafsirkan sesuai dengan sifat-sifat tsubuti Tuhan tanpa harus
terjerumus pada penyerupaan dan penyetaraan antara Khalik dengan
makhluk, menganggap akal tidak mampu mengenali Tuhan dan memilih metode
ta'thil. Pertanyaannya, benarkah tidak ada metode menafsirkan dan
memahami sifat-sifat Tuhan secara rasional? Masalah ini telah lama
dibahas oleh para teolog yang kemudian memunculkan beragam pendapat. Di
sini hanya akan dijelaskan satu pendapat yang disepakati oleh mayoritas
filosof dan teolog.
Ringkasan dari pendapat ini adalah bahwa
pada langkah awal kita menemukan sifat-sifat semacam ilmu, kodrat,
hidup, dan sifat yang lain pada diri manusia atau pada eksistensi lain,
dan selain itu kita memahami bahwa sifat-sifat ini merupakan
kesempurnaan eksistensial dan sifat-sifat ini digolongkan sebagai suatu
kesempurnaan karena dikomparasikan dengan sifat-sifat lain yang
merupakan lawannya seperti bodoh, lemah, dan sebagainya. Pada keadaan
ini, kita merenungkan makna-makna dari sifat-sifat kesempurnaan yang
kita dapatkan tersebut, lalu kita mesti mengenali seluruh faktor yang
menyebabkan keterbatasannya, dan pada tahapan selanjutnya kita
memisahkan faktor-faktor tersebut dari pemaknaan sifat-sifat sempurna
itu, dengan kata lain kita melepaskan segala faktor yang menyebabkan
keterbatasannya. Di sini kita akan sampai pada suatu makna dimana pada
satu sisi menunjukkan kesempurnaan eksistensial dan dari sisi lain tidak
menghadirkan bentuk kekurangan dan keterbatasan.
Sebagai
contoh, melalui penyaksian internal dan kontemplasi atas segala sesuatu
kita akan sampai pada makna "ilmu" atau "pengetahuan".[6] Namun
pengetahuan ini diliputi oleh sekian faktor yang menyebabkannya
terbatas, ilmu ini pada satu sisi bersifat temporer dengan makna bahwa
sebelumnya tidak dicapai, dan pada sisi lain bisa menjadi hilang dan
tiada. Selain itu, untuk menggapai sebagian pengetahuan ini kita
menggunakan perangkat dan wasilah yang juga memiliki kemungkinan salah.
Faktor-faktor di atas seperti bersifat temporer, kemungkinan meniada,
membutuhkan perangkat, kemungkinan salah, dan sebagainya merupakan
hal-hal yang menyebabkan keterbatasan ilmu dan pengetahuan. Dalam
kondisi ini, sebagaimana yang telah kami singgung, pada langkah awal
kita harus melepaskan pemaknaan ilmu dan pengetahuan ini dari seluruh
faktor tersebut kemudian makna ini kita nisbahkan pada ilmu Tuhan.
Dengan demikian, rasionalisasi sifat-sifat sempurna tersebut layak untuk disandarkan kepada dzat Tuhan.
Penetapan Tuhan atas Asma dan Sifat-Sifat-Nya Sendiri
Sekelompok teolog Islam sepakat bahwa asma dan sifat-sifat Ilahi
bersifat tauqifi. Maksud dari tauqifi adalah bahwa dalam penamaan dan
penyifatan Tuhan harus menggunakan apa-apa yang telah ditetapkan oleh
Tuhan yang disebutkan dalam al-Qur'an dan hadis, dan kita sama sekali
tidak berhak menggunakan kata-kata yang lain dalam penamaan dan
penyifatan Tuhan. Pada hakikatnya, dasar kepercayaan ini adalah penamaan
dan penyifatan Ilahi mutlak mengikuti ketetapan Tuhan, dan akal tidak
mampu melakukan hal ini secara mandiri.
Pada sisi yang
berlawanan, terdapat kelompok lain sepakat bahwa asma dan sifat-sifat
Tuhan tidak mutlak ditetapkan oleh Tuhan, oleh karena itu tidak masalah
menggunakan asma dan sifat-sifat yang tidak disebutkan secara tegas
dalam al-Qur'an dan hadis, dengan syarat bahwa makna asma dan
sifat-sifat itu sedikitpun tidak menunjuk pada ketaksempurnaan dan
keterbatasan Tuhan.
Dengan memperhatikan pembahasan terdahulu -
dalam tema "Penjelasan Makna Sifat-sifat Ilahi", demikian juga dengan
memperhatikan karakteristik sifat-sifat Tuhan, diantaranya sifat-sifat
Ilahi lepas dari segala bentuk ketaksempurnaan dan keterbatasan -
menjadi jelas bahwa akal memiliki peran dalam penyifatan Tuhan dengan
segala karakteristik yang mesti dimiliki oleh sifat-sifat itu. Dengan
demikian, kita tidak memiliki satupun argumentasi akal yang menunjukkan
kemestian penetapan asma dan sifat-sifat Ilahi oleh Tuhan sendiri.
Pendukung pendapat tauqifi asma dan sifat Ilahi ini tidak menggunakan
argumentasi akal untuk membuktikan klaimnya melainkan mereka hanya
bersandar pada sebagian ayat-ayat al-Qur'an seperti, Hanya milik Allah
Asmaul Husna, Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul husna
itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam
(menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap
apa yang telah mereka kerjakan." (Qs. al-A'raf [7]: 180)
Dalam
ayat tersebut di atas dikatakan bahwa maksud dari kata "ilhâd" dalam
"yulhidûna fi asmâihi" adalah manusia menyebut Tuhan dengan nama-nama
selain dari Asmaul Husna yang terdapat pada awal ayat di atas dan karena
perbuatan ini sangat tercela maka pendapat tentang penetapan asma Ilahi
oleh Tuhan sendiri menjadi terbukti kebenarannya.[7]
Selain
itu, dalam berbagai hadis terdapat pelarangan penyifatan Tuhan dengan
sesuatu selain yang terdapat dalam al-Qur'an. Sebagai contoh, Imam
Kazhim As bersabda, "Sesungguhnya Allah Maha Tinggi dan Maha Besar untuk
dapat dicapai hakikat sifat-sifat-Nya, maka sifatilah Dia dengan sifat
yang telah Dia tentukan untuk diri-Nya sendiri dan hindarilah penyifatan
selainnya."[8]
Dengan adanya beragam riwayat semacam ini,
kebanyakan para peneliti dan teolog mengambil kesimpulan bahwa sekalipun
kita tidak sepakat dengan pendapat tauqifi sifat dan asma Tuhan ini,
minimal kita berhati-hati untuk tidak menggunakan nama-nama yang tidak
terdapat dalam al-Qur'an dan hadis.
Catatan Kaki:
[1]. Menurut pendapat sebagian cendekiawan kontemporer dikatakan bahwa
kesalahan pengikut ta'thil bersumber dari penggabungan yang keliru
antara pemahaman dan ekstensi. Perlu diketahui bahwa manusia tidak dapat
memahami ekstensi sifat-sifat Tuhan, tapi manusia bisa memahmi makna
sifat-sifat-Nya karena makna dari sifat-sifat Tuhan berada dalam
jangkauan pemahaman manusia, sementara pengikut ta'thil meyetarakan
antara hukum ekstensi dengan hukum makna. Rujuk: Ma'ârif al-Qur'ân, Taqi
Misbah Yazdi, jilid 1-3, hal. 90-92.
[2]. Khawajah Nasiruddin
Thusi dalam kitab Tajrid al-I'tiqad, menggunakan metode ini untuk
membuktikan sebagian dari sifat-sifat afirmasi dan negasi Tuhan. Rujuk:
Kashf al-Murad, hal. 314-326.
[3]. Harus diperhatikan bahwa
maksud dari "kemungkinan" di sini adalah kemungkinan umum bukan
kemungkinan khusus, dan sebagaimana dalam pembahasan logika dan
filsafat, kemungkinan umum adalah sesuai dengan keniscayaan wujud. Jadi
kemungkinan umum sifat-sifat ini untuk Tuhan tidak berlawanan dengan
keniscayaan wujud-Nya.
[4]. Berdasarkan sebuah kaidah filsafat,
"Segala sesuatu yang mungkin secara umum tertetapkan bagi Tuhan,
niscaya akan tertetapkan bagi-Nya".
[5]. Untuk mendapatkan penjabaran sempurna dari argumentasi ini, rujuk: Lahiji, Sarmâye-e Iman, hal. 49 dan 50.
[6]. Pada pembahasan Ilmu Tuhan kita akan membahas bahwa menurut
pendapat para filosof, hakikat pengetahuan tidak lain adalah kehadiran
ma'lum (obyek ilmu) pada diri subyek 'alim .
[7]. Allamah Thaba-thabai menentang kesimpulan semacam ini, rujuk: al-Mizân, jilid 8, hal. 375.
[8]. Syeikh Kulainy ra, al-Kafi, jilid 1, hal, 102. Syeikh Kulainy
dalam tema berjudul "An-Nahi 'an as-Shifah" menyajikan beragam hadits
khusus dalam tema ini .
Telaah Teologis atas Sifat-sifat Tuhan [2]
Al-Qur'an dan Penyifatan Tuhan
Sebagaimana yang telah kami katakan, mustahil bagi manusia untuk
mengenal hakikat dzat Tuhan dan pengenalan atas-Nya hanya bersifat
universal lewat makrifat asma dan sifat-sifat-Nya. Atas dasar ini, salah
satu tujuan utama al-Qur'an yang dalam berbagai ayatnya berbincang
tentang sifat-sifat Tuhan adalah melakukan re-konstruksi, memperdalam,
dan memperluas pengenalan manusia terhadap Tuhan. Ratusan ayat al-Qur'an
kadangkala secara langsung membahas tentang sifat-sifat Tuhan dan
menyebutkan tentang asma Tuhan. Dari sebagian ayat bisa pula ditemukan
adanya prinsip-prinsip universal dalam penyifatan Tuhan.
Meskipun demikian, perlu diingat bahwa mengenali Tuhan melalui
sifat-sifat-Nya merupakan cara yang sangat rumit karena membutuhkan
ketelitian dan kecermatan yang tinggi, karena sedikit saja kita salah
menganalisanya bisa jadi akan mengarahkan kita kepada pen-tasybih-an dan
penyerupaan yang membuat kita kehilangan sebagian dari makrifat
al-Qur'an. Salah satu hal yang mendasar untuk dilakukan adalah berpegang
pada ayat-ayat yang muhkam dan jelas tentang sifat-sifat Ilahi untuk
menafsirkan ayat-ayat yang mutasyabihah dan tidak jelas (seperti
ayat-ayat yang secara lahiriah menyifati Tuhan dengan sifat-sifat
makhluk-Nya).
Di sini kita akan melakukan pengamatan sepintas
terhadap perspektif al-Qur'an dalam penyifatan Tuhan dan metode manusia
mengenali sifat-sifat-Nya, sedangkan ayat-ayat yang berhubungan dengan
sifat-sifat khusus akan kami bahas pada bab yang berkaitan dengannya.
Bukan Tasybih dan Bukan Ta'thil
Al-Qur'an pada satu sisi menegaskan bahwa pengenalan terhadap hakikat
dzat Tuhan merupakan hal yang mustahil bagi manusia, Tuhan berfirman,
"Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di
belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya."[1]
(Qs. Thaha [20]: 110)
Dari sisi lain, dalam berbagai ayat telah
dijelaskan bahwa Tuhan tidak memiliki sedikitpun kemiripan dengan
maujud lain dan tidak ada sesuatupun yang bisa digambarkan setara dengan
dzat suci-Nya. Ayat ini pada dasarnya merupakan ayat muhkam yang
menegaskan kesalahan berpikir aliran Tasybih dan segala konsep yang
memandang ada kemiripan antara Tuhan dengan makhluk-Nya. Dia berfirman,
"Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dia-lah yang Maha
mendengar dan melihat." (Qs. As-Syura [42]:11)
Pada pembahasan
Tauhid dipahami bahwa ayat-ayat tersebut berkaitan dengan tauhid dzat,
akan tetapi sepertinya ayat-ayat tersebut selain menafikan kemiripan
maujud lain dengan dzat Tuhan, juga menafikan kemiripan antara
sifat-sifat Tuhan dengan sifat-sifat selain-Nya. Sebenarnya ayat itu
menceritakan bahwa baik dari sisi dzat mutlak Tuhan maupun dari
sifat-sifat-Nya tak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya dan tidak ada
pula sesuatu yang bisa digambarkan mempunyai kemiripan dan kesamaan
dengan-Nya. Makna ayat ini bisa ditemukan pula dalam sebagian ayat
seperti pada ayat terakhir surah at-Tauhid.[2]
Ayat al-Qur'an
di atas dalam posisinya menjelaskan kesalahan maktab Tasybih, selain itu
juga menafikan segala bentuk kemiripan dan kesetaraan Tuhan dengan
eksistensi lain dalam dzat dan sifat. Pada ayat-ayat yang lain juga
mengetengahkan tentang sifat-sifat salbi Tuhan seperti penafian
kebinasaan dan keterikatan dengan ruang dan waktu dimana akan dibahas
kemudian dalam tema "sifat-sifat negasi dan salbi Tuhan".
Demikian juga, al-Qur'an meninggikan dzat Tuhan dari segala bentuk
penyerupaan dan pen-tasybih-an. Pada banyak ayat setelah menukilkan
pemikiran-pemikiran keliru dari para musyrikin tentang Tuhan, al-Qur'an
menegaskan poin bahwa penyifatan mereka atas Tuhan adalah tidak layak
untuk maqam suci ketuhanan (uluhiyat), Dia berfirman, "Dan mereka
(orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, Padahal
Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka mendusta (dengan
mengatakan): "Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan",
tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan."[3] (Qs. al- An'am: 100). "Mereka
tidak Mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah
benar-benar Maha kuat lagi Maha Perkasa."[4] (Qs. al-Hajj [22]: 84)
Ketika berhadapan dengan kelompok ayat seperti di atas, bisa jadi kita
menyangka bahwa al-Qur'an hanya memiliki makrifat Tuhan secara terbatas
dan tidak memberikan makrifat atas-Nya kepada manusia lewat penjabaran
akal serta pemahaman rasional. Akan tetapi kesimpulan seperti ini
merupakan sebuah kesimpulan yang tergesa-gesa dan tidak benar, dengan
melakukan kontemplasi terhadap ayat-ayat yang lain akan menjadi jelas
bahwa al-Qur'an selain menegaskan pensucian Tuhan secara mutlak dari
sifat-sifat makhluk, juga menekankan tentang adanya kemungkinan untuk
mengenali-Nya. Ayat-ayat yang bisa menjadi saksi paling baik untuk klaim
ini sangat banyak dimana di dalamnya menyebutkan tentang asma dan
sifat-sifat Tuhan. Dengan memperhatikan bahwa al-Qur'an mengajak manusia
untuk berfikir dan berkontemplasi tentang ayat-ayat-Nya maka tidak bisa
diterima bahwa penyebutan asma Tuhan secara berulang pada ayat-ayat
yang berlainan murni hanya sekedar sebuah bacaan tanpa memberikan
makna.[5]
Oleh karena itu, al-Qur'an dalam masalah penyifatan
Tuhan menolak mutlak metode tasybih maupun metode ta'thil lalu mengambil
jalan tengah antara keduanya, dari satu sisi metode ini meletakkan
sifat-sifat jamal dan jalal-Nya pada jangkauan pemahaman manusia, dan di
sisi lain menegaskan ketakserupaan Dia dalam dzat dan sifat dengan
makhluk serta mengingatkan bahwa sifat-sifat Tuhan jangan dipahami
sedemikian sehingga menyebabkan pen-tasybih-an dengan selain-Nya, tapi
seharusnya makna-makna dari sifat-sifat Ilahi ini dilepaskan dari warna
kemakhlukan dan keterbatasan serta diletakkan sebagaimana selayaknya
untuk dzat suci Tuhan. Tentunya jumlah ayat-ayat yang secara tegas
menafikan pandangan tasybih lebih banyak dari ayat-ayat yang menolak
pandangan ta'thil, hal ini mungkin dikarenakan para penganut teisme
lebih sering terkontaminasi dengan pandangan tasybih dibandingkan dengan
pandangan ta'thil.
Sifat-Sifat Tuhan dalam Hadis
Dengan merujuk pada literatur-literatur hadis, menjadi jelas bahwa
pembahasan sifat Tuhan dalam hadis juga mengikuti langkah al-Qur'an.
Dalam sebuah hadis dari Amirul Mukminin 'Ali As dikatakan bahwa dalam
tafsir ayat 110 surah Thaha (20), beliau bersabda, "Semua makhluk
mustahil meliputi Tuhan dengan ilmu, karena Dia meletakkan tirai di atas
mata hati, tak satupun pikiran yang mampu menjangkau dzat-Nya dan tak
ada satu hatipun yang bisa menggambarkan batasan-Nya, oleh karena itu,
jangan kalian menyifati-Nya kecuali dengan sifat-sifat yang
diperkenalkan oleh-Nya, sebagaimana Dia berfirman, "Tidak ada sesuatupun
yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan
melihat."[6]
Imam Ali As pada awal perkataannya menjelaskan
bahwa tak ada satupun makhluk yang meliputi dzat Tuhan. Secara lahiriah,
maksud dari "meletakkan tirai pada mata hati" adalah keterbatasan
pengenalan makhluk yang menyebabkan ketidakmampuannya meliputi dzat tak
terbatas Tuhan. Imam Ali As dalam kelanjutan tema ini menegaskan bahwa
dalam menyifati Tuhan kita harus mencukupkan diri dengan menggunakan
sifat-sifat yang telah Dia perkenalkan kepada kita. Tentang hal ini
terdapat beberapa riwayat, sebagai contoh kita bisa melihat dalam
"Khutbah Asybâh" dimana beliau bersabda, "Sesungguhnya berbohong lah
mereka yang meletakkan sesuatu setara bagi-Mu, mereka menyerupakan-Mu
dengan patung-patung sembahan dan memakaikan pakaian makhluk kepada-Mu
dengan khayalannya dan menganggap-Mu sebagaimana benda jasmani yang
memiliki organ dan mereka menisbahkan indera-indera makhluk kepada-Mu
sesuai dengan pikirannya"[7]
Dengan demikian, metode pensucian
al-Qur'an yang tidak tasybih dan tidak pula ta'thil telah jelas dalam
sebagian hadis itu. Mungkin salah satu dalil yang paling tegas untuk
klaim ini adalah perkataan Imam 'Ali As yang bersabda, "Akal-akal tidak
dapat menjangkau semua sifat-Nya dan tidak pula terhalang memahami
sebagian dari sifat-Nya untuk memakrifat-Nya."[8]
Selain itu,
sebuah hadis yang dinukilkan dari Rasulullah Saw dan ahluibaitnya As
dalam masalah makrifat Tuhan, dalam hadis itu dijelaskan mengenai
makrifat berharga atas sifat-sifat Tuhan dan jelas bahwa makrifat ini
bersandar pada realitas bahwa manusia pada batas tertentu mampu
mengenali Tuhan melalui pengenalan sifat-sifat-Nya.
Catatan Kaki:
[1]. Tentunya, penyimpulan ayat bersandar pada bahwa dhamir pada "bihi"
kembali kepada Tuhan, akan tetapi terdapat pula kemungkinan bahwa
dhamir di atas kembali pada perbuatan orang-orang yang bersalah.
[2]. "… Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.", (Qs. at-Tauhid [112]: 5)
[3]. Juga rujuk: surah Anbiya (21): 22, Mukminun (23): 91 dan Az-Zukhruf (43): 82.
[4]. Ayat seperti ini terdapat pula pada surah al-An'am (6): 91, Az-Zumar (39): 67.
[5]. Qs. An-Nisa: 82, Muhammad: 24, as-Shad: 29.
[6]. Al-Hawizi, Tafsir Nur ats-Tsaqalain, jilid 3, hal. 394, hadits
117. Riwayat ini melegitamasi bahwa dhamir "bihi" pada ayat "La
yuhithuna bihi 'ilman" kembali kepada Tuhan.
[7]. Nahjul Balâghah, khutbah 91.
[8] . Nahjul Balâghah, khutbah 49.
Telaah Teologis atas Sifat-sifat Tuhan [3]
Ilmu Tuhan
Salah satu sifat tsubut yang dimiliki oleh Tuhan adalah ilmu. Dalam
pandangan Islam, Tuhan mengetahui seluruh persoalan dan masalah yang
terdapat di semua alam dan realitas. Sebagaimana yang akan kami bahas
selanjutnya, ilmu selain merupakan sifat dzat Tuhan juga merupakan sifat
perbuatan-Nya. Dengan ungkapan lain, ilmu Ilahi memiliki beberapa
tingkatan dimana sebagiannya merupakan sifat dzat dan yang lain
merupakan sifat perbuatan.
Definisi Ilmu
Secara umum ilmu mempunyai makna yang sangat jelas dan gamblang, karena
setiap manusia menemukan hal ini sebagaimana keadaan-keadaan kualitas
jiwa yang lain. Masing-masing kita sering mengalami keadaan jiwa ini
dalam kehidupan dimana pada awalnya tidak mengetahui sesuatu (jahil)
lalu berubah menjadi keadaan mengetahui sesuatu yang disebut dengan
pengetahuan dan ilmu.
Tentunya jangan dilupakan bahwa ilmu
manusia dalam berbagai tingkatannya memiliki keterbatasan dan tidak
sempurna serta tidak bisa dibandingkan dengan ilmu Tuhan, karena ilmu
Tuhan sempurna dan terlepas dari seluruh hukum materi. Ilmu manusia
diperoleh melalui perangkat internal dan eksternal. Sebagai contoh,
dalam memahami hal-hal yang sensori kita memanfaatkan anggota badan
(seperti mata, telinga, dan lainnya) dan terkadang dengan bantuan
peralatan eksternal. Demikian pula bahwa seluruh ilmu manusia bersifat
temporer yaitu ilmu yang muncul setelah tidak mengetahui dan jahil,
karenanya ilmu manusia bisa tidak abadi. Selain itu, keseluruhan ilmu
kita adalah sangat terbatas dan tak sempurna, segala yang diketahui bila
dibandingkan dengan yang tidak diketahui, sangatlah sedikit.
Akan tetapi ilmu Tuhan sempurna, mutlak, tak terbatas, azali, dan abadi
yang tidak memerlukan perangkat dan perantara, dan dzat Tuhan tidak
terpengaruh oleh sesuatu dari luar diri-Nya.
Ilmu Hushuli dan Ilmu Hudhuri
Berdasarkan pembagian umum, ilmu terbagi menjadi ilmu hushuli dan ilmu
hudhuri. Obyek ilmu (ma'lum) dalam ilmu hudhuri adalah benda (sesuatu)
itu sendiri, sedangkan ma'lum dalam ilmu hushuli adalah gambaran benda
(sesuatu) dalam pikiran yang dengan gambaran ini sesuatu dipahami. Ilmu
kita terhadap dzat kita sendiri dan juga ilmu kita terhadap
keadaan-keadaan jiwa kita seperti takut, marah, senang, cinta, dan
lain-lain merupakan ilmu hudhuri, sedangkan ilmu kita terhadap sesuatu
yang sensori dan rasional berada dalam cakupan ilmu hushuli.
Dengan memperhatikan pembagian di atas, akan disajikan definisi umum
tentang ilmu hudhuri dan hushuli, yaitu hadirnya ma'lum pada 'alim
(subyek ilmu).
Keuniversalan definisi ini karena dalam ilmu
hushuli, gambaran sesuatu (ma'lum) dalam pikiran hadir pada 'alim,
sedangkan dalam ilmu hudhuri sesuatu itu sendiri (ma'lum) - dalam semua
keadaan - hadir pada 'alim, dan berdasarkan kehadiran ma'lum ini, 'alim
memiliki ilmu atas ma'lum.
Apabila definisi di atas lepas dari
kaidah-kaidah yang berkaitan dengan ilmu makhluk dan tidak terwarnai
dengan ketaksempurnaan dan keterbatasan, maka bisa digunakan dihubungkan
dengan ilmu Ilahi. Oleh karena itu, ketika pembicaraan berkisar pada
ilmu Tuhan akan bermakna bahwa seluruh realitas eksistensi hadir pada
Tuhan dan kehadiran ini merupakan tolok ukur ilmu Tuhan atas dzat-Nya
sendiri dan terhadap seluruh maujud.
Tentunya menurut sebagian
filosof dan teolog Islam bahwa ilmu Tuhan terbatas pada ilmu hudhuri.
Dasar pandangan ini adalah karena ilmu hushuli diperoleh melalui
gambaran pikiran ma'lum, maka konsekuensinya adalah bahwa 'alim
merupakan tempat aksiden gambaran-gambaran pikiran ma'lum dan pada
akhirnya 'alim akan terefek olehnya, sementara dzat Tuhan suci atas
hal-hal seperti ini.
Tingkatan Ilmu Tuhan
Setelah jelas tentang makna ilmu Tuhan, di bawah ini akan disebutkan
pembagian dan tingkatan ilmu Ilahi ini.[1] Ilmu Ilahi pada tahapan
pertama terbagi dua bagian yaitu ilmu terhadap dzat dan ilmu terhadap
selain dzat. Maksud dari ilmu terhadat dzat adalah ilmu Tuhan terhadap
dzat-Nya sendiri dan maksud dari ilmu terhadap selain dzat adalah ilmu
Tuhan terhadap seluruh makhluk. Karena seluruh realitas eksistensi
merupakan makhluk Tuhan dan Dia-lah yang menciptakannya, maka bagian
kedua ini terbagi menjadi dua bagian yaitu ilmu Tuhan terhadap seluruh
makhluk pra penciptaan dan ilmu terhadap semua makhluk pasca penciptaan.
Dengan demikian pembagian di atas bisa disimpulkan bahwa ilmu Tuhan memiliki tiga tingkatan:
1.Ilmu atas dzat-Nya sendiri;
2.Ilmu atas makhluk pra penciptaan;
3.Ilmu atas makhluk pasca penciptaan.
Di bawah ini akan dikaji dan dibahas tiap-tiap bagian tersebut secara terpisah.
Ilmu Tuhan atas Dzat-Nya Sendiri
Berdasarkan definisi tentang ilmu, maksud dari ilmu Tuhan terhadap
dzat-Nya sendiri adalah bahwa dzat Ilahi hadir pada diri-Nya sendiri dan
kehadiran ini merupakan tolok ukur pengetahuan Tuhan akan dzat-Nya
sendiri.[2] Sebelum membuktikan tahapan ini dari tahapan-tahapan ilmu
Ilahi lainnya, penting diingatkan bahwa hakikat ilmu Tuhan terhadap
dzat-Nya sendiri merupakan sesuatu yang mustahil diketahui (sebagaimana
terhadap sebagian sifat-sifat Ilahi). Pengenalan ilmu ini hanya lewat
pemahaman hushuli yang bersifat universal.
Argumentasi Ilmu Tuhan atas Dzat-Nya Sendiri
Selain argumentasi umum tentang keberadaan sifat-sifat sempurna pada
Tuhan, terdapat pula argumentasi khusus atas klaim yang mengatakan bahwa
Tuhan memiliki pengetahuan dzat-Nya sendiri. Di bawah ini akan
disebutkan satu argumen tentangnya yang bersandar pada kaidah-kaidah
filsafat. Argumentasi ini terbentuk dari dua premis:
a. Setiap
maujud non-materi (mujarrad) hadir pada dirinya sendiri, oleh karena itu
dia memiliki ilmu terhadap dzatnya sendiri. Premis ini telah terbukti
dalam filsafat. Berdasarkan prinsip ini, maujud-maujud materi karena
memiliki bagian-bagian dan dimensi-dimensi serta senantiasa dalam
perubahan maka tidak memiliki kehadiran, dan karena itulah dia tidak
mampu hadir bahkan untuk dirinya sendiri. Walhasil, benda-benda materi
adalah tidak mengetahui dzatnya sendiri. Akan tetapi maujud non-materi,
karena bersifat basith[3] dan tajarrud[4] maka menyebabkan mereka mampu
hadir bagi dirinya sendiri dan bahkan untuk maujud-maujud non-materi
lainnya. Dan karena tolok ukur ilmu adalah kehadiran maka setiap maujud
non-materi memiliki ilmu atas dzatnya sendiri.
b. Premis kedua,
Tuhan adalah maujud non-materi dan suci dari seluruh hukum materi.
Premis ini telah terbukti dalam pembahasan sifat negasi Tuhan bahwa
Tuhan bukan wujud jasmani dan non-materi. Berdasarkan dua premis
tersebut disimpulkan bahwa, karena Dia merupakan wujud non-materi, dan
setiap wujud non-materi mengetahui dzatnya sendiri maka terbukti bahwa
Tuhan mengetahui dzat-Nya sendiri.
Ilmu Tuhan atas Semua Makhluk Pra Penciptaan
Setelah membahas ilmu Tuhan terhadap dzat-Nya sendiri, sekarang akan
dianalisa ilmu Tuhan terhadap semua makhluk pra penciptaan. Berkaitan
dengan ini, muncul pertanyaan ditujukan kepada para filosof dan teolog,
yaitu apakah ilmu ini merupakan bagian dari ilmu Tuhan dan apakah ilmu
Ilahi ini bersifat universal (ijmali) ataukah bersifat partikular
(tafshili)?
Maksud dari ilmu ijmali dalam pembahasan ini adalah
bahwa Tuhan sebelum menciptakan semua makhluk, Dia tidak memiliki ilmu
tentang satu persatu dari mereka secara terpisah, melainkan ilmu-Nya
merupakan ilmu tunggal dan basith yang bisa menjadi ilmu tafshili. Untuk
memahami lebih baik tentang ilmu ijmali, kita memisalkan ilmu seorang
ahli matematika. Ilmu seorang ahli matematika terhadap semua aturan
matematika bersifat ijmali, dan pada saat yang sama dia memiliki ilmu
untuk menyelesaikan seluruh persoalan matematika, akan tetapi hingga dia
belum menyelesaikan semua persoalan matematika, ilmunya tergolong ilmu
ijmali. Akan tetapi kepartikularan ilmu Tuhan terhadap semua maujud pra
penciptaan mempunyai makna bahwa Tuhan sebelum menciptakan maujud-maujud
tersebut memiliki ilmu terhadap satu persatu dari mereka secara
terpisah dan mandiri.
Bagaimanapun juga, karena jawaban
pertanyaan di atas memerlukan pendahuluan dan pembahasan yang kompleks
dan mendalam, supaya tidak keluar dari lingkup bahasan saat ini maka
sementara ini tidak dibahas. Di bawah ini akan diketengahkan dua
argumentasi atas keberadaan ilmu ini pada Tuhan.
Argumentasi pertama
Argumen ini bersandar pada salah satu kaidah filsafat yang mengatakan
bahwa ilmu terhadap sebab sempurna bagi sesuatu (misalnya A)
meniscayakan ilmu terhadap A sebagai akibat-nya.[5] Ilmu terhadap sebab
mengharuskan ilmu atas akibat. Oleh karena itu, apabila sebab sempurna
menjadi diketahui, maka akibat-akibat dari sebab itu niscaya akan
diketahui juga.
Premis lain dari argumentasi ini adalah bahwa
dzat Tuhan merupakan sebab sempurna dari seluruh maujud, dan premis
ketiga yang telah terbukti pada pembahasan sebelumnya adalah Tuhan
memiliki ilmu terhadap dzat-Nya sendiri.
Berdasarkan ketiga
premis di atas disimpulkan bahwa Tuhan memiliki ilmu terhadap dzat-Nya
dan dzat-Nya adalah sebab sempurna bagi seluruh eksistensi, dan ilmu
terhadap sebab sempurna akan meniscayakan ilmu terhadap akibat, dan
karena ilmu Tuhan terhadap dzat-Nya dan juga dzat Ilahi ini sebagai
sebab untuk semua makhluk telah ada sejak azali, maka terbukti bahwa
Tuhan telah mengetahui sejak azali dan sebelum menciptakan semua
eksistensi melalui ilmu terhadap dzat-Nya sendiri.
Argumentasi kedua
Argumentasi ini lebih bersifat teologis bukan filosofis dan lebih
menyerupai argumentasi keteraturan (burhan nazm) yang telah dibahas
dalam argumentasi-argumentasi pembuktian eksistensi Tuhan pada bab-bab
sebelumnya:[6]
Dengan mencermati alam sekitar, kita akan
menemukan bahwa elemen-elemen alam ini berjalan di atas keteraturan dan
mekanisme yang menakjubkan, semuanya bergerak menuju satu tujuan. Pada
sisi lain, karena seluruh fenomena keberadaan merupakan makhluk-makhluk
Tuhan dan sebagaimana prinsip mengatakan bahwa keberadaan makhluk
(akibat) merupakan petunjuk adanya Khâlik (Sebab), maka segala
kekhususan dan karakteristik makhluk (akibat) akan menunjukkan
karakteristik Penciptanya (Sebab).
Dengan demikian, keteraturan
dan kebertujuan alam menjadi saksi bahwa sebelum menciptakan alam,
Pencipta alam ini telah mengetahui seluruh fenomena, karakteristik,
kejadian, dan keterkaitan makhluk satu sama lain. Akal menghukumi bahwa
mustahil Sang Pencipta segala eksistensi yang memiliki keteraturan dan
tujuan menciptakan mereka tanpa didasari oleh ilmu dan pengetahuan.
Mayoritas teolog Islam menggunakan argumentasi ini untuk membuktikan
ilmu Tuhan pra penciptaan. Misalnya Syeikh Thusi dalam kitab Tajrid al
I'tiqâd mengatakan, "Kebijaksanaan, hikmah, dan keteraturan segala
eksistensi di alam ini merupakan dalil keberadaan ilmu Tuhan terhadap
segala sesuatu."
Ilmu Tuhan atas Semua Makhluk Pasca Penciptaan
Tahapan ketiga dari ilmu Tuhan adalah ilmu tafshili Tuhan terhadap
segala eksistensi setelah penciptaan. Untuk membuktikan tahapan ini
secara rasional, digunakan argumentasi di bawah ini. Premis dari
argumentasi tersebut adalah sebagai berikut:
a. Sebagaimana
telah dijelaskan dalam filsafat bahwa keberadaan akibat pasti bergantung
kepada wujud sebab, dan wujud akibat sama sekali tidak memiliki
kemandirian eksistensial.
b. Kemestian kebergantungan wujud
akibat kepada wujud sebab karena wujud akibat bersumber dari wujud
sebabnya sendiri dan hadir di sisi sebabnya, ketidakhadiran akibat di
sisi sebabnya sendiri akan berarti bahwa akibat memiliki kemandirian
dalam wujud, sementara menurut premis kedua, hal ini adalah mustahil.
Dan karena hakikat ilmu tidak lain adalah kehadiran ma'lum di sisi 'alim
itu sendiri maka setiap sebab memiliki ilmu terhadap akibatnya.
Konklusi dari premis-premis di atas adalah bahwa seluruh eksistensi dan
fenomena keberadaan merupakan ma'lum dan obyek ilmu Tuhan, karena
semuanya merupakan akibat-Nya, dan setiap akibat merupakan ma'lum bagi
sebabnya sendiri.
Ilmu Dzat dan Ilmu Perbuatan
Pada permulaan pembahasan ini telah disinggung bahwa sebagian ilmu
Tuhan merupakan sifat dzat dan sebagian lainnya merupakan sifat
perbuatan. Setelah kita membicarakan ketiga tingkatan ilmu Tuhan, akan
ditentukan mana di antara ketiga ilmu ini yang merupakan sifat dzat dan
sifat perbuatan.
Dengan mengamati tiga tingkatan ilmu Ilahi di
atas, menjadi jelas bahwa tingkatan pertama dan kedua merupakan sifat
dzat dan tingkatan ketiga merupakan sifat perbuatan.
Ilmu Tuhan tentang Hal-Hal Partikular
Salah satu persoalan menarik dalam pembahasan ilmu Tuhan adalah apakah
Tuhan memiliki ilmu atas segala realitas secara partikular (tafshili),
ataukah ilmu-Nya hanya bersifat universal (ijmali)? Dengan kata lain,
apakah benda atau sesuatu tertentu yang terdapat pada zaman dan tempat
tertentu, atau peristiwa secara partikular yang terjadi pada zaman dan
tempat tertentu bisa diketahui oleh Tuhan? Dengan memperhatikan
pembahasan sebelumnya dalam ilmu pasca penciptaan, dipastikan bahwa
Tuhan mengetahui segala sesuatu secara partikular. Akan tetapi sebagian
teolog mengingkari ilmu Tuhan terhadap hal-hal partikular, dan memandang
Tuhan hanya memiliki pengetahuan terhadap hal-hal partikular melalui
kuiditas-kuiditas universal dan kategori yang mencakup
partikular-partikular tersebut. Untuk membuktikan pendapatnya, kelompok
ini mengetengahkan argumentasi yang akan dianalisa di bawah ini:
1. Perubahan terus menerus pada hal-hal partikular
Salah satu alasan mereka menolak ilmu Tuhan terhadap hal-hal partikular
adalah bahwa partikular-partikular ini senantiasa mengalami perubahan.
Oleh karena itu, apabila Tuhan memiliki pengetahuan terhadap hal-hal
partikular, dan karena hal-hal tersebut harus senantiasa sesuai dengan
ilmu-Nya, maka dengan terjadinya perubahan pada ma'lum (hal-hal
partikular) berarti ilmu Tuhan pun mengalami perubahan, dan
konsekuensinya adalah bahwa dzat Tuhan yang menyatu dengan ilmu ini akan
pula mengalami perubahan. Bukankah dzat Tuhan suci dari segala bentuk
perubahan? Oleh karena itu, mustahil Tuhan memiliki ilmu yang berkaitan
dengan hal-hal partikular.
Secara lahiriah, dasar dari
argumentasi ini adalah apabila Tuhan memiliki ilmu terhadap hal-hal
partikular, berarti ilmu-Nya bersifat hushuli dan dihasilkan melalui
masuknya gambaran-gambaran hal-hal partikular dalam dzat-Nya.
Berdasarkan ini, perubahan ma'lum (hal-hal partikular) menyebabkan
perubahan gambaran hal-hal partikular, yang pada akhirnya menyebabkan
perubahan pada dzat Tuhan (sebagai tempat terjadinya perubahan gambaran
hal-hal partikular).
Sebagaimana yang telah dikatakan, ilmu
Tuhan merupakan sebuah ilmu hudhuri, oleh karena itu, ilmu-Nya terhadap
hal-hal partikular tak lain merupakan kehadiran dan keberadaan hal-hal
partikular-partikular tersebut di sisi-Nya. Dalam keadaan ini pun,
perubahan hal-hal partikular akan menyebabkan perubahan ilmu, tetapi
perubahan ilmu ini, sejauh berhubungan dengan perbuatan Ilahi tidak
menyebabkan terjadinya perubahan pada dzat-Nya. Pada prinsipnya, salah
satu karakteristik sifat perbuatan adalah mengalami perubahan karena
mengikuti perubahan pada makhluk-makhluk Tuhan dimana merupakan
perbuatan Tuhan itu sendiri, tapi perubahan pada sifat perbuatan tidak
menyebabkan hadirnya perubahan pada dzat Tuhan.
Walhasil,
maksud dari ilmu Tuhan terhadap hal-hal partikular tak lain adalah
kehadiran mereka di sisi Tuhan dan perubahan hal-hal partikular juga
menyentuh wilayah perbuatan dan sifat Tuhan, dan hal ini tidak
bertentangan dengan ketetapan dzat Ilahi.
2. Ilmu atas hal-hal partikular memerlukan perangkat
Argumentasi lain yang dikemukakan untuk menolak ilmu Tuhan terhadap
hal-hal partikular adalah karena perolehan ilmu ini membutuhkan alat dan
perangkat materi, sementara kedudukan Tuhan suci dari hal seperti ini.
Dalam menjawab argumentasi ini bisa dikatakan bahwa penggunaan
perangkat dan alat materi untuk menghasilkan ilmu terhadap hal-hal
partikular bukan merupakan persyaratan utama dan pokok dari ilmu ini.
Pencapaian ilmu dengan syarat semacam itu hanya berlaku bagi maujud di
alam materi, seperti manusia yang bergantung pada indera, penggunaan
anggota badan dan alat-alat materi. Tapi mengenai Tuhan sebagai realitas
metafisika dan non-materi, ilmu-Nya bersifat hudhuri yang meliputi
seluruh alam keberadaan dan tidak bergantung kepada perangkat materi.
Ilmu Tuhan dan Ikhtiar Manusia
Salah satu karakteristik ilmu Tuhan, sebagaimana sifat-sifat lain-Nya
adalah bersifat mutlak, maknanya bahwa ilmu-Nya meliputi seluruh
peristiwa, baik yang lampau, saat ini, ataupun yang akan datang.
Berdasarkan hal ini, berarti Tuhan mengetahui seluruh persoalan yang
akan terjadi pada masa mendatang dari awal hingga akhir, di antaranya
Dia mengetahui apa yang akan dilakukan oleh manusia pada masa-masa yang
akan datang. Dalam hal ini terdapat persoalan mengenai apakah ilmu Tuhan
terhadap perbuatan manusia pada masa yang akan datang tidak
bertentangan dengan ikhtiar manusia?
Kami akan membahas masalah ini secara terperinci dalam pembahasan "Kebebasan (ikhtiar) dan Keterpaksaan (jabr)".
Ilmu Tuhan dalam Al-Qur'an
Terdapat banyak ayat al-Qur'an membahas tentang ilmu Tuhan. Misalnya
menggunakan kata 'ilm, 'alima, ya'lamu, atau 'alîm, dan begitu pula
kata-kata lain seperti samî' (mendengar) dan bashîr (melihat) yang
berpuluh-puluh kali digunakan dalam al-Qur'an sebagai bagian dari
sifat-sifat Tuhan. Selain itu, pada sebagian ayat, kita bisa melihat
sifat yang lebih khusus seperti "'âlim al-ghaib", "'allâm al-ghuyub".
Untuk menganalisa seluruh ayat-ayat ini, meskipun secara umum,
membutuhkan pembahasan tersendiri karena keluasaannya. Di sinipun kami
mencukupkan diri dengan menyajikan sepintas pandangan al-Qur'an dalam
masalah ini.
Pembuktian Ilmu Tuhan
Al-Qur'an dalam membuktikan sifat ilmu, mencukupkan diri dengan
menyebutkan ayat-ayat yang merupakan penjelas seluruh sifat-sifat
sempurna Tuhan. Meskipun terdapat ayat-ayat lain dalam bentuk argumen.
Sebagai contoh, dalam surah al-Mulk Tuhan berfirman, Apakah Allah yang
menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan);
dan Dia Maha Lembut lagi Maha Mengetahui? (Qs. al-Mulk: 14)
Ayat ini muncul dalam bentuk pertanyaan negatif bagi lawan bicaranya,
apakah mungkin Tuhan sebagai Pencipta tidak memiliki ilmu dan tidak
mengetahui? Al-Qur'an menganggap hal ini sebagai persoalan yang jelas
dan gamblang, yaitu terdapatnya kemestian antara Pencipta dan ilmu atas
apa yang diciptakannya merupakan hal yang rasional. Pencipta sesuatu,
sebelum menciptakannya niscaya telah mengetahui kekhususan-kekhususan
yang dimiliki oleh ciptaannya, dan karena penciptaan Tuhan berlangsung
terus-menerus, ayat di atas juga membuktikan bahwa Tuhan memiliki ilmu
pra penciptaan dan pasca penciptaan dan menjelaskan bahwa Tuhan dalam
setiap saat mengetahui seluruh makhluk-Nya.
Kemutlakan dan Ketakterbatasan Ilmu Tuhan
Al-Qur'an di samping menyifati Tuhan dengan ilmu, juga menegaskan
ketakterbatasan ilmu-Nya. Pengetahuan mengenai kemutlakan dan
ketakterbatasan ilmu Tuhan, selain merupakan pondasi hakiki agama dalam
masalah sifat-sifat Tuhan, juga memegang peran penting dalam
menyempurnakan makrifat terhadap Tuhan, serta hal inipun memiliki efek
positif dalam pendidikan agama. Iman terhadap kemutlakan pengetahuan
Tuhan terhadap seluruh persoalan akan memberikan pengaruh yang mendalam
dalam menguatkan aspek tawakkal manusia, dan dengan percaya bahwa Tuhan
mengetahui seluruh perbuatan manusia baik yang dilakukan secara
terang-terangan ataupun tersembunyi dan bahkan niat-niat yang
tersembunyi akan berpengaruh bagi manusia untuk menghindari dosa.
Al-Qur'an menyampaikan ketakterbatasan ilmu Tuhan dengan sangat tegas: "
… dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu." (Qs. al-Baqarah [2]: 282,
at-Taghabun [64]: 11)
Pada sebagian ayat disampaikan pula
tentang pengetahuan Tuhan terhadap hal-hal khusus yang terjadi di alam
dimana seluruh ayat ini menceritakan tentang keluasan dan
ketakterbatasan ilmu Tuhan, sebagai contoh, " …Dia mengetahui apa yang
masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun
dari langit dan apa yang naik kepada-Nya, dan Dia bersama kamu di mana
saja kamu berada, dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan." (Qs.
al-Hadid [57]: 4)
Ungkapan-ungkapan yang digunakan pada awal
ayat memiliki banyak contohnya[7] yang hal ini menegaskan keluasan ilmu
Tuhan. Dan kalimat yang mengatakan, "Dia bersama kamu, dimana saja kamu
berada" menunjukkan bahwa Tuhan karena senantiasa bersama dengan manusia
menyebabkan Dia mengetahui dan melihat seluruh perbuatan mereka,
artinya bahwa apapun yang dilakukan oleh manusia hadir di hadapan-Nya.
Pengetahuan Tuhan terhadap semua perbuatan dan niat manusia diutarakan
pada ayat-ayat lain dalam beragam bentuk, di antaranya, "Katakanlah:
"Jika kamu mnyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu
melahirkannya, pasti Allah Mengetahui". Allah mengetahui apa yang ada di
langit dan apa yang ada di bumi. dan Allah Maha Kuasa atas segala
sesuatu." (Qs. Ali Imran: 29)[8]
Ilmu Gaib Tuhan
Pada sebagian ayat diketengahkan pula tentang ilmu Tuhan terhadap
hal-hal yang tidak diketahui oleh manusia, seperti pada ayat berikut
ini, "Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan
tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui
apa yang ada dalam rahim, dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui
(dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok dan tiada seorangpun
yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha
mengetahui lagi Maha Mengenal." (Qs. Luqman [31]: 34)
Dalam ayat di atas disinggung tentang beberapa hal yang tercakup dalam ilmu gaib Tuhan, antara lain:
1. Pengetahuan-Nya akan hari kiamat;
2. Pengetahuan-Nya akan turunnya hujan;
3. Ilmu-Nya terhadap janin yang berada di dalam rahim ibunya;
4. Ilmu-Nya tentang masa depan manusia dan tempat serta waktu kematiannya.
Pada sebagian riwayat, hal-hal di atas digolongkan sebagai ilmu gaib dan ilmu khusus yang dimiliki oleh Tuhan.[9]
Tentunya perlu diperhatikan bahwa makna gaib (tersembunyi) bersifat
relatif yang terkait dengan maujud-maujud yang memiliki ilmu terbatas.
Bagi Tuhan segala sesuatu itu nampak, tidak gaib, dan tidak tersembunyi,
karena ilmu-Nya yang tak terbatas. Oleh karena itu, maksud dari ilmu
Tuhan terhadap hal-hal gaib adalah pengetahuan-Nya atas hal-hal yang
tidak diketahui oleh manusia dan makhluk-makhluk lainnya.
Ilmu Tuhan dalam Hadis
Dalam riwayat Ahlubait Nabi Alaihimussalam, persoalan ilmu Tuhan
diketengahkan pula dari sudut yang beragam. Pada sebagian riwayat,
disinggung tentang ilmu dzat Tuhan dan ketakterbatasan ilmu tersebut
atas maujud-maujud. Imam Ali As bersabda, "Tuhan mengetahui sebelum
terciptanya maujud-maujud."[10]
Pada sebagian riwayat
disinggung pula tentang ilmu Tuhan pra dan pasca penciptaan makhluk.
Dalam hal ini Imam Shadiq As bersabda, "Tuhan ada sejak azali, ilmu-Nya
menyatu dengan dzat-Nya pada saat maujud (ma'lum) belum tercipta dan
sebagainya ketika Dia mewujudkan makhluk maka hadirlah ma'lum, ilmu-Nya
atas ma'lum menjadi riil."[11]
Pada banyak riwayat ditegaskan
pula mengenai keluasan dan ketakterbatasan ilmu Tuhan. Imam Ali As dalam
menjelaskan tentang keluasan ilmu Tuhan bersabda, "Suara yang berasal
dari kerak bumi maupun sahara, dosa yang dilakukan oleh manusia di
tempat tersembunyi, kedatangan dan kepergian ikan-ikan di lautan,
fenomena ombak karena badai, semuanya diketahui oleh Tuhan."[12]
Demikian juga diriwayatkan dari Imam Shadiq As menjawab perkataan
sahabatnya yang berkata, "Segala puji bagi Tuhan seukuran ilmu-Nya",
beliau bersabda, "Jangan berkata demikian, karena ilmu Tuhan tak
berbatas dan tak berhingga."[13]
Ilmu Khusus dan Ilmu Umum Tuhan
Dalam sebagian riwayat, ilmu Tuhan dibagi menjadi ilmu khusus yang
teruntuk untuk dzat-Nya dan ilmu umum yang dimiliki oleh Dia dan
sebagian makhluk-Nya (seperti para nabi, imam dan malaikat). Dalam
sebuah hadis, Imam Baqir As bersabda, "Sesungguhnya Tuhan memiliki ilmu
yang tidak diketahui oleh selain-Nya dan juga memiliki ilmu sebagaimana
yang dimiliki oleh para malaikat-Nya yang terdekat, para Nabi dan Rasul,
dan kami (para Imam-imam Ahlulbait As)."[14]
Pada berbagai
riwayat mengenai dua sifat "Mendengar" dan "Melihat" yang merupakan
cabang dari ilmu Ilahi. Tapi sebagian menolak dan menyatakan bahwa ilmu
Tuhan tidak bersumber dari pendengaran dan penglihatan yang menggunakan
perangkat dan alat bantu, mengenai hal ini Imam Ali As bersabda, "Tuhan
Maha Mendengar, tetapi tidak melalui alat pendengaran, dan Dia Maha
Melihat, akan tetapi tidak dengan mata kepala."[15]
Catatan Kaki:
[1] . Pembahasan yang diketengahkan di sini lebih banyak lewat
pendekatan filosofis. Meskipun demikian untuk mendapatkan gambaran yang
universal dari ilmu Ilahi, penting untuk menyiratkan pandangan para
filosof.
[2] . Dalam pandangan sebagian teolog, ilmu Tuhan
terhadap dzat-Nya merupakan ilmu hushuli. Rujuk: Assiwari, Irshâd
ath-Thâlibin, hal. 20.
[3] . Basith adalah sesuatu yang tidak
memiliki bagian-bagian dan dimensi-dimensi, basit merupakan lawan dari
murakkab (memiliki bagian-bagian dan dimensi-dimensi).
[4] .
Tajarrud adalah tidak berhubungan dengan materi dan hukum-hukumnya,
seperti jiwa dan akal yang bukan materi dan tidak terpengaruh oleh
hukm-hukum materi.
[5] .Rujuk: Ibrahim Dinani Ghulam Husein; Qawâid Kulli Falsafi dar Falsafe-ye Islam, jilid 3, hal. 345-351.
[6]. Perbedaan dari dua hal ini adalah konklusi argumen keteraturan
dimana pembuktian bahwa Khalik Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, akan
tetapi di sini sifat kemakhlukan alam dan kepenciptaan Tuhan berada
dalam cakupan pembuktian sifat ilmu untuk-Nya.
[7] . Termasuk
tetesan-tetesan hujan, akar-akar pepohonan, harta karun, dan barang
tambang, hewan-hewan bawah tanah, sumber air panas yang memancar dari
dalam bumi, para malaikat yang turun-naik, awan, para burung, cahaya
langit, dan ratusan hal-hal lainnya.
[8] . Rujuk pula: Qs. al-An'am (6): 3 dan At-Taubah (9): 78.
[9] . Riwayat-riwayat ini terdapat pada tafsir-tafsir riwayat, seperti
Nur ats-Tsaqalain, dan tafsir Burhân. Rujuk pula: Suyuti, ad-Darul
Mantsur fii at-Tafsir bi al-Ma'tsur, jilid 5, hal 169 dan seterusnya;
dan al-Huwaizi, Nur ats-Tsaqalain, jilid 4, hal. 218 dan seterusnya.
[10] . Nahjul Balâghah, khutbah 152.
[11] . Ushul Kâi, jilid 1, hal. 107.
[12] . Nahjul Balâghh, khutbah 197.
[13] . Syeikh Shaduq, At-Tauhid, bab kesepuluh, hadits pertama.
[14] . Ibid, bab kesepuluh, hadits ke 15. Istilah "Ilmu Khusus"
digunakan pula pada riwayat sebelumnya, yaitu hadits ke 14 dari bab yang
sama.
[15] . Nahjul Balaghah, khutbah 152.
Telaah Teologis atas Sifat-sifat Tuhan [4]
Kodrat Ilahi
Salah satu sifat esensial yang dimiliki Tuhan adalah kodrat dan
kekuasaan, dan Al-Qur'an menyebut Nya dengan sebutan Qâdir dan Qadîr.
Kodrat merupakan salah satu sifat yang bisa kita temukan dalam diri kita
sendiri pada tingkatan terbatas. Berpijak dari hal ini, maka pengertian
kodrat pada batasan tertentu telah jelas bagi kita, namun ada baiknya
untuk penjelasan lebih luas kami menyajikan pula definisi kodrat yang
nantinya akan mengantarkan kita untuk memahami definisi kodrat Ilahi.
Definisi kodrat
Para teolog Islam mengungkapkan berbagai definisi yang berbeda tentang
kodrat. Definisi umum mengatakan bahwa Qâdir adalah apabila berkehendak,
akan berbuat sesuatu dan apabila berkehendak, akan meninggalkannya.
Berdasarkan hal ini, ketika dikatakan, pelaku tertentu mempunyai kodrat
dan kemampuan untuk melakukan atau meninggalkan pekerjaan atau
aktifitas, maka hal tersebut harus sesuai dengan keinginan dan
kehendaknya. Oleh karena itu, pada seluruh persoalan, apabila pelaku
tidak berkehendak dan perbuatan muncul tidak sesuai dengan keinginan dan
kehendaknya, maka pelaku ini dalam melakukan perbuatannya dikatakan
tidak mempunyai kehendak dan kodrat. Sebagai contoh, api tidak mempunyai
kodrat untuk memunculkan panas dan membakar, karena membakar dan panas
yang dimilikinya tidak muncul dari "keinginan"nya sendiri, maka tidak
bisa dikatakan: apabila ingin ia bisa meninggalkan perbuatan membakar
itu.
Berdasarkan definisi di atas, maka bisa disimpulkan:
a. Kemampuan dan kodrat untuk melakukan aktifitas tidak selalu
mengharuskan terjadinya perbuatan, melainkan bisa jadi pelaku yang
mempunyai kemampuan untuk melakukan suatu aktifitas malah
meninggalkannya, hal ini terjadi ketika kehendak untuk melakukan
pekerjaan itu berubah menjadi kehendak untuk meninggalkannya.
b. Pelaku bisa disebut mempunyai kemampuan atau kodrat sebelum melakukan
aktifitas, hal ini berlawanan dengan pendapat sekelompok yang
mengatakan bahwa pelaku hanya akan disifati dengan sifat kodrat setelah
melakukan aktifitas[1]. Kebenaran pendapat ini bisa ditinjau dari
penjelasan definisi kodrat dan juga merujuk kepada keadaan diri sendiri,
telah jelas bahwa definisi kodrat meliputi dua proposisi bersyarat,
yakni sebelum melakukan aktifitas tetap dikatakan bahwa pelaku memiliki
kodrat. Pada sisi lain, dalam diri sendiri, kita menemukan begitu banyak
hal yang mampu dilakukan, padahal belum melangkah untuk melakukannya.
c. Kodrat senantiasa diperhadapkan pada dua persoalan kontradiksi yaitu
melakukan dan meninggalkan perbuatan, dengan kata lain, setiap
membicarakan kodrat pelaku, maksudnya adalah pelaku ini mempunyai
kemampuan melakukan dan kemampuan meninggalkan aktifitas. Sebaliknya,
sebagian teolog berpendapat bahwa penyifatan kodrat pada pelaku hanya
terjadi ketika muncul aktifitas dari pelaku itu, ini berarti bahwa
kepemilikan kodrat hanya ada ketika melakukan aktifitas.
d.
Kontradiksi antara dua pengertian kodrat dan kelemahan (al-ajiz) adalah
sebagaimana kontradiksi antara pemahaman ketiadaan kodrat dan
kepemilikan kodrat, oleh karena itu, pelaku-pelaku alami seperti api
yang kosong dari kehendak, tidak bisa disifati sebagai sesuatu yang
memiliki kodrat dan tidak pula dikatakan lemah dari kodrat.
Makna Kodrat Ilahi
Setelah kita mengetahui definisi kodrat, selanjutnya kita akan
mengamati makna kodrat Ilahi. Bisakah makna umum kodrat ini kita
nisbahkan kepada Tuhan secara langsung?
Dengan meninjau kembali
definisi tersebut, bisa dikatakan bahwa tidak menjadi masalah apabila
makna umum ini dinisbahkan kepada Tuhan secara langsung, tapi dengan
syarat bahwa kita memandangnya sebagai kemampuan yang tak terbatas. Oleh
karena itu, makna kodrat Tuhan adalah Dia melakukan aktifitas sesuai
dengan keinginan-Nya dan meninggalkannya sesuai pula dengan
kehendak-Nya.
Tentu saja harus diingat bahwa ketika kita
mengamati hakikat kodrat dalam diri kita, akan kita temukan bahwa
aktifitas yang kita lakukan atau kita tinggalkan biasanya muncul karena
mengikuti motivasi dan faktor eksternal. Dari sini jelas bahwa makna
yang demikian ini tidak akan sesuai jika kita nisbahkan kepada Tuhan,
karena konsekuensi dari hal tersebut adalah bahwa Tuhan dipengaruhi oleh
faktor-faktor dari luar diri-Nya dan ini juga berarti bahwa Dia berbuat
sesuatu karena selain-Nya, pengertian ini tidak sesuai dengan
kesempurnaan mutlak Tuhan dan keniscayaan wujud-Nya. Meskipun sebagian
teolog berkeyakinan bahwa perbuatan Tuhan muncul karena motivasi dan
unsur-unsur dari luar dzat-Nya, akan tetapi pendapat yang benar adalah
tak satupun aktifitas Tuhan dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal,
hal ini jelas berlawanan dengan makhluk-Nya yang mempunyai ikhtiar dan
kebebasan seperti manusia.
Penegasan Kodrat Ilahi
Dengan berpijak pada pengertian kodrat Ilahi di atas, kita bisa
membuktikan kekuasaan Tuhan dengan beragam argumen, namun di sini kami
hanya akan menyajikan satu argumen saja.
Berdasarkan definisi
kodrat, pernyataan tentang "Tuhan tidak mempunyai kodrat dan kemampuan"
hanya akan dikatakan benar ketika Dia berkeinginan untuk berbuat akan
tetapi tak mampu melakukan atau Dia berkeinginan untuk tidak melakukan
perbuatan akan tetapi justru terjadi aktifitas itu (tak mampu mengontrol
sehingga terjadi perbuatan). Muncul pertanyaan, apa yang menjadi
penyebab ketidakhadiran apa yang diinginkan oleh Tuhan? Untuk menjawab
pertanyaan ini, terdapat dua asumsi:
Asumsi pertama, dzat Tuhan
menjadi faktor ketidakhadiran apa yang Dia inginkan. Asumsi ini adalah
tidak rasional dan batal. Karena tidak logis jika dikatakan bahwa Tuhan
ingin melakukan aktifitas, akan tetapi Dia sendiri yang menjadi
penghalang terjadinya aktifitas itu.
Asumsi kedua, adanya
faktor eksternal selain Tuhan yang menjadi penyebab ketidakmunculan apa
yang diinginkan-Nya. Asumsi inipun adalah tidak rasional, karena
sebelumnya telah terbukti monoteisme Tuhan (Wâjibul Wujûd), dimana
seluruh eksistensi selain-Nya adalah makhluk-makhluk-Nya (mumkinul
wujûd) yang senantiasa bergantung kepada-Nya, oleh karena itu, tidak
logis bila eksistensi makhluk yang tidak memiliki kemandirian sama
sekali menjadi penghalang keinginan dan kehendak Tuhan.
Dengan
demikian, terbukti bahwa Tuhan yang Qâdir dan Maha Kuasa ketika
berkehendak tak sesuatupun yang menghalang keinginan-Nya.
Kemutlakan Kodrat Tuhan
Salah satu pembahasan yang hingga saat ini masih menjadi pembicaraan
hangat di kalangan para teolog adalah masalah yang berkaitan dengan
keluasan kodrat Ilahi. Apakah kodrat Tuhan itu tak terbatas, mutlak dan
meliputi semuanya ataukah terbatas dan sebagian berada di luar
kemampuan-Nya? Sebagian berpendapat bahwa kemampuan Tuhan tak terbatas
dan terdapat ayat-ayat Al-Qur'an yang menguatkan pendapat ini.[2]
Pendapat lain mengungkapkan tentang keterbatasan kodrat Tuhan dan
mengingkari keterkaitan kodrat-Nya dengan sebagian masalah-masalah
tertentu.
Pada prinsipnya, pendapat pertamalah yang benar.
Kodrat Ilahi adalah mutlak dan tak terbatas sebagaimana halnya
sifat-sifat dzat Tuhan yang lain. Untuk membuktikan pendapat ini secara
rasional, selain kita bisa merujuk pada argumen ketidakterbatasan dan
kemutlakan sifat-sifat Ilahi, juga bisa merujuk pada argumen pembuktian
prinsip kodrat Ilahi. Argumen-argumen ini, selain bisa membuktikan sifat
kodrat Tuhan, juga membuktikan kemutlakan kodrat-Nya, karena inti
dalil-dalil ini adalah tak "sesuatupun" yang bisa menjadi penghalang
bagi lahirnya kehendak-kehendak-Nya.
Kesimpulannya, selain
argumen tekstual agama (al-Qur'an dan al-hadis) yang akan disajikan
nantinya, kodrat mutlak Tuhan bisa pula dipahami dengan argumen
rasional. Meskipun demikian, masih ada sekelompok yang ragu dalam
kemutlakan kodrat Tuhan, mereka menyimpulkan bahwa kodrat Tuhan
terbatas. Di bawah ini akan kami sajikan secara singkat keraguan utama
mereka berkaitan dengan masalah ini.
Keraguan dalam Kemutlakan Kodrat Ilahi
Keraguan-keraguan klasik terhadap kodrat mutlak Ilahi diungkapkan dalam
pernyataan yang beragam. Di bawah ini akan kami paparkan sebagian dari
keraguan tersebut:
1. Apakah Tuhan mampu menciptakan
sekutu bagi diri-Nya sendiri? Apabila jawabannya positif, maka
konsekuensinya adalah kita memungkinkan keberadaan sekutu Tuhan, padahal
menurut ahli hikmah (filosof Ilahi), keberadaan sekutu bagi Tuhan
adalah mustahil. Dan apabila jawabannya negatif maka konsekuensinya
adalah keterbatasan kodrat Tuhan, karena "ada sesuatu" yang Tuhan tak
bisa ciptakan.
2. Apakah Tuhan mampu meletakkan dunia dengan seluruh
isinya ke dalam sebutir telur tanpa merubah keluasan dunia dan tanpa
merubah besar telur? Kalau jawaban pertanyaan ini adalah negatif, maka
berarti kodrat Tuhan terbatas dan tidak mutlak, karena ada hal-hal
berada di luar kemampuan-Nya.
3. Apakah Tuhan mampu menciptakan batu
yang Dia sendiri tidak mampu menggerakkannya? Atau, apakah Tuhan mampu
menciptakan sesuatu yang Dia sendiri tidak bisa menghancurkannya? Maka
apapun jawabannya, baik positif ataupun negatif, akan berujung pada
pembatasan kemutlakan kodrat Ilahi.
Pada dasarnya, semua
pertanyaan di atas hanya berpijak pada satu prinsip, karena itu, untuk
memberikan penjelasan dan jawaban yang memadai, terlebih dahulu akan
kami jabarkan tentang klasifikasi "kemustahilan".
Kemustahilan (mumtani') terbagi dalam tiga bagian:
a. Kemustahilan dzat (esensial), merupakan mustahil-ada secara hakiki
tanpa adanya faktor lain sebagai perantara dalam kemustahilannya.
Seperti tergabungnya atau terangkatnya dua hal yang kontradiksi dalam
satu waktu.
b. Kemustahilan mewujud, adalah mustahil-ada tapi
tidak secara esensial dan hakiki, akan tetapi perwujudannya berujung
pada kemustahilan esensial. Contoh dari kemustahilan mewujud adalah
keberadaan akibat tanpa keberadaan sebab, yang pasti menghadirkan
kontradiksi, yakni berkumpulnya dua hal yang kontradiktif[3]. Kedua
kemustahilan tersebut disebut juga dengan kemustahilan rasional
(mumtani' al-aql).
c. Kemustahilan biasa, adalah mustahil
terwujud jika dilihat dari prinsip-prinsip dan hukum-hukum alam, yakni
keberadaan dan keberwujudannya adalah tidak mustahil secara esensial dan
dzati.
Dengan memperhatikan definisi-definisi kemustahilan di
atas, jawaban mendasar dari semua keraguan di atas adalah kodrat Tuhan
tidak ada kaitannya dengan kemustahilan dzat (esensial) maupun
kemustahilan mewujud. Seluruh keraguan di atas sesungguhnya
dikategorikan ke dalam kemustahilan-kemustahilan mewujud. Sebagai
contoh, keberadaan sekutu Tuhan merupakan kemustahilan mewujud, karena
setelah dianalisa, perumpamaan keberadaan dua Tuhan (Wâjibul Wujûd) akan
memunculkan kontradiksi, dengan kata lain, dua Wâjibul Wujûd yang
dimisalkan itu, selain mereka merupakan Wâjibul Wujûd[4] juga bukan
Wâjibul Wujûd[5]. Keraguan kedua juga akan mengakibatkan terjadinya
kontradiksi, karena konsekuensi dari perumpamaan tersebut adalah bahwa
dunia ini selain dia berukuran besar, dia juga berukuran kecil (karena
bisa dimasukkan ke dalam sebutir telur). Demikian juga keraguan ketiga,
yakni pemisalan penciptaan batu yang Tuhan tidak mampu menggerakkannya
atau penciptaan makhluk yang Tuhan tidak bisa menghancurkannya, kesemua
ini akan mengarah pada kontradiksi.
Perlu diperhatikan bahwa
kemustahilan dzati atau kemustahilan mewujud sebenarnya tidak memiliki
keterkaitan dengan kodrat Tuhan, kedua kemustahilan ini tidak akan
pernah membatasi kodrat Ilahi, karena pada prinsipnya kemustahilan ini
tidak mempunyai kapabilitas untuk dicipta, dengan ungkapan para filososf
Ilahi dikatakan bahwa Tuhan sebagai Pelaku senantiasa sempurna, tetapi
"sesuatu" (yaitu kemustahilan dzat dan mewujud) sebagai penerima
perbuatan Tuhan tidak memiliki kapabilitas untuk dicipta.
Untuk
lebih jelasnya, kita bisa mengamati kejadian-kejadian yang ada di
sekitar kita (tentu saja hal ini mempunyai perbedaan mendasar dengan
subyek bahasan kita yaitu kodrat dan perbuatan Ilahi, akan tetapi untuk
mendapatkan pemisalan yang mudah, kita hanya memperhatikan sisi
keraguannya). Kami akan memisalkan tentang seorang ahli keramik yang
mampu membuat vas bunga yang indah dengan bahan dasar lumpur. Sekarang
kita akan menyediakan semangkuk air di hadapannya lalu memintanya untuk
membuat vas bunga dari air tersebut, apa yang akan terjadi? Tentu saja,
dengan kondisi seperti ini, vas bunga yang paling sederhanapun tidak
akan mampu dia buat, dari sini terlihat bahwa ketidakberhasilannya
membuat vas bunga dari air bukan karena ketidakmampuannya atau ketiadaan
pengalaman dalam keahliannya, tapi karena apa yang kita letakkan di
hadapannya yaitu air, sama sekali tidak mempunyai kapabilitas untuk
dapat diubah menjadi sebuah vas bunga.
Pada pembahasan
sebelumnya, juga dibahas tentang proposisi bahwa kekurangan serta
kelemahan terletak pada pihak penerima perbuatan dan bukan pada pelaku.
Dipandang dari perspektif ini dapat dikatakan bahwa pengertian tentang
"sesuatu" adalah tidak benar jika dinisbahkan pada kemustahilan
rasional[6], hal ini berhubungan dengan ayat Al-Qur'an seperti "innallah
'ala kulli syaiin qâdir" (Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala
sesuatu).
Oleh karena itu, konklusi jawabannya adalah bahwa
persoalan-persoalan yang disebutkan dalam keraguan-keraguan tersebut
digolongkan ke dalam "kemustahilan akal" dan keterkaitan kodrat terhadap
persoalan ini menjadi ternafikan serta ketiadaan keterkaitan antara
keduanya tidak akan menyebabkan keterbatasan kodrat Tuhan.
Tentu saja sebagaimana yang akan kami sampaikan pada pembahasan
mukjizat, kodrat Ilahi akan berkaitan dengan "kemustahilan biasa" dan
pada prinsipnya mukjizat merupakan manifestasi dari proses penciptaan
atas "persoalan-persoalan yang mustahil."
Kodrat Ilahi dan Perbuatan Tercela
Satu lagi masalah yang berkaitan dengan kodrat mutlak Ilahi adalah
apakah Tuhan mampu melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji dan
tercela? Terdapat dua pendapat dalam hal ini, berdasarkan pendapat
pertama dikatakan bahwa Tuhan tidak memiliki kodrat untuk melakukan
perbuatan semacam itu. Sementara pendapat kedua mengatakan, apabila
dilihat dari hikmah dan sifat-sifat sempurna yang dimiliki-Nya, maka
Tuhan mustahil melakukan hal-hal yang tidak terpuji, akan tetapi hal ini
bukan berarti bahwa Dia tidak mempunyai kemampuan untuk melakukannya.
Dengan mencermati subyek bahasan di atas bisa diketahui bahwa dari
kedua pendapat tersebut pendapat kedualah yang bisa diterima. Tentu saja
terdapat pula argumen untuk menegaskan pendapat pertama yang setelah
menukilkannya, kami akan mencoba menganalisanya.
Telah
dikatakan, apabila Tuhan kuasa dan mampu melakukan aktifitas-aktifitas
tak terpuji, konsekuensinya adalah Tuhan tidak memiliki ilmu (bodoh,
jahil) atau Tuhan membutuhkan (fakir), sementara telah diketahui bahwa
Tuhan Maha Mengetahui, Maha Kaya dan Maha Suci dari segala bentuk
kejahilan dan kefakiran, oleh karena itu, Tuhan mustahill melakukan
perbuatan-perbuatan tidak terpuji dan tercela.
Dalam
menjelaskan konsekuensi di atas dikatakan bahwa yang dimaksud dengan
hadirnya aktifitas-aktifitas tercela berkaitan dengan kodrat Ilahi
adalah adanya kemungkinan terwujudnya perbuatan tidak terpuji dari sisi
Tuhan. Dimisalkan bahwa aktifitas tercela lahir dari Tuhan, dalam
keadaan ini, bila Tuhan tidak mengetahui ketidakterpujian perbuatan itu
berarti Tuhan adalah jahil, dan jika Dia mengetahui ketercelaan
perbuatan itu berarti Dia melakukannya karena membutuhkan sesuatu,
karena hikmah Ilahi mengharuskan ketiadaan aktifitas tidak terpuji.
Dengan demikian, konsekuensi dari perumpamaan Tuhan mampu melakukan
aktifitas-aktifitas tidak terpuji dikarenakan oleh dua asumsi, yaitu
karena Tuhan bodoh atau karena Dia fakir, dan karena dua konsekuensi ini
adalah mustahil terwujud, maka perumpamaan dan pandangan itu pun
menjadi batal.
Dalam menjawab argumentasi di atas dapat
dikatakan bahwa dua konsekuensi tersebut (yaitu jahil atau membutuhkan)
merupakan syarat munculnya perbuatan tak terpuji dari Tuhan, dan dengan
melihat kemampuan Tuhan melakukan aktifitas tak terpuji, hal ini tidak
berarti bahwa pasti membutuhkan syarat semacam itu, karena sebagaimana
dikatakan dalam definisi kodrat bahwa kemampuan melakukan sebuah
perbuatan tidak mengharuskan munculnya aktifitas tersebut. Oleh karena
itu, meskipun Tuhan mampu melakukan aktifitas tersebut, akan tetapi
dengan dalil hikmah-Nya Dia mustahil melakukannya, dengan demikian tidak
mengharuskankan kejahilan atau kebutuhan. Dengan ungkapan lain, dengan
memandang hikmah yang dimiliki-Nya, adalah mustahil lahirnya perbuatan
tak terpuji dari Tuhan, akan tetapi kemustahilan ini tidak berarti
menafikan kodrat-Nya untuk berbuat.
Kodrat Ilahi Menurut Al-Qur'an dan Riwayat
Al-Qur'an memperkenalkan Tuhan dengan sebutan Qâdir, Qadîr, dan
Muqaddir. Ia juga mensifati-Nya dengan Yang memenuhi segala sifat kodrat
dan juga menegaskan ketakterbatasan dan keuniversalan kodrat Ilahi,
sebagaimana ungkapan yang disebut berpuluh-puluh kali dalam al Quran:
innallaha 'ala kulli syai-in qadiir (Allah Maha Kuasa atas segala
sesuatu).
Pada sebagian ayat, ditemukan ungkapan-ungkapan yang
dijadikan dalil dan argumen atas kodrat tak terbatas Tuhan. Surah
at-Thalaaq (65) ayat 12, Allah berfirman, "Allahlah yang menciptakan
tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya,
supaya kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu,
dan sesungguhnya Allah, ilmu Nya benar-benar meliputi segala sesuatu."
Sebagaimana yang kita lihat bahwa ayat ini menyiratkan bahwa ciptaan
dan mekanisme alam merupakan salah satu dari petunjuk dan dalil atas
kodrat tak terbatas Nya.
Pada ayat lain, penciptaan langit dan
bumi dan menghidupkan kembali yang telah mati menunjukkan kodrat Nya
atas kemampuan Nya. Dalam surah al-Ahqaaf (46) ayat 33, berfirman, "Dan
apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang
menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa payah karena
menciptakannya, kuasa menghidupkan orang-orang yang mati? Ya (bahkan)
sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu"
Kita
juga bisa menemukan hadis-hadis yang menunjukkan keuniversalan Kodrat
Ilahi ini dalam riwayat-riwayat Ahlulbait As. Sebagai contoh, sebuah
hadis dari Imam Sadiq As, yang mana Dia bersabda:
"Allah mengetahui segala sesuatu yang telah diciptakan-Nya dari sisi
ilmu, kodrat, kekuasaan, kepemilikan dan sebagainya, Dan segala sesuatu
dari sisi ilmu, kodrat, kekuasaan, kepemilikan dan sebagainya, adalah
sama bagi-Nya".
Jawaban Keraguan atas Kodrat Ilahi
Pada sebagian argumen-argumen yang disabdakan Imam Maksum As terdapat
pula argumen untuk menjawab keraguan-keraguan yang muncul atas kodrat
mutlak Ilahi. Dalam salah satu riwayat dikatakan: seorang laki-laki
bertanya kepada Imam Ali As, "Apakah Tuhanmu mampu memasukkan dunia ini
ke dalam sebutir telur tanpa mengecilkan dunia ini dan tak membesarkan
telurnya?"
Imam bersabda, "Sebagaimana kita ketahui bahwa Tuhan
tidak bisa disifati dengan sifat lemah dan tidak mampu, akan tetapi apa
yang kamu inginkan ini tidak bisa terwujud (tidak ada kapabilitas untuk
terwujud)."
Konklusi jawaban Imam adalah selain pertanyaan
tersebut (masuknya dunia seisinya ke dalam telur tanpa mengubah
keduanya) yang bukan saja tidak akan terselesaikan dan tidak akan
berarti bahwa Tuhan lemah dan tak mampu, bahkan apa yang ditanyakan itu
tergolong sebagai kemustahilan mewujud, oleh karena itu, bisa dikatakan
secara prinsip bahwa tak ada kapabilitas untuk terlahir dan terwujud.
Catatan Kaki:
[1] . Pendapat ini dinisbahkan kepada kelompok Asy'ariyyah, rujuklah: Arsyad at- Thalibin, hal. 95.
[2] . Sebagai contoh lihat surah al-Baqarah (2) ayat 20, 40, 105, 109, 148, 259, 242.
[3] . Karena hal ini akan berefek bahwa sebuah akibat (yang niscaya
membutuhkan sebab) sekaligus tidak membutuhkan sebab, dan hal ini
berarti berkumpulnya dua hal yang kontradiktif.
[4] . Yakni diasumsikan bahwa Dia adalah Tuhan yang hakiki.
[5] . Yakni "Dia" adalah bukan Tuhan yang hakiki, karena Tuhan yang hakiki hanya satu dan tunggal.
[6] . Dalam filsafat "sesuatu" senantiasa disandarkan kepada wujud dan
keberadaan, dikatakan "sesuatu" berarti telah berwujud, dan ketika telah
berwujud artinya keberadaan "sesuatu" itu tidak lagi mustahil secara
rasional. Dalam hal ini, kodrat Tuhan hanya berkaitan dengan "sesuatu".
Telaah Teologis atas Sifat-sifat Tuhan [5]
Hidup, Azali dan Abadi
Sifat Hidup Tuhan
Salah satu sifat Tuhan menurut para teolog adalah sifat hidup.
Penafsiran tentang sifat hidup bagi Tuhan, terjadi perbedaan pendapat di
antara para teolog dalam penjelasan makna dan persoalan bahwa apakah
sifat ini adalah positif atau negatif.
Berpijak pada sifat
hidup yang terdapat pada sebagian makhluk Tuhan, di antaranya pada
makhluk-makhluk natural seperti manusia dan hewan, maka pada tahapan
awal, kita akan melihat hakikat hidup yang ada pada makhluk-makhluk ini,
setelah itu kita akan melangkah pada pemaknaan sifat hidup Tuhan.
Kehidupan Maujud-Maujud Natural
Ketika kita mengamati kondisi makhluk-makhluk hidup, maka kita akan
menemukan adanya keistimewaan yang menyebabkan sifat hidup ini bisa
dinisbahkan kepada mereka. Menurut para teolog,
keistimewaan-keistimewaan ini akan kembali pada dua sifat asli yaitu
"perbuatan yang memiliki kehendak"[1] dan "ilmu". Dari sini dikatakan,
makhluk hidup adalah sebuah makhluk yang memiliki tahapan aktifitas yang
berkehendak dan berilmu; oleh karena itu, benda-benda tertentu disebut
“tidak hidup” karena secara lahiriah tidak berilmu dan tidak aktif
(tidak berkehendak), seperti batu-batuan dan tumbuh-tumbuhan.
Tentu saja dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat, apakah batu-batuan
dan tumbuh-tumbuhan memiliki kehidupan ataukah tidak, selisih pendapat
ini bersumber dari adanya kemungkinan bahwa batu-batuan dan
tumbuh-tumbuhan berada pada tahapan terendah dari ilmu, kehendak, dan
perbuatan. Wal hasil, dengan memperhatikan definisi hidup yang
diungkapkan oleh para teolog, minimalnya, hewan dan manusia digolongkan
ke dalam makhluk hidup. Di sini harus kita perhatikan dua poin penting
berikut ini:
1. Hidup pada makhluk-makhluk natural seperti
hewan dan manusia senantiasa diiringi dengan pertumbuhan, makan,
regenerasi, pergerakan, perpindahan dari satu tempat ke tempat yang
lain, dan sebagainya; sebagian ini merupakan tanda-tanda kehidupan bagi
mereka, tapi jangan disimpulkan bahwa tanda-tanda tersebut sebagai tanda
dari kehidupan mutlak, demikian juga jangan menganggap bahwa hidup,
secara mutlak dan pada setiap tempat, senantiasa mengharuskan kondisi
dan keadaan semacam itu. Pada hakikatnya, hal-hal di atas hanya sebagai
kelaziman makhluk hidup di alam natural. Pensifatan hidup pada
makhluk-makhluk di alam metafisika tak meniscayakan sifat-sifat
tersebut, seperti pertumbuhan, makan, regenerasi.
2. Merujukkan
sifat hidup kepada dua sifat asli yakni ilmu dan kehendak bukan berarti
bahwa hidup adalah suatu sifat yang terkomposisi dari dua sifat asli
tersebut, karena ini berarti bahwa hidup hanya sebagai kata dan makna
yang nisbi dan di alam luar tak terwujud sesuatupun selain ilmu dan
kehendak. Hidup adalah kesempurnaan eksistensial yang jika sebuah maujud
memilikinya maka pasti bisa meraih ilmu, kodrat, kehendak, dan
perbuatan. Maka dari itu, hidup yang didefinisikan secara umum sebagai
ilmu dan perbuatan pada prinsipnya adalah pendefinisian yang didasarkan
pada kemestian makna hidup itu sendiri.
Setelah kita mengetahui makna umum hidup menurut para teolog, tiba saatnya menjelaskan tentang makna hidup Tuhan.
Makna Hidup Tuhan
Sebagaimana telah kami isyaratkan sebelumnya, para teolog Islam
berselisih pendapat tentang makna dan kedudukan sifat hidup bagi Tuhan.
Aliran teologi Asy'ariyah, berpandangan adanya sifat tetap yang
tertambah pada dzat Tuhan dan menyepakati bahwa hidup merupakan sifat
tetap yang berada di luar dzat Tuhan, dengan berpijak pada pandangan ini
maka dzat Tuhan disifatkan dengan ilmu dan kodrat bukan dengan sifat
hidup.
Mereka yang memungkiri perubahan sifat dan dzat Ilahi,
mendefinisikan lain sifat hidup Ilahi ini dan mengatakan bahwa maksud
dari Hidup Tuhan adalah Kekuasaan dan Keilmuan-Nya tidaklah mustahil.[2]
Dengan tidak memperhatikan adanya perbedaan pandangan dalam sifat hidup
ini, bisa dikatakan bahwa hidup merupakan salah satu sifat tetap bagi
dzat yang menyatu dengan dzat Ilahi. Makna Hidup Tuhan adalah bahwa
wujud-Nya mengharuskan memiliki kesempurnaan khusus, yang dengannya
kemudian disifati dengan ilmu, kodrat dan perbuatan. Tentunya, esensi
Tuhan jauh dari segala bentuk persyaratan hidup sebagaimana yang
terdapat pada maujud-maujud natural, seperti pertumbuhan, makan, dan
sebagainya, karena persyaratan ini bukan persyaratan mutlak bagi
kehidupan.
Dengan memperhatikan bahwa ilmu dan kodrat merupakan
sifat Tuhan dan hubungan keduanya dengan sifat hidup, maka jelas bahwa
hidup Tuhan juga merupakan sifat dzati dan esensial, dan ini berlawanan
dengan sifat hidup bagi makhluk-makhluk natural yang bersifat aksidental
dan berada di luar dzat mereka.
Argumen Tentang Hidup Tuhan
Selain argumen umum tentang pensifatan Tuhan dan seluruh sifat-sifat
sempurna yang dimiliki-Nya, para teolog memaparkan juga argumen untuk
membuktikan sifat Hidup Tuhan. Argumen sederhana yang bisa dirujuk
adalah argumentasi yang berpijak pada ilmu, kodrat, dan perbuatan Tuhan.
Sebagaimana telah kami katakan bahwa ilmu, kodrat dan aktifitas
merupakan persyaratan dan petunjuk kehidupan, dan dengan menilik pada
pembahasan sebelumnya dimana ilmu dan kodrat Tuhan telah dibuktikan,
maka pensifatan esensi-Nya dengan hidup menjadi terbukti. Syeikh Thusi
memberikan ungkapan yang indah untuk menjelaskan argumen ini, berkata,
"Dan setiap realitas yang memiliki kodrat dan berilmu, pasti hidup."
Hidup Tuhan Menurut Al-Qur’an dan Hadis
Al-Qur'an pada sebagian ayatnya mensifati Tuhan dengan sifat al-hayy.
Surah al-Baqarah (2) ayat 255 dan al-Imran (3) ayat 2, Allah Swt
berfirman, "Allah, tiada Tuhan melainkan Dia Yang Hidup Kekal". Dalam
surah Ghafir (20) ayat 65, berfirman, "Dialah Yang hidup kekal, tiada
Tuhan melainkan Dia, maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat kepada
Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam."
Dengan menilik
ayat sebelumnya, terlihat bahwa ayat ini menunjukkan adanya
perkecualian sifat hidup bagi Tuhan dan menjelaskan bahwa hidup yang
hakiki hanyalah milik-Nya. Dengan mempertimbangkan adanya tahapan yang
rendah dari kehidupan makhluk, al-Qur'an menyebut Tuhan sebagai Pemberi
Kehidupan, jadi secara lahiriah maksud dari pengecualian sifat tersebut
adalah bahwa hanya Tuhan yang mempunyai kehidupan yang esensial, abadi,
kekal dan tak mengalami perubahan, hal ini ditegaskan pada ayat yang
lain, Allah Swt berfirman, "Dan bertawakkallah pada Allah Yang Hidup
(Kekal) Yang tidak mati." (Qs. al-Furqan [25]: 58)
Al-Qur'an
pada ayat ini menjelaskan bahwa Tuhan Maha Hidup dan tidak akan
mengalami kefanaan dan kematian, karena sifat hidup merupakan substansi
dan esensi Tuhan. Dari sinilah manusia layak pasrah kepada-Nya, karena
kepasrahan manusia kepada Sesuatu yang tidak akan pernah berubah dan
tidak mengalami degradasi akan menyebabkan mereka tidak sedikitpun
memiliki rasa takut dan ngeri.
Poin lain yang bisa disimpulkan
dari ayat-ayat di atas adalah penyebutan hayyu dan qayyum yang
disebutkan secara beriringan, ini sepertinya menunjukkan bahwa komposisi
dua sifat ini adalah sifat-sifat sempurna-Nya, karena pensifatan hayyu
selain menunjukkan pada kehidupan esensial juga menunjukkan ilmu dan
kodrat-Nya yang tak terbatas, yang hal ini merupakan salah satu sifat
esensial terpenting yang dimiliki-Nya, demikian juga pensifatan qayyum
(yang artinya adalah seluruh eksistensi selain-Nya membutuhkan dan
bersandar pada-Nya) merupakan dasar dari seluruh sifat aktual Tuhan.
Maka dari itu, pengucapan zikir "Ya hayyu, Ya qayyum" merupakan salah
satu zikir universal.
Amirul Mukminin Ali As, dalam salah satu
khutbah mulianya, menegaskan bahwa tujuan makrifat manusia adalah
mengagungkan Tuhan yang dilandasi atas makrifat terhadap dua sifat hayyu
dan qayyum-Nya, dengan sabda, "Kita tidak mengetahui hakikat
keagungan-Mu kecuali kita memahami bahwa Engkau lah hayyu dan qayyum
yang tidak pernah lengah dan tidur.[3]
Pada sebagian hadis juga
tersirat tentang hakikat hidup Tuhan dan perbedaannya dengan kehidupan
semua makhluk, di sini kami akan menyajikan salah satu hadis yang
bermakna sangat dalam dari Imam Kadzhim As, bersabda, "Allah adalah
Hidup, dan hidup-Nya tidak terwujud kemudian dan tidak mempunyai wujud
mandiri yang mencakup semua sifat, hidup-Nya tidak terbatas dan tidak
bertempat sehingga bisa disinggahi atau di tinggali, akan tetapi
hidup-Nya bersifat esensial."[4]
Tidak diragukan, perkataan
Imam As dalam hadis tersebut mengandung hal-hal yang sangat mendetail
dan mendalam hingga tidak bisa kita ungkap secara sempurna.
Dari riwayat tersebut bisa disimpulkan sebagai berikut:
a. Berlawanan dengan hidupnya semua makhluk, hidup Tuhan, bukan hidup
kontingen atau temporal melainkan hidup yang mengikuti keabadian dzat
Tuhan, karena hidup-Nya menyatu dengan dzat itu sendiri, maka hidup
Tuhan adalah eternal (qadim) dan abadi.
b. Hidup Tuhan tidak
mempunyai wujud mandiri yang terpisah dari dzat sehingga bisa disifati
dengan sebuah sifat (karena wujud mandiri bisa disifatkan), oleh karena
itu, secara lahiriah ibarat wa lâ kaunun mausufun (bukan sesuatu yang
mandiri yang tersifati) menyiratkan pada penolakan pendapat (Asy'ariyah)
tentang perbedaan sifat-sifat dzat dengan dzat Tuhan.
c. Hidup
Tuhan tidak berada di bawah kategori kualitas (salah satu kategori
aksiden) sehingga menjadi terbatas, karena kualitas khusus akan
menyebabkan terbatasnya sesuatu, demikian juga Hidup Ilahi ini tidak
mempunyai relasi khusus dengan tempat dan tidak pula menetap pada satu
tempat.
d. Dengan demikian jelaslah bahwa hidup Tuhan adalah
hidup yang esensial (bukan aksidental) dan eternal (qadim, pre-existent)
sehingga tidak sedikitpun mempunyai keserupaan dengan kehidupan semua
makhluk materi dan non materi.
Keazalian dan Keabadian Tuhan
Sifat lain yang tetap dan sempurna yang dimiliki Tuhan adalah sifat
azali dan abadi. Pandangan umum para teolog bahwa Tuhan merupakan sebuah
realitas yang azali dengan arti bahwa Dia telah ada "sejak awal" dan
tidak ada suatu "masa" sebelumnya dimana Tuhan tidak berwujud. Pada sisi
lain, Tuhan juga merupakan realitas yang abadi yaitu pada "masa
mendatang" Dia tidak akan pernah tiada atau punah.
Dengan kata
lain, baik pada "masa lampau" maupun "masa mendatang" Tuhan tidak akan
pernah tiada yaitu senantiasa berwujud. Hal ini secara detail akan
disajikan pada pembahasan mendatang.
Bisa dikatakan, selain
penggunaan kata azali dan abadi, biasa juga digunakan kata qadim
(eternal) dan bâqi (the continuant, kekal). Selain empat kosa kata
tersebut, digunakan juga istilah sarmadi (eternal, sempiternal) yang
para teolog mengartikannya sebagai sifat yang terkomposisi dari dua
sifat azali dan abadi; dan berdasarkan hal ini, realitas eternal adalah
suatu realitas yang senantiasa ada pada setiap "masa" baik "masa
lampau", "masa kini" maupun "masa mendatang".
Interpretasi Keazalian dan Keabadian Ilahi
Para teolog Islam memiliki dua perbedaan pandangan dan interpretasi
tentang keazalian dan keabadian Tuhan. Pada interpretasi awal dikatakan
bahwa Tuhan ada pada setiap masa. Dia ada pada masa lampau, sekarang dan
masa mendatang. Interpretasi ini memiliki makna bahwa Tuhan adalah
suatu realitas yang berada pada zaman dan terbatas pada zaman. Sementara
interpretasi kedua dikatakan bahwa Tuhan lebih luas dari zaman, Dia
meliputi dan mencipta zaman. Berdasarkan pandangan kedua ini, maka
pernyataan bahwa Tuhan senantiasa ada pada masa lampau atau masa
mendatang merupakan sebuah ungkapan yang batil.
Meskipun
masyarakat umum dan bahkan sebagian para teolog Islam sendiri menganut
interpretasi pertama tentang keazalian dan keabadian Tuhan, tetapi
interpretasi kedualah yang benar, karena kemutlakan wujud Tuhan bermakna
bahwa dzat Tuhan sama sekali tidak terbatasi oleh syarat, kondisi, dan
zaman. Pada prinsipnya, zaman merupakan sebagian dari kekhususan dan
syarat bagi maujud-maujud materi dan sesuatu bergerak, sedangkan dzat
Tuhan suci dari gerak dan materi.
Oleh karena itu, pandangan
tentang keabadian Tuhan harus kita maknakan bahwa dzat Tuhan di atas
zaman, meliputi realitas zaman, dan senantiasa berwujud. Tentu saja
selama kita masih dikekang oleh zaman yang ada di alam tabiat ini maka
sangat sulit bagi kita untuk menggambarkan adanya sebuah realitas trans
zaman dan sebuah realitas yang tidak dipengaruhi oleh masa lampau, masa
kini dan masa mendatang.
Argumen Keazalian dan Keabadian Tuhan
Salah satu argumen sederhana berkaitan dengan masalah ini adalah
argumen yang bersandar pada keniscayaan wujud Tuhan (wajib al-wujud-nya
Tuhan). Pembahasan sebelumnya telah jelas bahwa Tuhan adalah Wajib
al-Wujud dimana keberadaan bagi-Nya adalah niscaya dan ketiadaan bagi
dzat-Nya adalah mustahil, oleh karena itu, kemestian wujud dzat Ilahi
mengharuskan kemustahilan ketiadaan wujud-Nya dalam segala bentuk
asumsi. Hal ini bermakna bahwa dzat Tuhan tidak didahului dengan
ketiadaan dan ketiadaan tidak pula menyentuh-Nya, dan ini tidak lain
adalah keazalian dan keabadian Tuhan itu sendiri. Khawjah Nashiruddin
Thusi menyiratkan argumentasi ini dengan ungkapan yang pendek, "Dan
Wajib al-Wujud menunjukkan akan keabadian Nya."[5]
Poin lain
yang bisa disimpulkan dari argumentasi ini adalah bahwa keazalian dan
keabadian dengan makna di atas merupakan dua makna yang saling
meniscayakan, apabila suatu wujud adalah azali maka niscaya wujud
tersebut juga abadi.
Selain argumen di atas, para teolog juga memaparkan argumen lain yang tidak di bahas pada kesempatan ini.[6]
Keazalian dan Keabadian Tuhan dalam Al-Qu’ran dan Hadis
Al-Qur’an tidak menggunakan kedua istilah di atas yaitu azali dan abadi
Tuhan, melainkan memakai istilah yang lain. Sebagai contoh, al-Qur'an
terkadang menyebut Tuhan dengan Yang Awal dan Yang Akhir.
Para
mufassir dalam menafsirkan dua sifat awal dan akhir ini memaparkan
beberapa asumsi, akan tetapi secara lahiriah maksud dari kedua sifat
tersebut identik dengan apa yang dimaksudkan dalam makna azali dan
abadi, makna tersebut ditegaskan pula dalam beberapa riwayat, sebagai
contoh, Imam Ali As dalam khutbahnya bersabda, "Tuhan adalah Yang Awal
yang tidak didahului oleh sesuatu sebelum-Nya, dan Dia adalah Yang Akhir
yang tidak diakhiri oleh sesuatu setelah-Nya."[7]
Dalam hadis
lain kita temukan pula perkataan Imam Sadiq As yang bersabda, "Dia
adalah Yang Awal tanpa ada sesuatu sebelum-Nya dan Dia Yang Akhir tanpa
Dia sendiri berakhir, Dia senantiasa hadir tanpa berawal dan
berakhir."[8]
Dengan memperhatikan hadis-hadis di atas, jelas
bahwa maksud dari Yang Awal dan Yang Akhir pada wujud Tuhan bukan hanya
mengartikan bahwa Tuhan merupakan realitas yang pertama dan terakhir,
karena makna ini tidak akan mengarah pada keazalian dan keabadian Tuhan,
gagasan semacam ini bisa menggambarkan bahwa Tuhan terwujud sebelum
semua realitas ada dan Dia akan tiada setelah semua realitas berakhir.
Akan tetapi maksud dari Awal dan Akhir-nya Tuhan adalah bahwa tidak ada
sesuatu sebelum dan sesudah-Nya yang bisa digambarkan, tidak ada yang
mendahului maupun yang mengakhiri-Nya dan wujud-Nya tidak didahului oleh
sesuatu sebelum-Nya dan tidak akan meniada.
Sebagian dari ayat
al-Qur’an menegaskan pula akan keabadian dan ketidakfanaan Tuhan. Dalam
surah ar-Rahman (55) ayat 26-27, Allah berfirman, "Semua yang ada di
bumi itu akan binasa. Dan akan tetap kekal dzat Tuhanmu yang mempunyai
kebesaran dan kemuliaan". Demikian juga dalam surah al-Qashash ayat 88,
berfirman, "Segala sesuatu pasti binasa, kecuali wajah Allah."
Menurut para mufassir, maksud kalimat "wajhahu" (wajah Tuhan) pada ayat
ini tak lain adalah dzat Ilahi, dan berdasarkan hal ini, ayat-ayat di
atas masing-masing menegaskan keabadian dan kekekalan Tuhan.
Catatan Kaki:
[1] . Terkadang "aktifitas" disebut juga dengan sifat "kodrat", dimana
pada hakikatnya merupakan sumber dari aktifitas, dari dasar ini
dikatakan bahwa "makhluk hidup adalah makhluk yang berilmu dan
berkuasa".
[2] .Irshâd at-Thâlibiin, hal. 201.
[3] . Nahjul Balâghah, khutbah 160.
[4] . Syeikh Shaduq, Kitab at-Tauhid, bab 11, hadis 6.
[5] . Nashiruddin Thusi, Kasyf al Murâd, hal. 315.
[6] . Rujuk: 'Allamah Hilly, Minhâj al-Yaqiin, hal. 179.
[7] . Nahjul Balâghah, khutbah ke 91.
[8] . Ushul Kâfi, jilid 1, bab ma'âni al-asma, hadits 6.
Telaah Teologis atas Sifat-sifat Tuhan [6]
Kehendak dan Iradah Tuhan
Iradah dan kehendak, merupakan salah satu sifat dari sifat-sifat Tuhan
yang mendapatkan perhatian lebih khusus dari sifat-sifat lainnya.
Meskipun para teolog Islam secara umum bersepakat dalam pensifatan Tuhan
dengan kehendak, tetapi terdapat perbedaan yang cukup tajam dalam
penjabaran sifat ini dan pada sebagian hukum-hukumnya. Sebagian
pertanyaan-pertanyaan penting yang berkaitan dengan masalah ini antara
lain:
1. Apa definisi yang tepat untuk kehendak Ilahi?
2. Apakah kehendak merupakan sifat dzat ataukah sifat perbuatan Tuhan?
3. Apakah kehendak Tuhan eternal (qadîm) ataukah temporal (hâdits, creatable)?
4. Apa perbedaan pengertian kehendak (irâdah) dengan ikhtiar atau kemauan (masyiyat)?
Selain teolog, para filosof Islami pun melakukan kajian tentang hakikat
iradah Ilahi ini. Di sini, pandangan filosof tidak diuraikan karena
bisa menambah keraguan dan kerumitan pembahasan kita ini. Kami hanya
akan menganalisa iradah Ilahi sesuai dengan tingkat pembahasan pada
tulisan ini, dan kami akan berusaha memberikan jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan di atas.
Hakikat Iradah Manusia
Manusia ketika melakukan aktifitas yang ikhtiari akan menemukan sebuah
keadaan yang internal pada dirinya, keadaan ini disebut dengan iradah.
Kondisi internal ini merupakan sebuah keadaan jiwa yang serupa dengan
seluruh keadaan internal lainnya, hal ini bisa difahami dengan ilmu
hudhuri. Akan tetapi, kehadiran ilmu ini terhadap kondisi internal ini
tidak bermakna bahwa pembuktiannya dalam tataran pemahaman pikiran (ilmu
husuli) adalah perkara yang mudah, dan hal inilah yang menyebabkan
perbedaan definisi pada iradah manusia.
Sebagian orang
mengatakan bahwa iradah identik dengan keyakinan terhadap keuntungan
sebuah aktifitas. Sebelum kita melakukan sebuah aktifitas, pasti
terlebih dahulu membenarkan manfaatnya, dan hal tersebut tak lain
merupakan iradah kita untuk melaksanakan aktifitas tersebut. Kadang kala
pembenaran ini disebut dengan motivasi. Oleh karena itu, berdasarkan
interpretasi di atas iradah tak lain adalah motivasi kita melakukan
aktifitas.
Sementara kelompok lain berpendapat bahwa iradah
bukan motivasi dan hanya dengan keyakinan terhadap manfaat aktifitas,
bukanlah indikasi iradah melakukan aktifitas tersebut. Dalam hal ini
juga terdapat perbedaan pendapat. Berdasarkan satu pandangan, selain
terdapat keyakinan terhadap manfaat aktifitas, terdapat pula hasrat dan
keinginan jiwa untuk melakukan aktifitas tersebut, dan hasrat ini tak
lain adalah iradah itu sendiri. Terkadang iradah disebut juga sebagai
kecenderungan kita melakukan aktifitas, dan sikap menghindar yang
merupakan lawan dari iradah merupakan kecenderungan kita meninggalkan
perbuatan. Menurut pandangan lainnya, iradah berbeda dengan hasrat dan
kecenderungan melakukan aktifitas. Iradah merupakan sebuah keadaan jiwa
yang dihasilkan setelah adanya ilmu tentang manfaat aktifitas sebelum
melakukannya, yang hal ini menyebabkannya memilih untuk melakukan
aktifitas tersebut daripada meninggalkannya.
Masing-masing
pandangan di atas memiliki argumen, dan di sini kita tidak
membahasnya[1]. Poin penting dalam hal ini adalah bahwa kita tidak bisa
menisbahkan makna iradah untuk manusia ini kepada Tuhan, tanpa menghapus
dimensi kelemahan, keterbatasan, dan karakter-karakter makhluk. Sebagai
contoh, iradah manusia adalah bersifat aksiden pada jiwa manusia.
Jelaslah bahwa sifat yang demikian ini tidak pantas bila dinisbahkan
kepada Tuhan, karena dzat Tuhan suci dari segala perubahan dan aksiden.
Pendapat Teolog tentang Hakikat Iradah Tuhan
Sebagaimana disinggung bahwa terdapat keragaman pendapat dari para
teolog dan filosof tentang Iradah Ilahi. Di bawah ini akan disajikan
secara ringkas sebagian pendapat mereka:
1. Makna
iradah Ilahi adalah Tuhan melakukan perbuatan-Nya tanpa paksaan dan
ancaman. Oleh karena itu, maksud dari kehendak Tuhan adalah tidak adanya
paksaan dan ancaman dalam perbuatan-Nya.[2]
2. Iradah Ilahi merupakan aktualisasi dari kodrat Tuhan.[3]
3. Iradah Ilahi sebagai sifat dzat merupakan kecintaan Tuhan terhadap
dzat dan kesempurnaan-Nya sendiri; dan sebagai sifat perbuatan, iradah
Tuhan adalah keridhaan-Nya terhadap lahirnya sebuah perbuatan.
4. Iradah Tuhan identik dengan ilmu-Nya terhadap sistem yang terbaik.
Filosof mendefinisikan iradah Tuhan sebagai salah satu sifat dzat
Tuhan, iradah-Nya identik dengan ilmu Tuhan terhadap sistem terbaik bagi
seluruh alam. Ilmu Tuhan ini merupakan mata rantai awal dari silsilah
sebab-akibat perwujudan alam dan juga sebagai dasar penciptaan semua
makhluk.
5. Iradah Tuhan adalah merupakan kemandirian dan
kebebasan dzati-Nya.Tuhan secara esensial adalah Pelaku yang bebas dan
iradah-Nya tak lain adalah kebebasan-Nya sendiri. Meskipun ikhtiar-Nya
bisa ditafsirkan sebagai ketakterpaksaan, tidak akan mengubah posisi
sifat iradah (yang setara dengan kebebasan esensial-Nya) tersebut,
sebagaimana ilmu yang didefinisikan sebagai ketidakjahilan tidak
mengubah hakikat sifat ilmu.[4]
Iradah Dzat dan Iradah Perbuatan
Apakah iradah merupakan sifat dzat Tuhan ataukah sifat perbuatan-Nya?
Menjawab persoalan ini akan menjadi penting ketika kita melihat definisi
di atas, dimana sebagiannya hanya memberikan sudut pandang pada iradah
dzat (definisi keempat), sebagian lain pada iradah perbuatan (definisi
kedua), dan sebagiannya lagi memandang bahwa iradah meliputi dzat dan
perbuatan (definisi ketiga). Oleh karena itu, sebelum kita menganalisa
definisi-definisi tersebut secara mendetail, ada baiknya terlebih dahulu
kita menentukan bahwa apakah iradah Ilahi ini tergolong ke dalam sifat
dzat ataukah sifat perbuatan.
Banyak teolog dan filosof Islam
menganggap bahwa iradah dzat setara dengan ilmu Tuhan terhadap sistem
yang terbaik. Penjelasannya bahwa Tuhan memiliki ilmu terhadap
kekhususan-kekhususan sistem terbaik bagi alam, yaitu Dia mempunyai ilmu
terhadap kondisi dan keadaan yang paling sempurna untuk alam; dan ilmu
inilah yang menjadi iradah dzat Tuhan. Menerima pendapat ini tidak
berarti telah terlepas dari problematika. Dengan menilik makna iradah
dan merujuk pada pengertian leksikalnya, kita menemukan bahwa makna
iradah tidak bisa disamakan dengan makna ilmu.[5] Pada sisi lain,
sebagaimana yang akan kita lihat, dalam sebagian riwayat ditegaskan
adanya pemisahan antara ilmu dan iradah.
Jika kita tidak
menerima adanya penyetaraan antara iradah (sebagai sifat dzat) dan ilmu
Tuhan terhadap sistem terbaik alam, maka penggambaran iradah Ilahi
sebagai sifat dzat-Nya akan menjadi rumit, kecuali kalau kita memilih
definisi kelima yaitu iradah Tuhan identik dengan kebebasan dzat-Nya,
yaitu dzat Tuhan memiliki kesempurnaan eksistensial yang dengannya tak
sesuatupun dapat menghalangi-Nya dan segala perbuatan-Nya lahir tanpa
ancaman dan paksaan dari selain-Nya.
Dalam kaitannya dengan
iradah sebagai sifat perbuatan bisa dirujukkan kepada sifat seperti
cinta dan ridha. Berdasarkan hal ini, iradah Tuhan terhadap lahirnya
sebuah aktifitas khusus adalah sebuah relasi antara kecintaan dan
keridhaan Tuhan terhadap perwujudan aktifitas tersebut. Akan tetapi di
sini mungkin terdapat masalah karena berdasarkan apa yang kita temukan
di dalam diri kita, makna iradah bukanlah kecintaan dan keridhaan.
Kemungkinan lain yang bisa kita katakan adalah sifat iradah, sebagai
sifat perbuatan, bersumber dari tingkatan perbuatan Tuhan yaitu
penciptaan maujud-maujud itu sendiri. Penjelasan yang bisa diterima akal
adalah bahwa setiap makhluk pada setiap masa, tempat, dan kualitasnya
yang tertentu, senantiasa berkaitan dengan ilmu dan kecintaan Tuhan dan
Tuhan menciptakan maujud-maujud tersebut dengan kehendak-Nya sendiri
tanpa paksaan dari selain-Nya. Dengan demikian, sifat iradah bersumber
dari relasi khusus antara Tuhan dan makhluk-Nya.
Terdapat
pendapat lain yang mengatakan, sifat iradah (sebagai sifat perbuatan)
berasal dari hubungan antara Tuhan dan perbuatan-Nya yang memiliki sebab
(‘illah) sempurna. Dengan demikian, setiap kali terdapat relasi
perbuatan yang mempunyai sebab sempurna dengan dzat Tuhan, maka pasti
berhubungan dengan sifat iradah, dan kita katakan bahwa Tuhan
menghendaki terjadinya perbuatan tersebut.
Iradah Tuhan: Temporal (Huduts) atau Eternal (Qidam)
Menurut Asy’ariyah, iradah merupakan sifat tambahan pada dzat Tuhan dan
sifat ini eternal sebagaimana dzat-Nya. Sementara kelompok lain,
berpandangan bahwa sifat iradah Tuhan adalah temporal dan tercipta, akan
tetapi di antara mereka juga berbeda pendapat seputar masalah
ketemporalan sifat itu.[6]
Dengan memperhatikan penjelasan
tentang iradah dzat dan perbuatan, bisa dikatakan bahwa iradah dzat
identik dengan dzat Tuhan, oleh karena itu, sebagaimana sifat dzat yang
mengikuti keeternalan dzat, sifat iradah adalah eternal. Akan tetapi
apabila pembahasan berfokus pada iradah perbuatan, karena ia muncul dari
relasi antara dzat Tuhan dan perbuatan-Nya, dimana perbuatan-Nya
bersifat temporal maka sifat iradah pun merupakan hal yang temporal.
Tentu saja sebagaimana yang telah kami katakan dalam pembahasan
perbedaan antara sifat-sifat dzat dan perbuatan, sumber kemunculan sifat
perbuatan bukanlah dari dzat Tuhan melainkan bersumber dari perbuatan
itu sendiri.
Iradah, Ikhtiar, dan Keinginan (Masyiyat)
Selain sifat iradah, Tuhan juga disifati dengan sifat berkeinginan dan
ikhtiar. Setarakah ketiga sifat ini ataukah masing-masing mempunyai
makna mandiri dan berbeda? Dikatakan bahwa tentang tidak ada perbedaan
antara iradah dan keinginan, yaitu bahwa keduanya mempunyai makna yang
sama. Akan tetapi, menurut sebagian teolog terdapat perbedaan antara
keduanya. Sebagai contoh, orang yang mengatakan bahwa iradah sebagai
ilmu tentang kemaslahatan atau ketakmaslahatan suatu pekerjaan dan
keinginan sebagai kemauan untuk melakukan atau meninggalkan suatu
pekerjaan"; suatu kemauan yang bersandar pada ilmu terhadap kemaslahatan
dan ketakmaslahatan[7]. Demikian pula dikatakan bahwa yang berhubungan
dengan keinginan adalah kuiditas akibat (ma’lul) sedangkan iradah
berhubungan dengan wujud akibat.[8]
Dari sebagian tafsir iradah
(sebagai sifat dzat), dikatakan bahwa tidak ada perbedaan antara iradah
dan ikhtiar, dan hakikat iradah adalah ikhtiar Tuhan itu sendiri.
Berdasarkan pendapat yang lain, definisi ikhtiar adalah melakukan suatu
pekerjaan dengan dasar ilmu, kehendak, iradah, dan kodrat; dan sifat
ikhtiar muncul dari hubungan antara pelaku dan perbuatan.
Argumen Para Teolog atas Iradah Tuhan
Konklusi salah satu argumentasi termasyhur para teolog atas iradah
Tuhan adalah sebagian dari perbuatan Tuhan akan terwujud pada waktu
tertentu, misalnya kita melihat sebuah eksistensi yang tercipta pada
masa tertentu dan sebelum masa itu eksistensi tersebut tiada. Pada sisi
yang lain, pengkhususan aktifitas semacam ini pada masa-masa tertentu
membutuhkan pengada. Maksud dari pengada di sini adalah pelaku yang
menjadi penyebab munculnya perbuatan tertentu pada masa tertentu (tidak
lebih cepat dan tidak terlambat). Dengan mengamati persoalan kodrat dan
ilmu Tuhan menjadi jelas bahwa sesuatu tersebut tidak memiliki kelayakan
sebagai pengada. Misalnya, keterkaitan kodrat dengan keseluruhan masa
adalah sama dan mustahil Tuhan pada masa tertentu mampu melakukan
perbuatan dan pada masa lainnya tidak mampu melakukannya. Hal inipun
berlaku pada Ilmu Tuhan. Oleh karena itu, dibutuhkan pengada lain selain
kodrat dan ilmu, dan pengada itu tidak lain adalah iradah.
Iradah Takwini dan Tasyri'i
Iradah yang telah dibincangkan merupakan iradah takwini Tuhan. Selain
jenis iradah ini, para teolog menyepakati adanya iradah tasyri'i Tuhan,
yang hal ini berpijak pada perbuatan khas manusia. Hubungan iradah
tasyri'i (yang berlawanan dengan iradah takwini) dengan sebagian
perbuatan menjadi sumber lahirnya hukum wajib, dan kaitan iradah
tasyri'i dengan perbuatan lainnya menjadi faktor munculnya hukum makruh
dan haram. Oleh karena itu, iradah perbuatan dan takwini Tuhan merupakan
sumber perwujudan segala eksistensi, dengan kata lain, iradah takwini
bersumber dari relasi khusus Tuhan dengan makhluk-makhluk-Nya, sementara
sumber iradah tasyri'i dari hubungan khas antara Tuhan dengan sebagian
perbuatan-perbuatan ikhtiari manusia.
Iradah Tuhan Menurut Al-Qur'an dan Riwayat
Iradah berasal dari akar kata raud yang dalam makna aslinya adalah
datang dan pergi dengan sikap lembut dalam pencarian sesuatu. Makna kata
ini tersusun dari tiga unsur: keinginan terhadap sesuatu yang diikuti
dengan kecintaan, harapan akan keberhasilannya dan motivasi dalam
melakukannya baik dari diri sendiri atau dari selainnya. Kehendak pun
menurut sebagian besar kamus semakna iradah, akan tetapi dalam pandangan
sebagian mereka[9], kehendak merupakan sebuah kecenderungan yang lahir
setelah penggambaran dan pembenaran, dan setelah itu muncul keinginan
kuat dan iradah.
Meskipun dalam al-Qur'an dua sifat iradah dan
kehendak ini tidak dinisbahkan kepada Tuhan dalam bentuk kata pelaku,
akan tetapi dalam beberapa ayat yang kaitannya dengan masalah Tuhan
digunakan bentuk kata kerja dari dua kata dasar ini.
Pada
sebagian ayat al-Qur'an dijelaskan bahwa iradah dan kehendak takwini
Tuhan berpengaruh di semua aspek dan suatu perbuatan yang berkaitan
dengan iradah-Nya pasti terwujud tanpa syarat dan batasan, Allah
berfirman, "Ketika Kami menghendaki sesuatu, Kami hanya akan mengatakan
kepadanya kun (jadilah), maka jadilah ia."(Qs. An-Nahl: 40)[10]
Tentunya, yang dimaksud dengan Tuhan mengatakan "kun (jadilah)" pada
sesuatu, bukanlah perkataan lisan (sebagaimana perkataan lisan manusia
yang terkadang berbeda dengan kenyataan luar dan perbuatannya),
melainkan ungkapan yang berarti bahwa mustahil iradah Tuhan tidak
terwujud, walau berjarak sedetikpun.
Pada sebagian ayat
dikatakan pula tentang keuniversalan dan ketakterbatasan kehendak Tuhan:
"Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha
Kuasa atas segala sesuatu." (Qs. An-Nuur: 45).
Demikian juga,
al-Qur'an al-Karim menegaskan bahwa tidak ada satupun maujud yang mampu
menentang iradah takwini Tuhan dan menghalangi perwujudannya, hal ini
merupakan ungkapan lain atas ketakterbatasan iradah Ilahi, Tuhan
berfirman, "Katakanlah: "Maka siapakah yang mampu menghalangi kehendak
Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki
manfaat bagimu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang
kamu kerjakan." (Qs. Al-Fath: 11)
Tentu saja sebagaimana akan
dibahas dalam hikmah Ilahi, keuniversalan iradah dan kehendak Ilahi
bukanlah bermakna bahwa iradah berhubungan dengan semua perbuatan
termasuk hal-hal yang buruk, tercela dan sia-sia; Hikmah-Nya
mengharuskan Tuhan berkehendak hanya pada perbuatan yang mengandung
hikmah dan kemaslahatan bagi makhluk-makhluk-Nya.
Sebagian
ayat-ayat al-Qur'an mengisyaratkan pula tentang iradah tasyri'i Tuhan,
misalnya dalam surah al-Baqarah ayat 185 difirmankan, "Allah menghendaki
kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu."
Setelah pada awal ayat ini Tuhan menjelaskan tentang hukum puasa
Ramadhan dan menegaskan bahwa mereka yang dalam perjalanan atau sedang
sakit akan memperoleh pengecualian hukum, dilanjutkan bahwa iradah
tasyri'i Tuhan berkaitan dengan penetapan sebuah hukum yang menjamin
kemudahan bagi manusia dan bukan menyebabkan kesulitan mereka.
Demikian juga, setelah mengungkapkan sebagian hukum-hukum Ilahi, dalam
surah al-Maidah ayat 1, Tuhan berfirman, "Allah menetapkan hukum-hukum
sesuai dengan yang dikehendaki Nya."
Selain al-Qur'an, terdapat
riwayat Ahlulbait yang menjelaskan iradah Ilahi ini. Yang perlu
diperhatikan di sini adalah kebanyakan riwayat ini memperlihatkan iradah
perbuatan Tuhan; Dan sebagiannya menolak iradah sebagai sifat eternal
yang tertambah pada dzat-Nya. Misalnya, terdapat hadis dimana perawi
bertanya kepada Imam As, "Apakah Allah memiliki iradah sejak awal?" Imam
As bersabda, "Sesungguhnya yang beriradah tidak ada kecuali apa yang
dikehendaki ada bersamanya. Sejak awal Tuhan Berilmu dan memiliki
kodrat, setelah itu Dia berkehendak."[11]
Sebagaimana yang
telah disebutkan oleh Imam As di dalam hadis itu bahwa iradah perbuatan
Tuhan tidak azali dan eternal. Mungkin maksud perkataan Imam As ini
adalah bahwa sifat-sifat perbuatan, sebagaimana iradah, merupakan
hubungan antara Tuhan dan makhluk-makhluk-Nya, atau dengan kata lain,
iradah ini berasal dari perbuatan Tuhan dan karena perbuatan-Nya adalah
aksiden, maka mustahil sifat-sifat perbuatan-Nya adalah eternal.
Hadis lain yang dinukil dari Imam Ridha As, selain hadis ini
menjelaskan tentang hakikat iradah perbuatan Tuhan, di dalamnya
dijelaskan pula tentang perbedaan iradah Tuhan dengan iradah manusia
serta kesucian iradah-Nya dari keterbatasan sebagaimana iradah manusia.
Imam bersabda, "Iradah makhluk merupakan keputusan jiwa yang disertai
dengan perbuatan, akan tetapi iradah Tuhan hanya bermakna penciptaan".
Tuhan tidak berfikir terlebih dahulu dan tidak pula mengambil keputusan,
sifat semacam ini ternafikan dari-Nya, karena semua itu merupakan
sifat-sifat makhluk. Jadi, iradah Tuhan adalah perbuatan Tuhan itu
sendiri. Tuhan berfirman "Kun (jadilah)" maka apa yang dikehendaki-Nya
niscaya terwujud tanpa membutuhkan kata-kata, lisan, keputusan, dan
pertimbangan; dan tidak ada kategori kualitas dalam firman-Nya,
sebagaimana tidak ada kategori kualitas dalam dzat-Nya".[12]
Pada hadis lain ditegaskan tentang keaksidenan kehendak Ilahi ini,
sebagai contoh diriwayatkan dari Imam Sadiq As yang bersabda, "Tuhan
menciptakan kehendak untuk diri-Nya (tanpa memerlukan kehendak dari
selain-Nya) dan Dia menciptakan segala sesuatu dengan kehendak-Nya."[13]
Poin menarik yang bisa disimpulkan dari hadis para Imam As adalah
adanya perbedaan antara ilmu dan iradah. Imam Shadiq As kepada salah
satu sahabatnya yang bertanya tentang perbedaan antara ilmu dan iradah,
bersabda, "Ilmu Tuhan bukanlah kehendak-Nya. Apakah kamu tidak
memperhatikan ketika kamu mengatakan: "Aku pasti melakukan suatu
pekerjaan jika Tuhan menghendaki", akan tetapi kamu tidak mengatakan:
"Apabila Tuhan mengetahui pekerjaan itu, maka aku pasti melakukannya",
jadi perkataanmu yang mengatakan "Apabila Tuhan menghendaki" merupakan
dalil bahwa hingga saat ini Dia tak menghendaki, oleh karena itu, kalau
Dia berkehendak, maka apa yang Dia kehendaki pasti terwujud dan ilmu
Tuhan ada sebelum Dia berkehendak".
Catatan Kaki:
[1] . Sebagai contoh, orang yang haus melihat dua gelas air, pasti
memilih salah satunya untuk diminum, iradahnya berkaitan dengan
keinginannya untuk meminum air tersebut, sedangkan ilmunya terhadap
manfaat meminum air dari kedua gelas itu adalah sama. Dari sini bisa
diketahui bahwa iradah bukanlah ilmu terhadap manfaat sebuah aktifitas.
Rujuk pula: Manahij al-Yaqiin fii Ushuliddin, hal. 171; dan al-Mathalib
al-'Aliyah, J. 3, hal. 177.
[2] .Pernyataan ini dinisbatkan kepada Najar. Kashful Murad, hal. 314 dan Irshad at-Thalibiin, hal. 205.
[3] . Al-Muhadharat (penjabaran pelajaran Ushul Ayatullah Khui), J. 2, hal. 36 dan 72.
[4] . Ja’far Subhani, Muhadharah fil Ilahiyyat, hal. 148.
[5] . 'Alamah Thabathabai, Nihayah al-Hikmah, bab 12, pasal 13.
[6] Menurut pendapat aliran Karramiyyah, sifat iradah merupakan aksiden
pada dzat Tuhan, akan tetapi menurut pendapat Abu Hisyam Jabbaai dan
sebagian kalangan Mu'tazilah menganggap bahwa sifat aksiden iradah Tuhan
tanpa tempat.
[7] . Abdul ar-Razaq Lahijy, Sarmo-ye Iman, hal. 48.
[8] . Asfar, J. 6, hal. 313, Ta'liqah Hakim Shirazy.
[9] .Dinukil dari Peyâm-e Qur’an, jld. 4, hal. 144 dan 145.
[10] .Lihat pula Qs. Yasin: 82.
[11]. Ushul kafi, jld. 1, hal. 109, bab iradah, hadis 1.
[12] . Ibid, hal. 109 dan 110, hadits 3.
[13] . Ibid, hal. 110, hadits 7.
Telaah Teologis atas Sifat-sifat Tuhan [7]
Kalam Tuhan
Pendahuluan
Pada hakikatnya sifat-sifat perbuatan Tuhan tidak terhitung banyaknya;
dan al-Qur'an al-Karim banyak menyebutkan sifat-sifat ini, seperti
khâlik, fâtir, mâlik, hakîm, rabb, razzâq, rahman, rahim, ghafur, hâdi,
wakil, nâsir, qâhir, jabbar, dan nama lainnya yang tak berhingga.
Kesemua sifat ini adalah sifat-sifat perbuatan-Nya. Para teolog biasanya
membatasi pembahasan yang berkaitan dengan sifat-sifat perbuatan Tuhan
ini pada beberapa sifat tertentu saja. Mengingat pembahasan kita
terbatas oleh ruang dan waktu, tak ada cara lain bagi kami selain
mengikuti metode yang ada, meskipun pengkajian terhadap seluruh sifat
perbuatan ini dan penyajiannya kepada manusia adalah tanggung jawab
teologi dan para teolog.
Kalam Ilahi
Seluruh teolog dan aliran-aliran teologi Islam, bahkan seluruh umat
Islam sepakat terhadap kalam Tuhan dan mengaggap kalam sebagai salah
satu sifat-Nya. Meskipun demikian, pada pembahasan partikular terdapat
perbedaan yang sangat mendalam antara aliran-aliran teologi. Ikhtilaf
ini bersumber dari dua masalah:
1. Penafsiran terhadap hakikat kalam Ilahi;
2. Kalam Ilahi bersifat huduts (temporal) atau qidam (eternal).
Pada era pertama kemunculan Islam menunjukkan bahwa perbedaan pendapat
di antara muslim, khususnya dalam perkara huduts atau qidam-nya kalam
Ilahi, telah memunculkan fitnah yang sangat besar bahkan menyebabkan
pengkafiran dan pembunuhan di antara mereka. Pada pembahasan ini, kami
akan mengkaji pendapat terpenting berkaitan dengan ke-huduts-an atau
ke-qidam-an kalam Ilahi, dan setelah kami sajikan pendapat yang benar,
kami akan melanjutkan dengan pengkajian berdasarkan visi al-Qur'an dan
hadis.
Hakikat Kalam Ilahi
Berbagai pendapat yang menjelaskan kalam Ilahi, dan di bawah ini kami akan menyebutkan beberapa pendapat terpenting:
1. Sebagian menganggap kalam Ilahi sebagai bentuk suara dan huruf yang
mandiri dari dzat Tuhan dan sifatnya adalah eternal. Kelompok ini
menganggap bahwa jilid dan mushhaf al-Qur'an sebagai salah satu individu
eksternal dari kalam Tuhan yang eternal dan azali.[1]
2.
Pendapat lain mengatakan bahwa kalam Ilahi adalah suara-suara dan
huruf-huruf yang independen dari dzat Tuhan akan tetapi bersifat
temporal.
3. Pendapat ketiga mengatakan bahwa kalam Ilahi
adalah suara-suara dan huruf-huruf yang temporal dan tidak independen
dari dzat Tuhan melainkan sebagai perbuatan dan makhluk-Nya. Gagasan ini
dinisbahkan kepada Mu'tazilah, dan maksud dari "Tuhan berkalam" adalah
terciptanya huruf-huruf dan suara-suara di alam eksternal.[2]
4. Sebagian dari kelompok Asy'ariyah mengatakan bahwa kalam Ilahi
independen dari dzat-Nya dan berbeda dengan ilmu dan iradah, dari
sinilah sehingga kalam Ilahi terkadang dinamakan dengan kalam nafsi
(kalam inner). Menurut mereka, kalam nafsi memiliki satu makna yaitu
kalam yang lepas dari berbagai bentuk ungkapan seperti perintah,
larangan, berita, panggilan dan sebagainya. Sedangkan yang dimaksud
dengan huruf-huruf dan suara yang menunjuk pada kalam adalah sebagai
hakikat eternal dan azali serta merupakan salah satu dari sifat dzat
Tuhan.
Dari evaluasi pendapat di atas, secara global bisa
dikatakan bahwa dua pendapat pertama adalah batil, karena gambaran
tegaknya huruf dan suara yang bersifat materi pada dzat Tuhan yang
non-materi itu adalah tidak rasional, baik kita menganggap bahwa suara
dan huruf-huruf tersebut adalah eternal atau temporal (meskipun pendapat
pertama yang sangat aneh itu yakni ke-eternal-an huruf dan suara
merupakan hal yang dikehendaki Tuhan).
Pendapat Asy'ariyah pun
tak luput dari permasalahan, kritik utama atas pendapat ini adalah bahwa
kalam nafsi yang merupakan sesuatu berbeda dengan ilmu atau iradah
Tuhan adalah tidak logis. Gagasan Asy’ariyah tentang kalam nafsi pada
dasarnya identik dengan ilmu atau iradah Tuhan itu sendiri, dengan
demikian sifat kalam Tuhan tak bisa disebut sebagai salah satu
sifat-sifat-Nya.[3]
Pendapat yang benar adalah pendapat yang
mengartikan bahwa kalam Tuhan tidak lain adalah terciptanya huruf-huruf
dan suara-suara yang kadangkala termanifestasi pada benda-benda materi
(seperti pohon), kadangkala berasal dari malaikat pembawa wahyu dan tak
jarang dalam bentuk lain; dalam masalah ini para teolog Syiah sependapat
dengan Mu'tazilah.
Allamah Majlisi mengatakan, "Syiah sepakat
bahwa kalam Ilahi itu temporal (tercipta), terkomposisi atas huruf-huruf
dan suara-suara, dan terwujud karena Tuhan. Makna dari Tuhan berkalam
adalah bahwa Tuhan menciptakan huruf-huruf dan suara-suara itu dalam
bentuk materi."[4]
Tentu saja, Tuhan berkalam berbeda dengan
manusia yang berkalam, karena Tuhan tidak memerlukan anggota badan dan
perangkat tertentu untuk berkalam. Keberadaan anggota badan dan
perangkat semacam itu merupakan kekhususan materi, sedangkan Tuhan suci
dari karakter materi dan jasmani. Konklusi pembahasan ini adalah apabila
yang dimaksud dengan kalam Ilahi adalah kata yang termaktub atau
terdengar yang menunjukkan kehendak Tuhan, maka kalam ini bersifat
temporal sebagaimana halnya seluruh makhluk-Nya atau segala
perbuatan-Nya. Kalau yang dimaksud dengan kalam adalah berbicara maka
hakikatnya tidak lain adalah penciptaan kata-kata, kalimat-kalimat dan
huruf-huruf yang termaktub atau terdengar yang tak membutuhkan
perangkat-perangkat materi, dari sinilah muncul sifat kalam yang
merupakan salah satu sifat perbuatan Tuhan.
Seluruh Makhluk adalah Kalimatullah
Kadangkala kalam Ilahi didefinisikan dengan makna lebih luas dari
huruf-huruf dan suara-suara. Pada makna ini, kalam Ilahi mencakup
seluruh makhluk-Nya dan setiap eksistensi tidak hanya merupakan hasil
perbuatan dan kreasi-Nya, melainkan merupakan kalimat dari
kalimat-kalimat-Nya. Dari sini muncul pertanyaan bahwa bagaimana mungkin
kata "kalam" digunakan untuk makhluk dan benda-benda luar, sedangkan
berdasarkan penggunaan umum, kalam adalah kata-kata yang tertulis atau
terdengar?
Jawaban ringkas soal di atas adalah dengan mengamati
penggunaan dan manfaat kata-kata, maka akan menjadi jelas bahwa
substansi kalam adalah menjabarkan dan menguraikan makna-makna yang ada
di benak pembicara. Oleh karena itu, hakikat kalam tidak lain adalah
hikayat, petunjuk, dan implikasi. Pada sisi lain, aktifitas pelaku
(penciptaan makhluk) selain menunjukkan keberadaan pelaku juga
menceritakan kekhususan wujudnya, dan perbedaan yang ada pada keduanya
hanyalah bahwa implikasi yang ada pada kata-kata adalah perjanjian dan
penetapan yang bersifat relatif dan nisbi, sementara implikasi perbuatan
pelaku (seluruh makhluk) adalah bersifat hakiki dan realistis-rasional.
Dengan demikian, makna kalam bisa diperlebar dan mengisyaratkan pada
perbuatan Tuhan, karena setiap aktifitas menggambarkan kekhususan,
tujuan, dan kehendak pelakunya. Sebagaimana yang dilihat pada al-Qur'an
dan hadis-hadis Ahlulbait As yang memberikan legitimasi pada perluasan
pemaknaan ini, sebagian maujud yang merupakan tanda-tanda Ilahi
diperkenalkan sebagai kalimatullah.
Kalam Verbal, Kalam Inner, dan Kalam Perbuatan
Dari kajian di atas, bisa disimpulkan bahwa kalam Ilahi bisa didefinisikan dengan tiga makna global:
1. Kalam verbal, adalah suara-suara dan huruf-huruf yang diciptakan
oleh Tuhan di alam eksternal supaya lawan bicara memahami apa yang
dikehendaki-Nya.
2. Kalam nafsi atau inner, adalah makna-makna
yang terwujud dengan perantara dzat Tuhan yang berbeda dengan ilmu dan
iradah, dan kalam verbal yang menceritakan kalam nafsi itu.
3. Kalam perbuatan adalah semua makhluk dan perbuatan Tuhan yang menggambarkan wujud dan kesempurnaan-Nya.
Di antara ketiga makna di atas, makna yang bisa diterima adalah makna
pertama dan ketiga, sedangkan makna kedua, sebagaimana pendapat
Asy'ariyah, mustahil diterima, karena pembenaran makna kedua ini
berangkat dari penggambaran yang bersifat mungkin, maka mustahil ia
diposisikan sebagai kalam Ilahi.
Temporal dan Eternal Kalam Ilahi
Pada abad kedua Hijriah muncul pertanyaan di kalangan sekelompok
muslimin tentang apakah al-Qur'an sebagai manifestasi kalam Ilahi adalah
bersifat aksiden ataukah makhluk? Qadim ataukah azali? Para ahli hadis
dan pengikut Hanbali, demikian juga Asy'ariyah beranggapan bahwa
al-Qur'an adalah azali dan bukan makhluk. Hanbali dan Asy'ariyah
mengkafirkan kelompok-kelompok yang menentang gagasannya. Sementara
Mu'tazilah bertahan dengan pendapatnya yang memandang bahwa al-Qur'an
bersifat huduts dan baru tercipta.
Dengan memperhatikan
pembahasan hakikat kalam Ilahi tentang pengingkaran kalam nafsi, maka
tak ada alasan untuk menganggap ke-qadim-an kalam Ilahi. Apabila kalam
Ilahi didefinisikan sebagai huruf-huruf dan suara-suara atau
maujud-maujud luar, maka berarti ia temporal dan hâdits, tapi kalau
maksud kalam Ilahi adalah bahwa Tuhan berkalam, maka hal ini tetap harus
dipandang sebagai perkara yang temporal, karena berkalam merupakan
salah satu dari sifat-sifat perbuatan Tuhan dimana akan memunculkan
suara-suara dan huruf-huruf atau penciptaan maujud-maujud. Kita
mengetahui bahwa semua sifat perbuatan Tuhan adalah temporal, karena
awal kemunculannya adalah aktualisasi temporal Tuhan. Mereka yang
berpendapat tentang ke-eternal-an kalam Ilahi memiliki argumen-argumen
yang lemah dan tak mendasar, dan disini kita tidak mengevaluasinya
karena keterbatasan.[5]
Dengan demikian, pendapat yang benar
dimana dilegitimasi para Maksumin As dan para teolog Syiah[6] adalah
pendapat yang mengatakan bahwa kalam Ilahi adalah temporal.
Argumen atas Kalam Tuhan
Di antara beragam argumen yang dilontarkan oleh para teolog dalam
membuktikan sifat ini, kami hanya mencukupkan dengan menyebutkan satu
argumen, sebagai berikut, "Pada pembahasan kodrat Ilahi telah dijelaskan
bahwa kodrat-Nya akan bisa terwujud pada segala aktifitas yang
memungkinkan dan tidak ada keraguan lagi bahwa terciptanya kata-kata
tertulis dan suara-suara yang terdengar merupakan persoalan yang mungkin
terjadi, oleh karena itu, terciptanya huruf-huruf dan suara-suara yaitu
perkataan Ilahi masih berada dalam lingkup kodrat Tuhan[7]. Syeikh
Thusy dalam menjelaskan argumentasi ini mengatakan, "Kemutlakan kodrat
Tuhan menegaskan tentang kalam-Nya."[8]
Sifat Kalam Menurut Al-Qur'an dan Hadis
Dalam al-Qur'an kata Mutakallim tidak dimunculkan sebagai sifat Tuhan,
akan tetapi pada sebagian ayat kata ini digunakan dalam bentuk kata
kerja dengan kata dasar takallum (berbicara).
Dalam surah
an-Nisa ayat 164, Allah Swt berfirman, "Dan (Kami telah mengutus)
rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu
dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka
kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung".
Al-Qur'an al-Karim dalam tiga tempat menyebut kata kalam dengan
Kalamullah (perkataan Tuhan), dan satu tempat dengan ungkapan Kalâmi
(Perkataan-Ku)"[9]. Di tempat-tempat lain, kita bisa menyaksikan
ungkapan seperti Kalimatu rabbika dan Kalimatullah. Adanya
ungkapan-ungkapan ini bisa disimpulkan bahwa al-Qur'an sepakat bahwa
Tuhan mempunyai sifat takallum (berbicara).
Al-Qur'an al-Karim
pada sebagian ayatnya berbicara tentang kalam verbal dan yang terdengar.
Dalam surah Qashash ayat 30, Allah Swt berfirman, "Maka tatakala Musa
sampai ke (tempat) api itu, diserulah ia dari arah pinggir lembah
sebelah kanan pada tempat yang diberkahi, dari sebotong pohon kayu,
yaitu: "Ya Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan semesta alam."
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah Swt mengajak Nabi Musa As berbicara
dengan menggunakan suara-suara yang terdengar dan dari konteks yang
terdapat pada ayat ini dan ayat-ayat setelahnya menjadi jelas bahwa
suara-suara tersebut didengar oleh Nabi Musa As. Pada ayat lain
disebutkan adanya tiga metode pembicaraan Tuhan kepada manusia. Dalam
surah as-Syuura ayat 51, berfirman, "Dan tidak mungkin bagi seorang
manusia pun akan bercakap dengan Allah kecuali dengan perantaraan wahyu
atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat)
lalu mewahyukan kepadanya dengan seizin Nya apa yang Dia kehendaki.
Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana."
Berdasarkan ayat di atas, tiga metode tersebut adalah:
1. Pengiriman wahyu tanpa perantara, dalam keadaan ini makna dan
pengertian "yang diwahyukan" akan menyatu dalam diri "yang menerima
wahyu".
2. Pengiriman wahyu melalu perantaraan malaikat.
3. Menciptakan suara-suara yang bisa didengar oleh telinga dari balik tirai.
Selain kalam verbal, al-Qur'an al-Karim juga menganggap makhluk-makhluk
Tuhan sebagai kalimat-Nya dan kadangkala memperkenalkan Nabi Isa As
sebagai Kalamullah, ayat yang menjadi bukti hal ini adalah surah an-Nisa
ayat 171, Tuhan berfirman, "Sesungguhnya Al Masih 'Isa putra Maryam itu
adalah utusan Allah dan (yang terjadi) dengan kalimat Nya."
Kadangkala pula, keseluruhan makhluk dan nikmat-nikmat yang
diturunkan-Nya diungkapkan dengan Kalimatullah, pada surah Luqman ayat
27, Allah Swt berfirman, "Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi
pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi)
sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan)
kalimat Allah."
Dengan demikian, al-Qur'an menggunakan kalam
Ilahi ini dalam makna kalam yang terdengar dan juga dalam makna ciptaan
Ilahi (kalam perbuatan).
Selain itu, beberapa ayat juga
menunjukkan atas huduts-nya kalam Ilahi, dan dengan merujuk kepada
ayat-ayat ini, maka tertolaklah pendapat tentang ke-qidam-an kalam
Ilahi. Sebagai contoh, dalam surah al-Anbiya ayat 2, Allah berfirman,
"Tidak datang kepada mereka suatu ayat al-Qur'an pun yang baru
(diturunkan) dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya sedang
mereka bermain-main."
Dengan mempertimbangkan ayat-ayat
lainnya, antara lain surah Hajr ayat 9, yang menyebut al-Qur'an sebagai
dzikr yang berarti bahwa al-Qur'an dan pemberian sifat kepadanya dengan
sifat muhaddats (yang baru, yang tercipta) adalah menunjukkan pada
huduts-nya al-Qur'an.
Pada sebagian riwayat Ahlulbait As kita
menjumpai masalah huduts dan qidam-nya kalam Ilahi, para Imam Ahlulbait
As terkadang mengingatkan para sahabatnya untuk tidak memasuki
pembahasan yang mengandung ikhtilaf ini, karena pembahasan ini lebih
dimanfaatkan untuk unsur-unsur politik ketimbang sebagai pembahasan
aqidah dan pemikiran untuk menyingkap hakikat kebenaran, pembahasan ini
juga dimanfaatkan oleh kedua belah pihak untuk menyerang lawan
bicaranya. Oleh karena itu, Imam Ridha As ketika menjawab pertanyaan
salah satu sahabatnya tentang al-Qur'an, bersabda, "Jangan membahas
tentang kalam Tuhan (al-Qur'an), dan janganlah mencari hidayah selain
al-Qur'an karena pasti mengantarkan kepada kesesatan."[10]
Pada
sebagian riwayat Ahlulbait As mengemukakan tentang pendapat mereka,
sebagai contoh, Imam Hadi As dalam salah satu surat kepada sebagian
pengkutnya, bersabda, "Dan tiada Pencipta selain Allah dan selain-Nya
adalah makhluk, al-Qur'an al-Karim adalah kalam Tuhan dan janganlah Anda
meletakkan bagi-Nya suatu nama yang bisa menyebabkan Anda
tersesat."[11]
Pada riwayat yang lain, ketika Abu Basir
bertanya kepada Imam Shadiq As, "Apakah Tuhan berkalam sejak azal-Nya?"
Imam As bersabda, "Kalam Tuhan adalah hadis (tercipta). Tuhan ada
sebelum Dia berbicara, setelah itu Dia menciptakan kalam."[12]
Catatan Kaki:
[1] .Pendapat ini dinisbahkan kepada kelompok Hanbali.
[2]. Qadhi Abdul Jabbar Mu’tazilah ,dalam kitabnya berjudul Sharh
al-Usul al-Khamsah, menyatakan bahwa hakikat kalam adalah huruf yang
tersusun dan suara yang terpisah-pisah dan Tuhan Pemberi Nikmat jika
dipandang bahwa Dia memberikan nikmat yang kepada selain-Nya, dan Dia
juga Pemberi Rezki bila dilihat bahwa Dia yang memberikan rezki, Dia pun
Mutakallim kalau ditinjau bahwa Dia yang menciptakan kalam untuk selain
diri-Nya, maka dari itu, tidak perlu perbuatan-Nya menyatu dalam
dzat-Nya. Sharh al-Usul al-Khamsah, hal. 528, dinukil dari Muhadharaat
fil Ilahiyyat, hal. 154.
[3] . Untuk mempelajari
argumen-argumen Asy'ariyah atas wujud kalam nafsi serta kritikannya,
rujuklah kitab: Ibnu Maitsam Bahrani, Qawaid al maram fi ilmi Kalam, hl.
93; Manahijul Yaqiin, hal. 193 dan al-Muhadharat fil Ilahiyyat, hal.
158-162.
[4] . Biharul Anwar, jld. 4, hal. 150.
[5] . Untuk mengeritik dalil para pendukung ketemporalan kalam Ilahi, rujuklah: Muhadharat fil Ilahiyyat, hal. 167-170.
[6]. Hakim Lahiji menginterpretasikan kalam sebagai kodrat untuk
menciptakan suara-suara dan huruf-huruf, dan karena inilah sehingga
kalam disifati sebagai sifat yang eternal (Sarmoyeh-e Iman, hal. 49).
Akan tetapi pembahasan kita terfokus pada kalam sebagai salah satu sifat
perbuatan (bukan dzat), sedangkan interpretasi itu menyamakan sifat
kalam dengan sifat kodrat dan mengesampingkan kemandirian definisinya,
ringkasnya dia mengubah sifat perbuatan menjadi sifat dzat, dengan
demikian, kalam tidak bisa dikatakan sebagai sifat yang temporal.
[7] . Sepertinya, argumen ini murni membuktikan kodrat atas perkataan
Tuhan sehingga dari sini tidak bisa disimpulkan bahwa Tuhan adalah
mutakallim secara perbuatan.
[8] . Kashful Murad, hal. 315.
[9] . Qs. Al-Baqarah: 75, At-Taubah: 6, Fath: 16 dan Al-A'raaf: 144.
[10]. At-Tauhid, bab 30, hadits 2.
[11]. Ibid, hadits 4.
[12] . Biharul Anwar, J. 4, hal. 68.
Telaah Teologis atas Sifat-sifat Tuhan [8]
Sifat Benar dan Hikmah
Seiring dengan pembahasan kalam Ilahi, muncul pertanyaan tentang apakah
Tuhan senantiasa benar dalam setiap perkataan-Nya ataukah ada asumsi
akan kebohongan dan ketakbenaran di dalamnya? Kaum muslimin sepakat
bahwa di dalam kalam Ilahi tidak terdapat ketakbenaran maupun
kebohongan, dengan kata lain, perkataan bohong merupakan sebuah hal yang
terlarang dan mustahil bagi Tuhan. Dengan berpijak pada hal ini,
seluruh aliran-aliran Islam berpendapat bahwa shidq (benar) yang
bermakna: kesesuaian antara kalam dan kenyataan. Ini merupakan salah
satu sifat sempurna Tuhan.
Dengan memperhatikan sifat shidq dan
kemestiannya, terlihat adanya kepentingan dan manfaat yang sangat jelas
di dalamnya. Sifat ini pada hakikatnya sebagai landasan utama bagi
kepercayaan manusia kepada ajakan para Nabi, karena jika ada asumsi
kebohongan dan kepalsuan dalam kalam Ilahi, maka wahyu Tuhan akan
kehilangan keabsahan dan manusia tidak lagi mempercayai janji-janji
Tuhan dan tidak mungkin terdapat sejarah masa lampau maupun masa akan
datang dalam wahyu. Dengan adanya keraguan terhadap sifat shidq atau
pengingkaran terhadapnya, maka tidak ada validitas seluruh makrifat,
ilmu, dan hakikat kebenaran yang bersumber dari wahyu Ilahi dan
kitab-kitab suci.[1]
Shidq, Sifat Dzat atau Perbuatan?
Jawaban pertanyaan ini bergantung pada definisi kita tentang sifat
kalam, bisa dikatakan bahwa dua sifat ini setara dalam dzat dan
perbuatan. Oleh karena itu, kelompok Asy'ariyah yang meyakini kalam
nafsi dan menganggapnya sebagai sifat dzat, pasti akan menganggap sifat
shidq ini sebagai sifat dzat pula. Tentu saja sebagaimana yang
sebelumnya kami ungkapkan bahwa gambaran jelas tentang kalam nafsi tidak
akan tercapai jika tak dikembalikan kepada ilmu dan iradah, pada
kondisi ini, jika kalam diartikan sesuai dengan yang dimaksud Asy'ariyah
yaitu disamakan dengan ilmu Ilahi, maka makna shidq menjadi: kesesuaian
ilmu Tuhan dengan realitas luar (segala ciptaan-Nya); dan apabila sifat
ini kita kembalikan kepada iradah Ilahi, maka sifat shidq tidak akan
bermakna sama sekali, karena secara rasional kebenaran iradah tidak
terwujud (yakni iradah tidak memiliki kesesuaian dengan kenyataan
eksternal).
Akan tetapi, apabila kalam Ilahi kita anggap
sebagai sifat perbuatan, maka sifat shidq juga akan merupakan sifat
perbuatan. Pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan mengenai pendapat
yang benar bahwa kalam merupakan salah satu sifat perbuatan,
kesimpulannya, shidq pun merupakan salah satu sifat perbuatan.
Argumen Teolog atas Kebenaran Tuhan
Tidak diragukan lagi bahwa membuktikan sifat shidq dengan merujuk
kepada argumen naqli[2] akan mengakibatkan daur, karena validitas
dalil-dalil naqli itu bergantung kepada kebenaran Tuhan, maka dari itu,
pembuktian shidq Ilahi mustahil dirujukkan pada argumen naqli. Oleh
karena itu, satu-satunya cara yang bisa kita lakukan pada pembahasan ini
hanyalah menggunakan argumentasi rasional dan akal.
Para
teolog berbeda pendapat dalam metode argumentasi akal terhadap sifat
shidq Tuhan, dan ikhtilaf ini bersumber dari penerimaan atau penolakan
atas kebaikan dan keburukan akal (husn wa qubh aqli). Sebagian memandang
bahwa akal manusia secara mandiri (tanpa membutuhkan wahyu atau
syariat) mampu memahami kebaikan dan keburukan sebagian perbuatan, dan
mustahil Tuhan melakukan perbuatan-perbuatan yang menurut akal manusia
merupakan perbuatan tercela.[3] Sebagaimana yang akan kami katakan pada
pembahasan mendatang, para teolog dari kalangan Imamiah dan Mu'tazilah
mendukung pendapat ini, sementara Asy’ariyah menolaknya.
Menurut pendukung pendapat kebaikan dan keburukan akal, argumentasi
paling tepat atas kebenaran Tuhan bisa dievaluasi dalam bentuk sebagai
berikut:
Berkata bohong secara akal merupakan
perbuatan yang tercela (premis pertama) dan perbuatan yang tercela
mustahil dilakukan Tuhan (premis kedua), oleh karena itu, mustahil Tuhan
berkata bohong (silogisme).
Dengan melihat adanya pertentangan
antara bohong dan jujur, maka silogisme argumen di atas menjadi:
niscaya Tuhan berkata benar.
Syeikh Thusy juga menggunakan
argumentasi di atas untuk membuktikan kebenaran Tuhan, ia berkata,
"Penafian perbuatan tercela Tuhan menunjukkan kebenaran-Nya."[4]
Karena Asy'ariyah menolak kebaikan dan keburukan akal, maka argumentasi
tersebut adalah tak valid. Oleh karena itu, sebagian teolog berusaha
meramu argumentasi lain yang tidak berpijak pada kebaikan dan keburukan
akal. Sebagai contoh, dikatakan: Tak jujur dan bohong adalah aib, dan
mustahil terdapat aib pada Tuhan, oleh karena itu, tak jujur dan bohong
mustahil dilakukan Tuhan.
Kebenaran Ilahi Menurut Al-Qur'an
Al-Qur'an al-Karim dalam beberapa ayat menegaskan tentang Kebenaran
Tuhan, pada surah al-Hijr ayat 64, berfirman, "Dan Kami datang kepada
kamu dengan membawa kebenaran dan sesungguhnya Kami betul-betul
orang-orang yang benar."
Pada ayat lain dikatakan bahwa kalam
Ilahi merupakan perkataan yang paling benar, dalam surah an-Nisa ayat
87, Allah Swt berfirman, "Dan siapakah orang yang lebih benar
perkataannya dari pada Allah". Demikian juga pada surah yang sama ayat
122, berfirman, "Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan
siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah?"
Mungkin yang dimaksud dengan kemahabenaran Tuhan adalah perkataan-Nya,
jika dibandingkan dengan perkataan-perkataan benar selain-Nya, mampu
menjelaskan hakikat-hakikat secara lebih gamblang, rinci, dan dalam
bentuk yang sempurna.
Masalah ini ditegaskan pula pada
ayat-ayat lain, dikatakan bahwa Tuhan senantiasa jujur dan benar atas
janji-janji-Nya, sebagai contoh, terwujudnya janji Tuhan dalam membantu
kaum muslimin pada perang Uhud, Surah 'Ali Imran ayat 152, berfirman,
"Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-janji Nya kepada kamu."
Ayat-ayat berikut ini menunjukkan kebenaran mutlak Tuhan atas seluruh
janji-janji-Nya, surah 'Ali Imran ayat 9 dan surah ar-Ra'd ayat 31,
Allah Swt berfirman, "Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji."
Setelah mengevaluasi sifat shidq, kita akan membahas sifat hikmah yang merupakan sifat perbuatan lain yang dimiliki Tuhan.
Keragaman Makna Hikmah
Hikmah memiliki makna yang banyak, kita akan melakukan evaluasi sepintas terhadap makna-makna tersebut:
1. Salah satu makna hikmah atau bijaksana adalah makrifat dan mengenal
hakikat segala sesuatu. Dengan memperhatikan ilmu mutlak Tuhan, makna
ini benar untuk Tuhan akan tetapi sifat itu akan kembali kepada sifat
ilmu, dengan kata lain, hikmah dengan makna ini merupakan cabang dari
ilmu Ilahi.
2. Makna lain dari hikmah adalah segala perbuatan
dan aktifitas pelaku berdasarkan tujuan yang rasional dan layak
diterima. Penggunaan makna hikmah ini bagi Tuhan terdapat ikhtilaf dan
kelompok Asy'ari menentang hal ini. Akan diuraikan masalah ini
tersendiri pada pembahasan yang akan datang.
3. Makna ketiga
dari hikmah adalah aktifitas dan perbuatan pelaku memiliki tujuan kuat
dan sempurna. Pada makna ini Tuhan adalah hakîm; dan untuk
membuktikannya, selain dalil fenomena-fenomena yang teratur dan alam
natural yang menakjubkan serta kesempurnaan dan keindahan yang tak
terkira makhluk-makhluk Ilahi, kita juga bisa merujuk pada argumen akal.
Di bawah ini akan dijabarkan dua argumentasi:
Argumentasi pertama
Ketidaksempurnaan perbuatan bisa bersumber dari kebodohan pelaku pada
perbuatan itu, karena ketakmampuan pelaku atau karena pelaku sengaja
melakukan perbuatan tak bermakna dan sia-sia. Semua faktor-faktor
tersebut mustahil terjadi pada Tuhan, karena Dia Maha Mengetahui dan
Maha Kuat dan sebagaimana yang akan kami bahas selanjutnya, melakukan
perbuatan sia-sia mustahil bagi-Nya. Dengan demikian, seluruh faktor
yang disebutkan yang menyebabkan ketidaksempurnan perbuatan-Nya telah
ternafikan. Konklusi, semua perbuatan-Nya memiliki tujuan yang sempurna.
Argumentasi kedua
Antara setiap pelaku dan perbuatannya ada kesesuaian, karena perbuatan
pelaku pada hakikatnya merupakan manifestasi pelaku, oleh karena itu
pelaku yang sempurna dari segala dimensi (baca: Tuhan) niscaya
perbuatannya akan sempurna dari segala dimensi.
Hikmah Ilahi
dengan makna di atas telah ditegaskan pula oleh beberapa ayat dan hadis,
sebagai contoh kami akan mengetengahkan awal surah Hud, yang berfirman,
"Alîf lâm râ, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan
rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi
(Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu."
Imam Ali As
tentang hikmah Ilahi bersabda, "Segala yang diciptakan-Nya terukur
dengan sangat teliti setelah itu dikuatkan dan disempurnakan."[5] Dan
bersabda, "Tuhan dengan ilmu-Nya menciptakan seluruh makhluk dan dengan
hikmah-Nya mewujudkannya tanpa mengikuti, meniru atau belajar (dari
siapapun), Dia adalah Pencipta yang Maha Mengetahui."[6]
Konklusi dari hikmah Ilahi adalah kita mengetahui bahwa keteraturan alam
merupakan keteraturan yang paling sempurna dari keteraturan yang
mungkin ada, karena alam dengan seluruh keluasannya yang tak terhingga
merupakan hasil perbuatan Tuhan dan hikmah Ilahi mengharuskan bahwa
perbuatan-Nya mesti merupakan perbuatan yang terbaik dan paling
sempurna.
4. Makna hikmah yang keempat adalah menghindari
perbuatan tercela, hina, dan tak pantas. Dengan demikian hakim adalah
seseorang yang tidak melakukan perbuatan tercela dan tak terpuji.[7]
Dengan menyimak makna ini, sifat adil dengan makna menghindari perbuatan
zalim dan pemaksaan, pada dasarnya merupakan salah satu cabang hikmah
(dengan makna keempat). Dengan kata lain, hikmah (dengan makna terakhir)
mempunyai makna yang luas dimana sifat adil termasuk di dalamnya,
karena maknanya adalah Tuhan tidak melakukan perbuatan tercela seperti
bohong, mengingkari janji, berbuat zalim, dan sebagainya.
Perlu
diketahui bahwa aliran-aliran pemikiran Islam berbeda pendapat terkait
dengan makna-makna hikmah Tuhan di atas. Karena hikmah Ilahi (dengan
makna terakhir) berpijak pada prinsip "kebaikan dan keburukan perspektif
akal (husn wa qubh akli)" dimana kelompok Asy'ariah menolak prinsip
ini, tetapi Mu'tazilah dan Imamiah yang terkenal dengan 'Adliyah
mendukung prinsip ini dan sepakat bahwa Tuhan mustahil berbuat sesuatu
yang menurut akal manusia adalah perbuatan tercela. Dengan demikian,
meskipun Tuhan memiliki kemampuan melakukan perbuatan tercela, tetapi
kesempurnaan wujud-Nya menghalangi kehendak-Nya untuk melakukan
perbuatan tak terpuji, dengan kata lain dzat-Nya yang tak terbatas hanya
melahirkan perbuatan terpuji.
Pembahasan hikmah dengan makna terakhir secara terperinci akan disajikan pada pembahasan "Keadilan Ilahi".
Catatan Kaki:
[1] . Dengan kata lain, sifat ketuhanan yang ada pada wahyu merupakan bukti atas sifat shidq ini.
[2] . Argumen yang didasarkan pada ayat-ayat al-Qur’an dan
hadits-hadits Nabi dan Ahlulbait as, argumen ini lawan dari argumen aqli
(rasional).
[3]. Pembahasan lebih luas tentang " kebaikan dan keburukan " akan kami uraikan pada pembahasan mendatang.
[4] . Kasyful Murad, hal. 315.
[5]. Nahjul Balaghah, khotbah 89
[6]. Ibid, khotbah 191.
[7]. Kadangkala dari makna ini dita'birkan: Hakim adalah seseorang yang
tidak melakukan perbuatan tercela dan dia akan melakukan apa yang
seharusnya dengan seksama.
Telaah Teologis atas Sifat-sifat Tuhan [9]
Sifat-sifat Salbiyah (Negasi)
Pendahuluan
Hingga saat ini telah dibahas beberapa sifat-sifat tsubuti dzat atau
sifat perbuatan Tuhan, sekarang akan dibahas tentang sifat negasi
(salbi) Tuhan. Telah dikatakan sebelumnya bahwa disetiap sifat negasi
pada dasarnya menafikan ketaksempurnaan dan keterbatasan Tuhan, karena
negasi bertemu negasi akan berakhir pada penegasan kesempurnaan Tuhan.
Maka dari itu, konsekuensi seluruh sifat negasi kembali pada satu makna
yang diistilahkan dengan penafian ketaksempurnaan (al-salb al-naqsh)
atau penafian keterbatasan (al-salb al-mahdudiyah).
Meskipun secara sepintas sifat-sifat negasi Tuhan tak terhitung
banyaknya, di bawah ini hanya akan dibahas beberapa sifat-sifat utama,
antara lain:
1. Penafian komposisi dan sifat-sifat tambahan pada dzat;
2. Penafian jasmani;
3. Penafian arah dan tempat;
4. Penafian reinkarnasi Tuhan pada makhluk;
5. Penafian penyatuan Tuhan dengan makhluk;
6. Penafian aksidensi pada dzat-Nya;
7. Penafian kelezatan dan penderitaan;
8. Penafian rukyat (terlihat).[1]
Argumen Umum atas Sifat-Sifat Negasi
Sebelum membahas sifat-sifat negasi, perlu ditekankan bahwa dengan
kembalinya sifat-sifat ini pada satu makna yaitu negasi ketaksempurnaan
dan keterbatasan, maka argumentasi umum atas seluruh sifat negasi bisa
diketengahkan sebagai berikut:
Tuhan adalah wujud mutlak yang
memiliki seluruh kesempurnaan wujud, oleh karena itu, pada dzat-Nya
tidak terdapat ketidaksempurnaan dan keterbatasan. Maka dari itu, setiap
makna yang mengarah pada ketaksempurnaan-Nya niscaya ternafikan dari
dzat-Nya. Sifat negasi tidak lain adalah penafian ketaksempurnaan dan
keterbatasan, maka kesempurnaan mutlak Tuhan mengharuskan penyandaran
segala sifat negasi pada-Nya. Dengan demikian, sebagaimana telah
dibuktikan keberadaan seluruh sifat tsubuti dengan satu argumentasi,
maka bisa pula dibangun argumentasi umum atas sifat-sifat negasi ini.
Sekarang mari kita tengok satu persatu sifat-sifat negasi sebagaimana yang telah kami cantumkan sebelumnya:
1. Penafian komposisi dan sifat tambahan pada dzat
Masalah ini telah dibahas terperinci dalam pembahasan tauhid dzat dan sifat, adalah tidak urgen untuk mengulangnya kembali.
2. Penafian jasmani
Mayoritas kaum muslim menganggap bahwa Tuhan suci dari sifat-sifat
jasmani. Terdapat minoritas muslim yang berpendapat bahwa Tuhan memiliki
jasmani, kelompok ini dikenal dengan "Mujassimah". Argumentasi akurat
yang digunakan menafikan sifat jasmani pada Tuhan adalah karena setiap
benda (jism) mempunyai tiga dimensi yaitu panjang, lebar, dan tinggi.
Berdasarkan hal ini, wujud benda tersebut tersusun dari bagian-bagian,
dengan demikian setiap benda memiliki komposisi. Telah terbukti bahwa
Tuhan tidak berkomposisi, oleh karena itu, terbukti bahwa Tuhan bukanlah
benda atau jasmani. Berdasarkan hal ini, manusia tidak boleh
menggambarkan Tuhan sebagai sebuah wujud bendawi atau berjasmani,
melainkan Dia adalah sebuah realitas non-materi dan metafisik (mujarrad)
yang tidak terpengaruh hukum-hukum materi.
3. Penafian arah dan tempat
Maksud dari sifat ini adalah Tuhan tidak berada pada arah tertentu dan
tidak bertempat. Kelompok Mujassimah berpendapat bahwa Tuhan terletak
pada arah tertentu dan kelompok Karramiyyah percaya bahwa Dia senantiasa
berada di atas.[2]
Salah satu argumen bahwa Tuhan tidak
berarah dan bertempat adalah bahwa sifat-sifat tersebut hanya dimiliki
oleh benda dan jasmani, sementara Tuhan bukan benda dan materi. Setiap
bagian dari bagian-bagian benda ialah saling membutuhkan dan Tuhan
adalah Wâjib al-Wujûd yang tak membutuhkan.
4. Penafian reinkarnasi Tuhan pada makhluk
Tuhan tidak reinkarnasi pada eksistensi yang lain. Seluruh aliran Islam
sepakat dalam hal ini, kecuali hanya beberapa dari ahli tasawuf yang
mempercayai reinkarnasi Tuhan pada selain-Nya.
Salah satu
argumen para teolog atas penafian reinkarnasi Tuhan ini bersandar pada
makna umum reinkarnasi, dimana sesuatu yang akan melakukan reinkarnasi
senantiasa membutuhkan wadah atau sesuatu untuk reinkarnasi, kebutuhan
terhadap wadah ini bersifat tetap dan esensial. Karena Tuhan Maha Kaya
dan tidak butuh atas sesuatu, maka Dia mustahil reinkarnasi pada
selain-Nya.
5. Penafian penyatuan dengan makhluk
Tuhan tidak menyatu dengan wujud selain-Nya, seluruh aliran Islam
sepakat dalam masalah ini. Salah satu argumen tentang hal ini adalah
apabila maksud dari penyatuan (ittihâd) bermakna majazi, yakni penyatuan
dua wujud atau perubahan bentuk sesuatu, maka makna ini meniscayakan
adanya perubahan dan penyusunan, sementara dzat suci Ilahi bebas dari
hal semacam ini, karena menggambarkan ketidaksempurnaan dan kebutuhan.
Dan apabila maksud dari penyatuan (ittihâd) ini bermakna hakiki, yaitu
perubahan dua dzat menjadi dzat tunggal, maka makna seperti ini bukan
saja mustahil terjadi pada Tuhan bahkan pada seluruh maujud.[3]
6. Penafian aksidensi pada dzat Tuhan
Dzat Tuhan bukan wujud yang terkait dengan hal-hal temporal dan
sifat-sifat aksiden. Berdasarkan hal ini, tak satupun dari sifat-sifat
Tuhan merupakan sifat aksiden dan temporal. Salah satu argumen yang
dikemukakan oleh teolog terhadap penafian sifat temporal ini adalah
bahwa aksidensi atau melekatnya sifat temporal atas dzat tertentu akan
mengharuskan pada dzat itu adanya potensi untuk menerima sifat tersebut,
dan potensi ini merupakan karakteristik maujud-maujud materi. Oleh
karena itu, aksidensi atau melekatnya sifat pada dzat Tuhan mengharuskan
kematerian dzat-Nya, sedangkan dzat suci Ilahi bukan materi.
Salah satu kesimpulan penafian aksidensi dan hal-hal temporal pada dzat
Ilahi ini adalah bahwa seluruh sifat-sifat Tuhan adalah pre-eternal dan
azali (qadim).
7. Penafian kelezatan dan penderitaan
Tuhan tidak merasakan kelezatan dan juga tidak merasakan penderitaan. Kelezatan dan penderitaan secara umum terbagi dua:
Pertama, kelezatan atau penderitaan alami yang khusus dimiliki oleh
maujud-maujud materi yang hidup seperti manusia dan hewan, dan karena
Tuhan bukan substansi materi, kelezatan dan penderitaan semacam ini
tidak terjadi pada dzat-Nya.
Kedua, kelezatan dan penderitaan
akal yang maksudnya adalah sesuatu yang berakal memahami hal-hal yang
sesuai maupun yang tidak sesuai baginya. Tak ada keraguan bahwa
kelezatan dan penderitaan akal ini mustahil terdapat pada Tuhan, karena
seluruh keberadaan merupakan akibat dan makhluk-Nya dan antara sebab dan
akibat atau antara Khalik dan makhluk mustahil terdapat perselisihan
dan pertentangan. Oleh karena itu, tak satupun maujud di alam ini
bertentangan dengan dzat Tuhan sedemikian sehingga ketika Dia memahami
perbedaan dan pertentangan itu akan menyebabkan penderitaan akal
bagi-Nya.
Akan tetapi apakah Tuhan memiliki kelezatan akal,
terdapat perselisihan pendapat. Sebagian teolog sependapat dengan para
filosof[4] dalam hal ini dan mengatakan bahwa dzat Tuhan adalah puncak
kesempurnaan dan keindahan, maka "pemahaman" Tuhan terhadap dzat-Nya
sendiri identik dengan "pemahaman-Nya" atas eksistensi[5] yang setara
dengan kesempurnaan dzat Tuhan, karena terwujudnya kesetaraan yang
paling sempurna antara eksistensi dengan diri-Nya sendiri, maka
"hadirlah" kelezatan akal bagi Tuhan.[6]
Kelompok yang lain
meskipun mereka menerima prinsip ilmu Tuhan terhadap kesempurnaan
dzat-Nya sendiri, tetapi mereka menolak adanya kelezatan pada Tuhan,
karena dalam al-Qur'an dan hadis tidak terdapat sifat seperti ini bagi
Tuhan, Allamah Hilli dalam kitab asy-Syarh Tajrid al-I'tiqad mengatakan,
"Kelezatan dengan makna memahami hal-hal yang sesuai bagi-Nya,
merupakan kesepakatan para filosof awal, karena Tuhan mengetahui
eksistensi yang paling sempuna, yaitu dzat-Nya sendiri, maka berdasarkan
pengetahuan ini Dia merasakan kelezatan. Dan ini merupakan perspektif
Ibnu Nubakht dan sebagian teolog, meskipun penggunaan kata kelezatan
bagi Tuhan mesti memerlukan ketetapan-Nya."[7]
Walhasil, makna
yang digunakan untuk kelezatan dan penderitaan adalah makna pertama, dan
menegaskan bahwa Tuhan tidak bisa disifati dengan kelezatan dan
penderitaan sebagaimana menyifati makhluk-Nya
8. Penafian rukyat
Tuhan tidak bisa terlihat. Sifat ini merupakan salah satu pembahasan
menarik dalam sifat-sifat negasi Tuhan, dan terdapat perselisihan
pendapat yang sangat tajam dalam masalah ini. Para teolog Imamiah dan
Mu'tazilah sepakat bahwa Tuhan, baik di dunia maupun di akhirat, tidak
bisa dilihat secara inderawi. Berhadapan dengan pendapat ini, aliran
Mujassimah yang menganggap Tuhan memiliki jasmani, tempat, dan arah,
sepakat tentang adanya kemungkinan melihat Tuhan secara inderawi baik di
dunia maupun di akhirat. Ahli Hadis dan pengikut Asy'ari mengambil
jalan tengah antara keduanya dan sepakat bahwa di akhirat manusia kelak
akan menyaksikan Tuhan dengan mata kepala sendiri, dalam masalah ini
Asy'ari mengatakan, "Kami sepakat bahwa di akhirat Tuhan akan dapat
dilihat oleh mata inderawi, sebagaimana terlihatnya bulan purnama pada
malam hari dan para mukmin akan melihat Dia".[8]
Dengan
memperhatikan bahwa masing-masing aliran di atas selain berusaha
memaparkan argumen rasional dan menegaskan klaimnya dengan teks suci,
mereka juga mengeritik argumentasi yang diajukan oleh kelompok lainnya,
hal ini membuat pembahasan rukyat menjadi meluas. Di sini akan diringkas
dan mencukupkan membahas sebagian argumentasi tentang kemustahilan
rukyat Tuhan secara inderawi, dan pembahasan ini akan kami lanjutkan
dalam perspektif Qur'ani.[9]
Inti perselisihan pada pembahasan
ini terletak pada rukyat Tuhan dengan bantuan penglihatan mata inderawi.
Tapi apabila maksud dari rukyat adalah penyaksian kalbu dan mukasyafah
batin, maka tidak ada perbedaan dalam masalah ini, dan rukyat semacam
ini diistilahkan dengan "rukyat kalbu" yang berlawanan dengan "rukyat
inderawi". Rukyat kalbu mungkin terjadi di dunia maupun di akhirat.
Dengan merujuk perspektif kontemporer Asy'ari, menjadi jelas bahwa
mereka dengan memperhatikan kemustahilan rukyat inderawi, berusaha untuk
menafsirkan kembali kata rukyat ini dengan mengatakan bahwa substansi
pembahasan adalah rukyat inderawi yang tidak membutuhkan obyek lansung
sehingga menempatkan obyek penglihatan (Tuhan) pada ruang dan arah.[10]
Sebagian mengklaim bahwa Tuhan pada hari kiamat kelak terlihat dengan
mata sebagaimana keadaan yang dicapai akal para mukmin terkait dengan
penyaksian batin cahaya wujud Ilahi.[11] Bagaimanapun, tafsiran
kontemporer Asy'ari tentang rukyat Tuhan identik dengan rukyat kalbu
atau setara dengan makna irasional dan tak bisa digambarkan.[12]
Argumen Kemustahilan Rukyat Inderawi Tuhan
Banyak argumen akal yang telah dibangun untuk menegaskan kemustahilan rukyat Tuhan, di sini hanya disebutkan dua argumen:
1. Penglihatan inderawi terhadap suatu benda mengharuskan benda itu
berada di hadapan mata kita dan hadirnya benda itu di hadapan kita
mengharuskannya berada pada arah tertentu. Oleh karena itu, penglihatan
inderawi memestikan keberadaan arah. Sebagaimana yang telah dikatakan
bahwa Tuhan tidak berarah dan bertempat, dengan demikian rukyat inderawi
terhadap Tuhan adalah mustahil.
2. Apabila Tuhan bisa dilihat,
berarti seluruh dzat-Nya bisa dilihat atau hanya sebagian dzat-Nya
dapat dilihat. Asumsi kedua adalah salah, karena mengharuskan adanya
komposisi pada dzat Tuhan. Asumsi pertama juga tak logis, karena
membatasi dzat Tuhan sedangkan dzat Tuhan adalah tak terbatas.
Pada akhir pembahasan ini, diingatkan bahwa sifat negasi Tuhan tidak
terbatas pada apa yang telah disebutkan, melainkan setiap sifat yang
mengandung makna ketaksempurnaan dan keterbatasan Tuhan. Tuhan tak
terikat waktu, tidak membutuhkan, tidak terefek oleh apapun, penafian
sekutu, dan penafian lawan atas-Nya serta berpuluh-puluh sifat negasi
lainnya bisa ditetapkan dengan berpijak pada keniscayaan wujud Tuhan dan
sifat-sifat sempurna-Nya.
Sifat Negasi dalam Al-Qur'an
Kalimat "tasbih Tuhan" banyak digunakan dalam al-Qur'an dengan makna
bahwa menjauhkan-Nya dari setiap keterbatasan dan ketidaksempunaan. Pada
sebagian ayat disebut sifat "Quddus (Maha Suci)" untuk Tuhan yang
menunjukkan puncak kesucian dzat Ilahi dari kekurangan dan ketercelaan.
Sebagai contoh, dalam surah al-Hasyr berfirman, Dialah Allah yang tiada
Tuhan selain Dia, Raja, yang Maha Suci, yang Maha Sejahtera, yang
Mengaruniakan Keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha perkasa, yang
Maha Kuasa, yang memiliki segala Keagungan, Maha suci Allah dari apa
yang mereka persekutukan." (Qs. Al-Hasyr: 23)
Tentunya sifat
quddus bukan hanya merupakan penjelas bagi negasi ketaksempurnaan Tuhan,
tetapi sifat ini bermakna luas yang termasuk penafian terhadap segala
bentuk ketaksempurnaan dalam perbuatan, mekanisme takwini (alam
penciptaan), dan tasyri'i (syariat) Tuhan. Berdasarkan hal ini, keluasan
pembahasannya melebihi keluasan sifat-sifat negasi.
Selain menegaskan negasi umum seluruh ketaksempurnaan dzat dan
perbuatan Tuhan, al-Qur'an juga menegaskan tentang sebagian dari
sifat-sifat negasi khusus, sebagai berikut:
1. Tuhan tidak bertempat
Dengan mengamati sebagian ayat, akan jelas menunjukkan bahwa Tuhan
tidak terikat terhadap tempat. Misalnya, setelah terjadinya perubahan
kiblat untuk muslimin dari Baitul Muqaddas ke arah Ka'bah, Tuhan
menurunkan ayat pada Nabi-Nya saww untuk menjawab kritikan para
penentangnya yaitu kaum Yahudi, Tuhan berfirman, Dan kepunyaan Allah-lah
timur dan barat, Maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha mengetahui." (Qs.
Al-Baqarah: 115)
Dari ayat ini bisa disimpulkan bahwa Tuhan
lebih baik dari apa yang terletak pada tempat tertentu. Secara lahiriah,
maksud dari "timur" dan "barat" di sini bukanlah dua arah geografi,
melainkan merupakan kinayah dari seluruh arah, sedangkan ungkapan "Maka
kemanapun kamu menghadap, di situlah wajah Allah" bisa diketahui dengan
jelas bahwa Tuhan hadir di mana saja. Ayat di atas secara keseluruhan
menjelaskan bahwa fungsi kiblat untuk memusatkan konsentrasi dan
perhatian para mukmin ketika melakukan shalat, bukan bermakna bahwa
Tuhan terletak pada tempat dan arah tertentu, karena Dia hadir pada
semua tempat dan mengetahui segala sesuatu. Tentunya, karena Tuhan bukan
realitas berkomposisi dan bermateri, kehadiran-Nya pada semua tempat
tidak bermakna bahwa Tuhan menempati seluruh tempat tapi bermakna bahwa
Tuhan meliputi semua tempat atau sesuatu yang tak tempat. Pada sisi
lain, dengan memperhatikan bahwa peletakan dua benda pada satu tempat
merupakan hal yang mustahil. Kehadiran Tuhan pada seluruh alam materi
dan jasmani yang telah dipenuh oleh berbagai benda, menunjukkan
ketidakmaterian-Nya.
Ayat yang membicarakan tentang kebersamaan
Tuhan dan makhluk-Nya juga menghikayatkan bahwa Tuhan tidak bertempat,
"… dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. dan Allah Maha melihat
apa yang kamu kerjakan." (Qs. Al-Hadid: 4)
Jelas bahwa
kebersamaan Tuhan dengan semuanya, tidak sesuai dengan keterbatasan-Nya
pada tempat tertentu, karena jika sebuah eksistensi terbatasi oleh
tempat tertentu, maka dia mustahil bersama dengan seluruh eksistensi
lainnya pada saat yang bersamaan. Jadi maksud dari kebersamaan ini
adalah kebersamaan Tuhan yang bersifat mewujudkan (qayyumi) dan yang
bersifat meliputi (ihâtha) yang bersumber dari keniscayaan wujud dan
ketakterbatasan wujud-Nya.
2. Tuhan tidak bisa dirukyat
Ayat al-Qur'an yang paling tegas menafikan kemungkinan rukyat (melihat)
Tuhan adalah, "Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang
Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah yang Maha Halus lagi
Maha mengetahui." (Qs. Al-An'am: 103)
Pada ayat ini dengan
tegas dijelaskan bahwa Tuhan melihat seluruh penglihatan dan memiliki
ilmu yang meliputi mereka akan tetapi penglihatan mereka tidak mampu
mencapai-Nya. Secara lahiriah, maksud bahwa penglihatan tidak mampu
mencapai-Nya adalah ketidakmampuan manusia untuk melihat-Nya melalui
perantara mata. Hal ini berujung pada penafian rukyat inderawi dan
mungkin kata jamak "penglihatan-penglihatan (abshâr)" pada ayat ini
menunjukkan bahwa dengan kuantitas dan keanekaragaman penglihatan, tetap
saja tak satupun mata yang mampu melihat Tuhan. Ayat lain yang tegas
menafikan kemungkinan rukyat inderawi Tuhan, pada surah Al-A'raf,
berfirman, "Dan tatkala Musa datang (untuk bermunajat dengan Kami) pada
waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung)
kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku
agar aku dapat melihat-Mu". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak
akan sanggup melihat-Ku." (Qs. Al-A'raf: 143)
Dengan
memperhatikan ayat-ayat lain al-Qur'an[13] menjadi jelas bahwa pada
dasarnya dalam permintaannya tersebut, Musa as menyampaikan apa yang
menjadi permintaan Bani Israil, dan dalam menjawab permintaan tersebut,
Tuhan dengan tegas berfirman bahwa: "Kamu sekali-kali tidak akan sanggup
melihat-Ku."
Ayat semacam ini dengan tegas menafikan rukyat
Tuhan, ayat ini tergolong ayat muhkamah (ayat yang memiliki makna yang
jelas, tegas, dan transparan) sehingga ayat-ayat mutasyabihah (lawan
dari ayat muhkamah) yang dipahami mengarah pada adanya kemungkinan
melihat Tuhan, harus disandarkan dan ditafsirkan berdasarkan makna ayat
di atas (ayat muhkamah).[14] Sebagai contoh, Asy'ari menggunakan
ayat-ayat di bawah ini untuk membuktikan klaimnya, Wajah-wajah
(orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah
mereka melihat." (Qs. Al-Qiyamah: 22-23)
Dalam menjawab
pernyataan Asy'ari dikatakan bahwa kata dasar "nazhar" ketika bergabung
dengan huruf "ila" akan menjadi kata kerja yang membutuhkan obyek
(muta'addi). Sebagaimana kata "nazhar" bisa bermakna "melihat",
"menunggu", dan "mengharap". Dengan konteks yang ada pada ayat 25 pada
surah yang sama, maka maksud dari ayat di atas adalah bahwa kelompok ini
tengah mengharap rahmat Tuhan sedangkan kelompok lainnya (yang
keadaannya dijelaskan pada ayat 25) tengah menunggu adzab yang pedih
dari Tuhan. Dengan memperhatikan poin ini, dan khususnya argumen akal
yang pasti atas kemustahilan rukyat dan ayat-ayat muhkamah, menjadi
jelaslah bahwa ayat yang dijadikan dasar argumentasi Asy'ari tidak
terkait dengan asumsi mereka.[15]
Sifat Negasi dalam Riwayat
Sifat negasi Tuhan juga disajikan dalam berbagai hadits Ahlulbait Nabi
as secara lebih luas dan tegas, di sini kami hanya membahas sepenggal
dari hadits-hadits tersebut. Dalam salah satu hadits, Imam Sadhiq as
bersabada, "Sesungguhnya Allah tidak bisa disifati dengan waktu, tempat,
gerak, diam, dan perpindahan, melainkan Dia adalah pencipta waktu,
tempat, gerak, diam, dan perpindahan. Allah lebih tinggi dari apa yang
disifatkan oleh orang-orang zalim".[1]
Sebagaimana yang bisa
diperhatikan dari hadits tersebut, Imam Shadiq as dalam hadits itu
menegaskan tentang penafian waktu, tempat, gerak, dan perubahan bagi
dzat Tuhan, dan yang menarik perhatian di sini, di samping penafian
gerak, sifat "diam" juga dinegasikan dari Tuhan yang hal ini merupakan
penjelas atas negasi gerak Tuhan, negasi gerak bagi Tuhan bukan bermakna
adanya sifat diam untuk-Nya. Perlawanan dari dua sifat ini (negasi
gerak dan diam) disebut dalam ilmu logika dengan perlawanan ketiadaan
dan kepemilikan (taqâbul 'adam wa malakah, privation and possession
opposite) yakni apabila sebuah maujud tidak bisa disifati dengan salah
satu dari dua sifat tersebut, maka dia mustahil disifati dengan yang
satunya lagi.
Imam Ali as dalam satu hadits menyebutkan tentang
sifat-sifat negasi Tuhan, bersabda, "Makna Shamad adalah bahwa Tuhan
tak bernama, tak berjasmani, tak memiliki kesamaan, tak berwajah, tak
terbatas, tak bertempat, tak bersubstansi, tak di sini, tak di sana, tak
memenuhi tempat dan tak mengosongkan tempat, tak berdiri dan tak duduk,
tak bergerak dan tak diam, tak gelap dan tak terang, bukan ruh dan
bukan jiwa, semua tempat diliputi oleh-Nya, tak tempat yang mampu
menampung-Nya, tak berwarna dan tak terbayang dalam kalbu seseorang dan
tak ada aroma yang tercium dari-Nya, semua hal-hal ini ternafikan
dari-Nya".[2]
Mengenai sebagian dari sifat negasi khusus,
seperti negasi jasmani atau penafian rukyat, terdapat pula beragam
hadits dari Ahlulbait as. Sebagai contoh, dalam salah satu hadits
dikatakan bahwa salah satu sahabat Imam Shadiq as menukilkan perkataan
Hisyam bin Hakam mengenai kejasmanian Tuhan di hadapan Imam as. Imam as
bersabda, "Celakalah dia (Hisyam bin Hakam)! Apakah dia tidak mengetahui
bahwa badan dan wajah adalah terbatas? Apabila (sebuah benda) memiliki
batas, maka dia akan menerima sifat kuantitas (banyak dan sedikit) dan
setiap yang berkuantitas, pastilah makhluk". Perawi mengatakan, aku
berkata (kepada Imam), "Lalu apa yang harus aku katakan?" Imam bersabda,
"Dia tak berbadan dan tak berwajah, melainkan yang menciptakan badan
dan mewujudkan wajah, Dia tidak bisa dibagi-bagi, dibatasi, dan
diperbanyak atau dikurangi. Apabila benar apa yang dikatakannya (Hisyam)
maka tidak ada perbedaan antara Pencipta dengan yang diciptakan
(makhluk), sementara Dia adalah Khalik dan terdapat perbedaan antara
badan dan yang menciptakan badan, karena tak sesuatupun yang serupa
dengan Tuhan dan Tuhanpun tidak identik dengan sesuatu".[3]
Dengan merenungkan hadits ini, ditemukan pemahaman yang mendalam yang
mengisyarahkan dua argumentasi Imam as atas penafian kematerian Tuhan.
Ringkasan dari argumentasi pertama adalah bahwa kematerian mengharuskan
keterbatasan dan keterbatasan artinya menerima kelebihan dan kekurangan
dan hal-hal ini adalah sifat makhluk. Oleh karena itu, konsekuensi dari
asumsi kejasmanian dan kematerian Tuhan adalah bahwa Dia merupakan
makhluk, sementara Tuhan adalah Khalik dan Pencipta, bukan makhluk.
Pada argumentasi kedua, dalam ibarat "Jika benar apa yang dikatakannya
(Hisyam), maka tidak ada …" dikatakan bahwa Tuhan adalah Pencipta badan,
dan apabila Tuhan berbadan, maka konsekuensinya adalah bahwa Khalik dan
makhluk mempunyai persamaan dalam kejasmanian. Dengan adanya persamaan
dan keserupaan seperti ini maka tidak sesuai dengan asumsi bahwa Tuhan
adalah Pencipta dan makhluk sebagai yang tercipta.
Mengenai
negasi tempat dan waktu, terdapat hadits yang memiliki makna mendalam.
Di antaranya, hadits dari Imam Kadhim as, Imam bersabda, "Sesungguhnya
Allah telah ada sejak azal tanpa tempat dan waktu, dan sekarangpun
demikian. Tak ada tempat yang kosong dari-Nya dan pada saat yang
bersamaan Dia tak memenuhi tempat dan tak bergabung dengan tempat ".[4]
Dengan melihat ibarat terakhir dari Imam as ini, menjadi jelas bahwa
maksud dari "Tak ada tempat yang kosong dari-Nya" bukan bermakna bahwa
Tuhan berada pada semua tempat, melainkan ungkapan ini mengisyarahkan
cakupan dan kepenciptaan Tuhan dan menegaskan bahwa seluruh maujud
berada di hadapan-Nya.
Terdapat banyak hadits yang
menyajikan tema-tema seputar penafian rukyat Tuhan secara inderawi[5],
di bawah ini akan kami sebutkan beberapa hadits:
Imam
Ali as dalam menjawab pertanyaan dari salah satu sahabatnya yang bernama
Dza'lab Yamani yang bertanya, "Apakah Anda melihat Tuhan?", Imam as
bersabda, "Apakah aku menyembah sesuatu yang tidak terlihat?" Dza'lab
bertanya, "Bagaimana engkau melihat-Nya?" Imam bersabda, "Penglihatan
lahiriah tidak akan mampu mencapai-Nya, tetapi kalbu dengan hakikat iman
akan memahami -Nya".
Dari Imam Asykari as diriwayatkan suatu
hadits dalam jawaban atas pertanyaan, "Bagaimana manusia bisa menyembah
Tuhannya sedangkan dia tidak dapat melihat-Nya?", beliau bersabda,
"Tuhanku Yang Maha Penyayang, Dia memberikan nikmat-Nya kepadaku dan
kepada orang tuaku lebih baik dari apa yang terlihat (oleh mata
lahiriah)."[6]
Catatan Kaki:
[1] . Biharul Anwar, jilid 3, hal. 309, hadits 1.
[2] . Ibid, jilid 3, hal. 320, hadits 21.
[3] . At-Tauhid, bab keenam, hadits 7. Shaduq dalam bab ini memaparkan
duapuluh riwayat tentang penafian kejasmanian Tuhan, demikian pula rujuk
kitab: Ushul al-Kafi, kitab at-tauhid, bab an-nahi 'an al-jism wa
as-surah.
[4] . At-Tauhid, bab 28, hadits 12.
[5] .
Untuk mempelajari riwayat yang berkaitan dengan ru'yat, rujuklah: Idem,
bab 8, dan juga Ushul al-Khafi, kitab at-Tauhid, bab Ibthal ar-Ru'yah.
[6] . At-Tauhid, bab 8, hadits 2.
Kebaikan dan Keburukan dalam Penilaian Akal [10]
Perbuatan-perbuatan Tuhan
Perspektif Umum Perbuatan Tuhan
Setelah kita membahas bagian terpenting dalam masalah sifat dzat dan
perbuatan Tuhan, sebelum membahas perbuatan Tuhan, terlebih dahulu kita
kemukakan kerangka umum pembahasan. Sebagaimana dalam pembahasan sifat
Tuhan, pembahasan ini juga akan kita bagi dalam dua tahapan secara umum,
pertama, pembahasan perbuatan Tuhan secara umum, kedua, pembahasan
secara khusus yang berkaitan dengan salah satu perbuatan Tuhan.
Pada tahap pertama, kita bisa pahami bahwa tidak termasuk di dalamnya
perbuatan yang dikhususkan kepada Tuhan semata, tetapi secara umum
berkaitan dengan hukum-hukum perbuatan itu sendiri. Sementara dalam
tahapan kedua berhubungan dengan perbuatan khusus seperti perbuatan
memberikan petunjuk (hidayah) dan menyesatkan (dhalâlah) Tuhan.
Dengan merujuk kembali pada pembahasan yang sudah kita lakukan dalam
masalah pengetahuan ketuhanan ini, akan jelas bahwa sebagian dari
pembahasan-pembahasan lalu, dari satu sisi juga telah memuat
masalah-masalah perbuatan Ilahi. Sebagai contoh, pembahasan tauhid
perbuatan Tuhan dan kaitannnya dengan perbuatan aktif Tuhan dan
perbuatan aktif makhluk-Nya, secara umum berada dalam lingkup pembahasan
perbuatan Tuhan. Demikian juga, pembahasan tentang sifat-sifat
perbuatan, pada dasarnya berhubungan dengan kelompok kedua, yakni
pembahasan khusus atas perbuatan Tuhan.
Sebagian dari
pembahasan tentang perbuatan Tuhan telah kita bahas, karena itu tidak
akan dibahas lagi di sini. Di sisi lain, ketika merujuk kepada sumber
asli ilmu kalam kita saksikan bahwa umumnya pembahasan-pembahasan yang
diuraikan berada dalam kelompok pertama, yaitu pembahasan perbuatan
Tuhan secara umum, sedangkan penguraian pembahasan yang dikhususkan
berkaitan dengan perbuatan khusus Tuhan, hanya sedikit dibahas.
Berdasarkan hal tersebut, dan dengan memperhatikan keterbatasan tulisan
ini maka kita juga mencukupkan diri dengan mengungkapkan begian
terpenting dari pembahasan perbuatan Tuhan secara umum.[1]
Kebaikan dan Keburukan dalam Penilaian Akal
Sebagai pendahuluan, dipandang perlu untuk membahas terlebih dahulu
masalah kebaikan dan keburukan dalam penilaian akal sebagai mukadimah
pembahasan tentang perbuatan Tuhan. Karena sebagaimana yang akan Anda
saksikan nanti, posisi secara umum pembahasan-pembahasan mendatang,
berada di seputar pandangan yang kami pilih dalam masalah ini.
Kebaikan dan keburukan dalam penilaian akal (husn wa qubh 'aqli)
merupakan salah satu pembahasan klasik dan rumit dalam teologi Islam dan
menjadi diskusi yang berkepanjangan dikalangan para ilmuan. Para teolog
Imamiah dan Mu'tazilah merupakan pendukung konsep kebaikan dan
keburukan dalam penilaian akal (husn wa qubh 'aqli). Berdasarkan
pandangan ini, akal bisa menghukumi mana sebuah perbuatan yang baik dan
buruk dengan tanpa bantuan dan bimbingan syariat. Menurut teori ini,
Tuhan tidak mungkin melakukan perbuatan yang tidak baik dan buruk.
Sementara Asy'ariah mengatakan bahwa kemampuan akal dalam menentukan
baik dan buruknya sebuah perbuatan tidak memiliki independensi sama
sekali, dan meyakini bahwa yang ada hanyanya baik dan buruk yang
ditentukan agama. Dalam pandangannya, perbuatan dikatakan baik apabila
dihukumi oleh syariat adalah baik dan perbuatan disebut buruk jika
dikatakan oleh syariat ialah buruk. Akal manusia dalam konteks ini,
tidak mampu mendeteksi dan menentukan baik dan buruknya suatu perbuatan,
bahkan yang menjadi syarat keutamaan suatu perbuatan tersebut adalah
kebergantungannya pada perintah dan larangan Tuhan.
Sebelum
kita menjelaskan argumentasi kedua kelompok tersebut alangkah baiknya
kalau kita lebih dahulu memberikan definisi tentang kebaikan dan
keburukan serta aplikasinya sehingga kita bisa mendudukkan letak
perselisihan dan perbedaan kedua kelompok itu dengan tepat. Dengan ini,
pembahasan akan lebih jelas dan gamblang.
Makna Kebaikan dan Keburukan serta Aplikasinya
Sebenarnya makna kebaikan dan keburukan itu sudah sangat jelas bagi
setiap orang dan tidak perlu diberikan definisi, yang penting di sini
adalah penggolongan pengaplikasian kedua makna itu sehingga menjadi
jelas hubungan pembahasan kebaikan dan keburukan perspektif akal dengan
bagian yang mana dari penggunaan makna-makna tersebut. Dengan menelusuri
item-item penggunaan dua kata tersebut, maka kita dapat
mengidentifikasi empat penggunaan asli dari makna keduanya:
1.
Terkadang kebaikan dan keburukan bermakna kesempurnaan (kamâl) dan
kekurangan (naqsh) yang berhubungan dengan jiwa manusia. Dalam
pengaplikasian ini, termasuk seluruh perbuatan manusia, apakah perbuatan
itu berdasarkan ikhtiar manusia ataukah di luar ikhtiar manusia seperti
sifat dasar manusia. Sebagai contoh dikatakan, "Pengetahuan itu ialah
suatu kebaikan" atau "Belajar ilmu pengetahuan merupakan sebuah
perbuatan baik", dan juga dikatakan, "Kebodohan itu adalah suatu
keburukan" atau "Meninggalkan pencarian ilmu merupakan suatu perbuatan
buruk"; karena pengetahuan dan mencari ilmu pengetahuan merupakan sifat
kesempurnaan bagi jiwa manusia, sementera kebodohan dan meninggalkan
pencarian ilmu merupakan kekurangan baginya. Berdasarkan hal tersebut,
maka sifat-sifat seperti berani dan dermawan merupakan bagian dari
sifat-sifat baik, sementara sifat penakut dan kikir termasuk dari
sifat-sifat jelek. Yakni, yang menjadi tolok ukur adalah kesempurnaan
dan ketidaksempurnaan pada jiwa manusia.
2. Terkadang kebaikan
dan keburukan memiliki makna yang sesuai dengan tabiat jiwa manusia,
dalam pengaplikasian ini segala sesuatu yang sesuai dengan tabiat jiwa
manusia dan terdapat kelezatan serta kenikmatan di dalamnya, maka hal
ini bisa disebut dengan kebaikan dan segala sesuatu yang tidak sesuai
dengan tabiat jiwa manusia akan disebut keburukan. Penggunaan makna
kebaikan dan keburukan ini yang juga berhubungan dengan perbuatan
ikhtiar manusia dan perbuatan yang diluar ikhtiarnya. Berasaskan hal
ini, sebagai contoh suara yang indah ketika didengarkan adalah kebaikan
dan pemandangan yang buruk ketika disaksikan adalah keburukan.
3. Terkadang aplikasi makna kebaikan dan keburukan berdasarkan
kemaslahatan dan ke-mafsadah-an (tak berfaedah) sebuah perbuatan atau
sesuatu, dan terkadang maslahat dan mafsadah berhubungan dengan unsur
individu atau berhubungan dengan unsur masyarakat. Sebagai contoh,
setiap peserta yang menang dalam pertandingan adalah maslahat baginya
(bagi peserta yang menang itu), akan tetapi kontradiksi dengan
kemaslahatan para peserta lain yang kalah dalam pertandingan.
Sebaliknya, menyebarkan keadilan dalam masyarakat merupakan suatu
perkara yang dapat dipandang sebagai maslahat bagi seluruh masyarakat.
Dengan demikian, terkadang kita menggunakan kata baik dan buruk
berdasarkan maslahat dan mafsadah yang ada dalam perbuatan manusia atau
sesuatu. Sebagai misal, dikatakan, "Meminum obat yang pahit bagi orang
sakit adalah kebaikan", sebab demi kemaslahatan dan keselamatan jiwanya.
4. Aplikasi asli terakhir dari makna baik dan buruk adalah pada
tinjauan kesesuaian dan ketidaksesuaian dengan perbuatan ikhtiar
manusia. Dalam aplikasi ini, perbuatan yang menurut akal manusia layak
untuk dilakukan dan pelakunya mendapatkan pujian, maka perbuatan
tersebut adalah perbuatan yang baik. Sebaliknya, perbuatan yang
semestinya ditinggalkan dan pelaku perbuatan tersebut menjadi tercela,
maka perbuatan tersebut dikategorikan sebagai perbuatan yang buruk.
Berdasarkan pandangan ini, "Keadilan itu adalah sebuah kebaikan" dan
"Kezaliman itu ialah sebuah keburukan", yaitu akal memandang
pengejewantahan keadilan itu adalah layak dan baik serta pelakunya
(orang adil) berhak mendapatkan pujian dan sanjungan, sementara
kezaliman itu merupakan perbuatan yang tidak layak dan orang yang
melakukannya seharusnya mendapatkan celaan. Perlu diketahui bahwa akal
yang dimaksud di sini adalah akal praktis, yang obyeknya adalah
perbuatan ikhtiar manusia dari segi kelayakan (keharusan) untuk
dilaksanakan atau kelayakan (keharusan) untuk ditinggalkan.[2]
Ketika kita mencoba memikirkan pengaplikasian keempat makna tersebut
maka akan sangat jelas perbedaannya. Contoh, aplikasi keempat -berbeda
dengan ketiga makna yang lain- yang hanya dikhususkan untuk perbuatan
manusia, sementara sifat-sifat manusia dan obyek-obyek luarnya tidak
termasuk. Demikian pula dengan aplikasi ketiga makna yang pertama,
masing-masing memiliki spesifikasi sendiri-sendiri tentang hal dan
perkara manusia, karena standar mereka secara berurutan adalah
kesempurnaan dan kekurangan jiwa, kesesuaian dan ketidaksesuaian dengan
jiwa manusia, dan kemaslahatan serta ke-mafsadah-an dalam individu atau
masyarakat. Tetapi pada makna yang keempat tidak terdapat keterbatasan
seperti itu, oleh karena itu, dapat meliputi perbuatan-perbuatan pelaku
selain manusia dan bahkan perbuatan-perbuatan Tuhan.
Letak Perbedaan 'Adliah dan Asy'ariah
Setelah menjelaskan letak perbedaan aplikasi makna baik dan buruk, maka
kita seharusnya memposisikan letak perbedaan antara kelompok 'Adliah
(Syiah Imamiah dan Mu'tazilah) dan Asy'ariah dalam kaitannya dengan
keempat makna tersebut.
Dengan merefleksikan keempat aplikasi
makna baik dan buruk serta spesifikasinya masing-masing dan berdasarkan
konteks pembahasan masalah kebaikan dan keburukan yang bersumber dari
akal, maka menjadi jelaslah bahwa letak perbedaan pendapat antara
Asy'ariah dan 'Adliah berada pada aplikasi makna keempat. Sementara
ketiga makna yang pertama, merupakan masalah takwini (hukum alam) dan
tidak bisa diingkari, yakni jiwa manusia secara takwini memiliki
kesempurnaan dan kekurangan, dan benda-benda tertentu, ada yang sesuai
dengan jiwa manusia serta perkara tertentu mengandung maslahat dan
mafsadah. Oleh karena itu, yang menjadi obyek pembahasan kita sekarang
ini adalah apakah akal mampu menjadi petunjuk secara independen dan
mandiri tanpa bantuan syariat dan dengan hanya melihat subyek sebuah
perbuatan (tanpa bersandarkan pada perintah dan larangan Ilahi atas
sebuah perbuatan) mampu memutuskan bahwa perbuatan ini seharusnya
dilaksanakan atau semestinya ditinggalkan, dan memandang bahwa pelaku
perbuatan tersebut layak dipuji atau dicela serta menghitung bahwa
pelakunya berhak mendapatkan pahala atau azab? Jika jawaban dari
pertanyaan ini adalah positif, maka apakah akal hanya menjadi petunjuk
khusus bagi perbuatan-perbuatan yang berhubungan dengan manusia saja
ataukah juga meliputi perbuatan-perbuatan Ilahi?
'Adliah, pada
kedua pertanyaan tersebut menjawab secara positif, sementara golongan
lain menjawab kedua pertanyaan tersebut secara negatif dan sebagian yang
lain mengatakan bahwa jawaban untuk pertanyaan kedua ialah negatif dan
jawaban soal yang pertama adalah positif. Kesimpulannya, baik dan buruk
dalam perspektif akal adalah bahwa akal manusia (akal praktis manusia)
bisa memahami sebagian perbuatan manusia dan kemudian menghukuminya
bahwa perbuatan itu adalah buruk. Nilai keburukan dari perbuatan itu
tidak harus bersumber dari Tuhan.
Setelah jelas obyek perbedaan antara 'Adliah dan Asy'ariah, selanjutnya akan dikemukakan dalil kedua kelompok tersebut.
Argumentasi 'Adliah
Pendukung konsep tentang kebaikan dan keburukan dalam penilaian akal
membangun beberapa argumentasi untuk menetapkan pendapat mereka. Ada
argumentasi yang rumit dan ada yang sederhana, dalam tulisan ini akan
dikemukakan argumentasi yang sederhana saja.
Seluruh manusia
-terlepas dari ajaran agama dan syariat- mampu memahami sebagian
perbuatan baik dan buruk, seperti adil dan jujur itu adalah baik, zalim
dan dusta itu merupakan keburukan, dalam masalah ini tidak ada perbedaan
antara mereka yang memeluk agama samawi ataupun mereka yang tidak
menganut agama sama sekali. Jadi, jelas bahwa perbuatan baik dan buruk
tidak hanya bergantung pada keputusan syariat saja, tetapi akal manusia
bisa memahaminya (baik dia meyakini dan menganut sebuah agama ataupun
tidak menganut agama sama sekali).
Untuk menegaskan pandangan
tersebut, misalnya seseorang yang tidak menganut agama apapun dan dia
diharuskan memilih antara jujur dan dusta, dan tanpa ada intervensi dari
luar seperti sisi manfaat untuk seseorang, maka sudah pasti dia akan
memilih jujur daripada dusta, dan yang menjadi faktor penentu dalam
memilih hal tersebut adalah hukum dan keputusan akal yang mengatakan
bahwa kebaikan itu semestinya dilakukan dan keburukan itu adalah
perbuatan yang tidak layak untuk dilakukan.
Argumentasi Asya'riah
Asy'ariah mengemukakan beberapa argumentasi untuk membenarkan
penolakannya atas konsep kebaikan dan keburukan yang berasal dari akal,
di antaranya:
1. Jika akal secara independen bisa
memahami kebaikan dan keburukan sebuah perbuatan, maka pasti tidak ada
perbedaan antara proposisi-proposisi berikut ini: "prinsip kontradiksi
(asl tanaqudh)" dengan "kejujuran itu merupakan kebaikan."Sementara kita
tidak bisa mengingkari bahwa kedua proposisi tersebut memiliki
perbedaan.
'Adliah menjawab argumentasi tersebut dengan
mengemukakan argumentasi lain. Mereka mengatakan bahwa sekalipun
pendukung kebaikan dan keburukan dalam perspektif akal memandang
proposisi-proposisi tersebut semuanya dalam tataran yang gamblang,
seperti jujur itu adalah baik dan sebagainya, akan tetapi kegamblangan
itu sendiri memiliki derajat kualitas yang berbeda-beda, bahkan sebagian
dari proposisi itu merupakan hal yang sangat nyata dan jelas (seperti
makna wujud itu sendiri atau prinsip kontadiksi), sementara proposisi
yang lain memiliki tingkat kejelasan yang lebih rendah. Oleh karena itu,
ketika suatu proposisi yang kejelasannya lebih rendah ketimbang
proposisi lain, maka hal ini tidak bisa dijadikan alasan untuk
mengatakan ketidakjelasan dan ketidakrasionalan proposisi tersebut.
2. Jika akal yang menentukan kebaikan dan keburukan itu, maka tidak
akan pernah perbuatan baik itu menjadi buruk dan tidak akan pernah
perbuatan buruk itu menjadi baik. Sementara sering kali kita saksikan
dalam peristiwa tertentu tidak demikian kenyataannya. Seperti dusta yang
merupakan perbuatan buruk, namun ketika perbuatan dusta menyebabkan
keselamatan jiwa Nabi dari kebinasaan, maka dusta dalam hal ini menjadi
perbuatan baik dan layak untuk dilakukan. Demikian pula halnya perbuatan
jujur, jika menjadi sebab bagi kebinasaan Nabi, maka kejujuran di sini
akan menjadi buruk.
Dalam menjawab argumentasi di atas
dikatakan bahwa baiknya jujur dan buruknya dusta itu tetap dalam hakikat
dan kedudukannya; akan tetapi dikarenakan menjerumuskan jiwa Nabi
kepada kebinasaan, maka kejujuran ini jika dibandingkan dengan dusta
adalah jauh lebih buruk, akal menghukumi bahwa perbuatan yang
keburukannya lebih rendah (yakni berdusta) lebih utama atas perbuatan
yang keburukannya lebih tinggi (yakni menjerumuskan jiwa nabi pada
kebinasaan). Oleh karena itu, dusta yang menyelamatkan jiwa Nabi itu
sendiri harus dilakukan dan diutamakan, dan pengutamaan perbuatan
seperti ini adalah kebaikan dan kelayakan. Dengan demikian, perkara ini
sendiri digolongkan kedalam kebaikan yang rasional.[3]
Pengaruh Konsep Kebaikan dan Keburukan dalam penilaian Akal
Sudah dikatakan bahwa para ahli kalam Imamiyah dan Mu'tazilah merupakan
pendukung konsep tersebut, sementara Asy'ariah menolaknya. Adapun hasil
yang paling penting dari keyakinan dan pandangan atas konsep ini dalam
ilmu kalam adalah terkonstruksinya beberapa kaidah yang landasannya
bertumpu pada konsep tersebut, seperti kemestian ma'rifat Tuhan, hikmah
dan keadilan Tuhan, kaidah rahmat Tuhan, kebaikan kewajiban, keburukan
suatu kewajiban yang tidak mampu dilakukakan, dan keburukan suatu
siksaan dengan tanpa adanya penjelasan sebelumnya.
Konsep Kebaikan dan Keburukan dalam penilaian Akal menurut Al-Quran dan Hadits
Dengan merenungkan sebagian dari ayat-ayat al-Quran akan menjadi
jelaslah bahwa al-Quran menegaskan dan menguatkan konsep kebaikan dan
keburukan yang bersumber dari akal ini serta memandang sahnya hukum akal
dalam masalah kebaikan atau keburukan sebagian perbuatan. Sebagai
contoh, beberapa ayat di bawah ini kami kemukakan kepada Anda,
"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan,
memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji,
kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu
dapat mengambil pelajaran.[4] Dan, "(yaitu) orang-orang yang mengikuti
rasul, Nabi yang Ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam
Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka
mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang
mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan
bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan
belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang beriman
kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang
yang diturunkan kepadanya (Al-Qur'an), mereka Itulah orang-orang yang
beruntung."[5] Begitu pula, "Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan
perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan
perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar,
(mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak
menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap
Allah apa yang tidak kamu ketahui."[6]
Ayat yang telah kita
sebutkan di atas menjelaskan hakikat tersebut, bahwa akal secara
inedependen mampu memahami sebagian perbuatan manusia dengan tanpa
campur tangan syariat sama sekali, seperti adil, berbuat baik, mengajak
pada kebaikan, perbuatan keji, munkar, dan maksiat. Dengan kata lain,
sebelum ayat ini turun, baik dan buruk perbuatan tersebut dalam tatanan
kehidupan manusia telah jelas sejak awal. Berdasarkan pandangan
tersebut, kita mengatakan bahwa Tuhan juga akan memerintahkan perbuatan
yang menurut akal adalah baik seperti keadilan dan ihsan serta melarang
dan mencegah perbuatan buruk seperti kezaliman.
Di samping itu,
ketika kita memperhatikan sebagian ayat lainnya, Tuhan menjadikan akal
dan nurani manusia sebagai hakim dan petunjuk yang adil untuk menetapkan
perbuatan-perbuatan baik, seperti, "Tidak ada Balasan kebaikan kecuali
kebaikan (pula)."[7] Dan, "Patutkah Kita menganggap orang-orang yang
beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang
berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kita menganggap orang-
orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat?"[8]
Catatan Kaki:
[1] . Sebagian dari teolog, dalam membahas dan mengkaji pembahasan umum
perbuatan Tuhan mengungkapkan masalah-masalah yang keseluruhannya
memiliki warna dan pendekatan filsafat, sebagai contoh, kitab: Gauhar-e
Murâd, Hal. 277-317.
[2] . Tentang perbedaan antara akal
teoritis dan akal praktis, terdapat pandangan yang berbeda-beda dan apa
yang ada dalam teks buku ini bersandar pada salah satu pandangan yang
popular, dimana menurut pandangan ini akal teoritis dan akal praktis
adalah dua potensi yang tidak saling berlawanan, bahkan keduanya
merupakan dua wajah atau dua sisi dari akal yang perbedaannya hanya
dalam aspek yang dipersepsikan.
[3] . Untuk pengkajian yang
lebih sempurna argumentasi dari kedua kelompok, merujuk pada: Ja'far
Subhani, Husn wa Qubh Akli yâ Pâyeh-hâ-ye Akhlak Jâwedân, pasal 9, Hal.
11-67.
[4] . Q.S. an-Nahl: 90.
[5] . Q.S. al-A'raf: 157.
[6] . Q.S. al-A'raf: 33.
[7] . Q.S: ar-Rahman: 60.
[8] . Q.S: Shad: 28.
Hikmah Ilahi:
Ada Tujuan Di Balik Perbuatan Tuhan [11]
Pendahuluan
Salah satu persoalan umum tentang perbuatan Tuhan adalah apakah
perbuatan Tuhan mengandung arah dan tujuan? Ataukah perbuatan Tuhan itu
sama sekali tidak mempunyai arah dan tujuan khusus? Permasalahan ini
berhubungan langsung dengan persoalan hikmah Tuhan, karena salah satu
definisi dan pengertian hikmah adalah pelaku tertentu mustahil melakukan
suatu perbuatan sia-sia dan tidak bermanfaat serta segala perbuatannya
mengandung tujuan-tujuan rasional dan masuk akal. Dengan demikian,
menolak keberadaan suatu arah dan tujuan dalam perbuatan-perbuatan Tuhan
adalah sama dengan menolak hikmah Tuhan.
Dalam menjawab
pertanyaan-pertanyan di atas, terdapat perbedaan tajam antara kelompok
'Adliyyah (yakni Syiah Imamiah dan Mu'tazilah) dan Asya'riah. Syiah
Imamiah (Syiah Dua Belas Imam) dan Mu'tazilah berkeyakinan bahwa segala
perbuatan Tuhan memiliki dan mengandung tujuan khusus, sementara
kelompok Asy'ariyyah menafikan keberadaan arah dan tujuan dalam setiap
perbuatan Tuhan.
Sebelum kami menyebutkan argumentasi dan dalil
dari kedua kelompok di atas, yakni kelompok 'Adliyyah dan Asy'ariyyah,
dibawah ini akan kami terangkan beberapa pendangan dari kelompok
'Adliyyah.
Tujuan Pelaku dan Tujuan Perbuatan
Dengan memperhatikan dan mencermati perbuatan-perbuatan kita yang
bersifat ikhtiari dan mengandung tujuan, maka dapat kita memahami bahwa
sebelum kita melakukan perbuatan-perbuatan itu pertama-tama kita
menentukan suatu tujuan dimana dengan mencapai dan meraih tujuan
tersebut kita dapat memenuhi segala kebutuhan kita. Jadi, keberadaaan
penggambaran dan penetapan suatu tujuan perbuatan tersebut dalam pikiran
kita niscaya sebelum melakukan perbuatan itu, tujuan perbuatan inilah
yang kemudian mendorong dan memotivasi kita untuk segera
mengimplementasikan perbuatan tersebut, dengan suatu harapan bahwa
apabila kita melaksanakan perbuatan yang demikian itu kita akan
mendapatkan suatu manfaat dan faedah. Oleh karena itu, minimal dalam
perbuatan-perbuatan kita terdapat dua sifat dan karakteristik: pertama,
tujuan perbuatan dimana bermaksud untuk memenuhi segala kebutuhan pelaku
dan untuk mendapatkan segala kesempurnaan atau kemashlahatan tertentu;
Dan kedua, penggambaran dan penetapan tujuan perbuatan mestilah sebelum
melakukan perbuatan dimana nantinya akan berpengaruh pada seorang pelaku
dan menggerakkannya untuk segera melaksanakan perbuatan itu demi
mencapai tujuan yang dikandungnya.[1]
Di sini perlu
diperhatikan bahwa ketika kita membicarakan dan menganalisa kebertujuan
segala perbuatan Tuhan, maka maksud kita ini adalah bukan menyamakan dan
menyetarakan perbuatan Tuhan dengan perbuatan manusia sama. Dengan
ungkapan lain, dua karakteristik di atas yang berkaitan dengan perbuatan
manusia sama sekali tidak terdapat dalam perbuatan Tuhan, yaitu:
pertama, tujuan dalam setiap perbuatan Tuhan bukan bermakna untuk
mencapai kesempurnaan zat Tuhan, karena zat Tuhan telah memiliki
kesempurnaan mutlak dan bahkan Tuhan merupakan kesempurnaan mutlak itu
sendiri serta sama sekali tidak memiliki kekurangan dimana dengan
mencapai tujuan perbuatan-Nya itu zat-Nya menjadi sempurna, melainkan
tujuan perbuatan Tuhan berhubungan dengan semua makhluk-Nya dan
bermaksud untuk menyempurnakannya; Kedua, penggambaran dan penetapan
Tuhan terhadap tujuan dari setiap perbuatan-perbuatan-Nya tidak akan
memberikan pengaruh dalam pelaksanaan segala perbuatan-Nya tersebut,
karena pengetahuan Tuhan bukanlah sejenis pengetahuan hushuli (yang
berkaitan dengan konsepsi, penalaran dan argumentasi rasional), bahkan
zat Ilahi dengan kemutlakan kesempurnaan yang dimiliki-Nya mengharuskan
adanya suatu pengarahan kepada makhluk-makhluk-Nya demi mencapai dan
meraih kesempurnaan-kesempurnaan tertentu yang telah ditentukan bagi
masing-masing mereka.
Dengan demikian, maksud dari kebertujuan
perbuatan-perbuatan Tuhan adalah bahwa perbuatan-perbuatan-Nya
mengandung manfaat dan mashlahat untuk semua makhluk-Nya, yakni tujuan
setiap perbuatan Tuhan itu niscaya berhubungan dengan
makhluk-makhluk-Nya sendiri dan hal ini bukan berarti bahwa Tuhan dalam
melaksanakan atau meninggalkan perbuatan itu berdasarkan kemashlahatan
zat-Nya sendiri. Oleh karena itu, tujuan perbuatan-perbuatan Tuhan
adalah terkait dengan makhluk-makhluk-Nya (perbuatan Tuhan itu sendiri)
dan bukan berhubungan dengan zat Tuhan, karena Tuhan memiliki
kesempurnaan mutlak dan Maha Kaya. Tidak satu pun tujuan dan arah yang
dapat digambarkan dan dibayangkan bagi kesempurnaan zat-Nya.[2]
Dengan memperhatikan penjelasan pandangan kelompok 'Adliyah mengenai
kebertujuan perbuatan-perbuatan Tuhan, di bawah ini akan kami uraikan
argumentasi dan dalil dari kedua kelompok tersebut, 'Adliyah dan
Asy'ariyah.
Argumentasi Tentang Hikmah Tuhan (Kebertujuan Segala Perbuatan Tuhan)
Kelompok 'Adliyah beranggapan bahwa seluruh perbuatan Ilahi mengandung
arah, maksud, dan tujuan. Berikut ini akan kami ungkapkan satu argumen
dan burhan yang dikonstruksi oleh kelompok ini. Mereka menyatakan,
"Perbuatan yang tidak memiliki tujuan adalah perbuatan yang sia-sia dan
tak bermakna, dan melakukan perbuatan yang sia-sia secara rasional dan
akal sehat adalah suatu keburukan. Kita semuanya mengetahui bahwa
mustahil Tuhan melakukan suatu keburukan dan juga mustahil
perbuatan-perbuatan Tuhan itu bersifat sia-sia dan tak bermakna. Jadi
kesimpulannya, semua perbuatan Tuhan mestilah memiliki dan mengandung
arah dan tujuan."
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa
argumentasi dan dalil tersebut bersandar pada kenyataan bahwa akal
manusia dapat mengetahui dan menilai suatu keburukan atau kebaikan,
karena pengertian hal ini adalah bahwa akal mampu mengetahui bahwa
melakukan perbuatan yang sia-sia itu adalah suatu keburukan, dan dengan
berdasarkan pengetahuan akal ini maka dapat disimpulkan tentang
kemustahilan Tuhan melakukan suatu perbuatan yang sia-sia dan tak
bertujuan.
Argumentasi Asy'ariyyah dalam Menafikan Kebertujuan Perbuatan Tuhan
Kelompok Asy'ariyyah juga membangun argumen-argumen dalam menegaskan
kebenaran asumsi-asumsi mereka. Mereka menyatakan, "Melakukan suatu
perbuatan untuk mencapai suatu tujuan adalah menunjukkan bahwa
pencapaian tujuan tersebut bagi seorang pelaku akan jauh lebih baik dan
sempurna apabila dibandingkan dengan ketiadaan pencapaian tujuan
tersebut, dan dengan ungkapan lain, pencapaian suatu tujuan merupakan
kesempurnaan bagi seorang pelaku. Kesimpulannya, pelaku yang
melaksanakan suatu perbuatan tertentu akan menggapai suatu kesempurnaan
tertentu pula. Dengan berdasarkan hal ini, kebertujuan
perbuatan-perbuatan Tuhan meniscayakan bahwa Tuhan akan mendapatkan
kesempurnaan-Nya melalui perbuatan-perbuatan-Nya sendiri, dan hal ini
sangat tidak sepadan dengan kedudukan mulia dan maqam suci ketuhanan."
Jawaban atas argumentasi di atas dengan berdasarkan pada penjelasan
kami tentang kebertujuan perbuatan-perbuatan Tuhan akan menjadi jelas.
Sebagaimana yang telah kami katakan bahwa tujuan dalam perbuatan Ilahi
pada hakikatnya adalah tujuan bagi perbuatan itu sendiri, yakni tujuan
yang mengakibatkan dan berefek pada kesempurnaan segala makhluk-Nya.
Tujuan dalam perbuatan-perbuatan Tuhan pada dasarnya kembali kepada
semua makhluk-Nya, yakni tujuan perbuatan Tuhan itu tidak lain untuk
menyempurnakan zat dan wujud makhluk-makhluk-Nya bukan untuk
kesempurnaan zat dan wujud Tuhan. Jadi tujuan di sini bukan untuk Tuhan
sebagai Sang Pelaku, oleh karena itu, kesalahan dan kekeliruan
argumentasi Asy'ariyah dalam permasalahan ini adalah menyangka bahwa
arah dan tujuan tersebut hanya semata-mata berhubungan dengan Sang
Pelaku (Tuhan) dan tidak ada kaitannya dengan perbuatan itu sendiri. Di
samping itu mereka beranggapan bahwa apabila suatu perbuatan mengandung
tujuan, maka pastilah tujuan itu hanya berhubungan erat dengan sang
pelaku.
Berdasarkan penjelasan kami yang lalu bahwa
perbuatan-perbuatan Tuhan adalah tidak sia-sia, tetapi memiliki tujuan
dan hikmah dimana untuk memenuhi segala kebutuhan makhluk-Nya dan
mengantarkan seluruh makhluk-Nya untuk mencapai kesempurnaan dan
kebahagiaan di dunia dan di alam akhirat kelak.
Hikmah Ilahi dalam Al-Quran dan Hadis
Terdapat beberapa ayat ayat al-Quran yang berkaitan dengan
keberhikmahan dan kebertujuan perbuatan-perbuatan Tuhan serta penegasan
kemustahilan kesia-siaan perbuatan-Nya. Sebagai contoh dapat
diperhatikan ayat-ayat berikut ini. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
"Maka Apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya Kami menciptakan kamu
secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada
kami?[3]
Pada ayat ini, al-Quran menempatkan penciptaan
manusia-manusia sebagai salah satu perbuatan Tuhan dan menjelaskan bahwa
perbuatan mencipta manusia ini bukanlah perbuatan yang sia-sia,
melainkan memiliki suatu tujuan dah hikmah. Mungkin kita dapat
menunjukkan bagian kedua dari ayat tersebut yang berhubungan dengan
tujuan yang dimaksud, yakni Tuhan mencipta manusia di dunia ini supaya
dapat memanfaatkan segala fasilitas kehidupan untuk mencapai
kesempurnaan dan kebahagiaan serta sekaligus manusia akan mendapatkan
hasil dan pahala dari semua perbuatan yang dikerjakannya di akhirat
kelak.
Ayat yang lain berkisar tentang hikmah dan tujuan Tuhan
adalah dalam penciptaan langit dan bumi serta makhluk-makhluk yang
terdapat di antara langit dan bumi (dimana bisa menjadi suatu gambaran
atas penciptaan alam). Allah berfirman, "Dan Kami tidak menciptakan
langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan
bermain-main."[4]
Dalam suatu hadis juga disebutkan tentang
kebertujuan perbuatan-perbuatan Tuhan dan kemustahilan kesia-siaan
perbuatan-Nya serta tujuan dari perbuatan Tuhan berhubungan dengan
makhluk-makhluk-Nya. Sebagai contoh, sebuah hadis yang diriwayatkan dari
Imam Shadiq As, beliau bersabda, "Apabila seseorang bertanya, apakah
boleh Tuhan Yang Maha Bijaksana dan Hakim memerintahkan hamba-hamba-Nya
untuk melakukan suatu perbuatan tanpa suatu sebab, alasan dan tujuan?
Imam bersabda, mustahil Tuhan melakukan hal seperti itu, karena Dia
memiliki hikmah dan tujuan serta mustahil Dia melakukan suatu perbuatan
yang sia-sia dan tak bermanfaat bagi hamba-Nya."[5]
Imam Shadiq
As dalam menjawab suatu pertanyaan yang berbunyi: mengapa Tuhan
mencipta makhluk tersebut?. Belia bersabda, "Tuhan Yang Maha Tinggi
mustahil mencipta segala makhluk dengan sia-sia dan tak bermakna serta
mereka itu lalu dibiarkan begitu saja, melainkan Tuhan mewujudkan mereka
itu untuk menampakkan kekuatan dan kodrat-Nya sendiri sehingga mereka
menjadi taat kepada perintah-perintah-Nya. Ketaatan mereka itulah
menyebabkan mereka layak mendapatkan keridhaan Ilahi. Mereka itu
diciptakan bukan supaya Tuhan mendapatkan keuntungan atau dengan
perantaraan mereka itu Tuhan lantas terhindar dari segala bentuk
kerugian dan malapetaka, bahkan untuk mengantarkan mereka menggapai
keberuntungan, kesempurnaan, dan kebahagiaan abadi di alam akhirat
kelak.[6]
Hikmah Ilahi dan Keburukan
Hingga saat ini telah menjadi jelas bahwa secara logis segala perbuatan
Tuhan mengandung tujuan dan hikmah dimana tujuan ini berhubungan
langsung dengan semua makhluk-Nya. Namun, dari satu sisi kita tidak bisa
menolak dan menafikan keberadaan perkara-perkara yang kita namakan
sebagai suatu bentuk keburukan, seluruh musibah dan malapetaka yang
berhubungan dengan alam misalnya banjir, angin topan, gempa bumi, tanah
longsor, penyakit-penyakit, penderitaan dan kematian. Semua
perkara-perkara membentuk suatu citra yang kita sebut sebagai suatu
keburukan dimana setiap manusia senantiasa berupaya menjauhkan diri
darinya.
Dalam penampakannya, mungkin saja secara lahiriah dan
sepintas kita memandang bahwa perkara-perkara di atas bertolak belakang
dengan hikmah Tuhan dan tujuan penciptaan manusia, karena tujuan Tuhan
dalam menciptakan manusia adalah menjamin kemashlahatan dan kepentingan
hidup manusia, sementara perkara-perkara tersebut sangat bertentangan
dan berlawanan dengan kemashlahatan dan kebutuhan manusia. Dengan
demikian terdapat ketidaksesuaian dengan tujuan penciptaan manusia.
Apabila tujuan penciptaan adalah mengantarkan semua makhluk-Nya kepada
kemashlahatan, lantas dengan alasan apa Tuhan juga menciptakan dan
menghadirkan perkara-perkara tersebut dimana membahayakan dan mengancam
kehidupan manusia? Dengan ungkapan lain, akan lahir suatu sangkaan bahwa
Tuhan telah mengubah atau menafikan tujuan penciptaan manusia itu
dengan membolehkan hadirnya keburukan dan tidak berusaha untuk
mengantisipasinya, dan pengubahan serta penafian suatu tujuan (yakni
Sang Pelaku melakukan suatu perbuatan yang bertolak belakang dengan
tujuan-tujuan dan maksud-maksud yang ditetapkan sebelumnya) sangat tidak
bersesuaian dengan nama Tuhan Yang Maha Hakim dan Bijaksana (yakni
keberhikmahan dan kebertujuan hakiki perbuatan Tuhan).[7]
Dalam
menjawab permasalahan di atas, sesungguhnya kami akan tunjukkan bahwa
keberadaan musibah, malapetaka alam, dan penderitaan di dunia ini pasti
juga memiliki tujuan dan hikmah yang logis dan rasional, bersifat
universal, dan global dimana musibah-musibah tersebut tetap mengandung
manfaat secara individual maupun bagi semua umat manusia. Dengan
demikian, kita tidak boleh menyatakan bahwa kehadiran perkara-perkara
tersebut merupakan perbuatan sia-sia dan bertentangan dengan tujuan dan
hikmah umum penciptaan makhluk. Sebelum menegaskan bagian penting dari
manfaat dan faedah keburukan tersebut, maka di bawah ini akan kami
sebutkan beberapa prinsip penting yang jika diperhatikan secara seksama
akan diraih suatu kesimpulan yang berharga berhubungan dengan pengkajian
yang mendasar ini:
1. Keterbatasan ilmu manusia
Tidak bisa diragukan bahwa hal-hal yang diketahui manusia tidak dapat
dibandingkan dengan hal-hal yang belum diketahuinya, seperti setetes air
yang dibandingkan dengan lautan yang tak bertepi. Bukan hanya
pengetahuan manusia terhadap wilayah dunia eksternal yang sangat sedikit
dan terbatas, melainkan dia juga belum meraih sepenuhnya ilmu dan
pengetahuan terhadap diri sendiri dan segala rahasia yang tersembunyi di
dalam jiwanya. Kita ketahui bersama bahwa para ilmuwan dan filosof
setelah ratusan tahun melakukan penelitian dan observasi, pada akhirnya
mereka menyatakan secara jujur bahwa mereka tidak mengetahui apa-apa.
Dalam hal ini, al-Quran juga menyatakan, "Dan tidaklah kamu diberi
pengetahuan melainkan sedikit."[8]
Dengan memperhatikan
keterbatasan ilmu dan pengetahuan manusia, kita tidak dapat menyatakan
bahwa kita sepenuhnya mengetahui segala rahasia fenomena alam yang kita
sebut sebagai keburukan itu. Bahkan sangat mungkin terdapat berbagai
manfaat, mashlahat, dan tujuan dalam musibah dan malapetaka alam itu
yang kita tidak ketahuinya. Dan yang pasti adalah bahwa tidak
ditemukannya suatu tujuan dan hikmah di balik musibah dan malapetaka
tersebut bukanlah berarti bahwa ketiadaan tujuan tersebut. Dengan dasar
ini, sebagai orang yang berakal sebaiknya kita mesti berhati-hati untuk
menyatakan bahwa perkara-perkara tersebut tidak mempunyai tujuan dan
hikmah, karena sangat mungkin yang kita pandang sebagai suatu keburukan
sesungguhnya adalah kebaikan bagi umat manusia, begitu pula sebaliknya.
Hal ini sebagaimana difirmankan dalam al-Quran, "Dan boleh Jadi (pula)
kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui,
sedang kamu tidak mengetahui."[9]
2. Tujuan hakiki penciptaan manusia
Prinsip lain yang perlu diketahui bahwa tujuan akhir dan hakiki
penciptaan manusia adalah bukan menyibukkan diri manusia dalam
memanfaatkan sebanyak mungkin kenikmatan-kenikmatan material dan
lahiriah, melainkan tujuan hakiki manusia adalah mencapai kebahagiaan
dan kesempurnaan abadi yang hanya diperoleh dengan penghambaan dan
kedekatan kepada Tuhan di dunia ini.[10] Dengan demikian, kita tidak
boleh langsung menyatakan bahwa segala hal yang menghilangkan dan
bertentangan dengan kesenangan dan kenikmatan lahiriah manusia
diposisikan sebagai hal yang bertentangan dengan tujuan hakiki
penciptaan manusia, karena mungkin saja kebahagiaan dan kesempurnaan
hakiki seseorang tercapai melalui suatu musibah, penderitaan,
kemiskinan, dan malapetaka yang dialaminya.
Walhasil,
penelitian dan pengkajian kami terhadap hubungan antara segala keburukan
dan hikmah Ilahi dengan menitik beratkan pada kebertujuan hakiki
penciptaan manusia mempunyai pengaruh yang sangat besar dan signifikan.
3. Mengedepankan Kemashlahatan umum di atas kemashlahatan individual
Alam materi dan alam dunia ini merupakan suatu alam yang mengharuskan
adanya benturan antara satu dengan yang lainnya, dan terkadang kita
saksikan terjadinya benturan antara kepentingan pribadi dan kepentingan
umum dimana tidak ada jalan lain kecuali mendahulukan dan mengedepankan
salah satu kepentingan dan kemashlahatan tersebut. Dalam masalah ini,
akal sehat manusia pasti akan menghukumi bahwa yang harus dikedepankan
adalah kepentingan dan kemashlahatan umum. Berdasarkan hal ini,
keberadaan musibah dan malapetaka yang berbenturan langsung dengan
kemashlahatan pribadi atau kelompok tertentu namun menguntungkan dan
menjamin kemashlahatan banyak orang, jangan langsung dipandang sebagai
realitas yang tidak mengandung hikmah dan tujuan. Pada hakikatnya, dalam
banyak persoalan kita hanya memperhatikan dan meneliti dimensi terkecil
dari suatu fenomena, sementara apabila kita memandangnya lebih luas,
dalam, dan cermat maka kita akan menyaksikan bahwa setelah melewati
zaman dan ruang tertentu begitu banyak perkara dan fenomena alam yang
didapatkan mengandung hikmah dan tujuan serta menguntungkan mayoritas
masyarakat, yang walaupun perkara dan fenomena itu secara lahiriah
nampak sebagai suatu keburukan. Yang pasti sebagaimana dalam pembahasan
"Keadilan Ilahi" nantinya, akan kami katakan bahwa pengorbanan
kepentingan pribadi dan pengedepanan kepentingan umum yang ditakdirkan
oleh Tuhan, namun pada saat yang sama pengorbanan ini akan mendapatkan
balasan dan pahala yang sangat berharga dan tinggi.
4. Peran manusia dalam perwujudan segala keburukan
Salah satu poin penting yang mesti kita ketahui adalah efek dan
pengaruh perbuatan-perbuatan manusia dalam kewujudan dan kehadiran
berbagai keburukan. Dari dimensi bahwa manusia adalah makhluk yang
berikhtiar dan memiliki kebebasan bertindak dan berprilaku, terkadang
sebagai penyebab lahirnya keburukan bagi dirinya sendiri maupun orang
lain, namun dikarenakan kebodohannya terhadap hubungan suatu
perbuatannya sendiri dengan akibat yang ditimbulkannya, maka hasil
negatif yang diberikan dari perbuatannya sendiri dia jadikan alasan
untuk mengecam hikmah Ilahi (keadilan dan rahmat-Nya).
Al-Quran
dalam hal ini menjelaskan keberadaan pengaruh perbuatan manusia atas
kehadiran berbagai kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan bagi
manusia sendiri, ayat-ayat tersebut antara lain, "Telah nampak kerusakan
di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya
Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan
mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."[11]
Pada
ayat yang lain disebutkan bahwa begitu banyak musibah dan malapetaka
yang terjadi di alam ini disebabkan oleh faktor perbuatan-perbuatan
manusia sendiri, Allah berfirman, "Dan apa saja musibah yang menimpa
kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah
memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)."[12]
Walhasil, dengan menggarisbawahi tujuan penciptaan manusia dan kemestian
kebebasan untuk menggapai tujuan ini, manusia lantas dicipta sebagai
makhluk yang berikhtiar dan memiliki kebebasan dalam bertindak dan juga
berdasarkan suatu kaidah kausalitas dimana sebagian dari perbuatan
ikhtiar manusia (perbuatan buruk yang dilakukannya) sebagai sumber
kahadiran musibah dan malapetaka. Namun gabungan dari perkara-perkara
ini, secara khusus dengan memandang sebagian dari manfaat dan faedah
positif dari malapetaka-malapetaka tersebut, tidak keluar dari ranah dan
domain hikmah Ilahi.
Dengan memperhatikan prinsip-prinsip yang
telah disebutkan, maka kita akan dapat melihat dan menyaksikan
pengaruh-pengaruh positif sebagian keburukan dalam kehidupan pribadi dan
kehidupan manusia secara umum supaya menjadi jelas bahwa keberadaan
fenomena-fenomena alam seperti ini sama sekali tidak akan bertolak
belakang dengan hikmah Ilahi dan dalam setiap kasus akan kami sodori
beberapa ayat-ayat al-Quran. Namun sebelum kita jabarkan hal ini,
alangkah baiknya menyebut dua poin penting:
1. Kami sama
sekali tidak beranggapan bahwa keseluruhan manfaat dan faedah keburukan
tersebut dapat dihitung (terkhusus dengan memperhatikan prinsip pertama,
yakni keterbatasan pengetahuan manusia), melainkan kami hanya
mengetahui bahwa masih banyak rahasia-rahasia lain yang akan terungkap
secara perlahan-lahan dengan banyaknya berkontemplasi dan bertadabbur;
2. Sangat mungkin dengan batasan pengetahuan kita sendiri, kita tidak
dapat menyebutkan semua manfaat dan faedah serta hikmah-hikmah untuk
menjelaskan kedudukan dan posisi keburukan begitu pula kita tidak mampu
mengungkapkan manfaat dari setiap keburukan yang kita temui. Namun
realitas ini sama sekali tidak akan bertolak belakang dengan konklusi
yang kami hasilkan, karena apabila dalam setiap keburukan hanya
tertetapkan dan terungkap salah satu hikmah tersebut maka hal ini telah
efektif untuk menjawab segala keraguan dan keberatan para penentang.
Filsafat Keburukan
1. Sisi pengembangan potensi-potensi manusia
Penciptaan manusia dan keadaan umum alam natural tercipta sedemikian
sehingga begitu banyak potensi-potensi fisikal dan ruhani manusia hanya
akan berkembang dan menyempurna di bawah tempaan segala kesulitan,
penderitaan, dan musibah. Sebagaimana anggota-anggota badan seorang
olahragawan yang hanya akan mengalami perkembangan dan memiliki daya
tahan yang kuat dengan melewati berbagai latihan sulit yang beragam.
Begitu pula dengan potensi-potensi jiwa dan maknawi manusia yang akan
menjadi aktual setelah meniti jalan yang dipenuhi dengan berbagai
kesulitan dan penderitaan. Sebagi contoh, begitu banyak penemuan ilmiah
dan rekayasa teknologi yang dihasilkan dari upaya serius yang tidak
mengenal putus asa dan melewati berbagai kesulitan serta rintangan
kehidupan individual dan sosial. Al-Quran pun telah menjelaskan
kenyataan ini dengan menyatakan, "Sesungguhnya sesudah kesulitan itu
pasti ada kemudahan. (Ya), sesungguhnya sesudah kesulitan itu pasti ada
kemudahan."[13]
2. Dimensi Ujian dan cobaan Ilahi
Salah satu tradisi dan sunnah Ilahi (sunnatullah) adalah ujian dan
cobaan. Berdasarkan tujuan penciptaan manusia dan segala karakteristik
wujudnya, manusia akan diuji dalam berbagai bidang dan dimensi
kehidupannya. Yang pasti terdapat perbedaan antara ujian-ujian yang
diadakan oleh manusia, ujian Ilahi tidaklah bermaksud untuk mengungkap
sesuatu hakikat yang tidak jelas, melainkan tujuan perbuatan Tuhan itu
kembali kepada makhluk-Nya, khususnya manusia, dan maksud dari ujian dan
cobaan Ilahi ini tidak lain adalah pengembangan dan penyempurnaan
potensi-potensi manusia serta mengaktualkan nilai-nilai kejiwaannya.
Perumpamaan manusia dalam ujian Tuhan seperti batu tambang yang ditempa
di dalam tungku api dengan maksud memisahkan segala kotoran yang
menempel padanya, dengan proses demikian ini, akan dihasilkan suatu batu
yang berharga. Tuhan terkadang menguji hamba-hamba-Nya dengan
kesejahteraan, kesenangan, dan kekayaan atau mengujinya dengan segala
bentuk rintangan, kesulitan, penderitaan, malapetaka, dan musibah. Tuhan
berfirman, "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan
mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang
sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan."[14]
Kata "kebaikan" dan "keburukan" dalam ayat ini sangatlah umum dan
mencakup segala bentuk penderitaan, musibah, penyakit, kemiskinan,
kesulitan, dan kekalahan serta segala macam kesenangan, kekayaan,
kemenangan dan kesehatan. Berdasarkan ayat ini, semua perkara berdimensi
ujian dan cobaan, dan disamping pengembangan jiwa dan badan manusia,
kenyataan dan hakikat kejiwaan dan ruhani mereka akan ditampakkan.
Dalam ayat-ayat yang berbeda juga ditekankan ujian manusia itu dengan
kesulitan-kesulitan dan malapetak-melapetaka. Pada ayat berikut ini
disebutkan tentang ujian Ilahi yang paling penting dalam kehidupan di
dunia ini, "Dan sungguh Kami akan berikan cobaan kepadamu dengan sedikit
ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan
berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar."[15] Kalimat
"berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar" ini
menunjukkan bahwa pahala besar akan diberikan kepada orang-orang yang
menang dan berhasil melewati segala bentuk ujian.[16] Akan tetapi,
pahala dan balasan yang menyenangkan tersebut tidak diberikan kepada
semua hamba-Nya, sebagian manusia yang semestinya berupaya dan istiqomah
di atas jalan ujian, malah menampakkan kelemahan dan putus asanya dalam
lahan ujian dan cobaan, dalam hal Tuhan berfirman, "Adapun bila Tuhan
mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata (dengan putus
asa), "Tuhan-ku menghinakanku"."[17]
3. Aspek ancaman dan penyadaran
Salah satu manfaat dan faedah yang mendasar dari segala musibah dan
malapetaka adalah bahwa manusia kembali bangkit dan sadar dari
kelalaiannya dalam menikmati segala kesenangan dunia, melepaskan baju
kesombongannya dan memakai pakaian kerendahan hati, dan kembali menerima
seluruh tanggung jawab yang berat serta amanat Ilahi di hadapan Tuhan.
Al-Quran juga menunjukkan realitas ini dalam ayat-ayat yang beragam,
"Kami tidaklah mengutus seseorang nabi pun kepada sesuatu negeri,
melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan
supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri."[18] Dan di ayat lain
difirmankan, "Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebagian
azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat);
mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar)."[19] Pada ayat yang
lain juga dijelaskan bahwa tujuan dihadirkannya musibah dan penderitaan
atas mereka adalah untuk membangkitkan kesadaran dan mengingatkan mereka
akan suatu hakikat, Tuhan berfirman, "Dan sesungguhnya Kami telah
menghukum orang-orang dekat (dan kaum Fira’un) dengan mendatangkan musim
kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka sadar
dan mengambil pelajaran."[20]
Nampaknya, sebagian besar
manusia tidak menyikapi secara tepat dan positif segala bentuk kesulitan
dan penderitaan, yang semestinya membuahkan kesadaran dan hidayah,
malah semakin terjerbak dalam lembah kelalaian dan kemaksiatan. Untuk
hal ini, Tuhan berfirman, "Dan sesungguhnya Kami telah pernah menimpakan
azab kepada mereka (supaya mereka sadar), tetapi mereka tidak tunduk
kepada Tuhan mereka dan (juga) tidak memohon (kepada-Nya) dengan
merendahkan diri."[21]
4. Penghargaan nikmat-nikmat Tuhan
Manfaat dan faedah lain yang dihasilkan oleh kejadian-kejadian yang
tidak menyenangkan adalah bahwa manusia memahami betapa penting dan
urgennya nikmat-nikmat Tuhan itu, dari hal ini dikatakan bahwa, "nilai
kesehatan akan diketahui oleh seseorang ketika mendapatkan penyakit."
Al-Quran disamping mengingatkan nikmat-nikmat Ilahi juga mengingatkan
manusia kepada keadaan-keadaan atau nikmat-nikmat yang belum diraihnya.
Terkadang ketiadaan nikmat akan berujung pada penghargaannya yang lebih
baik, "Dan berpegang teguhlah kamu semua kepada tali (agama) Allah, dan
janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu
ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah
mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah
orang-orang yang bersaudara."[22]
Penjelasan Filsafat Kederitaan dan Kesengsaraan dalam Hadis
Dalam hadis-hadis juga ditemukan poin-poin penting dan berharga yang
berhubungan dengan manfaat dan faedah segala musibah dan penderitaan.
Amirul Mukminin, Imam Ali As dalam menjelaskan pengaruh segala kesulitan
dan malapetaka terhadap pengembangan dan penyempurnaan potensi-potensi
bersabda, "Ketahuilah bahwa sebuah pohon yang tumbuh di atas tanah yang
kering (kurang air) akan memiliki batang yang lebih keras, kulit pohon
yang tipis, api tidak mudah membakarnya, dan kalau terbakar maka api
akan sangat lama padam,"[23]
Di tempat Imam Ali As menjelaskan
tentang aspek-aspek ujian dan cobaan dalam setiap musibah, malapetaka,
penderitaan, dan kemiskinan. Dia menyatakan, "Tuhan akan menguji
hamba-hamba-Nya itu dengan beragam ujian dan cobaan, dan menyerunya
kepada ibadah dalam beragam kesulitan serta menceburkannya dalam
berbagai jenis penderitaan,"[24] Mengenai tujuan-tujuan Tuhan dalam
menguji hamba-hamba-Nya sendiri dengan perantaran segala kesulitan dan
musibah, lebih lanjut dia sabdakan, "Tuhan akan menguji hamba-hamba-Nya
sendiri dengan kekurangan makanan, mencegah hadirnya rahmat, dan menutup
pintu-pintu kebaikan ketika mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang
buruk supaya mereka yang ahli bertaubat akan kembali bertaubat, mereka
meninggalkan segala perbuatan maksiatnya, menerima nasihat, dan tidak
berbuat dosa lagi."[25]
Hadis dari Imam Shadiq As yang intinya
memaparkan bahwa hakikat dan tujuan segala musibah, malapetaka, dan
penderitaan adalah mengingatkan manusia akan nikmat-nikmat Tuhan, dia
bersabda, "Walaupun musibah dan malapetaka ini menghampiri orang-orang
yang baik dan orang-orang yang buruk, akan tetapi Tuhan ingin menjadikan
hal tersebut sebagai perantara untuk menyempurnakan dan memperbaiki
kedua kelompok tersebut. Segala musibah dan malapetaka yang menimpa
orang-orang baik tidak lain adalah bertujuan mengingatkan nikmat-nikmat
Ilahi yang pernah dimilikinya dan berada di bawah penguasaannya, dengan
demikian, mereka akan menjadi orang-orang yang bersyukur, bertaubat, dan
bertakwa."[26]
Catatan Kaki:
[1] .
Para filosof menamakan "penggambaran tujuan perbuatan sebelum
pelaksanaannya" itu sebagai "sebab tujuan". Silahkan merujuk pada:
Mishbah Yazdi, Omuzesy-e Falsafeh, jilid kedua, hal. 106-108. Dan
Allamah Thabathabai, Nihayah al-Hikmah, hal. 160-162.
[2] .
Dalam pembahasan filsafat Islam dipaparkan kajian-kajian mendalam dan
akurat berhubungan dengan perbuatan Tuhan, karena kerumitannya kita
tidak akan menguraikan dalam pembahasan kila kali ini. Bagi yang
tertarik silahkan merujuk pada kitab-kitab filsafat yang mengkaji hal
ini.
[3] . Qs. Mukminun: 115
[4] . Qs. Dukhan: 37
[5] . Allamah Majlisi, Biharul Anwar, jilid keenam, hal. 58
[6] . Ibid, jilid kelima, hal. 313.
[7] . Walaupun keberadaan "keburukan" itu dari satu dimensi juga
merupakan persoalan penciptaan dan hal ini adalah ketidaksesuaian
keburukan dengan keadilan Tuhan. Kami akan membahas dan mengkaji
permasalahan itu dalam bagian "keadilan Ilahi". Di sini perlu diingat
bahwa Tuhan YanG Maha Hakim adalah bahwa segala perbuatan-Nya mengandung
tujuan dan tujuan yang ditetapkan-Nya tidak akan pernah berubah.
Berbeda dengan manusia, yang terkadang bertolak belakang dengan tujuan
pertama yang ditetapkannya atau manusia pada saat tertentu mengubah
tujuannya karena tidak sesuai dengan kepentingan dan kemashlahatannya.
[8] . Qs. Isra': 85.
[9] . Qs. Al-Baqarah: 216.
[10] . Al-Quran dalam hubungannya dengan penciptaan manusia, Tuhan
berfirman, "Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya
mereka mengabdi kepada-Ku." (Qs. Zariyat: 56)
[11] . Qs. Rum: 41
[12] . Qs. Syury: 30
[13] . Qs. Insyirah: 5 dan 6
[14] . Qs. Anbiya: 35.
[15] . Qs. Al-Baqarah: 155.
[16] . Al-Quran menjelaskan kalimat ini dalam ayat-ayat selanjutnya., yakni surah al-Baqarah ayat 156 dan 157.
[17] . Qs. Fajr: 16.
[18] . Qs. A'raf: 94.
[19] . Qs. Sajdah: 21.
[20] . Qs. A'raf: 130.
[21] . Qs. Mukminun: 76.
[22] . Qs. Ali Imran: 103.
[23] . Nahjul Balaghah, khutbah 45.
[24] . Ibid, khutbah 192.
[25] . Ibid,khutbah 143.
[26] . Allamah Majlisi, Biharul Anwar, jilid ketiga, hal. 139.